"Semua Naga telah lengkap. Perang terakhir akan dimulai. Namun, bagaimana bisa? Jika informasi yang kita miliki tak cukup untuk mendukung kita dalam perang? Kita tak akan bertahan tanpa mengetahui siapa lawan kita sebenarnya."
Raja Tertinggi berbicara.
Dua wadah yang merupakan tangan kirinya berlutut tanpa bergeming di depannya.
Mereka mendengarkan.
Salah satunya terjebak dalam ketakutan dan keraguan, sedang yang satunya tahu itu.
Kemudian, yang satu terakhir itu membuka suara.
Penuh tekad yang tergambar jelas.
"Biarkan saya yang melakukannya, Yang Mulia."
.
.
"Kau selalu berdiri di atas prioritasmu hingga kau kadang tak memperhatikan apa yang ada di sekitarmu.
Aku takut kalau hal ini terus berlanjut—
—apakah kau akan melupakanku, Ein?"
...
"Entahlah."
Zui Meng Yi hanya tersenyum.
Tangannya lembut menelusuri sisi wajah gadis itu.
.
.
Four Souls
Taion91
Harry Potter © J. K. Rowling
Line 29 : Sang Raja Kembali
.
.
Einen Kleird berlari secepat mungkin.
Jauh.
Menjauh.
Dia tidak ingin mati.
Tidak boleh.
Dia tidak diperbolehkan untuk mati. Sebelum beban yang bertumpuk di pundaknya tertuntaskan satu-persatu. Atau sekaligus. Terserah. Yang utama adalah beban itu terselesaikan. Tuntas. Hingga gadis itu tak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Dia harus tetap hidup.
Bagaimana pun caranya.
Walaupun harus mengorbankan orang-orang di sekitarnya.
Bagaimana pun caranya.
Terserah.
"Semua Naga telah lengkap. Perang terakhir akan dimulai. Namun, bagaimana bisa? Jika informasi yang kita miliki tak cukup untuk mendukung kita dalam perang? Kita tak akan bertahan tanpa mengetahui siapa lawan kita sebenarnya." Ucapan Yang Mulia sangat menunjukkan perintah sesungguhnya. Dua wadah kepercayaan Yang Mulia tengah berlutut saat mendengarkannya.
Dengan sangat jelas, mereka sadar apa makna ucapan itu. Akan tetapi, salah seorangnya diam-diam menunggu dengan jantungnya yang berdebar-debar khawatir. Dia tahu bahwa ia tak bisa melaksanakan tugas itu. Tak boleh. Itu akan membahayakan nyawanya.
Itulah sebabnya, hatinya lega saat Zui Meng Yi dengan berani mengangkat wajah. Mengambil langkah pertama untuk melaksanakan tugas itu. Di kala itu, Einen Kleird berhenti gemetar khawatir. Diam-diam, ia menghela nafas lega.
Namun, kini beda lagi situasinya. Dia benar-benar terjepit. Ia tahu bahwa Zui Meng Yi tak akan lama melindungi punggungnya. Ya. Karena, ia melawan musuh yang tak seimbang.
Sekarang, ia hanya bisa bergantung dengan kapasitas energinya dan ketepatan waktu Jack saat membuka pintu segel untuknya. Keberuntungan adalah hal pertama yang ia butuhkan saat ini.
Dia tak boleh mati.
Tidak.
Boleh.
Mati.
.
"Kau lahir untuk mewujudkan harapan, my child."
Ein menambah kecepatannya. Ia merasakannya. Keberadaan Zui Meng Yi tak lagi tersisa.
"...Ini dia yang kucari..."
Kedua permata hitam kelam itu melebar. Nafasnya tertahan di tenggorokan.
Sial! Kenapa 'dia' harus menemukannya tepat di depan pintu segel? !
Ein membelakangi pintu segel seraya meloncat anggun ke dalamnya. Dan saat itu juga, dia menyesali tindakannya. Bagaimana pun juga, dia jadi bisa melihat sosok yang berbicara tadi. Ein meneguk ludah. Refleks tangannya telah memegang pedang perak yang teracung padanya. Sosok itu meloncat anggun ke arahnya sambil mencondongkan badannya ke arah Ein.
Sosok itu menelengkan kepalanya seraya menatapnya datar.
Dua bola mata merah kosong itu membayanginya.
"..Ah, wajah ini... sepertinya pernah kulihat..."
Dan Einen Kleird nyaris membeku di tempatnya jika bukan karena kekuatan Sqied yang menariknya ke dalam dimensi segel.
Namun, sayang, sepasang mata merah itu masih membayanginya.
Lama-kelamaan berubah menjadi mimpi buruk yang menuju pada kegilaan.
CRAASSH!
Sang Guren hanya menggerakkan jari-jarinya.
Lalu merahnya darah dicipratkan kemana-mana.
"Kh—!"
.
Hogwarts merupakan salah satu sekolah sihir yang ada di Skotlandia. Biarpun banyak perbedaan mencolok antara sekolah ini dengan sekolah muggle, namun, Hogwarts tak lepas dari aturan jam malam yang juga diterapkan di sekolah muggle berasrama lainnya. Aturan ini dicanangkan bukan hanya untuk main-main saja. Terang saja, para Prefek dibentuk demi menegaskan aturan ini. Salahkan mantan murid berinisial SB yang telah mendorong terbentuknya aturan ini. Seandainya saja ia mempunyai teknik lebih jitu, tentu kabar spektakuler mengenai kecolongan jubah, seragam, pakaian, bahkan kolor tak akan terkuak di depan publik yang bahkan terus disinggung sampai 20 tahun kemudian. Konon kabarnya, murid ini sebenarnya adalah penjual pakaian di Diagon Alley. Entah apakah rumor itu benar atau tidak, yang penting para murid –bahkan guru— yang pernah menjadi korbannya menyimpan trauma atas kejadian itu. Oleh sebab itu, demi mencegah terulangnya kejadian –memalukan— ini, para dewan guru membentuk Prefek yang terdiri dari murid-murid terpilih. Yang utama adalah anggota Prefek ini bukan dari kalangan keluarga pengusaha yang meraup untung di bidang perdagangan. Terutama pakaian. Dan kolor pastinya.
"Jam 01.23."
Well, simpan untuk seorang pemuda tampan berambut kuning cerah yang tengah melirik arloji emasnya dengan raut muka suram. Sepertinya dia tidak peduli dengan aturan jam malam di Hogwarts. Beruntung tak ada Prefek yang melintas di koridornya. Tampaknya laki-laki itu tahu jalan mana yang harus dilalui untuk menghindari para Prefek cerewet di sana. Terlebih ia tak memakai penerang apa pun seolah ia tahu apa yang ada di sekitarnya. Tak butuh waktu lama untuk pemuda itu sampai di tempat tujuannya. Terlihat ia tersenyum kecil.
"Selamat malam, Willow," sapanya santai dan si pohon Dedalu di depannya tampak menunduk, menghujani si pemuda dengan daun-daunnya yang hijau. Sqied berpaling. Melakukan kegiatan yang akhir-akhir ini menyita jam tidurnya. Membuka pintu segel.
Ia mengulurkan tangannya ke depan.
Sriiing!
Formasi segel vertical yang terbentuk dari cahaya kebiruan perlahan melebar dan naik dari atas tanah. Sqied menekuk kedua alisnya. Merasakan keanehan yang tak biasa.
"Ini..." bisiknya saat kedua matanya membelalak. Mendadak cahaya kebiruan berubah menjadi emas terang. Laki-laki itu mendecih seraya memaksa tangannya yang tiba-tiba gemetar untuk bergerak. Telapak tangannya tampak meraih dan mencengkeram sesuatu tak kasat mata sebelum menariknya ke arahnya. Sedetik kemudian, sesosok tubuh keluar dari dalam segel. Saat itu juga, si pemuda segera melambaikan tangannya dan pintu segel menghilang.
Ia bernafas berat dan tak beraturan. Terlalu tiba-tiba. Ia tak menyangka bahwa orang ia selamatkan detik sebelumnya adalah mangsa malaikat kematian. Sorot matanya yang keras bergerak ke arah orang itu. Einen Kleird yang juga bernafas keras dan tidak teratur saat terduduk di tanah. Laki-laki itu menelan ludah. Menenggelamkan pertanyaan yang ada di tenggorokannya.
Ya.
Ia tak bisa bertanya sekarang. Tak bisa saat ia melihat pedang Ein masih tergenggam erat di tangannya. Kedua matanya yang membelalak keras. Dan darah yang membasahi jubah putih gadingnya. Serta...
Sqiedefs Knighstroot kembali meneguk ludah.
"Ein... tanganmu kirimu..." ucapnya gemetar, "...dimana?"
Ein menatapnya datar. Dari nafasnya yang tidak teratur serta peluh yang terus menetes, sangat jelas bahwa ia tengah kelelahan. Ia menatap tajam pemuda itu.
"Cari sendiri," desisnya parau. Sqied mengusap poninya ke belakang sebelum mengedarkan pandangan. Kedua matanya lantas terpatri pada benda yang tergeletak tak jauh di belakang Ein. Ia menggeretakkan giginya sebelum berjalan mengambil...potongan lengan penuh darah gadis itu. Tanpa banyak bicara, ia mengubah wujudnya dan membopong Ein yang mulai tak sadarkan diri. Kakinya melesat lurus ke Hospital Wing. Sepertinya ia akan mengganggu jam istirahat madam Pomfrey.
.
.
Suara di dalam ruangan itu terdengar hingga keluar. Seperti seseorang yang sedang memukul sesuatu tanpa henti. Segera saja menarik perhatian Dumbledore dan Snape yang berada di luar ruangan.
Duk!
Duk!
Duk!
"Ein! Apa yang kau lakukan di dalam! ? Bukan pintunya, Ein!" Dumbledore memanggil dengan tegas. Snape memutar-mutar handle pintu dengan tidak sabar, berusaha membuka pintu di depannya itu.
Duk!
Traak!
Mereka menahan nafas saat suara yang lebih keras terdengar dari dalam ruangan terkunci itu.
Draak!
"EIIINN! Buka pintunya!"
Duk!
Duk!
Duk!
Cukup sudah.
"Alohomora!"
Brak!
Pintu terbuka dengan paksa, memperlihatkan Snape yang tampak menahan nafas dan Albus yang berwajah masam dan beberapa guru yang mengintip di balik badan dua orang itu. Detik sebelumnya mereka memaksa masuk, namun sekarang mereka malah terdiam di pintu. Albus memejamkan kedua matanya saat menghela nafas berat. Kedua permata birunya terpatri pada anak itu.
Ya.
Einen Kleird dengan kedua tangannya yang masih terkepal kuat. Pecahan-pecahan keramik berhamburan di sekitarnya, sekilas terlihat bagai kelopak bunga yang bertebaran. Darah yang menetes-netes dari buku-buku jarinya yang lecet. Sorot matanya tajam. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan. Ia seolah bersiap membunuh targetnya.
Giginya bergemeletuk geram.
Nada suaranya rendah dan mengancam.
"Senang dengan apa yang kalian lihat, eh?"
Albus Dumbledore bersumpah bahwa baru saja ia melihat kedua mata anak itu berkilat merah.
Marah.
Marah!
"Aku mengerti. Kau marah karena kau punya masa kecil yang berbeda. Rumit. Bukankah begitu, Ein?... Atau... karena sesuatu yang lain?"
"...bukan... hanya saja..."
Apa?
Ah, ya...
...Benar juga...
Kenapa aku marah?
.
Kedua kelopak matanya terbuka. Memperlihatkan dua bola hitam kelam yang lurus menatap langit-langit ruangan. Ein mengedipkan kedua matanya. Dua kali. Sebelum akhirnya sadar bahwa ia tengah terbaring di Hospital Wing. Iris hitam itu langsung bergerak ke sudut matanya. Mendapati lengan kirinya yang telah kembali utuh. Ia kembali menatap langit-langit ruangan.
Tenggorokannya sakit. Hingga ia tak bisa mengeluarkan suara. Tubuhnya tak bertenaga. Ia tak bisa bergerak. Ein tak suka dengan dirinya yang melemah seperti ini. Namun, bukan berarti dia membencinya. Hanya saja, ia merasa seolah sedang diperingati. Tentang kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Ah, benar juga. Ia tak bisa berbuat apa-apa dalam keadaan seperti ini.
"Ein," seseorang berbicara dari sampingnya, "kau baik-baik saja?"
Ein tak menjawabnya. Matanya begerak ke arah kiri, kembali memeriksa tangan kirinya yang sudah tersambung tanpa menyisakan bekas luka. Kemudian, ia kembali menatap langit-langit dalam diam dan pemuda di sampingnya hanya diam dan menunggu. Menunggu perintahnya yang tak pernah datang.
"Pelan-pelan," gumam Jack seraya berdiri dan membantu gadis itu saat ia hendak bangkit dari tidurnya. Ia masih berdiri sebelum akhirnya menghela nafas berat dan kembali duduk. Manik emeraldnya hanya memperhatikan ekspresi gadis yang tak menunjukkan apa-apa itu.
Seolah tak ada yang terjadi.
Dalam hati ia tersenyum miris.
Bodoh. seharusnya dia memang sudah tahu akan begini jadinya jika dia kembali. Tak pernah menunjukkan apa-apa. Seolah tak ada yang terjadi. Lagipula, dia memang pandai menyembunyikan emosi.
Ein memang tak bisa ditebak.
Padahal mereka sudah bersama selama lebih dari 5 tahun, namun ia tetap tak tahu apa-apa tentang gadis di depannya ini. Aah, dia memang seharusnya sudah tahu. Oh, dia memang sudah tahu. Sejak awal bertemu, Ein telah membangun dinding tebal di antara mereka.
Di antara dia dan kehidupan.
Tapi, pemuda itu yakin bahwa samar-samar beberapa orang mengenali Ein. Mengetahui rahasia yang ia diamkan dari orang-orang di sekitarnya. Termasuk pemuda itu sendiri.
Padahal, mereka adalah—
"Kh! Uhukk!"
Sepasang permata emerald melebar penuh keterkejutan.
Entah sejak kapan, darah menetes dari sela-sela jari tangan yang Ein gunakan untuk membungkam mulutnya. Batuknya.
Graakk! !"EIINN! !"
Suara pemuda itu lebih keras daripada suara kursi yang jatuh.
"Ohokk! Uhukk! !"
"MADAM POMFREY! MADAM POMFREY! !"
Poppy Pomfrey yang sedang memilah-milah obat di kantornya nyaris meloncat ke langit-langit. Botol-botol obat di atas baki berhamburan di lantai, sementara matron itu berusaha meredakan kecepatan detak jantungnya.
"MADAM POMFREY! ! !" Panggilan ketiga sudah cukup untuk memaksa wanita itu berlari menuju sumber suara.
"Ya Tuhan! EIN!" Wanita itu berusaha mengambil nafas saat melihat selimut yang digunakan Jack untuk menahan batuk gadis yang mulutnya berlumuran darah. Dengan cekatan ia menarik tongkat sihirnya dan merapalkan beberapa mantra.
Namun, tak ada yang terjadi. Batuk itu semakin menjadi-jadi. Dan membuat Ein kewalahan karena tenggorokannya yang serasa terbakar.
"Uhukk! Sn—ap—'hok-!" Gadis itu berusaha berbicara, melawan batuk yang mendera tenggorokannya dan gumpalan darah yang meluap.
Tanpa banyak bicara, Jack Vessalius berlari secepatnya meninggalkan Madam Pomfrey yang sibuk menenangkan batuk berdarah Ein.
Menuju Kelas Ramuan.
Severus Snape.
.
.
Severus Snape tidak mengharapkan peristiwa mengejutkan untuk hari itu. Tidak dan tidak sama sekali.
Kecuali, satu hal. Tapi, sayangnya itu tidak penting. Intinya, selama pelajaran berlangsung, Hermione Granger hanya berdiam diri jauh di barisan belakang. Serta merta murid-murid lainnya langsung heboh dan mulai berbisik satu sama lain. Entah apa yang merubah si Nona-Tahu-Segalanya menjadi pendiam seperti itu. Snape memang tahu akan begitu jadinya, sejak melihat anak itu bersama dua 'orang' itu. Terang saja, itu tidak mengejutkan sama sekali.
Kelas begitu tenang. Snape cukup mengapresiasinya. Sayang sekali, dia tak bisa bersantai lama-lama saat—
BRAAKK!
—seorang pemuda nekat mendobrak pintu kelas Ramuannya.
"PROFESSOR!"
Snape mengerutkan hidungnya tidak suka. Sqiedefs Knightsroot atau Jack atau apa-pun-namanya datang artinya berita buruk.
"Kau tak perl—""—Saya mohon untuk ikut saya sekarang!"
Dan Severus Snape tak bertanya apa pun saat mengikutinya keluar dari ruangan. Setelah melemparkan tatapan tajam yang bermakna: pelajari buku kalian SEKARANG!
Ia tak memedulikan 2 anak perempuan yang berdiri curiga saat melihat pemuda itu.
"Sqied?" gumam Pansy dan Hermione bersamaan.
.
.
"Ada ap—"
"Ein tiba-tiba batuk darah!"
Snape menyipitkan kedua matanya. "Dia sudah kembali?"
"Tadi malam!"
Snape memejamkan kedua matanya erat-erat seolah berusaha menjernihkan pikirannya.
"Dengar, Jack. Ramuan yang saya berikan seharusnya cukup untuk beberapa bulan. Dan saya memberikannya seminggu yang lalu."
Jack menggeram.
"Aku tidak peduli, Professor. Tapi, Ein membutuhkan kehadiran anda dan –untuk jaga-jaga—ramuan itu juga."
Wajah Snape berubah dingin.
"Kalian benar-benar..." dia tak pernah melanjutkan ucapannya -yang malah terdengar seperti geraman kesal- saat melewati Jack dan berjalan tergesa-gesa ke arah kantornya. Dimana ia menyimpan berbagai macam ramuan.
xxx
Ein sama sekali tak menimbulkan suara ketika ia bersandar di bantal yang disusun tinggi di belakangnya. Madam Pomfrey baru saja meninggalkannya untuk mengambil ramuan-ramuan penyembuh yang baru. Wanita itu sudah mengganti selimut 'kotor' dengan yang baru, hingga membuat Ein merasa bahwa batuk darah yang ia alami sebelumnya itu hanyalah mimpi. Namun, noda merah kering di kerah bajunya memaksanya untuk kembali mengingat kejadian itu. Gadis itu memejamkan mata sesaat sebelum kembali membukanya dan melihat pembaringan kosong di seberang. Ia bahkan tak melirik orang yang tiba-tiba membuka pintu dan berjalan ke arahnya. Laki-laki berambut kuning cerah itu berhenti di sampingnya.
"Ein, Profesor Dumbledore ada di depan. Beliau ingin menjengukmu."
Tangan gadis itu sekilas tampak mengejang. Ia diam sejenak dan Jack menunggunya dengan sabar.
"Panggilkan Madam Pomfrey." Suara gadis itu parau. Namun, ia tak memedulikannya.
"Baik." Jack segera melangkah pergi, kemudian kembali dengan Madam Pomfrey yang berjalan tergesa-gesa di sampingnya.
"Apa yang terjadi? Kau ingin muntah?" Matron rumah sakit itu lantas menempelkan punggung tangannya dengan kening Ein. Gadis itu membiarkannya.
"Profesor Dumbledore akan datang kemari. Saya tidak ingin ada darah di sini."
Madam Pomfrey menatapnya sebentar sebelum akhirnya menangkap maksud gadis itu saat melihat noda darah di bajunya. Ia tersenyum. Tangannya meraih tongkat sihir dari sakunya dan kemudian melambaikannya.
"Scourgify."
Jack hanya diam memerhatikan.
.
.
"Maaf membuat anda menunggu. Silahkan masuk, Profesor," ucap Jack seraya membuka pintu lebar-lebar. Dumbledore tersenyum ramah, kemudian berjalan menghampiri Ein yang kini memandang ke arahnya. Sedangkan, Jack berdiri di pintu. Memandang ke arah dua orang yang kini terlibat dalam pembicaraan itu dari jauh.
Tampak Dumbledore menepuk-nepuk puncak kepala Ein dengan kasih sayang sebelum menyandarkan kepala anak itu dadanya. Jack tak bisa melihat ekspresi Dumbledore yang saat ini tengah membelakanginya. Apalagi raut wajah Ein yang sama sekali tak berubah sedikitpun. Jack tahu bahwa ia tak bisa mengetahui satu informasi pun dari pembicaraan itu. Cukup membingungkan melihat hubungan antara dua orang itu. Sementara, Ein merupakan satu dari sekian banyak manusia anti-sosial yang hidup di dunia ini. Entah bagaimana bisa ia tampak diistimewakan oleh Dumbledore.
Jack bukannya iri. Tidak, dia memang tidak iri, hanya saja tindakan orang tua itu cukup mengejutkan. Bertahan bersama Ein, padahal Ein sendiri sudah melarangnya, cukup memperlihatkan bahwa itu adalah tindakan bunuh diri.
Dumbledore memang seolah tidak mempermasalahkan itu bunuh diri atau tidak. Tapi, apapun yang ada di antara mereka, itulah yang membuat Dumbledore tidak pernah meninggalkan sisi Ein. Dia selalu datang menjenguk saat tahu bahwa Ein berada di Hospital Wing. Selalu berbicara dengan nada ramah walaupun Ein membalasnya dengan nada sebaliknya.
Meskipun demikian, Jack selalu mendapati bahwa Dumbledore selalu berdiri di tempat yang seharusnya. Sebisa mungkin sadar diri untuk tidak ikut campur dalam urusan wadah Roh.
Ah, ya...
Dumbledore hanya memerhatikan Ein.
Bukan wadah Roh.
.
.
"Kau melamun, Jack?" Dumbledore tersenyum jenaka di depannya. Jack menatapnya sejenak sebelum mengulas senyum rahasia. Ia tak menyadari bahwa pembicaraan mereka sudah selesai. Dan lagi-lagi, Dumbledore menangkap basah dirinya yang tengah melamun.
Selalu seperti itu.
Dumbledore datang.
Ein menginginkan privasi.
Kemudian, Jack menunggu dan memerhatikan dari jauh.
Sebenarnya dia tengah melamun.
Dan Dumbledore akan menyadarkannya dari lamunan.
Selalu seperti itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa. Masih banyak tugas yang harus dilakukan oleh orangtua sepertiku," ujarnya seraya tertawa. Jack mengangguk sopan, kemudian Dumbledore menghilang di balik pintu. Hening sejenak, sementara suara langkah Dumbledore di koridor perlahan lenyap.
"Menjagalah di luar, Jack."
Jack tak perlu mengangkat wajah untuk melihat orang yang telah menyuruhnya demikian. Ia mengangguk.
"Baik."
Dia keluar.
Meninggalkan Ein sendirian di Hospital Wing yang masih tetap dalam posisi sebelumnya.
Madam Pomfrey memutuskan untuk memadamkan lampu.
Berharap agar gadis itu mau beristirahat sejenak.
Ah, ia tahu ini akan selalu terjadi jika Dumbledore datang menjenguk Ein. Selalu seperti ini. Ein seolah tak ada minat untuk melakukan apa pun. Ia hanya diam tanpa beranjak dari posisinya. Dan kembali meminta untuk ditinggalkan sendirian.
Madam Pomfrey menutup pintu rumah sakit sederhana yang diurusnya itu. Ia menepuk-nepuk lembut bahu Jack yang berdiri di depan pintu. Senyumnya seolah berusaha menenangkan. Namun, Jack seolah tak melihatnya.
"Terima kasih," ucap pemuda itu.
Dua kata untuk kerja kerasnya. Itu sudah cukup bagi matron rumah sakit itu. Wanita itu pun berlalu setelah mengucapkan selamat malam pada pemuda itu.
Jack tak beranjak dari tempatnya.
Ia bertindak sesuai apa yang diperintahkan.
.
.
Entah sudah berapa menit ia bergeming diposisinya.
Membiarkan tubuhnya bersandar pada tumpukan bantal di punggungnya. Membiarkan kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya.
Einen Kleird seolah tengah menerawang.
Namun, di kegelapan itu sesuatu memantulkan sinar bulan.
Yang mengalir turun di pipi sang gadis.
Di dalam kegelapan air itu menetes dalam kilauan bulan.
Di dalam sunyinya malam,
gadis itu meneteskan air mata tanpa suara.
.
.
"Kau terlahir dari harapan, my child."
.
.
"Dan dibesarkan dengan pengorbanan."
.
.
Ein,
kau mengingatnya? Malam saat kedua matamu menggelap penuh ambisi?
Anak kecil itu mendongak menatap si pemilik permata merah yang tubuhnya menjulang tinggi di hadapannya. Dua makhluk berbeda dunia saling berhadapan dalam keheningan malam. Sosok berseragam perang yang agung mengemukakan pertanyaan tanpa suara. Seolah ia hanya berbicara lewat tatapan mata.
Anak kecil itu memecah keheningan.
"Namaku Einen Kleird..."
Nada suaranya menggantung seolah masih ada kata yang diam di tenggorokannya.
Sosok agung di hadapannya menatapnya tanpa geming.
"Aku akan memenuhi janji yang telah diberikan oleh wadah terdahulu padamu."
Kedua kelopak mata anak kecil itu menyipit. Bibirnya merapat tipis saat lengkungannya menunjukkan kekecutan akan rasa asam kehidupan.
.
.
Anak itu menahan gemuruh kesakitan di dadanya.
Tubuh itu bukan lagi dalam kuasanya.
Hidup seharusnya bukan miliknya lagi.
Dia seharusnya tak berada di dunia ini lagi.
Ia tak berdaya.
Ia mengatakan rahasia tanpa suara.
Karena melawan kematian,
ia kehilangan kuasa.
.
.
.
Jack menoleh ke suara ketukan berat sepatu di ujung koridor. Cahaya lampu menampakkan sosok yang datang dari kegelapan. Sekilas mata kiri Jack mengejang, membuat tatapan matanya berubah tidak suka detik itu. Ia menahan geraman di tenggorokannya saat melihat sosok Viktor Krum yang berhenti tepat di bawah lampu koridor.
"Selamat malam, Jack."
Jack tak menghiraukannya.
Viktor tertawa kecil. Tanpa keramahan dan jelas tidak berasal dari hati.
"Yang Mulia sudah kembali, ya kan?"
Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya di Hogwarts, senyum dengki terulas di bibirnya.
Jack Vessalius menatapnya geram dari sudut matanya.
Ia yakin, Viktor Krum akan menjebaknya ke dalam masalah kali ini.
.
.
"Kau...
yang membunuh Sqiedefs Knightsroot?"
.
.
Setahu Blaise, Draco Malfoy jarang dekat dengan perempuan. Biarpun dekat ia hanya akan menyombongkannya di depan Hermione Granger—entah apa tujuannya, kemudian mencampakkannya begitu saja. Draco membiarkan perempuan itu menyentuhnya saat ia berada di tempat umum, namun tidak saat mereka berada di asrama Slytherin atau tempat sepi—dia malah akan menghardik perempuan itu jika menyentuhnya. Namun, entah sudah berapa lama, Draco tak lagi mengambil perempuan sebagai tropinya. Ia terlihat lebih sering sendiri dan...mengganggu Granger, seolah ia tak punya hal lain untuk dilakukan.
Karena itu, Blaise terkejut sekaligus heran terhadap perempuan yang ia temukan dekat dengan Draco baru-baru ini.
Saat itu, ia baru saja turun dari tangga dan melihat belakang kepala Draco menyembul di sofa, dan juga kepala berambut hitam –yang terlalu dekat—di sampingnya.
"Draco?"
Draco Malfoy tak menanggapinya. Dengan sikap malas duduk di sofa dengan perkamen di tangannya. Dan seorang gadis berkuncir dua bergelut manja di sampingnya. Gadis itu mendongak menatapnya sebelum tersenyum ceria.
"Namaku," permata biru pucatnya berkerling aneh, "Valerie Reverie."
Blaise menaikkan alis saat gadis itu tanpa diminta memperkenalkan dirinya sendiri. Bibirnya terkatup rapat saat gadis berambut hitam itu melingkarkan lengannya di leher sahabatnya—yang masih duduk membelakanginya. Ia mengerutkan hidungnya mencela saat gadis itu menyandarkan pipinya di kepala Draco.
"Aku pacaran dengan Draco Malfoy."
Blaise Zabini berusaha menahan komentar-komentar pedasnya terhadap gadis itu. Tanpa berbicara banyak, ia kembali ke lantai atas. Entah kenapa udara semakin dingin. Bukankah musim dingin sudah berakhir?
Sayangnya ia tak menyadari, ekspresi masam yang tergambar jelas di wajah si rambut perak.
Dan es yang merambat di kemejanya.
Dari dua tangan gadis bermanik es beku itu.
Di sana, di kedua iris itu, tersembunyi kesadisan dan kekosongan yang sangat.
_To be continued_
Next:
"Aneh, bukan, wadah Roh Udara?" ucap Ein, "Kita dikelilingi oleh orang-orang bermuka dua yang tak mampu mengkhianati 'para Raja'." Suaranya mengalir seperti air. Tanpa ekspresi dan tak berasa.
Yosshhaaa! ! Thanks untuk sudah menunggu, membaca, dan me-review chap ini!
Ahahaha,, maaf, ya, baru bisa update sekarang! #saya benar-benar minta maaf.
—Touch Of Fire—
_Rozen91_
