"Kau tidak lihat, diluar sedang mendung sekali?!"
Kyuhyun menghentikan kegiatan menyisir rambutnya, lalu berjalan ke sebuah jendela. Dia menatap langit dengan kening berkerut seolah berpikir keras. Setelah beberapa saat, dia menoleh ke arah Changmin dan menggeleng polos.
"Demi Tuhan!" bentak Changmin habis kesabaran. Dia serius dan Kyuhyun menanggapinya dengan santai.
"Mendung belum tentu hujan," jawab Kyuhyun setengah merengut. Dia kembali berdiri di depan cermin dan segera mengikat rambutnya.
"Jangan membantahku!"
Kyuhyun melipat tangannya di depan dada. Menatap Changmin dengan jengkel. "Aku hanya ingin bersenang-senang sebentar! Lagi pula, aku bermain sepeda juga bersama Minho dan Arrum."
"Aku tidak peduli kau pergi bersama siapa! Masalahnya, sebentar lagi hujan. Kau juga bisa bersenang-senang dengan Sehun. Bermain game, misalnya?"
"Sayangnya, aku sedang tidak ingin main game." Jawab Kyuhyun manis.
Kyuhyun buru-buru lari menuju pintu sebelum Changmin kembali memberinya khotbah. Meskipun dia mendengar bentakan Changmin, itu tidak mengurungkan niatnya berlari menuruni tangga. Dia langsung tersenyum lebar begitu tiba diluar rumah, Minho dan Arrum sudah menunggunya, berikut sepeda yang akan digunakannya.
"Kyuhyun! Jangan buat aku menggunakan kecepatanku, lalu menyeretmu masuk rumah!" teriak Changmin ketika dia melihat sepeda Kyuhyun sudah meninggalkan pekarangan rumah. Yeoja itu melambaikan tangan padanya membuatnya bertambah kesal.
"Apalagi sekarang?" Tanya Jaejoong sambil menghampirinya. Ibunya dari rumah Heechul, menghabiskan sore hari dengan Soeul di pelukannya. Sedangkan Haru dalam pelukan Yunho yang saat ini masih dirumah kakaknya itu.
Dua anaknya yang pertama sedang bersama kedua orang tua Kyuhyun. Mereka menjemputnya tadi siang. Mereka bilang akan mengatarkannya sore ini, tapi sampai sekarang mereka belum melakukannya. Sepertinya mereka benar-benar menikmati waktu bersama cucu pertama mereka itu.
"Dia kabur," jawab Changmin jengkel sambil menghempaskan tubuhnya di kursi teras.
"Kabur? Kabur bagaimana?" Jaejoong mengerutkan kening, dan ikut duduk bersama Changmin.
Changmin menghembuskan napas panjang, "Aku melarangnya pergi bersepeda bersama Arrum dan Minho karena hari mendung. Dan dia melarikan diri dariku!"
Jaejoong tersenyum lembut. "Dia masih 20 tahun, Changmin. Diusianya yang sekarang memang waktunya untuk dia bersenang-senang,"
"Harusnya, diusianya itu, dia sudah cukup dewasa mengingat dia telah melahirkan empat orang anak!" balas Changmin tidak terima.
"Dengar, diusia 20 tahun, belum saatnya seorang yeoja memiliki empat anak!" jawab Jaejoong tajam. "Jadi biarkan dia bersenang-senang karena mengurus empat orang anak sekaligus bukanlah hal yang mudah!" Sambungnya kemudian berlalu meninggalkan Changmin.
"Arrggh!"
oOoOoOo
Kyuhyun buru-buru meletakkan sepedanya di depan pintu garasi yang tertutup karena tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Dibelakangnya, Minho dan Arrum melakukan hal yang sama.
Tak lama setelah dia meninggalkam rumah, hujan turun dengan derasnya. Dan disana tidak ada tempat berteduh sama sekali. Karena sudah terlanjur basah, dia mengajak –lebih tepatnya memaksa—Minho dan Arrum agar tetap bersepeda padahal kedua orang itu ingin pulang. Mereka bilang, mereka tidak ingin menjadi amukan Changmin. Yang benar saja!
"Bersepeda sambil hujan-hujanan ternyata menyenangkan juga," ujar Kyuhyun sambil tersenyum.
"Lumayan," balas Arrum sambil meringis. Perasaannya mulai tidak enak. Tinggal tunggu saja Changmin muncul di depannya lalu mulai membentak-bentaknya.
"Aneh, tumben Changmin tidak menyusulmu."
Kyuhyun mengangkat bahu tidak peduli. "Aku tidak tahu,"
Kyuhyun baru akan mendorong pintu utama ketika pintu itu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Wajah Changmin yang muncul setelah pintu itu terbuka sepenuhnya membuatnya semakin menggigil.
"Sudah puas bersenang-senang?" tanya Changmin dengan nada dan wajah yang datar.
Kyuhyun mengangguk takut.
"Masuk!"
Kyuhyun kembali mengangguk, lalu buru-buru masuk. Setengah berlari dia menuju kamarnya dan Changmin yang berada di lantai dua. Begitu tiba disana, dia segera mandi. Kalau bisa setelah itu dia langsung tidur, agar dia tidak akan di marahi namja itu. Harusnya sekarang Changmin sudah ke hutan. Mungkin karena hujan. Ah, benar-benar buruk jika namja itu akan berada dirumah sepanjang malam. Hujan, kumohon, berhentilah!
Selesai mandi, Kyuhyun mendapati kamar masih kosong. Tidak ada Changmin. Baguslah! Ujarnya dalam hati. Lalu dia pun menuju lemari, memilih pakaian tebal karena dia sangat kedinginan sekarang. Bahkan hidungnya sampai gatal-gatal. Jangan sampai dia kena flu!
"Turunlah! Makan malam!"
Kyuhyun memutar tubuhnya dari cermin, lalu menatap Changmin yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tangan bersidekap di depan dada. Wajahnya masih terlihat datar, gaya bicaranya juga. Dan itu sudah cukup menyeramkan. Tidak perlu ditambah dengan tatapan matanya. Bola matanya saat ini berwarna kuning.
"Aku akan langsung tidur." Tolak Kyuhyun.
"Aku sudah membiarkanmu melakukan keinginanmu, dan sekarang saatnya kau mengikuti kata-kataku!" ujar Changmin tajam.
"Tapi, aku mengantuk—"
"KYUHYUN!" bentak Changmin.
Kyuhyun sampai mundur selangkah mendengar bentakan Changmin. Sebelum semua yang tidak diinginkannya terjadi, jadi lebih baik dia mengangguk. "Baiklah. Aku akan turun,"
Kyuhyun menghempaskan tubuhnya disalah satu kursi meja makan. Empat diantaranya sudah diisi oleh Minho, Arrum, Sehun dan Sulli. Ada sebuah mug di hadapan mereka masing-masing yang dia yakini itu adalah darah. Tak lama setelah dia duduk, semangkuk penuh sup daging muncul di hadapannya.
"Habiskan sup itu!" ujar Changmin dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Kyuhyun manatap mangkuk sup dihadapannya lalu kembali menatap Changmin. "Tap—sshhh!" dia meringis karena dia merasa tulang kering kaki kanannya berdenyut hebat. Ulah Arrum.
Changmin mengangkat alisnya minta penjelasan. "Apa?"
Melihat tatapan memohon Arrum, dia membatalkan niatnya untuk mendebat Changmin. "Aku akan menghabiskan semuanya, tenang saja!" ujar Kyuhyun sambil tersenyum manis.
Changmin mendengus, lalu segera meninggalkan ruang makan.
"Dia melakukan apa pada kalian?" Tanya Kyuhyun cemas.
Minho mengibaskan tangannya santai. "seperti biasa. Membentak-bentak kami. Dia bilang, kami bodoh karena mau menuruti keinginan noona yang tidak masuk akal."
Kyuhyun cemberut mendengar kalimat terakhir Minho. Keinginannya yang tidak masuk akal? Cih! "Maafkan aku," ujar Kyuhyun lemah.
"Santai saja Kyu. Terkena omelannya bukan hal baru lagi," balas Arrum, berusaha menenangkan kakak iparnya itu.
Sambil bersin-bersin, Kyuhyun naik ketempat tidur. Setelah makan malam tadi, dia tidak melihat Changmin. Sepertinya namja itu akan menghabiskan malam di ruang kerja Jaejoong. Kedua bayinya sudah tertidur pulas di dalam box bayi mereka masing-masing. Sedangkan Minnie dan Hyunnie sepertinya bermalam dirumah orangtuanya.
"Hattcchhiii!"
Kyuhyun mengerang karena dia kembali bersin. Dia mengeratkan selimut disekeliling tubuhnya. Diluar hujan masih saja turun. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Dia kembali bersin.
"ini akan jadi malam yang panjang," gerutu Kyuhyun dengan suara rendah.
oOoOoOoOo
Kyuhyun merasakan hawa panas di sekelilingnya. Dia bergerak kesana kemari berharap hawa panas itu menghilang atau setidaknya berkurang. Tapi, bukannya berkurang, tubuhnya malah semakin panas. Dengan berat hati, dia membuka matanya perlahan.
Dia menoleh kesamping tempat tidur dan melihat ada sebuah mangkuk di atas nakas yang biasanya kosong. Keningnya berkerut bingung. Ketika itulah dia merasakan ada sesuatu yang lembab di atas keningnya.
"Aku tidak mungkin demam," ujarnya setelah meraba keningnya yang ternyata benda itu adalah handuk.
"Kau memang tidak demam, hanya suhu tubuhmu saja yang naik."
Kyuhyun segera menoleh ke sumber suara dan mendapati Changmin tengah menatapnya dengan kening berkerut. Dia mencibir lalu melengos kearah lain ketika Changmin menghampirinya. Namja itu membawa nampan yang berisi sarapan, tapi dia sedang tidak ingin makan apapun.
Kepalanya pusing, perutnya mual, dan badannya panas. Ah, hidungnya juga tersumbat. Benar-benar hari yang buruk.
"Sarapan," ujar Changmin sambil meletakkan nampan itu di atas nakas setelah sebelumnya dia memindahkan mangkuk tadi ke lantai. "Buka mulutmu!"
Kyuhyun membekap mulutnya dengan tangan. "Aku tidak mau!"
"Jangan kekanakan! Buka mulutmu, habiskan sarapan ini lalu minum obat!"
"Aku tidak sakit!" erang Kyuhyun. "Dan aku tidak mau minum obat!"
"Kyu! Ini masih pagi, jangan buat aku marah!"
Kyuhyun mendengus keras, lalu segera merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Mengabaikan kepalanya yang mulai berdenyut akibat gerakannya itu. Dia langsung mengambil mangkuk bubur dari tangan Changmin.
"Aku bisa makan sendiri!" ketusnya lalu mulai menyuap bubur yang tidak ada rasa itu.
"Bagus! Karena sebenarnya aku juga tidak mau menyuapimu!" balas Changmin tak kalah ketus. "Aku mau ke bawah. Dan ketika aku ke atas nanti, aku harus mendapati mangkuk bubur itu kosong, obatnya sudah kau minum dan kau dalam keadaan tidur. Kalau tidak..." dia menatap Kyuhyun tajam. "Aku akan menghabisimu!"
Kyuhyun merengut. "Iya, aku Tahu!"
"Good girl!"
"Changmin!" panggil Kyuhyun saat Changmin akan menutup pintu kamar dari luar.
"Apa?" tanya Changmin malas.
"Maafkan aku," ujar Kyuhyun dengan menatap mata Changmin lekat. "Untuk semuanya. Maaf karena sudah tidak mendengarkan kata-katamu. Maaf karena sifat kekanakanku." Sambungnya saat melihat Changmin mengerutkan kening.
Changmin mengangguk singkat, lalu segera menutup pintu dari luar.
Setengah jam kemudian, Changmin kembali ke kamarnya. Keempat anaknya sedang bermain dengan kedua kakek neneknya membuatnya bersyukur karena tidak mungkin dia mengurusnya sendiri. Dia membuka pintu kamar dan mendapati kamar dalam keadaan sepi. Sepertinya Kyuhyun benar-benar mengikuti kata-katanya.
Dia berjalan menuju sisi tempat Kyuhyun tidur dan senyumnya langsung merekah. Mangkuk bubur yang dia bawa tadi benar-benar kosong, obatnya juga di minum yeoja itu, dan tentunya, Kyuhyun dalam keadaan tidur.
Changmin memperbaiki posisi selimut Kyuhyun. Dia menundukkan tubuhnya lalu mencium kening yeoja itu dengan lembut.
"Get well soon, Dear!"
.
.
END
