Bagi yang butuh penjelasan di chap sebelumnya:
Pas Lu Xun ngomong tentang ada alat untuk terbang di masa depan yang bakal muncul 18 abad lagi, itu tentu aja maksudnya PESAWAT! Dan pas juga kan omongannya Lu Xun bakal ada pesawat 18 abad lagi... ^^v hehehe... pesawat kan diciptakan abad 20... XDDDDD
Reply Review dulu, ya~
Fansy Fan: Ahhh... actually I want the San Zang and Wukong from Warriors Orochi Z to be appeared here, and I want to keep their personality just like in the game, so that's why maybe Huo Li isn't naughty enough... XDDDD
Yulius: Makaseh... saya anggap sebuah pujian. BTW, gimana nih kok Wei di 3KO jadi meraja rela?
Putri: Yups... ^^ sesuai dengan di gamenya Warriors Orochi Z... ^^v Nggg... bukunya nggak terlalu berhubungan, kok... wkwkwk...
Yah! Mulai dari chapter ini (tepatnya chap sebelumnya, sih...), kita akan masuk ke 'FLASHBACK ARC' (sampe mungkin tiga atau empat chap kedepan). Jadi, akan banyak pengungkapan misteri yang terjadi di masa lalu... Hohohoho... Dan satu hal lagi, semua yang saya sampaikan di sini bukan Legenda FengHuang yang asli... banyak yang saya ubah sedikit demi kelancaran cerita... (halah!) Jadi, bersiaplah untuk PENGUNGKAPAN MISTERI!
Ehm, sedikit keterangan, sodara!
Di sini, kan pake POVnya Lu Xun. Nah, saya kesulitan menuliskan pas kalo Lu Xun ngelihat Feng, alias wujud masa lalunya dia. Kalo Lu Xun pake kata ganti orang ketiga, 'dia', kan kayaknya jayus banget menyebutkan diri sendiri sebagai 'dia'? Tapi kalau saya pake kata ganti orang pertama, 'aku', kan jadinya serem dan rancu banget? Nah, sebagai jalan tengah, saya pake kata ganti orang ketiga, tapi kalo ada kata dia yang di-italic, itu berarti Lu Xun dalam POVnya sedang menunjuk ke dia yang di masa lalu. Getu...
Wokey! Happy reading! ^^
Lu Xun
"Da-ge!" Seruan San Zang membuyarkanku dari semua pikiran yang masih berlintas-lintas dalam kepalaku. "Kenapa da-ge hanya diam saja? Da-ge tidak mau lihat yang lain?"
"Oh-oh iya!" Balasku dengan setengah linglung. Baru saja aku sadar, sekarang aku berada di sebuah waktu dan tempat yang lain lagi. Kalau tadi seolah sedang pagi, sekarang seolah-olah hari sedang malam. Tempat itu masih sama indahnya, tetapi kali ini bukan taman lagi. Tempat yang kulihat ini adalah sebuah gerbang yang besar sekali, seperti gerbang yang ada di Istana Wei. Namun, sekali lagi, tentu saja gerbang ini jauh lebih indah. Gerbang itu bukan berlapis emas, melainkan terbuat dari emas! Ukiran-ukiran di atasnya menambah keindahannya, belum lagi ditambah garis-garis kurva yang timbul berwarna perak dan taburan batu-matu mulia lainnya.
"Eh, tunggu sebentar..." San Zang tiba-tiba saja bergumam sendiri.
"Ada apa?"
Dia menggeleng perlahan. "K-kalau tidak salah... ini..." Dia menelan ludah. "Kejadian itu..."
Sebelum San Zang sempat mengatakan apapun, aku melihatnya lagi, diriku yang di masa lalu, sedang masuk ke dalam gerbang yang terbuka lebar. Aneh sekali jika ada gerbang, namun tidak ada penjaga di sana. Dan rupanya dia juga menyadarinya.
"Ahhh..." Dia berhenti tepat di depan gerbang itu. "Dimana keempat Si Xiang itu? Mungkinkah... mungkinkah sekarang..."
"Feng xun-jue!" Sepasang sosok kulihat dari jauh sedang berlari ke arahnya. Dan kedua orang itu, yang satu pria dan yang satu wanita, adalah Fu Xi dan Nü Wa. Keduanya menggenggam senjata mereka kuat-kuat, dan baik aku maupun diriku yang di masa lalu tahu hal itu tidak wajar dilakukan, kecuali jika sedang terjadi perang. Setelah dengan cepat memberi hormat, keduanya langsung berbicara, masih dengan suara yang terputus-putus. "Feng xun-jue... Untunglah kami bertemu denganmu!"
Dia tidak terlihat terkejut, tetap tenang seperti tadi. Sorot matanya yang lembut itu tidak berubah panik. "Fu Xi, Nü Wa, apa yang terjadi? Bicaralah pelan-pelan."
Keduanya saling berpandangan, sampai akhirnya Nü Wa-lah yang memutuskan untuk menjawab. "Feng xun-jue, kau pasti tidak akan percaya..." Nü Wa memulai, tetapi aku yang di masa lalu itu sedikitpun tidak terlihat khawatir. "... T'an Mo! Dia... dia memberontak!"
"Kurang ajar! Dia memang keterlaluan!" Fu Xi mengepalkan tinjunya. Wajahnya menjadi kaku dengan giginya gemertakan karena marah. "Hanya karena dia yang paling kuat, lalu dia sekarang berbalik menggunakan kekuatannya itu untuk melawan kita! Kurang ajar! Ini benar-benar kurang ajar!"
"Feng xun-jue, kau datang tepat pada waktunya!" Nü Wa melanjutkan lagi. "Para Si Xiang itu sudah memimpin peperangan melawannya! Tapi tetap saja mereka tidak akan berhasil mengusir T'an Mo tanpa kehadiranmu! Kau harus cepat, Feng xun-jue!"
Laporan dari Fu Xi dan Nü Wa membuatku kaget bukan buatan meskipun aku tidak sedang mengalami hal ini. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak menyangka kalau ternyata awalnya T'an Mo itu salah satu dari kami, bukan musuh kami! Tapi, anehnya, aku yang di masa lalu yang justru sedang mengalaminya sekarang ini, malah sama sekali tidak kelihatan terkejut. Hanya saja, senyum lembutnya tadi menjadi senyum sedih.
"Ternyata memang sudah waktunya..." Desahnya pelan. Aneh, aku yang dari sejauh ini bisa mendengarnya tetapi Fu Xi dan Nü Wa yang begitu dekat seolah tidak dapat mendengar. "Baiklah. Fu Xi, Nü Wa, mari kita masuk ke dalam."
Sampai saat itu, dia masih belum mengeluarkan senjatanya. Sementara mereka masuk ke dalam, aku dan San Zang pun mengikuti, tetapi secara ajaib kami tidak berlari menapaki tanah, tetapi melayang. Sesudah masuk, aku melihat tempat yang seperti taman yang kulihat sebelumnya. Dari sini aku bisa melihat berbagai bangunan di dalam gerbang itu yang keindahannya sama atau bahkan melebihi bangunan berbentuk prisma segitiga tadi. Namun, keindahan itu tercoreng karena banyaknya makluk-makhluk aneh yang berada di sana.
Mereka... mereka adalah para Yaoguai.
Aku tidak menyempatkan diri untuk melihat mereka satu persatu yang saling bertarung dengan makhluk-makhluk lain yang bercahaya putih, kebalikan dari para Yaoguai itu. Sekarang, aku hanya ingin mengikutinya, diriku yang di masa lampau. Semakin aku mengikutinya, aku semakin dalam masuk ke seluk-beluk barisan bangunan itu. Sampai pada suatu tempat, akhirnya aku melihatnya, bersama Fu Xi dan Nü Wa, berhenti.
Tempat itu adalah taman yang pertama kali kulihat. Di taman yang luar biasa luas itu aku melihat berbagai macam hal.
Tempat yang indah itu berubah menjadi seperti arena perang.
Senjata-senjata berkelebatan baik oleh makhluk-makhluk yang bisa terbang di atas, yang paling kulihat jelas adalah Ling Guang dan Meng Zhang, dan yang berpijak di tanah seperti Zhi Ming dan Jian Bing. Namun, yang kulihat bukan hanya mereka saja. Arena perang itu luar biasa sekali, kuda-kuda yang bersayap ditunggangi oleh makhluk-makhluk bercahaya putih yang lain, bersenjata pedang, tombak, dan panah, melawan makhluk-makhluk yang kutebak adalah Yaoguai. Baik di atas maupun di bawah, pandanganku tertutup oleh banyaknya pasukan yang bertarung dari kedua belah pihak. Tidak hanya itu, senjata mereka bukan hanya yang kasat mata saja. Serangan itu juga menggunakan elemen-elemen api, air, tanah, angin, dan lain sebagainya. Kepalaku sampai pusing melihatnya.
Kurasa, dari seluruh pertarungan yang pernah kulihat di hidupku, ini adalah perang yang paling dasyat.
Namun, satu hal yang paling menarik perhatianku adalah sosok yang berdiri di tengah-tengah, seolah yang sedang mengendalikan semuanya. Dibandingkan yang lain, dia berukuran seperti raksasa, dan wujudnya pun tidak kalah mengerikan dari Yaoguai-yaoguai yang dipimpinnya. Kutebak, dia pasti adalah T'an Mo. Tidak kusangka, ternyata inilah wujudnya yang sebenarnya... Sungguh jauh berbeda dari yang kulihat selama ini!
T'an Mo yang berwujud seperti monster ular itu mundur beberapa langkah saat melihat dia, aku yang di masa lalu, berjalan menuju ke tengah-tengah tempat itu. Tidak ada satu Yaoguai pun berani mendekatinya. Aku tahu kenapa. Ini persis seperti yang pernah terjadi padaku. Yaoguai tidak kuat pada cahaya miliknya, yang juga kumiliki sebagai dirinya di masa datang.
"Aku tak menyangka kau akan menjadi seperti ini..." Ujarnya pelan.
Sebagai balasan dari perkataan yang tenang itu, T'an Mo tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Bagaimana menurutmu, Feng xun-jue? Inilah kekuatanku! Luar biasa, bukan?"
T'an Mo mengalihkan pandangan darinya kepada Ling Guang yang sedang menyerang salah satu Yaoguai. Hanya dengan satu kali melayangkan tangan, Si Xiang itu langsung jatuh ke bawah.
"Ling Guang!" Yang berseru begitu bukan hanya dia, tetapi juga yang lainnya. Tetapi yang paling jelas kudengar hanya suaranya saja. Dengan kecepatan yang hampir tak bisa diikuti mata, dia melompat begitu tinggi dan seketika itu juga sepasang sayap berwarna api dan bercahaya seperti matahari muncul dari punggungnya, membuatnya dapat terbang dan menangkap Ling Guang yang jatuh ke tangannya. "Ling Guang! Bertahanlah!"
"Feng xun-jue..." Luka Ling Guang memang tidak terlalu parah, tetapi aku yakin dia menahan sakit luar biasa. "Maaf... aku memang tidak bisa diandalkan..."
Aku melihatnya turun kembali ke tanah, kemudian menyembuhkan Ling Guang dengan kekuatannya. Ah, jadi memang benar kekuatan menyembuhkan itu asalnya pun dari aku, bukan sejak awal kepunyaan Yangmei!
"Ling Guang," Balasnya dengan suara pelan. "Tenanglah... aku ada di sini sekarang..."
"Feng xun-jue! Kita tidak bisa tinggal diam saja!" Dengan satu teriakan dari Fu Xi, seluruh Si Xiang lainnya langsung berkumpul kepada mereka. Kemudian Fu Xi menengadah ke atas, menuding ke arah T'an Mo. "Kau memang makhluk setan, T'an Mo! Apa maksudmu melakukan ini sekarang?"
"Cahaya tidak ada lagi di dalamnya..." Nü Wa bergumam. "Yang ada hanya kegelapan."
Sederetan kalimat itu hanya di sambut T'an Mo dengan, sekali lagi, tawa terbahak-bahak. Ia menadang ke bawah dengan tatapan meremehkan, menatap satu per satu mulai dari Fu Xi, Nü Wa, keempat Si Xiang, dan penghuni Langit lain yang tidak aku tahu namanya. Namun pandangannya itu berhenti saat dia melihat Phoenix, aku yang di masa lalu.
"Hai, Feng xun-jue, aku belum mendengar suaramu sama sekali!" Serunya dengan suara merendahkan. Yang diajak bicara hanya menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak. "Kau tidak lihat mereka semua menyalahkanku? Katakan pada mereka, ini semua salahmu!"
Tentu saja, ini membuat siapapun yang ada di tempat itu membelalakkan mata karena terkejut, begitu juga denganku. Jian Bing menjadi orang pertama yang langsung menanyakan itu padanya. "Feng xun-jue, apa maksudnya ini salahmu? Dia sedang memprovokasi kami saja, kan?" Tanyanya, hampir berseru karena kekagetannya.
"Jian Bing... Jian Bing..." T'an Mo menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan Jian Bing sebelum dia memberikan jawaba papaun. "Kau tidak lihat? Bukankah sejak awal ini keputusan Feng xun-jue sendiri memberikan kekuatan dan kekuasaan yang paling besar padaku? Dibandingkan denganku, kau sama sekali tidak ada apa-apanya, Jian Bing." Tentu saja, ini membuat Jian Bing marah bukan main. Auranya sebagai roh pelindung berwujud Harimau Putih makin jelas terasa keberadaannya. Sepasang pedang pendek yang ia gunakan sebagai senjatanya juga ikut bercahaya.
"Justru karena itu, kau busuk, T'an Mo!" Kali ini, Fu Xi-lah yang membalas. "Kau diberi kekuatan terhebat di antara kami, dan dipercayai kekuasaan terbesar! Dan sesudah semuanya itu, kau berani memberontak? Betapa tidak tahu dirinya kau!"
"Hahaha! Diberi kekuatan, katamu?" Balas T'an Mo tak kalah sengit. "Ini adalah kekuatanku milikku! Kekuatan yang diberikan Feng xun-jue terlalu kecil, tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan yang kukembangkan sampai sekarang!" Sekali lagi, sesudah mengucapakan ini dia tertawa. Sampai puas dia tertawa, barulah dia menatangnya, diriku yang di masa lalu itu.
"Feng xun-jue! Aku sama sekali belum mendengar suaramu! Sedari tadi hanya mereka saja yang berbicara! Apa kau tidak punya mulut?" Satu tantangan ini dengan suksesnya menyulut amarah siapapun yang bukan anak buahnya di tempat itu. Tapi, anehnya, ia gagal membuat yang ditantang itu marah. "Ayo! Katakan sesuatu!"
Akhirnya, setelah lama berdiam diri, dia menjawab tantangan itu. "Kau memang benar, akulah yang memepercayakanmu kekuasaan yang tinggi..." Bagaimanapun kagetnya kawan-kawannya yang berada di sekitarnya, dia sama sekali tidak menghiraukannya. "... dan aku sudah tahu ini akan terjadi."
"Ha! Kalau begitu, kau semakin bodoh membawamu dalam kejatuhanmu sendiri, Feng xun-jue!" Balas T'an Mo, masih menahan shock mendengar perkataan terakhirnya. "Ah, kalau begini, kurasa kau tidak perlu lagi kupanggil xun-jue, benar begitu, Feng?" Pertanyaan terakhir itu ditanyakan dengan dengan nada menghina, dan diikuti oleh tawa.
Belum habis tawa itu, Fu Xi dan Nü Wa sudah menggunakan kekuatannya untuk melayang, kemudian menyerang T'an Mo! "Keterlaluan!" Seru Fu Xi. "Kau memang benar-benar tidak bisa diampuni lagi!"
"Fu Xi! Nü Wa!" Sepasang sayap berwarna api itu muncul kembali dibalik punggungnya, sebelum ia memanggil mereka. "Ini pertarunganku! Biarlah aku yang bertarung melawannya!"
Seolah T'an Mo pun menyetujui perkataannya, ia mengerahkan seluruh Yaoguai-yaoguai bawahannya dan menyerang keduanya. Tidak dapat membiarkan ini terjadi, keempat Si Xiang itu bergabung dengan Fu Xi dan Nü Wa melawan para Yaoguai itu, sementara dia, Phoenix itu, semakin mendekat dengan T'an Mo.
"Nyalimu besar juga! Menantangku satu lawan satu!" Tawa T'an Mo. Tawanya menjadi makin keras ketika sekarang melihat keempat Si Xiang itu telah mengerahkan seluruh kekuatannya, dengan berubah wujud menjadi Harimau Putih, Burung Merah, Kura-kura Hitam, dan Naga Biru. Ini menandakan bahwa mereka, ditambah dengan Fu Xi dan Nü Wa serta kawan-kawan mereka lainnya mulai kewalahan melawan ribuan bahkan jutaan Yaoguai itu. "Kau lihat bukan sekarang kekuatanku?"
Sebagai balasan, dia hanya tertawa pelan. "Jangankan sekarang. Sejak dulu pun aku sudah tahu kau akan memberontak." Kemudian, dia memunculkan sesuatu di balik cahaya ke tangannya. Sesuatu yang juga kumiliki sekarang dan kubawa kemanapun. Pedang itu. Feng-jian! "Dan sekarang pun aku akan mengalahkanmu."
Betapa tenangnya kalimat itu diucapkan! Berbeda denganku yang sekarang tegang menyaksikan itu! Meskipun San Zang berkali-kali meyakinkanku, tapi aku tetap saja tidak bisa percaya bahwa inilah masa laluku di kehidupan sebelumnya!
Setelah itu, terjadi sesuatu di depan mataku. Seperti keempat Si Xiang yang lain, dia pun berubah wujud! Wujudnya berganti menjadi wujud yang sebenarnya. Phoenix. Ketujuh ekor yang menacarkan ketujuh warna, setiap helai bulu yang berinar seperti warna matahari, mata emasnya yang makin memancarkan cahaya seperti fajar yang akan terbit, cakar yang kuat yang siap menyerang musuh. Satu kibasan sayapnya menciptakan api dimana-mana.
Tiba-tiba, berbagai hal membanjiri kepalaku...
Di suatu tempat... dalam gua yang gelap dimana aku dan Yangmei pertama kali masuk...
Di tempat yang lain... ukiran-ukiran yang menggambarkan Phoenix yang menyerang ular...
Aku teringat akan berbagai hal, tetapi pada saat yang sama aku lupa! Aku lupa tempat apa itu dan kapan serta dimana! Semakin mengingatnya, kepalaku semakin terasa sakit! Tidak ada gunanya aku berusaha mengingat-ingat apa yang terlupakan, dan melupakan apa yang sudah teringat!
Kedua tanganku yang menggenggam kepalaku kuat-kuat tidak mengurangi rasa sakit ini. Tidak dapat lagi menahan rasa tegang dan rasa sakit ini, aku terjatuh dengan nafas tersenggal-senggal. Sekarang satu tangan kuletakkan di dadaku. Bahkan aku bisa merasakan detak jantungku yang makin lama makin tak karuan...
"Da-ge!" Suara itu... Suara San Zang yang bercampur dengan suara keributan di sekitarku. "Da-ge tidak apa-apa? Ada apa?"
Aku menggeleng kuat-kuat. "A-aku tidak tahu..." Jawabku dengan suara terbata-bata. "San Zang... ada apa ini... sebenarnya?"
"Da-ge..." San Zang pun tidak bisa melakukan apapun selain berlutut di sebelahku dan berusaha menenangkan diriku. "Bertahanlah..."
Aku kembali melihat pertarungan itu. Dia dan T'an Mo bertarung satu lawan satu dalam pertarungan hidup dan mati, sementara makluk-makhluk yang memancarkan cahaya lainnya dan para Yaoguai yang berperang seperti menjadi latar belakang. Mataku, mata manusia ini, tidak bisa mengikuti dan melihat seluruh kejadian itu. Yang aku ketahui hanya satu hal. Kegelapan yang tadinya memenuhi tempat ini dengan begitu cepatnya menjadi cahaya. Cahaya itu makin lama makin kuat, sehingga dengan sendirinya para Yaoguai itu lenyap seperti bayangan yang hilang ketika cahaya meneranginya.
Suara-suara seruan, teriakan, serta jeritan, bahkan suara sambaran petir, dentingan logam, kobaran api, luapan air, goncangan tanah, hembusan angin, semua terdengar jelas di kepalaku. Tetapi aku tidak bisa mengikuti apa yang terjadi sebenarnya. Aku hanya melihat ular itu terkurung dalam kobaran api yang bersinar seperti lingkaran matahari, dan jeritannya yang terdengar ketika cahaya yang merupakan kebalikan darinya menyerangnya seperti tombak-tombak panjang yang menyerangnya dari segala arah. Cahaya itu berwarna putih, tetapi ketika masuk ke dalam dinding api itu terpecah menjadi tujuh warna.
Baru kusadari... tombak-tombak itu mirip dengan sesuatu yang kulihat, entah dimana... cahaya putih masuk ke dalam sesuatu... berbentuk prisma segitiga... terpecah menjadi tujuh warna...
Astaga... kenapa aku bisa lupa tempat itu? Padahal kurasa itu adalah tempat yang sangat penting...
Mataku kututup erat-erat. Bukannya aku tidak mau melihat ini, tetapi aku tidak kuat lagi! Entah kenapa semakin aku melihat adegan pertarungan ini, semakin banyak ingatanku yang hilang. Dan pada saat aku berusaha mengingatnya kembali, kepalaku makin sakit!
Setelah kesakitan yang menyiksa yang seperti terjadi hampir selamanya, cahaya yang begitu terang masuk ke dalam mataku menembus kelopak mata! Betapa bodohnya aku, justru saat itulah aku membuka mata! Tetapi, yang kulihat tidak membuatku silau, apalagi buta. Justru aku merasakan kekuatan yang aneh, yang sangat amat kuat!
Tanganku memeluk tubuhku yang terasa akan meledak ini. "AAAHHHHH! HENTIKAN!"
"Da-ge!" Seseorang, aku yakin San Zang, memelukku erat-erat. "Da-ge... da-ge... bertahanlah..."
Mengatakannya memang mudah, tetapi bisakah aku melakukannya?
Namun akhirnya, setelah waktu yang aku tidak tahu berapa lamanya, saat itu datang juga. Cahaya itu meredup, membuat segala sesuatu di balik layar putih itu sekarang jelas terlihat.
Taman itu sekarang bergelimang tubuh Yaoguai, yang sedikit demi sedikit mulai menghilang begitu saja. Keempat Si Xiang itu kembali ke wujud semula mereka. Penghuni langit yang lain mulai melayang merendah ke darat, sementara yang sudah berada di darat mengalihkan padangan mereka pada pusat pertarungan itu. Seluruh mata tertuju kepadanya dan kepada musuh yang baru ia kalahkan.
"T'an Mo," Katanya sambil kembali ke wujud mula. Pedang yang tadi di tangannya menghilang begitu saja sesudah mengeluarkan cahaya. T'an Mo si ular yang telah dikalahkan hanya tergeletak nyaris tak bernyawa. "Itukah kekuatanmu yang kau gunakan untuk melawanku? Kegelapan?"
Untuk beberapa saat lamanya, hanya ada keheningan yang menguasai udara di sana.
T'an Mo hanya mendesis marah sebagai jawaban. Tetapi dengan kekalahannya ia tidak seponggah tadi lagi. "Iya! Aku muak dengan cahayamu! Karena itulah aku menciptakan kegelapan!"
Tidak ada jawaban. Keheningan itu berlanjut lagi.
Sampai pada akhirnya keheningan itu terpecah oleh pertanyaannya. Suaranya tetap saja tenang dan tidak memunculkan ekspresi apapun. "Kau menciptakan kegelapan. Kalau begitu, aku tanya, apa itu kegelapan?"
"Kegelapan adalah lawan dari terang!" Balas pemberontak itu dengan mantap. "Seperti kau memancarkan cahaya, maka aku akan memancarkan kegelapan!"
Dari jauh, aku melihatnya menutup mata sejenak. Dia menatap ke atas, cakrawala yang tadinya gelap sekarang menjadi terang sesudah pertarungan itu selesai. Warna-warna di taman yang tadi hanya terlihat sebagai warna hitam saja kini kembali menunjukkan warna asli mereka yang begitu indah.
"Kegelapan itu apa?"
Pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
Semua telinga yang mendengar pertanyaan itu terperanjat. Aku pun terperanjat, tetapi bukan kerena pertanyaannya melainkan karena dia sendiri. Aku tidak tahu apa yang mereka lihat darinya. Tetapi saat itu, aku melihat diriku sendiri yang di masa lalu bukan seperti Phoenix yang kuat dan agung seperti yang kulihat barusan. Tetapi aku melihat diriku sendiri saat itu... seperti aku yang sekarang. Di satu sisi, sepertinya ia sudah tahu jawaban pertanyaannya sendiri. Tetapi di sisi lain, dia seperti anak kecil yang bertanya dengan polosnya, sangat mirip denganku...
"Apakah sesuatu yang disebut kegelapan itu benar-benar ada?" Pertanyaan itu diajukannya lagi, tetapi dengan kata-kata yang berbeda. Melihat tidak ada jawaban yang diterimanya, ia pun melanjutkan. "Kegelapan itu bukan suatu keberadaan. Kegelapan itu hanyalah sebuah keadaan dimana tidak ada cahaya. Kau, T'an Mo, tidak mungkin dapat memancarkan kegelapan seperti aku memancarkan cahaya."
"APA?" T'an Mo menggeram, kemudian membentak menunjukkan kemarahannya.
Sebagai jawaban dari bentakkan itu, dia hanya menunjukkan senyum lemah sebelum berbalik, memandang keadaan di sekitarnya. Saat itulah, angin semilir mulai berhembus dengan lembut, kelopak-kelopak bunga mulai terbuka lagi. Air danau yang jernih mulai memantulkan cahaya, dan begitu pula dengan bangunan yang mengelilingi taman ini. Tempat ini menjadi lebih indah ketimbang sebelum pertarungan tadi.
Barulah setelah itu dia menjawab. "Dalam pertarungan ini, aku yang menang melawanmu. Kegelapan yang tadi ada, terusir oleh cahaya, bukan? Kegelapan memang ditakdirkan akan sangat kuat, tetapi kalah hanya dengan ketika cahaya dengan mudah mencapainya." Suara yang keluar dari mulutnya mengalun perlahan, membiarkan pendengar di tempat itu meresapi kata-katanya.
"Kelihatannya akulah pemenangnya, tetapi ada satu pertarungan yang aku kalah darimu, T'an Mo."
Kali ini, yang protes paling awal bukan T'an Mo, tetapi para Si Xiang itu dan seluruh penghuni Langit lainnya. "Apa maksudmu itu?" Jian Bing, seperti biasa, dialah yang paling keras menyatakan ketidaksetujuannya. "Kau sudah jelas-jelas menang!"
"Jian Bing," Pertanyaan itu dijawabnya langsung. "Sudah kukatakan, cahaya akan selalu menang dari kegelapan cukup dengan cahaya itu dapat memancar sampai pada kegelapan." Jawabnya. Matanya kembali menatap T'an Mo sambil menghela nafas. "Tapi pertarungan yang aku kalah ini adalah karena aku tidak dapat mencapai suatu tempat. Cahayaku tidak dapat menembus sampai ke suatu tempat tergelap, dan itulah yang membuatku kalah."
"Apa itu?" Serempak, semuanya termasuk T'an Mo bertanya.
"Tempat itu adalah..." Dia menunjuk tepat pada musuhnya, pemberontak yang baru saja dikalahkan. "... hatimu. Kau tidak membiarkan cahaya masuk, maka yang kau dapatkan adalah kegelapan."
Sesudah itu, keheningan berlanjut lagi. Siapapun yang berada di tempat itu menundukkan kepala, entah kenapa. Untuk beberapa saat lamanya, tidak ada suara apapun yang terdengar, bahkan suara dari alam pun tidak.
Sebagai kebalikan, dia justru menengadahkan kepalanya tinggi, menghirup nafas sebelum menyerukan sesuatu kuat-kuat, berbeda dengan suara yang selama ini mengalun lembut keluar dari mulutnya. "Di tempat ini, T'an Mo, dan juga untuk kalian semua!" Seruannya seperti guntur di tengah badai, begitu keras dan tegas. Air mukanya yang tadi lembut pun berubah, menjadi keras dan dingin. Sepasang mata emasnya yang biasanya sayu kini menatap dengan tajam, lebih tajam dari pisau yang baru ditempa. "Hanyalah bagi mereka yang membuka dirinya untuk cahaya! Jika ada kegelapan dalam hatinya, pintu akan ditutup baginya, dan dia harus keluar dari tempat ini!"
Matanya berpaling pada T'an Mo. Kali ini, aku melihat matanya yang berkobar-kobar dengan api amarah yang ganas, begitu kuatnya hingga membuat pemberontak itu ketakutan. "T'an Mo! Kau berani melakukan ini! Itu berarti, kau siap menerima hukumannya!" Kali ini, volume suaranya berkurang, tetapi masih menyiratkan amarah yang sama. "Kau memiliki kegelapan, yang berarti kau mengusir cahaya. Sama artinya dengan kau mengusirku, dan mengharapkan agar aku tidak pernah ada! Untuk kesalahanmu yang fatal seperti ini, kau harus dihukum!"
Perintah ini membuat siapapun terperanjat, tetapi tidak ada satupun yang protes mengingat ini adalah sebuah kebenaran. Bukankah benar, siapa yang melakukan kesalahan, dia harus dihukum? Perintah itu tegas, dan aku sendiri tahu itu. Analoginya saja, jika seorang Kaisar memiliki seorang bawahan yang jelas-jelas dan terang-terangan memusuhinya, bahkan sampai mengharapkan kepergiannya, bukankah itu pelanggaran besar yang dapat membawa bawahan itu pada hukuman mati? Jangankan menentang dan mengharapkan kepergian Kaisarnya, hanya menghina keberadaannya saja sudah sebuah kesalahan besar.
Dengan sebuah perintah itu, ia memanggil keempat Si Xiang, dan masing-masing mereka mengeluarkan sesuatu. Meng Zhang mengeluarkan sebuah buku tebal. Ling Guang mengeluarkan sebuah cap seperti cap kerajaan. Zhi Ming mengeluarkan kunci emas yang besar. Jian Bing mengeluarkan rantai yang besar dan panjang. Ah, jadi, itukah sebabnya Meng Zhang sering terlihat sedang membaca, Ling Guang kutemui dalam istana, Zhi Ming seperti sedang menjaga pintu gerbang Zhang Cheng, dan Jian Bing berada dalam tempat yang berbeda-beda?
"Apa yang dikatakan Feng xun-jue benar, T'an Mo." Meng Zhang membuka buku besar itu, kemudian membacakan sebuah kalimat di sana. "Atas kesalahanmu, yang berani memberontak dan menyimpan kegelapan kemari, kau tidak boleh lagi berada di tempat ini!"
Dalam sekejap, gerbang yang tadi kulihat sebelumnya bisa terlihat lagi sekarang, entah bagaimana pemandangan ini bisa berganti, atau gerbang itu kah yang kemari? Yang pasti, yang kulihat sekarang adalah Ling Guang yang sedang berlutut di atas satu lututnya menuliskan sesuatu di tanah. Tulisan itu sepertinya ia tuliskan dengan jarinya, dan tidak menyentuh tanah, tetapi entah bagaimana di tanah itu muncul tulisan tangannya yang mengeluarkan cahaya! Kemudian ia mengesahkan tulisan itu dengan memberinya cap. Seketika itu juga, tanah membentuh bentuk dan patra yang terdapat pada cap itu.
"Hukuman akan dilaksanakan!" Serunya.
Pintu gerbang itu pun terbuka, sesudah Zhi Ming membukanya dengan kuncinya. Seketika itu juga, seolah angin turut bergabung mengusir T'an Mo dari tempat itu, angin badai yang kuat membuat T'an Mo disingkirkan dari tempat itu, seperti debu yang terbang ketika angin berhembus. Baik sebelum, ketika, dan sesudah angin itu berhembus, tidak ada yang menanggapi seruan T'an Mo yang memohon dan meminta kembali diizinkan berada di tempat itu. Pemberontak itu, beserta seluruh Yaoguai pengikutnya, tersapu keluar dari gerbang dan jatuh ke bawah...
Dengan cepatnya pemandangan itu berubah kembali. Kali ini sebuah tempat, seperti ruang bawah tanah terpampang di hadapanku. Di sana, aku melihat dia, hanya ditemani oleh keempat Si Xiang saja. Tempat ini rasanya familiar bagiku... familiar sekali... Kurasa, beberapa tahun lalu aku pernah pergi ke tempat ini...
Di sana terdapat sebuah pintu yang tinggi, menjulang sampai ke bagian atas. Pada pintu itu terdapat ukir-ukiran huruf kuno yang tidak bisa aku baca, dan setiap huruf-huruf itu mengeluarkan cahaya. Sebuah rantai yang besar dan panjang seperti mengunci kedua pintu itu agar sama sekali tidak bisa dibuka, yang rupanya entah bagaimana dikendalikan oleh Jian Bing sampai bisa terpasang di sana.
"Selesai, Feng xun-jue." Jian Bing berbalik kembali menghadap ke arahnya. "Pemberontak itu sekarang sudah terkurung di sini."
Dia mengangguk. "Baiklah. Ayo, sekarang kita pergi dari sini."
"Tapi...!" Harimau Putih itu menyahut. "Feng xun-jue, kau tidak memperkuat segel ini? Kalau hanya kekuatanku saja, aku tidak akan sanggup! Saat T'an Mo telah pulih, dia pasti bisa keluar!"
Sebelum ketiga Si Xiang yang lain ikut menyetujui, dia cuma tertawa pelan. "Biarlah kalau itu terjadi. Dia memang akan bebas."
Apa?
Baik untuk para Si Xiang itu, maupun bagi aku sendiri, sama sekali tidak bisa memahami kata-kata itu. Aneh, aku yang di masa lalu pernah berkata demikian? Kenapa aku sama sekali tidak mengerti sekarang?
Meski demikian, tidak ada yang berani bicara. Mereka beranjak dari tempat itu melalui sebuah tangga ke atas yang sangat panjang, seolah tidak terlihat ujungnya. Saat aku mengikuti pun, aku merasa tempat ini sangat familiar... Kurasa, aku sudah pernah ke tempat ini lama sekali... tapi aku lupa dimana. Tapi, satu hal yang aku ingat, kalau tidak salah dulu tempat ini dikatakan tempat terlarang yang aku tidak boleh masuk. Kenapa sekarang aku bisa lupa, ya?
"San Zang," Aku memanggil pendeta itu. "Kau tahu apa tempat ini? Kenapa rasanya familiar, ya?"
Pendeta itu mengangguk mantap. "Tempat ini namanya Yin Mie Men-Gerbang Maut. Di masa da-ge yang sekarang, tempat ini ada di daerah Lu Jiang."
Eh? Yin Mie Men-Gerbang Maut? Lu Jiang? Nama-nama itu sepertinya tidak asing di telingaku. Tapi apa dan dimana itu, aku tidak tahu... aku lupa...
Pikiran itu akhirnya kuabaikan begitu saja saat akhirnya aku melihat pintu keluar dari tempat itu. Sekarang, yang ada di sini adalah sebuah hutan, hutan yang sekali lagi terasa sangat familiar untukku. Rasanya, dulu sekali aku sering ke tempat ini...
"Feng xun-jue?"
Pandanganku kualihkan kepada mereka. Kali ini, aku melihat dia di depan gua itu, menatapnya dalam sekali sementara Si Xiang lainnya sudah jauh di depan menunggunya dengan perasaan bingung. Mereka pun mengambil satu langkah mendekatinya, dan mendengarnya bergumam pelan.
"T'an Mo... bagaimana dia bisa memberontak seperti itu?" Gumamnya sambil masih memandang tempat itu dalam sekali, tetapi pada saat yang sama mata emasnya hanya menatap kosong. Suara yang dikeluarkannya seperti alunan melodi yang sedih. "Sejak awal, di hatinya cuma ada kegelapan. Aku tidak pernah diterima olehnya..."
"Sejak awal, meski dia memanggilku xun-jue, tapi aku tidak pernah menjadi seorang xun-jue untuknya..." Kalimat itu masih berlanjut. "Bahkan peng-you–teman saja tidak... Aku hanya dianggapnya sebagai musuh..."
"Feng xun-jue...?" Ling Guang menghampirinya selangkah lebih dekat lagi. "Jangan-jangan, apa kau tahu tentang ini?" Tanyanya, yang tidak mendapat jawaban apapun. "Kalau seandainya kau tahu, kenapa masih mempercayakan T'an Mo kekuasaan dan kedudukan setinggi itu?"
Sekali lagi, tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya, Ling Guang memberanikan diri untuk mendekat padanya, sampai tidak ada jarak yang memisahkan, kemudian memegang kedua bahunya dan memutarnya dengan cepat. "Feng xun-jue..." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Ling Guang, tetapi tidak diteruskan saat ia melihat wajahnya. Mata emas itu sekarang benar-benar hanya menatap hampa dan sendu. Kedua mata emas itu terlihat akan berair, tetapi tidak ada air mata yang keluar. Ekspresi wajahnya seperti orang yang kehilangan jiwa.
"Feng xun-jue..." Ketiga Si Xiang yang lain mendekat. Zhi Ming menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "... kau sampai terpukul seperti ini?"
Meng Zhang hanya mengdesah. "Feng xun-jue, tidak ada yang perlu disesali kehilangan pemperontak sepertinya."
"Meng Zhang benar, Feng xun-jue!" Jian Bing pun menimpali. "Sekarang T'an Mo sudah tidak ada, keadaan kembali menjadi aman! Bukankah ini baik untuk kita semua?" Dia mengakhirinya dengan sebuah senyum lebar yang menunjukkan rasa optimis, seperti biasa.
Dia hanya terdiam, tidak mengatakan apapun. Sampai akhirnya, sebuah jawaban keluar dari mulutnya. "Aku benci padanya. Dia adalah kegelapan itu sendiri." Sepatah kata keluar dari mulutnya, kemudian dilanjutkan kembali. "Tetapi, bagaimana aku bisa mengirimnya ke Di Yu jika di sisi lain aku mengasihinya?"
Ling Guang yang berada paling dekat dengannya langsung bergerak dengan cepat, melakukan sesuatu yang sungguh di luar dugaan. Si Xiang itu memeluknya, seperti seorang kawan yang menenangkan temannya yang sedih. "Feng xun-jue, kau boleh saja merasa begitu, tetapi masih ada kami yang bersama-sama denganmu, bukan?" Tanyanya dengan suara bersungguh-sungguh.
Dia tidak melakukan apapun. Tidak membalas pelukan itu, tetapi juga tidak menolak. Sederetan kalimat lain keluar dari mulutnya. "T'an Mo... mulai saat ini, aku harus memeranginya, bukan?" Gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang kepada keempat Si Xiang itu. "Seperti kegelapan akan ada ketika terang pergi, begitulah perang akan ada ketika kedamaian pergi. Bukan kedamaian muncul dari perang, tetapi perang muncul ketika tidak ada kedamaian."
Eh? Kata-kata terakhir itu... yang diucapkan diriku di masa lalu rasanya pernah kuucapkan di suatu tempat. Ahhh... tak heran bisa seperti itu, ternyata sejak masa lalu pun, aku sudah tahu tentang itu...
Tidak lama setelah itu, mereka melanjutkan kembali perjalanan pulang mereka.
"Oh iya, Ling Guang," Panggilnya tiba-tiba. Si Xiang yang dipanggil langsung mengangkat kepala memandangnya. "Pertanyaanmu belum kujawab. Alasan aku mempercayakan T'an Mo kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, serta kekuatan yang besar, meski aku tahu suatu saat dia akan memberontak..." Dia terdiam sejenak. "supaya kalian tahu, sekuat apapun kegelapan, asal ada cahaya, kegelapan itu tidak akan bisa menang."
Ahhh...
Jadi begitu...
Bagaimanapun, malam hari pasti akan datang. Tetapi jika matahari sudah terbit, maka kegelapan malam itu akan sirna.
"Da-ge!" Suara San Zang membuyarkan lamunanku. Aku langsung menoleh memandangnya. "Bagaimana, da-ge? Da-ge sudah mulai ingat, kan?" Tanyanya dengan seulas senyum lebar dan berharap.
Aku membalas senyumnya. Baru sekarang aku sadar, pemandangan hutan yang tadi kulihat sekarang berganti lagi menjadi tempat serba putih. Mungkin sesudah ini aku akan dibawa melihat masa laluku yang lain lagi. "Iya, aku sudah mengingat banyak hal, San Zang." Jawabku. "Tapi, aneh juga... Semakin aku mengingat masa laluku, justru ingatanku yang sekarang semakin menghilang. Apa tidak apa-apa, San Zang?"
"Itu karena Feng da-ge sekarang manusia!" Jawabnya langsung. Aku memiringkan kepalaku karena bingung. "Ingatan da-ge sekarang pasti akan terlupakan beberapa, karena sekarang kepala da-ge dipenuhi ingatan masa lalu! Tidak mungkin kan otak manusia yang begitu terbatas bisa melihat masa lalu dan masa depan sekaligus? Apalagi jika terjadi di Tian Shang!"
Ohhh... jadi begitu. Benar juga kata-katanya.
"Da-ge tidak perlu khawatir!" Lanjutnya. "Begitu da-ge kembali, nanti semua ingatan da-ge, baik yang sekarang maupun di masa lalu, akan da-ge dapatkan kedua-duanya!"
"Oh... Syukurlah..." Aku menghela nafas lega. Bagaimana tidak? Rasanya akan sia-sia sekali kalau aku bisa mengingat masa laluku di kehidupan sebelumnya, tetapi ingatanku di masa kini hilang seluruhnya!
Entah dari arah mana, sebuah suara muncul di tempat hampa ini.
"Yo! Shijiang! Feng!"
Itu suara Wukong, bukan?
"WUKONG!" San Zang berbalik memelototi pendekar kera itu. Kedua tangannya sekarang berkacak pinggang. "Kau melakukan dua kesalahan! Pertama, kau kan kusuruh menjaga Yi Leng Jing! Kenapa sekarang kau di sini? Kedua, kau tidak boleh memanggil Feng da-ge tidak sopan begitu!"
Wukong tertawa keras saat melihatku hanya berusaha menahan senyum. Bagaimana tidak? Dua orang ini kalau dilihat-lihat sifatnya masih kekanak-kanakan sekali... Wah, bayangan Pendeta San Zang yang berjubah putih, membawa tongkat biksu serta berkepala botak seperti biksu pula hilang jauh-jauh dari kepalaku. Wukong memang tidak banyak berbeda dengan anggapanku, tetapi aku tidak menyangka dia seberani itu melanggar gurunya.
"Aku bosan di Yi Leng Jing sendirian!" Balas Wukong akhirnya. "Lagipula, aku kan juga ingin melihat masa lalu Feng. Pasti menarik! Dan lagi, Shijiang, siapa sih yang akan pergi ke Gunung Jing dan mengacaukan Yi Leng Jing?"
"Yi Leng Jing?" Aku mengangkat alis kebingungan. "Apa itu?"
"Oh! Iya! Aku belum bilang pada Feng da-ge, ya?" San Zang memukul keningnya sendiri. "Tempat yang tadi itu namanya Yi Leng Jing-Prisma Ingatan! Tempat dimana ingatan di masa lalu di Tian Shang bisa didapatkan kembali!" Jelasnya, sebelum kembali pada Wukong. "Nah, jadi Wukong, sekarang kembali ke Yi Leng Jing, ya?"
"Ah, Shijiang..." Wukong menghela nafas panjang. "Aku juga ingin di sini..."
Hahaha... sepertinya akan ada tontonan menarik lagi, nih...
"Tidak bisa, Wukong!" Balas San Zang tetap bersikeras pada pendiriannya. "Kau harus kembali!"
"Ayolah, Shijiang..." Pinta Wukong dengan wajah dan suara yang memelas. Aku tertawa, tidak menyangka Si Pendekar Kera bisa seperti itu.
Pada akhirnya, berhubung memang San Zang orang yang baik, dia akhirnya memenuhi keinginan Wukong. "Baiklah... baiklah..." Katanya pada akhirnya. "Tapi kau jangan bikin rusuh! Dan jangan mengganggu Feng da-ge, ya?"
"Siap, Shijiang!"
"Bagus!" Akhirnya, sesudah perdebatan guru-murid itu, San Zang menarik tanganku, kemudian berlari ke suatu arah. "Ayo, Feng da-ge! Masih banyak yang belum da-ge lihat!" Katanya. "Bagian ini pasti da-ge suka! San Zang juga suka sekali bagian ini!"
Dengan begitu, aku dan Wukong mengikutinya.
Aku penasaran... apa lagi yang akan kulihat sesudah ini, ya?
-o-o-o-o-o-o-
"Kita sampai!"
Seolah keluar dari terowongan waktu, kali ini aku menemukan diriku di tempat yang sudah kukunjungi sebelumnya. Tapi, aku yakin di dalam dimensi waktu yang berbeda. Tempat ini adalah taman yang tadi kulihat, yang memiliki kolam di tempat itu.
Sekali lagi aku melihatnya, Phoenix itu, diriku yang seorang lagi di masa lalu, sedang duduk di tepi kolam, tetapi tidak melakukan apapun. Hanya diam mematung begitu saja.
Sampai akhirnya, terdengar sebuah suara dari belakang. "Feng xun-jue!"
Kali ini, suara itu terdengar sangat familiar di telingaku. Bagaimana tidak? Suara itu baru saja kudengar! Suara yang ceria dan ringan itu suara siapa lagi kalau bukan suara San Zang? Wah, ternyata sebelumnya pun memang aku sudah pernah bertemu dengannya!
"Da-ge! Itu San Zang, da-ge! Lihat! Itu San Zang!" Seru San Zang gembira bukan main. Aku cuma mengangguk perlahan sambil mengiyakan saja. "Nah, da-ge sekarang ingat kan kalau kita pernah bertemu sebelumnya?"
Sebelum aku menjawab, Wukong sudah menimpali. "Ternyata, Shijiang dulu dan sekarang sama saja, ya?"
"Hei, apa maksudmu itu, Wukong?"
Pendekar Kera itu tertawa sebelum menjawab. "Shijiang dari dulu sampai sekarang seperti anak kecil! Tidak bisa dewasa, ya?"
Sementara mereka memulai pertengkaran mereka lagi, yang untukku sama-sama seperti anak kecil, aku cuma menggeleng sambil tersenyum. Ada-ada saja mereka ini. Mengabaikan mereka, aku pun mengembalikan pandanganku kepada pemandangan yang kulihat di depan mataku.
Aku melihat diriku yang di masa lalu itu perlahan berdiri, kemudian berbalik menatap San Zang yang juga di masa lalu itu. "Hai, San Zang." Sapanya pendek.
"Feng xun-jue! Kenapa akhir-akhir ini Feng xun-jue selalu menyendiri? Apa ada masalah?" Sebelum melanjutkan, tiba-tiba saja aku melihatnya berhenti sejenak. "Oh, dan San Zang ingin mengatakan satu hal, Feng xun-jue! Boleh, kan?"
"Katakan saja."
"Feng xun-jue selalu dipanggil dengan 'xun-jue', kan? Kenapa harus dengan panggilan xun-jue? San Zang tidak suka! Rasanya Feng xun-jue jauh sekali dari San Zang!" Ungkap pendeta itu dengan nada protes. Tapi, dengan cepatnya suaranya itu berubah manis sekali. "Jadi, bolehkah San Zang memanggil Feng xun-jue dengan 'da-ge' saja? Kan rasanya lebih akrab!" Oh, jadi begitu ceritanya kenapa sekarang San Zang memanggilku da-ge... Ada-ada saja...
Diriku yang di masa lalu itu lagi-lagi cuma tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja boleh, San Zang." Dia menjawab itu sambil mengelus rambut San Zang.
Astaga... ternyata aku dulu melakukan itu, ya? Pantas saja San Zang sangat akrab denganku, tapi aku tidak mengenalnya. Sekali lagi aku memandang San Zang dan Wukong yang masih ribut sendiri. Rasanya tidak percaya kedua orang ini benar adalah San Zang si Pendeta pencari tiga kitab dan Wukong pengikutnya si Pendekar Kera.
"Terima kasih, da-ge!" Balas si San Zang masa lalu itu dengan senang bukan main, dan aku juga tidak tahu kenapa dia bisa sesenang itu. "Oh iya! Da-ge belum menjawab pertanyaanku! Kenapa da-ge akhir-akhir ini sering murung dan selalu sendirian?"
Senyum itu masih mengembang di bibirnya. Ia menjawab pelan. "Karena aku memang sendirian, San Zang."
"Hah? Sendirian? Teman da-ge kan banyak?" Tanya San Zang masa lalu dengan bingung. "Kenapa bisa sendirian?"
Dia menggeleng sebagai jawaban. "Bukan sendirian yang seperti itu maksudku." Jawabnya. "Maksudku, apa kau tidak lihat, San Zang? Si Xiang, mereka berempat itu satu dengan yang lain seperti saling melengkapi dan saling berhubungan. Kemudian Fu Xi dan Nü Wa juga demikian. Seluruh penghuni Tian Shang di sini memiliki sedikitnya satu orang dimana mereka bisa saling melengkapi dan berhubungan." Suara yang keluar dari mulutnya makin lama makin lemah, sampai yang terakhir hanya terdengar seperti desahan saja. "Tetapi aku satu-satunya yang sendirian."
"Ohhh... begitu..." San Zang masa lalu mengangguk pelan. Kepalanya sekarang tertunduk ke bawah. "Kalau begitu, San Zang juga ingin sendirian saja bersama da-ge..."
Sebagai jawaban, aku yang di masa lalu menepuk bahunya. "Nanti San Zang akan ke Ren Huan sebagai manusia, kan?" Tanyanya, yang segera dijawab dengan anggukan. "Di sana, nanti San Zang akan bertemu dengan tiga orang teman. Jadi San Zang tidak akan sendirian lagi!"
"Wah! Benar, kah? San Zang benar-benar tidak sabar!" Serunya sambil melompat-lompat kegirangan. "Tapi, kalau ke Ren Huan, berarti San Zang tidak bisa bersama da-ge lagi, kan? Tidak bersama-sama dengan Penghuni Tian Shang bagaimana rasanya, ya?" Dengan begitu cepatnya ekspresinya berubah! Sekarang wajahnya kembali murung lagi. "Jangan-jangan, malah di Ren Huan, San Zang akan makin kesepian..."
Dia menggeleng keras. "San Zang, kau tidak akan sendirian. Kau akan ditemani oleh tiga orang teman, kok. Percayalah..." Begitulah katanya sekali lagi, mengulangi perkataan yang sebelumnya. Hei, bagaimana aku yang di masa lalu bisa tahu kalau San Zang nantinya akan bertemu dengan tiga orang teman?
"Kalau begitu, San Zang akan sangat senang sekali!" Jawab San Zang masa lalu. "Tapi, bagaimana dengan da-ge?"
Untuk beberapa saat lamanya, yang keluar dari mulutnya hanya helaan nafas. Wajahnya menunjukkan seolah dia sedang berandai-andai. "Aku tidak akan sendirian lagi, San Zang." Jawabnya. "Sebentar lagi, seorang Phoenix yang lain, yang menjadi bagian dari diriku dan sangat dekat dengaku, akan menemaniku."
"Benarkan?" Mata San Zang masa lalu melebar. "Wah! Indah sekali!"
"Tentu saja indah. Feng xun-jue ingin seperti Fu Xi yang memiliki Nü Wa, kan?"
Suara itu, suara Meng Zhang yang seperti biasa muncul dari atas pohon. Hei, dipikir-pikir memang Si Xiang satu ini selalu muncul di saat tidak terduga dengan cara tidak terduga dan memiliki maksud yang tidak terduga pula!
"Meng Zhang?" Dia menengadahkan kepalanya ke atas, menemukan Meng Zhang sedang membaca buku tebal, seperti biasa. "Ada apa kau di atas sana?"
"Membaca." Jawab Naga Biru itu dengan sangat cuek.
"Yang kulihat, kelihatannya Meng Zhang bukan sedang membaca tapi sedang memperhatikan da-ge! Benar, kan?" Celetuk San Zang masa lalu dengan riang, membuat aku yang di masa lalu tertawa kecil sementara Meng Zhang yang sangking kagetnya langsung menutup buku itu. "Wah, tidak kusangka! Ternyata Meng Zhang yang sangat amat cuek itu diam-diam juga perhatian pada da-ge! Seperti Ling Guang saja..."
Hahaha... hebat sekali perkataan San Zang itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jengkelnya Meng Zhang saat dibandingkan dengan Ling Guang. Bukan apa-apa, tetapi kedua Si Xiang itu punya sifat yang sangat bertentangan, dan karena itu mereka saling tidak cocok. Kurasa Meng Zhang tidak begitu akur dengan Ling Guang, dan begitu juga sebaliknya.
"San Zang..." Meng Zhang mengangkat tangannya mendekati wajahnya. Sebuah bola yang seolah terbuat dari air muncul, dan pada saat yang sama membuat air di kolam bawahnya mulai bergelombang dan bergerak dengan cepat, nyaris seperti membentuk ombak! Wow... kekuatan Meng Zhang terutama jika saat dia marah memang mengerikan. "... Kau tahu kan kalau kau sedang berada di dekat air?"
Seperti biasa, wajah Meng Zhang memang tidak menunjukkan perubaha ekspresi yang berarti. Bahkan bisa dikatakan dia sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Tapi auranya itu... benar-benar mengintimidasi sekali. Sampai-sampai karena itu, San Zang masa lalu langsung bersembunyi di balik aku yang di masa lalu.
"Ahhh... iya... San Zang baru sadar..." Katanya dengan takut-takut, masih belum berani menampakkan wajah. "M-maaf, ya, Meng Zhang..."
"Meng Zhang, sudahlah..." Dia juga ikut menghentikan, meskipun masih sambil tertawa kecil. "Hei, kau sebenarnya sangat mengerikan kalau sedang marah..."
Pada akhirnya, Meng Zhang kembali menyimpan kekuatannya dan membaca bukunya lagi. "Terserahlah..." Gumamnya. "Tapi memang benar kan Feng xun-jue ingin seperti Fu Xi dan Nü Wa?"
San Zang masa lalu bertepuk tangan. Melihat Meng Zhang sudha menyimpan kekuatannya, dia memberanikan diri lagi. "Benarkah? Wah! Romantis sekali!"
Tapi, sungguh, omongan Meng Zhang itu tidak bisa direspon dengan mudah. Jangankan dia, aku yang di masa sekarang saja langsung memerah. Tapi, wajah yang memerah itu tidak bertahan lama. Untuk beberapa saat, dia tersenyum kecil sebelum menjawab. "Di dalam hatiku, aku punya satu kebutuhan yang ingin aku penuhi." Wajah San Zang masa lalu dan Meng Zhang sudah jelas-jelas menampakkan kalau mereka bertanya 'apa itu'. Tapi, Naga Biru itu tentu saja enggan menunjukkannya. "Aku ingin sekali... menyayangi seseorang yang menjadi bagian dariku..."
Kata-kata itu diucapkan dengan perlahan, sama sekali tidak tergesa-gesa. Volume yang konstan menunjukkan bahwa dia tidak sedang menyembunyikan perkataannya itu.
Yang ada sesudah itu hanya keheningan, sampai sesuatu muncul di balik semak.
"BENARKAH ITU? FENG XUN-JUE MERASA KESEPIAN? FENG XUN-JUE INGIN MENYAYANGI SEORANG YANG MENJADI BAGIAN DARI DIRINYA?"
Jian Bing...
Keheningan yang tadinya seperti begitu menyesakkan karena perasaan yang meluap-luap, kini seketika berganti dengan suasana yang kocak bukan buatan! Ini semua gara-gara kehebohan Jian Bing yang berlebihan bukan buatan! Dan tidak hanya itu, untuk semakin menghebohkan suasana, di balik sebuah pohon muncul seorang lain lagi! Nah, kalau Jian Bing muncul, maka duo heboh yang lain pasti akan muncul...
"JIAN BING! APA-APAAN KAU MENGGANGGU FENG XUN-JUE?" Serunya sambil langsung melompat ke arah Jian Bing dan siap mencekik Harimau Putih itu. "Kau ini merusak suasana saja!"
Tentu saja, ini membuat siapapun tertawa. Yahhh... mungkin kecuali Meng Zhang.
"Hei, hentikan itu, dasar anak kecil..." Celetuk Meng Zhang dengan nada cuek.
Perhatian Ling Guang langsung teralih. "Sejujurnya, Meng Zhang, kuberitahu satu hal," Katanya sambil berdiri menatap Meng Zhang dengan tajam, tetapi seringai lebar itu masih menghiasi wajahnya. Aura berwarna merah darah itu mulai keluar dari tubuhnya, entah perasaannya sedang bagaimana. Yang pasti ekspresinya sama sekali tidak bisa ditebak. "Feng xun-jue baru saja bilang kalau dia kesepian. Dan penyebab kesepian itu kau." Kemudian, dia menjentikkan jarinya, sehingga dari telunjuknya keluar sebuah bola api kecil. Seringai yang aneh itu masih ada, sementara auranya menguat. Mengerikan sekali... tetapi pada saat yang sama juga lucu sekali... "Jadi, kurasa kau harus menerima pelajaran dariku karena tindakanmu itu..."
Kali ini, balik Meng Zhang yang membalas. Auranya juga menguat, dan ia memiliki tatapan mata serta seringai yang sama dengan Ling Guang. Aku jadi bingung, sebenarnya dua orang ini sedang marah satu sama lain atau hanya mau pamer aura, sih? Kok gaya mengancamnya seperti itu...? Aneh sekali. "Oh, begitu ya, Ling Guang?" Sama saja, di tangannya pun muncul bola air. "Hmmm... apa sebaiknya kita membuktikan siapa yang sebenarnya membuat Feng xun-jue kesepian?
Kalau boleh kulukiskan, baik aku yang di masa lalu, San Zang di masa lalu serta Jian Bing, semuanya ngeri melihat pemandangan itu, tetapi pada saat yang sama juga bingung dan penasaran bukan main dengan tingkah mereka. Saat kedua Si Xiang itu beradu mata, aku melihat seolah-olah ada petir yang menyambar-nyambar menghubungkan sepasang mata mereka. Hahaha... mengerikan...
"Feng xun-jue... kita pergi saja, yuk!" Ajak Jian Bing. "Lebih baik kita bermain di tempat lain saja! Jangan di tempat ini! Ada Ling Guang dan Meng Zhang memang sukanya bikin rusuh!"
Ah... kau juga tidak ada bedanya, Jian Bing... Pikirku, dan aku sendiri yakin aku di masa lalu juga berpikiran seperti itu.
Sebelum ada jawaban, tiba-tiba terdengar suara lain yang makin menambah kehebohan adegan yang sudah sangat heboh itu. Hmmm... entah sejak kapan tempat ini jadi begini ramai...
"Hentikan tindakan kalian yang seperti anak kecil itu!" Suara menggelegar dan berwibawa itu suara siapa lagi kalau bukan Zhi Ming. Kedatangannya seperti kedatangan seorang Jendral perang ketika keadaan dalam perang sudah mulai kacau... atau tepatnya seperti kedatangan seorang bapak-bapak galak kalau misalnya ada anak-anak yang membuat ribut di depan rumahnya. Yah, mungkin begitu lebih tepat...
Bersamaan dengan kedatangannya, tiga buah batu besar entah dari mana jatuh dan menghantam ketiga Si Xiang yang lain, dan membuat mereka terjembab ke tanah seketika. Pasti kekuatan Zhi Ming yang berelemen tanah. Hahaha... cara yang tepat untuk mendiamkan ketiga Si Xiang itu.
Setelah menyelesaikan 'tugas'nya untuk menenangkan huru-hara lokal buatan ketiga makhluk ajaib itu, Zhi Ming berjalan mendekatinya, kemudian memberi hormat sebelum berbicara. "Feng xun-jue. Tempat itu sudah selesai disiapkan." Katanya dengan suara pelan dan hormat. "Jika kau memerlukan sesuatu, aku akan siap melaksanakannya!"
"Terima kasih, Zhi Ming." Balasnya dengan sebuah anggukan dan senyum, sebelum ia berlalu.
Namun, sebelum ia bisa pergi, San Zang masa lalu merangkul tangannya dengan erat. "Feng xun-jue mau kemana?" Tanyanya. "San Zang ikut!"
Sebuah gelengan menjawab pertanyaan itu, sekaligus mendatangkan wajah cemberut San Zang. "San Zang, kau tidak boleh ikut, ya?" Jawabnya. "Siapapun tidak boleh melihat." Dia perlahan melepaskan rangkulan tangan San Zang dan pada saat yang sama memberikan sebuah perintah lagi pada Zhi Ming. "Zhi Ming, satu hal lagi. Siapapun, tanpa terkecuali, jangan ada yang masuk atau melihat apa yang akan kulakukan."
"Siap, Feng xun-jue!"
Dengan demikian, dia berjalan menjauhi kerumunan kawan-kawannya. Sampai di sini, aku bingung harus melakukan apa. Ingin sekali aku melihatnya, tetapi mendengar perintah terakhirnya kepada Zhi Ming, aku jadi takut sekali mengikutinya. Ada sebuah keseriusan yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Meskipun dia adalah diriku sendiri, entah kenapa aku jadi takut. Rasanya, aku akan melihat sesuatu yang besar dan mengejutkan kalau aku mengikutinya...
"Da-ge!
Tengah dalam pikiranku, San Zang tiba-tiba memanggilku. Wukong yang ada di sebelahnya menatap dengan bingung ke arahku. "Hey, da-ge! Da-ge tidak mau lihat?"
"Oh iya, baik!" Jawabku. "Tapi, apa kalian tidak ikut?"
San Zang dan Wukong keduanya menggeleng. "Sudah dikatakan, bukan? Yang boleh melihat hanya da-ge saja! Orang lain, siapapun itu, tidak boleh melihatnya! San Zang sendiri sampai sekarang tidak tahu apa itu!" Desahnya. "Karena itu, pasti ini ingatan yang sangat penting untuk da-ge! Da-ge harus melihatnya sendiri!"
Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk menunjukkan kesanggupanku. Kemudian, aku berlari meninggalkan keduanya dan mengikuti ke mana diriku di masa lalu menuju.
Kulihat dia masuk ke dalam sebuah bangunan berbentuk lingkaran. Ada banyak pilar-pilar yang menyangga atapnya yang juga berbentuk lingkaran, namun dengan luas permukaan yang lebih besar dar bangunan itu sendiri. Di tembok-temboknya terdapat ukiran-ukiran yang tidak sempat kulihat satu per satu apa itu. Sebuah pintu besar terbuka, dan di sanalah ia masuk.
Dengan sedikit langkah bergetar, aku terus meyakinkan diri untuk masuk.
Aku heran, apa yang tersembunyi di balik ruangan ini?
Saat inilah aku harus mengetahuinya...
=.=a
Kayaknya terakhirnya rada jayus, ya? Cliffhanger lagi... wewww...
Wokey, deh... Silahkan menunggu chap berikutnya! ^^v dan akan kita lihat apa yang terjadi... hohoho~
Thnx for reading! R&R (Read n Review), plis! Jangan R&R (Read n Run)! ^^v
