Matahari telah menampakan cahayanya, namun tidak membuat pemuda dengan bersurai merah itu terbangun. Namun, ketukan dipintu kamarnya membuatnya harus rela membuka matanya. Matanya menatap kesekeliling kamar yang ditempatinya.
Ini bukanlah kamarnya. Gaara baru mengingat jika semalam dirinta menginap di Mansion milik keluarga Sakura. Dirinya melirik pada celah gorden, sudah siang. Rasanya Gaara ingin menenggelamkan dirinya sekarang. Sebagai seorang tamu bagaimana bisa dirinya terbagun terlambat.
Ketukan dipintu kamar itu membuat Gaara melangkahkan membukakan pintu. Seorang pelayan berdiri didepan pintu memberitahukan untuk sarapan? Ini sudah lewat dari jam untuk sarapan. Dan pelayan itu juga memberitahukan bahwa Sakura sudah pergi kerumah sakit tadi. Mungkin setelah ini dirinya akan menyusul Sakura.
Sakura terdiam didepan pintu masuk ruang rawat ibu mertuanya itu. Sakura merasa segan hanya untuk sekedar menampakan wajahya sekarang, pemikiran buruk berkeliaran didalam benaknya.
"Masuklah," suara Sasuke menarik perhatiannya kembali.
Sakura melangkahkan kakinya ragu, dia dapat melihat reaksi langsung mertuanya. Sakura yakin ibunya itu terkejut melihatnya sekarang, dilihat dari keterkejutannya.
"Sa-Sakura," panggil Mikoto.
Sungguh Mikoto tidak mempercayainya. Sakura, Sakuranya ada dihadapannya sekarang. "Kemarilah," titahnya.
Dengan ragu Sakura menghampiri Mikoto dan langsung disambut dengan pelukan hangat. Sakura mencoba menahan air matanya saat mendengar isakan dari mertuanya itu. Sasuke yang tidak ingin mengganggu kesibukan dua wanita itupun pergi keluar.
Diruangan Mebuki, suasana menjadi canggung atas kedatangan Sakura tadi, terlebih tadi saat Mebuki melepaskan genggamannya. Hotaru hanya tersenyum kaku dan segera pamit, bagaimanapun hubungan ibunya dengan Sakura sudah mulai membaik dan dirinya tidak ingin merusaknya lagi. Hotaru masih sadar diri dengan posisinya..
Sore hari, Sakura memutuskan untuk mengantar Gaara ke bandara, setelah melalui sedikit perdebatan alot, akhirnya Sakura berhasil membujuk Gaara untuk kembali ke Amerika. Sakura tidak ingin Gaara membantalkan kontrak kerjanya hanya karena dirinya. Dan Sakurapun sudah mengatakan semuanya pada Sasori. Meminta izin untuk berada di jepang sementara waktu.
Tiga hari berlalu keadaan Mebuki sudah lebih membaik dan dirinyapun sudah diperbolehkan untuk pulang. Saat ini Sakura mendorong kursi roda yang dipakai ibunya memasuki pekarangan Mansion Haruno. Tidak banyak pelayan disini, walaupun rumah ini luas.
Mebuki meminta Sakura membawanya ke kolam ikan dihalaman belakang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Mebuki.
"Sakura." panggil Mebuki.
Sakura menolehkan pandangannya menatap ibunya dengan tatapan bertanya.
"Kau.. Sudah berbaikan dengan Sasuke?" tanya Mebuki ragu.
Sakura terkekeh, "Memang kapan kami bertengkar?" tanya balik Sakura.
Mebuki menjadi kikuk mendengar pernyataan Sakura. Sakura terseyum simpul melihat ibunya. "Aku tidak bisa bilang jika aku sudah memaafkan Senpai sepenuhnya. Namun, jangan terlalu berharap jika kamu bisa kembali. Aku hanya lelah jika terus lari dari kenyataan."
"la-Lalu bagaimana dengan Ho-Hotaru. Kau memaafkannya?" tanya Mebuki hati hati.
Sakura tersenyum, "Tentu saja," Sakura meberi jeda ucapannya "Tidak. Itu mustahil bagiku"
"Ne.. Kaa-san, bagaimana jika kau berada diposisiku? Apa yang akan kau lakukan?" menarik nafasnya sejenak, "sekarang Kaa-san hanya tinggal memilih antara aku dan Hotaru." final Sakura.
Sakurapun melangkahkan kakinya memasuki rumah menuju kamarnya. Hatinya merasa sakit saat Kaa-sannya lagi dan lagi menyinggung tentang Hotaru. Apakah salah jika dirinya membenci Hotaru. Jika kalian bertanya kenapa Sasuke tidak? Jawabannya mudah, Sakura masih menyimpan rasa bagi bajingan seperti Sasuke. Dan dirinya lebih bajingan dengan memanfaatkan Gaara disituasinya. Lagi dirinya mengingat percakapannya dengan Sasuke saat mengunjungi Mikoto.
Sakura keluar dari ruangan Mikoto dengan wajah lesu. Sedaritadi mertuanya itu selalu dan selalu memaksanya kembali pada Sasuke, sampai dirinya tidak menyadari jika Sasuke memperhatikannya.
"Apa yang dikatakan Kaa-san?"
Suara berat itu meyentakanSakura, dirinya melirik kesamping dan melihat Sasuke yang menatapnya.
"Bukan masalah penting." jawab Sakura tak acuh.
"Kebalikan dari wajahmu". Sarkas Sasuke.
Sakura hanya mendengus, dan berniat pergi, namun Sasuke menhannya. "Bisa kita bicara?"
"Saat ini kita sedang bicara."
"Aku serius Sakura." tegas Sasuke. Ada sedikit rasa takut saat onyx Sasuke menatapnya tajam. Dan akhirnya Sakura hanya bisa mengangguk.
Sasuke membawa Sakura keata rumah sakit, disini sepi dan Sasuke menyukainya. Sakura menghembuskan nafasnya pelan, untuk menetralisir kegugupannya sekarang.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" sedikit aneh bagi Sakura saat tidak memanggil Sasuke dengan sebutan Senpai.
" Entahlah, mungkin perkataanku sama seperti sebelumnya, mari kita mulai dari awal. Kau melihat sendiri bagaimana kondisi orang tua kita bukan?"
"Awalan seperti apa yang kau inginkan Senpai? Hubungan kita sudah tidak sehat dari awla bukan? Dulu aku hanya bertahan dan melarikan diri dari kenyataan. Mari kita akhiri semuanya. Dan memulai kembali seperti dulu, hanya sebatas Senpai dan Kouhai. Seperti itu bukan!?"
Sasuke menggeleng kecil. "Bukan seperi itu yang kumaksud Sakura. Mari kita mulai hubungan pernikahan kita dari awal. Dan berhenti untuk menyakiti siapapun. Terutama Gaara, kau terlalu banyak memberinya harapan."
"Apa yang membuatmu berfikir aku akan menerimamu kembali. Aku berlaku seperti ini hanya karena lelah untuk terus lari. Dan masalah Gaara, aku belajar untuk menerimanya" tegas Sakura.Sasuke mendengus mendengarnya.
"jangan munafik Sakura, kau masih memiliki mencintaiku dalam hati kecilmu. Kau da aku kita sama sama penjahat disini." entah kenapa Sasuke mulai terbawa emosinya.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang senpai memperjuangkan hubungan ini. Kau fikir aku tidak merasakan sakit? Kau bahkan telah.." Sakura tidak mampu meneruskan ucapannya, suaranya bergetar, membayang kejadian saat sasuke dan Hotaru saat itu.
"Maaf, maaf, dan maaf. Itu yang hanya bisa aku lakukan, maka dari itu biarkan aku memperbaiki semuanya. Mari kita mulai kembali, aku mohon. Sebelum kau melangkah lebih jauh dan menyakiti perasaan yang tidak bersalah."
Sakura bungkam. Tidak tahu harus berkata apa. Kata kata makiannya hilang. Menggigit bibir bawahnya agar menahan tangisannya. Dan dirinya memilig untuk pergi tanpa perlu menanggapi perkataab Sasuke tadi.
"Aku akan kembali keruangan Kaa-san. Mungkin lain waktu saja Senpai menjenguk Kaa-san" dan setelahnya Sakura pergi dari sana.
Lagi dan lagi Sakura menghela nafasnya lelah. Hidupnya penuh dengan drama yang terlalau dramatis. Dirinya menjadi orang yang tersakiti sekaligus menyakiti disaat bersamaan.
Bagaimana bisa dirinya harus menyakiti orang sebaik Gaara. Sasuke benar dirinya juga penjahat disini. Tapi dirinya juga tidak bisa menjauh dari Gaara. Sakura sudah merasa nyaman bersama Gaara, perlakuan manis Gaara padanya terkadang membuatnya merasa bahwa dirinyalah seorang putri.
Ketukan dipintu membuat Sakura menarik kembali kesadarannya. Sakura menyuruh orang tersebut masuk.
"Tou-san.. Ada apa?" tanya Sakura bingung.
Kizashi mendudukan dirinya diranjang Sakura dan mengelus surai putrinya itu. "Maaf" kata itu keluar dengan sendirinya dari bibir Kizashi.
Sakura mengernyit heran, kenapa dengan ayahnya ini.
"Seharusnya dulu Tou-san lebih memperhatikanmu, jika saat itu tejadi kau tidak akan seperti ini." lanjut Kizashi.
Mata Sakura berkaca kaca mendengarnya. Dirinya merasa terharu dengan ucapan ayahnya barusan, dan dengan cepat dirinya menabrakan diri pada pelukan ayahnya.
"Pilihan ada ditangan mu, kau bebas memilih. Pikirkan kembali mana yang terbaik untukmu. Dan Tou-san rasa kau harus berbicara dengan Gaara. Gaara anak yang baik, jika boleh jujur Tou-san lebih memilih Gaara. Bukan berarti Tou-san menyuruhmu kembali pada Sasuke. Tou-san bahkan belum memaafkannya. Tapi jika itu keputusanmu Tou-san akan menyerah."
Sakura semakin terisak didalam dekapan ayahnya, rasabya sangat hangat dan nyaman. "Arigatou" bisiknya.
Keesokan harinya Sakura memilih untuk keliling Konoha, rencananya malam ini dirinya akan kembali ke Amerika, bersama Sasori. Pagi tadi Sasori datang untuk menjenguk ibunya. Dan lagi Sakura merasa agak canggung dengan ibunya semenjak kejadian kemarin.
Sakura mendudukan dirinya disalah satu bangku diarea foodcourt mall Konoha. Rencananya dia ingin membelikan sesuatu untuk Gaara sebagai oleh oleh. Namun Sakura malah merasa lapar setelah keliling taman Konoha. Disaba benar benar menakjubkan batinnya.
Sekilas Sakura merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya, namun dirinya hanya mengedikan bahu tidak peduli. Makanab dihadapnnya sekaranglah yang lebih menarik perhatiannya.
Sedangkan diMansion Uchiha, Sasuke sedang menyandarkan dirinya dijendela kamarnya, pandangannya lurus menatap objek diluar sana.
"Apa yang membuatmu menyuruhku kemari?" ucap Itachi yang baru saja memasuki kamar adiknya itu, Itachi memilih mendudukan dirinya diatas kasur.
"Apa menurutmu memasukan orang kepenjara kareba telag menjebakmu adalah hal yang benar? Atau bagaimana?"
Itachi terkejut mendengar penuturan Sasuke. Sasuke meminta pendapatnya? Yang benar saja, ini sebuah keajaiban. Apa mengejar Sakura membuatnya menurunkan harga dirinya? Jika benar, Nice untuk Sakura.
"Jawablah dan jangan tampang anehmu itu."
Itachi berdehem untuk menetralkan ekspresinya. "Apa maksud dari ucapannmu itu? Jelaskanlah. Aku tidak bisa memahaminya dengan perkataan ambigumu itu"
Sasuke menghela nafasnya dan memilih untuk menjelaskan semuanya.
Baiklah, ini buruk. Sakura benar benar merasa takut ditempat ramai seperti ini. Sekarang dirinya merasa seperti sedang diikuti. Apa masalahnya sebenarnya?
Pura pura mengabaikan orang itu Sakura memilih memfokuskan dirinya pada sederet jam tangan dihadapannya. Dirinya sedang memilih mana yang akan cocok dan Gaara sukai.
"Ano.. Maaf." Sakura menoleh dan menatap orang yang memanggilnya.
"Iya?" tanya Sakura bingung.
Sakura terus memperhatikan orang dihadapannya, dia merasa pernah melihat orang ini, tapi dimana?
"Aku, Utakata. Kita pernah bertemu dirumah sakit"
Sakura semakin mengkerut. Rumah sakit? Benarkah? Tapu dirinya tidak pernah melihat orang ini sepertinya. Ah.. Tidak dia pernah melihatnya. Orang yang duduk dibangku tunggu saat ada Hotaru saar itu.
"Ada perlu apa?" huh, semua yang berhubungan dengan Hotaru selalu bisa membuatnya badmood seketika.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Utakata.
"Bicaralah sekarang." ketus Sakura.
Utakata melirik sekitarnya, agak sedikit sepi mungkin tidak apa apa bicara disini.
"Tentang Hotaru.. Maaf sebelumnya mencampuri masalah kalian. Aku tahu mungkin berat bagimu untuk memaafkan Hotaru. Tapi, tidak bisakah anda melihat dari sisi pandang Hotaru?" ucap Utakata, dan dirinya hanya mendapat ekspresi datar dari wajah Sakura.
"Mungkin kesannya aku terlalu membela Hotaru, tapi percayalah, dirinya merasa sangat bersalah padamu, kehidupannyapun sama menyakitkannya sepertimu, dia sama menderitanya denganmu. Mungkin kalian bisa sediit bicara!?" lanjut Utakata.
"Apa yang perlu kami bicarakan. Jika seperti yang anda katakan tadi, itu berarti kita sama. Jadi lebih baik seperti ini" Sakura langsung pergi dari sana, moodnya benar benar hancur sekarang. Mungkin dirinya akan pergi ketoko lain saja.
Tbc
Maaf dikit, dan hiatus lama. Aku rasa feel kalian udah hilang bacanya. Oh ya jika ada yang tahi apa yang harus Sasuke buat balas perbuatan karin silahkan tinggalkan pendapat kalian. Hehe.. Jujur aku bingung.
Terimakasih udah sempetin baca.
