WARRIOR FROM THE HEAVEN

Chapter#29

PERTARUNGAN KAKASHI DAN TIM NYa

Rate: T

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Don't Like Don't Read

Jangan lupa review, favorite follow!

Summary:

Kehilangan kedua orang tuanya menyebabkan dampak besar bagi kemampuan Naruto. Dia kini dirawat oleh salah 1 dan 4 klan sihir terbesar di Kerajaan Konoha, klan Hyuuga dan demi membalas kebaikan klan, mampukah ia membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat.

.

.

.

.

.

.

Chapter sebelumnya:

"Tak kusangka kalau aku akan bertarung melawan Hatake Kakashi yang terkenal di Konoha…"

Seorang laki laki yang mengenakan kacamata datang ke arah mereka dan berhenti tepat di tengah tengah kedua lawan bertopeng yang tersisa. Kakashi mengernyitkan alisnya begitu ia dapat melihat jelas wajah laki laki tersebut. Shion, Sasuke dan Hinata yang tak mengenal wajah tersebut hanya bisa diam tanpa berkomentar. "Jadi begitu…"

Kata Kakashi menatap tajam ke arah pria tersebut sambil menenggelamkan kedua tangan di saku celananya.

"Apa akhirnya kau menyadari siapa White Devil itu…"

Kakashi terdiam sesaat begitu pria tersebut mengeluarkan kata katanya. "Tsunade-sama tak bisa memastikannya tapi dengan kehadiranmu disini… sekarang aku bisa memastikan siapa White Devil sebenarnya…"

Orang tersebut keluar dari balik bayangan menampakkan wajah serta postur tubuhnya yang memiliki tinggi hampir sama dengan Kakashi…

"Kau yakin dengan perkiraanmu?"

"Tentu saja… Yakushi Kabuto…"

.

.

.

.

.

.

Di sudut lain yang ada di kawasan wilayah hutan White Devil Area

NARUTO POV

Sekarang aku berada di dalam hutan besar di kawasan perbatasan Konoha. Tempat itu merupakan hutan sekaligus jalan utama yang menghubungkan Kerajaan dengan sebuah desa kecil tak bernama dengan jumlah ksatria penyihir yang masih sedikit. Karena letak Ibukota sendiri berada tak jauh dari perbatasan, jadi wajar saja bila tak butuh waktu lama untuk kami bisa sampai kesini. Berbeda dengan saat aku dan rombongan Hyuuga berangkat dari timur ke pusat. Jaraknya sangat jauh, sedangkan sekarang hanya membutuhkan waktu tak sampai dua jam untuk sampai ke perbatasan utara.

Dan entah kenapa aku merasa aneh bila harus berada satu kelompok dengan Koyuki-senpai. Aku merasa dia dan Nagato-senpai terlihat memiliki hubungan erat. Entah bagaimana mengatakannya, namun yang kumaksud bukanlah hubungan percintaan atau semacamnya. Mereka lebih terlihat sudah hidup bersama sangat lama.

"Ada apa denganmu, Naruto?"

Tanya Nagato-senpai begitu ia menoleh ke belakang mendapatiku tengah menatapnya intens ketika dia sedang berbincang bincang dengan Koyuki-senpai yang berjalan di sebelahnya.

"T-Tidak ada.."

Jawabku sambil mengalihkan pandanganku ke bawah. Jujur saja aku sedikit bosan dengan perjalanan ini. Shino terpaksa berada di depan memimpin kami karena dia menjadi satu satunya cara kami untuk mendeteksi keberadaan White Devil. Mungkin memang tak seefektif Byakugan milik Neji atau Hinata tapi memilikinya bersama kami mungkin bisa lebih berguna karena yang kita lacak kali ini bukan manusia.

"Bagaimana Shino..? Apa kau mendapatkan sesuatu yang mencurigakan?"

Tanyaku kepada Shino mengalihkan pembicaraanku dengan Nagato-senpai. Shino sedikit menoleh ke belakang. "Serangga seranggaku tak merasakan apapun… tapi aku merasakan sekelompok orang menuju ke arah kita,"

Jawab Shino ketika telapak tangannya menyentuh serangga serangga yang datang kepadanya. Pernyataannya barusan membuat Nagato-senpai dan Koyuki-senpai mengerutkan keningnya. Cara mendeteksi Shino memang tak secepat Hinata namun kuakui memang cukup berguna untuk tim ini karena dia ada disini bersama kami. "Bisa kau pastikan siapa mereka, Shino?"

Tanya Nagato melihat Shino setelah ia saling menatap dengan Koyuki. Tampaknya mereka juga cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Shino barusan. Menurutku sedikit mencurigakan juga karena ada orang masuk ke dalam wilayah ini. Masuk ke dalam hutan ini bahkan memerlukan izin dari Kerajaan Konoha yang artinya bila mereka bisa masuk ke wilayah ini, mereka tak berasal dari Konoha melainkan berasal dari desa kecil setelah melewati hutan ini.

"Bagaimana senpai? Apa kita akan menghadapi mereka disini?"

Tanyaku kepada Nagato-senpai dan Koyuki-senpai. Mereka tampaknya cukup setuju untuk menghadapi pasukan yang datang ke arah kita. Dan menurutku sendiri, aku juga setuju saja bila harus melawan mereka meski aku sendiri masih berada di tingkat Practioner dalam keadaan normal. Dengan jumlah ksatria penyihir yang masih minim di desa itu, kurasa rata rata tingkatan kekuatan sihir para ksatria penyihir disana tak setinggi Konoha.

"Seranggaku tak mengenal mereka… Mereka bukan tim Kakashi-sensei, mereka juga tak mengenakan pakaian yang umum digunakan di Konoha jadi kurasa mereka tak berasal dari Konoha,"

Kata Shino memastikan bahwa… Pertama, mereka bukan tim Kakashi-sensei dan kedua mereka tak berasal dari Konoha seperti dugaanku barusan. Dan kemungkinan memang seperti yang kupikirkan, mereka berasal dari desa itu. "Senpai, kurasa mereka berasal dari desa yang letaknya tepat berada setelah kita melewati hutan ini,"

Kataku mengatakan kesimpulanku yang kuyakini benar. "Jadi menurutmu mereka berasal dari desa kecil itu?"

Tanya Nagato-senpai yang langsung kujawab dengan anggukan pelan. Ada kemungkinan bahwa Kakashi-sensei dan timnya saat ini mungkin juga tengah mengalami hal serupa dengan kami. Yang menjadi pertanyaan di kepalaku, apa yang membuat mereka datang kepada kami? Apa yang mereka inginkan? Ada urusan apa mereka dengan kami? Semoga saja tak seperti yang kami duga, kami tak ingin bila harus bertarung melawan mereka. Kami sendiri tak bisa melawan mereka begitu saja karena desa mereka tak masuk ke dalam wilayah Konoha.

"Kira kira ada urusan apa mereka hingga mereka menghampiri kita?"

Tanyaku kepada Shino, Nagato-senpai dan Koyuki-senpai. Shino jelas sama tak tahunya denganku dan dengan begitu segera kualihkan pandanganku kepada dua senpai yang bersama kami dalam satu tim. Mereka saling menatap seakan mereka tahu sesuatu dan itu memberi tanda tanya di kepalaku. Kurasa mereka memang tahu siapa kelompok itu saat kukatakan mungkin mereka berasal dari desa kecil itu.

"Ada apa, senpai?"

Tanyaku menatap Nagato-senpai sekaligus menyadarkannya dari lamunannya sendiri. Reaksinya benar benar jarang sekali kulihat begitu pula dengan senpai perempuan yang berada di sebelahnya. Koyuki-senpai menatap ke depan. Aku mengikuti arah pandangan senpai cantik itu dan kudengar di sudut gelap yang ada di jalan sana, sebuah suara langkah kaki beberapa orang. "Apa tidak terlalu cepat?"

Tanyaku kepada Shino. Shino juga terlihat heran karena orang orang itu datang lebih cepat dari yang kami perkirakan. "Jadi, bagaimana, senpai?"

Kami berempat segera menghadap ke depan. Suara itu semakin jelas… semakin dekat… "Berapa jumlah mereka Shino?" tanya Nagato-senpai bersiap mengaktifkan sihir di tangan kanannya.

"10 orang…"

END NARUTO POV

.

.

.

.

.

.

Di tempat lain dalam waktu yang sama

Kakashi, Sasuke, Shion dan Hinata masih berhadapan dengan dua lawan yang tersisa sedangkan satu orang lagi datang ke hadapan mereka. Dan ketika orang tersebut menampakkan wajahnnya, Kakashi jelas mengenal siapa dia. "Yakushi Kabuto…"

Laki laki berkacamata yang namanya baru saja disebut oleh Kakashi terlihat menyeringai jahat ketika ia melihat ke sekelilingnya. Para bawahannya sudah dihabisi oleh murid murid Kakashi. Kabuto menatap ketiga murid Kakashi yang masih memasang kuda kuda mewaspadai lawan yang baru saja datang. Mereka bertiga segera tahu jika Kabuto berbeda dengan lawan mereka sebelumnya. "Kakashi-sensei.. Apa kita juga harus bertarung melawannya?"

Tanya Shion menatap sensei yang berada di depannya. Di sampingnya, Sasuke juga sudah siap dengan lingkaran sihir elemen api miliknya sedangkan Hinata mulai mengganti posisi bertahannya menjadi posisi kuda kuda menyerang.

"Kalian bertiga mungkin bisa mengimbangi perlawanan orang yang ada di tengah itu jika kalian bertiga menggunakan kekuatan penuh.. Namun kesempatan kalian tetap kecil, sebaiknya kalian urus saja dua orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya,"

Kata Kakashi menoleh ke arah kedua orang yang berdiri di samping Kabuto. Setidaknya Kakashi tahu kalau mungkin dengan kerja sama, mereka bisa mengalahkan dua orang itu. Dan untuk masalah Kabuto, dia terpaksa harus turun tangan sendiri menghadapinya.

"Kami mengerti, sensei…"

Jawab Shion sebelum akhirnya dia, Sasuke dan Hinata memancing kedua orang itu untuk bertarung di tempat yang sedikit jauh dari sana berniat untuk tak menganggu pertarungan Kakashi. "Kami serahkan orang itu padamu, Kakashi-sensei…" kata Sasuke sesaat setelah dia mengambil langkah pertamanya.

Ketiga orang yang masih berada dalam pengawasan Akademi itu meninggalkan senseinya dengan Kabuto. Mereka sudah sepenuhnya menyerahkan orang itu kepada Kakashi dan mereka kebagian jatah untuk mengalahkan kedua orang yang mengikuti mereka sejauh ini dari belakang.

"Kau yakin akan membiarkan mereka melawan dua orang itu? Aku tidak tahu kualitas mereka tapi kedua orang itu sudah berada di tingkatan Spirit level atas.."

Kata Kabuto menatap Kakashi setelah ia sempat melihat ketiga murid Kakashi yang sudah pergi lebih dulu. "Kenapa tidak? Mereka murid muridku.. Jika mereka sungguh sungguh, bahkan mereka bertiga bisa mengalahkanmu,"

"Tolong jangan bandingkan aku dengan murid murid itu, Kakashi.. Kau terlalu merendahkan,"

Kakashi mengerutkan keningnya. "Kau yang terlalu merendahkan mereka… Mereka itu berbeda.. Apa kau tak pernah mendengar Talent's From Heaven!?"

Kini giliran Kabuto yang mengerutkan keningnya. "Bukankah mereka generasi bakat langit yang kerap dibicarakan itu?"

"Benar… Dan dua dari tiga murid itu adalah salah satu dari generasi itu,"

Kabuto kini membulatkan matanya terkejut. Tak menyangka dirinya akan bertemu dengan Kakashi dan murid murid dari generasi terkenal itu. "Uchiha Sasuke dan Miko Shion.."

"Uchiha!? Jadi anak laki laki itu berasal dari Uchiha?" tanya Kabuto yang kini benar benar dibuat tertarik dengan yang dibicarakan oleh Kakashi.

"Apa yang kau pikirkan? Jangan harap kau bisa mengambil mereka dan memberikan mereka pada Tuanmu…"

Kata Kakashi mengingatkan Kabuto dan mulai mengaktifkan lingkaran sihir di tangan kanannya. Sebuah lingkaran sihir elemen petir yang memiliki serangan dengan penetrasi yang luar biasa, setidaknya lebih tajam daripada keempat elemen lainnya. "Kau bisa merasakan elemen petirku sebelum mencoba mengambil mereka,"

"Fufufu.. Aku sendiri tak yakin masih hidup bila elemen petirmu menusukku,"

Jawab Kabuto mundur selangkah. Dia terlihat mengambil kuda kuda. Dikeluarkannya sebuah pisau bedah untuk operasi dari tempatnya menyimpan senjata di saku celana. Kabuto menyeringai jahat sebelum ia memulai pertarungannya dengan Kakashi. "Bisa kita mulai saja?"

Tanya Kabuto menantang. Dengan segera, Kakashi mengaktifkan elemen petir miliknya sambil masih memasang Sharingan miliknya.

"Thunder Style: Lightning Blade!"

Mirip dengan Chidori milik Sasuke hanya berbeda nama dan sedikit berbeda caranya menggunakannya. Kakashi menggunakan kumpulan energy elemen petir di tangan kanannya menyerupai sebuah pedang yang siap menusuk lawannya. Dia berlari ke arah Kabuto dengan kecepatan tinggi yang kita tahu bahkan tak mungkin bagi Naruto, Sasuke ataupun Shion untuk menyamai kecepatan itu.

BZZZT BZZZT SREEETTTT

"Hampir saja.."

Kabuto berhasil menghindari serangan Kakashi barusan meski pakaiannya sedikit robek karena terkena elemen petir milik Kakashi barusan. Tiba tiba saja dari tangan kiri Kabuto muncul sebuah cahaya biru, bukan sebuah sihir elemen melainkan sihir lain.

"Forbidden Magic: Magic Energy Dissection Blade!"

VUUUUUNNNNNGGGG

FUTSSS

Kakashi dengan cepat menghindari serangan berbahaya dari Kabuto dan memberikannya sebuah tendangan sesaat setelah menghindar.

BUAAAKKKHHH

Kabuto menahannya dengan kedua tangan meski akhirnya pun dia terdorong cukup keras. Tendangan Kakashi barusan meninggalkan bekas luka di kedua tangan Kabuto. "Ukhh… Serangannya memang berbeda sekali.."

"Fire Style: Fire Blast!"

BWOOOOOOOSSSSSHHHH

Memang benar benar berbeda sekali bila dibandingkan dengan milik Sasuke ataupun Naruto yang memiliki Blaze Commandement. Sihir milik Kakashi memiliki dampak yang lebih besar seiring besarnya tingkatan kekuatannya.

'Dia tidak memberiku kesempatan..'

Batin Kabuto ketika ia berhasil menghindari serangan elemen api milik Kakashi. "Jangan kira aku akan memberikanmu kesempatan, Kabuto.."

Kakashi benar benar tak berniat memberikan Kabuto kesempatan. Terbukti dengan tindakan nya sekarang… Dia sudah berada di belakang Kabuto dengan Lightning Blade miliknya. Bahkan Kabuto sama sekali tak menyadari kalau Kakashi sudah ada disana sedangkan padahal di hadapannya masih ada satu Kakashi lagi. 'Shadow Clone Magic?'

Kabuto benar benar terkejut ketika menemukan Kakashi yang asli berada di belakangnya sedangkan yang ada di hadapannya adalah sebuah sihir klon bayangan.

BZZZTTT BZZZT BZZZZT

"Arrrggghhhh!"

Kabuto berhasil menghindar meski tubuhnya sempat tertebas sedikit di lengan kanannya. "Sejak kapan?"

Tanya Kabuto sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah darah terkena serangan Kakashi barusan. Dan saat itu pula dia teringat dengan sihir elemen api yang digunakan oleh Kakashi tadi. Dia mungkin mengalihkan perhatian Kabuto dengan elemen api tersebut. Lalu di saat saat terakhir aktivasi sihir tersebut, Kakashi menggunakan Shadow Clone Magic.

"Benar benar licik…"

Kata Kabuto yang masih dapat menyeringai jahat meski keadaan tubuhnya sekarang benar benar tak menguntungkan baginya. Kakashi hanya memberikan tatapan tajam kepada Kabuto. Perlahan lahan dia mengerutkan keningnya ketika Kakashi menyadari sesuatu yang salah pada tubuhnya. "Ternyata kau lebih lincah dari yang kuduga.. Sharingan milikku bahkan tak menyadarinya,"

Seketika itu pula, Kakashi tak bisa menggerakkan bahu kirinya dengan baik. Seakan mati rasa, dia benar benar tak bisa mengalirkan perintah dari otaknya ke bahu kirinya.

"Forbidden Magic: Body Energy Dissection Blade…"

Kabuto baru saja memutus saraf bahu kiri Kakashi dengan serangannya di sela sela dia menghindari serangan Kakashi tadi. Mengagumkan karena dia masih bisa menyerang Kakashi meski dalam kondisi terdesak seperti itu.

"Tidak seperti sebelumnya… Magic Energy Dissection Blade kugunakan untuk memutus aliran sihir sedangkan sihir ku yang barusan kugunakan untuk memotong sarafmu.."

Kata Kabuto mencoba menghentikan pendarahan di tangannya dengan menggunakan sebuah sihir. Lingkaran sihir terbentuk di tangannya yang lain. Sebuah sihir penyembuh yang bisa dikatakan cukup efektif untuk menghentikan pendarahannya.

"Healing Magic… Apa sihir itu kau gunakan untuk Tuanmu?"

Tanya Kakashi masih mencoba menggerakkan bahu kirinya namun ternyata usahanya sia sia saja karena sarafnya benar benar sudah terputus. "Bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan ini?"

Tanya Kabuto sambil memakan sebuah pil yang dikeluarkannya dari wadah kecil di sakunya. "Pil penambah darah.."

Dan sekarang Kakashi benar benar tidak diuntungkan meski sudah jelas dia berada dalam tingkatan yang jauh melebihi Kabuto, namun dengan serangan Kabuto barusan membuatnya mampu membuat peluang lebih besar untuk mengalahkan Kakashi.

"Kurasa aku akan lebih serius lagi di sesi pertarungan kita yang berikutnya ini,"

Kata Kakashi masih berniat melanjutkan pertarungan. Bahkan meski jelas dia kesulitan bertarung dalam kondisinya kini, tapi tak terlihat sama sekali keraguan di matanya. "Mungkin hari ini aku akan membunuh Hatake Kakashi,"

Kata Kabuto dengan seringaian jahat. Kakashi hanya terpejam mendengarnya. Seolah dia tak mempedulikan apa yang dikatakan Kabuto barusan. Dia hanya menganggapnya angin lewat, mungkin dia meragukan perkataan Kabuto. "Kurasa tidak…"

BZZT BZZT BZZT

Perlahan sebuah lingkaran sihir muncul di pijakan kaki Kakashi. Semakin lama diameter lingkaran sihir itu semakin besar hingga mencapai pijakan Kabuto. Kabuto Nampak melirik ke bawah melihat lingkaran sihir yang ada di kakinya. Dia sama sekali tak terlihat takut meski lingkaran sihir itu milik lawannya. Mungkin dia terlalu percaya diri karena lawannya sudah terluka berat. "Untuk mengalahkanmu… aku hanya butuh satu serangan…"

"Apa ini…?"

Tanya Kabuto menoleh ke arah Kakashi yang tengah mengangkat tangannya ke langit. "Kau tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkanku bahkan tanpa bahu kiriku," kata Kakashi.

Kakashi tersenyum melihat ekspresi terkejut Kabuto. Kabuto segera meresponnya dengan bersiap keluar dari dalam lingkaran sihir itu namun dia tampaknya terlambat karena lingkaran sihir di pijakan tanah mereka sudah semakin melebar…

"Thunder Style: Blue Heaven, Lightning Judgement…"

"Sialan!" Sebuah kilatan cahaya dalam sekejap menimpa lingkaran sihir itu. Tak hanya menimpa Kakashi namun juga menimpa Kabuto. Bagi Kakashi tak masalah untuk menerimanya karena dia memiliki kekebalan terhadap sihir elemen petirnya sendiri sedangkan bagi Kabuto yang tak memiliki pertahanan…

.

.

.

.

.

.

Seharusnya sekarang Sasuke, Shion dan Hinata masih sibuk berlari memancing kedua orang bertubuh besar di belakang mereka. Tapi sebuah kilatan cahaya muncul dari arah mereka pergi tadi. Sasuke, Shion dan Hinata secara refleks langsung menoleh ke arah belakang. Mereka sadar betul bahwa kilatan cahaya biru itu berasal dari tempat sensei nya berada. "Kilatan cahaya barusan?"

Tanya Shion mengerutkan keningnya sedikit terkejut kemudian dia menoleh ke arah Hinata. Hinata segera mengangguk paham begitu dia mendapat sebuah tatapan dari Shion.

"Byakugan!"

Hinata segera menelusuri ke belakang dengan Byakugan miliknya. Melewati banyak pepohonan hingga akhirnya matanya sampai ke area pertarungan sensei nya. Kepulan asap yang muncul setelah kilatan cahaya itu tak menganggu Byakugan nya namun yang membuatnya panik adalah dirinya tak menemukan sosok Kakashi dan lawannya disana. "Bagaimana?"

Tanya Sasuke menoleh ke arah Hinata sedangkan di belakang mereka, kedua orang yang masih mengikuti mereka mencoba menguping pembicaraan Sasuke dan Hinata.

"Aku tidak menemukan sensei dan laki laki berkacamata itu disana…"

Jawab Hinata sedikit mengejutkan Sasuke dan Shion. Sasuke dan Shion saling menatap kemudian membuat keputusan entah bagaimana caranya. Sasuke dan Shion menghentikan langkah mereka dan membalikkan tubuh menghadap ke arah kedua orang yang mengejar mereka bertiga.

"Kenapa kalian berdua berhenti?"

Tanya Hinata ikut membalikkan tubuhnya. Kedua orang yang mengejar mereka juga turut berhenti. "Kalian mau bertarung disini?"

Tanya salah satu dari kedua orang itu. Sasuke dan Shion tak menjawab pertanyaan mereka dan sibuk menciptakan lingkaran sihir di tangan mereka. "Apa kalian benar benar yakin memilih tempat ini sebagai tempat kalian mati?"

"Sayangnya tempat ini bukanlah tempat kematian kami…"

Kata Sasuke mengaktifkan elemen petir di tangan kanannya. Dan disampingnya Shion mengaktifkan elemen api di tangannya. Nampaknya Sasuke berniat memberikan serangan jarak dekat diikuti Shion yang akan memberikan serangan dari jarak jauh. "Kita bagi.. Kau hadapi yang di sebelah kiri, aku akan urus orang yang tadi menyerangku!"

Tanpa aba aba, Sasuke segera melesat ke lawan yang dimaksud. Dia menusukkan elemen petirnya kepada orang tersebut, sayangnya elemen tanah milik lawannya sedikit lebih kuat meski akhirnya dinding elemen tanah itu hancur juga terkena serangan Sasuke.

"Earth Style: Earth Fist!"

BUAAAAAKKKKKKHHHH

"Uaaaakkkhhhh!"

Lawan Sasuke memberikan pukulan telak kepadanya mengakibatkan dia harus tersungkur di tanah dalam satu serangan. Lawannya hanya menyeringai jahat mendapat Sasuke sudah jatuh sambil memegangi perutnya yang baru saja menerima pukulan itu.

"Illusion of Destiny: Change The Rule…"

"Memory Bringer, Fire Style: Fireball Breath!"

BWOOOSSSSHHHHH

Shion menyemburkan bola api kepada lawan Sasuke sedangkan ia bahkan tak sadar kalau lawannya sudah berada di belakangnya bersiap menghantam dirinya. Lawan Sasuke sempat terkena sedikit bola api itu namun tak mempengaruhi secara garis besar. Yang menjadi masalah Shion sekarang adalah lawannya yang sudah berada di belakang Shion. "Celaka.."

"Habis kau gadis manis!"

"Hidden Magic of Hyuuga: Byakugan Style, Destroyer Wind Palm!"

BLAAAAAARRRRRR

Hinata memberikan serangannya kepada orang tersebut hingga lawannya terlempar menghantam pepohonan hingga pohon itu tumbang seketika. Memang harus diakui bahwa serangan Hinata tak sekuat Neji namun jangan lupa bahwa dia adalah salah satu yang terbaik di Hyuuga untuk seusianya.

"Boleh juga…" kata Shion kepada Hinata.

"Memory Bringer, Thunder Style: Lightning Spear!"

Shion kembali meniru elemen petir milik Sasuke. Dia menciptakan sebuah replika tombak kilat milik Sasuke yang sebelumnya pernah dilihat olehnya. Tak tanggung tanggung, dia membuat dua tombak dan melemparkannya ke arah lawannya yang sudah jatuh tersungkur ke tanah setelah menghantam pohon.

BZZZT BZZZT

JLEB JLEB

CTARRR

Aliran listrik besar segera mengaliri tubuh lawan Shion. Dengan ini dia bisa memastikan kalau lawannya sekarang hanya tinggal lawan yang sudah menumbangkan Sasuke disana. "Berhenti! Dia lawanku!"

Kata Sasuke menghentikan langkah Shion. Belum sempat Shion menjawab, Sasuke sudah bangkit sambil menatap tajam ke arah lawannya yang bertubuh lebih besar darinya.

"Aku yang akan membunuhnya!"

Kata Sasuke berlari menghampiri pria bertubuh besar itu dan memberikannya beberapa pukulan sia sia karena dapat ditahan dengan mudah oleh pria bertubuh besar itu. Jujur saja, perbedaan kekuatan fisik dari keduanya sudah terlihat.. Sulit bagi Sasuke untuk mendesak lawannya apabila dia mengandalkan fisiknya.

"Kau yakin ingin melawanku dengan serangan fisik lemah semacam ini?"

Tanyanya sambil menendang tubuh Sasuke di bagian ulu hati. Sasuke membungkuk ketika menerima tendangan dari lawannya. Jujur saja, tak hanya kuat dalam kekuatan fisik namun dia juga memiliki kecepatan yang bagus. "Jangan samakan aku dengan orang yang baru saja kalian bunuh dengan satu serangan elemen angin itu,"

Kata laki laki besar itu sambil menunjuk ke arah temannya yang sudah tak berdaya. "Namaku Jirobo.. Dan aku adalah salah satu bawahan Orochimaru-sama yang terkuat,"

Shion terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh pria besar itu. 'Orochimaru?'

"Ukkhhh…"

Dia barusan menyebutkan namanya… Jirobo… Dia mengangkat kerah Sasuke sekaligus mengangkat tubuhnya. Sasuke tampak merintih kesakitan setelah menerima serangan dari pria besar itu. "Jangan kau kira, kau hebat… Kurasa usia kita tak jauh berbeda, mungkin orang orang yang kalian kalahkan tadi lebih tua dariku tapi dalam level kekuatan tampaknya aku jauh lebih kuat,"

"Berisik!"

DUAAAAKKKKHHH

Sasuke membenturkan kepalanya ke kepala Jirobo hingga Jirobo terjatuh saking kerasnya Sasuke membenturkan. Tentu benturan itu memberikan luka pada kepala Sasuke namun dia bisa lolos dari jeratan pria besar itu. Pemuda Uchiha itu segera melompat ke belakang beberapa meter mencoba menjaga jaraknya dengan Jirobo.

"Fire Style: Fireball Breath!"

BWOOOOSSSSHHHH

Sasuke menyemburkan bola api dari lingkaran sihir yang ada di hadapannya. Shion dan Hinata tampak menghalangi cahaya apinya agar tidak menyilaukan mata sedangkan Jirobo tengah menepukkan kedua telapak tangannya kemudian terciptalah sebuah lingkaran sihir elemen tanah.

"Earth Style: Rock Wall!"

BWOOOOOOSSSSSHHHH

Bola api Sasuke bisa diatasi dengan dinding elemen tanah milik Jirobo. Tapi dia tidak tahu niat tersembunyi Sasuke yang sudah berada di hadapannya setelah dinding elemen tanah itu menghilang. "Terima seranganku!"

Sebuah cahaya biru muncul dari tangan kanan Sasuke yang otomatis membuat Jirobo terkejut begitu menyadarinya. Sebuah kilatan kilatan petir di tangan kanan Sasuke sudah siap melubangi tubuh Jirobo yang tak memiliki perlindungan sama sekali. Sedangkan Shion dan Hinata hanya menonton dari belakang tanpa memberi dukungan.

"Thunder Style: Chidori!"

ZRAAAAAAATTTTTT

Tampaknya serangan Sasuke sedikit meleset karena Jirobo menghindar. Meski begitu Sasuke berhasil menusuk bahu kanan Jirobo dengan serangannya hingga mengakibatkan darah segar mengalir keluar dari tubuh Jirobo. "Uaaakkkkhh…"

Jirobo memuntahkan darah segar dari mulutnya sedangkan cahaya biru di tangan Sasuke sudah menghilang dan kini tangannya yang ia gunakan untuk menusuk lawannya sudah ia cabut dari sasarannya hingga meninggalkan lubang di bahu kanan Jirobo. Tangan kanan Sasuke diselimuti oleh darah.. bukan darahnya melainkan darah lawannya. Cipratan darah di wajahnya juga semakin membuatnya terlihat menakutkan di hadapan lawannya. Sasuke tersenyum sinis melihat Jirobo yang sekarat. "Kurasa kita tahu siapa yang terkuat di antara kita… Jangan hanya karena kau berada di tingkatan Spirit, kau bisa mengalahkanku dengan mudah,"

Jirobo terduduk di tanah menghadap Sasuke yang memandangnya rendah kali ini. "Pertarungan bukan hanya soal seberapa jauh tingkatan kekuatan… Mungkin memang tingkatan kekuatan berperan besar dalam pertarungan namun jangan lupa tentang strategi pertarungan dan tekhnik pertarungannya,"

"Ukkhh… Sialan… Si-siapa kalian sebenarnya? Uhuk!"

Shion dan Hinata berjalan ke arah Sasuke hingga pijakan mereka sejajar di samping pemuda Uchiha tersebut. "Kami adalah murid Akademi Konoha… Ingat namaku baik baik sebelum kau mati…"

Kata Sasuke menarik rambut kepala Jirobo memaksanya untuk menatap mata Sasuke. Sasuke memejamkan matanya sejenak sebelum kemudian membuka kembali matanya yang sudah terpasang Sharingan. Jirobo jelas terkejut melihat mata merah itu. "Namaku Uchiha Sasuke…"

Kata Sasuke dengan nada dingin namun juga terdengar sangat mengintimidasi.

"Akan kubunuh Tuan mu itu beserta White Devil yang ada di hutan ini…"

Kemudian Sasuke menjatuhkan Jirobo ke tanah sebelum akhirnya dia, Shion dan Hinata pergi meninggalkan Jirobo yang sudah sekarat disana. "Kita kembali… Kita harus mencari Kakashi-sensei," kata Shion sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Sasuke dan Hinata yang masih sibuk menatap Jirobo.

"Baik," jawab Hinata menuruti perintah Shion sedangkan Sasuke tak menjawab. Dia hanya turut berjalan mengikuti kedua gadis di depannya.

.

.

.

.

.

.

Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda meski masih dalam satu kawasan yang sama

Naruto, Nagato, Koyuki dan Shino sekarang tengah bersantai santai setelah menghabisi semua lawan yang datang kepada mereka. Koyuki tampak berdiri di permukaan tanah sedangkan Nagato sedang berdiri di atas dahan pohon, Shino tengah bersandar di pohon sedangkan Naruto sedang duduk di atas lawan yang baru saja dihabisinya. "Cukup menyita waktu juga…"

Kata Nagato berpendapat setelah mereka menghabisi semua lawannya. Awalnya mereka tak menyangka bila bala bantuan lawan akan datang hingga mengakibatkan mereka harus bertarung melawan sekitar 20 orang lebih.

"Tapi hanya tiga dari mereka yang memiliki tingkatan kekuatan di atas Practioner level 5, itupun masih kurang karena ternyata mereka tak memiliki keahlian bertarung yang setara dengan murid Akademi.."

Kata Shino dengan nada datar saat ia melihat Naruto yang bangkit setelah duduk di tubuh lawannya.

"Mereka tak menguasai sihir sihir yang memiliki kelas A atau B.. Kebanyakan hanya sihir kelas C atau D,"

Tambah Naruto sambil menenggelamkan satu tangannya di saku celana. Naruto menatap Nagato yang berada di atas dahan pohon yang besar. "Selanjutnya kemana kita akan pergi, Nagato-senpai?"

"Jangan tanya aku dulu.. Lebih baik kita tanyakan kepada Shino terlebih dahulu,"

Jawab Nagato segera menoleh ke arah Shino. Otomatis, Naruto pun ikut menoleh ke arah Shino yang masih diam bersandar santai.

"Sebelum kita mencari lagi… Aku memiliki berita baru.."

"Apa itu?" tanya Koyuki menanyakan berita yang akan disampaikan Shino.

Shino menyentuh serangga serangga yang datang kepadanya. Lama kelamaan semakin banyak serangga yang datang kepadanya. Dia seperti mengajak bicara kepada serangga serangga itu karena maklum saja memang seperti itulah sihirnya. "Telah terjadi pertarungan di titik lain di kawasan hutan ini,"

"Pertarungan? Apa tim Kakashi-sensei?"

Tanya Naruto mengernyitkan alisnya. Shino menjawabnya dengan anggukan lalu segera menoleh ke arah Nagato yang masih berada di tempatnya. "Bagaimana kondisinya.. Apa serangga seranggamu juga memantaunya?"

"Tampaknya mereka memisah pertarungan… Kakashi-sensei berhadapan dengan seseorang sedangkan Sasuke, Shion dan Hinata menghadapi bawahan dari seseorang yang di lawan oleh Kakashi-sensei,"

"Siapa orang itu? Apa kau mengenalnya?"

Tanya Naruto kembali menatap Shino. "Aku tidak tahu sampai disana… tapi yang jelas sekarang serangga seranggaku tak menemukan keberadaan Kakashi-sensi di manapun di kawasan hutan ini,"

Setelah mendengar cerita dari Shino, mereka langsung menoleh ke arah Nagato meminta keputusan karena ia merupakan Ketua dalam tim ini. Nagato tampak berpikir sambil mencubit dagunya. "Kurasa lebih baik sekarang kita temui Sasuke, Shion dan Hinata sebelum mereka mendapat masalah ketika sensei menghilang,"

"Aku setuju… Akan berbahaya bila mereka bertiga sendiri harus melawan White Devil tanpa adanya Kakashi-sensei,"

Kata Koyuki menyetujui apa yang menjadi keputusan Nagato. "Kalau begitu, mari kita pergi,"

Mereka semua mengangguk kemudian berlari mengikuti Nagato dari belakang.

TBC

.

.

.

PENGUMUMAN

Aku update lagi… Aku jadi khawatir ketika jumlah review di chapter sebelumnya turun. Dan akhirnya setelah cukup lama berpikir sambil mengerjakan fic ini, author mengambil keputusan… Tapi ini terserah dari kalian yang baca… Aku berniat fokusin ke fic ini dulu dan update 3-4 hari sekali seperti dulu dengan word jumlah 4000-6000 dan imbasnya akan ke dua fic ku yang lain karena gak akan aku update untuk sementara waktu.. yah maklum.. lagi sibuk jadi sekarang Cuma bisa fokus ke satu fic. Klo udah gak sibuk mungkin bisa tiga tiganya.. tpi berhubung author lagi sibuk cuma bisa update cepet alias 3-4 hari sekali untuk satu fic. Dan jika kalian setuju… mohon jawabannya di review! Klo banyak yang review dan isinya setuju semua.. berarti author akan total fokus ke fic ini dan update 3-4 hari sekali.. paling lama 5 hari. Bagaimana? Saya tunggu jawabannya

Jangan lupa bilang juga kalo ada typo atau misal alur kecepetan..

Jangan lupa tinggalkan review