Tittle: Elf
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Genre: Supernatural, Crime, Friendship
Rate: T
Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD
Enjoy...
(Few Hours Earlier)
"Jadi, seseorang turun sebagai negosiator, dan yang lain mengawasi dari jauh. Begitu ssu?" Tanya Seiben kembali mengulangi rencananya.
"Dan karena ini transaksi narkoba-organ, kita harus menyediakan barangnya." Fünf menyambung perkataan pemuda blonde itu.
"Baiklah, aku sumbangkan jatah makanku bulan depan." Celetuk Takao pasrah.
"Tidak usah." Sahut Elf. "Tidak perlu menyediakan organ apapun. Begitu datang langsung kita tangkap saja."
"Ngomong sih gampang. Lalu siapa yang pergi?" Komentar Nash dengan nada meragukan.
"Biar aku saja." Elf kembali berbicara. "Ada kemungkinan penyalurnya sama dengan yang sebelumnya, yang berarti dia adalah Demon. Jika salah satu dari kalian yang pergi," Ia menatap semua yang ada di ruangan satu persatu. "Dia bisa mencium bau kalian dan tahu identitas kalian. Sedangkan aku tidak memiliki bau, jadi dia tidak akan sadar siapa aku sebenarnya."
Begitulah kronologi awal sebelum mereka memulai operasi penangkapan malam itu. Divisi Keajaiban, bersama Divisi Pelindung Amerika dan diawasi oleh Takao serta Yoshiro, menyebar di sekitar tempat pertemuan dan mengawasi jalannya transaksi yang akan dilakukan Elf dengan si penyalur.
Tidak lama setelah mereka bersedia di posisi masing-masing, seseorang datang ke tempat itu. Tak lama berselang Elf menghampirinya dan berbicara padanya agar yang lain mendengar. Tetapi bukannya semakin waspada, fokus mereka malah menurun karena perasaan yang datang secara tiba-tiba di hati mereka.
Perasaan tidak percaya terhadap apa yang mereka lihat dan dengar dari alat komunikasi.
"Selamat malam, Murasakibara-kun."
.
.
.
Chapter 28: Case 4, Connection between Dealers
WUUSSHH!
TRANGG!
Elf menghunuskan pedangnya tepat ke perut Murasakibara. Ia tidak berniat membunuhnya, hanya sekedar melumpuhkannya. Namun sialnya pedangnya malah memantul begitu bersentuhan dengan objek yang dimaksud.
Memantul. Dari perut Murasakibara. Yang tidak dilindungi apapun selain baju dan jaket.
'Yang benar saja!?'
Sementara Elf masih tenggelam dalam keterkejutannya, Murasakibara balas menyerang dengan mengarahkan tinjunya. Beruntung pemuda yang lebih pendek dapat menangkis serangan itu, dan membalas dengan mengayunkan kakinya berniat men-tackle yang sayangnya dihindari.
Aksi baku hantam mereka terus berlanjut sementara yang lain datang mendekat. Elf sudah menghilangkan pedangnya dan memutuskan untuk bertarung dengan tangan kosong. Biar greget, katanya.
"Tetsu!" Teriak Fünf melalui alat komunikasi mereka.
"Tolong panggil aku Elf selama bekerja, Fünf." Sahutnya.
"Au ah! Kau tahan saja dia! Kami akan segera ke sana!" Perintahnya.
"Baik." Jawab Elf patuh.
Sial bagi Elf, ia sedikit kehilangan fokus dan tidak melihat serangan cepat Murasakibara. Pemuda tinggi itu melayangkan tinjunya dan mengenai pelipis Elf telak. Pemuda yang lebih pendek terhuyung ke belakang. Kesempatan ini tidak diabaikan Murasakibara. Ia menendang perut pemuda yang lain sehingga Elf terhempas, membuat topi yang dikenakannya terlepas. Murasakibara kemudian melarikan diri dari sana.
Tidak pernah disangkanya, Zehn datang dari ujung jembatan secepat kilat dan menebaskan belati listriknya. Anehnya seperti apa yang terjadi dengan dengan Elf. Jangankan lumpuh akibat sengatan listrik, tubuhnya sama sekali tidak tergores.
Merasa serangannya gagal, Zehn lebih memilih untuk menahan pergerakan Murasakibara daripada menyerang. "Fünf! Seiben!" Serunya kemudian.
Fünf yang dipanggil melompat dari bawah jembatan ke belakang Murasakibara. Ia mengendalikan air sungai dan menyiramkannya ke arah pemuda jangkung tersebut. Tak berapa lama, Seiben datang dari belakang Zehn dan memukulkan tongkatnya ke kaki si Daemon. Dalam sekejap air yang membasahi tubuh si pelaku membeku hingga ke pinggang.
Tidak berhenti di situ, Murasakiba mencoba melepaskan diri dengan menggerak-gerakkan kakinya dan mencakari es. Usahanya membuahkan hasil. Es yang menahannya perlahan retak, meski berapa kalipun Seiben mencoba menahannya.
"Ugh! Berhenti bergerak, Murasakicchi! Secchi! Tolong aku!" Teriaknya.
Sechs yang sedang berada di tempat yang jauh dari mereka memasang kuda-kuda. Ia mengencangkan busur panahnya dan mengarahkannya kepada kumpulan orang yang sedang bergulat di jembatan. Matanya menyipit memfokuskan bidikannya kepada satu-satunya orang yang tidak berada di pihaknya. Setelah merasa bidikannya akurat, pemuda berkacamata itu langsung melepaskan anak panahnya tepat ke kepala Murasakibara.
Sesuai dugaannya, panahnya tidak menancap di kepala yang dibidik, melainkan memantul dan jatuh. Namun bukan kepala yang benar-benar di bidiknya. Begitu anak panahnya menyentuh tanah, benda itu langsung mengeluarkan cahaya kehijauan. Dari sana sulur-sulur berduri tumbuh dan menjalar meliliti tubuh Murasakibara dan mengunci pergerakannya sepenuhnya.
Setelah benar-benar tidak dapat bergerak, Fünf langsung mendekati Murasakibara dan menggeledahnya. Ia meraba seluruh tubuh dan menemukan apa yang dicarinya.
"Asoy*!" Serunya seraya mengangkat bungkusan bening berisi bubuk putih yang didapatnya dari saku jaket Murasakibara. "500 gram." Infonya kemudian.
"Banyak juga!" Komentar Zehn. "Darimana kau dapat benda seperti itu, Murasakibara!?" Tanyanya kemudian dengan nada jengkel.
"Bukan urusanmu!" Sahut Murasakibara kasar. Ia masih mencoba melepaskan diri dari jeratan sulur Sechs dan es Seiben. Anehnya meski banyak bergerak, kulitnya sama sekali tidak tergores oleh duri-duri dari tanaman tersebut. Hal ini juga disadari oleh yang lainnya.
"Dia tidak tergores sedikitpun." Komentar Elf pelan ketika ia mendekat ke arah mereka.
"Dia bahkan tidak terlihat kedinginan meski dibungkus oleh esku, ssu." Sambung Seiben.
"Kebal ya." Gumam Sechs hampir tidak terdengar.
"Baiklah, sekarang apa yang akan kita lakuk— Hei, Elf! Mau apa kau?!" Disaat Zehn bertanya, Elf melangkah mendekati Murasakibara dan mengeluarkan pedangnya. Matanya terfokus ke arah wajah pemuda jangkung yang balik menatapnya dengan pandangan waspada.
"Aku mau membunuhnya." Jawabnya simpel yang membuat mereka semua termasuk Murasakibara bergidik.
Sayangnya—atau beruntungnya—langkahnya terhenti oleh sebuah busur kayu yang diarahkan ke lehernya. Ia pun memandang ke arah pemilik busur meminta penjelasan.
"Tahan dulu, Elf. Berikan aku alasan yang jelas kenapa Murasakibara harus mati, nodayo." Pintanya sambil membenarkan kacamata.
"Sudah jelas kan?" Tanyanya. "Murasakibara-kun adalah penyalur narkoba dan dealer yang cukup berbahaya. Sudah seharusnya aku membunuhnya sebelum hal yang lebih buruk terjadi. Lagipula itu sudah peraturannya." Jelasnya. "Atau kau tidak ingin aku membunuhnya karena dia teman kita?" Tembaknya telak.
"Tapi ada peraturan lain yang mengatakan; 'siapapun yang bekerja untuk Divisi Keajaiban harus mengikuti segala perkataan dari Generasi Keajaiban'." Balasnya yang membuat Elf terdiam. "Jangan macam-macam, nodayo. Kau tahu aku bisa membuat busur ini mencekikmu sampai mati." Ucapnya mencegah Elf yang ingin menjauhkan busur di lehernya.
"Selain itu kenapa kau tidak memberitahu kami kalau Murasakibara lah pelakunya?" Sahut Fünf mewakili pertanyaan di benak yang lain. "Dan sejak kapan?"
"Sejak aku ke Alloy Pub. Aku membaca pikiran bartender di sana. Ketika membicarakan tentang ini, nama Murasakibara-kun terus terngiang di kepalanya. Sayangnya aku tidak punya bukti untuk menunjukkan bahwa Murasakibara-kunlah pelakunya. Makanya aku diam saja."
Perdebatan mereka diinterupsi oleh suara yang datang dari alat komunikasi.
"Kalian semua, nanti saja bicaranya. Bawa dia ke kantor." Ucap Nijimura tegas. Mereka kemudian menghentikan perdebatan mereka dan mendekati satu-satunya pelaku di sana.
"Sepertinya kalian tidak terkejut sama sekali setelah tahu aku bukan orang baik-baik." Komentar Murasakibara santai meski posisinya tidak menguntungkan sama sekali. "Atau kalian cuma sok profesional." Pancingnya.
"Kau sendiri tidak kaget setelah tahu kami musuhmu." Balas Zehn. Listrik merah memercik di matanya akibat emosi yang tergolak di dadanya mengetahui salah satu temannya seorang penjahat. "Atau kau terlalu takut sampai-sampai tidak bisa berekspresi lagi?"
"Tidak kok. Aku kaget. Sangat." Jawabnya. "Tapi aku tidak perlu takut tertangkap atau terbunuh oleh kalian."
"Heh! Pemberani juga kau, Murasakibara." Kesal pemuda beralis ganda itu.
"Bukan pemberani sih..."
"Karena Atsushi memang tidak bisa mati."
Tidak ada jeda setelah kalimat yang diucapkan suara yang tidak mereka kenal, sebuah granat terlempar ke dekat kaki Murasakibara. Melihat benda itu, seluruh anggota Divisi Keajaiban refleks melompat menjauh. Sedangkan Murasakibara sendiri tidak dapat bergerak kemanapun dengan kondisinya yang terikat dan dibekukan. Begitu mereka sampai di jarak yang aman, granat tersebut—
BLARRR!
Meledak di tempat, bersama dengan Murasakibara yang tidak dapat melarikan diri.
Melihat teman sekolah mereka diledakkan oleh sebuah granat, mereka hanya bisa membelalakkan mata. Seluruh pandangan terfokus pada api dan asap yang mengepul dari ledakan itu. Mereka sangat terkejut dengan kematian Murasakibara yang terlalu mengerikan karena tubuhnya harus hancur karena ledakan.
Atau begitulah yang mereka pikirkan.
.
.
.
(Setting Skip, Minimarket)
TUUT.. TUUT...
"Sial!"
Akashi mengumpat ketika teleponnya tidak diangkat. Padahal baru beberapa menit yang lalu orang itu menghubunginya, sekarang malah tidak tersambung. Tetapi mengingat apa yang sedang dilakukan orang yang ingin dihubunginya saat ini, ia memaklumi saja. Tidak mungkin orang yang sedang melakukan penyergapan bisa mengangkat telepon.
Tidak ingin membuang waktu, pemuda bersurai merah menyala itu memilih untuk menghubungi nomor yang lain. Setelah beberapa saat jeda masuk, akhirnya teleponnya tersambung dengan orang lain di seberang sana.
"Halo, Akashi?" Sapa seseorang di seberang sana. "Ada apa? Maaf, sekarang kami sedang sibuk."
"Aku tahu. Dari tadi aku tidak bisa menghubungi Daiki atau yang lainnya." Jawabnya cepat. "Sekarang kalian dimana?"
"Eh? Di jembatan dekat pabrik besar sih... Memangnya kena—"
"Aku ke sana sekarang." Dengan seenaknya Akashi memutus perkataan Takao beserta sambungan teleponnya. Ia kemudian bangkit dari kursi di depan sebuah minimarket dan berlari cepat menuju tempat yang dikatakan Takao. Dalam hati ia mengumpat, seharusnya ia minta Reo untuk mengantarnya dengan mobil daripada berlari begini.
Ia berlari menyusuri jalan kota yang tidak seramai siang harinya. Jika dihitung-hitung mungkin ia akan sampai di tempat Divisi Keajaiban berada sekarang ini dalam kurun waktu lima belas menit. Ditambah lagi ia seorang Demon, berlari dengan sangat cepat bukanlah masalah baginya.
Pemuda beriris dikromatik itu tiba-tiba berhenti setelah berpapasan dengan seseorang di jalan. Atau lebih tepatnya melewati seseorang yang sedang bersandar di tembok tepi trotoar yang ia lewati. Ia membalikkan tubuhnya menghadap orang yang hanya bersidekap sambil menunduk itu.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan nada dingin.
Bukannya menjawab, orang itu malah mengangkat kepalanya sambil menyunggingkan senyum penuh kekaguman. "Oh! Ternyata benar! Kau memang bisa membaca pikiran! Hebaat!" Kagumnya.
"Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku." Ujar Akashi dengan nada dingin yang sama. "Dan siapa kau?"
"Aku belum memperkenalkan diri ya?" Orang itu beranjak dari tempat bersandarnya dan mendekati Akashi. Ia kemudian menjulurkan tangan. "Aku Ogiwara Shigehiro. Salam kenal." Sapanya ramah.
Sadar bahwa Akashi tidak akan menjabat tangannya, ia menarik kembali tangannya dan menjawab pertanyaan pertama Akashi. "Yah, seperti yang kaudengar. Kubilang kalau pemainnya hampir lengkap. Ada yang salah?"
"Kau bicara seolah-olah tahu segalanya." Komentar Akashi yang semakin waspada. "Auramu aneh sekali."
"Aku memang tahu segalanya. Meski caranya tidak sepertimu sih..." Jawab Ogiwara masih dengan nada santai. "Sudahlah, aku harus pergi. Kau juga sedang bergegas kan?" Pemuda bersurai hitam-jingga itu ingin memutus pembicaraan mereka.
"Katakan kenapa kau menungguku." Perintah Akashi tanpa basa-basi. "Kau menungguku bukan hanya untuk mempermainkanku, kan?"
Dengan ini, senyum Ogiwara berubah menjadi seringai jahil sebelum menjawab. "Tidak ada alasan khusus. Aku cuma ingin menyapa sebelum kita bertemu di TKP. Juga, aku ingin bermain-main sedikit dengan teman-temannya Kuroko. Sayang, aku tidak bisa menyentuhmu karena sudah berjanji. Tapi..."
Akashi tidak menduga pergerakan Ogiwara selanjutnya. Pemuda beriris jingga kecoklatan itu tiba-tiba sudah ada di belakangnya, dengan sebelah tangan melingkari pundaknya dan kepala dicondongkan ke samping. Pemuda itu kemudian berbisik. "Sebenarnya aku bisa mengganggumu. Karena yang tidak bisa kusentuh cuma Divisi Keajaiban."
Akashi mencoba melepaskan diri dengan cara menyikut perut Ogiwara. Sayangnya pemuda itu berhasil menghindar dan pergi dengan cepat dari situ, meninggalkan Akashi sendiri dengan rasa kesal dan waspada di dada.
"Apa dia yang dimaksud mutiara hitam dalam ramalan?" Gumamnya. "Kalau begitu apa yang kugenggam?" Tanyanya entah pada siapa.
Terbebas dari lamunannya, pemuda beriris merah itu kembali berlari sambil mengumpat dalam hati dan melemparkan sumpah serapah kepada si Ogiwara yang telah memperlambatnya.
.
.
.
Berdiri tegak. Mereka melihat Murasakibara berdiri tegak setelah ledakan besar yang menimpanya. Seluruh anggota Divisi Keajaiban juga rekan-rekan mereka yang memperhatikan dari jauh tidak dapat berkata-kata. Mereka mengira Daemon itu akan mati karena ledakan yang datang secara mendadak itu. Tapi jangankan hancur, luka lecet bahkan tidak nampak secuilpun dari tubuhnya.
"Apa-apaan..?" Bisik Sechs.
"Dia main debus ya?" Zehn mengomentari.
Sementara mereka masih terkagum-kagum—terperangah—dengan apa yang mereka lihat, seseorang berjalan ke arah Murasakibara dan berdiri di sampingnya. Tangannya memegang belati yang diacungkannya sebagai tanda siaga. Orang itu memiliki surai hitam dengan poni yang panjang hingga menutupi mata kirinya.
"Kau tidak apa-apa, Atsushi?" Tanyanya sambil memandang pemuda yang lebih tinggi.
"Hmm... Muro-chin lama. Aku hampir ditangkap mereka, tau!" Jawabnya santai—sangat—padahal ia baru diledakkan tadi.
"Haha... maaf, maaf. Habisnya, tidak biasanya kau kerepotan." Kekeh pria yang satunya. Matanya menyapu sekitar dan melihat kelima pemuda yang sudah pulih dari keterkejutan mereka dan memasang sikap siaga. "Jadi mereka Generasi Keajaiban yang kau bicarakan itu? Kukira mereka teman-temanmu di sekolah."
"Siapa sangka mereka juga punya rahasia." Jawab Murasakibara tidak langsung.
Pembicaraan dua terduga itu diinterupsi oleh teriakkan Alex dari ujung jembatan. "Jangan bergerak! Angkat tangan kalian dan jatuhkan senjata!" Teriakkan itu diikuti oleh dua langkah kaki lain yang datang dari arah berlawanan.
"Akhirnya kau menampakkan batang hidungmu juga, Himuro Tatsuya." Sapa Nijimura dengan pistol mengarah pada pria bernama Himuro.
Himuro sendiri hanya memperlihatkan senyum palsu dan menyapa balik. "Lama tidak bertemu, Nijimura. Lima? Atau enam tahun?"
"Tujuh. Biar kusegarkan otak monyetmu itu." Jawab Nash sarkas. "Siapa sangka kau mengangkat anak setelah berhasil kabur dari kami. Anak yang besar dan patuh."
"Ah, ya. Atsushi memang anak yang baik. Dan dia juga kesayanganku." Balasnya masih dengan menyunggingkan senyum palsu.
"Tujuh tahun lalu?" Gumam Seiben. "Berarti Murasakicchi..." Pemuda itu tidak menyambung perkataannya.
"Yap. Atsushi sudah lama hidup bersamaku." Himuro menjawab pertanyaan Seiben yang tak terucap. "Bisa dibilang kami sudah seperti keluarga." Ketika pria berponi panjang mengucapkan itu, entah kenapa bahu Murasakibara menegang.
Mengabaikan pendangan bingung dan siaga seluruh Divisi Pelindung di sana, Himuro mulai bermonolog. "Atsushi yang malang, ia kehilangan seluruh keluarganya karena diburu oleh Hunter. Jadi aku datang dan menyambutnya dengan hangat. Dia keluargaku satu-satunya, begitu pula sebaliknya. Sebagai keluarga, tentu saja kami harus melindungi satu sama lain. Aku melindunginya dari Hunter atau siapapun yang mengancamnya, dan dia melindungiku dari kematian."
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Yang pasti kalian harus dilumpuhkan!" Fünf yang memang tidak sabaran melepaskan tembakan ke arah Himuro. Tetapi Murasakibara malah melindunginya dan membiarkan peluru itu mengarah kepadanya. Membuat peluru itu memantul seperti yang sudah-sudah.
"JANGAN COBA-COBA KAU MELUKAI MURO-CHIN!" Pemuda bersurai violet itu menggeram keras dan maju menyerang Fünf. Ia melayangkan tinjunya ke rahang bawah. Tinju itu membuat rahang Fünf berdenyut sakit meski tidak sampai mematahkannya. Pemuda tan itu kemudian membalas dengan cara yang sama, dengan tambahan pistol di tangan yang membuat pukulannya terasa lebih sakit. Seharusnya seperti itu, tetapi mengingat Murasakibara yang sepertinya kebal terhadap serangan fisik, pukulannya tidak berarti apa-apa.
Zehn yang melihat mereka baku hantam—yang mana diungguli Murasakibara—mendekat dan membantu Fünf. Ia terus-terusan menyetrumkan listrik bertegangan tinggi kepada pemuda yang paling tinggi itu meski tak membuahkan hasil. Beruntung mereka ditolong oleh Sechs yang menyerang menggunakan tanamannya.
"Tidak ada gunanya kalian melawannya dengan fisik, nodayo! Lumpuhkan pergerakannya, itu akan lebih efektif!" Usul pemuda berkacamata yang diikuti dua yang lain.
Sementara mereka berempat sedang bergulat; Nijimura, Nash, dan Alex menembakkan peluru ke arah Himuro. Si sasaran tembak sendiri mengelak dengan lincah. Elf yang sejak tadi diam saja mengeluarkan kedua pedang dari sarungnya dan maju menyerang.
TRANGG!
Suara dentingan terdengar nyaring kala pedang Elf dan belati Himuro berbenturan. Sejenak Elf melangkah mundur, digantikan oleh Seiben yang kini menyerang Himuro dengan tongkat esnya. Pemuda bersurai langit itu memandangi pedang pendek yang tadi bersentuhan dengan belati Himuro, kemudian memandang belati yang masih berayun di tangan musuh mereka.
"Tidak patah?" Gumamnya tidak percaya.
"ELFCCHI!" Seruan Seiben segera membuyarkan lamunannya. Ia memandang si pemanggil yang sudah berdiri di sampingnya dengant terengah-tengah. "Kita tidak bisa menyerangnya bergantian seperti ini, ssu. Lebih efektif kalau kita serang sama-sama."
Setelah merancang rencana singkat itu, Seiben dan Elf menyerang secara bersamaan. Dan benar saja, kerjasama mereka berhasil membuat Himuro cukup kewalahan. Ditambah lagi Alex ikutan maju dan menyerang dengan teknik bela dirinya.
Sementara Alex melayangkan tinju ke wajah Himuro, pria itu menangkisnya dengan tangan kanan dan membalas dengan melayangkan belatinya. Serangan itu dicegah Seiben dengan memukulkan tongkatnya ke belati dan membekukannya. Kesempatan ini digunakan Wanita Amerika itu untuk mengait kaki Himuro yang sayangnya dihindari. Elf sendiri menjadi lebih leluasa menyerang. Ia berlari ke belakang Himuro dan memukulkan gagang pedang ke tenguknya, kemudian menusuk kaki kiri Himuro dengan maksud melumpuhkannya.
"A-AAAARRGGH!"
Sesaat setelah itu, teriakkan menggema diikuti suara ambruk yang keras. Tetapi anehnya bukan Himuro yang berteriak ataupun rubuh. Sebaliknya, Murasakibaralah yang tadi berteriak. Ia kini berlutut dengan memegangi kaki kirinya yang bersimbah darah.
"SAKIT! SAKIT! HENTIKAN! KUMOHON! AKU TIDAK MAU!" Rintihannya tidak berhenti, ia malah mengeluh kesakitan bahkan menangis seperti anak kecil. Pemuda itu bahkan sampai muntah-muntah. Reaksi yang cukup berlebihan, menurut mereka.
Entah sudah berapa kali mereka dibuat bingung malam ini. Elf yakin ia menusuk kaki seseorang bernama Himuro, bukannya Murasakibara. Apalagi posisi mereka bisa dikatakan cukup jauh untuk serangan menggunakan pedang. Tapi, kenapa malah Murasakibara yang terluka di posisi yang sama tempatnya menyerang?
"Khukhu.. Hahahaha! Aah... bodoh sekali."
Perhatian mereka dialihkan oleh suara tawa yang datang dari Himuro. Di antara keanehan yang mereka rasakan, Himuro malah tertawa dengan suara mengerikan. Seolah-olah ia tahu segalanya.
"Apa yang terjadi, ssu. Apa yang kau lakukan pada Murasakicchi!?" Seiben yang tidak tega melihat temannya terluka naik pitam dan meremas kerah Himuro kuat. Anehnya jawaban Himuro hanya semakin membuat mereka bingung.
"Jangan macam-macam. Kau tidak mau membuat Atsushi terluka lagi kan? Kau tidak mungkin membuatnya ketakutan lebih dari ini kan?"
"Hah?"
"Algophobia*."
"Algo..."
"Ketakutan berlebihan akan rasa sakit." Elf dengan cepat menjawab kebingungan Seiben dan yang lainnya. "Maksudmu Murasakibara-kun phobia terhadap rasa sakit?"
"Bisa dibilang begitu." Jawab Himuro. "Atsushi tidak pernah terluka seumur hidupnya. Entah bagaimana dia kebal terhadap serangan fisik apapun. Dengan kata lain dia tidak punya pengalaman apapun terhadap yang namanya rasa sakit. Ketika pertama kali merasakan sakit ia tidak dapat membendungnya. Sejak saat itu dia tidak ingin merasakan sakit lagi seumur hidupnya. Tapi malam ini kalian membuatnya kesakitan. Bukankah itu jahat?"
"Tapi itu tidak menjelaskan kenapa dia yang terluka setelah Tetsu menusukmu!" Ucap Fünf yang berdiri di samping Murasakibara yang terisak.
"Tentu saja itu sudah tugasnya untuk menjagaku." Jawaban Himuro tak ayal membuat mereka semakin bingung. "Sudah kubilang dia melindungiku dari kematian. Dia melindungiku dari luka fisik bentuk apapun," Pria bersurai hitam itu memutus perkataannya ketika menyibakkan poni yang menutupi mata kirinya. "Dengan harga yang cukup mahal."
Mereka semua terbelalak melihat mata kiri Himuro. Ah, mungkin lebih tepat jika disebut rongga mata. Karena bagian mata yang selalu tertutup poni itu tidak lagi memiliki bola mata. Meninggalkan lubang kosong yang mengerikan.
"Kau... mengikat kontrak..." Bisik Zehn tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Kontrakku adalah, Atsushi melindungiku dari kematian dengan cara menghindarkan luka dari tubuhku kepadanya. Jika kontrak berakhir, dia bisa memakan seluruh organ tubuhku. Akhir kontrak adalah kematianku. Tetapi... karena dia menghindarkan kematianku, otomatis aku tidak akan mati lebih dahulu sebelum dia." Jelasnya panjang lebar dengan seringai licik yang menyebalkan.
"Bisa dibilang kontrak ini adalah kontrak seumur hidup."
.
.
.
TBC
*Asoy di sini maksudnya sabu-sabu. Saya pernah mendengar polisi neriakin itu waktu nemuin sabu-sabu di rumah pelaku. Saya liatnya di acara 86 di NET. Sebenarnya banyak istilah-istilah 'unyu' narkoba lain yang diteriakin polisinya di tipi, tapi saya ingatnya cuma si Asoy ini..
*Algophobia artinya phobia dengan rasa sakit. Penderita berpikir terlalu berlebihan terhadap rasa sakit yang akan mereka terima (misal: dicubit rasanya akan seperti disayat dsb.), sehingga menimbulkan reaksi sakit luar biasa seperti berteriak, pusing, mual, muntah, bahkan pingsan. Bisa juga disebabkan trauma. Untuk lebih jelasnya silakan tanya sama Oom Wikipedia..
A/N:
Saya potong dulu sampai sini. Gak nyangka balakan kepanjangan.. padahal niatnya mau ngabisin kasus empat di chapter ini. Soalnya saya udah ngebet pengen nulis kasus lima!
Yah.. kasus lima sebenarnya gak bakalan seheboh kasus-kasus sebelumnya sih.. di sana saya lebih fokus untuk pembongkaran berbagai rahasia semua karakter di sini. Jadi kasus yang saya bikin cenderung ringan, tetapi tetap menegangkan (lha, gimana tuh?)
Ano... Apakah penggambaran karakter Himuro di sini terlalu OOC? Saya berusaha mikirin Himuro yang baik lagi poker face, tapi entah kenapa malah jadi psikopat kayak gini...
Murasakibara sendiri saya bikin punya phobia itu dari awal. Makanya di chapter 25 waktu ngobrol sama Himuro dia takut kalau-kalau Himuro melukai diri sendiri. Kan repot, soalnya dia yang luka..
Baiklah, chapter selanjutnya akan dibuka kemampuan barunya Kuroko sebagai setengah Demon..!
Akhirul kata...
RnR Please...
Balasan untuk yang tidak pakai akun:
Maria Felicia
Hehe.. tapi yang sekarang telat lagi... #plakk
Hmm... saya masih belum menentukan tamatnya gimana sih...
Wah..! Terima kasih karena selalu setia membaca...
Dari hape dulu sampai yang baru? Saya berasa fic ini udah kelamaan... #sweatdrop
Guest
Okeh... ini udah lanjut kok... selamat membaca...
Omake
Ogiwara melingkarkan tangannya di leher Akashi erat seraya berbisik. "Sebenarnya aku bisa mengganggumu. Karena sesuai janjiku dengan Kuroko, yang tidak bisa kusentuh cuma Divisi Keajaiban."
"Hmp!" Akashi terkekeh geli mendengar pernyataan berani Ogiwara. "Nyalimu hebat juga. Memangnya kau bisa menggangguku dengan cara apa?"
"Dengan cara ini."
CUP!
Ogiwara dengan tiba-tiba mengecup pipi Akashi. MENGECUP! Pembaca sekalian...
BRUKK!
Akashi ambruk.
"Bwaahahahahah! Rasakan kau Akashi! Akulah orang pertama yang bisa menjatuhkanmu!" Ogiwara tertawa nista.
"Si...al... kau, Ogiwara Shigehiro! Kau telah... membuat fanfic ini jadi yaoi...!" Akashi pingsan.
