Intro: Yahooo! Another long chapter today! Semangat update meski puasa, hehehe. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau typo. Pendek kata, enjoy it! ^^ - author
PART TWENTY-EIGHT
(BREE)
Baiklah, aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa kali ini. Aku sudah membuka rahasiaku pada teman-temanku, pada kalian, dan pada Mr Grace tentu saja, meskipun Mr Grace sudah tahu sejak lama siapa diriku. Aku tak menduga kalau dia adalah agen senior. Jangan salah! Aku tidak kaget dia membongkar rahasianya karena memang begitulah para agen di saat kepepet. Semenjak aku direkrut oleh Organisasi, aku hanya diberi misi-misi mudah, seperti mengendap-endap di belakang pelaku penculikan atau mengejar sindikat pencuri mobil, karena memang begitulah tugas agen junior. Ayah dan ibuku tidak mengetahui hal ini, syukurlah, karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Agen junior masih boleh tinggal bersama keluarganya, tapi di waktu-waktu tertentu, mereka harus segera melapor ke markas besar. Divisi London memiliki markas di daerah Buckingham. Di saat para agen sedang bertugas, markas itu bukan berarti kosong. Ada beberapa operator yang menjawab telepon dari klien yang selalu berganti-ganti jam kerja. Aku takkan memberitahu seperti apa kenampakan markas itu, karena memang sangat rahasia.
Singkatnya saja, hari Rabu dimulai dengan biasa. Membosankan, kalau saja aku tak membaca jadwal di atas meja belajar. Jam terakhir sebelum pulang adalah pelajaran Kimia. Aku mendesah sembari melirik kacamata yang aku, Robbie, dan Chloe temukan di pelataran parkir rumah sakit. Sebuah pikiran yang berasal dari insting mata-mataku membuka lapisan otakku seperti kulit duku yang dikupas dari buahnya. Meskipun mustahil karena tanpa alasan, satu-satunya guru yang kulihat sering mengenakan kacamata adalah Mr Shikuya, jadi mungkinkah kacamata ini miliknya? Ah, Bree, jangan berprasangka buruk dahulu! Aku mengetuk kepalaku keras-keras. Bukannya kau sudah janji, jangan mikir soal kasus ini lagi! Tapi setelah kupikir-pikir, orang yang harus bertanggung jawab karena membuatku pusing adalah Colin. Ya, bagaimana tidak? Kalau dia tidak meneleponku malam-malam waktu itu, semuanya tidak bakal serumit ini.
"Aku tidak bisa mempercayai siapapun sekarang kecuali dirimu, Bree. Hanya kau yang bisa kuandalkan dalam masalah ini. Aku tahu kau mungkin tidak sedekat itu lagi dengan Callan, tapi aku percaya kau masih bisa membantuku. Tolong, Bree, jangan sampai kau membiarkan Callan mencariku. Apapun alasannya, jangan pernah biarkan dia mendekatiku."
Begitulah yang Colin katakan, setidaknya itulah yang kuingat. Jangan biarkan Callan mencarinya? Memangnya dia sudah tahu kalau Callan bakal berbuat aneh-aneh? Seyakinku tidak. Meskipun bisa jadi. Callan memang emosional tapi dia jarang mengungkapkan perasaannya pada orang. Berbeda jauh dengan Robbie, yang bahkan mampu blak-blakan mencela pancake di restoran yang baru buka sehari—di hadapan orang banyak pula. Menangani masalah Robbie itu mudah, tinggal dekati saja anaknya, cari informasi, lalu melapor. Beres. Tadinya kukira masalah Callan hanya berupa beban psikologis, padahal nyatanya… duh, kepalaku jadi pening lagi! Aku menatap kacamata temuanku itu dengan sinis. Kapan sih semua ini bakal berakhir? Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi. Aku memang sengaja bangun lebih awal buat mengerjakan PR Miss Dennings. PR-nya adalah mengumpulkan sepuluh sampel daun konifer dan membuat laporan mengenainya. Aku telah selesai mengelem semua sampel daun beserta label tata nama gandanya di buku laporanku. Tinggal tanda tangan, deh! Yep, Biologi memang mengasyikkan. Apalagi kalau sudah membahas tentang sel-sel, mutasi genetik, dan jaringan yang menyusun makhluk hidup. Miss Dennings orangnya suka praktek, jadi pelajaran kami pun tambah mengasyikkan.
Hmmm, barusan aku bilang apa? Sel-sel makhluk hidup? Mutasi genetik? Aku jadi ingat sesuatu tentang para agen rahasia kelas S, satu tingkat di atas senior, yang rumornya disuntik serum khusus yang membuat mereka punya ketahanan tubuh super. Kedengarannya sih keren, tapi resikonya mereka tidak bisa berkeluarga karena serum itu mematikan hormon reproduksi dalam tubuh mereka. Kisah Mr Grace tentang serum yang diciptakan Gabriel McFadden, yang katanya terlarang itu, juga sempat melintas di kepalaku. Tuh, kan, Bree? Berhentilah memikirkan hal itu!
Jam dinding berdering pukul setengah delapan. Kudengar langkah pelan di dapur. Ibuku pasti sudah bangun. Biasa, dia pasti bersih-bersih dahulu sebelum memasak sarapan. Semalam, sepulang dari rumah sakit, aku disambut teriakan 'goooollll' dari ruang tamu. Artinya jelas, bahwa ayahku sudah pulang. Ibuku yang nggak suka sepakbola mengomel-ngomel karena ayahku mengotori karpet dengan popcorn. Kalau saja ada Teddy, lengkap sudah kebisingan di rumah kami.
"Celebrian, matamu tampak menghitam," tegur ibuku saat aku turun untuk sarapan. Ia meletakkan sebaskom bubur gandum di atas meja, masih mengepulkan asap.
"Aku habis nggarap PR," jawabku sambil meletakkan mangkuk di hadapanku. Kubiarkan ibuku menyendokkan bubur ke dalamnya banyak-banyak. "Dad mana?"
"Huh, pasti masih tidur. Dia begadang semalaman di depan TV, kau ingat?" keluh ibuku penuh kejengkelan. "Sana, pergilah ke ruang tamu dan bangunkan dia!"
"Siap!" kataku sambil melemaskan tubuh. Aku mengendap-endap menuju ruang tamu. Benar dugaan ibuku. Ayahku sedang mendengkur di sofa dengan sebuah mangkuk kosong di tangan kanannya. Popcorn-nya sudah habis, jelas saja. Aku mencolek-colek ayahku agak keras.
"Oi, Dad! Bangun! Waktunya sarapan!"
Ayahku tak bergeming. Malah dengkurannya semakin keras. Bau jagung yang kuat tercium dari rongga mulutnya. Iyuuuh… sebaiknya kuberi dia pelajaran, mumpung otak jahilku sedang bekerja. Aku menarik dengan cepat bantal yang menyangga kepala ayahku, sehingga tubuh besar ayahku terguling dan jatuh ke atas karpet dengan bunyi, 'Gedebuk!' Spontan ia siuman, matanya terbuka lebar-lebar.
"MENANG! MENANG! BARCELONA MENANG!" teriak ayahku gelagapan.
"Iya, aku tahu, Dad!" kataku sambil berkacak pinggang. "Omong-omong, sudah pagi tahu! Waktunya sarapan!"
"Ya ampun, Bree!" kata ayahku, tampak sangat malu, lalu melirik jam dinding. "Kupikir aku sudah di kamar tadi! Tidur di ruang tamu pasti sama enaknya dengan tidur di kasur, benar, kan?"
"Terserah, deh," kataku sambil memutar bola mata. "Cuci muka dulu, deh, sebelum Mum mengomel lagi. Ugh, bau popcorn-nya sampai ke sini pula! Semalam Dad pasti belum gosok gigi, ya?"
"Ya, ya, ya," kata ayahku sambil menguap lebar-lebar. "Kau ini sama cerewetnya dengan ibumu, Bree. Duluan sajalah, nanti aku menyusul."
Ibuku jelas mencoba menyembunyikan kekesalannya pada Dad sepanjang waktu sarapan. Baginya, sepakbola telah merubah Dad menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda dari dirinya yang asli. Dad yang biasanya rajin bersih-bersih halaman kalau pagi jadi suka bangun telat gara-gara nonton sepakbola. Aku sih tenang saja menghadapinya, karena Dad biasa melakukan itu.
"Hei, Bree," kata ayahku sebelum aku berangkat, "bagaimana kabar klub anggarmu?"
"Oh, kami baik-baik saja," jawabku. "Kami sudah siap untuk turnamen musim dingin. Malah, kami mendapat anggota baru sementara."
"Hm, benarkan? Siapa?"
"Anak dari Sandcastle. Namanya Everett," sahutku, berusaha keras mengucapkan nama itu dengan pahit. Aku masih dendam padanya. Malah, dendamku menguat dikarenakan fakta bahwa dia seorang kiriman Organisasi. Dan dia terang-terangan mengungkapkannya padaku! Apa sih maunya dia? Atau jangan-jangan…
"Bree? Bree!" Dad melambai-lambaikan tangan di depan wajahku. Aku mengerja-ngerjap dengan kaget. Owalah, rupanya aku tadi bengong.
"Kau sehat, kan, Breeskins?" tanya Dad sambil memeriksa dahiku dengan punggung tangannya. "Nggak panas, kok…"
"Aku baik-baik saja, Dad," sahutku cepat-cepat. "Hanya… yah… mungkin karena bangun terlalu pagi tadi. Aku banyak tugas, kau tahu, lah."
Dad manggut-manggut dengan gaya paham. "Baiklah. Silakan berangkat ke sekolah. Nanti terlambat. And be careful!"
Aku membuat gerakan hormat dengan sigap. "I'll take care of myself, Dad. Don't worry." Aku pun mengayuh sepedaku ke sekolah.
Kuharap di sekolah aku tidak mendapat kejutan baru, karena aku lelah dengan kejutan. Namun ternyata, teman-teman di sekolah punya berita yang lebih menakjubkan daripada sebuah kejutan. Dan semua itu dimulai sebelum pelajaran Biologi.
"Perkemahan musim gugur?" aku terbelalak. "Dengan mereka?"
"Sssh… bisakah kau jangan keras-keras, Bree?" kecam Nicola sambil menyisir rambutnya. "Kalau Lizzie lewat dan mendengarnya bagaimana?" Lizzie maksudnya Elizabeth, cewek Sandcastle yang berambut pirang itu. Nicola menambahkan sambil manyun, "Dia jago banget main voli, lho. Belum ada yang bisa mengatasi smash mautku, tahu!"
"Masa bodoh," kataku sambil mengeluarkan buku laporan dari dalam laci. "Lizzie manis takkan bisa menyentuhku. Cukup adiknya saja yang mempermalukanku."
"Ya ampun, masih memikirkan kejadian di klub anggar, ya?" kata Chloe yang tahu-tahu sudah nangkring di bangku sebelahku. "Bukannya sudah kubilang, jangan bawa-bawa…"
"Iya, iya, aku mengerti!" keluhku. "Perlu berapa kali kau mengingatkanku?"
"Buktinya kau masih baper," dengus Chloe, menahan tawa.
"Jangan terlalu dibikin serius, deh," timbrung Nicola. "Suasana cukup serius sejak Eden masuk rumah sakit! Eh, temanmu yang berisik itu belum datang, ya?"
"Robbie?" aku menanyai Nicola, dan dia mengangguk. "Ah, biasa. Dia pasti ke toilet dulu sebelum pelajaran."
"Callan juga nggak kelihatan," gumam Chloe. "Apa jangan-jangan…"
"OI, SEMUA! ADA DUEL DI LAPANGAN!" tiba-tiba David, anak laki-laki berambut hitam jabrik yang mukanya mirip Ron Weasley menyeruak ke kelas. Suasana langsung heboh. Semua langsung bertanya-tanya, siapa yang melakukan duel, tapi aku sudah menduga jawabannya.
"IYA, BETUL, CALLAN DAN ROBBIE BERDUEL LAGI DI LAPANGAN! KALI INI DERRICK IKUT SERTA!" sahut David, masih dengan suara keras. Anak-anak pun semakin ricuh, berebut keluar dengan anarkis untuk melihat kejadian itu. "Sebaiknya kita juga turun," kata Chloe cemas. "Ayo!" Aku dan Nicola saling berpandangan. Kutepukkan tanganku keras-keras ke jidat. Demi Tuhan, kutukan macam apa lagi yang ditujukan pada Leaf High sehingga kedua bocah itu kembali berulah?!
Namun rupanya, saat kami tiba di lapangan, kedua manusia yang saling membenci itu telah berhenti bertarung. Mereka berdua babak belur. Seragam mereka kusut dan rambut mereka semrawut. Ada darah di bibir bawah Robbie dan lecet di pelipis Callan. Derrick, yang pipinya masih lebam bekas tinju Robbie di rumah sakit, kini punya memar baru di dekat mata kirinya. Dia jelas bersusah payah melerai keduanya, tapi naasnya dia malah kena tonjok. Anak-anak berseru-seru, sebagian mencerca, sebagian lagi menyuruh mereka kembali bertarung.
"DIAAAAM! DIAM SEMUA!" raung Derrick. "AKU MINTA KALIAN KEMBALI KE KELAS!" Tapi khalayak yang begitu tertarik tak menggubrisnya, malah aksi dorong-dorongan terjadi karena mereka ingin melihat Robbie dan Callan saling memiting satu sama lain. Derrick sekali lagi berusaha memisahkan mereka, tapi dia terdorong ke belakang dengan keras.
"AKU HANYA BERUSAHA MENOLONGMU, TAHU?!" geram Robbie seraya menepis tinju Callan.
"TAPI TIDAK DENGAN MENCELA KELUARGAKU, TAHU?!" sembur Callan. Robbie didesaknya sampai permukaan lapangan. "TAK ADA YANG BOLEH MENCELA KELUARGAKU LAGI!" Untunglah, sebelum tinju pamungkas dia lepaskan, Mr Grace mencengkeram anak itu dan menyeretnya keluar lingkaran pertarungan. Di sisi lain, Daryl dan Doug turun tangan memegangi Robbie agar tak terjadi serangan balasan. Ryan buru-buru menolong sahabatnya, Derrick, bangkit dari tanah.
Kepala Sekolah Jovovich pun tergopoh-gopoh datang, diikuti sejumlah guru termasuk Mr Wormwood dan ketiga anak Sandcastle. Mereka memberi tatapan terkejut yang aneh dari kejauhan. Kemudian, menggelegar seperti raungan petir Thor, kepala sekolah wanita itu berseru, "MCFADDEN DAN KAYE, KALIAN KE RUANGANKU, SEKARANG!" Suasana langsung hening. Seperti waktu demo di aula, ketegasan Miss Jovovich menyelamatkan hari itu. Mr Grace lalu melepaskan Callan, begitu pula Daryl dan Doug melepaskan Robbie.
"AYO, IKUT SEKARANG!" kata Miss Jovovich keras. Callan dan Robbie tertatih-tatih mengekor di belakangnya. Sempat pula kepala Miss Jovovich berputar ke arah kerumunan dan berseru, "KALIAN JUGA BUBAR! KEMBALI KE KELAS MASING-MASING!"
"Kalian dengar kata kepala sekolah kalian?!" sambung Mr Grace dengan kelantangan yang mengejutkan. "BUBAR SEKARANG!"
Dan semuanya pun kembali ke kelas, kecuali aku. Diam-diam, aku mengikuti Miss Jovovich, Callan, dan Robbie ke ruang kepsek. Di sana, Miss Jovovich mempersilakan kedua anak yang bermusuhan itu duduk. Aku mengintip dari lubang kunci. Masih bisa kudengar suara mereka dengan cukup jelas.
"Ini sudah kedua kalinya kalian melakukan duel, dan kedua kalinya kalian kupanggil ke ruanganku," kata Miss Jovovich, ada kekecewaan bercampur kemarahan dalam suaranya. "Aku masih bisa mentolerir yang pertama, tapi yang kedua kali ini…" dia mendecakkan lidah, lalu mengeluh. "Sejak pertama kali berada di sini, aku berharap benih-benih siswa dari Leaf High akan tumbuh menjadi orang-orang sukses dan membanggakan. Aku menaruh kepercayaan pada setiap alumni yang meninggalkan sekolah ini bahwa mereka akan menjadi orang hebat di masa depan. Tapi nyatanya, diantara yang subur masih ada benih-benih yang tak berkembang dengan baik. Dua diantaranya adalah kalian."
Callan dan Robbie terdiam. Mereka berdua menundukkan kepala ke lantai. Miss Jovovich bangkit dari duduknya, lalu berjalan memutari mereka.
"Akan sangat disayangkan apabila benih-benih itu dipertahankan," kata Miss Jovovich diantara telinga kedua anak itu. "Karena apabila dipertahankan, tak ada jaminan bahwa ia dapat menjadi subur, meski kemungkinannya ada. Terutama kau, McFadden." Dia menyentuh bahu Callan yang tegap. "Kau adalah kekecewaan besarku. Meskipun kau banyak berprestasi dan pandai dalam pelajaran, tapi kau tak cukup pandai dalam mengendalikan diri. Aku tahu banyak hal buruk terjadi padamu, namun bukan berarti kau bisa berperilaku tak sesuai aturan. Jangan buat aku mengingatkanmu atas celaan guru-guru padamu. Mereka bilang kau jarang mendengarkan pelajaran dan malas mencatat. Masih untung nilaimu bagus, tapi itu sama saja meremehkan. Kau mengerti?"
Callan mengangguk pelan dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kudengar dengus tertahan dari Robbie. Miss Jovovich jelas mendengarnya juga.
"Bukan berarti kau bisa tertawa, Kaye!" ujarnya dengan suara rendah. "Kau jauh lebih buruk dari McFadden. Nilai-nilaimu tak kunjung membaik. Sebagai murid baru di Leaf High, kuanggap kau gagal mengikuti setiap pelajaran yang ada. Mau sampai kau terus begitu? Sampai ujian nasional? Kalau kau bisa lulus ujian tanpa tahap kedua, kuberi sulangan anggur untukmu." Miss Jovovich mengatakannya dengan nada lembut tapi tajam yang menusuk hati. Robbie langsung mati kutu. Kepala sekolah wanita itu lalu kembali ke tempat duduknya.
"Aku sudah memutuskan," katanya sambil melipat tangan di atas meja. "Kalian berdua diskors tiga hari, mulai dari sekarang! Kemasi barang-barang kalian lalu kembalilah ke rumah masing-masing."
Aku menelan ludah. Itu lebih seperti pengusiran paksa. Aku cepat-cepat menjauh dari pintu saat Robbie dan Callan berjalan keluar, lalu aku bersembunyi di balik pot bunga. Mereka diam seribu bahasa selagi berjalan di lorong. Kuikuti mereka diam-diam. Pandangan kebencian masih tersisa di wajah mereka, meski sekarang bercampur penyesalan. Ketegangan yang menjadi penghubung mereka mulai mencair. Tiba-tiba, Robbie bicara, dengan tak terduga:
"Aku minta maaf."
Hening. Callan berhenti berjalan, lalu menoleh pada saingannya itu. "Tak perlu," katanya tanpa ekspresi. "Kita berdua yang salah."
"Yeah, kau benar," kata Robbie. "Seharusnya kita bisa mengontrol emosi."
"Emosi bisa merusak segalanya," kata Callan.
"Tidak juga kalau kau bisa menyesuaikan emosimu," kata Robbie. "Emosi macam apapun kalau tidak dikendalikan akan berakibat fatal. Aku baru mau menyinggung soal itu."
Callan menghela napas. "Jadi, nasihat ini juga untuk dirimu, begitu kan Kaye?"
"Oi, McFadden," kata Robbie mencibir. "Setidaknya aku punya kesadaran emosi daripada dirimu. Kau itu susah ditebak. Kau lebih banyak diam, tapi kalau marah menakutkan sekali. Malah lebih menakutkan daripada Chloe!"
Seringai terbentuk di wajah Callan. "Nah, menurutmu apa yang perlu kita sepakati?"
"Harus saling mengontrol emosi. Benar, kan?" kata Robbie dengan bangga. "Bukan hanya itu, kita harus belajar mengendalikan diri."
"Tidak, bukan itu," sahut Callan.
"Heh? Kupikir itulah kesepakatannya!" seru Robbie.
"Kesepakatannya adalah," Callan mengangkat dagunya dengan angkuh, "bahwa aku boleh mengambil emasmu sebagai pergantian lima puluh tentara."
Tawa Robbie meledak. "AHA! Tidak semudah itu karena bentengku jauh lebih kuat dari bentengmu, McFadden payah!"
"Tunggu sampai aku bisa membeli sebuah bazooka kalau begitu," kata Callan tak peduli, lalu melangkah pergi.
"Oi! Tunggu!" Robbie berlari menyusulnya. "Bukannya bazooka baru bisa di-unlock menggunakan kode? Jangan bilang kau pakai cheat dari internet!"
Aku mendengarkan perdebatan mereka sambil tersenyum geli bercampur haru. Yah, mau bagaimana lagi? Sampai soal game online pun mereka tidak pernah akur. Setidaknya mereka tidak berperang menggunakan bazooka sungguhan di dunia nyata.
Chloe pun tersedu-sedu menahan tangis mendengar ceritaku.
"Ah, memang mereka itu…" dia mendesah. "Mereka memang tukang cari gara-gara."
"Hari ini memang penuh kejutan, ya?" kataku.
"Oh, ya? Kejutan baru lagi, tuh," kata Nicola, mengedikkan kepala saat Mr Shikuya datang bersama seorang gadis berambut pirang. "Lizzie manis akan bergabung dengan kita."
"Selamat siang, Anak-anak!" sapa Mr Shikuya dengan ceria. "Hari ini Elizabeth akan menjadi asistenku dalam mengajar. Katakan 'hai' padanya, semua!"
"Hai…" kami berkata dengan ogah.
"Sir, tampaknya mereka ingin kita segera mulai pelajaran," kata Elizabeth sopan.
"Oh, ya, benar," kata Mr Shikuya. "Liz, bisakah kau siapkan barang-barang untuk praktek hari ini? Ah, Anak-anak, hari ini kita akan melakukan praktek pengetesan kadar garam pada setiap sampel makanan yang dibawa Elizabeth. Alat-alatnya segera menyusul. Sebelumnya, aku akan menerangkan dahulu petunjuknya. Oh, di mana spidol hitamnya?" Mr Shikuya tampak bingung mencari-cari di sekitar mejanya.
"Spidolnya di dekat dosgrip Anda, Sir," kata Daryl sembari menunjuk.
"Oh, ya ampun!" Mr Shikuya kaget sendiri. "Terima kasih, Mr Savory. Aduh, aku memang suka kehilangan fokus kalau tidak pakai kacamata. Maafkan aku."
Aku baru sadar. Pantas saja ada yang aneh dengan penampilan guru kikuk itu hari ini.
"Aku kehilangan kacamataku kemarin," katanya lagi. "Mungkin jatuh di jalan. Kalau sudah begitu, tak ada harapan lagi untuk menemukannya."
Aku dan Chloe berpandangan dengan tegang. Kukeluarkan kacamata temuan kami dari dalam kotak pensilku, tempat teraman untuk menyimpannya. Kupikir tak ada salahnya mencoba.
"Sir, ehem…" aku mengacungkan tangan. Seluruh kelas memandangku dengan heran, termasuk Isa. "Saya ingin tahu, apakah kacamata ini milik Anda?"
Mr Shikuya memeriksa benda itu dengan teliti, kemudian wajahnya langsung berubah cerah. "Oooh, iya, benar! Ini kacamataku yang hilang! Syukurlah kau menemukannya! Oh, tapi bagaimana bisa? Di mana kau menemukannya?"
"Di lapangan parkir," jawabku. Aku sengaja tidak mengatakan rumah sakit.
"Ya ampun, sungguh teledor sekali aku kalau begitu!" kata Mr Shikuya sambil mengelap-elap kacamatanya dengan sayang. "Nah, yang penting sudah ketemu. Sekarang, mari kita mulai prakteknya! Liz, kau sudah siap, kan? Mari, mari berkelompok dengan teman kalian! Tiga-tiga!"
Aku, Nicola, dan Chloe merapatkan meja kami dalam satu kelompok. Setelah kami mengambil labu, gelas ukur, dan peralatan lainnya, Mr Shikuya memberikan kertas kosong untuk menulis laporan. Elizabeth juga mendatangi setiap meja untuk membagikan sampel makanan pada kami. Mejaku yang terakhir didatanginya, dan ia memberi Isa tatapan terkejut yang dibuat-buat.
"Hm, sepertinya kau tidak asing, ya?"
"Memang," kata Nicola tak ramah. "Klub voli, ingat?"
"Oh, ya, benar," kata Elizabeth sambil tersenyum. "Kau kapten volinya, kan? Aku harap kau lebih banyak belajar sebelum mengakui dirimu menjadi kapten."
Muka Nicola merah padam, tapi Elizabeth tidak peduli. Dia memalingkan wajah sembari tertawa. "Ups, kurasa aku sedikit frontal? Sebaiknya aku kembali pada tugasku." Dia pun melenggang pergi.
Nicola mengepalkan kedua tangannya dengan gemas. "Uuuugh… kalau saja di sini ada bola voli…"
"Katamu tadi jangan baper," godaku.
"Peduli amat!" geram Nicola sambil cemberut. "Masih beruntung tahu, kau berurusan dengan cowok cakep! Nah, ini? Cewek sombong itu akan menerima balasanku!"
Aku mengabaikannya. Selagi mendata kembali peralatan kami, aku mengamati tangan Mr Shikuya yang terus-menerus bergerak saat dia mengoceh di depan kelas. Aku terkejut. Tato ular yang semula di pergelangan tangannya telah lenyap!
"Kau serius?" kata Chloe setelah pelajaran Kimia selesai. Kami sedang mengemasi loker masing-masing.
"Aku berani sumpah," kataku sambil mengacungkan tanda peace di samping wajahku. "Dia pasti sudah menghapus tato itu!"
"Itu aneh, karena bagi orang awam tato itu kan nggak berbahaya," kata Chloe.
"Yah, itulah," kataku. "Kau ada latihan dengan orkestra, ya?"
"Dan kau latihan anggar," ujar Chloe sambil mengangkat alis.
"Oh, hore," kataku lemas seraya mengunci lokerku. "Hei, lihat, Lizzie manis menuju ke arahku."
Memang benar. Elizabeth baru saja keluar dari kelas sambil membawa tas besar. Kuduga isinya sampel-sampel makanan yang tadi kami pakai praktek. Dia berjalan dengan senyum lebar ke arahku.
"Apa kau yang bernama Celebrian Hughes?"
"Ya," kataku. "Ada apa?"
"Nah, kalau begitu kau ketua klub anggar itu," kata Elizabeth. "Aku mau bilang kalau adikku sebenarnya mau ikut latihan lagi sore ini."
"Oh, baguslah," kataku, berusaha setenang mungkin.
"Yah, dia maunya begitu," kata Elizabeth lagi. "Tapi sayangnya, dia tidak bisa datang."
"Benarkah?" tanyaku. "Kenapa?"
"Kata dokter, dia harus istirahat total untuk terapi insomnia," jawab Elizabeth. "Sayang sekali. Padahal dia sangat ingin."
Aku ingat insiden di rumah sakit semalam. Everett bilang Mr Wormwood mengantarnya ke rumah sakit untuk terapi. Sekarang sepertinya dia tidak berbohong.
"Oh, baiklah kalau begitu," kataku, memaksa tersenyum. "Semoga dia cepat pulih."
"Trims," kata Elizabeth. "Itu saja yang mau aku sampaikan. Sampai jumpa besok!" Setelah itu, dia langsung pergi.
"Yuk!" ajak Chloe. Aku dan Chloe menyeret tas kami menuruni tangga, menuju lantai pertama. Kami sempat melewati ruang guru. Ruang guru masih ramai karena para guru biasanya pulang lebih akhir daripada murid-muridnya. Di sebelah ruang guru ada deretan toilet yang dikhususkan untuk para guru, tapi juga biasa dipakai murid-murid yang sudah kebelet. Dari toilet itu, aku mendengar suara ribut-ribut. Kucolek lengan Chloe dan kami berhenti untuk mengintip. Suara itu ternyata berasal dari Mr Shikuya dan Mr D, wakil kepala sekolah kami.
"Saya bersedia mengajar di sini karena Anda yang memilih saya," kata Mr Shikuya tegas pada Mr D, tangannya bersedekap. "Malah, saya pikir sebaiknya saya tidak usah menjadi guru di sini saja kalau Anda maunya begitu."
Berani sekali dia bicara seperti itu pada Mr D, yang notabene ditakuti seluruh warga sekolah karena sifatnya yang keras itu. Mr D hanya tertawa dingin.
"Ya, memang aku yang memilihmu," katanya, "tapi bukan itu alasannya, Tuan yang baik."
"Saya tak bisa menembus pertahanannya," kata Mr Shikuya dengan suara berbisik. "Anak itu tidak mau mendengarkan saya. Dan sekarang, dia malah diskors dari sekolah."
Aku dan Chloe bertukar pandang. Entah mereka membicarakan Callan atau Robbie.
"Anda pasti tahu, kenapa dia tidak mau mendengarkan?" lanjut Mr Shikuya. "Dia berada dalam rumah yang perlindungannya ketat. Kecuali dia keluar rumah, dia takkan bisa lagi diusik oleh siapapun." Kali ini jelas mereka membicarakan Callan.
"Kalau begitu cari cara lain," kata Mr D tak peduli. "Kau harus buat dia percaya padamu. Termasuk tentang tato di tanganmu itu…"
"Aku sudah menghapusnya," sela Mr Shikuya.
"Itu baru langkah awal," kata Mr D sambil mengelus permukaan cermin di atas wastafel dengan jemarinya. "Anak itu harus mengetahui siapa dirinya. Jati dirinya. Ayahnya tidak meninggal tanpa mewariskan apapun yang tidak berarti untuk putranya. Waktunya hampir tiba. Organisasi boleh mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi aku akan mendapatkan lebih dari itu, tanpa perlu ketahuan Jovovich tentu saja."
"Sir, Anda tak boleh bertindak gegabah," kata Mr Shikuya.
"Aku tidak gegabah," kata Mr D sambil meniup debu dari ujung jemarinya. "Aku ingin semuanya segera diakhiri. Perkemahan adalah idemu yang paling brilian, bukan, Artorius?"
Aku terbelalak. Mr Wormwood ternyata juga ada di toilet itu. Kulihat ia melangkah dari dalam sebuah bilik sambil mengangguk. Mr Shikuya tampak kebingungan.
"Kita sudah sepakat, Sir," kata Mr Wormwood.
"Artorius, kau bisa saja! Bukan aku yang menyepakatinya," kata Mr D santai. "Ini semua adalah skenario buatan Organisasi. Kita tinggal berperan di dalamnya, termasuk kau dan berandal-berandal kecilmu. Tapi sekarang, ada skenario dalam sebuah skenario. Anak-anak didikmu juga harus mematuhi skenario kedua, yang berasal dariku."
Mr Wormwood terkejut. "Tapi… tapi… Sir… Anda tidak bilang apa sebenarnya yang Anda rencanakan untuk anak itu."
"Aku sudah bilang dari awal, tapi kau tidak memperhatikan," kata Mr D dengan tajam. "Anak itu punya potensi yang bisa membuatnya kuat. Tapi, Organisasi tidak lagi menginginkannya. Yang Organisasi inginkan adalah apa yang ada pada anak itu. Tergantung anak yang mana yang kau maksudkan, Artorius, karena seseorang menginginkan yang satunya, sama seperti aku menginginkan yang lain. Aku sudah memberimu ruang untuk bergerak, tinggal kau beri aku ruang untuk diriku sendiri. Pembicaraan berakhir."
Setelah itu, Mr D keluar dari toilet. Aku dan Chloe mengawasinya berjalan pincang ke arah lobby dari persembunyian kami. Dinding yang melesak ke dalam memberi kami keuntungan untuk menguping tanpa ketahuan. Mr Shikuya dan Mr Wormwood keluar tak lama kemudian, sehingga kami bisa bernapas lega.
"Mr D ternyata adalah orang yang memasukkan Mr Shikuya!" aku menyimpulkan. "Mr Shikuya pastilah agen rahasia juga—maksudku mereka semua adalah agen rahasia. Mr Wormwood juga bekerjasama dengannya dalam kunjungan musim gugur ini. Dan besok, pada perkemahan musim gugur yang akan diadakan, mereka akan melakukan sesuatu."
"Tidak, menurutku Mr Wormwood hanya ikut-ikutan," kata Chloe. "Dia punya alasan lain mengapa memasukkan Everett dan saudara-saudaranya ke sini. Mr Shikuya adalah orang yang patut kita waspadai. Siapapun dia, kita harus menghentikannya sebelum dia menyentuh Callan atau Robbie!"
Aku menggigit-gigit bibir. "Terungkap sudah persekongkolan pahit di sekolah ini! Sebaiknya kita kabari Robbie dan Mr Grace secepat mungkin. Kalau Robbie bisa kita amankan, berarti Callan juga bisa. Hadapilah, Chloe, kita sudah bukan anak sekolah lagi."
TO BE CONTINUED
