JY present
Delinquent Student: Season 2
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Eleven
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]
.
[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
.
.
.
"Apa yang kau lakukan?"
Sosok di sisi kanan Daehwi menoleh. Tatapan heran memancar dari manik coklat muda alaminya. Ada seberkas keterkejutan pula disana. Iris coklat terangnya kembali menatap layar ponselnya yang menampilkan panel panel dalam games yang belum sempat ia pause. Tidak ada niat untuk bertanya sejak kapan Daehwi sudah duduk disana dan menatapnya.
"Er.. aku bermain game."
"Kenapa tak ke kantin?"
Alis sang lawan bicara tertaut. "Ke kantin?"
"Kau selalu ke kantin setiap istirahat pertama."
Tawa menyembur dari pemuda itu. Surainya ikut bergoyang mengikuti alunan tawanya yang terdengar sangat renyah di gendang telinga Daehwi. "Dan kau selalu di kelas saat istirahat pertama. Sepertinya kau benar–benar hapal jadwalku ya?"
Daehwi mengerucutkan bibirnya. "Kau selalu lewat di lapangan. Aku jadi tau karena itu."
"Tapi hari ini aku tidak lewat di lapangan," punggung pemuda itu menegak, membenarkan posisi tubuhnya yang nyaris merosot di batang pohon taman samping bangunan sekolah. "Kenapa kau bisa tau aku disini?"
Daehwi mengerutkan alisnya. Malu, ia malu. Apa iya ia bilang kalau ia menguntit pemuda di depannya sejak bel istirahat pertama berbunyi? Toh, tidak sulit mengikuti surai ungu itu, mengingat kelas keduanya bersebelahan. Sel dalam otaknya berlarian, memikirkan jawaban logis untuk lawan bicaranya.
Samuel tertawa pelan melihat raut gugup Daehwi. "Kau mengikutiku ya?"
"Aku hanya penasaran, jangan terlalu percaya diri."
Bahu Samuel mengendik. "Aku tidak masalah, tuh."
Daehwi menyenderkan punggungnya pada batang pohon yang sama dengan Samuel. Irisnya masih mengikuti pergerakan Samuel dari ekor matanya. Di perhatikannya bagaimana pemuda keturunan itu –wajahnya sudah sangat menjelaskan kalau Samuel tidak berdarah Korea murni– memperhatikan tanaman bunga di seberang keduanya.
"Aku tidak mau dibilang sebagai penguntit," putus Daehwi.
"Tidak tidak, aku tidak mengatakan kau penguntit."
"Kenapa begitu?" Daehwi menoleh sedikit pada Samuel yang ada di sisi kanan tubuhnya.
Samuel tersenyum cukup lebar pagi ini. Daehwi bisa melihat deret rapi gigi Samuel dari ekor matanya. "Ada banyak hal yang menjelaskan kau bukanlah seorang penguntit. Ada banyak hal yang perlu kau lakukan sebelum meng–klaim dirimu menjadi seorang penguntit."
"Kau mengatakannya seakan kau sudah berpengalaman."
Tawa Samuel mengalun. "Aku adalah masternya kalau kau belum tau."
"Memangnya apa yang bisa dibanggakan dari gelar penguntit itu?" bibir Daehwi mencebik, memprotes nada sombong di kalimat Samuel barusan.
Samuel mengusap dagunya. Apa yang bisa dibanggakan dari gelar penguntit? Bisa mengetahui segala hal yang tidak diketahui banyak orang? Konyol, itu adalah pembelaan, bukan kebanggaan. Samuel menghela nafasnya cukup panjang.
"Banyak hal yang tak bisa dijelaskan. Kau harus mencobanya sendiri."
Daehwi menggeleng cepat. "Tidak, terima kasih."
Keduanya kembali diam setelahnya. Kelopak masing–masing saling terpejam, menikmati semilir angin yang berhembus di sekitar keduanya. Tak ada pertanyaan dari Samuel mengenai tujuan Daehwi mengikutinya pagi ini, pun tak ada kalimat basa–basi dari Daehwi setelah obrolan keduanya selesai. Keduanya diam saja seakan mereka sudah berteman dengan lama dan tak terganggu dengan kehadiran salah satu di dekatnya. Padahal faktanya, mereka baru saling mengetahui nama masing–masing kemarin.
Daehwi menarik nafasnya pelan.
"Apa kau ada masalah?"
Dahi Daehwi mengerut mendengar pertanyaan mendadak Samuel. "Kenapa memangnya?" balas Daehwi. Ia tak menyadari ada nada penasaran dan terkejut terselip di kalimat yang ia ucapkan sendiri.
"Kau kelihatan sedang mengalami suatu masalah."
Tawa lolos dari bibir surai coklat. "Benarkah?"
"Ada apa?"
"Kenapa aku harus memberitahunya padamu Sam?"
"Aku memaksa untuk yang satu ini."
Senyum terulas di bibir Daehwi. "Entahlah, aku tak yakin."
"Ada banyak hal yang tak perlu kau yakini di dunia ini, sebenarnya."
Telapak tangan Daehwi menepuk bahu Samuel cukup keras. Maniknya mendelik kesal pada sang surai ungu. Aduh, dia belum menyelesaikan kalimatnya tapi Samuel sudah menyelanya lebih dulu. Bagaimana ia mau bercerita kalau lawan bicaranya langsung berkomentar seperti itu? Samuel yang menyadari kesalahannya meringis pada Daehwi.
"Baik, lanjutkan ucapanmu."
Pipi tirus Daehwi menggembung. "Aku malas membahasnya. Tapi yah, kurasa aku perlu membicarakannya denganmu. Sebelumnya, aku mau bertanya, apa saat kau berbicara dengan orang lain dan merasakan detak jantungmu meningkat, uh ya kau tau, rasanya membuatmu pusing disatu sisi.. Apakah itu bisa disebut menyukai?"
Pertanyaan yang sama yang ia tujukan pada sepupu idiotnya, Woojin.
Daehwi bisa melihat persimpangan kecil di dahi Samuel. Namja itu tampak berpikir dalam untuk menjawab pertanyaan Daehwi.
"Darimana kau mendapat pikiran bahwa kau sedang menyukai orang itu?"
Telapak Daehwi mengusap tengkuknya canggung. Darimana? Iya, darimana ia bisa mendapat pikiran konyol itu? Kenapa ia begitu yakin dengan landasan teorinya yang begitu ambigu?
"Uh, hanya perkiraan samar?"
Samuel tertawa mendengarnya. "Kau harus menanyakannya pada dirimu sendiri. Kau yang paling mengerti tubuhmu dan juga detak jantungmu sendiri. Kau tidak perlu bertanya pada orang lain ketika kau gemetaran karena diminta naik ke atas panggung 'kan?"
Penjelasan konyol. Tapi Daehwi bisa menerima itu. Daehwi mengangguk membenarkan ucapan Samuel.
"Kau hanya perlu cermin untuk melihat dirimu sendiri. Kau hanya perlu meluangkan waktumu untuk menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirimu. Apakah kau menyukai ataupun jatuh cinta dengan orang itu, ataukah ada peringatan lain yang jantungmu coba sampaikan."
"Itu sulit.. soal melihat dalam diriku sendiri."
"Tidak juga," Samuel menyambar cepat, memutus ucapan Daehwi di ujung kalimatnya. "Kau harus menjadi tengah untuk melihat sisi kiri dan kanan di dirimu. Kalau kau melangkah satu inci pun ke salah satu arah, kau jelas takkan pernah bisa menemukan jawabannya."
"Dan bagaimana cara menjadi tengah?"
"Pertanyaan bagus," Samuel menjentikkan jarinya. "Bagaimana cara menjadi tengah? Kau bisa mengeluarkan pertanyaan seperti itu karena kau sedang berdiri di satu sisi saja. Tak perlu munafik untuk mengakui bahwa kau pesimis untuk menjadi tengah."
Daehwi mengernyit.
Kali ini, ucapan Samuel benar. Seratus persen tanpa unsur jenaka di dalamnya.
"Lalu?" bisik Daehwi cukup pelan.
"Kau harus mengalahkan rasa egomu. Kau harus mengalahkan karakter yang mendominasimu di satu sisi sehingga kau bisa melangkah dan menjadi tengah. Kau harus membuka 'hitam' yang menghalangi 'cahaya' di dirimu."
"Aku.. harus mengalahkan diriku sendiri?"
"Exactly, dear. Sebenarnya, bukan mengalahkan, hanya saja mengimprove dirimu sendiri untuk karakter baru yang lebih dewasa dan matang dalam dirimu."
Pipi Daehwi memanas. Tubuhnya langsung terfokus dengan kata 'dear' yang entah diucapkan Samuel dengan sengaja atau tidak. Ayolah Daehwi, di Amerika, kau sering di panggil 'dear' oleh banyak orang. Kenapa harus 'memerah' karena Samuel memanggilmu 'dear'?
Okay, ayo tepis soal 'dear' dan pikirkan soal itu nanti.
"Dan ketika kau menemukan jawabannya, disitulah saat kau sudah menjadi tengah dan membuka lembar cerita baru dalam hidupmu," tambah Samuel sebagai final dari penjelasan panjangnya.
Daehwi kembali menggerakkan telapaknya untuk menampar pundak Samuel keras. Sang surai ungu berjengit merasakan panas yang mendera satu bagian di lengan atasnya. Telapak kanannya bergerak mengusap pundaknya yang sekarang pasti memerah.
"Kenapa memukulku sih?"
"Kau itu sudah umur berapa? 40? 50? Jangan menjadi sok tua, hanya karena kau sudah berada di tengah tau!"
Samuel menghela nafasnya. "Tidak, aku bukanlah tengah."
"Hah? Lalu.. kenapa bisa berbicara seperti itu?"
Sudut bibir Samuel tertarik ke samping, melengkungkan senyuman manis pada Daehwi. Tolong ingatkan Daehwi untuk mengatur detak jantungnya yang mulai berlarian karena senyuman Samuel.
Okay, ayo tepis soal yang satu ini juga. Simpan pertanyaan akan dirimu sendiri untuk nanti, Lee. Kau punya banyak waktu untuk melakukannya. Kau punya sangat banyak waktu untuk menanyai dirimu sendiri nanti.
"Aku pernah menjadi tengah."
"Dan sekarang?"
"Aku rasa satu sisi di diriku sudah menarikku untuk menjadi serakah kembali. Dan kurasa kali ini hatiku tidak menahanku untuk melangkah disatu sisi saja."
"Bagaimana jika itu terjadi?" tuntut Daehwi.
Samuel mengalihkan fokusnya pada padang bunga mini di seberang mereka. Irisnya memperhatikan bagaimana angin menggoyangkan tanaman disana dengan lembut. Samuel terdiam sejenak setelah mendengar kalimat tanya Daehwi.
"Jika itu terjadi... itu berarti kau sudah terjatuh sepenuhnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
–TBC–
a/n: Hay? GUYS I MISS YOU SOOOO MUCH:"""
.
Sebelumnya, dd mau minta maaf sekali soal author note kemarin. Iya, dd khilaf sekali. Dd menyesal, sudah curhat begitu saja tanpa mempertimbangkan readers sekalian dan justru jatuhnya terkesan memaksa untuk review.
.
First, saya tidak bermaksud untuk memaksa reader-nim sekalian untuk mereview FF ini.
Terima kasih untuk yang sudah mengingatkan saya bahwa review bukanlah segalanya. Meski review sendiri punya impact cukup besar. But it's okay, saya sudah sangat berterima kasih pada reader-nim yang sudah menyempatkan diri membaca FF ini.
Nggak apa kok kalau nggak review, serius;_;
.
Second, special thanks saya berikan pada Sky Onix dan laiguan yang sudah mengoreksi kesalahan dd. Terima kasih banyak, karena kalian, dd langsung membenahi kesalahan fatal di chap kemarin. Terima kasih banyak;_;
.
Third, GUYS I LOVE YOU SO MUCH;_;
I can't describe it... Intinya, saya sayang kalian semua. Terima kasih banyak pada reader-nim yang sudah memberikan dukungan pada saya, membagi pengalaman, semangat, dan cinta pada dd maupun FF ini. Membaca review reader-nim sekalian benar-benar membuat dd terharu. Bahkan saya sempat nangis karena merasa bersalah dan terharu sekaligus;_; I'm sorry, but I promise, I'll fix it, anything. Thank you so much, thank you;_;
.
Last, saya itu nggak ngambek atau gimana btw ehehehehe. Jadi, dd itu mau apdet dari kemaren. Tapi yah, derita liburan, kuota habis;_; Adanya cuma local data dan honestly, dd lagi diluar kota, jadi itu kuota useless sekali sekarang ini. Ini aja bisa apdet karena nyolong tethering opa diem-diem (maafkan cucu durhaka ini opa;_;) Dan untuk beberapa hari kedepan, dd belum bisa apdet lagi, myane, karena belum balik ke home sweet home. Setelah dd pulang, dd janji akan apdet FF ini lagi secepatnya. Dd sendiri selama masa hiatus singkat ini sibuk membenahi diri/? untuk jadi lebih baik kedepannya ehehe, maklum, legal day sudah terlewati EHEHEHEHE. Jadi bisa baca FF rate M sepuasnya deh /slap.
.
DANNNN, kalau kalian kangen saya, bisa mampir di wattpad saya swxxtcandy. Disitu, dd lagi nulis story tentang OngNiel yang judulnya: He's an Art. Bisa loh di cek ehehe, rate M tuh /slap. Kenapa saya justru bisa apdet di wp? Karena kalau di wp, nulisnya via hp. Kalau ini kan, nulisnya via notebook. Mana notebook saya tuh akhir-akhir ini sering error ga jelas. Maklum, udah uzur. Mari mampir kesana;)
.
Btw itu Baejin lagi berantem sama Guan, eh ini si Dewi sama Sam lagi berduaan. Iyakan saja lah mereka.
Anyone, apa kalian menangkap sesuatu dari chap ini? Semacam... kode mungkin?
HEHEHEHEHEHE
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
