I'm Fine
27.
"Not again Draco!" Hermione berseru kesal kemudian memukul tangan suaminya yang mulai bergerak.
"Why Granger? Perlu aku ingatkan lagi kalau kita tidak punya banyak waktu disini?"
Hermione menutup bukunya. "Kenapa kau terus membicarakan hal itu Draco? Memangnya kau tidak ingin cepat pulang? Kau tidak rindu pada Maura?" Hermione bertanya.
"Tentu saja aku merindukan anakku, tapi…" Draco mulai beralasan.
"Draco…" Hermione berseru. "Maura belum pernah berpisah denganku sebelum ini. Kami selalu bersama dari mulai ia lahir sampai sekarang, kau harus mengerti kalau ia mungkin takut berpisah denganku dalam waktu yang cukup lama." Hermione berseru lagi.
Draco terdiam, ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya.
"Ide kalau ibunya pergi untuk waktu lama mungkin asing baginya." Hermione memberitahu lagi.
Draco menghela nafasnya. "Karena itu Hermione.. Karena itu, kita tidak punya banyak waktu dan kau tidak seharusnya menolak permintaanku."
Hermione memukul Draco dengan bukunya.
"Siapa yang membawa buku ke bulan madu Granger?" Draco berseru kesal.
Hermione tertawa lagi. "Draco kita sudah melakukannya empat kali tadi malam dan aku bersumpah kalau pinggangku sakit sekali." Hermione berseru, ia bangun dari kasur. "Bangunlah, aku akan membuat sarapan."
"Aku tidak mau sarapan." Draco berseru kesal.
Hermione menggeleng tidak habis pikir. "Yasudah, silahkan kelaparan"
Mereka berdua berada di pulau pribadi milik keluarga Malfoy di daerah tropis, ia bahkan tidak bisa ikut memilih kemana mereka akan pergi bulan madu, pria dengan nafsu seks berlebihan itu memutuskan mereka pergi ke pulau terpencil agar tidak diganggu orang-orang.
Hermione pergi ke dapur dan mulai membuat sarapan.
"Granger!" Draco berseru dari kamar mereka.
Hermione menghela nafasnya.
"Granger!" Draco berseru lagi.
"Berhentilah berteriak Malfoy!" Hermione berseru kesal.
Tidak lama Draco keluar hanya dengan boxernya dan berjalan ke arah dapur.
"Kenapa kau menyebalkan sekali?" Draco bertanya kesal.
"Duduklah dan sarapan, kalau kau tidak mau maka kau bisa kelaparan seharian." Hermione berseru.
Draco mengerang kesal kemudian duduk juga di meja makan.
"Granger! I want sex! Now!" Draco berseru kesal.
Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya kesal. "Diamlah atau tidak ada sex sama sekali!" Hermione berseru kesal.
Draco diam setelah itu.
.
"Stop reading Granger!" Draco berseru, kali ini Hermione sedang berbaring di teras pondok mereka sambil membaca buku dan menikmati sinar matahari.
Hermione mengehela nafasnya. "Lalu apa yang kau ingin aku lakukan Malfoy?" Hermione bertanya frustasi.
Draco memutar matanya. "Bukankah itu sudah jelas? Kenapa kau masih bertanya."
"Aku kan sudah bilang aku lelah."
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa Granger, kau hanya perlu berbaring dan aku yang akan melakukan semuanya." Draco berseru tidak sabaran.
Hermione menggeleng, ia meletakkan bukunya dan kemudian berdiri. Draco seketika tersenyum lebar, mengira kalau Hermione akan memberikan apa yang diinginkannya dari pagi. Tapi ia salah.
Hermione pergi berjalan ke arah bibir pantai yang tidak sampai lima puluh meter jaraknya dari pondok mereka.
"Ayo berenang saja Draco!" Hermione berseru sambil berjalan ke arah pantai, ia mulai melepaskan kemejanya dan melemparkannya begitu saja, ia kemudian juga melepaskan celana pendeknya dan hal itu membuat Draco terbelalak.
Hermione Granger, oh salah, Hermione Malfoy tidak menggunakan apa-apa di bawah pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan disana Malfoy?" Hermione berseru dari pinggir pantai, kakinya sudah terkena air dan Draco hanya bisa menatapnya tidak percaya.
Terimakasih kepada Merlin sudah menurunkan perempuan ini dari langit.
Draco dengan cepat melepas kaosnya dan berlari ke arah Hermione, tidak akan melewatkan kesempatan merasakan tubuh istrinya dibasahi air laut yang licin dan hangat.
Hermione tertawa melihat ekspresi wajah suaminya dan ia semakin melangkah jauh ke laut dan mulai berenang-renang.
"Hermione." Draco berseru dan ia juga sudah mulai memasuki laut itu, ia dengan cepat mendekat dan akhirnya berada tepat di depan istrinya itu.
"Apakah kau pernah bercinta di dalam air?" Draco bertanya, meraih pinggang Hermione di dalam air dan menariknya mendekat, bisa merasakan lekuk tubuhnya.
Hermione menyipratkan air ke wajahnya. "Menurutmu?" Ia bertanya sinis.
"Tentu saja belum, aku satu-satunya pria yang pernah bercinta denganmu kan? Kalau kita belum pernah melakukannya maka tentu saja kau belum pernah melakukannya." Draco berseru dengan nada puas di dalam suaranya.
Hermioe memutar matanya mendengar nada sombong dalam suara suaminya itu. Ia melepaskan dirinya dari dekapan Draco dan mulai berenang menjauh.
Draco menyeringai lebar, pulau yang mereka tempati sangat terpencil dan Draco yakin tidak ada yang tahu tentang keberadaan ini, ayahnya dulu membeli pulau ini dari pemerintah negara yang memilikinya kemudian memasang mantra dengan radius puluhan kilo meter agar tidak ada yang pernah menginjakkan kaki ke pulau ini selain keluarga Malfoy.
Air lautnya begitu jernih dan jika dilihat dari atas begitu biru, sampai-sampai ia sekarang bisa melihat tubuh Hermione yang tidak ditutupi apa-apa dengan begitu jelasnya.
Draco dengan cepat berenang mengejar istrinya dan dengan mudah meraihnya.
"Kau mau kemana?" Draco bertanya pelan, berbisik di telinga istrinya.
"Aku hanya mengajakmu berenang Draco."
"Well, jika kau hanya mau mengajakku berenang lalu kenapa kau tidak menggunakan pakaian renang?" Draco bertanya, suaranya rendah dan terdengar begitu menggoda. "Akui saja kalau kau ingin menggodaku kan?" Draco berseru lagi, menarik Hermione lebih dekat dan mengunci punggungnya dengan kedua tangannya agar ia tidak bisa melarikan diri lagi.
"Haruskah kita melakukannya?" Draco bertanya lembut, menyentuhkan bibirnya ke leher Hermione.
"Hmmm..." Hermione mendesah dan akhirnya menyerah, ia tersenyum dan mengakui motifnya. "Well, kurasa setelah ini kau bisa membuka jasa detektifmu sendiri Mr. Malfoy." Ia melingkarkan tangannya di leher Draco dan membiarkan pria itu menciumi lehernya.
Draco tertawa pelan mendengar balasan istrinya itu. "Apa kau menginginkanku Hermione?" Draco bertanya tidak lama.
Hermione yang sudah menutup matanya dan hanya menikmati apa yang dilakukan suaminya itu menjawab pelan. "Bukankah sudah jelas, husband?"
Draco tersenyum mendengar Hermione memanggilnya husband dan kemudian membawa mereka ke bibir pantai. Hermione berbaring di sana dan kakinya masih bisa merasakan ombak yang datang sesekali, Draco melepas boxernya yang sudah basah dan kemudian menindih Hermione dengan cepat.
Hermione bisa merasakan tubuh mereka berdua yang basah dan hangat karena air laut dan sinar matahari.
"Diam dan tenanglah, aku akan melakukan semuanya dan istriku yang sempurna tidak perlu melakukan apa-apa." Draco berseru kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Hermione dan menciumnya.
Hermione tersenyum dan meletakkan tangannya di punggung Draco, bergerak ke sana ke mari, merasakan punggungnya yang kokoh dan licin. Tangan Draco bergerak dan menyentuh bagian intim Hermione yang sudah basah, bukan karena air laut tapi karena gairahnya.
"Panggil aku husband lagi." Draco berseru.
Hermione tertawa pelan kemudian mengikuti apa mau suaminya itu. "Husband... Husband... Husband... ayolah, cepat Husband." Hermione tertawa sambil meledek suaminya itu.
Draco tahu Hermione sedang mengejeknya, tapi tidak bisa marah. Tentu saja, siapa yang bisa marah jika berada di dalam posisinya sekarang. Draco menciumnya lagi dan kali ini memposisikan dirinya tepat di atas Hermione.
Hermione bisa merasakan bagian intim Draco yang sudah begitu keras menyentuh bibir bawahnya, ia tidak bisa menahan antisipasi yang terus tumbuh dalam dirinya dan itu membuat Hermione semakin dan semakin basah.
"Cepatlah husband." Hermione berseru tidak sabaran.
Draco tersenyum dan mendorong ke dalam dengan satu kali hentakan, membuat mereka berdua mengerang keras karena sensasinya. Untung mereka berada di pulau terpencil, teriak sekencang apapun tidak akan ada yang mendengar.
Sejak tadi malam Hermione terutama, berteriak lebih kencang daripada biasanya, ia mungkin mengeluarkan semua teriakkan yang ia simpan selama ini karena mereka harus bercinta tanpa suara agar tidak mengganggu Maura.
Tapi di sini, hanya mereka berdua, dan mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan.
"Oh..." Hermione mendesah begitu Draco mulai mendorong lebih ke dalam. Draco berusaha untuk fokus dan mulai bergerak, ia mulai bergerak, maju mundur, mendorong ke dalam, menimbulkan suara yang kencang karena kulit mereka yang basah bertemu.
"Ah... Ah..." Hermione mulai berteriak mencengkram lengan Draco erat saat ia merasakan Draco menyentuh titik sensitifnya. Draco terus bergerak dan bergerak, Hermione tidak lagi tahan akan sensasi dalam tubuhnya. Tangannya melepas cengkramannya dari lengan Draco dan menggengam pasir pantai di sekitar mereka karena tidak ada lagi yang bisa ia genggam.
"Argghhh... Hermione..." Draco mulai mengerang ketika ia merasakan dinding Hermione mulai berkontraksi, bergetar dan menjepit penisnya semakin erat. Hermione mulai tidak bisa menahan dirinya dan pinggulnya bergerak naik.
Draco meletakkan tanganya di kedua sisi pinggang Hermione menahan istrinya dan terus bergerak-gerak penuh nafsu, ia tidak lagi bisa berpikir dan Hermione bahkan bisa melihat mata sivernya dipenuhi sesuatu yang begitu binal.
"Oh... Draco... Draco... Dracooohhhh..." Hermione berteriak keras sekaligus mendesah begitu ia akhirnya sampai di puncak. Tapi Draco belum berhenti, ia terus bergerak, satu kali, dua kali, setelah lima kali dorongan akhirnya Draco tiba di puncak dan mengerang kuat.
Draco menggeser tubuhnya dan berbaring di samping Hermione, mereka berdua mengejar nafas mereka dan menutup mata mereka dari matahari yang bersinar terik.
"Wow..." Hermione berseru tidak lama begitu ia sudah tidak lagi terengah-engah. "Aku selalu bertanya-tanya bagaimana mungkin ini terjadi, bagaimana seks denganmu selalu sehebat ini Draco?"
Draco tersenyum lebar meskipun ia masih menutup matanya, Hermione jarang sekali memujinya, apalagi memujinya karena peformanya saat mereka bercinta.
"Hermione..." Draco bergumam pelan.
"Hmm?" Hermione bertanya, menikmati sensasi hangat matahari di seluruh tubuhnya.
"Sepertinya bokongku terbakar matahari."
Hermione tertawa terbahak-bahak.
.
"Lembut sedikit!" Draco menggerutu saat Hermione sedang memeriksa luka bakar di bokongnya dan seluruh punggungnya.
Hermione terus tertawa dari tadi, berhenti beberapa detik kemudian tertawa lagi. "Draco, bokongmu seperti bokong monyet." Ia berseru.
Draco hanya menggerutu, ia akan segera membalasnya begitu mereka selesai.
Hermione dan Draco sudah kembali masuk ke pondok mereka, mereka sekarang ada di kamar mandi dan Draco berdiri di samping bathtup yang besar, setelah baru saja merendam dirinya di sana dengan air dingin.
"Bagaimana mungkin kau terbakar begitu cepat?" Hermione bertanya.
"Kulitku sensitif Granger." Draco berseru tidak sabaran. "Cepatlah, gunakan tongkatmu dan sembuhkan luka bakarku."
Hermione menusuk pelan bokongnya dengan tongkatnya, membuat Draco berteriak kesakitan tapi kemudian dengan cepat menggumamkan mantra dan luka bakar Draco segera menghilang.
Draco mendesah lega, rasa sakit di seluruh bagian belakang tubuhnya menghilang.
Hermione tertawa lagi.
"Berhentilah tertawa Granger."
Hermione tertawa terus.
.
Maura duduk di kamar kedua orangtuanya, ia duduk diam di kasur, memangku kepalanya sambil memerhatikan acara tv yang diputar di televisi besar di kamar orangtuanya. Chester juga duduk manis di sampingnya.
Di Malfoy Manor yang begitu besar hanya ada satu buah tv, di kamar kedua orangtuanya, itu juga karena ia memaksa ayahnya untuk membawa tv mereka yang besar dari apartement.
Grandmother Cissy meninggalkannya sebentar karena ada yang harus di urusnya, Maura tidak tahu apa itu. Jadi ia ke kamar orangtuanya dan menyalakan tv. Maura sudah bisa berhitung dengan benar, dan menurut hitunganya malam ini adalah malam ketujuh dan seharusnya orangtuanya sudah pulang.
Maura melihat ke arah jam dinding dan kemudian keluar jendela. Hari memang belum malam, mungkin ia masih harus menunggu sampai malam. Maura menghela nafasnya dan berbaring ke kasur orangtuanya yang dingin.
"Chester... jam berapa Mommy dan Daddy akan kembali?" Maura bertanya pada Chester.
"Chester! Jawab aku!"
"Iya, aku tahu kau boneka dan kau tidak bisa menjawab, tapi aku ingin tahu berapa lama lagi sampai Mommy dan Daddy pulang?"
Maura menghela nafasnya lagi, matanya berat dan ia mulai mengantuk, ia hanya bermain sepanjang hari dan bahkan sudah tiga hari ini melewatkan tidur siangnya, Grandfather membolehkannya tidak tidur siang dan ikut membantunya bekerja di kantornya.
Grandfather memberikannya kertas yang dipenuhi garis-garis, kotak-kotak dan angka-angka. Awalnya Maura tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tapi kemudian ia melihat Grandfather melingkari beberapa angka, jadi kemudian Maura mencari angka-angka yang sama di kertas itu dan melingkarinya. Mungkin pekerjaan itu seperti permainan.
Maura melingkari angka-angka yang sama pada hari pertama ia membantu Grandfathernya. Kemudian menghubungkan garis-garis pada hari kedua, dan memberi warna selang-seling pada kotak-kotak di hari ketiga.
Pekerjaan orang dewasa tidak begitu buruk, bahkan lebih mudah dari pelajaran berhitungnya di TK.
Maura akhirnya tertidur di kasur orangtuanya.
Ia bermimpi.
"Bagaimana jika ia kita beri nama Chester Junior?" Maura yang berada di pangkuan ayahnya berseru.
Ayahnya tertawa mendengar itu. "Memangnya adikmu anaknya Chester? Kenapa Chester Junior? Kenapa bukan Draco Junior? Dia kan anak Daddy."
Maura bingung dan kemudian mengangguk-angguk mengerti.
"Jadi kita akan memberinya nama Draco Junior?" Maura bertanya. "Tunggu sebentar, lalu kenapa nama Daddy bukan Lucius Junior?"
Hermione di sisi lain ruangan tertawa mendengar pertanyaan Maura yang jelas pasti membuat Draco bingung menjawab apa.
"Um, karena waktu itu Grandmother tidak mau memberi Daddy nama Lucius Junior dan begitu juga dengan Mommy-mu sekarang."
"Hmm...Kalau Mommy tidak mau nama Draco Junior lalu siapa?" Maura bertanya lagi.
"Bagaimana dengan Scorpius?" Draco kemudian berseru.
"NO." Hermione berseru dari tempatnya, ia sedang duduk sambil membaca buku di dekat jendela.
Maura dan Draco kemudian diam dan berpikir.
"Maura, bagaimana dengan Aiden?" Hermione bertanya pada Maura pelan.
"Itu bagus." Maura tersenyum dan mengangguk.
"Aiden Scorpius Malfoy?" Draco menyarankan, bersikeras akan nama Scorpius.
Maura dan Hermione hanya bisa tertawa.
Maura merasa ada seseorang yang membelai rambutnya pelan. "Maura sayang..."
Maura membuka matanya dan melihat Mommy dan Daddy-nya ada di sana.
"Kalian sudah pulang?" Maura bertanya senang, kantuk segera hilang dari wajahnya. Ia bangun dan segera memeluk Hermione erat. "Mommy aku merindukanmu." Ia berseru dan seketika matanya berkaca-kaca.
"Kenapa kau menangis sayang?" Draco bertanya begitu ia melihat Maura yang sudah mulai sesengukkan di bahu ibunya. Maura melepaskan dirinya dari pelukkan ibunya kemudian memeluk ayahnya sekarang.
"Kalian lama sekali, aku bosan dan takut di sini."
Draco memeluk Maura erat dan menggendongnya berdiri. Menenangkannya dan menepuk-nepuk punggungnya lembut, berkata ia sudah disini dan mereka tidak akan pergi lagi, ia juga membawakan Maura banyak hadiah.
.
"Kenapa kalian harus menutup mataku sih?" Hermione bertanya, ia sedang di tuntun oleh Draco dan Maura ke suatu tempat, Draco membawa Maura dengan saluran floo kemudian membawa Hermione ber-apparating dari Malfoy Manor dan sekarang Hermione tidak tahu dimana mereka berada.
"Baiklah Hermione, kau sudah siap?" Draco bertanya, mereka berhenti di suatu tempat.
Hermione mengangguk dan Draco akhirnya membuka penutup matanya.
"Surprise!" Draco dan Maura berseru kencang. Mereka bertiga sekarang berada di depan sebuah rumah yang cukup besar, sedikit lebih besar daripada rumah Hermione dulu di desa dan tapi tidak begitu besar.
"Apa kita akan tinggal disini?" Hermione bertanya pada Draco.
Draco mengangguk, puas dengan ekspresi wajah Hermione.
"Mommy! Rumahnya bagus kan? Aku yang memilih warna catnya." Maura berseru bangga dengan warna hijau Mint rumah di depan mereka.
"Slytherin." Draco berseru lagi pada Hermione dengan bangga.
"Well, yang satu ini pasti Gryffindor." Hermione berseru menyentuh perutnya.
Mata Draco membelalak.
.
"Grandfather." Maura berseru, berdiri di depan meja kerja kakeknya, ia dititip disini sebentar karena kedua orangtuanya sedang pergi ke St. Mungo untuk memeriksakan kandungan Mommynya.
"Ada apa Maura?" Lucius bertanya.
"Jika Grandfather hanya punya 10 Cinta, berapa yang akan Grandfather berikan padaku dan berapa pada Aiden?"
"Aiden?"
Maura mengangguk. "Mommy bilang adikku laki-laki dan kami bertiga sudah sepakat untuk memberinya nama Aiden." Maura memberitahu. "Jadi berapa banyak Grandfather akan memberiku Cinta?" Maura bertanya seakan-akan cinta adalah barang yang bisa dihitung dengan tangan.
"Well, karena ada Grandmother dan ayahmu dan juga ibumu..." Lucius pura-pura berpikir.
"Empat untukmu, empat untuk Aiden, satu untuk Grandmother dan Ibu dan ayahmu bisa membagi satu Cinta untuk mereka berdua." Lucius berseru, membuat Maura tertawa.
"Jadi Grandfather tidak akan lebih menyayangi Aiden begitu ia lahir kan?" Maura bertanya memastikan.
Lucius tersenyum padanya, memberinya tanda agar mendekat. Maura kemudian naik ke pangkuan kakeknya itu. "Tentu saja tidak, aku akan tetap menyayangimu seperti sekarang Maura, bahkan lebih, jangan pernah taku akan hal itu okay?" Lucius berseru, memberikan keamanan pada cucunya itu.
Maura tersenyum dan memeluk kakeknya erat.
.
"Aiden, Mommy sedang di toilet, tidak bisakah kau tunggu sebentar? Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat susu." Maura berseru panik, Aiden menangis di box bayinya, Mommy-nya sedang di toilet dan Daddy-nya hilang entah kemana.
Maura tidak tahu apalagi yang bisa ia lakukan untuk membuat Aiden berhenti menangis, saat Aiden lahir, ia sudah berjanji untuk membantu Mommynya mengurus Aiden, tapi sekarang ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Maura?" Draco berseru dari depan pintu, ia memegang plastik belanjaan di kedua tangannya.
"Daddy? Kau sudah kembali? Aiden menangis terus dari tadi dan Mommy sedang sakit perut jadi ia terus menerus ke kamar mandi, apa kau bisa membuatkan Aiden susu?" Maura bertanya pada ayahnya dengan panik.
Draco tersenyum pada anak perempuannya itu. Ia meletakkan barang belanjaannya dengan sihir kemudian menggendong Aiden.
"Terimakasih sudah mengawasi Aiden, Maura kau sudah menjadi kakak yang baik sekali." Draco mengelus kepala Maura dan memuji anak perempuannya itu. Ia kemudian menggendong Aiden menuju ke dapur untuk membuat susunya.
Draco sempat kuatir kalau Maura mungkin akan bertindak seperti Spoiled-Brat dan tidak bisa menerima kedatagan adiknya, tapi setelah 7 bulan ini, Maura sudah menunjukkan kalau ia bisa menjadi kakak yang baik sekali, dan hal itu membuat Draco dan Hermione bangga, dan tentu saja mereka tidak pernah lupa memuji anak perempuan mereka itu jika ia melakukan sesuatu yang baik.
.
"Maura, jika kau pergi aku harus bermain dengan siapa?" Aiden bertanya sedih, ia dan keluarga besarnya sedang berdiri di King Cross untuk mengantar Maura pergi ke Hogwarts di tahun pertamanya.
Aiden yang baru berumur enam tahun berseru pada kakak perempuannya itu. Hermione dan Draco tidak pernah menyangka kalau anak mereka akan menjadi pasangan kakak-beradik paling akur di dunia. Mereka nyaris tida pernah bertengkar. Maura selalu mengajari hal-hal yang baik pada adiknya, dan Aiden selalu berusaha menjadi adik laki-laki yang baik dan melindungi kakaknya yang sebenarnya bisa menjaga dirinya sendiri.
Lucius dan Narcissa yang juga ikut mengantar Maura tersenyum melihat interaksi cucu mereka itu.
"Well, kau bisa bermain dengan teman-teman TK-mu." Maura tersenyum dan memberitahu adiknya.
"Tapi aku akan merindukanmu Maura."
"Aku juga akan merindukanmu Aiden, makanya cepatlah tumbuh dewasa supaya kau bisa ikut ke Hogwarts."
"Sudahlah Aiden, jangan terus membuat kakakmu semakin sulit untuk pergi." Draco berseru, ia mendekat dan berdiri di depan Maura.
"Kau ingat kan apa saja pesan Mom?" Draco bertanya mewakili Hermione yang bahkan tidak bisa bicara apa-apa karena terus menangis.
Maura tersenyum melihat ibunya. "Tidur lebih awal dan bangun lebih cepat, jaga kebersihan dan selalu kerjakan tugas secepat mungkin."
Hermione mengangguk pelan.
"Dan kau juga ingat kan apa pesan Dad?" Draco bertanya lagi, ia benar-benar berharap Maura akan memegang erat pesannya.
"Tidak boleh berteman dengan laki-laki. Titik."
Draco mengangguk puas. Ia tidak akan membiarkan siapapun mendekati Princess-nya, sampai mati.
Hermione tertawa pelan di sela-sela tangisnya. "Jangan dengarkan ayahmu sayang, kau boleh berteman dengan siapapun, jangan khawatir." Hermione akhirnya berseru setelah bisa menahan tangisnya.
Maura kemudian memeluk ayah dan ibunya, kakek dan neneknya, kemudian Aiden.
"Baiklah kalau begitu." Maura berseru begitu suara pluit dibunyikan. "Aku pergi, dan aku akan segera mengirim kalian surat begitu jamuan makan malam selesai." Maura berseru.
Maura kemudian menaiki kereta besar itu, ia berjalan ke arah kompartemennya dan mengeluarkan kepalanya untuk sekali lagi mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya.
"Bye!" Maura melambai-lambai dan kereta mulai bergerak.
"Bye Maura!" Aiden berteriak kencang begitu keretanya semakin jauh.
Aiden menangis sambil memeluk ibunya.
.
Hermione dan Draco duduk di depan televisi sambil makan buah, mereka menunggu surat dari Maura datang. Aiden sementara itu hanya berdiri mondar-mandir di dekat jendela, tahu kalau burung hantu milik kakaknya akan datang lewat sini dan ia akan menjadi orang pertama yang membaca suratnya.
Bukan ayahnya dan bukan ibunya.
Tidak lama dugaanya benar.
"Mom! Dad! Surat Maura sudah tiba."Aiden berteriak.
-The End-
