BAB 27 AKU, KAU, DAN LANTAI DANSA


.


T/N: Chapter ini memang pendek sekali, tapi butuh sebulanan buat menerjemahkan. Fanfic2 yang saya sukai sudah jarang update, dan itu bikin males buka FF lagi. Huhu... But then I thought, mungkin itu juga yang dirasakan pembaca terjemahan ini. #Tapi kan saya updatenya nggak lebih dari dua bulan kan? Sementara yang saya tungguin, hampir setahunan malah nggak update. #Curhat

Enjoy!


.


"Siap?" Hestia menanyai Lily, mematut diri dalam pantulan cermin seukuran dirinya di asrama.

Lily mengangguk dan mendekati cermin, menatap dirinya sendiri.

"Apa ini oke?"

"Kau tampak menakjubkan!" seru Hestia, lengannya mengait di lengan Lily. "Bagaimana penampilanku?"

"Hestia Jones, kau sedang memancing pujian, ya?" kikik Alice seraya mengenakan sepatunya. Lily tertawa dan Hestia meleletkan lidah pada Alice.

"Kau tampak luar biasa, Hestia," Lily meyakinkannya.

Hestia tersenyum lebar pada sahabatnya.

"Siap untuk pesta terakhir kita?" tanyanya.

Ketiga gadis itu mendesah. Betapa cepatnya waktu tujuh tahun ini.

"Tidak," keluh Alice, bersamaan dengan Hestia melemparkan padanya sepatu stiletto, jelas tidak menyetujui pilihan Alice yang berupa sepatu datar.

"Alice, ini pesta terakhir, kau harus tampak cantik."

"Seberapa pengaruhnya sepatu dengan cantiknya penampilanku?" kata Alice dengan nada tinggi.

Hestia ternganga tak percaya.

"Pengaruhnya besar sekali," Lily menjawab mewakili Hestia.

"Aku berhasil mengajarimu, Lily Evans," kata Hestia riang.

Lily memutar matanya.

Sekarang Hestia menunduk dengan tatapan menilai pada kaki Lily, lalu mengangguk puas. Lily mendesah lega; dia memutuskan mengenakan sepatu bertali dengan hak rendah, supaya bisa menyenangkan Hestia tetapi dirinya juga nyaman memakainya.

"Kita berangkat?" tanya Hestia, menawarkan lengannya pada kedua sahabatnya, yang menggeleng penuh sayang sebelum menerimanya. Mereka bertiga saling bergandengan, dengan Hestia di tengah.

"Nah, bagaimana kita bisa lewat sini?" goda Lily, sebab begitu mereka mencapai tangga, mereka tak bisa melewati lorong sempit tangga itu bertiga sekaligus. Dia mulai mengendurkan gandengannya dari lengan Hestia, tetapi Hestia menggeram gusar.

"Jangan begitu, Lily Evans, kita akan memasuki pesta terakhir kita bersama-sama," tegas Hestia, tak bisa ditawar-tawar lagi.

Lily mendesah, tetapi berikutnya dia mencabut tongkatnya dan memperlebar lorong itu. Hestia nyengir.

"Bisa apa aku tanpamu?" tanya Hestia senang.

"Bisa gagal?" saran Alice.

Hestia mendengus.

Ketiga gadis itu menuruni tangga, memenuhi lorong tangga itu, lalu tiba di keramaian ruang rekreasi Gryffindor.

"Aku akan merindukan ini," desah Alice, memandang berkeliling dengan bahagia.

"Bolehkah aku?" terdengar sebuah suara.

Frank muncul entah dari mana, mengulurkan tangannya pada Alice. Alice tersenyum dan menerimanya.

"Sampai nanti!" ujarnya kepada kedua temannya, yang melambai padanya.

"Nah, Lily-petal," kata Hestia, membuat Lily nyengir. "Cowok-cowok kita hampir dipastikan pergi bersama, haruskah kita menemukan mereka?"

"Atau kita bisa menunggu mereka menemukan kita, itu lebih gentleman," kata Lily serius.

Hestia mengangguk.

"Benar sekali. Mungkin kita harus menjadi feminis malam ini. Tidak ada cowok," tegas Hestia. "Kau dan cowok tololmu," gerutu Hestia melihat Lily mencebik.

"Bagaimana denganmu dan cowok tololmu?" balas Lily.

"Itu beda," sergah Hestia, sedikit merona.

Lily terkikik.

"Beda apanya, kalau boleh kutanya?"

"Aku kan tidak terganggu dengan itu."

"Oh, tentu saja! Bodohnya aku," tawa Lily, bersandar pada bahu Hestia. Hestia memang beberapa senti lebih tinggi dari Lily, sehingga Lily merasa nyaman bersandar padanya.

"Kukira kau yang lebih pintar," dengus Hestia.

"Aku akan merindukanmu, Hestia Jones," kata Lily, merasakan matanya sedikit berkaca-kaca.

Hestia menatapnya penasaran.

"Kita akan tinggal bersama, kan?" tanyanya.

Lily tertawa.

"Ya."

"Lalu kenapa kau bilang begitu?" seru Hestia.

Lily menggigit bibirnya, berusaha menahan tawa.

"Aku kan hanya bilang, aku akan merindukanmu. Aku tidak akan bertemu denganmu sampai kita mencari apartemen nantinya," jawab Lily akhirnya. Hestia menunduk. "Dan selanjutnya kita tidak bisa bersama-sama setiap saat. Aku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk pelatihan Auror dan kau akan di kantor The Prophet..." Suara Lily mulai bergetar.

Hestia menekapkan tangannya dengan hati-hati ke mulut Lily.

"Diamlah," nasihatnya. "Kita akan melakukan semua hal emosional ini, membuat Hestia menangis, setelah kelulusan saja, setuju?"

Lily mengangguk patuh.

"Jadi, Auror?" tanya Hestia kemudian. Lily mengangguk lagi, kali ini dengan gembira. "Jadi kau akhirnya sudah memutuskan," kekeh Hestia.

Lily meleletkan lidah pada sahabatnya itu.

"Anak baik," tukas Hestia. "Nah, haruskah kita ikut berdansa?"

Lily mengangguk riang. Keduanya melangkah ke lantai dansa dan mulai bergerak seirama musik.

"Di situ ternyata kalian," terdengar suara jengkel Sirius. Dia dan James mendapati para kekasih mereka tertawa-tawa dan menari bersama.

"Kami mencari kalian ke mana-mana!" imbuh James, menatap kedua gadis itu galak. Yang ditatap malah mendengus.

"Bukankah seharusnya memang begitu?" kata Hestia.

"Yeah, cowok gentleman itu yang mencari ceweknya," imbuh Lily setuju, menyeringai pada kedua cowok itu.

"Apa mereka mengeluh tentang itu?"

"Aku yakin begitu."

"Menyedihkan," decak Hestia, menggelengkan kepalanya.

"Mohon maaf sebesar-besarnya," kata Sirius seraya membungkuk.

"Ya, aku minta maaf dari hatiku yang terdalam," James mengikuti, berpura-pura melepas topi pada kedua gadis yang tertawa itu.

"Akankah kita maafkan saja mereka?" tanya Hestia, disambut anggukan Lily. "Yey!" pekik Hestia gembira, melemparkan diri dalam pelukan Sirius. "Sampai nanti, Lily-petal!"

"Lily-petal?" ulang Sirius, menatap Lily. "Mungkin aku harus memanggilmu begitu mulai sekarang."

Lily berpaling pada James dengan tatapan memohon, tetapi James hanya nyengir padanya. Sirius memutar-mutar Hestia menjauh. Sepeninggal mereka, James mengambil satu langkah ke hadapan Lily, mengulurkan tangannya.

"Lily Evans, maukah kau memberiku kehormatan untuk berdansa denganmu?" tanya James.

Tersenyum lebar, Lily menerima uluran tangannya. James juga tersenyum dan menarik Lily mendekat, tepat ketika lagu berirama lambat mulai berputar.

"Wow, Mr Potter, kukira kau merencanakan ini," kata Lily, mengacu pada musiknya,

James nyengir. "Mr Potter?"

"Itu kan namamu."

James terkekeh. Dia mengangkat tangannya dari pinggang Lily untuk melepaskan tangan Lily dari leher James, lalu memain-mainkan jemari Lily. Pasangan itu berhenti berdansa, Lily hanya memandangi James yang memainkan jemarinya.

"Lily," kata James.

Lily terkejut melihat ekspresi putus asa James.

"Ya, James?"

"Kita akan tetap baik-baik saja kan? Setelah lulus dari Hogwarts?" tanya James gugup.

"Kenapa tidak?" Lily balik bertanya dengan mata melebar.

"Aku hanya bertanya," kekeh James.

"Ya."

"Bagus," kata James, senyumnya mengembang penuh kebahagiaan. "Dan izinkan aku mengatakan bahwa kau tampak memesona." Dia mengamati kostum Lily. Lily memlih gaun terbuka tanpa tali yang hanya menutupi setengah paha, dengan kalung yang James hadiahkan padanya bergantung di leher.

"Karena aku memakai warna hitam?"

"Jangan lupa, itu terbuka," kekeh James lagi.

Lily merona, masih menatap James.

"Jadi, hitam dan terbuka?" goda Lily.

"Ya, mungkin kau harus mengenakan itu di hari pernikahan kita atau apa," balas James dengan nada mengejek yang serius.

Lily tertawa.

"Atau dia bisa mengenakan itu," kata Sirius, mendadak muncul. Dia mengangguk ke arah tangga yang menuju kamar anak-anak perempuan.

Lily, James, dan Hestia serentak mengikuti arah pandangnya. Seorang anak perempuan sedang menuruni tangga dengan gugup, mengenakan gaun merah muda menyala.

"Kau tahu, kurasa kita mengencani cewek yang salah," kata Sirius pada James, yang nyengir.

"Oh, astaga," Hestia terkesiap dari sisi Lily. "Lily, aku kepingin gaun itu."

"Oh, astaga, Hestia," pekik Lily, membuat Hestia, James, dan Sirius menatapnya. "Itu Tonks!"

Hestia menyeringai lebar dan memandang berkeliling.

"Sirius, di mana Remus?" desisnya.

James dan Sirius mengangkat alis mereka.

"Dia di sana," kata Sirius, menunjuk ke arah perapian.

"Ajak dia kemari!" perintah Lily

"Kenapa?" tanya James bingung.

"Lakukan saja," kata Lily dan Hestian bersamaan, kembali memfokuskan perhatian pada Tonks selagi kedua anak laki-laki itu menjemput Remus.

Tonks memandang berkeliling, lalu tersenyum gugup ketika menemukan Lily dan Hestia. Kedua gadis yang lebih tua itu membalas dengan senyum ramah yang membesarkan hati. Tonks menarik napas dalam-dalam dan menghampiri kedua kawan perempuan terbaik Remus itu.

"Hai," sapa Tonks.

"Kau tampak luar biasa!" pekik Hestia, melompat-lompat kecil. Lily memberinya pandangan tajam. "Apa?" protes Hestia.

"Jangan membuatnya takut, Hestia!" kata Lily, mengedik pada Tonks, yang tertawa.

"Aku tidak membuatnya takut!"

"Dengan sengaja," gumam Lily, lalu kembali pada Tonks. "Kau memang terlihat cantik, Tonks."

"Trims," kata Tonks, tersenyum. "Aku tak bisa bernapas!" dia menambahkan dengan berbisik.

Lily terkikik. Dia menarik tongkatnya dan mengacungkannya pada Tonks, yang menarik napas dalam-dalam dan menunduk. Tonks terkejut mendapati jubahnya masih terlihat sama saja.

"Bagaimana kau melakukannya?"

"Mantra Perluasan Tak-Terdeteksi," kata Lily, mengangkat bahu. "Tak ada yang tahu mantra itu bisa diterapkan pada pakaian. Dengan begini, kau tak perlu menahan perutmu tapi tetap terlihat langsing," jelasnya sambil tertawa.

"Aku berhasil mengajarimu, kan?" kata Hestia senang.

Tonks terkikik. Lily menggelengkan kepala dan menyelipkan tongkat sihirnya ke leher gaunnya.

"Kalian sudah melihat Remus?" tanya Tonks, memandang berkeliling.

Lily dan Hestia bertukar seringai.

"Dia sedang kemari," kata Hestia, mencari-cari beberapa saat, lalu menemukan James, Sirius, dan Remus yang sedang mendekat ke arah mereka.

Wajah Tonks berubah pucat dan menatap kedua gadis itu dengan ngeri.

"Tarik napas, Tonks. Kau terlihat fantastis," Lily meyakinkannya. Tonks kembali menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Ketiga anak laki-laki tiba di tempat mereka. Lily melihat Remus sedikit terbelalak menatap Tonks, sebelum wajahnya merona, dan nyengir.

"Bersikaplah normal," gumam Lily pada Tonks, yang mengangguk patuh.

"Hai, Remus," sapa Hetia dengan nada riang. Lily bertanya-tanya bagaimana sahabatnya ini bisa berlaku seolah-olah tak ada yang terjadi.

"Er, hai," sapa Remus canggung.

Lily melihat James dan Sirius tergelak. Dipelototinya keduanya dengan tajam. Sirius mengedip padanya.

"Jadi, Tonks," kata Hestia, menoleh pada Tonks.

Lily harus menahan dirinya supaya tidak memutar mata. Dasar Hestia konyol, itu jelas sekali. Tetapi beruntung Remus tidak memperhatikan apa-apa.

"Ya," kata Tonks, tersenyum pada Hestia, yang terkikik dan menatap Lily minta bantuan.

"Bagaimana tahun keduamu di sini?" tanya Sirius canggung. Hestia tersenyum penuh terima kasih padanya.

"Mengerikan," gerutu Tonks, tangannya terangkat untuk menyentuh rambutnya, tetapi dilihatnya Hestia dan Lily menyipitkan mata padanya, maka dia menutupi gerakannya dengan menggaruk hidungnya.

"Kenapa?" tanya Remus, mendapati dirinya betul-betul tertarik.

"Aku benci Mandrake," ujar Tonks. "Besar, jelek, dan berisik." Dia menekuk jari-jarinya untuk menghitung.

Remus meledak tertawa.

Lily mendekati James terang-terangan dan melingkarkan tangan ke lehernya, berjinjit untuk bisa berbisik di telinganya. James nyengir dan mengangguk, berusaha menutupi entakan di perutnya, dan tiba-tiba saja, lagu berirama lambat kembali terdengar. James menjawil Sirius, yang terlonjak. Memahami ekspresi James, Sirius mendekati Hestia.

"Hestia Sayang, maukah kau berdansa denganku?" tanya Sirius, mengulurkan tangan. Hestia terkikik dan menerimanya.

"Lils?" panggil James.

Lily mengangguk dan, dengan sebuah kedipan kilat pada Tonks, mengizinkan James menariknya dari Tonks dan Remus, yang hanya berdiri canggung dan menatap lantai.

"Kau mau berdansa?" Remus menawarkan, mengangkat bahu.

Tonks menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumnya.

"Entahlah, kau jauh lebih tinggi dariku," jawabnya, menyipitkan mata dengan menuduh.

"Maafkan perkembangan genetisku," Remus berseri-seri, dan melarikan tangan ke rambutnya.

"Aku akan senang sekali," kata Tonks. Remus mengerutkan dahi padanya. "Berdansa denganmu," Tonks menambakan buru-buru.

Remus merona, tetapi tersenyum pada saat yang sama.

"Bagus."

Tonks tersenyum. Remus mengulurkan tangannya, dan Tonks menerimanya, berusaha mengabaikan kutukan yang terasa merayapi lengannya, tetapi dalam arti yang baik. Remus meletakkan tangan di pinggang Tonks, yang meletakkan tangannya sendiri di bahu Remus. Keduanya berdiri dalam jarak kira-kira sepanjang satu lengan. Tonks memandang ke seberang ruang rekreasi Gryffindor, di mana Maria melompat-lompat gembira, dan mengacungkan ibu jarinya, sebelum mengizinkan seorang cowok yang tidak terlalu Tonks kenal menariknya ke lantai dansa.

"Apa kabar?" tanya Tonks, memecahkan keheningan.

"Tidak banyak berubah sejak tadi siang," kekeh Remus.

Wajah Tonks berubah pink, lalu mendengus, "Maaf, aku hanya memulai percakapan sopan."

Remus tertawa.

"Maafkan aku, padahal kau sudah mencoba," katanya.

"Apa maksudmu 'mencoba'? Percakapan sudah dimulai, kan?"

"Ya, tapi bukan percakapan sopan."

"Oh, siapa yang menyebabkan itu?"

"Kenapa kau menganggap ini kesalahanku?"

"Karena memang begitu!"

"Bukan!"

"Yeah, percakapan ini akan sangat sopan kalau kau menjawab pertanyaanku."

"Aku memilih percakapan seperti ini, kalau begitu," tukas Remus, tidak menyadari bahwa dirinya dan Tonks sudah berhenti berdansa. Keduanya berdiri berhadapan dengan jarak hanya beberapa senti.

"Bukan itu intinya."

"Lalu apa intinya?"

"Tidak ada intinya!"

"Lalu kenapa kaubilang 'bukan itu intinya'?"

"Itu istilah umum!" tukas Tonks, menyilangkan lengannya, tetapi lalu melompat begitu menyadari tindakannya menyebabkan tangannya mengenai perut Remus.

Remus, menyadari hal yang sama, menunduk menatap perutnya pada tempat Tonks menyentuhnya, lalu mendongak pada Tonks. Perutnya serasa jungkir balik. Astaga.

Tonks balas menatap mata Remus, mengawasi mata Remus yang dengan lambat semakin dekat padanya.

"James!" bisik Lily, menjawil James, dan menunjuk ke arah Remus dan Tonks.

James mengikuti arah yang ditunjuk Lily dan nyengir sebelum kembali memandang Lily.

"Usaha bagus," dia mengedip.

Terkikik, Lily merangkul leher James.

"Oh, tidak," gumam James.

Lily menoleh cepat.

Remus menegakkan diri dengan cepat dan memandang berkeliling, lalu menatap Tonks.

"Maafkan aku," ucap Remus sungguh-sungguh, sebelum berlari dan melesat menaiki tangga menuju kamar anak laki-laki. Tonks mengikuti kepergian Remus dan terlonjak ketika Sirius, James, Hestia, dan Lily muncul di sekitarnya.

"Apa yang terjadi?" tanya James prihatin, memandang Tonks lalu tangga ke kamar anak laki-laki.

Tonks mengangkat bahu, tampak jelas sakit hati. Lily mencolek bahu Hestia, dan mengangguk pada Tonks, sebelum bergegas menuju tangga itu, diikuti James dan Sirius.

"Baik-baik, lho, Bunga-Lily," kata Sirius.

Lily terkesiap, dan berbalik menghadapinya dengan mulut ternganga.

"Dibandingkan dengan apa?"

"Si rambut merah," Sirius mengangkat bahu dengan menggoda.

Lily terkikik, lalu melanjutkan menaiki tangga. Sirius nyengir pada James, yang memutar mata dan ikut naik, geli.

"MOONY!" dendang Sirius, menghambur masuk ke kamar. "Apa?" tanyanya polos menanggapi pelototan Lily.

Lily menoleh pada James, yang mencibir pada sahabatnya yang kurang bijaksana.

"Kau perlu taktik lain, sobat," kata James, menepuk bahu Sirius yang merengut.

"Hippogriff sialan, aku perlu taktik lain!"

"Hippogriff sialan?"

"Ya, Hippogriff sialan."

Lily menggelengkan kepala terhadap dua cowok yang mulai cekcok itu, dan menghampiri tempat tidur Remus yang telah menutup kelambu di sekelilingnya. Lily membuka kelambunya supaya bisa masuk, lalu menutupnya kembali, dan duduk di sisi Remus. Remus menyembunyikan wajah dalam tangannya. Lily meletakkan tangannya dengan hati-hati di bahu Remus, membuatnya terlonjak.

"Jangan bilang kau tidak sadar kalau kami masuk!" desis Lily.

Alis Remus terangkat menyadari suara cekcok di luar kelambunya.

"Prongsie!"

"Tidak."

"Tapi serius!"

"Kau kan memang Sirius."

Remus mendengus selagi dua cowok di luar itu mulai terpingkal tak terkendali dan berkata pada Lily, "Aku tidak dengar, sejujurnya. Bagaimana aku bisa mengabaikannya, aku pun tak tahu."

"Pasti selama bertahun-tahun ini kau sudah mengabaikan mereka," senyum Lily.

Remus terkekeh dan mengangguk.

"Ada apa?" tanya Lily pelan, membuat Remus menjatuhkan kepala dalam tangannya lagi.

"Aku merasa parah!"

"Kenapa?" tanya Lily, terkejut.

"Karena aku nyaris menciumnya!"

"Kenapa itu buruk?" teriak Sirius, berusaha menerobos kelambu. Entah bagaimana, dia malah terbelit kelambu itu sedemikian rupa sampai-sampai menyerupai kepompong dengan dua kaki. "PRONGS, TOLONG!"

James menatapnya sekilas, lalu meledak tertawa bersamaan dengan tawa Lily dan Remus.

"PRONGS, ITU TIDAK MEMBANTU! AKU TAK BISA NAPAS!" lengking Sirius.

Mendesah, Lily mengacungkan tongkatnya pada buntalan merah itu, yang langsung menguraikan diri.

"Terima kasih, Lily sayang. Cuma kau yang peduli padaku," dengus Sirius lega, mendelik pada dua sahabatnya.

Lily menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau Hestia membunuhku," dia mencoba mengklarifikasi.

Sirius membelalak sementara Remus dan James kembali tertawa.

"Setidaknya dia peduli padaku," kata Sirius congkak, meleletkan lidah pada mereka bertiga, lalu kembali pada Remus. "Jadi, kenapa itu hal buruk?"

Remus sedikit merona dan mulai bermain dengan kaos kakinya, yang dihiasi balon-balon terbang.

"Karena... dia masih dua belas tahun," keluh Remus. "Dan aku tujuh belas. Aku tidak ingin melakukan itu padanya."

Lily memberinya pandangan bersimpati.

"Kau sadar kan, kalau dia sudah dua puluh, kau dua lima. Tak ada yang peduli, kan?" kata James lembut.

Remus menggelengkan kepala.

"Ya, aku tahu aku pernah dengar itu. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa ada banyak perbedaan antara usia dua belas dan dua puluh! Dan perbedaan umur kami sekarang, jauh lebih berpengaruh dalam tingkat kedewasaan kami, dan..." Remus menghentikan kalimatnya dan mengacak rambutnya.

Lily mengerang, "Apakah semua cowok selalu mengacak rambutnya? Tak heran aku ketularan."

Anak-anak laki-laki tertawa.

"Salahkan Prongs, kami hanya ketularan dia," ujar Sirius, memberikan pelototan sayang pada James, yang hanya mengangkat bahu dan nyengir. "Teruskan. Dan apa?" lanjut Sirius, embali pada Remus yang menunduk cemas.

"Aku tidak ingin dia terlibat dengan seorang manusia serigala," kata Remus setelah diam sesaat.

Lily, James, dan Sirius saling pandang.

"Remus…"

"Jangan! Jangan bilang itu bukan masalah! Jangan bilang itu tidak berbahaya! Ini sangat berbahaya! Dan masalah besar! Tak seorang pun akan mempekerjakanku karena masalah bulu kecil itu, apa yang membuat kalian berpikir seseorang bersedia bersamaku dengan kondisi semacam itu?" kata Remus muram.

"Mungkin kita harus membunuh si bulu kecil itu," tukas James lugas.

Ketiga anak laki-laki tertawa keras sekali. Begitu sudah mulai tenang, Lily nyengir pada James, yang balas mengedip.

"Terserah. Baiklah, kalau dia memang mau berkencan denganku, itu hebat. Sangat. Tapi intinya adalah, aku tak ingin dia berkencan denganku."

"Jadi kau tidak suka padanya?"

"Tidak, bukan itu. Aku suka padanya, sangat suka," kata Remus pelan, mengacak rambutnya frustrasi. "Tapi..."

"Tidak apa-apa," kata Lily menenangkan, menggenggam tangan Remus, dan—mengabaikan belalakan James—mengelusnya. "Itu pilihanmu, Remus. Tapi aku hanya ingin memberi tahumu, ada seorang gadis di bawah sana, yang akan berkencan denganmu apa adanya, dan benar-benar menyukaimu, dan kau juga suka padanya. Mungkin kau tidak membuat keputusan yang tepat."

Remus menatap Lily.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Bicaralah padanya, sobat," kata James, berusaha menarik Remus dari tempat tidurnya.

"INI TAK PERNAH TERJADI!" seru Sirius, menepukkan tangannya.

Ketiga temannya berpaling bingung padanya.

"Kenapa tidak pernah?" tanya Lily.

Sirius memutar mata pada James, yang tampak sama bingungnya.

"Karena... pertama, Marauder tidak pernah merasa khawatir tentang cewek," kata Sirius.

Lily mendengus, mengabaikan pelototan ketiga anak laki-laki itu.

"Apa? Jadi kaubilang, kau tidak pernah merasa panik karena Hestia, James tak pernah sekalipun fretted tentangku, dan Remus tidak sedang mencemaskan ini?" tantang Lily, membuat ketiga cowok itu saling pandang.

"Kuulangi, tak seorang pun tahu Marauders pernah merasa khawatir soal tentang cewek," kata Sirius. "DAN, kalau ini tak pernah terjadi, aku juga tak pernah terjerat di kelambu," dia menyatakan. "AKU TAK PERNAH TERJERAT, KELAMBU ITU YANG MAU MEMAKANKU!"

"Aku yakin begitu," seringai Remus, menepuk bahu Sirius.

"Si kelambu iri pada rambutku!"

"Yeah, aku tahu," kata Remus, memutar mata pada James dan Lily, lalu memimpin Sirius keluar kamar.

James menarik Lily agar lebih dekat padanya, tersenyum.

"Ya?" kata Lily, balas tersenyum.

"Aku cuma ingin mengatakan sesuatu," kata James. "Aku tak ingin kau mengenakan gaun hitam dan terbuka di pernikahan kita," dia mengakui.

Lily tertawa.

"Itu kalau kita jadi menikah," imbuh James.

"Tentu saja," goda Lily bersungguh-sungguh. James nyengir. "Kenapa tidak jadi, kalau boleh kutanya?" tanya Lily.

"Aku tak mau ada yang keberatan soal itu," James mengedip, diikuti tawa Lily. James mengulurkan tangannya pada Lily. "Haruskah kita mengawasi Moony?"

"Harus," ujar Lily, menerima tangan James. Berdua, mereka turun dan berjumpa dengan Sirius dan Hestia sedang mengobrol di kaki tangga. "Di mana Remus dan Tonks?"

"Remus dan Tonks, kedengarannya serasi," komentar Hestia.

"Memang," kekeh Lily. "Nah, di mana mereka?"

"Mereka keluar untuk bicara," jawab Hestia, menunjuk lubang lukisan.

Lily masih sempat melihat Remus dan Hestia melewati lubang itu sebelum mengilang.


"Hai," kata Remus canggung, berdiri di luar dekat lubang lukisan.

"Halo, sayangku," kata si Nyonya Gemuk, memainkan bulu matanya pada Remus. Tonks menyipitkan mata menatap lukisannya.

"Masih tidak tertarik," kata Remus, tertawa.

"Gadis kurus memang lebih beruntung," keluh si Nyonya Gemuk.

Remus nyengir dan menarik Tonks menjauh darinya.

"Jauh lebih baik," gumam Remus.

Tonks terkikik. Remus menatapnya, tepat pada saat Tonks juga menatapnya, membuat perut Remus serasa jungkir balik. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

"Boleh kutanya ada apa?" tanya Tonks gugup.

Remus menggigit bibir.

"Tonks, umurmu dua belas tahun."

"Aku tahu?" Tonks mengucapkannya sedemikian rupa sehingga terdengar seperti pertanyaan.

Remus tertawa.

"Maksudku, kau baru dua belas, dan aku tujuh belas. Itu tidak benar," katanya sungguh-sungguh. Giliran Tonks tertawa. "Apa?" tanya Remus.

"Kukira hidungku terlalu besar atau apa," jawab Tonks.

Remus menggelengkan kepala.

"Aku suka hidungmu," kekehnya.

Tonks nyengir.

"Trims, aku bekerja sangat keras untuk itu.

Remus memutar matanya.

"Dasar cewek," desahnya, menggelengkan kepala.

Tonks masih nyengir. "Jadi ini masalah umur, eh?"

"Yeah," kata Remus. Kemudian dilihatnya bahu Tonks menurun. "Tapi aku sangat menyukaimu," tambahnya, membuat wajah Tonks berbinar.

"Sungguh?"

"Ya," kata Remus sungguh-sungguh.

"Bagus, aku juga suka padamu," kata Tonks, menatap mata Remus. Remus balas menatapnya.

"Masih ada lagi," kata Remus keceplosan, lalu buru-buru menekap mulut dengan tangannya. Tonks mengangkat alis.

"Apa?"

"Er..."

"Hidungku besar sekali, kan?" tanya Tonks, matanya mulai berarir.

"Tidak, gadis bodoh," kekeh Remus, menyeka air mata Tonks dengan ibu jarinya. Jantung Tonks berdegup lebih keras sebagai reaksi terhadap sentuhan itu.

"Lalu apa?"

"A-aku... aku..." Remus tergagap, menatap Tonks tak yakin.

Tonks menggelengkan kepala.

"Tidak usah bilang kalau begitu," ejeknya, lalu menarik Remus ke ruang rekreasi.

Remus tertawa.

"Aku mencintaimu," katanya di tengah tawanya, lalu membeku menyadari kata-katanya barusan, karena Tonks mendadak berhenti berjalan dan berbalik menatapnya dengan mata melebar.