Disclaimer: Masashi Kishimoto. We don't take any personal material advantage from making this fanfiction.
Warning: AR, OOC, typos.

.

.

Bohong

.

.

Bulan purnama menggantung sempurna di langit malam yang bersih pekat gelap dari kerling bintang. Angin menelusuri tiap dataran dan daratan, menghela hembusannya pada gemerisik halus rimbun dedaunan dan pepohonan dan jangkrik yang meringkik bersahut-sahutan.

Setelah pagelaran perayaan kemenangan aliansi ninja atas perang dunia beberapa hari berturut-turut, sulit dipercaya keheningan merengkuh desa Konoha seolah keramaian karena kebahagiaan yang terjadi sebelumnya bak tak pernah merekah.

Ini bukan pertama kalinya sosok itu menjejak di atas gunung berpahatkan wajah-wajah Hokage pendahulunya, menerawangi tanah airnya dengan mulut terkatup dan duduk termenung. Sebut ia merenung. Karena alur kronologi histori berlari terlalu cepat untuk dilampaui otaknya yang lamban mencerna dan mengurai rangkaian peristiwa penyebab bingung.

Mimpi kanak-kanaknya tercapai. Benarkah? Teman setimnya yang ia kejar dan raih tanpa mengindahkan provokasi dan ancaman bertaruh nyawa kembali. Mimpikah? Teman-teman dan gelimpangan pahlawan ninja gugur dalam perang terbayarkan setimpal. Ilusikah? Kedamaian yang melingkupi seakan hendak meniduri abadi dunia ninja. Delusikah? Diakui eksistensinya bahkan dielu-elukan hingga membumbung ke ulu langit. Imajinasikah?

Gema kenangan dan gaung suara-suara memorial, kilas balik dari momentum yang telah berhasil diterjang, merangsek memenuhi seluruh penjuru pikiran dan batinnya.

Walau sangkalan pada harapan yang terwujud itu tidak mungkin, pada kenyataannya ini terjadi. Pada dirinya. Meragu seorang diri, sangkalan ini menjelma kebohongan.

Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki menghampirinya. Sentuhan lembut di bahunya membuatnya mendongak ke belakang. Mata birunya menemukan bahwa sebenarnya secercah cahaya penerangnya bukan bersumber dari temaram bulan purnama, melainkan pada sepasang mata tanpa pupil yang menyorot tanya dan lebih berkilau baginya di kegelapan sepekat-pekatnya hitam.

Refleks ia mengangkat tangan tannya dan menggenggam tangan berjemari lentik yang semula bertumpu di bahunya, menarik pemiliknya untuk terduduk di sampingnya dan membiarkan pemilik mata bulan itu mengetahui bahwa ia butuh ditemani.

Disandarkannya kening pada bahu mungil terlapisi jaket ungu terlewat longgar itu. Mata birunya lekas terpejam tatkala merasakan tangan lain membelai lembut surai pirangnya.

"Bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini?" Selontar tanya dari suara seraknya, mengalahkan gemerisik berisik ripuh alam di malam hari.

Mata birunya mengerling ke samping, melihat sudut-sudut bibir itu terangkat—mengulas senyum tipis dengan rona merah muda merambati pipi pucatnya.

"Kau bisa saja membohongi yang lain," jawabnya ambigu, melarikan jemarinya yang tidak digenggam tangan tan lain pada punggung tegap berbalut jubah merah dihembus angin malam.

Naruto Uzumaki mendesah, nyengir menyerah. "Byakyugan, ya?"

Gelengan sekilas. Sentuhan pada punggungnya membuatnya lebih rileks. Naruto tahu Hinata Hyuuga tidak akan mencarinya hanya dengan byakyugan—karena jutsu khas klan Hyuuga itu tak mampu mendeteksi kebohongan. Hatinya tidak akan bisa dibohongi. Kemanapun Naruto menyendiri bukan menghendaki sepi apalagi sendiri, di ujung semua ketidakpercayaan itu ada Hinata. Menolongnya yang terjerumus keraguan akibat dirinya sendiri.

Setidaknya, meski semua yang terjadi dan asa jadi nyata itu samar-samar, walau ruang pandangnya tak buram, walau ketidakpastian masih kukuh mengekori, dan keraguan ketat menghinggapi, nyaris mencetuskan kesimpulan itu atau ini bohong, tapi hati tidak lagi kosong.

Naruto menghirup dalam-dalam sehanyut wangi khas Hinata yang dicemburui oleh aroma kembang malam, mengeratkan genggamannya menampilkan betapa kontrasnya warna kulit mereka—tapi toh siapa peduli.

"Naruto-kun—"

Energi positif disengatkan Hinata pada dirinya. Ada selongsong ketentaraman tak teridentifikasi merasuki relungnya. Keduanya—karena Hinata turut merasakan hal yang serupa.

Naruto tidak lagi peduli dengan semua penyangkalan, keraguan, ketidakpastian, atau kebohongan yang dipertanyakannya. Terkecuali dengan betapa ia lagi-lagi diselamatkan pada Hinata yang membuatnya mampu bangkit dan mengembalikan perdamaian dunia.

Hinata tidak bohong. Atau tepatnya, Naruto balik memercayai bahwa sebenarnya yang menyelamatkannya adalah kepercayaan Hinata pada dirinya, dan senyum malu-malu tersemat di wajah terbingkai helaian indigo itu.

"—terima kasih."

Sebuah potret sunyi di malam hari di atas gunung berpahatkan wajah-wajah para Hokage tiap generasi, Naruto belajar jujur pada dirinya dengan segala kerendahan hati bahwa yang ia butuhkan saat ini hanyalah Hinata.

Dan Hinata mengeratkan genggamannya pada tangan Naruto, melirih tanpa lisan terucap, meyakinkan Naruto dapat bersandar kepadanya.

Mereka yang saling bertukar senyum dan merasakan senyum untuk satu sama lain meski tidak dalam posisi bisa saling melihat dengan leluasa—

"Yang harusnya berterima kasih itu aku, Hinata."

—ada cinta, bukanlah kebohongan belaka.

.

Fin

.

RnR?