BEWARE! LONG CHAPTER!

Berbahagialah yang sekarang masih sekolah... (tiba-tiba merasa tua... XD *dinuklir*) Ternyata libur panjang itu bisa membuat super bosan... -_- Belum lagi saya setelah ini sudah nggak mungkin ketemu temen2 SMA dan guru2 super gokil di sekolah... T-T *Angsty mode ON* Nggg... yah... tapi sebenarnya lebih enak libur daripada sekolah... XD *dinuklir*

Aneh, entah perasaanku ato nggak, rasanya baru aja update, sekarang sudah update lagi... XD Mesti cepet2 nulis biar nggak ketinggalan sama updatenya, nih...

Hmmm... sebelum mulai membaca, saya mau menjelaskan tentang sesuatu yang mungkin kurang jelas buat sodara... ini tentang chapter sebelumnya yang tentang 'ilmu meringankan tubuh'. Nah, emang apaan sih ilmu meringankan tubuh itu? Bagi yang sudah pernah liat film dari ceritanya Khoo Ping Hoo (mis: Pendekar Rajawali), ato film Putri Huan Zhu pun bisa, ato segala film yang notabenenya China kuno dan banyak silat-silatannya, pasti tahu ilmu meringankan tubuh itu kayak apa. Tapi, bagi yang nggak tahu, bisa dibayangkan ilmu meringankan tubuh itu kayak kalo main di DW Strikeforce... kan ada Chi yang namanya 'Leap' sama 'Spring' yang bisa membuat kita bisa lompat tinggi banget bahkan sampe ke atap (ato biasa malah sampe naik ke tebing... XD). Nah, kira-kira itu dia ilmu meringankan tubuh... ^^

Sekian aja infonya... ^^ Selamat membaca!


"APA???!!!"

Cao Pi berdiri dari tahtanya. Tangannya mengepal keras karena murka. Seorang prajurit yang berlutut di depannya sampai ber-kowtow berkali-kali tanpa berani memandang pangeran itu. Sudah jelas alasannya kenapa Cao Pi marah, karena tawarannya itu ditolak oleh Sun Ce. Tidak hanya itu, utusan yang dikirimnya menurut kabar telah dibunuh.

"Begitulah, Yang Mulia Pangeran..." Kata prajurit itu dengan suara bergetar. "Sepertinya Kaisar Sun Ce sudah menjodohkan Putri Yangmei dengan seseorang. Oleh karena ini dia menolak tawaran Yang Mulia."

Sima Yi yang berdiri se samping Cao Pi langsung menghasutnya dengan lidahnya yang tajam. "Hmph! Memangnya ada laki-laki yang bisa mengalahkan Pangeran Cao Pi?! Sudah jelas Wu ingin menghina dan mencari masalah dengan kita!"

Mendengar hasutan itu, Cao Pi semakin marah. Bahkan sekarang auranya sangat mengerikan, sampai-sampai prajurit malang itu hanya berani menyentuhkan dahinya ke lantai terus.

Sima Yi semakin senang melihat Cao Pi termakan hasutannya. Dia melanjutkan lagi. "Pangeran, Wu sungguh-sungguh tidak tahu diri! Mereka sudah berani mengambil Xu Chang! Sekarang mereka menghina kita luar biasa seperti ini! Pangeran harus melakukan sesuatu jika tidak ingin Wei semakin dihina!" Hasutnya terus-menerus

"Kau benar, Sima Yi." Cao Pi mengangguk mantap. "Tidak tahu bagaimana caranya, putri Wu itu harus kita dapatkan. Siapkan seluruh angkatan perang kita! Seluruhnya! Kita tunjukkan pada Wu siapa Wei itu." Perintahnya. Dengan satu perintah itu, prajurit tersebut langsung undur diri tanpa disuruh dua kali. "Kalau Huang tidak bisa kita dapatkan dengan cara halus, kita pakai cara keras. Kalau perlu, sekalian saja Wu kita ratakan dengan tanah."

--

Tiga bulan telah berlalu sejak pertunangan Lu Xun dan Yangmei, juga sejak surat itu disampaikan. Selama tiga bulan itu, tidak ada kabar apapun dari kerajaan Wei, seolah seluruh kejadian itu tidak pernah terjadi. Di hadapan Lu Xun dan Yangmei, Sun Ce, Da Qiao, dan semua orang yang mengetahui perihal surat itu tidak pernah mengatakan apa-apa. Sama halnya dengan Lu Xun yang selama tiga bulan itu terus-menerus memenuhi apapun permintaan Yangmei, tanpa pernah sekalipun komplain atau mengeluh dan memaksanya belajar seperti biasa. Yangmei yang sama sekali tidak tahu apa-apa merasa sangat senang, bahkan setiap hari kerjaannya hanya bermain-main saja sambil menghitung hari pernikahannya tiba.

Sayangnya, kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Sun Ce, Da Qiao, Zhou Yu, dan Xiao Qiao sedang berbincang-bincang mengenai hal yang telah menjadi beban pikiran setiap orang tersebut. Mereka berkumpul di sebuah paviliun istana utama yang hening dan sunyi, tempat mereka bisa berdiskusi dengan tenang tanpa diganggu oleh siapapun. Sebenarnya sudah berulang kali mereka mendiskusikan masalah ini, namun belum pernah sekalipun mereka menemukan titik temu. Sun Ce dan Da Qiao menceritakan kejadian itu lagi dengan lebih terperinci sementara Zhou Yu dan Xiao Qiao mendengarkan dengan penuh perhatian.

Zhou Yu mengangguk mengerti saat Sun Ce menyelesaikan ceritanya. "Ini benar-benar masalah yang rumit. Dengan menikahkan Meimei dengan Pangeran Cao Pi dari Wei, maka bisa dipastikan Wu akan semakin kuat karena memiliki aliansi dengan Wei. Sementara jika kita menolak, maka bencana sudah di depan mata, tidak bisa dihindari lagi!"

"Jadi, apa maksudmu aku harus menyerahkan Meimei pada Cao Pi?" Sun Ce menyela dengan nada sedikit tidak sabar. "Kau tahu sendiri dengan jelas Meimei sudah bertunangan dengan Lu Xun, dan kau juga sudah tahu pasti bagaimana sifat Cao Pi itu, bukan? Apa yang berbeda dengan ayahnya?"

Tiba-tiba saja Da Qiao dan Xiao Qiao tersentak kaget, kemudian saling berpandangan. "Tidak mungkin... ini... seperti Cao Cao dulu..." Mereka bergumam.

Beberapa tahun yang lalu, Da Qiao dan Xiao Qiao pernah akan dipinang oleh Cao Cao untuk dijadikan selirnya. Kejadian itu hanya terpaut kurang lebih setahun saja setelah pernikahan antara Sun Ce dengan Da Qiao dan Zhou Yu dengan Xiao Qiao. Sekarang, kejadian yang sama terulang lagi, hanya saja yang mengalami adalah anak mereka. Mengingat kejadian ini, Zhou Yu hanya diam membisu.

"Kau sendiri tidak mungkin akan menyerahkan anakmu begitu saja, bukan?" Sun Ce berkata pada Zhou Yu. "Bayangkan seandainya Cao Pi menginginkan Zhou Ying. Apakah anakmu itu akan kau serahkan? Tidak mungkin bukan?"

Setelah terdiam beberapa saat, barulah Zhou Yu sekali lagi mengangkat suara. "Apakah tidak lebih baik kita diskusikan masalah ini bersama Lu Xun saja?"

Semua orang yang mendengar perkataan itu kontan jadi kaget sekali. "Apa maksudmu itu?" Sun Ce bertanya. "Apa jadinya kalau Lu Xun sampai tahu hal ini?"

"Aku mengusulkan demikian karena..." Zhou Yu mendesah. "...karena kelihatannya Lu Xun sendiri sudah tahu akan hal ini!"

"Bagaimana bisa begitu?!" Sun Ce, Da Qiao, dan Xiao Qiao berseru bersamaan, seperti paduan suara saja.

"Coba pikirkan," Zhou Yu mulai menjelaskan. "Lu Xun akhir-akhir ini tidak pernah sekalipun mengurusi hal-hal seperti strategi perang atau memperdalam ilmunya. Sepertinya hari-harinya hanya diisi dengan Meimei dan Meimei saja. Anak serajin dia mana mungkin melalaikan kewajibannya? Beberapa dayang bahkan menggosipkan mereka semakin lama semakin tidak tahu aturan saja. Kadang Lu Xun masuk ke kamar Meimei, kadang Meimei masuk ke kamar Lu Xun. Tentulah ada satu hal yang benar-benar mengganjal hatinya sehingga menyebabkannya ingin melupakan bebannya itu dengan cara demikian."

Ia mengedarkan pandangan satu demi satu kepada Sun Ce, Da Qiao, dan Xiao Qiao, seperti meyakinkan mereka. "Dan yang menjadi 'pelariannya' adalah Meimei. Sekarang, pikirkan, jika orang yang kau sayangi akan direbut oleh orang lain, bukankah kau akan mati-matian melindunginya, dan ingin bersamanya setiap saat? Kalaupun seandainya tidak mungkin untuk tetap bersamanya, bukankah kau ingin menghabiskan waktu-waktu yang ada sekarang mumpung dia masih ada? Inilah yang dipikirkan Lu Xun sekarang!"

Setelah mendengar penjelasan Zhou Yu itu, barulah mereka mengerti dengan jelas. Memang akhir-akhir ini sepertinya Lu Xun terlihat masa bodoh dengan semua urusan yang lain, dan yang ia pikirkan hanya Yangmei dan Yangmei saja. Sun Ce hanya bisa mengangguk setuju. "Jadi, apakah lebih baik kita memanggilnya sekarang?"

Sebelum ketiganya bisa memberi jawaban, seorang kasim datang menghadap. "Salam hormat pada Yang Mulia Kaisar! Semoga Kaisar panjang umur sampai seribu tahun!" Salamnya sambil membungkuk dalam-dalam. Setelah Sun Ce memberi isyarat untuk menerangkan maksud kedatangannya, barulah kasim itu mengangkat kepalanya. "Kaisar, Jendral Taishi Ci dari perbatasan He Fei baru saja tiba untuk menyampaikan laporan!"

Keempatnya bangkit berdiri dengan penuh keterkejutan. "He Fei?!" Mereka memandang kasim itu dengan tajam. "Jendral Taishi Ci kuberi tugas menjaga di He Fei dan dia kembali untuk memberi laporan seorang diri. Tentulah ini adalah laporan yang sangat penting sampai dia menyampaikannya sendiri tanpa mengirim utusan!" Sun Ce menyimpulkan. "Di mana dia sekarang?"

"Dia dibawa ke tabib istana. Saat tiba kemari, sepertinya ia terluka parah." Jawab kasim itu sedikit takut-takut.

Tanpa menunggu lagi, Sun Ce, Da Qiao, Zhou Yu, dan Xiao Qiao segera meninggalkan ruangan melewati orang kasim itu. Keempatnya berlari terburu-buru keluar dari istana utama, kemudian menuju ke gedung tempat para tabib istana. Seperti yang telah disampaikan kasim itu, memang benar beberapa orang tabib sedang mengelilingi tempat pembaringan tempat Taishi Ci. Saat melihat rombongan Kaisar itu masuk, para tabib itu menghentikan pekerjaannya dan memberi hormat. "Salam hormat pada Yang Mulia Kaisar! Semoga..."

"Sudah! Sudah! Tidak perlu salam hormat segala!" Sun Ce berjalan masuk ke ruangan itu, masuk dan melihat keadaan jendral yang terbaring di pembaringan tersebut. "Taishi Ci, bagaimana keadaanmu?"

Taishi Ci berusaha ber-kowtow dengan keadaannya yang seperti itu. Melihat hal tersebut, Sun Ce cepat-cepat menghentikannya, dan Taishi Ci hanya bisa menjawab pelan. "Hamba memang pantas mati, Yang Mulia Kaisar! Sejak beberapa bulan yang lalu, entah kenapa banyak prajurit Wei yang berlalu lalang di daerah Xu Chang dan perbatasan provinsi Yangzhou, namun hamba sama sekali tidak curiga. Beberapa hari yang lalu, rupanya Wei baru saja mengerahkan seluruh angkatan perangnya untuk menyerang kita! Dengan sedikitnya prajurit di perbatasan, kami gagal mempertahankan daerah dari musuh. Sekarang mereka telah masuk sampai ke daerah Shou Chun. Mungkin beberapa hari lagi mereka akan tiba di He Fei!" Sambil berbicara ia berusaha menahan sakit.

Sun Ce mendorong tubuhnya agar berbaring kembali ke pembaringan. "Kau jangan bicara lagi! Keadaanmu sekarang sudah sangat parah!" Kemudian ia menoleh memanggil tabib-tabib itu. "Tabib Bai! Tabib Hu! Tabib Hao! Kalian rawatlah dia dengan benar sampai sembuh!" Ia memberi perintah, dan ketiga tabib itu beserta tabib-tabib lainnya langsung maju dan menolong Taishi Ci.

Sun Ce keluar dari kerumunan itu. Zhou Yu menepuk bahu Sun Ce, kemudian mendesah pelan. "Rupanya bencana memang sudah di depan mata. Sepertinya kita tidak bisa menghindar lagi."

--

Pada saat yang bersamaan, Lu Xun baru saja keluar dari kamar Yangmei. Pemuda itu baru saja selesai bermain dengan kekasihnya itu. Yangmei sepertinya benar-benar kelelahan sehabis bermain, hingga ia tidur siang dengan cepat, meskipun sebenarnya ia masih ingin bermain dengan Lu Xun. Lu Xun sendiri merasakan hal yang sama, terutama dengan beban berat di hatinya itu.

Ia berjalan keluar dari istana utama, melewati taman bunga dan sampai ke bagian terluar istana Jian Ye, tempat tinggal para jendral. Ia bermaksud untuk berlatih bertarung bersama dengan teman-temannya, Ling Tong, Gan Ning, dan Lü Meng. Namun, apa mau ketika ia tiba rupanya ketiga orang itu bukannya sedang berlatih, tetapi malah sedang duduk-duduk di meja batu yang biasanya dipakai untuk bermain xiangji, berbincang-bincang sambil berteduh di bawah sebuah pohon. Rupanya mereka sudah asyik sendiri hingga tidak menyadari kehadiran Lu Xun

"Hai!" Sapa Lu Xun. "Ada apa? Kalian asyik ngobrol seperti dayang-dayang kalau sedang bergosip saja!" Katanya dengan nada bercanda.

"Ini bukan gosip." Kata Ling Tong sambil mengisyaratkan Lu Xun agar duduk di sebuah kursi yang masih kosong. "Apa kau tidak tahu bahwa daerah perbatasan sekarang sedang diserang oleh kerajaan Wei?"

Lu Xun menggeleng sebagai jawaban. Ia mulai merasa curiga.

Lü Meng pun menjelaskan. "Hari ini Jendral Taishi Ci yang diposisikan di Yangzhou baru saja kembali. Keadaannya cukup parah hingga harus dilarikan ke tabib. Keadaan beberapa tentara lain yang kembali juga tidak kalah parahnya. Menurut laporannya, daerah perbatasan telah diserang dan Wei sudah sampai He Fei."

"Orang-orang Wei memang cari mati!" Gan Ning menggebrak meja. "Sekarang, mau apa lagi mereka menyerang kemari? Mau merebut Yangzhou dan Yuzhou lagi?! Apa mereka kira segampang itu merebut kembali apa yang sudah menjadi milik Wu?!"

"Tidak begitu," Lü Meng membalas. "Xu Chang adalah istana yang penting bagi Wei. Kalau mereka ingin merebut Xu Chang kembali, itu hal yang wajar. Tetapi jika mereka sampai mengerahkan seluruh tentara yang begitu banyak hanya untuk provinsi Yangzhou dan Yuzhou, kok rasanya aneh sekali. Apa mereka tidak terlalu terburu-buru?"

Ling Tong mengangguk setuju. "Benar sekali. Mengerahkan tentara sebanyak ini sama saja dengan cari mati sendiri. Pada saat Wei berperang melawan Yuan Shao di Guan Du saja, Wei tidak mengerahkan angkatan perang begini besar. Mereka berhati-hati dan sabar namun teliti. Padahal, kekuatan angkatan perang Yuan Shao tentulah lebih besar daripada kita. Bukankah seluruh angkatan perang Dinasti Han dikendalikan oleh Yuan Shao?" Jelas Ling Tong panjang lebar.

"Jadi menurut kalian bagaimana?"

"Sepertinya Wei menyerang kita untuk satu tujuan." Lü Meng menjawab. "Mungkin untuk menguasai seluruh Wu secara total. Atau, mungkin ada sesuatu yang sangat mereka inginkan dari kita..."

Ling Tong penasaran dengan analisis Lü Meng. "Apa itu?"

"Entahlah." Lü Meng mengangkat bahu, kemudian menoleh pada Lu Xun yang sedari tadi hanya menunduk diam seribu bahasa saja. "Sepertinya kamu lebih mengerti daripada kami, Lu Xun. Katakan pendapatmu."

Lu Xun tersentak kaget. Ia menatap ketiga rekannya itu dengan padangan ragu-ragu, dan khawatir. Apakah ia perlu mengatakan sejujurnya? Ataukah berkata ia tidak tahu apa-apa? Setelah memikirkan berbagai pertimbangan dalam otaknya, ia memutuskan untuk mengatakannya. "Kejadian kali ini mengingatkanku akan banyak hal." Ungkapnya. "Yang pertama adalah cerita yang diceritakan oleh Meimei. Meimei pernah berkata padaku bahwa beberapa saat setelah Kaisar menikahi Permaisuri dan Penasihat Zhou menikahi Nyonya Muda Qiao, Cao Cao begitu menginginkan Permaisuri dan Nyonya Muda Qiao menjadi selirnya. Hampir saja kejadian itu menyebabkan perang."

"Jadi, sekarangpun penyerangan ini hanya demi wanita saja?" Tanya mereka kaget.

"Bukan hanya itu." Jawab Lu Xun. "Kejadian kedua yang kuingat adalah kejadian yang menimpaku di Wujun tiga belas tahun lalu." Saat mengatakannya, ketiga rekannya itu dapat melihat kesedihan dalam matanya. "Waktu itu, Cao Cao pun sangat bernafsu ingin memburuku. Mungkin dua kejadian ini kalau dikaitkan akan memberikan jawaban yang sebenarnya."

Ketiganya hening tanpa dapat mengatakan apa-apa, hanya diam dalam pikiran mereka masing-masing. Beberapa lama kemudian, barulah Lü Meng memukul tangannya, mendapatkan jawaban untuk masalah ini. "Intinya, Cao Cao menginginkan seorang untuk dijadikan selirnya, tetapi ia hanya ingin menjadikan seorang wanita istimewa yang memiliki kekuatan Phoenix saja yang menjadi selirnya. Dengan kata lain, Cao Cao menginginkan Meimei." Lü Meng menyimpulkan.

"Apa?!" Ling Tong dan Gan Ning berseru bersamaan. "Dulu Permaisuri dan Nyonya Muda Qiao! Sekarang Meimei! Apa karena tidak berhasil merebut ibunya, maka sekarang ingin merebut putrinya?"

Lu Xun tersenyum kecil. "Hampir tepat, Jendral Lü Meng. Hanya saja yang menginginkan semua ini bukan Cao Cao melainkan putranya, Cao Pi." Setelah itu barulah Lu Xun mengakui yang sebenarnya. Ia menceritakan mulai dari kesalahan yang dilakukan Yangmei setelah perang di Xu Chang, kemudian tentang surat yang dibacanya dari kasim itu, dan sekaligus alasan mengapa selama tiga bulan ini ia tidak pernah mau lepas dari Yangmei.

"Tapi ada yang aneh dengan hal itu, Lu Xun." Lü Meng mengerutkan dahi. "Jika memang Wei begitu menginginkan Meimei karena dia memiliki kekuatan Huang, kenapa mereka tidak menginginkanmu? Padahal, bukankah kaulah yang pertama mereka tahu sebagai pemilik kekuatan Feng?"

"Karena aku tidak pernah menunjukkannya! Kejadian itu sudah tiga belas tahun yang lalu. Dengan keadaan seperti itu, mungkin mereka berpikir aku pasti sudah mati, atau kalau pun masih hidup mungkin hanya seorang pengembara atau Gaibang saja. Siapa sangka ternyata aku sekarang juga tinggal di istana? Selain itu, Yangmei menunjukkan kekuatan itu terang-terangan, sementara kekuatanku, sampai sekarang pun aku belum melihat wujudnya! Mungkin memang aku tidak punya kekuatan seperti itu."

Ling Tong menepuk bahu Lu Xun. "Kurasa, melihat semua hal yang terjadi sampai hari ini, bisa dipasikan bahwa kamu memiliki kekuatan Feng itu, hanya mungkin kekuatan itu belum 'bangun'. Mengenai Meimei..." Ia mendesah panjang. "Rupanya kesalahan sekecil itu bisa membuat kekacauan sampai seperti ini. Meimei sih tidak mungkin ingin mencelakakan dirinya sendiri dan seluruh Wu ini, tetapi kita semua tahu tabiatnya yang ceroboh dan asal-asalan itu."

"Parahnya, Kaisar, Permaisuri, bahkan Penasihat Zhou sekalipun kelihatannya tidak tahu-menahu alasan kenapa Cao Pi begitu menginginkan Meimei." Lu Xun mendengus kesal. "Dalam surat itu, Cao Pi membujuk Kaisar dengan mengatakan Meimei akan dijadikan istrinya, dan suatu saat akan menjadi Permaisuri Wei. Aku sama sekali tidak percaya dengan tipuan itu! Begitu Meimei diserahkan, ia pasti diperlakukan tidak lebih dari senjata perang saja!" Suaranya mulai dipenuhi perasaan marah dan kecemasan, yang membuat ketiganya bergidik karena kaget.

"Kau jangan berkesimpulan secepat itu." Gan Ning berusaha menasihati. "Bagaimana seandainya Cao Pi memang menginginkan Meimei sebagai istri dan bukan selir? Bukankah ini berarti memperkuat hubungan Wei dan Wu?"

Lu Xun menatap Gan Ning dengan tajam, seolah menangkap perkataannya barusan sebagai penghinaan. "Memperkuat hubungan Wei dan Wu? Memang sejak kapan Wei dan Wu punya hubungan untuk diperkuat? Sejak pertama kali Wu berdiri sampai sekarang, tidak pernah sekalipun Wu berdamai dengan Wei! Cao Cao, pendiri Wei itu, adalah pengkhianat besar yang bermaksud merebut tahta kerajaan Han dengan mendirikan kerajaan Wei ini. Setelah itu barulah muncul kerajaan Shu dan Wu untuk melawan pengkhianat Cao Cao itu dan mengembalikan Kerajaan Han yang agung sebagaimana mestinya! Sayang benar Kerajaan Han kini sudah tidak tertolong lagi karena terus ditekan oleh Wei!" Jelasnya panjang lebar dengan emosi yang berapi-api. Untunglah ia bisa mengendalikan perasaannya. "Selain itu, Cao Pi baru saja menikah dengan Zhen Ji dan mengangkatnya sebagai istri yang nantinya akan menjadi Permaisuri. Mana mungkin sekarang keputusannya dapat diubah secepat itu?! Pasti ini ada hubungannya dengan kekuatan yang dimiliki Meimei!" Tangannya yang sudah terkepal dari tadi nyaris menggebrak meja.

Lü Meng, Ling Tong, dan Gan Ning menatap Lu Xun dengan perasaan simpati. "Kalau begitu, kenapa hal ini tidak kau laporkan pada Kaisar dan Permaisuri?" Tanya Lü Meng. "Apa kau mau menunggu sampai Cao Pi dulu yang muncul di hadapan kalian berdua dan merebut Meimei darimu?"

"Tentu saja tidak!" Lu Xun membentak Lü Meng. Hal ini bahkan membuat dirinya sendiri terkejut, tidak biasanya ia menjadi panik dan kacau seperti ini. "Aku tidak akan membiarkannya menyentuh Meimei, barang hanya seujung rambut pun!" Ia berdiri, kedua tangannya dikepalkan kuat-kuat di atas meja sampai berubah putih. Tekadnya dalam kata-kata itu disertai dengan perasaan amarah. Matanya menatap tajam ke meja batu, seolah di meja batu itu ia dapat melihat wajah Cao Pi yang menyeringai licik ke arahnya.

Ling Tong berdiri. "Kalau begitu, pergilah. Katakan hal ini pada Kaisar dan Permaisuri. Kaisar tidak mungkin tinggal diam kalau tahu putrinya diincar hanya untuk senjata perang. Tidak lama kemudian pasti angkatan Wu ini dikerahkan untuk melawan Wei." Kemudian ia mengangkat sanjiegun yang selalu ia bawa-bawa itu. "Kalau masa itu tiba, tidak peduli seberapa sulitnya lawan kita, aku akan siap membantumu dan Meimei, Lu Xun!" Katanya penuh semangat.

"Aku pun siap kapanpun diperlukan!" Lü Meng berdiri dari kursinya, tersenyum yakin ke arah Lu Xun. "Dengan melakukan hal seperti ini, Wei telah menghina Wu habis-habisan! Menghina Wu sama saja dengan menghina seluruh orangnya, mulai dari Kaisar, Jendral, hingga rakyat biasa! Kalau tahu Wu dihina begini, aku akan siap membela!"

"Hei, kalian jangan melupakan aku!" Gan Ning ikut-ikutan berdiri. "Aku tidak begitu pandai bicara seperti Ling Tong dan Lü Meng! Tapi aku tahu satu hal, kau dan Meimei adalah pasangan yang benar-benar serasi. Sayang sekali kalau Cao Pi yang brengsek itu mau menghancurkan pasangan yang romantis ini! Aku yang tidak punya keluarga ini sudah menganggapmu dan Meimei seperti adikku sendiri! Kalau ada apa-apa terjadi pada seorang adik, mana mungkin kakaknya tidak mau membantu?"

Lu Xun memandangi rekannya satu persatu dengan tatapan heran, tetapi bercampur perasaan senang dan haru. Dalam kata-kata mereka itu ia seperti menemukan harapan dan kekuatan baru. Selain keberadaan Yangmei, dukungan dari mereka adalah hal yang sangat ia butuhkan. Dengan penuh keyakinan ia mengangguk mantap dan berkata, "Baik, aku akan segera mengatakan hal ini pada Kaisar. Tolong kalian jangan beritahu Meimei apa-apa tentang hal ini." Kemudian meninggalkan ketiga temannya itu dan berlari kembali menuju ke istana utama.

Di ruang tahta, Lu Xun menemukan Sun Ce, Da Qiao, Zhou Yu, dan Xiao Qiao yang sedang membicarakan masalah ini dengan seksama. Melihat kehadiran Lu Xun yang tiba-tiba itu, keempatnya begitu terkejut dan tak ayal lagi seluruh pembicaraan tentang penyerangan Wei itu dapat Lu Xun dengarkan seluruhnya. Tak ada gunanya menyembunyikan lagi.

"Kaisar, Permaisuri, Penasihat Zhou, Nyonya Muda Qiao!" Lu Xun bersoja dan membungkuk dengan hormat. "Maafkan kelancangan saya yang sudah berani-beraninya mencuri dengar pembicaraan Anda sekalian!"

Sun Ce menghela nafas. "Sebenarnya kau tidak perlu menutup-nutupi seperti itu lagi, Lu Xun. Apa benar kau sudah tahu semua tentang keinginan Pangeran Cao Pi dari Wei yang menginginkan Meimei menjadi istrinya?" Tanyanya.

Lu Xun menjadi gugup ditanyai seperti itu. Melihat Zhou Yu yang ada di tempat itu juga, tahulah Lu Xun bahwa penasihat itu pasti telah menyadari tingkah lakunya selama tiga bulan ini. Akhirnya, Lu Xun sekali lagi menunduk, dan dengan nada menyesal ia menjawab perkataan Sun Ce. "Mohon ampun, Yang Mulia Kaisar, sebenarnya sejak tiga bulan yang lalu ketika utusan dari Wei itu datang dan mengirimkan surat, saya sudah diam-diam membaca surat itu sebelum para kasim membakar suranya. Mohon Yang Mulia jangan menyalahkan kasim-kasim tersebut sebab ini sepenuhnya adalah kesalahan saya sendiri." Jawabnya jujur. "Dengan kata lain, saya sudah mengetahui dengan jelas seluruh pekaranya, tetapi saya tidak berani buka mulut, apalagi mengatakan hal ini pada Meimei."

"Bisa celaka kalau sampai Meimei mendengar tentang ini." Komentar Permaisuri. "Lu Xun, kaulah yang paling tahu tentang Meimei, bahkan lebih tahu daripada kami. Menurutmu, alasan apakah yang membuat Pangeran Cao Pi dari Wei begitu menginginkan Meimei sampai melakukan penyerangan mendadak begini? Bukankah ia sudah memiliki Zhen Ji sebagai istrinya? Jangankan mengenal, bertemu Meimei pun ia tidak pernah."

"Gadis-gadis di Istana Wei juga tidak sedikit yang rupawan." Tambah Zhou Yu. "Bukankah aneh sekali jika Cao Pi menginginkan Meimei sampai mengerahkan seluruh angkatan perangnya?"

Ditanyai seperti itu, Lu Xun melihat kesempatan untuk mengatakan pendapatnya. Dengan yakin ia menjawab pertanyaan itu. "Wei punya segudang taktik dan strategi kalau dia hanya menginginkan sembarang gadis saja. Tapi jika mereka sampai pantang menyerah dan malah nekat mengirimkan angkatan perangnya dalam jumlah besar hanya untuk mendapatkan Meimei saja, rasanya mereka memiliki maksud lain dibalik ini semua..."

Kata-kata selanjutnya tidak dilanjutkan oleh Lu Xun, sebab Zhou Yu telah membuat kesimpulan. "Berarti, apa maksudmu Cao Pi pun ingin mengangkat Meimei menjadi istrinya dengan alasan yang sama seperti mengapa dulu Cao Cao memburumu? Hanya demi kekuatan Phoenix itu?" Tanyanya pada Lu Xun.

"Sungguh kejam!" Xiao Qiao menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. "Aku tidak menyangka mereka begitu licik! Hanya demi kekuatan Phoenix saja sampai tega ingin merebut tunangan orang! Bukankah itu perbuatan yang sangat biadab?! Ini malah lebih buruk daripada Cao Cao dulu! Lagipula, jika dia menginginkan Meimei karena kekuatan Phoenix saja, bukankah sangat aneh kalau Cao Pi mengangkatnya sebagai istri? Bukankah daripada istri, hanya terlihat sebagai barang saja? Aku hanya takut jika Meimei kita serahkan, maka Cao Pi akan berbuat semena-mena terhadap kita! Tidak hanya itu, mereka bahkan bisa menggunakan Meimei sebagai 'sandera'!"

Lu Xun menatap Xiao Qiao sekilas dengan tatapan terkejut. "Perkataan Nyonya Muda Qiao sungguh telah menyampaikan seluruh isi pikiranku!" Kemudian ia kembali menatap Sun Ce dan Da Qiao yang masih shock mendengar pernyataan dari Xiao Qiao itu. "Kaisar, tidak perlu diragukan lagi, Cao Pi tidak pernah benar-benar menginginkan Meimei sebagai istri sahnya, apalagi untuk menjalin hubungan kerjasama dengan Wu. Jika kita menuruti keinginan mereka, bukannya kita akan lepas dari masalah, malah sebaliknya kita akan semakin terjerat dalam masalah!"

Dalam suara Lu Xun terpendam perasaan khawatir, cemas, panik, dan marah. Baik Sun Ce maupun Zhou Yu mengerti benar perasaan pemuda itu sebab mereka pun pernah mengalaminya beberapa tahun yang lalu. Mereka tahu, cinta Lu Xun pada Yangmei tidak kalah dengan cinta mereka pada istri mereka masing-masing. Pada akhirnya, Zhou Yu hanya bertanya singkat pada Lu Xun. "Jadi, menurutmu kita harus bagaimana?"

Lu Xun melemparkan tatapan memohon pada Zhou Yu, kemudian Sun Ce. Mulutnya terbuka, tetapi ia sepertinya belum bisa menemukan kata-kata yang tepat. Matanya hanya menatap ke lantai saja sementara ia berusaha menjawab. "Kaisar, Penasihat Zhou, baik sebagai tunangan Meimei dan sebagai bawahan Kaisar, saya hanya memiliki satu usulan saja. Meskipun musuh dari Wei begitu besar dan banyak, kita lebih baik mati-matian mempertahankan apa yang begitu berharga bagi kita daripada menyia-nyiakannya." Jawab Lu Xun. "Mungkin Kaisar merasa keadaan ini sangat merugikan bagi kita, dan tidak ada cara lain untuk menghindari malapetaka kecuali menyerahkan Meimei. Saya juga sudah mendengar laporan yang mengatakan betapa besar jumlah angkatan perang Wei yang menyerang kita. Tetapi ada tiga alasan yang membuat saya mengusulkan agar kita tetap melawan Wei saja."

Sun Ce mendengarkan dengan penuh perhatian, begitu juga dengan Da Qiao, Zhou Yu, dan Xiao Qiao. "Alasan apa itu?"

"Alasan pertama," Lu Xun memulai dengan menghela nafas pelan. "Wei benar-benar licik. Mereka tidak akan puas hanya memiliki Meimei. Kalau Meimei sudah menjadi sandera, maka apapun yang mereka inginkan mau tidak mau harus kita penuhi demi keselamatan Meimei."

"Alasan kedua, saya sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya diserahkan pada Wei itu. Saya... saya yakin sekali Anda semua tidak ingin Meimei merasakan hal yang sama dengan saya! Tidak hanya ia akan menderita di sana, ia pun akan merasa dikhianati oleh kita semua." Ungkap Lu Xun dengan penuh perasaan. Suaranya menyiratkan permohonan.

"Dan alasan ketiga..." Ia menggigit bibirnya, bingung lebih baik mengatakan atau tidak. "...adalah sebuah alasan pribadi yang kedengarannya mungkin sangat egois. Lebih baik saya tidak mengatakannya."

Da Qiao memandangnya dengan lembut, namun juga penuh wibawa. "Tidak pelu takut, Lu Xun. Katakan saja." Kata-kata yang singkat itu melenyapkan segala keragu-raguan Lu Xun.

"Terima kasih banyak, Permaisuri." Lu Xun menunduk dalam-dalam. "Alasan ketiga sebenarnya sederhana sekali, tetapi sulit untuk dikatakan. Begini, kedudukan Kaisar dan Permaisuri sebagai ayah dan ibu Meimei tidak mungkin tergantikan oleh siapapun. Hubungan antara orangtua dan anak adalah hubungan darah yang tidak mungkin terputuskan oleh siapapun. Namun lain halnya dengan keadaan saya dan Meimei sekarang. Saya tidak punya hubungan darah apapun dengan Meimei, menikah pun belum. Sekarang Cao Pi datang dan ingin merebut Meimei. Ini... membuat saya sangat cemas dan juga marah." Kata Lu Xun terang-terangan. "Saya hanya khawatir, jika memang Meimei akan diangkatnya menjadi istri, atau selir, atau apapun itu, saya tidak akan punya kesempatan lagi untuk hidup dengannya."

Semuanya mendengar dengan perhatian. Saat Lu Xun menyelesaikan perkataannya itu seluruhnya, mereka hanya bisa berpandang-pandangan saja, sampai tiba-tiba Xiao Qiao tersenyum, dan senyumnya itu kemudian menjadi tawa kecil yang mencarikan suasana yang tegang. "Kau ini sampai mengatakan panjang lebar begitu! Kalau semua perkataanmu disingkat, maka hanya akan menjadi satu kata saja. CEMBURU!"

Mau tidak mau Lu Xun tersenyum kecil mendengar perkataan itu. Ia menjawab singkat saja. "Mungkin, memang itulah alasan yang sebenarnya."

Permaisuri tersenyum hangat ke arahnya, menghargai kejujuran yang telah ia tunjukkan. Rasanya sifatnya yang sangat melindungi ini sangat mirip dengan sifat Sun Ce ketika dulu Cao Cao ingin merebutnya. Dalam hati Da Qiao merasa bersyukur putrinya memiliki calon suami seperti Lu Xun. "Hal itu mustahil terjadi, Lu Xun." Kata Permaisuri lembut, namun tegas. "Kedudukanmu di hati Meimei sama kokohnya seperti Gunung Taishan dan Sungai Huang He. Tidak mungkin akan digeser oleh siapapun. Jangan pernah mengkhawatirkan hal itu." Jelasnya.

Sun Ce bangkit berdiri, kemudian berjalan mendekati Lu Xun. "Kau juga jangan cemas seperti itu. Mana mungkin kami akan menyerahkan Meimei? Justru dari awal aku sudah merencanakan untuk menyerang balas Wei!" Ia menepuk-nepuk bahu Lu Xun. "Wei sudah mencapai He Fei. Tidak ada waktu untuk berlama-lama lagi. Kita akan berangkat secepatnya! Aku pun akan ikut, memimpin penyerangan ini!"

"Mengenai hal ini," Zhou Yu menyahut dari belakang. Sun Ce menoleh ke arahnya. "Saya sarankan Lu Xun dan Meimei tidak ikut serta dalam perang ini. Meimei sudah seperti barang perebutan sekarang. Jika membawanya ke medan perang, sama saja dengan menyerahkannya begitu saja. Sementara Lu Xun lebih baik menemani Meimei di sini, karena kalau tidak Meimei sendiri pasti akan curiga, dan tingkahnya pun akan semakin tak terduga." Jelasnya panjang lebar.

Lu Xun segera membuka mulutnya untuk protes. "Pendapat Penasihat Zhou benar sekali! Meimei memang tidak boleh sampai ikut dalam perang ini! Bahkan mendengar kabar ini pun tidak! Sekali orang Wei melihatnya, maka bencana sudah di depan mata." Katanya mantap. "Namun mana mungkin saya bisa enak-enakkan di istana sementara yang lain ikut berperang? Bagaimana orang lain bisa bertarung menlindungi Meimei, jika saya yang tunangannya saja tidak? Ini bisa merusak moral, Penasihat Zhou!"

Zhou Yu meletakkan tangan di bawah dagu, berpikir keras. "Tapi Lu Xun, kau tahu sekali adat Meimei yang suka sembarang. Jika kau tidak menemaninya, entah apa lagi yang akan terjadi padanya. Bisa-bisa keingintahuannya membunuhnya sendiri!" Penasihat itu mengingatkan.

"Kurasa," Xiao Qiao menengahi. "Lu Xun ada benarnya. Sebaiknya kita tidak memaksanya." Katanya pada Zhou Yu. "Kau juga ingat sendiri, kan, bagaimana kalau kau ada di posisi Lu Xun, sementara aku di posisi Meimei? Pasti kau sendiri mau mati-matian bertarung untukku, bukannya diam-diam saja di dalam istana."

Penasihat itu tidak tahu harus bagaimana menjawab istrinya, tetapi memang ia ada benarnya juga. Bagaimana mungkin ia bisa tenang-tenang sementara kekasihnya dalam bahaya. Tentulah ia akan berjuang, begitu juga Lu Xun sekarang. Pada akhirnya ia hanya menghela nafas panjang. "Benar juga. Tetapi bagaimanapun juga, Meimei tidak boleh sampai ikut! Dia harus dijaga supaya tetap di sini."

Lu Xun mengangguk mantap. Sun Ce tersenyum puas melihat persetujuan mereka, terutama saat mendengar Zhou Yu, Xiao Qiao, bahkan Da Qiao pun bersedia bertarung bersama, diikuti oleh seluruh jendral-jendralnya. Sekarang mereka hanya perlu menunggu tanggal keberangkatan saja sambil mempersiapkan diri.

Namun lain halnya dengan Lu Xun. Masih ada satu masalah lagi yang akan dihadapinya. Bagaimana ia harus mengatakan ia akan pergi berperang meninggalkannya, tanpa mengatakan alasan peperangan yang sebenarnya? Memikirkannya saja sudah membuat Lu Xun pusing.

--

"APA?! Kau bilang kau akan pergi berperang?! Tanpa aku?!"

Tepat seperti dugaan Lu Xun, gadis itu langsung berang mendengar ketika angkatan perang Wu akan berangkat, membawa seluruh jendral atau siapapun yang dapt bertarung di tempat itu untuk melawan Wei. Semua, kecuali dia sendiri. Ia pun segera mengeluarkan sumpah serapah sambil memukul meja berulang-ulang, yang membuatnya tidak terlihat seperti putri sama sekali, lebih mirip seorang istri yang akan diceraikan suaminya.

"Dengar dulu, Meimei," Lu Xun mencoba menenangkan. "Kami tidak bisa mengajakmu hanya sekali ini saja, kok! Lain kali pasti kamu diperbolehkan ikut." Bujuknya.

Yangmei tetap saja tidak mau mendengar apapun. "Tapi ini tidak adil! Sangat tidak adil!" Ia menghentak-hentakkan kakinya. "Memangnya apa yang kulakukan sampai tidak boleh ikut bertarung?! Memangnya aku salah apa?!"

Lu Xun benar-benar bingung harus berkata apa. Tidak, tidak mungkin ia boleh jujur. Tetapi membohongi gadis sepolos Yangmei, bukankah itu suatu dosa besar? Tidak tahan melihat kelakuan Yangmei, Lu Xun akhirnya membohonginya saja, melawan hati nuraninya yang berkata lain. "Begini, Meimei." Ia mencekal tangan Yangmei, dan gadis itu segera menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. "Tentu saja ada alasannya."

"Apa alasannya?"

"Karena..." Lu Xun menghela nafas panjang sebelum menjawab. Ia kemudian pura-pura tersenyum senang, yang membuat Yangmei menatapnya dengan perasaan heran. "... karena semua jendral di tempat ini payah! Yang terhebat hanya kau saja! Karena itulah ayahmu menyuruhmu tidak boleh ikut perang, sebab nantinya pasti semua musuh kau tumpas langsung. Bagaimana dengan jendral dan tentara yang lain? Kalau semua musuh kau tebas, mana bisa jendral kita bertarung lagi? Dan kalau tidak bertarung, maka sampai kapanpun keahlian mereka tidak akan diasah." Ia kemudian tersenyum lebar, menatap Yangmei dengan mata yang dipaksakan supaya terlihat riang. "Nah, apa kamu mau kalau sampai jendral-jendral kita tidak hebat seperti jendral Shu dan Wei?"

Mungkin jika orang lain yang mendengar alasan lain, mereka tidak mungkin percaya. Tetapi ini Yangmei, gadis polos dan lugu yang selalu percaya pada perkataan Lu Xun. Mana mungkin Lu Xun membohongiku? Itulah yang selalu dipikirkannya. "Begitu, ya?" Yangmei mengangguk mengerti. Matanya yang lebar dan bening menatap Lu Xun. Pipinya digembungkan karena kesal. "Ternyata mereka iri dengan kemampuanku! Baiklah! Untuk saat ini, aku tidak akan ikut dan memberi kesempatan pada mereka untuk berlatih! Lain waktu, aku harus ikut!" Tetapi, meskipun kesal, mau tidak mau ia jadi sesumbar mendengar pujian Lu Xun tentang kehebatannya itu bertarung, tanpa tahu sama sekali bahwa ia sedang dibohongi.

Dia benar-benar lugu dan polos... Pikir Lu Xun dalam hati. Dalam hati ia terus-menerus mengumpat dirinya yang membohongi Yangmei. Yangmei gadis yang polos dan selalu percaya padanya. Dan kini, Lu Xun merasa telah mengkhianati kepercayaan Yangmei itu. "Baik. Kalau begitu, kamu baik-baik di istana, ya? Jangan berbuat macam-macam."

"Tapi aku kesepian!" Ia protes. "Apa tidak bisa kalau kamu tetap di sini saja? Kalau tidak boleh ikut, setidaknya aku harus ditemani orang lain supaya aku punya teman!"

"Kan ada Zhou Ying?"

"Zhou Ying beda denganmu!"

Lu Xun menghela nafas. Harus berkata apa ia sekarang? "Apa bedanya? Lagipula, justru dari semua jendral, akulah yang paling payah bertarungnya! Sekarang aku harus ikut, kalau tidak, pasti ilmuku akan sangat ketinggalan dengan yang lain. Kamu tidak mau kan kalau sampai itu terjadi? Apa kamu suka punya suami yang payah?" Tanya Lu Xun sambil memegangi kedua bahu Yangmei erat-erat.

Mata Yangmei yang polos dengan tatapan bertanya itu beradu dengan mata Lu Xun yang memohon, bahkan memaksa. Pada akhirnya, Yangmei menunduk saja, tidak berani menatap langsung mata Lu Xun. "Baiklah... baiklah..." Ia mendesah. "Aku sih tidak peduli kamu bisa bertarung atau tidak. Tapi aku sayang sama kamu, dan aku tidak mau tahu tentang pendapat orang lain. Pokoknya, bagiku, kamu laki-laki paling sempurna!" Katanya sungguh-sungguh dan jujur. "Tapi, kalau menurutmu sebaiknya kamu pergi, ya pergilah. Aku menunggu di sini, jadi kalau nanti kamu pulang, kamu harus semakin hebat, ya?"

Yangmei... gadis yang begitu polos, begitu tidak tahu apa-apa. Gadis yang sangat ia sayangi. Melihat seulas senyum tipis tetapi jelas sekali di bibir Yangmei, Lu Xun tidak tahu harus berbuat apa. Gadis itu manis, benar-benar manis. Semakin melihatnya, semakin Lu Xun tidak ingin meninggalkannya. Tetapi kepergiannya kali ini bertujuan untuk melindungi kekasihnya itu. Matanya mulai terasa panas, tenggorokannya seperti tercekat. Sebelum Yangmei melihatnya, ia cepat-cepat meraih tubuh Yangmei dalam pelukannya. Dipeluknya gadis itu erat-erat, seperti ingin ia masuk dalam hatinya. Bibirnya dekat dengan telinga gadis itu, kemudian ia berbisik pelan sekali. "Terima kasih, Meimei. Terima kasih."

--

Waktu persiapan tidaklah lama.

Setelah beberapa hari mempersiapkan diri, angkatan perang Wu akhirnya telah siap berangkat di depan pintu kotaraja Jian Ye. Ada pasukan berkuda, ada pula pasukan berjalan. Jumlahnya terlihat banyak, belum lagi ditambah pasukan gabungan yang sudah diposisikan di kota-kota lain yang nantinya akan bergabung dengan mereka. Meskipun begitu, jumlah pasukan mereka masih kalah dengan jumlah pasukan Wei. Satu-satunya yang mungkin merupakan kemenangan mereka adalah semangat mereka yang membara. Panji-panji berwarna merah bertuliskan huruf 'Wu' berkibar-kibar ditiup angin. Semua pasukan telah siap dengan senjatanya. Kereta ransum serta perlengkapan lain sudah dikaitkan satu sama lain.

Sebelum berangkat, Lu Xun berpapasan dengan Zhou Ying yang juga ada di sana, bukan untuk ikut berperang melainkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada kedua orang tuanya.

"Zhou Ying." Panggilnya.

Gadis itu menoleh ke arahnya. Ia melemparkan senyum pada Lu Xun. "Ada apa?"

Lu Xun sendiri sebenarnya bingung untuk apa ia memanggil gadis itu. "Aku seharian ini tidak melihat Meimei. Dimana dia?"

Dari perubahan di raut wajah Zhou Ying, Lu Xun merasakan gadis di depannya ini terlihat sedikit kecewa. Bagaimana pun pintarnya Zhou Ying menyembunyikan perasaannya, Lu Xun tetap tahu, tetapi ia pura-pura acuh tak acuh saja. "Entahlah. Mungkin dia bangun kesiangan, jadi tidak dapat memberi salam perpisahan padamu." Zhou Ying menghela nafas. "Aku tahu, ini pasti sangat berat untukmu, juga untuk Meimei. Untunglah dia tidak tahu apa-apa."

Rupanya Zhou Ying pun tahu... Kata Lu Xun dalam hati. Memang tidak heran jika Zhou Ying sampai tahu. Gadis secerdas Zhou Ying mana mungkin melewatkan hal-hal penting seperti ini? Apalagi ayahnya adalah Penasihat Zhou. Tentulah dia pun tahu segalanya. "Zhou Ying, aku takut sampai terjadi apa-apa dengan Meimei kalau tidak berada di dekatku. Tapi, akan lebih berbahaya lagi kalau Meimei ikut. Satu-satunya yang bisa kupercayai hanyalah kau seorang! Tolong jaga Meimei baik-baik sampai aku pulang!" Katanya dengan nada memohon.

Zhou Ying mengangguk. Rupanya memang benar Lu Xun sangat menyayangi Yangmei. "Pergilah dengan tenang." Kata Zhou Ying lembut. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan Meimei. Ada aku di sini." Ia menatap Lu Xun, kali ini dengan penuh perasaan. Lu Xun sama sekali tidak menyadarinya. "Yang penting kau harus kembali dengan selamat. Meimei sangat membutuhkanmu." Bahkan tidak hanya Meimei saja... kata-katanya yang terakhir itu ditelannya kembali dalam hati.

Lu Xun tersenyum sedih, kemudian ia naik ke punggung kudanya. "Terima kasih, Zhou Ying."

Dari tempat yang tersembunyi, Yangmei melihat semuanya ini, tanpa diketahui oleh siapapun. Dahinya berkerut, wajahnya cemberut. Perasaan kesal, bingung, jengkel, semua bercampur jadi satu. Saat melihat Lu Xun seperti itu, rasanya tidak mungkin mereka meninggalkannya hanya untuk berlatih saja. Lagipula, kalau memang Lu Xun menganggapnya hebat, kenapa harus meminta Zhou Ying untuk menjaganya? Zhou Ying sama sekali tidak bisa bertarung! Pikirnya dalam hati. Untuk apa minta Zhou Ying melindungi aku? Katanya aku hebat sekali!

Dari balik pohon tempat ia bersembunyi, ia mengendap-endap keluar. Beberapa menit lagi rombongan itu akan berangkat, dan ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Harus! Matanya dilayangkan ke kiri dan ke kanan, jangan sampai ada yang melihatnya. Kemudian diamatinya rombongan itu, bagaimana caranya untuk menyelinap masuk ke rombongan tersebut tanpa ada yang tahu.

Matanya berhenti saat ia melihat sebuah kereta ransum yang ditarik empat ekor kuda. Kereta itu cukup besar, dan dibawah kain terpal yang sangat tebal itu sepertinya ada banyak sekali barang dan peti. Wajahnya langsung bersinar-sinar saat melihat kereta itu. "AHA!"


Yah, sekian dulu, sodara... cukup panjang, kan? OWWWW... YEAHHHHH!!!! Betapa bahagianya saya sudah bentar lagi nyampe di CLIMAX! (sudah bukan conlik lagi tapi CLIMAX) MWAHAHAHA!!! (nggak penting...)

Alamak... akhirnya Yangmei jadi ikutan perang juga... XDDD bener2 bikin cegek... XDDD

Yah... secuplik chap berikutnya...

"Oh iya!" Mendadak Ling Tong teringat akan sesuatu. "Apa kamu... melihat malaikat hari ini?"

Lu Xun menunjukkan wajah bingung. "Malaikat? Malaikat apa? Dari tadi hanya aku sendirian saja."

"Hmmm..." Ling Tong mangut-mangut, tapi sepertinya dia masih penasaran. "Aneh, tadi ada malaikat yang muncul di depanku dan bertanya dimana tendamu. Aku beritahu saja. Sepertinya malaikat itu tersesat." Kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

"Kamu pasti mabuk, Ling Tong." Lu Xun pun tertawa kecil. "Mana ada malaikat yang tersesat? Dan bagaimana mungkin malaikat menemuiku? Pasti kamu salah lihat! Itu tadi hanya manusia saja, atau celakanya mungkin musuh yang menyamar..."

"Tidak mungkin!" Ling Tong memotong. "Malaikat itu punya rambut berwarna perak, dan mata yang berwarna perak juga! Apa kau kira ada manusia yang seperti itu?"

Sekian! Please R&R! Saya menerima Anonymous Review, kok... ^^