Disclaimer: Harry Potter bukanlah milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, OOC, OC, slash, Twin!Draco, Mpreg, typo, etc.

Rating: M

Genre: Romance, Adventure

Pairing: DMHP, BZNL, etc


CHASING LIBERTY

By

Sky


Grimmauld Place, Inggris

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang panjang sejak terakhir ia melihat kedua mata itu, Remus menemukan dirinya tidak bisa mengucapkan sebuah kalimat apapun, bahkan sepatah kata pun untuk melukiskan apa yang tersemat dalam benaknya pun tidak ada, dirinya serasa seperti perkamen putih yang tidak terhiaskan oleh goresan pena maupun tinta di atasnya, begitu kelu dalam berucap sehingga yang bisa ia lakukan hanya melihat serta menunggu. Remus tidak mengerti akan apa yang membuatnya memiliki perasaan ini, namun semuanya ia lihat secara pasti setelah ia melihat sosok remaja yang sudah ia anggap seperti puteranya sendiri itu bangkit dari tidur lamanya, untuk yang pertama kali.

Mungkin ini sudah berbulan-bulan lamanya sejak terakhir kali Remus melihat Harry, terakhir laki-laki paruh baya tersebut melihat Harry adalah setahun lalu dimana ia mengantarkan Harry ke stasiun sebelum remaja itu melakukan perjalanan kembali ke London, dan berbulan-bulan kemudian Remus tidak memiliki sebuah gambaran kalau pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya setelah berpisah adalah di tempat ini, namun dengan kondisi yang lain. Remus tidak menyangka kalau Dumbledore akan mengunci Harry di dalam kamar Sirius seperti ini, dan terlebih dengan kondisi Harry yang tidak sadarkan diri setelah Mundungus Fletcher membanya kembali. Sebenarnya apa yang terjadi? Pertanyaan itulah yang terus menggema di benak Remus, bahkan saat ia membantu Harry untuk duduk dan menyandarkan dirinya ke tempat tidur dengan beberapa bantal bertumpu pada punggungnya pun ia masih belum dapat menjawab pertanyaannya sendiri.

"Remus…" suara yang begitu merdu dan berasal dari anak angkatnya itu membuat Remus membuyarkan segala kegelisahan serta pertanyaan dalam pikirannya.

Kepala Remus langsung menoleh ke arah Harry, ia menemukan sosok remaja berambut hitam legam itu menatapnya dengan sepasang mata yang begitu familier, mata milik Lily, dan mereka pun menampakkan kebingungan yang sebenarnya tercermin jelas di mata Remus sendiri. Melihat Harry dengan tubuh yang begitu rapuh dan perut yang membesar seperti ini sungguh membuat Remus sedikit iba, ia harap siapapun yang menghamili Harry memperlakukannya dengan baik.

"Aku di sini, Harry. Apa kau butuh air? Atau sesuatu?" tanya Remus, ia mencoba untuk menyibukkan dirinya, dalam artian singkat ia mencoba untuk menghindari tatapan Harry yang menusuk itu. Mata milik Lily, mereka mampu melihat kebenaran dalam tipu muslihat.

Untuk beberapa saat Harry memilih untuk diam, Remus bisa melihat kalau Harry tengah berpikir keras, seperti mencoba mengenali tempat di mana ia berada saat ini. "Kenapa aku bisa ada di dalam kamar Sirius, Remus?" Tanya Harry secara tiba-tiba, membuat gerakan Remus yang tengah mengambilkan segelas air minum untuk Harry terhenti.

Dua detik kemudian setelah Remus tersadar dari keterkejutannya, ia pun menyodorkan air minum itu kepada Harry yang menerimanya dengan ucapan terima kasih di ujung lidahnya. Tanpa melanjutkan pertanyaannya untuk beberapa saat, Harry pun menengguk air putih yang diberikan oleh Remus, ia baru sadar kalau tenggorokannya terasa kering dan air tadi cukup membantunya dalam menemukan suaranya dengan singkat.

Setelah mengembalikan gelas yang ia gunakan untuk minum tadi kepada Remus, remaja bermata emerald itu pun kembali melihat sosok Remus Lupis dengan tatapan yang meminta penjelasan. Bagaimana mungkin Harry bisa berada di Grimmauld Place ketika ingatan terakhir yang ia miliki adalah dirinya tertidur di kamar Draco?

Mungkin untuk beberapa saat setelah Harry terbangun dari tidur panjangnya ia merasa bingung, namun ingatannya dalam mimpi bertemu dengan Lucas, puteranya dengan Draco, Harry mulai paham sedikit demi sedikit akan apa yang terjadi, tapi alasan kenapa ia berada di tempat ini masih menjadi pertanyaan baginya. Harry berpendapat kalau dirinya tidak boleh berada di Grimmauld Place melihat tempat ini adalah markas dari The Order yang dipimpin oleh Dumbledore, kecuali kalau dirinya mengkhianati Draco atau mungkin pihak Order menculiknya dan membawanya ke sini.

Kedua mata emerald Harry menyipit untuk beberapa saat lamanya, ia tidak akan melakukan pilihan yang pertama karena ia telah bersumpah untuk berada di pihak netral dan untuk tidak mengkhianati Draco, sehingga hal ini pun meninggalkan pilihan kedua saja yang mungkin terjadi. Harry yang mulai menyadarinya pun langsung menoleh ke arah Remus dan menghujatnya dengan tatapan tajam. Tidak heran kalau Lucas memperingatinya, berarti kondisinya sekarang ini memang tidak baik, dan hal ini membuat mood Harry menjadi semakin buruk.

Sabar, Harry, kau tidak boleh terbawa emosi hanya karena kau tahu dirimu diculik. Kau harus menghadapinya dengan kepala yang dingin, demi dirimu dan bayi yang ada dalam kandunganmu, hati kecil Harry membisikkan kalimat itu padanya.

Dengan sabar Harry pun menunggu, ia menunggu jawaban untuk pertanyaannya dari Remus, ia ingin tahu apakah Remus telah mengkhianatinya seperti yang lainnya.

"Remus," panggil Harry lagi, suaranya terlampau tenang dan sedikit ada nada memerintah di dalamnya, cukup untuk membuat Remus berjengit saat ia mendengar nada yang Harry berikan padanya. "Katakan padaku, apakah Dumbledore benar-benar menculikku dan membawaku ke tempat ini?

Lagi-lagi Remus berjengit akan pertanyaan kalem yang Harry lontarkan padanya. Meski nada dan pertanyaan yang Harry lemparkan padanya terdengar sangat kalem serta tenang, namun Remus bukanlah orang bodoh yang tidak tahu kalau pertanyaan itu mengandung nada yang begitu bahaya, seperti kalau Remus salah menjawab pertanyaan itu maka Harry akan membunuhnya, atau yang lebih buruk lagi Harry tidak lagi menganggapnya lagi sebagai bagian dari keluarganya. Selama ini hanya Harry seorang yang ia miliki dan bisa Remus sebut sebagai keluarga, iya…. hanya Harry seorang setelah kepergian teman baiknya, Sirius Orion Black.

Suasana di antara mereka berdua terlihat begitu tegang, namun dari kedua belah pihak masih tidak ada yang ingin membuyarkan suasana tersebut, dan keduanya pun masih menunggu saat yang tepat utuk mengucapkan sepatah kata lagi.

"Harry," ucap Remus, akhirnya laki-laki setengah baya itulah yang pertama kali membuyarkan ketenangan yang ada di sana. "Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin kau tahu kalau aku tidak akan mengkhianatimu dan aku bersumpah untuk terus berada di sampingmu."

"Kita lihat saja nanti, Remus. Aku butuh jawabanku sekarang ini," jawab Harry, dengan nada yang masih kalem itu.

Remus menelan ludahnya sendiri dengan berat, sedikit merinding dengan aura sihir yang terpancar dari tubuh Harry ketika remaja itu masih menunggunya dengan penuh kesabaran di sana, atau mungkin kesabaran Harry sudah berada di ujung tanduk namun Harry tidak memperlihatkannya.

"Saat ini perang kedua di dunia sihir sudah berada dalam puncaknya, Harry. Pihak kementrian yang bekerja sama dengan pihak Order menggempur daerah Whiltshire dan Britania Raya, peperangan antara pihak kegelapan dan cahaya seperti yang kita ketahui tengah terjadi," ujar Remus, ia memberikan narasi yang singkat sebagai penjelasan. Melihat Harry yang masih menatapnya dengan wajah tenang tak beremosi itu mengisyaratkan kalau anak itu sudah tahu akan hal itu, "Berdasarkan ramalan yang dibuat oleh Trelawney, hanya kau yang bisa menghentikan peperangan ini dengan membunuh Voldemort. Melihat situasi ini Dumbledore pun memutuskan untuk membawamu ke Grimmauld Place baik itu secara paksa maupun tidak, aku tidak tahu rencana detail yang Dumbledore miliki, tapi ia menginformasikan padaku kalau Mundungus adalah orang yang membawamu ke tempat ini dan menempatkanmu di sini, Harry.

"Tapi aku tidak tahu kalau kau tengah dalam kondisi hamil seperti ini, dan juga tertidur dalam selimut sihir," dengan satu tarikan nafas yang panjang, Remus pun mengakhiri ceritanya.

Untuk beberapa saat lamanya setelah Remus mengakhiri ceritanya, Harry hanya diam bergeming dan tidak menyuarakan apa-apa. Meski tubuhnya membeku untuk menerima kenyataan kalau pihak Order benar-benar menculiknya, otak Harry bekerja sangat keras untuk mencerna semua penjelasan itu. Harry tidak menyalahkan Remus di sini meski laki-laki itu berada dalam pihak Dumbledore, laki-laki yang merupakan teman baik kedua orangtuanya itu terlalu baik untuk disalahkan, sebab orang yang patut ia salahkan pada saat-saat seperti ini tidak lain adalah Dumbledore.

Berani-beraninya penyihir tua itu mencoba untuk mengendalikan hidup Harry lagi, bukankah Harry sendiri sudah mengatakan dengan jelas saat ia menghancurkan kantor kepala sekolah setelah kematian Sirius kalau ia tidak mau Dumbledore kembali memanipulasi hidupnya? Harry Potter bukanlah boneka yang dikenadalikan oleh benang untuk melakukan apapun yang disukai sang pengendalinya, Harry adalah seorang manusia yang punya hati dan ingin mendapatkan kebahagiaan seperti orang lain pada umumnya. Albus Dumbledore tidak berhak memanipulasi hidup Harry seperti apa yang sudah ia lakukan sejak Harry masih dalam kandungan ibunya.

Persetan dengan ramalan Trelawney, Harry meruntuk dalam hatinya meski ia masih terlihat begitu tenang dari luar. Harry tidak yakin kalau wanita tua itu bisa melihat masa depan seperti Cassandra Trelawney, bibi buyutnya, semua ramalan yang diucapkan oleh Trelawney tidak ada benarnya. Bukankah wanita itu sudah meramalkan kalau Harry akan mati sejak ia menginjak tahun ketiga di Hogwarts? Dan apa nyatanya? Harry masih hidup dan tidak mati. Ia yakin kalau wanita itu hanya merancau seperti orang tidak normal saat ramalan yang ia yakini adalah palsu dibuat, dan bila benar ramalan itu palsu maka ada beberapa nyawa yang harus membayarnya.

Buku-buku jemari Harry terlihat memutih saat ia menggenggam selimut tempat tidur itu dengan erat, Remus menyadarinya namun laki-laki itu tidak mencoba mengganggu jalan pikiran Harry. Harry terlihat seperti bom berjalan saat ini.

"Harry?" panggil Remus lagi, ia sedikit takut dengan Harry yang seperti ini, remaja ini benar-benar berbeda dengan Harry yang ia kenal. Remaja yang ada di hadapannya ini terlampau kalem dari Harry yang biasanya.

"Remus, katakan padaku…..siapa saja yang ada di Grimmauld Place selain kau yang ada di sini?" tanya Harry, ia tidak mengindahkan panggilan yang Remus berikan padanya tadi. Tatapan matanya masih menatap lurus ke arah pintu, seolah-olah pintu itu adalah Dumbledore sendiri yang siap ia bunuh.

Haruskah Remus menjawab pertanyaan itu? Tapi bukankah Remus sendiri telah bersumpah untuk berada di pihak Harry dan berusaha untuk melindunginya? Laki-laki itu telah bertekad dan ia akan menghargainya sampai seumur hidupnya.

"Selain Dumbledore sendiri dan aku yang ada di sini, Grimmauld Place dijaga oleh Ron, Severus, Mundungus, Hestia, dan Molly sendiri," jawab Remus, memberikan informasi yang diminta oleh Harry.

Remaja berambut hitam dan bermata emerald itu mengangguk paham, percaya dengan jawaban yang Remus berikan padanya. Setidaknya sosok yang bisa ia anggap seperti ayahnya sendiri itu tidaklah memberinya kebohongan maupun menyembunyikan sebuah rahasia darinya, tidak seperti Dumbledore yang dulu pernah ia percayai seperti kakeknya sendiri namun pada kenyataannya hanya ingin memanfaatkan Harry saja.

"Aku akan membunuh Dumbledore, Remus," kata Harry secara tiba-tiba, membuat kedua mata hazel milik Remus terbuka melebar seolah-olah apa yang ia dengar barusan adalah sebuah lelucon di siang hari.

"Harry…" Baru saja Remus akan mencegahnya, suara pintu yang diketuk langsung terdengar.

Seseorang tengah mengetuk pintu kamar Sirius dimana Remus dan Harry tengah berada. Dua pasang mata yang berbeda warna tersebut saling bertemu untuk beberapa saat kemudian sebelum mereka berdua mengarahkan tatapan masing-masing ke arah pintu. Baru saja Remus akan berdiri untuk membuka pintu itu (dalam hati ia berharap bukalah Dumbledore yang ada di sana), tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan memperlihatkan seseorang yang telah berdiri di sana, dengan senyuman kecil bersemayam di wajah orang itu sebelum mengembang dengan anggunnya.

"Harry….." Panggil si pengetuk pintu tadi sebelum masuk ke dalam dan mengunci pintu sesudahnya.

Baik Harry maupun Remus merasakan kedua mata mereka terbuka lebar saat mereka melihat sosok Luna Lovegood berdiri di dalam kamar Sirius dengan senyum yang kelewat damai terpatri di wajah manisnya. Rambut pirang milik Luna tergerai indah, bahkan mereka pun melambai secara dramatis ketika gadis bertubuh ramping itu melompat kecil untuk beranjak menuju ke tempat di mana Harry tengah duduk.

"Syukurlah Lucas baik-baik saja, aku sempat khawatir," kata Luna secara tiba-tiba sebelum gadis bertubuh mungil itu memberikan sebuah pelukan hangat kepada Harry, yang saat ini masih membeku di tempat karena karena kedatangan Luna yang tiba-tiba. "Aku tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Lucas, putra baptisku, Harry,"

Luna kembali mengatakan itu seolah-olah yang gadis itu katakan adalah hal yang wajar, seperti cuaca yang tengah terjadi saat ini. Untuk kedua kalinya setelah Luna mengucapkan nama bayi milik Harry, barulah Harry tersadar dari lamunannya dan langsung menatap gadis berambut pirang itu penuh dengan selidik.

"Luna kau…." Harry kehilangan kata-kata setelah ia melihat senyuman yang tersungging di bibir Luna semakin melebar dan anggukan dari gadis itu terlihat begitu antusias, seolah-olah ia tengah mendapatkan hadiah berupa emas segunung.

Gadis itu tidak mengucapkan apa-apa, dan entah bagaimana Harry pun tiba-tiba tersadar dan mengerti akan maksud dari perkataan Luna. Awalnya Harry ingin bertanya bagaimana gadis itu bisa tahu mengenai bayi Harry dan mengapa Luna bisa berada di sini, sebab terakhir kali ia melihat Luna adalah saat Blaise membawa gadis itu ke Italia untuk diselamatkan. Tapi sebelum Harry sempat mengutarakan pertanyaannya, kedua mata Luna telah memberi tahu Harry sendiri.

Luna Lovegood bukanlah penyihir sembarangan maupun gila seperti yang orang-orang pikir, Luna adalah seorang Seer, seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat jauh ke masa depan. Seperti Perenelle Flammel, istri dari Nick. Dan kelihatannya Tuhan memang bermurah hati saat ini.

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Luna mengeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari kristal dan menyodorkannya kepada Harry.

"Minumlah ini, Harry!" pinta Luna, kedua mata biru cemerlangnya kini terlihat lebih serius dari pada yang terlihat sebelumnya.

"Ini apa?" tanya Harry, meski tangan kanannya mengambil botol yang berisi cairan berwarna merah, kedua mata Harry masih menampakkan keragu-raguan.

Senyuman kecil yang tadi tersungging di bibir Luna kini berubah menjadi sebuah seringaian yang tipis, sebuah pemandangan yang jarang terjadi ini membuat baik Harry maupun Remus sedikit merinding saat melihatnya.

"Why, Harry…. Ramuan ini akan membantumu untuk menjaga Lucas tetap berada di dalam sana dengan selamat. Montreus genesis, itu adalah ramuan kuno yang bisa dikatakan sebagai rambuan gelap di dunia sihir, dan hanya digunakan oleh keluarga penyihir berdarah murni saja. Dengan meminum ramuan itu, bayimu akan bertahan lebih lama saat kau menggunakan sihirmu," jawab Luna dengan seringaian namun tatapan kalem terpatri dengan jelas di wajahnya.

Untuk beberapa saat lamanya baik Harry maupun Remus hanya terdiam menatap Luna, mencoba untuk mengerti apa yang tengah Luna sampaikan dan mengapa gadis itu memberikan ramuan kepada Harry sebelum sebuah maksud yang tersembunyi pun langsung dimengerti oleh mereka.

"Luna kau…." Desah Remus, ia terdengar tidak percaya dengan apa yang ingin diberitahukan oleh Luna.

Hanya anggukan singkat yang Luna berikan kepada Harry maupun Remus sebelum gadis itu mengambil sebuah tongkat sihir yang begitu familier bagi Harry dan meletakkan benda itu di atas pangkuan Harry.

"Jam sebelas malam nanti, Neville akan membuat kejutan yang menakjubkan sebelum pangeranmu datang, Harry," kedipan mata nakal yang penuh dengan candaan pun dilontarkan oleh Luna kemudian, cukup membuat kedua pipi putih milik Harry bersemu kemerahan saat ia tahu akan maksud Luna.


Malfoy Manor, Britania Raya Bagian Barat

Peperangan yang telah berlangsung selama tiga hari lebih itu telah memakan banyak korban, baik itu dari pihak Voldemort maupun pihak Dumbledore. Lucius Malfoy yang merupakan tangan kanan Voldemort pun tewas dalam perang berdarah ini saat melawat Mad Eye yang dibantu oleh Kingsley, dan tumbangnya Lucius serta Antonio Dollohov pun menambah daftar panjang korban yang gugur dalam perang kedua dunia sihir ini.

Meski demikian, pasukan Voldemort yang dibantu oleh pasukan Tristan serta dari para Draconian pun mampu memukul mundur pasukan yang dipimpin oleh Dumbledore, sehingga peperangan yang bisa didefinisikan sebagai perang terganas sepanjang massa pun akhirnya dapat dilihat secara jelas siapa yang nantinya akan keluar sebagai pemenangnya, apalagi setelah Chimmera yang dipanggil oleh Dumbledore mampu dihancurkan oleh Draco, Blaise, dan Daphne.

Inggris bagian barat telah berhasil mereka kuasai, bahkan wilayah penggara pun langsung disapu habis oleh Bellatrix Lestrange dan pasukannya secara ganas setelah werewolf dibereskan dari sana. Kemenangan dan sorak sorai pun sudah terlihat begitu jelas dimata mereka, namun semua suasana itu pun langsung hancur setelah mereka tahu kalau Harry Potter, calon pengantin dari Draconis Malfoy, diculik oleh Dumbledore pada keadaannya yang tidak memungkinkan untuk berperang saat ini.

Para pelahap maut memang kejam dan tidak segan-segan untuk membunuh siapapun, tapi mereka tentu tidak kejam sampai menculik seseorang yang tengah hamil seperti Harry. Pukulan telak ini tentu membuat Draco murka, bahkan kalau itu bukan Voldemort sendiri yang mencegah putera angkatnya maka bisa dipastikan Draco sudah bertingkah seperti seorang Gryffindor dan pergi ke markas The Order untuk membebaskan Harry saat itu juga.

"Meskipun Draco bisa dikatakan sangat kuat, tapi ia tidak mungkin untuk pergi. Anak itu baru saja mengalami serangan fatal ketika melawan Chimmera," ujar Hermione saat ia berdiri di samping Blaise, wajahnya yang terlihat sedikit kotor dan lelah itu tidak memadamkan kemarahan yang gadis itu miliki saat ini.

"Aku tahu itu, Granger," Sahut Blaise, kedua mata hazel-nya terlihat begitu keras dan dingin pada saat yang sama. Ia tidak menyukai keadaan temannya yang tengah terluka parah seperti ini harus menerima kenyataan kalau kekasihnya menghilang dan menjadi korban penculikan Dumbledore, Blaise berterima kasih Voldemort ada di tempat untuk mengikat Draco di atas tempat tidur menggunakan rantai sihir agar anak itu tidak kabur dan secara bodoh masuk ke sarang musuh. "Tapi aku tidak menyangka kalau di dalam tempat itu bisa ada mata-mata dari Dumbledore, kurang ajar…"

Hermione tidak menyahut, ia hanya berharap Harry selamat di sana, sebab bila ia dan bayinya terluka maka Hermione hanya bisa berdoa agar dunia ini selamat dari amukan seorang Draco malfoy yang murka.

Kondisi Draco yang terluka parah itu tidak memungkinkan pemuda itu untuk kembali ke medan perang, terlalu berbahaya. Namun baik Hermione dan Blaise tidak bisa menyalahkan Draco untuk tidak kembali ke sana dan mencari Harry, sebab yang dimaksud di sini adalah belahan jiwa Draco serta ibu dari anaknya berada di tangan Dumbledore. Bagi Blaise, bila dirinya berada di posisi Draco dan Neville berada di posisi Harry, maka bisa dipastikan penyihir berdarah Italia itu akan mengamuk seperti Draco.

"Bagimana kondisi Narcissa?" Tanya Blaise, ia ingat kalau Lady Malfoy adalah orang yang bertugas menjaga Harry dan Neville menemukan wanita itu hampir mati teracuni di kamar Harry yang kosong, sepertinya penculik Harry mengelabuhi Narcissa untuk meminum racun.

"Perenelle tengah merawatnya, tapi yang aku dengar dari Parkinson kondisi Mrs. Malfoy sudah mulai membaik meski ia masih belum sadar," jawab Hermione singkat. "Zabini, di mana Neville? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi."

Kedua mata Hazel milik Blaise pun terangkat dan bertemu dengan Hermione untuk beberapa saat kemudian sebelum sebuah seringai tipis muncul di bibir pemuda itu, dan entah kenapa Hermione tidak menyukainya, rasanya gadis itu ingin menampar wajah tampan Blaise dan memaksanya untuk memberi tahu Hermione apa yang tengah ia rencanakan.

"Ada misi penting yang harus kekasihku itu lakukan, Granger," jawab Blaise, nadanya terdengar sedikit congkak.

"Entah kenapa aku tidak akan menyukai ini bila kau menjawabnya secara gamblang, Zabini." Gumam Hermione, kedua mata tajamnya masih menghujat Blaise dengan rasa tidak sabaran di sana.

Hermione ingin mengucapkan apa yang ada di dalam pikirannya, mengenai kalau ia tidak suka dengan jalan pikiran pemuda sombong yang merupakan pewaris keluarga Zabini itu. Namun, baru saja Hermione ingin membuka mulutnya, sebuah suara teriakan pun terdengar dari dalam kamar Draco yang diiringi oleh bunyi Ploop keras, seperti seseorang tengah berapparate.

"DRACCOOO!"

Teriakan panik dari Perenelle pun terdengar membahana di penjuru manor tersebut, membuat baik Hermione dan Blaise beranjak dari tempat mereka berdiri di samping kamar Draco untuk menuju ke dalam, melihat apa yang terjadi di sana.

"Sepertinya Draco memiliki jiwa seorang Gryffindor," ujar seorang gadis berambut pirang saat ia muncul dari balik ruangan tempat di mana Draco tadi dirawat. Bila Perenelle yang keluar dari kamar itu terlihat begitu panik, maka gadis muda itu malah sebaliknya.

Seringai dari Daphne pun begitu cocok dengan seringai yang terulas di bibir Blaise, dan hal ini semakin membuat Hermione berpikir kalau ia benar-benar tidak menyukai seringai para Slytherin.

"Granger," panggil Daphne yang sekarang ini berdiri di samping Blaise, meminta perhatian Hermione.

"Ad… whoa…" dengan sedikit canggung Hermione menangkap sebuah galleon emas yang dilemparkan oleh Daphne padanya. Tatapan gadis bermata kecoklatan itu mengisyaratkan tanda tanya yang ia rasakan.

"Itu adalah Portkey, kita akan menyusul Draco dan melakukan serangan terakhir pada pihak Dumbledore untuk membebaskan kekasih kecil Draco," ujar Daphne seraya menggenggam galleon emas miliknya sendiri. "Aktif."

Begitu kata 'aktif' diucapkan, sosok dari gadis berambut pirang itu sudah menghilang dari hadapan Blaise dan Hermione.

"Aktif adalah kata sandi untuk mengaktifkan portkey itu, Granger. Ah… aku harus menyusul Neville-ku tersayang, sampai bertemu lagi di sana," kata Blaise dengan nada yang sedikit mencemooh. Pemuda berkulit gelap itu mengambil galleon emasnya dari dalam saku celananya, Blaise melemparkan benda itu ke udara lalu menangkapnya, bersamaan dengan mengucapkan kata "aktif" sebelum ia pun menghilang seperti Daphne.

Kelihatannya Hermione yang melihat kedua teman Draco itu pergi tidak memiliki pilihan lain, saat ini Harry sedang ditawan oleh pihak Order dan sebagai temannya pun Hermione tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Blaise dan Daphne yang telah duluan pergi untuk menolong Harry.

"Aktif," ujar Hermione untuk mengaktifkan Portkey yang tengah ia pegang.


Malam itu adalah malam yang terlihat sedikit lebih damai daripada malam-malam sebelumnya, bahkan atmosfer perang dan penuh kematian yang menyebabkan aura ketegangan pun tidak mempengaruhi mereka yang tinggal di Grimmauld Place pada malam itu. Baik Dumbledore dan mereka yang masih tersisa pun bisa merasakan kedamaian untuk beberapa saat meski beberapa dari mereka merasakan duka yang mendalam, orang-orang yang mereka kasihi telah terenggut dalam perang yang besar itu.

Sebagai contohnya adalah Ginny Weasley, meski remaja perempuan itu tidak tewas saat melawan Daphne Greengrass, namun ia mengalami luka yang sangat serius, bahkan sampai sekarang ia belum siuman karena salah satu mantra gelap yang diluncurkan oleh Daphne mengenainya. Tidak hanya Ginny saja yang terluka parah, namun beberapa lainnya pun juga sama buruk keadaannya. Dalam perang ini meski pihak Order sudah terlihat sekali kekalahannya, Dumbledore tidak berhenti dalam perlawanan ini, ia masih memiliki satu senjata lagi yang bisa ia gunakan untuk melawan pihak Voldemort. Harry Potter adalah senjata mereka yang terakhir.

Tidak ada yang menyangka kalau malam yang terlihat begitu damai itu tidak akan bertahan lama ketika sebuah ledakan besar muncul dari dalam Grimmauld Place itu sendiri dan menghancurkan perabotan dan ruang tengah.

"Bombarda Maxima!" Ujar Neville yang mengarahkan ujung tongkat sihirnya ke langit-langit, menghancurkan bangunan itu dalam sekali pukul.

Guncangan yang besar itu tentu membuat mereka yang tadi kelahan langsung keluar dari kamar mereka dan menuju ke ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi, dan mereka pun melihat bagaimana tempat itu sudah tak berupa lagi dengan Neville berdiri dengan tatapan dingin di tengahnya.

Beberapa pertanyaan pun muncul di benak Dumbledore dan yang lainnya melihat kemunculan Neville seorang diri di sana, bagaimana Neville bisa masuk ke dalam Grimmauld Place ketika anak itu tidak memiliki password-nya? Belum sempat Dumbledore menjawab pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya, ia dan beberapa anggota Order yang ada di sana merasakan aura sihir yang kuat dan goncangan yang hebat seperti gempa bumi pun muncul.

"Ultima Fryender!" Sebuah suara yang begitu familiar mengucapkan mantra sebelum tiga burung phoenix yang terbuat dari api melesat ke arah Dumbledore dan yang lainnya.

Dengan tongkat sihir Elder yang ada di tangannya, Dumbledore menciptakan barrier di antara mereka untuk menangkis serangan tadi dan menabrakkannya ke dinding, lagi-lagi membuat ruangan tadi bertambah hancur dan dipenuhi oleh debu.

"Apa-apaan ini?" Tanya Ronald Weasley yang berdiri di samping Dumbledore, kedua mata birunya menatap galak sosok Neville yang masih belum beranjak dari tempat berdirinya sebelum mengarah pada orang yang menyerang mereka menggunakan Phoenix api.

Debu yang tadi berterbangan itu pun menipis dan dari sana Ron mulai bisa melihat sosok orang yang menyerang mereka tadi selain Neville, dan betapa terkejutnya Ron saat ia mengetahui siapa orang itu. Harry, berdiri dengan anggunnya di atas tangga ruangan dengan tangan kirinya memegang perut besarnya. Sosok yang mengagumkan itu terlihat begitu memukau dengan nyala mata emeraldnya yang terlihat begitu tajam dan kemarahan dingin pun menyelimuti sosoknya. Tidak hanya itu saja, sosok Harry yang ethereal ini juga diselimuti oleh kekuatan yang luar biasa.

Entah kenapa, tapi Ron merasakan dirinya terangsang ketika ia melihat Harry yang sekarang ini, dan kalau saja mereka tidak berada dalam suasana seperti ini pasti Ron akan menjamah Harry seperti apa yang ingin ia lakukan belakangan ini.

Merasakan tatapan menjijikkan dari Ron yang ditujukan padanya, Harry pun menyipitkan kedua matanya dan melemparkan tatapan ganas pada Ron. Ia tidak suka tatapan yang diberikan Ron padanya, dan langsung saja ia menggumamkan Crucio ke arah Ron. Pemuda berambut merah itu pasti sudah merintih kesakitan di lantai kalau saja Dumbledore tidak menciptakan semacam perisai sihir di sekitar Ron untuk melindunginya dari Cruciatus yang dilemparkan Harry.

"Ronald, ini bukan saatnya untuk berfantasi!" Hardik Dumbledore, ia merasa kesal dengan putra bungsu keluarga Weasley ini.

"Expelliarmus!" Sebuah suara feminim pun terdengar dari samping sebelum sabetan cahaya berwarna merah pun meluncur ke arah mereka, yang tentu saja langsung dihalangi oleh Snape yang melindungi sisi kanan Dumbledore.

Harry yang melihat semua ini hanya tersenyum kecil, namun senyumannya itu tidak sampai pada kedua matanya. Secara berhati-hati pula remaja itu menuruni tangga dan berjalan untuk menuju ke lantai bawah, dimana ia tahu duel di antara mereka akan terjadi.

"Professor, kita bertemu lagi," ucap Harry dengan kalem.

Dumbledore menyipitkan matanya melihat sosok mantan muridnya tersebut, meski ia merasakan kemarahan yang besar atas ulah Harry, namun pada saat yang sama penyihir tua itu merasakan ketakutan. Ia bisa merasakan kalau Harry James Potter yang menuruni tangga dan kemudian mengambil tempat di samping Neville itu bukanlah sosok Harry yang ia kenal, mereka begitu berbeda. Sebuah pertanyaan singkat yang tertuju pada sosok itu langsung menggema di pikirannya, sebenarnya siapakah Harry James Potter itu?

"Harry…." Dumbledore menganggukkan kepalanya secara singkat.


AN: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk membaca. Sebelumnya, saya ucapkan selamat tahun baru 2015 kepada teman-teman

Author: Sky