Beautiful Prince(ss)

.

Byun Baekhyun as Hisahito no miya Bekkyon shinno denka

Park Chanyeol as Mafia Phoenix

.

SUMMARY

Baekhyun tidak mengerti saat seseorang membawanya ke tempat yang asing, istana mafia Phoenix. Dia hanya seorang pangeran penerus takhta kedua dari Jepang dan ia tak mengenal Chanyeol sama sekali. Lantas ia bertanya-tanya tentang apa yang Chanyeol rencanakan dengan menculiknya hingga ia tahu dan menyadari bahwa dunia memang tak pernah berpihak kepadanya.

.

WARNING : BOY X BOY (YAOI)! MATURE CONTENTS! Abuse! Mafia!

Don't bash! Don't plagiat!

.

.

.

.

Chapter 29

"Aku.." Baekhyun tak menuntaskan perkataannya. Ia terlihat linglung dan kebingungan dengan dirinya sendiri. Dan Chanyeol menatapnya tanpa berkedip hanya untuk memastikan anak itu baik-baik saja. Lantas saat Baekhyun mengeluarkan ponselnya, ia kembali melanjutkan perkataannya yang belum rampung, "aku akan menelepon Kisame-san."

Baekhyun menekan-nekankan jarinya pada layar ponsel dengan kalut, tangannya bahkan gemetaran dan berkeringat. Lalu Kisame menjawab panggilannya di nada tunggu ke-6 dengan sapaan hangat yang rasanya masih sama; "selamat malam, Bekkyon denka."

"Semalam malam, Kisame-san."

"Apa ada sesuatu yang penting hingga denka menelepon saya?"

Ada jeda panjang setelah Kisame bertanya demikian hingga pria itu pikir Baekhyun akan mematikan sambungannya sebentar lagi. Baekhyun juga bingung harus memulai dari mana. Lidahnya terasa kelu saat ingin berbicara.

"Denka?" Lalu panggilan Kisame menariknya kembali pada realita.

"Aku telah mendengarnya dari Chanyeol, Kisame-san." Baekhyun berucap lirih. Dan Kisame terdiam untuk 4 detik pertama; berusaha menerka topik mana yang Baekhyun bicarakan. Namun jika nada bicara Baekhyun terdengar seperti itu, maka mungkin Baekhyun membicarakan tentang penyerahan anaknya.

"Maafkan saya, denka. Saya tak punya pilihan lagi. Chanyeol-san mengancam akan melakukan peperangan dengan Jepang jika pernikahan itu tak di batalkan. Jadi jika begitu, tak ada pilihan lagi selain menyerahkan salah satu putra anda. Dengan begitu pernikahan tak akan berlangsung, namun konsekuensinya juga anda akan kehilangan gelar putra mahkota untuk kedua kalinya karena anda tak bisa menjadi seorang kaisar jika anda tak bisa menikah dengan wanita bangsawan manapun."

Keterkejutan kembali menyerangnya. Ia tak menyangka bahwa Chanyeol memberikan ancaman gila seperti itu. Perdana menteri jelas-jelas pasti menolak untuk berperang karena itu akan sangat merugikan. Dan ia tahu jika pernikahan untuknya tidak dilangsungkan, maka secara otomatis ia akan tersingkir menjadi kandidat kaisar selanjutnya.

"Bekkyon-sama, anda tak perlu khawatir. Saya tadi belum menjelaskan secara rinci saat Chanyeol-san lebih dulu pergi."

"Ada hal lain?"

"Jika bayi yang ada dalam kandungan anda adalah laki-laki, maka saya akan mengambilnya dan anda harus menyerahkan dia untuk di didik didalam istana sejak usianya menginjak 5 tahun. Tapi jika ternyata bayi itu perempuan, maka anda harus menyerahkan salah satu putra kembar anda secepatnya. Anda tak perlu cemas karena pihak kekaisaran pasti akan membiarkan pangeran pulang ke rumahnya di setiap liburan musim panas dan musim dingin, juga di hari-hari tertentu yang memungkinkan. Saya tidak akan memisahkan putra anda dari keluarganya jika itu yang anda takutkan."

Kisame benar, ia mengkhawatirkan itu. Ia takut anaknya akan benar-benar di pisahkan darinya.

"Aku setuju."

"Maaf?"

"Aku menyetujuinya, Kisame-san. Jadi kita tunggu sampai janinku diketahui jenis kelaminnya."

"Terimakasih atas kerjasamanya, denka."

"Aku yang seharusnya berterima kasih, Kisame-san. Terimakasih telah memberikan kemudahan."

"Saya harap anda bahagia dengan kehidupan anda yang sekarang, denka."

Lalu sambungan terhenti. Baekhyun menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menatap Chanyeol yang menatapnya dengan alis menukik.

"Kau menyetujuinya begitu saja?" Chanyeol hanya tak percaya bahwa Baekhyun akan menyetujuinya semudah itu. Baekhyun adalah tipe ibu yang posesif, jadi sulit di percaya saat Baekhyun bersedia untuk membiarkan putranya jauh darinya dan hidup di tempat lain.

"Aku tak punya pilihan lain. Jika aku yang maju untuk menikah, anak-anak dan kau pasti akan sangat terluka. Tapi jika aku menyerahkan salah satu putraku untuk menjadi seorang putra mahkota, itu akan jadi lebih baik. Lagipula aku tak perlu khawatir karena ayahku akan ada di istana tak lama lagi. Dia akan menjaga cucunya dengan baik. Juga, menjadi seorang pangeran dan putra mahkota adalah suatu kehormatan besar. Dia akan menjadi orang hebat dan mendapat banyak cinta dari rakyatnya. Siapapun yang akan berada di posisi itu nanti. Menjadi seorang pangeran juga bukan sesuatu yang buruk." Baekhyun tersenyum kecil dengan penuh keyakinan dan Chanyeol tak berkata apapun selain membawa tubuh kecil itu kedalam dekapan hangatnya.

"Kau luar biasa, Baekhyun."

"Ini yang terbaik."

e)(o

"J! Aku titip Ziyu dan Haowen disini, ya? Aku dan Sehun harus pergi ke Bucheon sampai besok." Luhan datang dari pintu masuk. Dan kakak-beradik Oh itu ada dalam masing-masing genggaman tangannya.

"Kau bisa percayakan padaku." Joonmyeon menjawab dari arah sofa dengan tumpukan kertas yang berada di atas meja. Dia sedang menyelesaikan pekerjaannya untuk di serahkan besok pada Chanyeol. Joonmyeon bahkan terlalu baik untuk tidak memarahi si kembar J dan Chutian yang berisik disisi lain ruang.

"Terimakasih, J." Luhan tersenyum kecil walaupun Joonmyeon tak menatap ke arahnya. Lantas ia melepaskan pegangannya pada anak-anaknya dan menatap mereka dengan tatapan serius. "Jangan merepotkan paman J, okay?"

"Umm! Mama percayakan saja pada kami." Si sulung Haowen menjawab dengan mantap. Matanya berbinar terang seolah ada puluhan bintang di matanya saat mendapati eksistensi Jesper yang tengah tertawa akibat permainan minum teh nya bersama Chutian dan Jackson; risiko bermain dengan anak perempuan.

"Anak pintar. Mama harus pergi sekarang, jangan mengacau, okay?" Luhan mengusap kepala keduanya dengan senyum lebar di wajahnya. Lalu saat keduanya mengangguk patuh, Luhan tersenyum semakin lebar dengan raut wajah puas.

"Aku titip ya, J!"

Joonmyeon berdengung keras, dan Luhan benar-benar pergi meninggalkan anak-anaknya di salah satu ruangan paviliun yang Joonmyeon tempati.

"Hey, Oh brothers. Bermainlah bersama yang lainnya." Joonmyeon menatap kedua Oh kecil itu lalu menunjuk 3 anak lainnya yang bermain di sisi lain ruangan dengan menggunakan dagunya.

"Terimakasih, paman Joonmyeon." Tanpa basa-basi, Haowen dan Ziyu langsung menghampiri Chutian dan si kembar J untuk ikut bermain hingga kini keduanya berdiri di hadapan mereka.

"Hai."

"Hai, Hewie. Halo Ziyu."

Wajah Haowen bersemu merah saat mendengar panggilan manis dari Jesper untuknya, dan panggilan itu terkhusus untuknya.

"Halo Jesper ge, Jackson ge dan Chutian jie." Dan Ziyu membalas sapaan Jesper dengan malu-malu.

"Hai, Ziyu cantik. Kemarilah." Jackson melepas cangkir teh yang ia pegang, lalu menarik tangan Ziyu untuk duduk di sebelahnya sementara Haowen memutuskan untuk duduk di sebelah Chutian dan berhadapan dengan Jesper karena tak ada cukup ruang untuknya duduk di sebelah Jesper.

"Aku jadi obat nyamuk ya?" Si kecil Chutian dan mulutnya yang seperti orang dewasa mulai bersuara saat melihat si kembar Park dan Oh brothers yang mulai sibuk dengan dunia mereka sendiri.

"Mom? Apa uncle Zhang dan Dennis ada di paviliun juga?" Chutian dengan bibir mengerucutnya turun dari kursi, menghampiri Joonmyeon dan menarik-narik lengan kemeja Joonmyeon hingga pria itu menggeram gemas.

"Tidak tahu, Tian Tian. Coba kau lihat saja sendiri." Jawaban Joonmyeon membuat Chutian semakin kesal, jadi ia berjalan keluar dari paviliun yang ditempati mommy nya untuk mencari Dennis di paviliun lain. Ia hanya tidak ingin menjadi obat nyamuk diantara si kembar dan kakak beradik yang tidak berperikemanusiaan.

"Hewie mau teh?" Tanya Jesper dengan senyuman manis di bibir tipisnya. Violetnya menatap Haowen lekat-lekat hingga lelaki kecil itu meringis akan jantungnya yang berdegup kencang. Lantas saat ia mengangguk kecil, Jesper tersenyum semakin lebar dan menuangkan teh dari poci pada cangkir baru untuk Haowen.

Jesper turun dari sofa, mengambil cangkir teh untuk Haowen dan berjalan mengitari meja hanya untuk duduk di sebelah lelaki kecil yang tampan itu.

"Minumlah, Hewie." Jesper menyerahkan cangkir yang ia bawa untuk Haowen dan Haowen menerimanya dengan tangan gemetaran. Ia berubah jadi lelaki pengecut saat berhadapan dengan Jesper yang ia suka. Like father like son. Sehun juga dulu bukan dominan yang pemberani saat dihadapkan dengan Luhan yang tengah mengandung Haowen.

"Terimakasih, Jes." Dan Haowen hanya bisa mencicit kecil dengan mental tahunya yang tinggal seperempat.

"Haowenie sangat tampan seperti paman Oh," si kecil Jesper kembali bersuara dengan vioketnya yang tak pernah lepas dari paras tampan Haowen yang duduk kaku di sebelahnya. Kaki-kaki kecilnya yang tak menapak di lantai saling berayun dengan santai, berbanding terbalik dengan Haowen yang seperti manekin. "Jes suka. Jes suka Hewie. Bagaimana ini?" Jesper menatap Haowen masih dengan tatapan polosnya, dan Haowen nyaris menjatuhkan cangkir tehnya saat mendengar penuturan Jesper.

"A-aku.."

"Jes! Papa bilang anak kecil tidak boleh cinta-cintaan! Daddy juga akan mengebiri Haowen jika ketahuan kau suka padanya." Jackson jadi perusak suasana. Dia dan wajah angkuhnya duduk tenang di seberang dengan kedua tangan terlipat didepan tubuh. Mata bulatnya bahkan terlihat datar saat menatap adik kembarnya. Sementara Ziyu hanya menatap tak paham pada keadaan disana. Cinta-cintaan? Ziyu tak mengerti apa maknanya.

"Dasar hyung jelek menyebalkan!" Jesper mengerucutkan bibirnya, mengomel dan berakhir dengan menjulurkan lidahnya pada yang kakak beberapa menitnya. "Haowenie jangan dengarkan hyung jelek ya? Daddy orang yang baik, tak akan menyakiti Hewie. Karena Jes tidak boleh dulu seperti orang dewasa, bagaimana kalau kita membuat janji, hm?" Jesper kembali tersenyum saat ia menatap Haowen yang juga menatapnya dalam keterdiaman. Ia bahkan beringsut untuk semakin merapat pada Haowen hingga wajah si sulung Oh itu merah padam.

"Janji apa?"

"Kalau sudah besar nanti, Hewie harus menikah dengan Jes, janji?" Jesper mengangkat jari kelingkingnya pada Haowen, Haowen meneguk ludahnya kasar, Jackson menatap adik kembarnya dengan tatapan kesal, dan Ziyu menatap semua orang dengan mata berkaca-kaca karena tidak paham dengan situasi yang ada.

"Iya, aku janji." Lalu senyum di bibir si kecil Haowen mulai terbentuk. Lantas ia menautkan jari kelingkingnya pada milik Jesper hingga mereka resmi telah membuat sebuah kesepakatan untuk masa depan.

"Jes sayang Hewie." Jesper dan segala kepolosannya yang membunuh Haowen secara perlahan kemudian mengecup pipi Haowen ringan; kecupan yang sama yang sering ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Daddy nya mengatakan bahwa itu adalah sebagai tanda kasih sayang, jadi ia mengaplikasikannya pada Haowen.

Joonmyeon yang mendengar semua obrolan polos anak-anak disana mengusap wajahnya penuh drama. Anak-anak begitu cepat dewasa akibat perubahan zaman. Terlepas dari itu, mereka terlihat sangat manis.

Dan tanpa semua orang sadari, Baekhyun berdiri di ambang pintu dengan telapak tangan yang menutupi mulutnya, penuh dengan drama seperti Joonmyeon. Ia mematung disana untuk beberapa saat ketika melihat si bungsu melayangkan kecupan di pipi Haowen.

Matanya berkedip cepat dan kakinya mulai melangkah kembali ke arah Chanyeol yang masih berjalan ke arahnya. Kedua telapak tangannya menahan dada Chanyeol untuk melangkah lebih jauh dengan tatapan sepolos anak anjing.

"Yeollo, kita kembali saja. Sepertinya mereka sedang menikmati waktu bermain." Lalu tangannya mengait tangan Chanyeol dan mengajaknya untuk pergi. Meski begitu, Chanyeol tahu ada yang Baekhyun sembunyikan. Submisif kesayangannya itu tak akan pernah bisa berbohong darinya.

"Apa yang kau sembunyikan, baby?" Jadi ia bertanya dengan tatapan yang setajam mata Katana. Namun Baekhyun tak gentar dengan senyum lebar di wajahnya hingga deretan gigi putihnya terlihat berderet rapi disana.

"Mereka hanya sedang bermain, Chanlie. Jangan ganggu mereka." Baekhyun sebenarnya tidak memiliki maksud untuk berbohong. Hanya saja ia tahu bahwa Chanyeol tidak menyukai kedekatan Jesper dan Haowen atau anak manapun dalam hubungan yang tanda kutip karena instingnya sebagai seorang ayah yang merasa anak gadisnya terancam. Dan fakta mengatakan bahwa Chanyeol menganggap Jesper adalah seorang anak gadis hanya karena si kecil itu menyandang status sebagai carrier.

"Baekhyun.." suara Chanyeol mendayu dengan nada rendah yang mendominasi, memberikan peringatan pada Baekhyun tentang sifatnya yang tak suka di bohongi.

Beruntung saat itu Chutian dan Dennis berjalan menuju ke arah mereka dengan tangan Chutian yang menggenggam tangan Dennis seperti seorang kakak yang baik.

"Halo uncle Park!" Chutian melepaskan pegangannya pada si kecil Zhang lalu berlari kecil untuk memeluk kaki jenjang Chanyeol; kebiasaan.

"Halo juga aunty cantik Baekhyun!" Lalu beralih pada Baekhyun dan juga memeluk kaki Baekhyun dengan kikikan lucu dari bibirnya.

"Aunty?" Baekhyun menatap Chutian tidak percaya. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan air muka terkejut. Sementara Chanyeol terkekeh kecil di sampingnya, sudah terlampau terbiasa dengan sifat putri semata wayang Joonmyeon dan Kris itu.

"Mm! Aunty! Karena kau sangat sangat sangat cantik. Bolehkan Tian Tian dapatkan satu kecupan dari aunty Baek?" Chutian melepaskan pelukannya, mendongak pada Baekhyun dengan tatapan anak anjing serta kedua tangan yang bertaut didepan dada dengan raut penuh harap.

Baekhyun tersenyum gemas, lalu membungkuk untuk memberikan 1 kecupan di masing-masing pipi Chutian hingga anak itu memekik girang.

"Tian Tian juga cantik." Baekhyun mengusap kepala anak perempuan itu dan membuat Chutian merona atas pujiannya. "Dennis, kemarilah. Kau tak mau dapat kecupan dari paman juga, hm?" Baekhyun beralih pada Dennis yang masih tetap berdiri dalam diam di belakang Chutian.

Lalu dengan langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan, Dennis mendekat dan mendapatkan 2 kecupan yang sama seperti Chutian.

"Terimakasih, paman Baekhyun." Dennis berkata malu-malu. Dan Baekhyun tersenyum untuk itu hingga saat Chutian berpamitan untuk segera kembali ke paviliunnya.

"Aku lupa menanyakan kenapa mereka berdua tidak bergabung bersama Jackson dan Jesper." Baekhyun bergumam saat punggung Chutian dan Dennis telah menjauh dari pandangannya.

"Ayo, baby. Aku ingin melahapmu." Chanyeol menarik pinggang Baekhyun untuk kembali berjalan dan Baekhyun mengikutinya dengan wajah semerah tomat saat Chanyeol mengatakan kalimat dengan makna tersembunyi menggunakan nada sensual yang sangat seksi.

Mereka kembali ke kamar mereka, dan Chanyeol langsung mendorong tubuh kecil Baekhyun ke atas ranjang hingga terlentang tanpa perlawanan.

.

.

.

WARNING!

18+ SCENES

.

.

.

Seringaiannya terlihat makin seksi dari hari ke hari, dan mewakilkan sifat brengsek yang melekat padanya. Ia membuka kemejanya hingga tubuhnya top less, merangkak diatas tubuh Baekhyun dan menindihnya disertai tatapan tajam yang menelanjangi.

"Merindukanku, sweety?" Tanya Chanyeol dengan belaian tangannya di wajah cantik Baekhyun yang masih terlihat seperti remaja belasan tahun. Baekhyun terlihat sama sekali tak menua sejak dulu.

Baekhyun mengulum senyumnya dengan mimik wajah bak anak-anak sambil bergumam pelan untuk membenarkan pertanyaan Chanyeol. Jari jemarinya hinggap di dada telanjang Chanyeol, berlarian disana dengan nakal hingga Chanyeol terkekeh ketika melihat raut wajah Baekhyun.

Sungguh, tak ada yang dapat menyaingi kepolosan Baekhyun di dunia ini. Remaja yang dulu selalu bersikap sok dewasa yang juga kekanakkan itu masihlah sama dengan pria dewasa yang berada dalam kungkungannya saat ini.

Chanyeol tersenyum dengan cara yang begitu tampan, bibir tebalnya lantas cepat-cepat menempel di bibir Baekhyun, membawa bibir tipis pasangannya pada pagutan dalam yang erotis hingga suara kecipak bibir mereka terdengar menggema didalam ruangan sepi itu. Remangnya cahaya lampu tidur juga menambah kesan erotis disana sebagai pelengkap suasana.

Chanyeol menggesekkan hidung mancungnya dengan milik Baekhyun saat lumatan bibir mereka terlepas. Senyumnya semakin melebar saat melihat bibir merah Baekhyun yang begitu mengundang birahi. Baekhyun sangat menggoda dilihat dari atas; sudut pandang Chanyeol.

"Kunci dulu pintunya, Chanyeol."

"Tidak perlu, baby. Tak akan ada yang berani masuk ke kamarku."

Kontak mata diantara mereka tak terjadi dengan lama karena setelahnya Chanyeol menyesap leher Baekhyun hingga anak itu menunjukkan ekspresi nikmat yang luar biasa dengan mata terpejam serta mulut yang terbuka menahan desahan yang mendesak di pangkal tenggorokan.

Chanyeol membuat beberapa bercak merah di leher Baekhyun sebelum membuat submisifnya itu melepas pakaiannya dengan cepat hingga ia bisa leluasa menciptakan bercak merah lainnya di sekitar dada Baekhyun.

"Ngahh.. Chanlie." Pada akhirnya Baekhyun mendesah ringan ketika ia merasakan puting tegangnya yang basah akibat lumatan sensual Chanyeol.

Chanyeol memberinya kenikmatan tanpa jeda, dan tubuhnya lemas karenanya. Tangannya sudah merambat ke kepala Chanyeol untuk meremas rambut abu Chanyeol yang seksi sekaligus memperdalam kuluman sang dominan pada putingnya.

Desahannya semakin terdengar erotis kala ciuman-ciuman Chanyeol mulai turun ke bawah perutnya, lebih turun ke pangkal paha hingga berakhir di penisnya.

"Anhh.. Chanyeollie.. geli." Ia sedikit merengek kala Chanyeol meniup-niup penisnya dengan usil.

Chanyeol mulai meremas dan mengecupi penis Baekhyun sebelum mengulumnya tanpa ampun hingga Baekhyun semakin menggila, menciptakan melodi indah yang sangat seksi dari tenggorokannya yang hanya tersedia untuk Chanyeol seorang.

Kuluman hangat itu terlepas saat Chanyeol merasakan kedutan di penis si kecil hingga anak itu merengek dengan bibir mencebik, Chanyeol tak membiarkannya klimaks dan malah melucuti pakaian yang tersisa di tubuh tingginya hingga ia telanjang bulat.

Alih-alih meneruskan kegiatannya, Chanyeol malah bersandar di kepala ranjang dan berhasil memancing geraman kesal dari Baekhyun; Chanyeol tengah mempermainkannya.

"Dapatkan kenikmatanmu sendiri, baby wolf." Chanyeol menyeringai saat melihat wajah kesal Baekhyun. Ia hanya ingin tahu seberapa besar keberanian Baekhyun untuk menyentuhnya, juga seberapa jauh kemampuan Baekhyun dalam urusan ranjang. Karena yang ia tahu, Baekhyun sangat pasif dan pemalu di ranjang.

"Aku tidak bisa, Chanlie."

Sudah ia duga akan seperti itu jawaban yang ia dapat, namun ia juga telah mempersiapkan jawaban lain untuk carrier cantiknya itu.

"Ikuti nalurimu, sayang. Pelan-pelan saja." Tangannya terulur pada Baekhyun dan Baekhyun menyambutnya dengan baik. Saat ia menarik si kecil mendekat, Baekhyun langsung duduk di atas pahanya dengan kaku disertai air muka yang sangat lucu seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar pada orang tuanya.

"Apa tidak apa-apa aku duduk disini?"

Chanyeol terkekeh, Baekhyun-nya terlalu lugu, tapi ia suka itu. "Kau bahkan sering duduk di pangkuanku, baby. Itu tidak masalah." Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun, memberinya kode untuk melakukan sebuah ciuman dan yang lebih muda memahaminya. Jadi ia langsung mencium Chanyeol dengan cara amatiran yang membuat Chanyeol gemas sendiri. Tapi disisi lain ia sangat senang dengan keluguan Baekhyun karena itu artinya Baekhyun tak pernah di sentuh orang lain. Hanya ia satu-satunya.

Baekhyun berusaha belajar dari gaya berciuman Chanyeol dan mengaplikasilannya secara amatiran dengan melumat bibir tebal Chanyeol yang sangat kenyal dan enak untuk dikulum sampai memasukkan lidahnya pada rongga mulut Chanyeol.

Chanyeol juga benar-benar telah memilih untuk menjadi pasif hingga pria itu diam dan menerima semua perlakuan amatiran Baekhyun pada tubuhnya.

Tautan bibir mereka akhirnya terlepas setelah Baekhyun puas mengulum bibir bawahnya hingga itu terlihat bengkak dan merah merekah dengan liur yang terlihat mengkilap disana. Ia dengan berani mencium sepasang kelopak mata Chanyeol dengan lembut, turun ke pipi dan berakhir di rahang tajamnya.

Baekhyun memberikan beberapa gigitan dan hisapan di rahang Chanyeol hingga meninggalkan bekas merah disana, ada beberapa di rahang dan banyak di leher. Ia sangat senang saat harus menciumi jakun Chanyeol yang naik turun dengan seksi. Jakun Chanyeol adalah favoritnya sampai-sampai ia terkekeh-kekeh saat memainkannya.

"Baby.." Chanyeol menegur karena Baekhyun terlalu lama bermain-main sementara nafsunya sudah berada di ubun-ubun. Belum lagi penisnya yang terus bergesekan dengan pantat Baekhyun saat si kecil terus bergerak.

"Kau sangat tampan, Chanyeollie. Suki da." Amber Baekhyun menatap violet Chanyeol cukup lama, mengecup bibir seksi sang dominan dan memeluk lehernya dengan erat seperti seekor koala.

"Daisuki," Balas Chanyeol bersama tangan berototnya yang memeluk pinggang ramping Baekhyun, "kapan kau akan melanjutkan ke acara inti, Baekhyun sayang?"

Baekhyun tersadar, lalu terkekeh dengan senang sebelum kembali menciumi dada Chanyeol yang bertato, tak lupa juga mengulum puting coklat yang sangat jantan itu dengan perasaan gemas. Geraman-geraman seksi Chanyeol adalah hal selanjutnya yang sangat ia suka karena itu terdengar erotis dan memabukkan.

Jika dada Chanyeol sedikit besar karena otot dadanya yang bidang, maka lain halnya dengan dada Baekhyun yang terlihat sedikit membesar dan lembek, seperti perempuan. Baekhyun menyalahkan Chanyeol untuk itu karena Chanyeol sering meremasnya tanpa ampun.

"Kenapa berhenti, baby?" Chanyeol bertanya ketika Baekhyun berhenti untuk memberikan tanda kepemilikan di tubuhnya dan justru beralih menatapnya dengan serius.

"Ayo kita langsung ke intinya, Chanyeollie. Aku tidak tahan lagi." Dengan penuh kesengajaan, Baekhyun menggigit bibirnya sensual bersama pantatnya yang bergoyang untuk sekedar menggoda dominannya.

"Rrhhh.. Bee, kau mempermainkanku." Chanyeol menggeram kesal saat merasakan nikmat di kulit penisnya akibat gesekan dari pantat Baekhyun.

Setelah puas melihat wajah tersiksa Chanyeol yang sangat tampan, Baekhyun akhirnya berhenti mengerjai Chanyeol dan menggenggam penis besar Chanyeol dalam genggaman tangan kecilnya. Ia melihat penis yang telah sepenuhnya menegang itu sekali lagi dan meringis membayangkan rasa perih yang akan mendera lubang pantatnya. Perlahan, ia mengangkat pantatnya seraya memegangi penis Chanyeol yang telah mengeras lalu mengarahkannya tepat ke lubang pantatnya hingga perlahan ia menurunkan bokongnya dan kepala penis Chanyeol masuk kedalam lubangnya.

"Anghh.. Chan.. Chanyeolh." Baekhyun meringis saat merasakan perih di lubangnya.

Lalu Chanyeol yang sangat kejam menghentakkan pinggulnya dari bawah hingga penisnya masuk seutuhnya kedalam lubang anal Baekhyun dan menciptakan kenikmatan tersendiri untuknya. Remasan-remasan itu selalu menjadi candu baginya. Bagaimana lubang Baekhyun yang tetap sempit setelah persetubuhan mereka, itu sangat luar biasa.

"Sempit sekali, babe. Hhh.." Chanyeol mendengus akibat jepitan anal Baekhyun sementara Baekhyun nyaris menangis karena rasa perihnya. Berapa kalipun ia bersetubuh dengan Chanyeol, akan selalu terasa perih di awalnya. Meski begitu, selalu terdapat kenikmatan setelah penyatuan mereka.

Baekhyun mulai menaik turunkan tubuhnya di atas Chanyeol saat melihat wajah tersiksa Chanyeol yang menahan nikmat akibat remasan bokongnya. Tangan Chanyeol naik ke atas tubuhnya dan meremas dadanya dengan gemas saat gerakannya tak terlalu cepat. Ia masih kaku dan tak terbiasa juga tak bisa bergerak cepat seperti yang seharusnya.

"Ngh.. Chanyeol.."

Dulu Chanyeol sangat benci mendengar desahan jalang saat ia sedang menyetubuhinya. Apalagi jika jalang itu mendesahkan namanya. Tapi saat Baekhyun yang melakukannya, semuanya sangatlah berbeda. Desahan Baekhyun bagaikan musik romantis yang mengalun lembut menemani pergumulan mereka. Dan desahan Baekhyun saat memanggil namanya terdengar sangat seksi juga menyenangkan di telinganya.

"Ahhh.. Chan-yeolh." Wajah Baekhyun mendongak ke atas hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas saat ia mengerang dan mendesahkan nama suaminya. Matanya terpejam saat merasakan gesekan antara dinding lubang anusnya dengan kulit penis Chanyeol yang keras. Apalagi ketika ujung tumpul penis Chanyeol menyentuh prostatnya didalam sana; terasa sangat memabukkan dan membuatnya ketagihan sehingga ia terus memompa penis Chanyeol semakin cepat dan cepat lagi.

"Baekhh.. ngh, kau sangat cantik sayang, eghh." Mata Chanyeol yang sayu tetap terbuka hanya demi menatap wajah merah Baekhyun dan menyaksikan bagaimana carriernya itu mendesah nikmat karena tumbukan penisnya.

"Yeolhh! Ahh!" Baekhyun mencapai klimaksnya, sperma Baekhyun keluar membasahi perut dan dada Chanyeol juga perutnya. Namun tidak dengan Chanyeol yang masih berdiri tegak dengan kedutan didalam lubang Baekhyun. Jadi Chanyeol menyudahi posisi uke on top yang sedang mereka lakukan, mencabut penisnya dari anal Baekhyun dan memosisikan tubuh Baekhyun untuk menungging hingga ia dapat memasukkan kembali penis tegangnya.

"Nghh, Chanlie." Baekhyun mendesah dengan suara yang layu karena lemas pasca pelepasannya. Namun Chanyeol tak menghiraukannya dan berlanjut untuk memompa penisnya sambil memeluk pinggang Baekhyun untuk menahannya agar tetap menungging.

Nafas Chanyeol semakin memberat dari waktu ke waktu. Dia mendesah tanpa suara dan semakin mempercepat tempo tusukannya saat ia mendekati klimaks.

"Baekhyun!" Chanyeol mengerang keras memanggil nama Baekhyun saat mencapai pelepasannya, dan Baekhyun jatuh di atas tempat tidur dengan nafas terengah. Sementara Chanyeol membaringkan dirinya di samping Baekhyun hingga mereka saling berhadapan.

"Jangan menatapku seperti itu!" Baekhyun merengek sambil tertawa kecil kala melihat tatapan intens Chanyeol. Jadi ia mencubit perut Chanyeol gemas hingga empunya meringis main-main dan langsung memeluk Baekhyun dengan erat seolah Baekhyun akan pergi jika ia tak memeluknya.

Chanyeol menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka sebelum ia kembali mengecupi wajah penuh peluh Baekhyun. Ia selalu memuji bagaimana Baekhyun yang selalu terlihat cantik dan bertambah cantik dari waktu ke waktu. Membuat hatinya tak bisa berpaling dan selalu jatuh lebih dalam lagi pada si kecil, orang yang sama yang telah memberinya keturunan-keturunan yang hebat dan luar biasa.

"Baby.. aku sangat mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu." Chanyeol mendekapnya semakin erat dalam rasa gemas. Dan Baekhyun merasa ada sesuatu yang salah dengan Chanyeol. Chanyeol bukan tipe orang yang terang-terangan seperti itu, jadi sangat aneh rasanya mendengar Chanyeol mengatakan itu seperti anak remaja yang tengah di mabuk cinta. "Kenapa tidak membalasnya, baby wolf?" Chanyeol mengendurkan pelukannya, lantas menatap Baekhyun serius hingga Baekhyun salah tingkah dibuatnya.

"Aku juga mencintaimu." Disertai kekehan canggung yang terlihat kentara. Apa Chanyeol kembali aneh karena aku hamil lagi? Dulu juga Chanyeol bisa dikatakan sedikit keluar dari garis warasnya saat ia mengandung si kembar.

"Jangan pergi lagi, hm?" Chanyeol mempertemukan kening dan ujung hidung mereka berdua hingga mereka berada dalam jarak yang teramat dekat. Dua pasang manik berbeda warna itu lantas saling menatap dengan pancaran yang sama; penuh kasih sayang dan cinta hingga menciptakan pelangi imajiner diantara tatapan violet dan amber itu.

"Aku tidak akan kemana-mana jika kau tak membuat ulah." Baekhyun menatap Chanyeol dengan bibir sedikit mengerucut. Tangannya melingkar di pinggang Chanyeol dan bergerak untuk mengelus-elus punggung telanjang sang dominan dengan gerakan lembut yang menenangkan.

"Kau sedang menyindirku atau bagaimana?" Chanyeol memicingkan matanya, berpura-pura menatap tajam pada Baekhyun. Namun Baekhyun tahu tatapan yang dingin dan tajam itu tidaklah benar-benar nyata, jadi ia hanya terkekeh dan mencuri sebuah kecupan kilat di bibir tebal dominannya.

"Ya, aku sedang mengingatkanmu bahwa kau lah sumber masalahnya." Ucapannya berbanding terbalik dengan mimik wajahnya yang justru tersenyum lebar dengan cantiknya.

Chanyeol tak menjawab, ia hanya diam tak bergeming sambil menatapi wajah cantik Baekhyun yang selalu membuat jantungnya berdebar keras. Hatinya menghangat seolah ada selimut berbulu yang baru saja memeluk hatinya saat melihat senyuman Baekhyun yang begitu tulus dan tanpa beban.

Sekali lagi ia tak menyangka bahwa Tuhan akan berbaik hati dengan menghadirkan sesosok malaikat tanpa sayap di kehidupannya yang gelap. Ia tak menyangka bahwa ia masih bisa merasakan kebahagiaan dan cinta, juga mendapatkan cinta yang sangat besar dan tulus dari Baekhyun terlepas dari ketidaksempurnaannya sebagai seorang laki-laki.

Ia tak bisa memberikan hidup yang tentram untuk Baekhyun dan anak-anak mereka. Ia tak bisa memberikan kehidupan yang sesuai dengan keinginan anak-anaknya di masa depan. Tapi Baekhyun tetap mencintainya sama besarnya. Betapa beruntungnya ia memiliki seseorang seperti Byun Baekhyun yang mencintainya.

"Ayo kita membersihkan diri, baby." Chanyeol melepaskan pelukannya, lalu menarik Baekhyun untuk turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Tak ada apapun yang terjadi selain mereka yang berdiri di bawah shower dan membiarkan bekas-bekas sperma serta peluh masing-masing hanyut terbawa air.

Mereka menyelesaikannya dengan cepat dan kembali naik ke atas ranjang dengan masih menggunakan bathrobe.

Baekhyun duduk bersandar pada kepala ranjang dengan tangan yang bermain ponsel sementara Chanyeol berbaring dengan paha Baekhyun sebagai bantalannya.

"Apa yang kau lihat, baby?" Chanyeol yang merasa di abaikan lantas menarik tangan Baekhyun yang memegang ponsel hingga ia bisa melihat layar ponsel Baekhyun yang menampilkan ruang obrolannya dengan Yuta.

Ia mengamati dengan lamat-lamat percakapan yang di dominasi oleh foto yang di kirimkan oleh Yuta itu. Percakapannya hanya tentang Yuta yang menanyakan tentang bagaimana pendapat Baekhyun soal wanita yang berada di foto bersamanya dan Baekhyun mengatakan wanita itu cantik tapi tak secantik dirinya dengan emotikon tertawa terguling-guling sampai mengeluarkan air mata serta emotikon v hand sign.

"Itu pacar Yuta di kampusnya. Mereka satu fakultas dan dia adik tingkatnya." Baekhyun terkekeh geli saat mengingat kembali isi percakapannya dengan Yuta yang dipenuhi canda. Yuta sedang mengambil S2 nya, omong-omong.

Baekhyun membiarkan Chanyeol melihat-lihat isi ponselnya seperti seorang kekasih yang pencemburu sementara ia mengelus-elus rambut Chanyeol yang perlahan mulai mengering.

"Katakan padanya untuk segera menikah." Chanyeol bergumam tak peduli dengan mata yang masih fokus melihat isi ponsel Baekhyun yang dominan berisi aplikasi permainan dan foto-foto si kembar di berbagai momen.

Kekehan Baekhyun terdengar manis setelah mendengar ucapan Chanyeol tentang Yuta, "dia ingin lulus dulu dari S2 dan mencari pekerjaan sebelum menikah."

"Kalau begitu ia akan semakin tua sebelum menikah." Chanyeol mematikan ponsel Baekhyun dan melemparnya agak jauh masih di atas ranjang agar Baekhyun tak memainkan ponselnya lagi. Ia tak suka di abaikan bahkan hanya karena ponsel sekalipun.

"Terkadang memang lucu jika mengingat bahwa aku telah memiliki 2 orang putra berusia 8 tahun sementara Yuta sama sekali belum menikah. Dan bahkan sekarang aku hendak memiliki anak ketiga." Baekhyun tertawa kecil, masih dengan mengelusi rambut Chanyeol dan menyisirnya pelan menggunakan jari-jari lentiknya.

"Kau menyesal?" Tanya Chanyeol yang menatap Baekhyun dari bawah.

"Kau selalu menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya." Baekhyun yang kesal pun akhirnya menjawil hidung Chanyeol dengan gemas seraya mengecupi wajah tampan Chanyeol dengan kecupan bertubi-tubi.

"Karena aku selalu suka jawabanmu." Chanyeol tersenyum miring dengan cara yang teramat tampan, memeluk pinggang Baekhyun dengan satu tangannya dan mengusakkan hidungnya di perut Baekhyun yang masih rata yang beberapa bulan lagi akan terlihat semakin membesar.

Saat pintu kamar mereka terbuka, keduanya langsung menoleh ke arah yang sama dan mendapati si kembar yang masuk kedalam kamar dengan langkah-langkah kecil mereka.

Padahal tadi Chanyeol mengatakan tak akan ada yang berani masuk ke kamar mereka. Dia melupakan fakta bahwa ada orang yang tidak akan segan masuk ke kamar mereka; si kembar, tentu saja.

"Daddy! Peluk!" Jackson dan Jesper naik ke atas ranjang besar itu dan langsung memeluk tubuh besar ayahnya yang telah bangkit dari posisi berbaringnya di paha Baekhyun.

"Daddy! Jes main cinta-cintaan dengan Haowen!" Lalu tiba-tiba Jackson memekik dan menuding Jesper tepat didepan hidungnya.

Maupun Jesper ataupun kedua orang tua mereka sama-sama terkejut. Jesper terkejut karena ternyata Jackson mangadu pada daddy mereka, Chanyeol sendiri terkejut karena putra kecilnya telah bermain di belakangnya bersama si sulung Oh itu. Dan Baekhyun terkejut karena Jackson ternyata tak bisa menjaga rahasia, padahal dia sengaja tidak mengatakan pada Chanyeol tentang apa yang ia lihat tadi.

Chanyeol menatap Jesper tajam dengan kilatan berbahaya di matanya. Lantas Jesper beringsut menjauh dari sang ayah untuk mencari perlindungan di pelukan papanya.

Jackson sendiri tak merasa bersalah dan tetap memeluk daddy nya sambil menjulurkan lidah untuk mengejek Jesper.

"Jes, apa yang papa katakan tentang cinta-cintaan, hm?" Baekhyun memeluk Jesper saat si bungsu itu datang padanya.

"Jes tidak cinta-cintaan, papa. Jes hanya suka Hewie. Jes bilang kalau sudah besar nanti Hewie harus menikah dengan Jes. Jes tidak pacaran dengan Hewie karena papa bilang anak kecil tidak boleh pacaran." Si kecil merengek dengan mata berkaca-kaca di pelukan sang papa; berusaha untuk meraih pembelaan papanya.

"Dia berbohong, pa! Masa tadi dia bilang 'Haowenie sangat tampan seperti paman Oh'" Jackson meniru ucapan Jesper tadi dengan wajah culasnya yang menjengkelkan hingga Jesper mencebik dan mendelik pada sang kakak.

"Jake hyung juga tadi bilang Ziyu cantik!" Lalu Jesper membalas Jackson dengan juluran lidahnya hingga Jackson mendelik dan mengerucutkan bibirnya.

"Hey.. hey.. tidak apa-apa. Daddy tidak marah pada Jes dan Jake. Bukan begitu, daddy?" Baekhyun mengelus surai lembut putranya lalu menatap Chanyeol dengan senyum aneh yang menyeramkan, bibirnya tersenyum namun matanya mendelik seolah berkata; katakan ya atau tidak ada permainan ranjang selama aku hamil.

Chanyeol mendengus, ia Phoenix, dan Phoenix tak pernah merasa terancam. Tapi ia tak mungkin mengecewakan submisifnya, jadi ia hanya tersenyum kecil pada si bungsu, "daddy tidak marah."

"Yeay! Daddy yang terbaik!" Jesper melepas pelukannya dari sang papa lalu kembali memeluk Chanyeol dengan gemas. Lantas kembali menjulurkan lidahnya pada Jackson karena ia merasa menang.

"Kenapa banyak bercak merah di leher papa dan daddy?" Jackson mengubah topik pembicaraan saat matanya tak sengaja mendapati banyak bercak merah di leher kedua orang tuanya. Jackson hanya tak sadar bahwa pertanyaan lugunya membuat Baekhyun gelagapan. Sementara Chanyeol entah kenapa selalu terlihat biasa saja seolah meracuni otak anak-anak yang masih polos bukanlah suatu dosa besar.

"Itu bekas gigitan nyamuk, baby." Baekhyun menjawab dengan senyuman kikuk. Untungnya, Jackson mudah di bohongi. Lagipula bercak-bercak merah itu memang terlihat seperti bekas gigitan nyamuk baginya.

"Nyamuknya jahat sekali menggigiti papa dan daddy sebanyak itu." Jesper berkomentar dengan bibir mengerucut.

Baekhyun seharusnya tahu bahwa membohongi anak-anak dengan hal semacam itu dapat menjadi bumerang tersendiri baginya.

Dan itu benar-benar terjadi pada keesokan harinya disaat ia menikmati sarapannya di konter dapur. Chanyeol telah berangkat untuk bekerja 30 menit yang lalu dan kini ia berada di konter dapur bersama si kembar juga Joonmyeon, Minseok dan Kyungsoo yang kebetulan juga ada disana.

"Kenapa lehermu merah-merah, Baek?" Tanya Minseok sambil menunjuk-nunjuk Baekhyun dengan sendok serealnya.

"Katanya di gigit nyamuk, paman." Jesper mewakili dengan penuh ambisi. Dan Joonmyeon bersama Kyungsoo terbahak mendengar penuturan polos si kecil.

"Wah.. nyamuknya besar-besar sekali ya." Joonmyeon berkomentar dengan sisa-sisa tawanya dan dikompori lagi oleh Kyungsoo dengan berkata; "besar dan agresif."

Sementara itu wajah Baekhyun merah padam sampai ke telinga sementara Minseok terkekeh setelah menyadari bahwa ia salah bertanya.

"Iya, nyamuknya jahat menggigiti papa dan daddy." Jackson menambahkan setelah ia menghabiskan serealnya.

"Daddy-mu juga merah-merah?" Kyungsoo pura-pura kaget.

Anggukan semangat Jackson adalah yang ia terima selanjutnya, "iya! Leher daddy juga merah-merah seperti papa."

"Wah.. nyamuknya benar-benar agresif sekali." Lagi-lagi Joonmyeon berkata dengan mata yang melirik Baekhyun sesekali dan lelaki itu terlihat luar biasa kesal juga salah tingkah.

"Hyung.. hentikan." Ia menyerah dan menunjukkan wajah memelasnya pada mereka bertiga hingga mengundang tawa ketiganya.

"Tak perlu semalu itu, darling. Semuanya juga tahu betapa nikmatnya surga dunia itu." Minseok tertawa kecil karena ucapannya sendiri. Lantas turun dari kursi tinggi didepan konter untuk meletakkan mangkuk bekasnya di wastafel.

"Kalian menggodaku." Baekhyun merengut kesal.

"Surga dunia itu yang seperti apa, paman?"

"Kalian akan tahu jika sudah besar nanti."

"Hyung! Hentikan pembicaraan gila ini!"

Dan tiga orang dewasa disana kembali tertawa.

e)(o

"FIGHT!"

Setelah suara Minseok terdengar lantang, Jackson dan Haowen langsung memasang kuda-kuda dengan tangan mengepal didepan tubuh. Mata mereka bertautan dengan dalam, saling menatap tajam satu sama lain seolah ada percikan api dari tatapan keduanya.

Haowen memberikan umpan kecil dengan gebrakan kakinya dan Jackson membalasnya dengan ayunan kaki yang sempurna. Jackson melakukan double step lalu melayangkan pukulan ke arah ulu hati Haowen, namun Haowen menangkisnya dengan cepat. Tak mau kalah, Jackson kembali menyerang dengan gerakan tusukan tangan ke perut Haowen disusul gerakan pisau kaki pada lutut si sulung Oh itu hingga dia sedikit meringis dan nyaris terjatuh.

Jackson kembali memberikan jarak diantara mereka dan membuat Haowen memiliki kesempatan untuk memberikan serangan-serangan kuat yang nyatanya dapat dibalas oleh Jackson sama kuatnya.

Haowen melakukan step dengan cepat, memukul dada Jackson dengan kepalan tangan, memukul perutnya dengan lutut hingga ia dapat membanting tubuh Jackson hingga terlentang diatas di rumput.

Jiwa dominan Jackson tak mengijinkannya untuk kalah begitu saja, jadi ia bangkit dengan membanting kedua kakinya hingga ia dapat berdiri tegak seperti sediakala.

Jackson mendengus, lalu meludah ke sebelah kirinya dengan gaya bak seorang profesional. Ia melakukan beberapa serangan pada Haowen tanpa jeda yang cukup hingga Haowen merasa kewalahan dengan pertahanan yang semakin melemah hingga sampai pada giliran dimana Jackson dapat menendang kaki kanan Haowen hingga Haowen tak seimbang dan langsung jatuh oleh tarikan tangan Jackson di bahunya.

"Cukup. Kalian bisa beristirahat." Minseok bersuara kembali saat melihat Haowen hendak menarik tangan Jackson dari posisi terlentangnya.

Di pinggiran lapangan kecil itu Baekhyun berdiri dengan Chanyeol di sebelahnya, diam memerhatikan pertarungan Jackson dan Haowen. Jackson semakin baik dalam bertarung dan Baekhyun merasa seolah ia melihat dirinya sendiri di usia Jackson dulu. Ia yang begitu ditempa dan dituntut untuk menjadi multitalenta.

Lalu saat si kecil yang penuh peluh itu berlarian ke arahnya, Baekhyun tersenyum kecil. Menyambut putra sulungnya dengan uluran handuk kecil di tangannya.

"Thanks, papa!" Jackson tersenyum layaknya pria dewasa pada papanya hingga Baekhyun terkekeh geli. Jackson-nya sangat menggemaskan saat bertingkah sok dewasa.

"Pergi ke gym dan kalahkan rekormu yang terakhir, jagoan." Chanyeol menepuk bahu Jackson yang lebih tinggi beberapa cm dari sebelumnya, lalu menunjukkan kepalan tangannya pada Jackson hingga Jackson menyambut kepalan tangan besar ayahnya dengan kepalan tangan mungilnya.

"Okay, dad." Jawabnya tanpa ragu, lantas ia beralih pada Baekhyun dan perutnya yang mulai semakin terlihat membesar di bulan kelimanya mengandung. "Hyung pergi dulu ya, adik bayi." Si kecil berusia delapan tahun itu mengecup perut Baekhyun, tersenyum lebar pada papanya dan berlari kecil meninggalkan kedua orang tuanya untuk pergi ke gym dan mengalahkan rekor terakhirnya di atas papan treadmill.

Jackson sangat berharap bahwa adiknya adalah laki-laki, jadi dia sering memanggil dirinya sendiri hyung saat berbicara dengan adiknya yang masih diperut Baekhyun. Dan hari ini adalah hari penentuan dari segalanya. Ia akan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayinya karena bulan lalu dokter bilang jenis kelaminnya belum jelas. Hari ini masa depan anak ketiganya akan di tentukan; apakah ia akan menjadi pangeran atau hanya menjadi anak bungsu kesayangan keluarga Phoenix karena Baekhyun tak berniat untuk memiliki anak lagi setelah ini. Cukup si kembar dan anak yang ada dalam kandungannya saja.

"Mau berangkat sekarang, baby?" Tanya Chanyeol sambil merangkul bahu sempit Baekhyun hingga yang lebih muda mendongak padanya.

"Dimana Jesper?" Ia justru menanyakan hal lain.

"Dia di kolam berenang bersama JR."

Baekhyun bergumam samar sebagai respon pertamanya dan kembali menatap Chanyeol sambil berkata; "ayo berangkat sekarang" dengan senyuman manisnya yang selalu dapat membuat Chanyeol berdebar.

Chanyeol tak mengatakan apapun, hanya membawa Baekhyun untuk segera pergi ke tempat yang mereka tuju dengan 4 mobil pengawal seperti biasanya yang menjaga di depan dan di belakang.

"Apapun hasilnya, kita harus rela 'kan, Yeollo?" Baekhyun yang duduk di samping kursi kemudi menoleh pada Chanyeol yang tengah mengemudi, seraya mengusap perutnya yang mulai membesar. Ada secuil rasa cemas di hatinya. Ia tak tahu apakah ini benar atau tidak. Ia mungkin terkesan seperti orang tua yang jahat, tapi ia tak punya pilihan. Lagipula ia bukan mau menjerumuskan anaknya ke lubang buaya, ia hanya memberikan anaknya untuk di didik menjadi seseorang yang kelak akan memimpin sebuah negara. Itu bagus, bukan?

"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja." Chanyeol menoleh sekilas dengan senyum simpulnya yang tampan. Senyuman yang sama yang juga dapat menenangkan hati Baekhyun kala ia merasa resah.

Sampai saat ini statusnya sebagai seorang ibu yang akan memberikan putra mahkota untuk kekaisaran masihlah belum berubah. Naiji juga belum mengandung lagi sejak ia kehilangan bayinya 3 bulan lalu. Berita mengatakan bahwa Naiji terjatuh di kamar mandi dan mengalami keguguran, namun Baekhyun tahu dengan betul bahwa bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya. Semua itu hanyalah manipulasi kaisar, pria gila kekuasaan itu telah membuat Naiji keguguran. Itu sangat keji dan tak berperikemanusiaan.

Kisame yang menceritakan detail kejadiannya padanya dulu. Kisame ada di kubunya, tentu saja. Jadi Kisame selalu berbagi cerita mengenai betapa makin sintingnya kaisar dari hari ke hari.

Tak terbayang seberapa besar kesedihan yang dirasakan oleh Naiji akibat kehilangan anak pertamanya, Baekhyun bahkan tak sanggup membayangkannya. Dan ia sudah tak sabar untuk segera menyingkirkan paman gilanya itu. Segera, setelah ayahnya betul-betul pulih.

Kozan mengatakan bahwa ia telah memiliki bukti yang pernah ia janjikan dulu untuk menjerat Nakaito. Dan Kozan juga mengatakan bahwa ayahnya sudah bisa berjalan meski belum terlalu lancar. Itu adalah 1 bulan yang lalu. Dan mungkin sekarang keadaan ayahnya telah berubah menjadi lebih baik.

"Apakah pria itu kembali meneleponmu, Chanlie?" Baekhyun kembali menatap Chanyeol tanpa berkedip. Ia selalu menolak untuk mengucap nama Kozan dan menggantinya dengan kata 'pria itu' bak sebuah kode tersendiri. Rasa marahnya pada Kozan nyatanya tak akan mudah hilang, tentu saja. Meskipun Kozan memberinya banyak bantuan dalam rangka menggulingkan pamannya juga kontribusi dalam penyembuhan ayahnya, Baekhyun menganggap semua itu hanyalah sebagai penebusan dosa padanya.

"Tidak, baby."

Helaan nafas kecewa terdengar dari Baekhyun setelahnya. Ia begitu menantikan saat dimana pembalasan dendamnya tercapai. Pamannya harus mendapatkan balasan yang setimpal atas semua tindakannya selama ini.

"Apa kau benar-benar tidak apa-apa menggunakan batu painite itu?" Raut wajah Baekhyun terlihat begitu cemas. Namun saat melihat senyuman tulus Chanyeol, rasa cemas itu langsung menguap seperti uap kopi panas yang mengepul dan hilang di udara.

"Anything for you, babe."

Chanyeol telah mengatakan bahwa ia akan menjadikan batu painite seharga milyaran yang ia dapat dari perjanjiannya bersama Nakaito dulu untuk dijadikan bukti dari kejahatan pria itu karena di tubuh painite yang ia dapat, terdapat logo kekaisaran yang itu artinya batu itu adalah salah satu properti kekaisaran Jepang.

Mengingat bahwa Chanyeol sempat menghargakannya seharga batu painite itu membuatnya kesal. Tapi bagaimanapun itu hanyalah masa lalu yang tak boleh diungkit kembali atau akan menyebabkan keributan dalam rumah tangga mereka.

"Kau tidak apa-apa? Batu itu kan mahal, Chanyeol."

"Semahal apapun akan kuhancurkan ata kubakar jika kau yang minta." Chanyeol selalu menggodanya, membuatnya tersipu dengan ucapan-ucapan bak playboy kelas kakapnya, atau mungkin memang begitu. Chanyeol memang playboy sejak dulu. Untungnya ia tak mendengar kabar miring apapun setelah menikah dengan Chanyeol. Ia harap kehidupan rumah tangganya tak dihadiri oleh orang ketiga. Jika itu terjadi, maka lihatlah transformasinya nanti dari si elegan menjadi monster pembasmi jalang.

Wajah Baekhyun memerah, ia mengulum senyumannya seraya menunduk bahkan sepanjang perjalanan sampai akhirnya mobil berhenti di basement rumah sakit milik Phoenix dibawah nama Feon.

Mereka turun dari mobil, memasuki lift dengan selusin pengawal dan sampai di lantai 5 dimana dokter kandungan yang akan mereka temui bekerja. Choi Seungcheol namanya, salah satu anak buah Kai di divisi 5. Seungcheol dari Choi, Choi yang berbeda dengan Sooyoung tentu saja.

"Selamat datang, bos. Dan tuan muda." Seungcheol membungkuk penuh hormat pada atasannya dan pasangannya meski pada kenyataannya Chanyeol tak membalas sapaannya, setidaknya Baekhyun masih memberikan senyum hangat padanya.

"Bagaimana keadaan dengan kandunganmu, tuan muda?" Seungcheol memulai basa-basinya. Ia membuka tirai yang menjadi pembatas meja kerjanya dengan tempat pemeriksaan, lalu mempersilahkan Baekhyun untuk berbaring disana seperti terakhir kali dia melakukan pemeriksaan.

"Baik. Dia tak rewel minta ini dan itu. Jangan panggil aku tuan muda, Seungcheol. Panggil saja Baekhyun, hanya Baekhyun." Baekhyun berujar seraya naik ke atas ranjang pemeriksaan. Ada Chanyeol di sebelahnya yang selalu setia menemaninya disaat pemeriksaan. Chanyeol adalah suami terbaik yang sangat perhatian dibalik sikap dinginnya yang menjengkelkan.

Seungcheol tersenyum kikuk, sesekali melirik Chanyeol untuk melihat reaksi pria itu namun nyatanya Phoenix tetap diam dalam ketenangannya. Jadi Seungcheol hanya meringis canggung tanpa memberikan jawaban apapun atas perkataan Baekhyun.

Dia mengambil botol cairan untuk mengolesi perut Baekhyun sebelum melakukan proses USG, membuka penutupnya dan hendak menuangkan itu ke tangannya sebelum Chanyeol mengambil alih botol itu dari Seungcheol dengan air muka dingin yang sangat menusuk. Tentu saja Phoenix tak akan membiarkan orang lain menyentuh miliknya.

Baekhyun meringis ngilu saat melihat tatapan tajam Chanyeol yang seolah dapat melubangi kepala Seungcheol. Bajunya mulai terangkat saat Chanyeol menyingkapnya demi mengoleskan cairan itu dengan lembut ke perutnya hingga ia merasakan terpaan angin menyentuh kulit perutnya secara langsung.

Setelah selesai, Seungcheol mengambil alat USG nya dan mulai menempelkannya di perut Baekhyun hingga muncul siluet di layar yang bergerak-gerak pelan.

"Aw.. mungil sekali." Seungcheol jadi gemas sendiri.

"Apakah itu.. mm.."

"Ya, itu alat kelamin laki-laki. Selamat, janinmu laki-laki." Seungcheol berujar dengan penuh senyum. Begitupun Baekhyun dan Chanyeol terlepas dari fakta bahwa di usia 5 anaknya akan lebih banyak menghabiskan waktu di Jepang daripada bersama mereka. Itu menyakitkan, namun tak ada yang bisa dilakukan.

"Bisa kuminta foto janinnya?" Baekhyun bertanya setelah pemeriksaan selesai di lakukan. Seungcheol telah menjelaskan bahwa janinnya baik-baik saja dan tumbuh dengan baik. Posisinya dalam perut Baekhyun juga normal dengan tali ari-ari yang dalam posisi normal pula.

"Tentu." Seungcheol tersenyum lebar, lalu menyerahkan 2 lembar foto janin Baekhyun pada pemiliknya. "Sekali lagi selamat atas bayi laki-laki kalian." Dokter muda dengan wajah tampannya yang menarik perhatian itu lantas berdiri dan membungkuk beberapa kali saat Chanyeol dan Baekhyun memutuskan untuk pulang. Atasannya selalu terlihat seperti suami paling romantis di seluruh jagad raya saat bersama Baekhyun. Dia juga jadi ingin menjadi sosok seperti Chanyeol yang sangat menyayangi keluarga kecilnya meskipun kenyataan di lapangan mengatakan bahwa Chanyeol adalah sebuah mesin pembunuh kejam yang tak akan segan menghabisi siapapun yang mengusiknya.

"Aku harus segera menelepon Kisame-san, bukan?" Baekhyun hanya ingin memastikan bahwa ia tak terlalu terburu-buru dan terkesan terlalu bersemangat. Ia hanya ingin semuanya menjadi pasti untuk semua orang. Butuh mental yang sangat kuat untuk menjadi sosoknya yang sekarang, yang merelakan putranya jauh darinya di usia yang sangat belia.

"Lakukan apapun yang menurutmu benar." Chanyeol mengecup pelipis Baekhyun, dan merangkul tubuh berisi itu untuk semakin merapat padanya saat mereka melangkah memasuki lift bersama beberapa pengawal.

"Apa Kris masih belum kembali?" Chanyeol sedikit memutar kepalanya ke samping dengan bola mata yang bergulir sampai ke ujung hanya untuk bertanya pada Jaemin yang berdiri di belakangnya. Lusa, Kris pergi ke Vancouver untuk menggantikan kehadirannya di acara lelang ilegal di sebuah kapal pesiar milik salah satu 'rekan' bisnisnya di dunia gelap. Itu hanya formalitas sebenarnya, akan terkesan tidak sopan jika ia sama sekali tidak mengirimkan perwakilan untuk menghadiri acara pelelangan itu.

"Belum, bos. Dia mengabari Jaehyun pagi tadi bahwa dia akan mengambil penerbangan sore ini." Jaemin menjawab dengan lancar. Dulu saat ia pertama kali berhadapan langsung dengan Phoenix, ia sangat gugup dan gemetaran oleh dinginnya udara yang selalu mengitari Phoenix seolah malaikat kematian dan roh jahat selalu mengikutinya setiap saat.

Dan Baekhyun ingat bahwa bocah ini asalah salah satu dari belasan orang yang mendapatkan bogeman mentah sebagai pembukaan dari amarah Chanyeol akibat mereka yang lalai dan menyebabkan Wang bisa menculik Jackson dulu. Kemudian ia tahu bahwa yang selanjutnya terjadi adalah mereka semua mendapatkan masing-masing 5 cambukan dari ikat pinggang Chanyeol. Mengerikan, namun itulah konsekuensi dari sebuah kesalahan. Setidaknya Chanyeol tak cukup kejam dengan memotong satu ruas jari kelingking mereka seperti yang dilakukan oleh yakuza.

8 tahun lalu juga ia mendengar kabar bahwa Luhan, Kyungsoo, Sehun, Kai serta Jongdae mendapatkan 3 cambukan masing-masing di punggung mereka akibat melanggar perintah Phoenix dan malah berakhir dengan Kyungsoo yang babak belur serta Sehun yang hampir tewas di tangan Wang. Chanyeol tak pernah main-main dalam kepemimpinannya. Pria itu begitu tegas dan tak pandang bulu. Siapapun yang melanggar, maka dia akan mendapatkan hukuman yang sepantasnya.

"Yeollo, biasakah nanti kau memanggil pria itu? Aku ingin berbicara pada otou-sama." Baekhyun menoleh pada Chanyeol, mendongakkan wajahnya dengan ekspresi polos serta tatapan mata sipitnya yang jernih hingga Chanyeol tak bisa menolaknya dan mencubit pipi gembil yang lebih muda dengan perasaan gemas luar biasa.

"Apapun untukmu." Jawab Chanyeol cepat tanpa pikir panjang. Tak perlu berpikir berulang kali hanya untuk memenuhi keinginan kekasih hatinya. Apapun akan ia berikan.

"Aku ingin seluruh pulau Hawaii." Baekhyun terkikik atas permintaan anehnya. Dia hanya bergurau, namun Chanyeol terlalu serius menanggapinya.

"Akan kuberikan untukmu."

"Bercanda, Chanlie." Lantas ia sedikit berjinjit dan mengecup pipi suaminya, bersamaan dengan lift yang berhenti di basement dan mereka keluar dari sana untuk beralih memasuki mobil.

Baekhyun sangat ingin bersandar di bahu kokoh Chanyeol jika saja Chanyeol tak sedang dalam keadaan menyetir. Ia mengantuk. Tetapi kemudian ia teringat bahwa ia harus melalukan panggilan pada Kisame.

"Chanyeol.. aku mencintaimu." Baekhyun tiba-tiba mengatakannya. Ia hanya ingin mengatakannya, itu saja. Sejak hamil, emosinya naik turun seperti menaiki bukit dan menuruni lembah. Ia bisa tiba-tiba marah, manja, atau bahkan berbicara tak masuk akal seperti sekarang ini. Perasaannya sangat membuncah entah bagaimana. Sangat sulit menjelaskannya.

Chanyeol tersenyum miring dalam diamnya, matanya tetap fokus pada jalanan dengan tangan kanannya yang mengelus rambut Baekhyun bak anak-anak, "aku juga mencintaimu, baby wolf."

Dan Baekhyun menggeliat seperti anak anjing kala Chanyeol mengusap rambutnya. Setiap sentuhan Chanyeol selalu membuatnya hangat dan membuat hormonnya naik, sekecil apapun sentuhan itu. Telapak tangan besar Chanyeol bahkan juga hampir menutupi tempurung kepalanya.

Baekhyun terkekeh-kekeh manis, lantas mengambil ponsel Chanyeol di dashboard untuk menghubungi Kisame, ponselnya sendiri ia tinggalkan di rumah. Lagipula ia tak terlalu membutuhkan itu sepertinya, karena setiap panggilan penting ia selalu menggunakan ponsel Chanyeol.

Ada banyak nada tunggu terdengar saat Baekhyun berusaha menghubungi Kisame. Tapi bahkan sampai nada tunggu terakhir dan suara operator mulai terdengar pun Kisame tetap tak menjawab panggilannya. Tak menyerah, Baekhyun kembali mencoba menghubungi Kisame dengan sabar. Hingga pada nada tungga ke-8, Kisame mengangkat telepon dengan sapaan 'halo' dalam bahasa Korea yang fasih.

"Kisame-san, ini aku." Baekhyun memulai dengan berbicara dalam bahasa kelahirannya.

"Bekkyon denka.."

"Hasil USG mengatakan janin dalam kandunganku berjenis kelamin laki-laki." Baekhyun menahan nafasnya tanpa sadar, rasa tegang tiba-tiba saja menyelusup kedalam rongga dadanya hingga ia merasakan sedikit sesak.

"Berita yang luar biasa, Kyo-sama. Saya akan segera memberitahu kaisar tentang ini." Suara ceria Kisame menyambutnya dalam ketegangan. Perdana menteri tentu bahagia dengan kabar ini karena itu artinya dia telah menemukan pewaris baru untuk masa depan Jepang.

"Ya.. kututup, Kisame-san." Berbanding terbalik dengan Baekhyun yang terlihat murung. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga dan menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan dengan lemas.

"Kenapa murung begitu, hm?" Chanyeol bertanya dari balik kemudinya saat melihat air muka Baekhyun lewat kaca spion.

"Akuㅡ"

BLAST

CKIIIT

Ucapan Baekhyun terpotong saat ban mobil yang mereka naiki tiba-tiba saja pesah dengan suara lesatan bak peluru yang baru saja di tembakkan dengan senapan berperedam hingga Chanyeol refleks menginjak rem saat mobil hilang kendali dan nyaris menabrak pembatas jalan.

Itu bukan kecelakaan biasa. Ada yang dengan sengaja membuat ban mobil mereka pecah karena 4 mobil lainnya juga mengalami hal yang sama hingga semuanya berhenti ditengah jalan sepi. Jalan menuju rumah Phoenix memang melewati beberapa daerah sepi karena rumah Phoenix berada jauh dari keramaian. Dan kini mereka terdampar di salah satu daerah sepinya.

"Keadaan darurat. Ada penyerang di daerah 3." Chanyeol berbicara pada jam tangannya. Lantas dengan gerakan cepat mengambil satu senapan serbu di bawah jok tengah dan membuka laci dashboard untuk mengambil 2 pistol yang ada disana. Salah satunya ia selipkan di balik ikat pinggang dan yang lainnya ia berikan pada Baekhyun.

"Thermal vision melacak adanya 5 orang dengan seperangkat senapan khusus sniper, bos. Aku akan mengirimkan tim delta untuk menangkap mereka. Tim eagles ada disana untuk melumpuhkan mereka." Suara Luhan terdengar lewat earphone di telinganya. Tak ada kata apapun yang ia ucapkan setelahnya dan ia hanya menatap Baekhyun dengan tatapan serius.

"Pegang ini untuk berjaga-jaga. Kaca mobilnya anti peluru. Tapi merunduk lah untuk antisipasi. Jangan melawan perkataanku, Baekhyun! Ingat bahwa kau tak hanya bertanggung jawab atas nyawamu sendiri, tapi juga putra kita. Hanya percayakan semuanya padaku." Chanyeol meremas bahu Baekhyun pelan, membuka pintu mobil dan keluar dari sana untuk menghabisi siapa saja yang berani mengusik ketenangannya bahkan sebelum Baekhyun sempat bertanya tentang apa yang terjadi.

Lagi, ia kini berada dalam situasi sulit yang membahayakan nyawanya. Semuanya seolah sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan barunya; suara tembakan, simpahan darah, serta atmosfer tegang yang selalu menghampiri.

Mereka yang menyerang Phoenix kali ini pasti tak begitu mengenal seluk beluk kehidupan Phoenix yang sebenarnya. Meski sniper dirancang untuk menjadi pembunuh profesional yang mengamati kebiasaan targetnya selama berhari-hari, sepertinya kali ini mereka hanyalah sekelompok sniper amatiran hingga mereka tak mengetahui bahwa kemanapun Phoenix pergi, ia selalu dijaga oleh ratusan mata bawahannya yang ditempatkan di hampir setiap jalan yang Phoenix lewati dengan perlengkapan penyamaran mereka serta senjata api layaknya presiden yang selalu dijaga oleh para penembak runduk. Begitulah Phoenix dan kehebatan serta kekuasaannya yang sangat besar.

Chanyeol bersembunyi dibalik tubuh mobilnya yang ia jadikan sebagai tameng dari tembakan-tembakan orang-orang asing yang Luhan laporkan berjumlah 5 orang. Sesekali ia keluar dari persembunyiannya hanya untuk menembaki orang-orang keparat itu dengan senapan serbu yang ia pegang.

Para penembak runduk Phoenix yang bersembunyi di daerah itu juga ikut andil dalam melakukan pertahanan.

Mereka terus terlibat baku tembak dan Phoenix telah kehilangan beberapa pengawalnya. 5 orang sialan itu nyatanya bersembunyi di tempat yang strategis hingga mereka bisa dengan leluasa menembaki kelompok Phoenix di tengah jalan raya yang sepi. Tak ada pilihan lain selain menunggu tim delta datang untuk menangkap mereka. Jadi mereka kini hanya harus bertahan sampai bantuan datang.

Chanyeol mendesis marah, berlari kecil dengan tubuh membungkuk untuk menghindari tembakan kesamping mobil yang lain kala melihat tempat persembunyian musuh dengan mata tajamnya.

Ia terus melakukan tembakan beruntun hingga satu sumber tembakan berhenti yang itu artinya satu diantara mereka telah berhasil dilumpuhkan. Fokusnya tertuju pada musuh saat justru salah satu dari mereka mengambil javelin dan melontarkan satu peluru kendali ke arah mobil yang berada di posisi ketiga, mobil yang sama yang Chanyeol kendarai tadi, yang artinya ada Baekhyun didalam sana.

Semuanya berjalan dengan begitu dramatis seolah seseorang sedang menerapkan efek slow motion saat peluru kendali itu menabrak tubuh mobil hingga mobil itu meledak dan terguling beberapa kali dengan kobaran api yang besar.

Waktu seakan berhenti berputar dan Chanyeol merasa seolah ada sesuatu yang menghantam jantungnya telak saat melihat mobilnya terguling dan meledak. Bersamaan dengan itu, tim delta datang dengan helikopter mereka dan langsung meringkus 4 orang yang tersisa setelah satu orang mati oleh tembakan Chanyeol.

Nafasnya memburu dan matanya terbelalak dengan amarah yang menggebu, ia membuang senapannya begitu saja lalu berlari seperti orang gila ke arah mobil yang terbakar.

Satu ledakan lagi terjadi dan tubuh Chanyeol terpental ke aspal. Ia bahkan mengabaikan serpihan kaca mobil yang menggores wajahnya. Yang ia pikirkan hanya Baekhyun. Pikirannya kalut dan hatinya mencelos. Ia sangat ketakutan dan bertingkah seperti orang gila seraya berteriak keras dengan suara beratnya hingga urat-urat di lehernya menegang.

"BAEKHYUN!"

.

Bersambung

.

Tolong jangan mengumpat 😌

Diharapkan para reader tetap tenang.. harap sabar, ini ujian 😌😌😌

Tolong jangan santet saia saia masih pakai popok

No bacot for tonight 😏

See ya 😘