Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

.

CHAPTER 29

.

Pasca insiden pengrusakan rumahnya, keluarga dan teman-teman Hinata langsung mengunjunginya untuk memastikan keadaan Hinata.

Kushina dan suaminya adalah tamu pertamanya. Wanita berambut merah itu menangis tersedu-sedu sambil memeluknya erat. Butuh waktu lama bagi Hinata untuk menenangkan Kushina.

Setelah itu Hiashi, Neji, dan Hanabi mengunjunginya. Melihat keadaan Hinata yang baik-baik saja ketiganya bisa bernafas lega. Bahkan Hiashi menawarkan Hinata untuk tinggal di kediaman Hyuuga sampai kasus ini benar-benar selesai. Hinata tidak mengiyakan atau menolak tawaran itu, ia hanya berkata akan memikirkannya.

Temari, Shikamaru dan Gaara juga mengunjunginya. Dari perbincangannya dengan Temari, Hinata mengetahui bahwa semua orang yang tinggal di lingkungan rumahnya mulai lebih waspada dan meningkatkan keamanan. Temari juga mengatakan ia memutuskan ingin memelihara anjing untuk menambah keamanan rumah.

Tsume, Yoshino, dan eman-teman Hinata dari kelas yoga juga turut mengunjunginya. Nampaknya kejadian itu disiarkan di stasiun TV dan membuat semua orang yang mendengarnya menjadi panik. Kaum ibu-ibu itu memberikan banyak bingkisan dan oleh-oleh pada Hinata dan berpesan agar Hinata lebih berhati-hati.

Hinata tidak menyangka ia menjadi begitu popular disini.

Namun yang paling mengejutkan adalah Sakura Haruno juga mengunjunginya. Hubungannya dengan Sakura memang rumit, oleh karena itu ketika Sakura mengunjunginya ia merasa terkejut.

"Terima kasih untuk perhatianmu, Sakura. Maaf telah membuatmu khawatir."

Sebenarnya Hinata ingin bertanya 'mau apa kau kemari hah?!' namun sebagai nyonya rumah yang baik, ia harus menghargai tamu yang datang berkunjung.

"Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku mengkhawatirkan Sasuke-kun." Jawab Sakura dengan enteng.

Hinata berusaha mempertahankan senyum di bibirnya. "Oh begitu… tapi sayang sekali suamiku sedang tidak ada di rumah."

"Aku tahu."

Lalu mengapa kau tidak cepat pulang hah?!

Hinata mengangkat cangkirnya dan mulai meminum tehnya perlahan. Ia malas jika harus berdebat dengan Sakura.

"Apa Sasuke-kun sudah memberitahumu?"

Hinata meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja. "Tentang apa?"

"Pembicaraanku dengan Sasuke-kun beberapa hari yang lalu."

"Tidak. Sasuke tidak mengatakan apapun."

Ah! Hinata baru ingat sekarang! Bukankah Sasuke pernah mengatakan padanya bahwa suaminya itu akan bertemu dengan Sakura dan menyelesaikan semuanya. Sasuke tidak mengatakan isi percakapannya dengan Sakura dan Hinata juga lupa dengan hal itu karena ada kasus yang jauh lebih penting.

Sakura memandang Hinata lekat-lekat. Sepasang mata hijaunya terlihat sedih. "Kau sudah menang, Hinata. Aku akan mundur."

Eh?! Apa kata Sakura barusan?!

"Sakura…" Hinata tidak tahu harus mengatakan apa.

"Mengapa Sasuke-kun lebih memilihmu?" Bisik Sakura dengan sedih. "Mengapa sangat mudah bagimu mendapatkan hati Sasuke sementara perjuanganku selama ini tidak berarti apapun… ini benar-benar tidak adil."

"Seandainya Sasuke memilihmu, maka itu juga tidak adil, Sakura. Dia adalah suamiku, sudah seharusnya ia memilihku." Kata Hinata perlahan.

Mengapa Sasuke memilih Hinata? Ia tidak tahu.

"Kau tahu… aku sangat membencimu namun di sisi lain aku juga tidak membencimu."

"Apa maksudnya itu?" Tanya Hinata dengan bingung.

"Aku sangat membencimu, tingkahmu sangat menyebalkan dan membuatku ingin merobek-robek wajahmu yang sok naif dan lugu. Kau juga kekanak-kanakan dan aneh. Setiap kali kau tersenyum licik ingin sekali aku menghajarmu. Kau benar-benar bermuka dua, kau selalu memasang akting seperti seseorang yang lemah namun kau juga bisa bermulut pedas. Kau itu sangat… sangat… ugh! Pokoknya aku sangat membencimu!" Kata Sakura dengan geram.

Namun tak lama kemudian nada suaranya melembut. "Tapi aku juga tidak membencimu… kau adalah wanita yang baik, aku tahu itu. Kau adalah seseorang yang sederhana dan hangat. Kau bisa saja menyakitiku dengan berbagai cara, namun kau tidak pernah melakukannya. Kau juga cantik, terkadang aku cemburu melihat penampilanmu." Sakura tertawa getir. "Mengapa Sasuke harus menjatuhkan pilihannya pada wanita sepertimu… seandainya saja kau adalah wanita yang benar-benar jahat maka aku akan mudah sekali membencimu."

Hinata terpaku. Ia sama sekali tidak menyangka Sakura akan mengatakan hal-hal seperti ini padanya. Sejujurnya ia juga tidak membenci Sakura, ia hanya merasa kesal melihat tingkah Sakura yang selalu berusaha merebut Sasuke. Hinata tahu Sakura adalah seseorang yang keras kepala dan enggan mundur, itulah mengapa Sakura selalu berada di sisi Sasuke meski selalu mendapatkan perlakuan dingin.

"Sakura…"

"Aku tidak butuh belas kasihanmu!"

"A-aku ti-tidak memberi belas kasihan padamu!" Haruskah Sakura berteriak padanya?!

Sakura lalu bangkit berdiri. "Aku pergi dulu."

Ketika Hinata mengantarkannya sampai ke pintu depan, Sakura berbalik dan menatapnya dengan serius.

"Bahagiakan Sasuke-kun, hanya itu yang kuminta darimu."

.

.

Setelah satu minggu, kasus pengerusakan itu tidak kunjung mendapatkan titik terang.

Selama satu minggu itu pula Hinata selalu berada di kediaman Uchiha tanpa diperbolehkan kemana-mana dengan alasan keamanan.

Sebenarnya ia ingin mengunjungi Temari dan mengecek kondisi rumahnya pasca pengerusakan, namun lagi-lagi Sasuke melarangnya dengan alasan kemanan. Ingin sekali Hinata membantahnya dengan mengatakan mana mungkin si pelaku akan kembali lagi ke TKP saat ini, namun melihat wajah suaminya yang lelah Hinata mengurungkan niatnya

Hinata tahu Sasuke sangat stress menghadapi kasus ini, wajahnya yang lesu dan kantung matanya yang tebal menunjukkan dengan jelas kondisinya. Hinata merasa bingung, sebenarnya serumit apa kasus ini hingga mampu membuat Sasuke tertekan.

Pagi ini Hinata memohon-mohon pada Sasuke untuk mengijinkannya pergi mencari udara segar diluar. Berada seminggu disini juga bisa membuatnya jenuh dan suntuk.

"Tidak."

"A-aku tidak akan pergi sendirian. Aku akan membawa beberapa orang bersamaku."

Sasuke menggelengkan kepalanya.

"A-aku akan pulang sebelum sore. Kumohon~"

"Tidak."

Hinata menghela nafas. Ia hanya ingin sedikit hiburan.

"Aku bosan hanya berdiam diri di rumah…"

"Bagaimana jika kita pergi berlibur?"

Mata Hinata langsung berbinar-binar mendengar tawaran Sasuke. Dengan antusias Hinata langsung menyetujuinya.

"Kemana?" Tanya Hinata dengan senyum lebar.

"Kau mau pergi berlibur kemana?"

"Aku yang pilih?"

"Mm."

Hinata mulai berpikir serius. Banyak tempat yang ingin ia kunjungi. Ia ingin mengajak Sasuke ke Yukigakure karena dulu mereka tidak sempat bersenang-senang disana. Ia juga ingin mengunjungi gurun pasir di Suna karena konon pemandangan matahari terbenam di gurun pasir sangat cantik.

"Um… pantai?"

Pada akhirnya ia menjatuhkan pilihannya ke pantai. Sudah bertahun-tahun ia tidak merasakan deburan ombak dan hamparan pasir pantai di kakinya.

Sasuke tersenyum. "Oke."

.

.

"A-aku ti-tidak pernah tahu kau memiliki villa di tepi pantai." Kata Hinata sambil memandangi villa mungil nan cantik di depannya.

"Kau memang tidak pernah tahu apapun." Jawab Sasuke sambil keluar dari mobil.

Terkadang Hinata lupa bahwa pria yang dinikahinya ini adalah seorang konglomerat muda dengan harta melimpah. Hinata lalu memainkan liontin yang ia kenakan. Alangkah terkejutnya ia ketika menyadari batu merah di liontin ini bukan batu merah biasa melainkan berlian. Ia mengetahui kenyataan ini saat Hanabi memuji kalung yang ia kenakan saat mengunjunginya seminggu lalu.

Ingin sekali ia melepaskan kalung ini lalu menyimpannya di tempat aman sehingga tidak akan mengalami kerusakan atau hilang. Namun ketika ia mengingat kembali tentang makna kalung ini, ia tidak sampai hati melepasnya.

"Sasuke! Ayo ke pantai!" Ajak Hinata sambil membuntuti Sasuke yang kini berjalan masuk ke villa.

Sasuke menghentikan langkahnya. "Sekarang?"

Hinata mengangguk. Ia sudah tidak sabar lagi.

"Hinata, kita berada disini selama beberapa hari ke depan, tidak perlu tergesa-gesa seperti ini. Lagipula ini tengah hari, matahari sedang panas-panasnya."

"Ji-jika kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri."

.

.

Hari ini cuaca sedikit berawan sehingga sinar matahari tidak begitu menyengat kulit.

"Sasuke, Haruskah kau berada disini?" Tanya Hinata sambil memandangi Sasuke yang duduk di atas tikar sambil berteduh di bawah payung pantai yang lebar.

"Mm. Panas."

"Apa kau hanya akan duduk-duduk disini saja tanpa melakukan apapun?"

"Memangnya apa yang harus kulakukan? Aku tidak sudi berlari-larian mengejar ombak atau membuat istana pasir seperti anak-anak itu." Kata Sasuke sambil menuding segerombolan anak kecil yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.

"Kau bisa bermain layang-layang denganku." Hinata lalu menunjukkan layang-layang ditangannya. Sebelum berangkat kemari, ia sengaja membeli layang-layang ini di Konoha.

"Tidak, terima kasih. Aku lebih memilih berbaring disini."

Hinata mengangkat bahunya. "Terserah padamu."

Sudah lama sekali ia tidak bermain layang-layang. Angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi sangat cocok untuk menerbangkan layang-layang. Tak lama kemudian layang-layangnya membumbung tinggi, seakan menyentuh langit. Hembusan angin memainkan helaian rambutnya yang tergerai bebas, membuatnya seakan menari-nari. Terkadang deburan ombak menghampirinya dan menyapu kakinya dengan lembut seakan menyapanya.

Hinata tersenyum. Hidup benar-benar indah.

"Nona, layang-layangmu terbang sangat tinggi."

Hinata menoleh ke arah suara itu. Seorang pria muda berusia sekitar 25 tahun berdiri tidak jauh darinya sambil tersenyum sopan ke arahnya.

Hinata balas tersenyum sopan. "Saya hanya berharap semoga talinya tidak putus."

"Apakah nona sendirian saja disini?"

"Tidak, saya bersama seseorang." Kata Hinata sambil menggulung benang layang-layangnya.

"Apakah nona mau bergabung bersama teman-temanku saat pesta api unggun malam nanti? Semakin ramai akan semakin menyenangkan."

Hinata merasa tidak nyaman. Mengapa pria asing ini bersikap sok akrab padanya? Tidakkah pria ini melihat cincin pernikahan yang dikenakan Hinata?

Sebelum Hinata sempat menolaknya, Sasuke berjalan menghampirinya. "Kau disini rupanya, aku mencarimu kemana-mana."

Hinata mengerutkan alisnya. Apa maksud Sasuke? Bukankah sejak tadi Sasuke tahu jika Hinata bermain layang-layang disini?

"Um…" Kini Hinata semakin cepat menggulung benang layang-layang.

Kini Sasuke memeluk pinggangnya. "Apa kau lapar? Aku membawa sandwich."

"Ya." Kata Hinata sambil mengangguk. Mendengar itu Sasuke membimbingnya pergi ke payung pantai mereka.

Si pria asing nampak berdiri dengan canggung disana dan hanya mampu melihat dengan pasrah saat sosok Hinata dan Sasuke berjalan menjauhinya tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Siapa pria itu?" Tanya Sasuke saat mereka duduk di atas tikar.

Hinata menelan sandwich yang tengah ia kunyah. "Tidak tahu. Dia tidak mengatakan namanya."

"Jangan berbicara dengan orang asing, terutama pria."

"Tapi dia yang menyapaku lebih dulu…" Gumam Hinata.

Sasuke kembali menceramahinya setelah melihat pakaian Hinata. "Kau itu wanita yang sudah menikah, pakailah sesuatu yang lebih sopan."

Hinata melirik pakaian yang tengah ia kenakan. Sebuah kaus longgar berwarna ungu dan celana pendek beberapa senti di atas lutut. Memangnya ini masih kurang sopan?

"Mereka memakai bikini." Kata Hinata sambil menuding kerumunan gadis-gadis muda yang sedang berjemur.

"Jangan bandingkan mereka denganmu! Kau itu seorang nyonya Uchiha! Jangan memamerkan tubuh seenaknya."

"A-a-aku t-tidak memamerkan tu-tubuh!"

Bagian mana yang disebut pamer tubuh?! Kaus yang ia kenakan sangat longgar, menutupi bagian atas tubuhnya hingga ke lengan. Celana pendeknya yang menutupi pahanya hingga ke batas lutut juga tidak ketat. Hanya karena tangan dan kakinya tidak tertutupi lantas bisa disebut pamer tubuh?!

"Lain kali pakai sesuatu yang lebih panjang."

Hinata tidak mau memakai celana panjang saat ke pantai!

.

.

Maaf karena saya tidak membalas komen-komen reader di chapter sebelumnya, namun saya selalu menghargai setiap komen kalian. Ketika saya membaca dugaan-dugaan mengenai identitas si pelaku, saya hanya senyum-senyum sendiri melihat banyak nama-nama yang bermunculan.

Terima kasih telah membaca dan menyukai cerita saya^^