Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 29: Who Is The Culprit?

Dia melihat kedua kuku tangannya memanjang dan berubah menjadi cakar yang panjang di depan matanya sendiri. Dia bisa merasakan punggungnya robek sementara sepasang sayap gagak hitam raksasa tumbuh dari sana. Jeritan terluka keluar dari mulutnya sementara dia, dengan kedua tangannya, bukan, cakarnya, melukai orang-orang yang berada di sekitarnya. Alice, Elliot, Vincent, Oz, Reo, semua orang yang pernah dia kenal dan sayangi.

Dan dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya dirinya sendiri.

.

"Aarrgghh!"

"Gil! Bangun!" suara panik Reo yang berusaha membangunkannya terdengar oleh Gil yang masih berada di dalam dunia mimpinya.

Perlahan-lahan, Gil mulai membuka kedua matanya. Kilasan-kilasan mimpi buruknya yang baru saja dialaminya masih terus membayanginya sementara dia berusaha untuk bangun.

Hari sudah gelap ketika Gil berhasil membuka kedua matanya. Reo berdiri di sebelahnya, ekspresi lega tampak jelas di wajahnya ketika dia melihat Gil sadar. Buku yang tadi dibacanya kini tergeletak begitu saja di atas lantai, terjatuh ketika dia bangkit terburu-buru ketika Gil berteriak.

"Kau baik-baik saja?" tanya Reo.

"Aku tidak apa-apa," jawab Gil sambil menggelengkan kepalanya. "Hanya mimpi buruk."

"Setelah apa yang kau alami, bukan hal aneh kalau kau mengalami mimpi buruk." kata Reo. Dia bergidik sedikit ketika dia mengingat kejadian tadi pagi.

"Apa yang terjadi tadi pagi? Setelah Raven mengambil alih?" tanya Gil. Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi setelah dia mengucapkan kata-kata Penyegelan. Ketika Raven melepaskan kendali akan tubuhnya, tahu-tahu saja Alice sudah berdiri di depannya.

"Sebaiknya kau tidak perlu tahu…" kata Reo dengan hati-hati.

Tapi Gil terus memaksa anak laki-laki itu untuk bercerita. Akhirnya, Reo mengalah dan menceritakan apa yang terjadi tadi pagi di Ruang Pandora, termasuk perubahan Gil. Dia juga menceritakan saat ketika Elliot gagal menghentikan Gil dan malah Alice yang berhasil melakukannya.

"Alice, ya?" gumam Gil. Reo mengangguk pelan. Gil membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Tanpa dia sadari, Alice telah berubah menjadi orang yang paling berharga untuknya. Itu sebabnya hanya Alice yang bisa menenangkannya tadi. Kalau tadi Echo tidak menyadari tentang hal itu dan menyuruh Alice menghentikannya, Gil tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi.

Selama beberapa saat, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Baik Gil maupun Reo terlalu tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing untuk bercakap-cakap.

"Maaf karena kau harus melalui semua ini,"

Gil mengangkat kepalanya, kaget karena Reo tiba-tiba bersuara. Dia menatap anak laki-laki itu dengan heran, "Kenapa kau tiba-tiba minta maaf seperti itu?"

"Kalau aku yang menyegel Kotak Pandora, kau tidak harus berakhir seperti ini," bisik Reo pelan.

Gil segera memahami apa yang dirasakan oleh Reo. Anak laki-laki itu masih merasa bersalah karena tidak memberitahu Oz tentang Jabberwock lebih awal, dan rasa bersalah seperti itu sulit untuk dilupakan.

"Sudahlah. Aku memang harus menjalani ini," kata Gil.

"Tapi…"

"Kau tahu konsekuensinya, kan?" tanya Gil dengan nada serius.

"Tentu saja aku tahu," jawab Reo.

"Karena konsekuensi itulah harus aku yang menghancurkan kedua kotak terkutuk itu," kata Gil.

Reo membenturkan kepalanya ke dinding dan mengerang, "Seharusnya aku memberitahu mereka sejak awal!"

"Yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali," kata Gil bijak.

"Tapi, tetap saja! Mungkin sebaiknya aku tidak pernah dilahirkan saja!"

"Kalau kau tidak dilahirkan, Elliot pasti masih terjebak menjadi pelayan."

"Iya juga sih, tapi…" Reo mulai berargumen, tetapi Gil langsung memotongnya.

"Dengar, Reo! Kau akan jauh lebih berguna apabila kau tidak menjadi Penyegel, mengerti? Kau punya masa depan yang cerah! Kau punya bakat yang masih bisa dikembangkan dan orang-orang yang menyayangimu!"

"Memangnya tidak ada orang yang menyayangimu? Bagaimana dengan Elliot?"

"Elliot jauh lebih menyayangimu daripada aku!"

"Halo? Dia itu saudaramu, Gil! Tentu saja dia lebih menyangimu!"

"Kadang-kadang sahabat lebih berharga daripada saudaramu, Reo! Vincent? Bah! Dengan apa yang telah dia lakukan, aku sangsi dia benar-benar menyayangiku atau hanya memikirkan dirinya sendiri. Alice? Lupakan! Sementara kau memiliki Elliot, Echo, dan Ada!

Jadi, jauh lebih baik kalau aku yang menjadi Penyegel, oke? Karena tidak banyak orang yang akan menangisiku nanti."

"Gil, kau itu seseorang yang pesimis, ya?" tanya Reo.

"Hey! Siapa yang ingin bunuh diri tadi?" gurau Gil. Reo tersenyum kecil untuk menanggapi gurauan Gil itu.

"Jadi…" ucapan Reo terpotong ketika mereka berdua dikagetkan oleh suara pintu klinik yang tiba-tiba terbuka.

"Minggir!" teriak Oz kepada mereka berdua. Reo segera menyingkir sementara Gil langsung melompat turun dari tempat tidur. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat selang infus yang terpasang di tangan kanannya terlepas, menyebabkan dia berteriak kecil karena kaget.

"Oz? Apa yang ter… Ann?" tanya Reo ketika dia melihat tubuh Ann yang digotong oleh Oz, Break dan Elliot.

"Itu bisa menunggu," kata Oz tajam. "Mana Revis?"

Pintu ruang kerja Revis dan Miranda yang tersambung ke klinik menjeblak terbuka ketika Revis berlari keluar dari sana. Dilihat dari rambutnya yang berantakan, sepertinya dia baru saja bangun dari tidur. "Apa yang terjadi?" tanyanya buru-buru.

Oz, Break dan Elliot membaringkan Ann di atas tempat tidur yang tadinya ditempati oleh Gil. Kedua mata gadis itu tertutup sementara dia berusaha keras untuk bernafas. Wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen.

"Demi Tuhan! Ann?" gumam Revis takjub. Kemudian, dia menoleh ke arah Gil, Reo, Oz, Elliot dan Break dan mulai memberikan perintah, "Break, ambil tabung oksigen di pojok sana! Reo, ambil selang oksigen di lemari itu! Sisanya, keluar dan panggil Ada!"

"Dimana Miranda?" tanya Oz heran.

"Dia cuti lagi! Dan, please, jangan tanya aku kenapa! Aku sama tidak tahunya dengan kalian! Sekarang, kerjakan tugas kalian! Cepat!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berlima segera melesat untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing. Meninggalkan Reo dan Break di belakang, Oz, Elliot dan Gil segera berlari ke kamar Ada, berharap gadis itu ada di kamarnya.

Untung saja Ada benar-benar berada di kamarnya. Dia sedang mengganti pakaiannya ketika mereka bertiga mendobrak pintu kamarnya.

"Apa yang kalian lakukan?" pekik Ada sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan bantal.

"Klinik! Cepat!" perintah Oz.

Ada segera mengetahui kalau sesuatu yang gawat tengah terjadi dan segera menyuruh mereka bertiga keluar dari kamarnya agar dua bisa mengganti pakaiannya. Setelah selesai bersalin pakaian, Ada segera berlari menuju klinik diikuti oleh Oz, Elliot dan Gil.

Melihat Ann yang terbaring lemah di tempat tidur, Ada segera mengusir mereka bertiga ditambah Reo dan Break keluar. Mereka berlima terpaksa berdiri di lorong, mencoba mengintip melalui sela-sela pintu klinik.

"Oz? Sebenarnya apa yang terjadi sih?" tanya Gil penasaran.

Oz tidak menjawab. Dia malah mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah apel yang sudah tergigit. Reo dan Gil menatap apel itu dengan bingung.

"Apel?" tanya Gil bingung.

"Yang telah digigit oleh Ann," Oz menambahkan.

"Apa dia tersedak?"

"Tidak, dia tidak tersedak. Ingat cerita tentang Snow White? Apel ini diracun," Break menjelaskan dengan kalem.

"Diracun?" ulang Reo dan Gil.

"Kalian yakin?" tanya Reo dengan ragu. Menurutnya, apel itu tampak tidak berbahaya.

"Kalau kau mau membuktikannya, silahkan saja. Aku sih tidak mau! Nih!" Oz menyodorkan apel itu ke arah Reo, yang segera mengambil beberapa langkah mundur.

"Erm, tidak usah," katanya gugup.

"Apel siapa itu?" tanya Gil. Ketiga orang yang ditanyai hanya mengangkat bahu mereka.

"Kami tidak tahu. Ketika kami pulang, kami menemukan Ann sudah tidak sadarkan diri di ruang makan dan apel ini berada tidak jauh darinya," Elliot menjelaskan.

"Sebenarnya, Oz tersandung apel itu," ralat Break.

"Jangan bahas kejadian itu!" geram Oz.

"Hey! Kalau kau tidak tersandung, kita tidak akan menemukan apel itu, kan?" kata Break untuk membela dirinya.

Elliot kembali mengintip ke dalam klinik, "Sepertinya mereka berdua akan cukup sibuk untuk waktu yang lama. Bagaimana kalau kita menyelidiki semua ini?"

"Setuju?"

.

"Siapa yang membereskan barang belanjaan kita?" tanya Sharon bingung ketika dia dan Alice kembali ke ruang makan setelah urusan mereka dengan Esther selesai.

"Entahlah," jawab Alice sambil mengangkat bahunya. Dengan santai, dia mengambil sebutir apel yang sudah Ann susun di atas piring.

Apel itu hanya tinggal beberapa senti lagi dari mulut Alice ketika seseorang berteriak, "Jangan!"

"Eh?" Alice menurunkan tangannya yang memegang apel. Dia dan Sharon memandang kelima anak laki-laki yang wajahnya memerah karena berlari yang baru saja datang dengan bingung.

"Apel-apel itu diracun!" Oz memperingatkan mereka berdua.

"Masa?" tanya Sharon sambil memiringkan kepalanya. "Kami memakan dua apel ketika kami dalam perjalanan pulang, dan kami baik-baik saja!"

"Well, jangan mendorong keberuntunganmu terlalu jauh," kata Gil. "Ann tidak seberuntung kalian."

"Halo, Gil! Kau sudah sadar rupanya!" sapa Alice. "Dan, apa yang kau maksud dengan Ann tidak seberuntung kami?"

"Dia keracunan setelah memakan apel yang kalian beli," kata Oz datar. "Untuk siapa apel-apel ini sebenarnya?"

Dalam waktu bersamaan, Sharon dan Alice menunjuk Gil, yang hanya bisa merespon dengan sebuah, "Eh?"

"Mereka ingin meracuni Gil, ya?" gumam Break pelan.

"Tidak mungkin kami mau meracuni teman sendiri!" bantah Alice dengan nada marah.

"Yang Break maksud bukan kalian, tetapi orang lain," kata Oz untuk menenangkan Alice. "Kalian berdua masih sehat-sehat saja walaupun kalian sudah memakan dua buah apel, jadi tidak mungkin apel-apel ini sudah diracun sebelum kalian membelinya. Apel-apel ini pasti diracun ketika kalian meninggalkan dapur tadi. Pertanyaannya adalah, oleh siapa?"

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.

"Err, Oz?" tanya Break dengan hati-hati.

"Ya? Ada apa?"

"Kalau aku tidak salah, ketika kau sedang berbicara dengan Glen tadi, kau bilang kalau kita bisa menggunakan cara apapun untuk menang, kan?"

"Termasuk cara kotor. Ya, aku ingat," kata Oz dengan nada melamun. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari apa yang telah dia katakan. Dia menepukkan telapak tangannya ke dahinya dan mengumpat pelan.

"Dark Sabrie sialan!" umpatnya.

"Well, ini salah kita juga sih," kata Elliot. "Kita tidak mengira kalau mereka akan memulai langkah pertama mereka saat ini juga!"

"Tetapi mengenai target yang salah. Seharusnya Gil yang memakan apel itu, bukan Ann." kata Reo.

"Jam berapa kalian sampai di sini?" tanya Oz kepada Alice dan Sharon.

Alice melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam sore, "Sekitar satu setengah jam yang lalu. Ketika kami sedang membereskan belanjaan kami, Esther datang dan menyuruh kami meninggalkan pekerjaan kami agar dia bisa mencari senjata yang cocok untukku dan Sharon," dia menerangkan.

Oz mengamati apel Ann yang sedari tadi masih dipegangnya, "Dilihat dari keadaannya, apel ini dimakan sekitar satu jam yang lalu. Itu berarti, si pelaku memiliki waktu setengah jam untuk meracuni apel-apel ini, dan mungkin buah-buah yang lain."

Suara teriakan seseorang mengagetkan mereka semua. Mereka semua melonjak terkejut ketika mendengar suara itu, yang diikuti oleh beberapa kalimat yang bernada marah.

"Sepertinya Aire baru saja mengetahui apa yang telah terjadi kepada kembarannya," kata Gil. "Dan aku punya firasat kalau sebentar lagi dia akan turun untuk menanyai kita."

Suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga seakan-akan mengkonfirmasi firasat Gil. Beberapa saat kemudian, Aire memasuki ruang makan dan menyambar kerah baju Oz yang berada paling dekat dengannya.

"Bisa jelaskan apa yang terjadi dengan kembaranku?" geramnya dengan memberikan penekanan di setiap katanya. "Jawab!"

Oz hanya bisa mengeluarkan suara tercekik karena cengkraman Aire membuatnya sulit bernafas. Tetapi Aire tidak menunjukkan tanda-tanda melonggarkan cengkramannya, dia malah semakin mempererat cengkramannya. Alice, Sharon, Elliot, Gil, Reo dan Break mulai panik ketika mereka melihat wajah Oz mulai membiru karena kekurangan oksigen.

"Aire! Lepaskan Oz sekarang juga!" perintah seseorang. Aire mendelik ke arah orang yang memerintah tadi dan melepaskan cengkramannya. Dia membalikkan badannya dan berlari meninggalkan ruangan dengan langkah yang dihentakkan. Suara pintu ruang bawah tanah yang dibanting tertutup mengikuti kepergiannya.

Oz segera mengambil kesempatan itu untuk mengembalikan nafasnya. Dia menggosok-gosok garis merah di lehernya, berusaha untuk kembali memperlancar peredaran darahnya. "Trims, Will!" katanya, karena memang Will-lah yang menyelamatkannya tadi.

"Tidak apa-apa,"balas anak laki-laki itu. "Esther, bisa kau susul dia? Kau tahu apa saja yang ada di ruang bawah tanah, kan?" pintanya sambil melirik Esther yang berada di belakangnya. Esther mengangguk dan bergegas mengejar Aire.

"Tolong maafkan sikap Aire," kata Will setelah Esther meninggalkan mereka. "Dia sedang tertekan, dan tiba-tiba dia menerima kabar tentang Ann. Jadi, bisa kalian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Please?"

Maka mereka bertujuh kembali menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Will, mulai dari saat Sharon dan Alice membeli apel-apel itu, hingga teori mereka. Selama mereka bercerita, Will tidak mengatakan apa-apa dan hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Baru setelah mereka menyelesaikan cerita mereka, dia membuka mulutnya.

"Boleh aku lihat apel itu, Oz? Dan apel yang kau pegang, Alice?" pintanya. Oz dan Alice segera menyerahkan apel yang mereka pegang kepada Will.

Will memperhatikan kedua apel itu dengan seksama. Dia mengira-ngira berat apel-apel itu, kemudian dia membalik apel-apel itu di tangannya. Selama lima menit berikutnya, dia terus memeriksa kedua apel itu sementara yang lain menunggu hasilnya dengan tegang.

"Ya ampun," gumam Will. "Kalau saja Ann tidak terlalu lapar dan menyempatkan diri untuk memeriksa apel ini, pasti dia akan tahu ada yang tidak beres."

"Apa maksudmu, Will?" tanya Reo.

"Lihat!" jari telunjuk Will menunjuk satu titik di kulit apel milik Alice, di dekat tangkainya. Di sana, tidak terlihat apabila dipandang sekilas tetapi terlihat sejelas siang apabila diperhatikan lebih teliti, adalah sebuah lubang kecil.

"Lubang suntikan," gumam Elliot.

Gil meraih apel lain dari atas piring dan memperhatikannya, "Di sini juga ada!" katanya setelah dia melihat lubang suntikan di apel itu.

Gil kembali meletakkan apel itu dan ganti mengambil sebuah jeruk, "Dan di sini juga ada! Bukan hanya apel yang diracuni!"

"Aku benci racun," gumam Alice ketika tanpa sengaja dia mengingat bagaimana Jack mati di tangan Lacie.

"Aku setuju dengan Alice," kata Will setelah dia dengan hati-hati meletakkan apel itu di atas meja. "Racun adalah cara pengecut untuk menang! Apabila kau adalah seorang pejuang sejati, kau tidak akan menggunakan racun!"

"Apa Revis punya penawar racun ini?" tanya Alice cemas.

"Aku tidak tahu," Will mengakui. Dia kembali mengambil apel-apel itu, "Sebaiknya aku membawanya ke klinik agar Revis bisa memeriksanya."

.

Echo baru saja bangun dari tidurnya ketika dia mendengar suara seseorang berteriak.

"Ada apa sih?" gumamnya sambil menggosok kedua matanya yang masih mengantuk.

Dengan langkah tertatih, kekuatannya belum kembali sepenuhnya, terutama setelah kejadian tadi pagi, dia keluar dari kamarnya dan melangkah menuju sumber keributan.

"Apa yang terjadi dengan Ann?!"

Suara teriakan Aire yang bernada mengancam segera memberitahu Echo sumber keributan itu berasal dari klinik. Echo mempercepat langkahnya ketika rasa penasaran menyelimutinya.

Ketika Echo hanya berjarak beberapa langkah lagi dari klinik, Aire menghambur keluar dari klinik dan berjalan dengan cepat menuju lantai bawah. Beberapa saat kemudian, Esther dan Will keluar dan menyusul pemimpin mereka dengan terburu-buru. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat Echo, yang seharusnya tidak berjalan-jalan sendirian.

"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanyanya dalam hati.

Pintu klinik yang terbuka membuat Echo bisa memasuki ruangan itu dengan leluasa. Dia melihat Ann berbaring di tempat tidur sementara Revis dan Ada berkeliaran di sekitar tempat tidurnya, berusaha untuk menyelamatkan gadis itu.

Echo tahu kalau hal terbaik yang bisa dilakukannya sekarang adalah berdiri diam dan sekadar menonton saja. Dia tahu dia hanya akan menganggu mereka kalau dia membantu mereka. Dia mempertimbangkan untuk kembali ke kamarnya, tetapi dia merasa bosan karena berada di kamar sejak siang. Jadi, dia hanya berdiri diam di dekat pintu.

Sayangnya, kelompok yang datang sepuluh menit kemudian tidak setenang dirinya.

Alice, Sharon, Oz, Gil, Break, Reo, Elliot dan Will menghambur memasuki klinik. Langkah kaki mereka yang berisik membuat Ada dan Revis menolehkan kepala mereka berdua ke arah mereka, ekspresi kesal tampak jelas di wajah mereka. Tidak ada dokter yang sedang diganggu apabila mereka sedang bekerja, terutama ketika nyawa pasiennya berada di ujung tanduk.

"Bukankah aku sudah bilang kalau kalian tidak boleh menganggu?" geram Revis.

Will mengacuhkan perkataan Revis dan menyodorkan kedua tangannya ke arah dokter itu. Echo melihat kalau benda merah yang berada di tangan Will adalah dua buah apel, salah satunya sudah digigit.

"Bisa kau periksa ini?" pintanya kepada Revis.

Revis melirik apel-apel itu sekilas sebelum kembali berkonsentrasi kepada pekerjaannya, "Simpan di meja! Sekarang kalian semua, termasuk kau, Echo, keluar sekarang juga! Jangan terkejut begitu. Aku sudah mengetahui keberadaanmu semenjak kau masuk. Sekarang, keluar!"

Dengan berat hati, mereka berdelapan keluar dari klinik. Di belakang mereka, Ada menutup pintu dan menguncinya, memastikan agar dia dan Revis tidak akan mendapatkan gangguan lagi.

Echo menatap teman-temannya, ekspresi bingung tampak jelas di wajahnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya bingung.

Sekali lagi, mereka menceritakan apa yang terjadi kepada Ann kepada Echo. Echo tetap diam ketika mereka menyelesaikan cerita mereka, tenggelam dalam percakapan rahasianya dengan Zwei.

"Jadi," Echo bertanya pelan ketika percakapannya dengan Zwei telah selesai, "ada mata-mata di sini?"

"Tentu saja ada!" kata Will. "Kalau kita memiliki mata-mata di Darks Sabrie, tidak aneh lagi kalau mereka juga punya mata-mata di sini. Sudah sejak lama kami semua menduga kalau ada mata-mata di sini, karena ada beberapa informasi rahasia kami yang bocor. Tetapi, kami tidak pernah menyangka kalau kecurigaan kami akan terbukti dengan cara yang sangat tidak enak!"

"Mereka memang tidak berhasil meracuni Gil, tetapi Ann yang menjadi korbannya," ucap Reo. "Kalau tadi kita terlambat sedikit saja, maka kau, Alice, akan menjadi korban kedua!"

"Tidak usah diingatkan," gumam Alice.

"Aku harap Revis bisa menyembuhkan Ann," kata Will ketika dia berusaha mengintip melalui lubang kunci klinik. "Dia adalah salah satu andalan kita dalam pertempuran yang akan datang. Omong-omong Oz, bagaimana hasil perjanjianmu dengan Dark Sabrie tadi?"

"Kami sepakat kalau kami akan mengakhiri semuanya dua minggu lagi," kata Oz.

"Kenapa waktunya bisa sama?" gumam Will.

"Eh? Sama?" tanya Gil bingung. "Sama apanya?"

"Bukan hanya kalian yang akan bertempur pada hari itu, Reinhart juga akan bertempur dengan Clockwork," Will menjelaskan. "Seperti kalian, kami juga akan melakukan pertarungan final. Bila kami menang, kami akan menang selamanya. Bila kami kalah,"

Will meletakkan jari telunjuknya di lehernya dan membuat gerakan memotong dengannya, "Well, kau tahu apa yang akan terjadi."

"Pantas saja Aire begitu histeris tadi," gumam Sharon. "Kita sudah kehilangan satu orang bahkan sebelum pertempuran dimulai."

"Jangan bilang begitu, Sharon! Aku yakin Ann pasti sembuh!" hibur Break. "Revis selalu berhasil menyembuhkan orang! Iya kan, Will?"

"Erm, mungkin?" jawab Will ragu. "Tapi, walaupun dia belum sembuh ketika hari penentuan tiba, aku yakin dia tetap akan memegang peran penting."

"Mungkin ini salahku," gumam Oz. "Kalau saja tadi aku tidak bilang kita boleh menggunakan cara apapun untuk menang, ini semua pasti tidak akan terjadi! Maaf!"

"Tidak apa-apa, Oz. Lagipula, semuanya dibenarkan dalam perang,"

Seakan-akan menunggu aba-aba dari Will, alarm tanda bahaya tiba-tiba menyala. Raungannya yang keras membuat mereka semua terpaksa menutup telinga mereka. Alarm ini hanya menandakan satu hal.

Ruang Pandora telah didobrak.

Tanpa perlu dikomando lagi, mereka segera berlari ke arah tangga dan menuruninya menuju lantai dua. Setelah hampir bertabrakan dengan Esther dan Aire, yang sedang buru-buru naik dari lantai satu, mereka semua segera melesat menuju Ruang Pandora.

Pintu ruangan itu telah terbuka, ke arah yang sama sekali salah. Benang jebakan telah putus, menyisakan pisau guillotine yang kini tergeletak di lantai. Di dekat bilah tajam itu, terdapat ceceran darah. Beberapa ubin jebakan yang berada di dalam ruangan telah teraktifkan, meninggalkan jarum-jarum tajam setebal lengan yang mencuat dari lantai. Selain itu, ruangan itu kosong.

"Dimana dia?" tanya Oz.

"Berhasil kabur, sepertinya," kata Elliot sambil menunjuk ceceran darah itu.

"Itu tidak penting! Dimana kotak Pandora?" tanya Gil panik ketika melihat kotak yang telah dia segel tidak lagi ada di ruangan itu.

"Tenang, Gil!" kata Alice. "Ketika kau pingsan tadi, kami membersihkan Kotak Pandora dan menyimpannya di ruangan bawah tanah. Sebagai gantinya, kami menempatkan sebuah dummy di sini. Jadi, si mata-mata hanya mengambil kotak yang palsu, bukan yang asli."

"Esther, ketika kau meninggalkan ruang bawah tanah tadi, apa Kotak Pandora masih berada di sana?" tanya Reo.

Esther mengangguk, "Yap, kotak itu masih ada di sana!"

"Jadi, kotak itu masih aman," kata Oz. "Sekarang, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mencari tahu darah milik siapa ini."

"Aku akan menelpon Miranda dan menyuruhnya menyelidikinya," kata Will. "Kita tidak bisa menganggu Revis sekarang, dan dia sudah mengambil cuti terlalu lama!"

"Kalau begitu, aku dan Aire akan mengintegorasi anggota-anggota Reinhart lain yang ada di sini," kata Esther. "Kita hanya perlu mencari orang dengan luka yang disebabkan oleh guillotine ini. Kalau kami tidak menemukan si mata-mata, berarti pelakunya adalah anggota Reinhart yang tidak tinggal di sini!"

"Kita punya lebih dari lima puluh orang untuk diperiksa kalau begitu," gumam Aire. Dia menatap Will dan memberikan perintah, "Hubungi juga mata-mata kita! Mungkin dia punya informasi tentang si tikus ini!"

"Oke!" Will mengacungkan jempolnya sebelum bergegas untuk melakukan tugasnya.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Break untuk mewakili yang lain.

Aire melirik mereka sebentar sebelum berkata, "Berlatihlah! Masih banyak yang harus kalian kuasai sementara waktu kita tinggal sedikit! Tidak boleh ada waktu yang terbuang!"

TBC

A/N:

Ann: Reinhart Twins are here!

Aire: Berhubung Aoife masih kecapekan karena tugas yang menumpuk dan acara eskul kemarin, kami berdua yang akan mengambil alih saat ini.

Ann: Sebelumnya, Aoife bilang dia minta maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa update lebih awal karena tugas sekolah dan eskul yang WTF banyaknya. Jadi, walaupun chapter ini sudah selesai sejak entah kapan, Aoife belum bisa upload sampai hari ini.

Aire: Aoife juga bilang kalau update-update selanjutnya mungkin akan telat juga karena banyaknya tugas sekolah. Aoife juga punya pesan untuk anak-anak SMP di luar sana agar menikmati waktu SMP mereka sebaik mungkin sebelum mereka masuk SMA.

Ann: Abaikan pesan ngaco dari Aoife di atas! Bagaimana chapter ini menurut kalian? Walaupun peranku agak gak elit sih... Masa aku diracun? Pake apel pula!

Aire: Pokoknya, siapapun yang baca cerita ini, RnR, onegai? Aoife akan lebih termotivasi untuk update lebih cepat kalau banyak yang review :) Walaupun dia gak mengutamakan review sih...