Bir kaleng dalam kantong plastik saling membentur satu sama lain. Genggam tangan mengerat karena tahu seharusnya ia menggunakan kantong yang lebih besar.
Malam itu sepulang kantor, Naruto sengaja singgah di rumah si Uchiha.
Ada maksud lain dibalik kedatangannya; pertama, Sasuke sengaja mematikan ponsel sejak tadi pagi tanpa sebab. Kedua, ia tidak lagi bisa menahan keinginannya untuk melihat Sasuke secara langsung. Ketiga—
"Sasuke," panggil Naruto mendapati si Uchiha baru memijakkan kaki di garasi.
Yang dipanggil namanya menoleh. Ekspresi datar di wajah mengatakan seolah-olah tidak terkejut—dan sudah mengira—jika si pirang pasti datang berkunjung lagi hari ini.
"Aku khawatir karena kau tidak memberiku kabar." Naruto melangkah mendekat, kalengan bir dalam genggam tangan dijadikan perisai penunjang alasan kedatangannya.
"Aku sibuk," sahut Sasuke membuka pintu, lalu menoleh. "lagi pula aku tahu kau pasti ke sini."
Naruto tersenyum, ada rasa aneh di dada yang dirinya sendiri tidak tahu jelas itu apa. "Kau tidak memberiku kecupan kembali ke rumah setelah bekerja keras seharian?"
"Ini bukan rumahmu."
"Dan?"
"Aku tidak akan menyentuhmu di luar," sahut Sasuke melangkah masuk melalui pintu.
"Bukankah itu berarti di dalam tidak apa-apa?" Naruto lagi-lagi tertawa. Respon Sasuke yang sulit ditebak, terkadang menjadi kejutan untuknya.
Keduanya bersandar pada punggung sofa. Menenggak bir yang sama, lalu menghela napas.
"Hari yang panjang," gumam Naruto, "untung saja aku bisa melihatmu malam ini, energiku rasanya kembali penuh."
"Jangan gunakan kalimat yang biasa kau berikan pada wanita untukku, Dobe," sahut Sasuke datar.
"Aku belum pernah mengatakan hal seperti itu pada wanita mana pun."
"Kau bukan remaja lagi, tidak ada yang percaya dengan kalimat seperti itu. Setidaknya pilih alasan lain jika harus berbohong."
Naruto tersenyum tipis. Kepalanya ia condongkan ke arah telinga Sasuke lalu berbisik, "Kau bisa memberikan contohnya?"
Sasuke tidak bergeming meskipun deru napas hangat si pirang mengenai leher
"Ayo, berikan aku satu contoh," desak Naruto.
"Karena tidak pernah menyukai wanita, seumur hidup hanya berkencan dengan pria," sahut Sasuke, menoleh. Kedua lengan secara refleks memeluk leher si pirang, saat tubuhnya didorong ke arah bantalan sofa.
"Hm, itu alasan yang bagus," sahut Naruto, menatap Sasuke di bawah, sebelum menempelkan dahi mereka. "Aku tidak masalah jika harus mengaku pada semua orang sebagai homoseksual mulai detik ini."
"Dasar bodoh," sahut Sasuke.
"Kau pikir aku akan tersinggung dengan kalimat seperti itu?" ada jeda sesaat, "aku baru menyadarinya kemarin. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain, asalkan kau bahagia, bukankah itu sudah cukup? "
Sasuke tidak lagi menyahut. Bibirnya sudah lebih dulu dilahap oleh Naruto, sama sekali tidak diberikan kesempatan bicara, ataupun memprotes.
Kaleng bir kosong menggelinding terjatuh di lantai, balok es dalam gelas mencair, rokok tersisa hanya puntung, dan jarum jam yang terus berjalan.
Jika tidak didesak paru-paru akan kebutuhan oksigen seperti manusia pada umumnya, keduanya tampak enggan melepas pagutan.
"Ambil cuti untuk 3 hari ke depan," gumam Naruto tidak jelas disela tarikan napas. Matanya menatap penuh arti pada Sasuke yang memiliki kondisi tidak jauh berbeda darinya—wajah memerah sempurna, dengan napas tersengal.
"Apa kau gila?" balas Sasuke.
"Aku tidak datang hanya untuk minum, atau memelukmu," jelas Naruto, "ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi tidak di sini. Tanpa ada pekerjaan, status, atau orang lain. Hanya kau dan aku."
Sasuke tertawa sinis.
"Jangan menolak," desak Naruto, menenggelamkan wajah pada perpotongan leher, dan bahu si Uchiha. "Aku sudah menyiapkan segalanya ..., jadi jangan menolak."
Sasuke mulanya diam, tetapi menyadari pelukan si pirang pada tubuhnya semakin erat, ia menyerah.
"Hn."
.
Continued
