Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Inspiride by : OreImo

Summary : Semua masih sama. Adiknya masih menjengkelkan seperti biasa. Tapi semua makin rumit saat banyak gadis yang menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya dan ditambah lagi sebuah bahaya besar mengancam kedamaian dunia shinobi. Bagaimanakah Bolt menghadapi semua ini?. Simak saja ceritanya. . .

Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family

Rate : T

Setting : Canon, Dunia ShInobi Modern, Konoha Metropolitan

Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Kamis, 18 Februari 2016

Happy reading . . . . .

.

My Cute Sister? Season II

By Si Hitam

Chapter 28. Himawari Punya Pacar.

Pagi ini sedikit mendung, entah apa sebabnya matahari tidak muncul sejak tadi pagi walau sekarang ini sudah menunjukkan jam 10. Namun begitu, hujan juga tidak kunjung turun dan angin yang bertiup pun juga tidak kencang, hanya angin sepoi dingin khas musim hujan saja yang terasa menyelimuti kulit.

Pada pagi yang seperti itulah, Himawari yang seharusnya sibuk latihan mempersiapkan diri untuk ujian kenaikan tingkat Jounin Exam, hari ini membatalkan latihannya. Lagipula Himawari merasa perlu mengunjungi seseorang. Yah, seseorang yang telah lama tiada, bahkan tidak pernah bertemu muka dengan Himawari. Orang yang sangat berjasa, orang yang mengorbankan diri untuk kedua orang tuanya, hingga ia bisa lahir ke dunia. Siapa lagi kalau bukan pamannya, Neji Hyuga.

Aaaahh,,, walaupun tidak pernah bertemu, tapi tetap ada rasa rindu di hati Himawari untuk pamannya itu. Maka hari ini, ia berniat ke pemakanan pahlawan Konoha untuk mengunjugi makam pamannya itu, sehingga disinilah ia sekarang, di toko bunga untuk membelikan bunga yang disukai oleh pamannya, bunga matahari. Ia sendiri tidak tahu apakah pamannya benar-benar menyukai bunga itu, namun ibunya bilang saat kecil ketika ia membawakan bungan matahari, paman neji pasti senang di alam sana.

Toko bunga Yamanaka Florist, di sinilah Himawari berada sekarang.

"Aku mau sebuket bunga matahari saja, Bibi Ino" pinta Himawari

"Iyaaa,,, kau pasti mau mengunjungi makam pamanmu kan, Hima-chan?" sahut Ino.

Ino sedang libur kerja hari ini, karena memang hari ini hari liburnya. Jika tidak sibuk di kantor sebagai kepala Divisi Interogasi Badan Intelegen Konoha, maka dia akan menyibukkan dirinya di toko bunga warisan ayahnya ini. Selain sebagai tambahan penghasilan untuk Ino yang memiliki jiwa sama seperti Sakura, jiwa sosialita, juga karena memang hobi Ino adalah memelihara bunga serta seni merangkai bunga atau yang disebut dengan istilah ikebana.

"Iya bibi, aku sudah lumayan lama tidak mengunjungi paman"

"Yah, pamanmu itu orang yang hebat. Walau dia saat muda dulu jarang bersosialisasi, minim ekspresi seperti kakekmu, dan tidak bisa di ajak bersenang-senang, tapi dia adalah orang yang paling berdedikasi mengabdikan diri pada keluarganya, klan Hyuga, dan Konoha. Dia selalu paling depan untuk melindungi orang lain yang berharga baginya, sangat peduli pada teman-temannya dan dia juga seorang ninja paling ideal yang pernah dimiliki Konoha. Cerdas, berwibawa, punya jiwa pemimpin, dan pastinya dia sangat kuat dan selalu menggunakan kekuatannya itu untuk orang lain"

"Ummm, Mama juga sering menceritakan itu padaku. Papa juga sering."

"Pasti lah,,,,, baik Papa atau Mamamu, pasti tidak akan pernah melupakan jasa dan pengorbanan pamanmu itu untuk mereka berdua..."

"..."

"..."

Hening tidak ada lagi topik yang dibicarakan, lagipula membahas mendiang Neji bagi kedua orang ini pasti memberikan kesan mendalam, terutama Himawari yang sudah sangat sering mendengar bagaimana pengorbanan dan pengabdian pamannya itu. Ino pun juga, walau saat muda dulu tidak terlalu dekat dengan Neji, tapi sebagai sesama ninja Konoha mereka terhubung oleh tekad api.

"Tadaimaaa,,, Okaa-san, aku pulang cepat, Hokage-sama tidak jadi memberikan misi pada tim kami, jadi aku, shikadai, dan Choucho libur, , , , , , ," Inojin bicara panjang lebar setelah masuk ke toko bunga milik keluarganya, tapi tidak ditanggapi oleh ibunya yang cerewet,, dan "Ehhh, ada Hima-chan rupanya..."

"Okaerinasai, , , , baru pulang?" tanya Ino yang baru nyadar.

"Iya Okaa-san" jawab Inojin secukupnya, beralih menatap Himawari, "Haloo,,, Hima-chan"

Inojin meyapa lembut pada Himawari, membuat Ino sedikit kesal namun juga sekaligus senang.

Yaaa, Ino tahu putranya ini tertarik dengan sang putri hokage, pilihan yang menurutnya sangat bagus. Hanya saja Inojin selalu tampak kesusahan mendekati Himawari sebab Naruto yang luar biasa protektif tidak membiarkan pemuda manapun bisa sembarangan mendekati Himawari.

Ino kalah langkah dengan Sakura. Kalau Sakura lebih mudah, Sarada yang memang sejak dulu menyukai Bolt, walau Bolt sendiri tidak peka, tapi tidak ada yang menghalangi Sarada untuk mendekati Bolt. Naaah, kalau Inojin, terhalang sifat daughter complex Naruto. Baik Sakura maupun Ino, mereka bersaing ketat untuk bisa berbesan dengan keluarga Uzumaki. Bukannya apa-apa, hanya saja siapa yang tidak tergiur?, siapa yang bisa menolak untuk berbesan dengan keluarga ningrat terpandang dan terkaya nomor satu didunia...? Aaahhh,,, dua ibu sosialita ini memang super mata duitan.

"Ah, ya.. Halo juga, Inojin-nii" jawab Himawari, yang baru keluar dari lamunannya tentang paman Neji.

"Sudah lama disini?" tanya Inojin.

"Tidak juga, aku hanya membeli bunga matahari untuk mengunjungi makam paman"

"Oohhh..."

"Bagaimana kalau Inojin menemanimu ke makam pamanmu, Hima-chan?" kata Ino mengusulkan, kesempatan untuknya mendekati calon menantu. Mata Ino juga berkedip-kedip memberi isyarat pada Inojin.

"Iya,, biar aku menemanimu, lagipula aku sedang tidak sibuk" Inojin dengan senang hati menawarkan diri. Dia paham maksud ibunya dan tentu saja senang dengan dukungan penuh dari ibunya ini.

"Aaaahh,,, bagaimana yaa?" Himawari tampak bingung.

Himawari bukan bingung memilih 'iya' atau 'tidak', dia sudah punya jawabannya pasti, ingin sekali ia menjawab 'tidak', tapi dia bingung mau menolak dengan alasan apa. Sebenarnya Himawari sudah sering menghadapi situasi seperti ini, pesona keimutannya sebagai gadis praremaja yang luar biasa, yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun, ditambah lagi latar belakangnya sebagai putri keluarga ningrat terpandang dan terkaya, adalah penyebab utama dia sering didekati oleh banyak pemuda. Tidak hanya Inojin saja, sudah tidak terhitung pemuda yang mendekatinya, dari berbagai kalangan baik sesama ninja, teman sejawat artis dan model, serta putra para pejabat dan pengusaha-pengusaha kaya.

Namun, Himawari selalu menolak. Ia tidak suka didekati laki-laki, ia merasa risih jika berdekatan dengan laki-laki, makanya teman-temannya pun kebanyakan hanyalah perempuan. Hanya ayahnya, Naruto, saja yang dekat dengannya. Sekarang pun bertambah satu orang yaitu kakaknya, Bolt, yang kembali dekat dengannya walau dekat dalam artian selalu menjadi partner bertengkar. Kali ini pun, Himawari ingin menolak tawaran Inojin, namun karena merasa tidak enak dengan bibi Ino, akhirnya untuk kali ini ia mau menerima tawaran Inojin, dengan terpaksa tentunya.

"Bagaimana? Boleh?" tanya Inojin penuh harap.

Ino juga menunjukkan raut wajah penuh harap yang sama dengan putranya...

"Ahh,, kurasa tidak apa-apa. Boleh kok, lagian jika ada teman sepertinya lebih menyenangkan"

"Bagus,,, heheeee.. Jadi mau berangkat sekarang, Hima-chan?"

Himawari mengangguk,,,

"Ya sudah,, kalau begitu ayoo.." Inojin jalan didepan Himawari, membukakan pintu toko, "Okaa-san,, ittekimasu"

"Itterasahai" jawab Ino.

Ino langsung menjerit-jerit kesenangan, ber-kyaa-kyaa ria setelah Himawari dan Inojin keluar dari tokonya,,, tentu saja, dia sudah selangkah lebih dekat untuk menjadi besan keluarga kaya Uzumaki-Hyuga. 'Heheeeee,, neee jidat lebar mengkilap, kita lihat siapa yang akan lebih dulu menjadi besan Naruto?. Walau Naruto mengidap daugther complex, tapi sepertinya Sarada lebih sulit mendekati Bolt yang punya sifat tidak peka pada sinyal cinta perempuan sama seperti Naruto idiot itu,,,, Buktinya saja Hinata perlu waktu yang sangat lama agar bisa mendapatkan hati Naruto… Ohohohoooo...'

.

Setelah mengunjungi makam, sekalian membersihkan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh dan berdo'a untuk paman Neji, Himawari memutuskan untuk langsung pulang. Malas latihan, tidak ada agenda sesi pemotretan di studio hari ini, sehingga merasa ingin menghabiskan waktu seharian di kamar saja.

"Hima-chan, setelah ini mau kemana?" tanya Inojin setelah mereka berdua keluar dari areal pemakaman.

"Aku mau langsung pulang saja."

"Begitu yaa..." Inojin berharap bisa bersama Himawari lebih lama lagi, "Kalau begitu, ku antarkan kau pulang ya."

"Ya" jawab Himawari singkat.

Beberapa waktu berjalan tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua sebab Himawari sedang tidak mood untuk bicara akibat menerima tawaran Inojin dengan terpaksa. Hingga Himawari dan Inojin bertemu dengan sepasang manusia yang sangat mereka kenal. Bolt dan Mirai, mereka bertemu di pertigaan. Sepertinya Bolt juga akan pulang, karena di pertigaan itu mereka menuju arah yang sama. Tampak jelas sekali kalau Bolt dan Mirai sangat dekat, bercanda ria dengan kontak fisik yang berlebihan. Saat ketika Bolt mengejek, maka Mirai akan membalasnya dengan cubitan dipinggang, lalu sejurus kemudian Bolt akan mencubit pipi Mirai atau mengusap rambutnya.

"Halooo, Hima-chan" sapa Mirai duluan ketika ia sadar kalau ternyata bertemu Himawari di jalan.

"Ah halo, Mirai-nee" balas Himawari.

Ketika Himawari melihat kakaknya yang berjalan bersama Mirai, ia memberikan tatapan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sedikit raut wajah bingung di tampilkan Himawari dalam ekspresinya, bingung karena tidak tahu sejak kapan Bolt dan Mirai jadi kelihatan sangat dekat seperti ini. Bahkan ini jauh lebih dekat ketimbang saat menjalankan misi ke Kumo kemarin.

Setahu Himawari, kakaknya itu hanya dekat dengan gadis bernama Uchiha Sarada saja, karena mereka memang dekat sejak kecil. Bolt jarang sekali kelihatan bersama gadis lain selain Sarada. Tidak pernah ada yang mau mendekati kakaknya yang payah itu selain Sarada, atau bisa jadi Sarada tidak membiarkan gadis manapun mendekati Bolt? Entahlah….

"Habis dari mana?" tanya Mirai antusias.

"Aahh,,, Aku baru saja mengunjungi makam paman Neji."

"Oooh,"

"Kalian sendiri habis dari mana?" tanya Himawari

"Ada tugas kecil dari Hokage-sama, ini baru saja selesai. Kebetulan aku bertemu Bolt-kun di jalan, jadi kami pulang bersama. Rumah kita kan berdekatan, cuma beda blok saja"

"Iya sih Mirai-nee,, heheee..." sahut Himawari

"Hai, Mirai-sensei" sapa Inojin.

"Oh, Inojin. Maaf kalau sempat mengacuhkan mu."

"Tidak apa-apa Mirai sensei. Aku hanya mengantar Hima-chan pulang, tadi aku juga menemaninya ke tempat pemakaman pahlawan Konoha"

"Oooohh,, kalau begitu kita pulang bersama saja. Tidak apa-apa kan, Bolt-kun?"

"Ah, yaa…" Bolt sedikit tersentak.

Barusan Bolt melamun, tidak mau ambil pusing walau aneh saja melihat Himawari di antar pulang oleh seorang laki-laki bahkan mau ditemani ke makam paman Neji. Setahu Bolt, adiknya itu tidak pernah mau didekati dengan laki-laki manapun selain ayah mereka, atau jangan-jangan Himawari dan Inojin ada hubungan khusus mengingat bahwa Himawari pernah berkata akan mengenalkan pacarnya ketika Bolt bicara dengan Himawai saat di tangga di rumahnya beberapa hari yang lalu. Ada rasa sedikit tidak suka dalam hati Bolt akan kedekatan itu, walau ia sendiri berteman baik dengan Inojin.

"Tidak apa-apa, malah lebih seru" kata Bolt lagi.

"Ya, sudah .. Ayoo" ajak Himawari.

Himawari pun berjalan mendahului, Inojin langsung mengambil tempat berjalan disamping Himawari. Sedangkan Bolt dan Mirai berjalan bersama dibelakang Himawari dan Inojin.

"Oh iya, Hima-chan. Kau beneran ikut Jounin Exam tahun ini?" tanya Inojin

"Iya, Inojin-nii. Aku pasti ikut, aku sudah berlatih keras untuk ujian itu" jawab Himawari antusias. Himawari memang bersemangat jika membicarakan tentang Jounin Exam, ada yang ingin dia capai disana dan adapula seseorang yang ingin dia lampaui.

"Wah, hebat ya. Kamu belum lama jadi chuunin, sudah mau ikut Jounin Exam segala."

"Iya dong,, aku tidak mau begini-begini saja. Harus ada peningkatan dalam hidup"

"Bicaramu seperti orang tua saja, Hima-chan"

"Heiii,,, jangan mengejekku, Inojin-nii"

"Ahahaaa, bercanda. Tapi kok bisa ya kau ikut jounin exam? Salah satu syaratnya kan pesertanya sudah harus berusia 16 tahun, usiamu belum memenuhi syarat kan?"

"Iya sih,, umurku baru 15 tahun. Walau begitu, aku masih bisa ikut. Tidak hanya aku saja, tapi juga teman setim ku yang lain, Amaru-chan dan Ryu-chan. Kami bertiga akan ikut. Tim kami mendapat pengecualian berkat banyaknya prestasi yang kami toreh sejak resmi menjadi tim chunin"

"Whoaa,, aku benar-benar kagum padamu, Hima-chan"

"Ahhh, terima-kasih. Tapi ini juga berkat Papa. Ya kau tahu lah Papaku itu bagaimana"

Seperti kebanyakan orang yang menduduki jabatan tinggi dan penting, ada saja tindak penyalahgunaan wewenang. Naruto pun sebagai manusia biasa yang bisa salah dan khilaf juga tidak luput dari itu. Untuk putri kecil kesayangannya, tidak ada yang tidak bisa dilakukan Naruto. Termasuk membuat pengecualian bagi tim Himawari untuk mengikuti Jounin Exam.

Awalnya lebih dari setengah panitia Jounin Exam keberatan dengan pengecualian terhadap tim Himawari ini, selain karena resiko bahaya untuk mereka yang masih sangat muda, juga berkaitan dengan rasa keadilan terhadap semua chunin Konoha. Namun uang suap dengan jumlah lumayan banyak yang Naruto berikan, berhasil membalik keadaan hingga hampir semua panitia menyetujui keinginannya. Sisa panitia lain yang masih bersikeras, Naruto beri tampang sangar bak raja iblis dari wajahnya yang dikombinasi dengan chakra kegelapan dari Kyubi, membuat mereka bungkam seketika. Aaaahhh,,, Naruto sekarang benar-benar kelewatan, memanfaatkan jabatan, harta, dan kekuatannya demi keinginan pribadi.

"Iya sihh" Inojin jadi teringat dengan cera Naruto memandang dirinya.

Ayahnya Himawari selalu memandang sinis pada Inojin jika mendekati Himawari. Tidak hanya dirinya, teman-teman sejawat yang semuanya berusaha melakukan pendekatan pada Himawari seperti Mitsuki, Metal Lee si norak, dan lain-lainnya selalu diberi pandangan sinis membunuh oleh Naruto.

"Kau beruntung memiliki ayah seperti Hokage-sama" puji Inojin tidak ikhlas dalam hati.

"Iya dong,, Papa kebanggaanku gitu.."

Inojin dan Himawari terus berbicara, tampak asik dengan dunia mereka berdua tanpa mempedulikan sepasang manusia yang berjalan dibelakang mereka.

Ada Bolt yang diam saja, dengan wajah serius memperhatikan adiknya si Himawari yang berbicara terlalu akrab dengan temannya berambut pirang lurus itu.

Mirai tiba-tiba menyikut Bolt,,,

"Apa?" tanya Bolt menatap Mirai.

"Mereka berdua kelihatan sangat akrab ya?" bisik Mirai.

"Iya sih, tapi itu malah bagus. Mengobrol dengan Inojin, pasti menyenangkan bagi Hima, mereka berdua bisa membicarakan topik yang sama, mereka kan sama-sama ikut Jounin Exam"

"Ah, seandainya kau juga ikut, Bolt-kun"

"Aku memang tidak berniat ikut, tapi syukurlah ada Inojin yang bisa menjadi teman mengobrol Hima" kata Bolt sembari berusaha menunjukkan ekspresi senang di wajahnya.

" . . . . . " Mirai yang merupakan elite jounin berpengalaman walaupun masih muda, tentu bisa membaca raut wajah Bolt yang sekarang. Karena itulah dia kini menatap wajah Bolt seakan meminta Bolt agar jujur padanya.

"Ada apa sih Mirai-nee? Kenapa kau memandangiku seperti itu"

"Bukan apa-apa" jawab Mirai ketus, seakan tidak suka dengan Bolt yang sekarang. Entah karena alasan apa, Mirai juga sebenarnya sangat tidak suka melihat keakraban antara Inojin dan Himawari.

"Kau ini kenapa sih, Mirai-nee? Tadi senang-senang saja, tapi kok bisa berubah drastis seperti ini?"

"Sudah kubilang, bukan apa-apa..!"

"Sikapmu yang seperti itu malah membuat ku penasaran tahu"

Perdebatan kecil antara Mirai dan Bolt ini mengalihkan fokus Himawari...

"Aku juga ikut Jounin Exam loh Hima-chan. Aaaahh, semoga saja kita tidak bertemu nanti disana sebagai lawan. Aku pasti tidak akan sanggup melawanmu yang sekarang, katanya kau sudah bisa mengusai kekuatan bijuu setelah latihan dipulau kura-kura beberapa bulan lalu, iya kan?" tutur Inojin panjang lebar.

Halaaaaahh,,,, Inojin tidak tahu saja, bahkan tanpa kekuatan bijuu Yin Kurama pun, Himawari bisa meng.K.O. 100 ninja seperti Inojin dalam sekejap. Buktinya Himawari sendirian saja sudah sanggup bertarung imbang melawan Naruto dengan Senjutsu-Byakugan Sennin Mode + Hiraishin ketika latih tanding di pulau pribadi keluarga Hyuga tempo hari. Bagaimana jika Himawari menggunakan kekuatan bijuu yang sanggup memaksa Naruto mengaktifkan mode bertarung terkuat, Senjutsu-Rikudou Mode, Konoha bisa hancur luluh lantak.

Namun Himawari tidak mendengarkan ucapan Inojin lagi, perhatiannya teralih pada perdebatan antara Mirai dengan kakaknya, dia merasa tidak suka dengan kedekatan Bolt dan Mirai yang sekarang. Apa tidak puas kalau dengan si Sarada saja? pikir Himawari.

Tidak perlu waktu lama, perjalanan pulang mereka berempat yang diisi dengan perdebatan kecil antara Bolt dan Mirai, serta ocehan Inojin yang tidak dihiraukan oleh Himawari, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah megah. Rumah yang menjadi tempat tinggal Hokage Ketujuh beserta keluarganya.

"Ya sudah,,, aku mau masuk dulu ya.. Terima kasih Inojin-nii, sudah mau mengantarku"

"Iya, sama-sama Hima-chan"

Himawari hendak membuka pintu depan, namun ternyata pintu itu telah terbuka duluan. Ibunya, Hinata, lebih dulu membukakan pintu. "Sudah pulang Hima-chan. Mama kira kau akan lama mengunjungi makam pamanmu"

"Sejak pagi kan sudah mendung Mama, jadi aku pulang cepat, takut nanti kehujanan" jawab Himawari.

"Oooohh…."

"Aku masuk yah Ma,,,"

"Iya sayang…"

Himawari pun langsung masuk kedalam rumah.

Hinata lalu melihat pada orang-orang yang datang bersama Himawari, "Eh, Bolt-kun, kau sudah pulang juga?"

"Iya, Mama. Urusan ku sudah selesai"

"Ada Mirai-chan dan Inojin-kun juga? Kalian mau mampir?"

"Kalau aku tidak usah, Bibi. Aku ingin langsung pulang saja, aku sudah memberitahu ibuku akan pulang cepat, nanti ibu khawatir kalau aku terlambat pulang"

"Ooohhhhh... Ya sudah"

"Mau ku antar, Mirai-nee" tawar Bolt.

"Tidak usah, Bolt-kun. Rumahku dan rumahmu ini satu blok, lebih baik kau segera istirahat saja. Ku lihat hari ini sejak pagi tadi kau tampak kurang sehat"

"Ohh, begitu ya. Heheeee…" Bolt jadi tersipu mendapat perhatian yang bisa dianggap berlebihan dari Mirai.

Hinata itu orang yang peka, dia tentu tahu apa yang tengah melanda hati putra yang sangat ia sayangi itu. Hinata lalu menatap Inojin yang tadi sedikit terabaikan, "Inojin-kun, sebaiknya masuk saja, kau kan belum pernah mampir kerumah ini" kata Hinata.

"Ah, baiklah. Terima kasih, Uzumaki-sama" Inojin tentu menerima ajakan Hinata dengan senang hati, kesempatan emas untuk lebih dekat dengan calon ibu mertua, pikirnya.

.

Hari berikutnya, saat waktu sore dimana matahari sudah sangat condong ke barat, mungkin sekitar jam 5, Bolt dan Mirai terlihat berjalan bersama. Tujuannya adalah rumah Bolt, katanya akan diadakan pesta kecil-kecilan tim 7 bersama Bolt, untuk merayakan dua tahun terbentuknya tim mereka. Bolt memang sengaja menunggu Mirai di kantor Hokage, menunggu Mirai selesai mengerjakan tugas dan melapor disana, jadi lah di saat menjelang petang seperti ini, mereka bersama hingga kini telah sampai di depan pagar rumah Bolt.

Suasana di antara mereka berdua tidak tampak hangat seperti biasanya, Bolt terlihat sedang murung seperti tengah memikirkan sesuatu, dan hal itu tidak luput dari mata Mirai. Mirai tampaknya sangat serius memperhatikan Bolt yang beberapa waktu ini selalu memenuhi pikirannya.

"Apa aku boleh menebak apa yang kau pikirkan saat ini?" tanya Mirai sebelum mereka berdua masuk kedalam rumah.

"Ahh,, terserah kau saja, Mirai-nee"

"Kalau memang Inojin itu pacar yang selama ini disembunyikan Hima-chan, maka aku sudah tidak lagi dibutuhkan."

"Ba-bagaimana mungkin? Kau bisa membaca pikiran orang lain?" Bolt langsung terkejut, karena kurang lebih seperti yang dikatakan Mirai lah, apa yang ia pikirkan saat ini. Memang hubungan dekat antara Bolt dengan adiknya, hanya ketika Himawari perlu bantuannya lah Bolt bisa dekat dengan Himawari. Jika sudah ada orang lain, maka Bolt pasti akan tersisih kembali dari hidup adiknya.

"Tidak. Tanpa menggunakan kekuatan apapun, aku bisa tahu"

"Kok bisa"

Mirai menatap serius ke kedua mata Bolt, "Karena aku selalu memperhatikanmu."

"Aa,,,," Bolt tersentak, lalu sesaat kemudian suatu hal terlintas di otaknya, "Oke.. Tapi jangan salah paham dulu ya, sebenarnya aku mau tanya dan sudah lama aku ingin menanyakan ini.."

"Tanyakan saja…"

"Anoo, begini,,,, ap-apa kau mencintaiku?" tanya Bolt dengan ekspresi serius

"Ya, aku mencintaimu" jawab Mirai tegas.

"He..."

"Cintaku sama besarnya dengan cinta adikmu untukmu"

"Kalimat itu lagi..." Bolt kembali ke ekpresi santainya.

Bolt masih ingat ketika ia berduaan bersama Mirai di bawah pohon mahoni didepan akademi ninja, Mirai juga pernah berkata seperti itu. Seperti cinta Himawari? apa maksudnya,,, mencintai bagaimana?, yang ada Himawari itu sangat membencinya, "Terus, kenapa waktu itu kau men-menciumku?"

"Ahhh..." Mirai jadi malu mengingat insiden itu lagi, wajahnya merona merah pekat,, "Ka-kalau i-ituuuu, " Mirai tampak kebingungan melanjutkan ucapannya, "Ituuu,,,"

"Hoi,, apa yang kalian lakukan?" Himawari tiba-tiba memanggil dari depan pintu, Bolt dan Mirai terkejut, "Jadi masuk tidak?" lalu Himawari pun masuk kembali kedalam rumah tanpa menutup pintu meninggalkan Mirai dan Bolt didepan pagar.

Bolt membuah nafas pasrah, keinginannya untuk mendapat kepastian dari Mirai lagi-lagi gagal.

Kini tim 7 lengkap ditambah Bolt sudah berada di ruang tamu rumah hokage. Naruto dan Hinata belum pulang, jadi hanya ada lima anak muda disana.

Namun suasana pesta kecil-kecilan mereka tampak sangat suram walau banyak makanan yang sudah tersaji. Entah kenapa, Mirai dan Himawari yang sedang duduk bersebelahan disofa, yang biasanya selalu dekat, kini tampak bersitegang. Keduanya sama-sama tidak mau saling menatap, yang ada malah saling membuang muka, bahkan sejak berkumpul diruangan ini, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.

Tidak tahu siapa yang mulai duluan, tau-tau sudah begini jadinya. Mirai yang biasanya selalu kelihatan dewasa dan bersikap tanpa didominasi ego, kini seperti sedang marah atau kesal atau mungkin tidak suka dengan Himawari.

Himawari pun begitu, tidak diketahui apa penyebabnya, dia mulai menjaga jarak dengan Mirai. Bukan akhir-akhir ini saja, namun sudah bermula sejak sekitar sebulan setelah dia pulang kembali dari Pulau Kura-Kura.

Ryuzetsu yang ada disana, tampak bingung harus bagaimana. Biasanya Mirai lah sebagai orang dewasa, jounin pembimbing yang mampu memperbaiki keadaan, namun kini malah Mirai sendiri yang terlibat masalah. "Bolt-niisan, apa terjadi sesuatu?" tanyanya berbisik pada Bolt. Kebetulan dia duduk bersebelahan dengan Bolt.

"Tidak tahu, sepertinya belum, mungkin hampir terjadi sesuatu.. Aku sendiri bingung menjelaskannya"

"Pasti terjadi sesuatu" sambung Amaru yang duduk didekat Ryuzetsu, rupa-rupanya dia mendengar percakapan pelan antara Ryuzetsu dan Bolt.

"Kita langsung saja, sekarang kita mulai perayaan 2 tahun terbentuknya tim 7" ucap Amaru pada semuanya, namun,,,

brakkkk...

Himawari memukul meja didepannya, tidak terlalu keras tapi cukup untuk membuat perhatian semua orang tertuju padanya, "Sebelum itu, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan pada kalian."

"…."

"…."

"Apaan?" tanya Bolt mewakili yang lainnya.

"Sekarang, aku sudah berpacaran dengan Inojin-nii"

"Haaaaa...?" Kompak keempat orang lainnya terkejut bersamaan.

"Aaaa,, ka-kami juga sudah beciuman" lanjut Himawari lagi.

Untuk kedua kalinya, keempat orang yang mendengarkan kembali terkejut dengan pernyataan Himawari,

"Kauu...!" Mirai tampak geram, tiba-tiba marah besar pada Himawari.

"Apa,, kau mau bilang sesuatu, Mirai-nee?"

"..." Mirai tidak menyahut namun emosinya semakin menjadi karena pertanyaan sinis Himawari.

"Kalau tidak ada, ya sudah. Kita langsung mulai saja pestanya" kata Himawari dengan suara riang, tidak mempedulikan apa yang Mirai rasakan.

Untuk pertama kalinya, Mirai tidak tahan dengan sifat menjengkelkan Himawari. Dia berdiri dan berniat pulang.

"Heiiii tunggu,,! Mirai-nee" Bolt berusaha mencegat kepulangan Mirai.

"Sekarang ini, aku tidak kuat jika terus-terusan didekat bocah egois itu" lalu Mirai pun langsung menghilang dibalik pintu.

"Kenapa sih Mirai-nee, begitu saja marah" gerutu Himawari.

"Oii,, apa maksud dari ucapanmu tadi?" tanya Bolt pada Himawari. Tampak Bolt juga muak dengan tingkah adiknya.

"Hah?"

"Tentang kalian yang berpacaran dan apalah itu... Kenapa kau sampaikan itu sekarang, disini? Semua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pesta ini kan?"

"Memangnya menurutmu kenapa?" tanya balik Himawari, tidak terima dengan perlakuan kakaknya.

"Mana kutahu.. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"

Ini untuk kesekian kalinya pasangan kakak adik Uzumaki bertengkar hebat. Ryuzetsu dan Amaru yang tersisa disana, tidak bisa berbuat apa-apa walaupun mereka ingin melakukan sesuatu.

"Memangnya kau ingin aku melakukan apa?" tanya balik Himawari.

"HAAAAH? TERSERAH KAU SAJA. HIDUP, HIDUPMU SENDIRI!. KENAPA BERTANYA PADAKU?" Bolt jadi berteriak, mengumpat kasar.

"YAH, KAU MEMANG BENAR. INI HIDUPKU." Balas teriak Himawari.

"APA-APAAN KAU? MAU MEMPERMAINKANKU HAH?"

"SIAPA YANG KUPACARI, ITU TERSERAH AKU KAN? KAU SENDIRI BILANG BEGITU TADI, KENAPA SEKARANG JADI KAU YANG REPOT?"

"GH…."

"Lagian, tidak ada laki-laki yang sebaik Inojin-nii. Tidak seperti seseorang yang ada disini, dia itu jauh lebih menarik, bisa diandalkan, punya banyak bakat" kata Himawari mengejek Bolt, "Kami nyambung mengobrol banyak hal, dia perhatian padaku, dan dia juga berjanji tidak akan selingkuh dariku. Dia selalu mendengar dan menghormati setiap pendapatku. Tidak seperti SESEORANG DISINI..." tunjuknya pada Bolt.

Bolt berdiri, menatap geram pada Himawari karena tidak tahan dengan ejekan yang dilontarkannya.

Himawari menatap tanpa takut sedikitpun pada kakaknya yang marah, malah seperti menantang. "APA?"

"CIH... Peduli amat" sahut Bolt menatap kesamping, bercampur antara perasaan marah, kesal, dan muak karena Himawari.

"Oh, begitu? Sesukamu lah" sahut Himawari, lalu langsung meninggalkan ruang tamu dimana seharusnya mereka mengadakan pesta kecil-kecilan.

Suasana masih hening sejak pertengkaran barusan, hingga,,,,,

"Apa boleh buat.. Biar ku bereskan saja" kata Amaru. Dia baru berani bicara setelah pertengkaran hebat Bolt dan Himawari selesai.

"Sini, biar ku bantu, Amaru…" tawar Ryuzetsu.

"Iya, terima kasih, Ryu-chan"

Bolt mendudukkan dirinya disofa, lelah dan pusing menghadapi tingkah egois dan menyebalkan Himawari.

"Haaaaaahhh,, maaf ya.. Kalian berdua yang tidak tahu apa-apa harus melihat pertengkaran kami"

"Cepat atau lambat, kejadian seperti tadi pasti akan datang juga" kata Amaru

"Yaa,, ku pikir juga begitu, Amaru-chan" sambung Ryuzetsu.

"Maksud kalian?" tanya Bolt yang kurang mengerti maksud Amaru dan Ryuzetsu.

"Yaaahh, begitulah Bolt-niisan. Masalah seperti ini juga bagian dari hubungan sesama manusia" jawab Amaru.

'Memang benar, adikku selalu membuat kegaduhan dan masalah disana-sini. Dan aku selalu terseret kedalamnya. Tapi mungkin ini adalah yang terakhir kalinya.'

"Bolt-niisan. Bisakah kami berdua mempercayakan ini padamu?" tanya Ryuzetsu.

"Iya, Bolt-niisan.. Aku dan Ryu-chan sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini baru pertama kalinya Mirai sensei dan Himawari bertengkar hebat" sambung Amaru.

"Tentu saja... Tapi aku sendiri juga bingung harus bagaimana. Walau begitu, akan ku lakukan sesuatu sebisaku"

"Ya" jawab Amaru dan Ryuzetsu bersamaan.

"Tapi kalau misalnya nanti gagal, aku minta maaf"

"Setelah sampai disini, kau yang selalu berhasil membantu kami dalam keadaan apapun, kau masih ragu dengan dirimu sendiri, Bolt-niisan?. Harusnya kau lebih percaya pada dirimu sendiri" kata Amaru.

"…" Bolt sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.

.

.

To be Continued. . . . .

.

Note : Hmm, bertengkar lagi tuh. Kali ini Bolt marah besar, bahkan Mirai sampai terlibat. Tau deh akan bagaimana nanti si Himawari?. Kalau aku beneran punya adik perempuan kayak gitu, rasa pengen banget ceburin dia kesumur.

Yang penasaran bagaimana jadinya blueprint senjata pemusnah meriam chakra, nanti juga di ceritain lagi. Lalu review tentang pair lagi nih, no comment dulu, yang penting update chapter baru jalan terus.

Karena cerita sudah berlangsung satu tahun sejak season I, maka umur pemeran cerita ini,

Uzumaki Himawari – 15 tahun

Uzumaki Buroto/Bolt – 18 tahun

Uchiha Sarada – 18 Tahun

Naruto – 38 tahun

Sarutobi Mirai – 21 tahun

Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.

Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.