Wowowowowwo! Soal update lama yah, maklumin saja yah, bukan saya buat alasan gak mau buat tapi, kenyataanya memang begitu di kehidupan nyata saya jadi, tolong di maafkan oke,

Nah, chapter ini, mungkin mulai memasuki Arc yang kalian tunggu(mungkin?) yaitu Huenco mundo nah, bagi yang suka bleach atau pernah baca manganya tak terasa asing lagi bagi tempat ini

Nah, tempat itu di mana Hollow berada atau para Arrancar tinggal yah jika diibaratkan buminya para Hollow so, saya sangat bersyukur jika kalian menikmati fic yang saya buat.

Oke, jika ada yang bingung tentang Fic ini tanya saja di review mungkin, akan saya jawab di AN atau jika pertanyaan tentang cerita akan di jawab di fic ini.

Maka dari itu tetap Stay dan pantau terus fic saya yah.

.

...

.

Terdengar menyakitkan tapi, itulah kenyataanya setelah mendengar penjelasan dari Brandish bahwa, Juvia menghilang Natsu selepas pelajaran memilih berdiam diri di atap sekolah merenung di pojokan

Natsu hanya mendesah, dia juga mengingat kejadian semalam walaupun, itu masih samar sangat jelas bahwa waktu malam Juvia masuk ke kamarnya dan mengucapkan selamat tinggal.

Tapi, yang membuat Natsu bingung kemana? Kemana tujuan wanita itu pergi, apakah dia pindah sekolah atau apa tapi, itu mustahil karena wanita itu bilang padanya setelah lulus dia akan tetap di kota ini.

Natsu hanya bersandar pagar pembatas. Dia mendengar langkah kaki yang menuju kemari dia melihat gadis bersurai hitam panjang tengah berdiri menghadapnya.

"Ultear? Kau kemari?" Natsu menatap bingung wanita itu.

"Yah, habisnya aku khawatir ketika melihatmu jadi, aku kemari" balas Ultear dia duduk di samping Natsu.

"Maaf, jika membuatmu khawatir" ucap Natsu

"Yeah, tak masalah" Ultear menghela nafas "ini soal Juvia bukan?"

"Begitulah, kau tau bukannya tanpa alasan aku mengkhawatirkannya tapi, meskipun dia kuat dia tetaplah wanita" Natsu menatap ke depan dengan mata sayu.

"Aku tau!" Ultear merogoh sakunya "waktu aku ke kamar Juvia aku menemukan ini"

"Apa ini?" Natsu mengambil objek yang di pegang Ultear

"Entahlah, waktu aku cek, aku sudah melihat ini di dekat jendela" balas Ultear

Objek yang di pegang Natsu ini runcing dan tajam berwarna putih kalau di lihat dari jauh tapi, jika di lihat dari dekat lebih mirip sebuah kuku atau tanduk yang patah.

"Natsu, kau baik-baik saja?" panggil Ultear yang melihat Natsu melamun.

"Ahh, iya aku tak apa" Natsu membuyarkan lamunannya sendiri.

"Oh tapi, kau tau sesuatu?" tanya Ultear

"Entahlah tapi, ketika aku melihat ini serasa familiar" balas Natsu yang fokus ke objek tadi.

Sesuai yang Natsu bicarakan tadi saat ini sebuah benda kecil ini sangat identik atau bisa di bilang kemiripannya persis dengan Hollow tapi, ada yang berbeda yaitu bentuknya tapi, setelah sepulang sekolah nanti mungkin, ia tanyakan ke bosnya

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Tempat yang gelap, suram dan mencekam terlebih suasananya dingin dan menyeramkan itulah sebuah gambaran Kastil yang di penuhi hawa mistis dan tak masuk akal

Kini Seorang gadis berambut biru yang bernama Juvia Locksar dia hanya berdiri dengan wajah tenang tapi, tak menutup kemungkinan dia juga takut

Juvia sekarang berada di sini di sebuah kastil dan berbeda Dunia. Dia mengenakan baju dan rok putih serba panjang

"Selamat datang nona Locksar!"

Terdengar suara langkah kaki, Juvia melihat ke atas dan melihat Figure lelaki berambut hitam panjang, dengan mata sipit dia hanya duduk di kursi dengan wajah tenang

"Kau yang meminta Juvia kemari?" Juvia melihat laki-laki itu.

"Yah, maafkan aku tapi, jika tak ada sedikit ancaman maka kau takkan kemari" jawab lelaki itu.

"Siapa kau? Dan tempat apa ini?" tanya Juvia.

"Izinkan aku, namaku Mard Geer aku raja di sini dan kau berada di Huenco Mundo tempat tinggal Hollow berada" jawab lelaki itu membungkuk.

'Hollow? Bukankah itu yang sering di bicarakan Natsu-sama?' batin Juvia

"Aku membawamu, bukan tanpa alasan tapi, takkan kuberi tahu" Mard Geer berlalu pergi "Jackal cepat kau bawa dia!*

" baik tuan!" Jackal membawa Juvia pergi ke ruang tahanan

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Kini tiga bersaudara ini sehabis pulang sekolah, mereka tujuannya adalah ke sebuah pemotretan mereka semua adalah Lisanna, Mirajane, dan Elfman

Sehabis pulang sekolah memang begitu Aktifitas yang Mirajane lakukan yaitu sesi pemotertan di sebuah majalah khusus yaitu, Majalah dewasa

Untuk Mirajane dia melakukannya dengan Profesional dengan postur tubuh bagus, ramping putih di tambah lagi wajahnya yang cantik menjadi kesan lebih untuk menarik perhatian laki-laki tapi, pengecualian buat Natsu.

"Ahh, hari yang lelah dengan pemotretan yang membosankan!" keluh Mirajane menghela nafas

"Tidak biasanya kau mengeluh, Mira-nee?" Lisanna mengangkat sebelah alisnya.

"Tidak, maksudku pemotretan ini terasa bosan jika tak ada pendamping" balas Mirajane

"Kan, ada kita!" sambung Elfman

"Bukan begitu, maksudku tak ada model laki-laki yang di foto bersamaku" jawab Mirajane.

"Kalau begitu, kenapa tak cari laki-laki soalnya banyak mau denganmu?" usul Lisanna.

"Iyah sih" Mirajane mendengus "masalahnya kebanyakan dari mereka bukan tipe yang aku mau"

"Memang tipe lelaki apa yang ingin kau cari?" tanya Lisanna

"Rahasia fufufufu!" Mirajane memberi kedipan

Lisanna hanya menyipitkan matanya ketika mendengar jawaban itu. Dan terlebih dia asumsikan siapa yang lelaki di maksud kakaknya yaitu teman dekat sekolahnya waktu di Smp Edolas.

Yah, Lisanna sudah mencurigainya sejak awal bahwa kakaknya sudah menyukai Natsu semenjak turnament tapi, Mirajane bisa menutupinya. Lisanna mengetahui inipun dari fans Mirajane yang mengatakan bahwa idola mereka punya pujaan hati yang baru.

Mereka berjalan tapi, Langkah Mirajane terhenti dia merasakan sesuatu yang tak menyenangkan dia menoleh ke depan dan melihat seorang lelaki berdiri di dekat tiang listrik

"Elfman, jaga Lisanna" Mirajane langsung pasang badan dengan aura ungu.

"Wah,-wah santai nona" dan lelaki itu berjalan ke depan dengan sekujur tubuh penuh api.

"Tapi, kedatanganmu kemari membawa sesuatu yang buruk" Mirajane ke mode sitrinya

"Baiklah, tapi terima hadiahku" lelaki tadi mengeluarkan api di tangannya

Booommmmmm!

.

.

.

.

Di waktu yang sama di tempat yang berbeda tampak tiga orang laki-laki mereka tampaknya sehabis pulang sekolah dan mereka adalah Cobra, Racer, dan Hoteye.

"Ahhh, hari yang membosankan seperti biasa" Racer hanya mengeluh tak karuan.

"Setiap hari bagimu, bosan saja" celetuk Cobra memainkan hp nya.

"Ahh, mungkin karena uang!" Hoteye bersikap tenang dengan biasanya.

"Gak nyambung" Racer Sweatdrop

Tapi, langkah mereka terhenti ketika ada seseorang yang mengenakan jubah mencegat langkah mereka ketiga orang itu menatap orang di depannya dengan wajah kesal.

"Oi! Menyingkir kau, jika ingin melamun di taman saja" teriak Racer kesal tapi, yang di teriaki tak bergeming.

"Kurasa orang itu, menginginkan kita dengan niat tak baik" Cobra menyeringai dia tau sepertinya.

"Kau tau sesuatu?" tanya Racer

"Sangat jelas sekali" Cobra mengangguk.

"Sepertinya kita pulang nanti akan berbekas sebuah luka" Hoteye menyatukan telapak tangannya.

"Hahahaha! Kalian benar!" orang berjubah tadi mengeluarkan tongkat dari jubahnya.

"Tch, sudah kuduga"

.

.

.

.

.

Kini dua orang ibu dan anak ini perjalanan mereka menuju rumah mereka yah, sepertinya mereka sangat lelah jika di sekolah.

"Hei, Erza sudah mengunjungi Wendy?" tanya Irene ke anaknya.

"Sudah dan tampaknya, dia baik-baik saja dan besok akan sekolah"balas Erza

" ahh, syukurlah bilang pada Natsu, ibu tidak bisa menjenguk karena, sibuk sekali" Irene hanya menghela nafas.

"Tak, apa lagipula Natsu tak mempermasalahkannya" Erza menatap ke depan tapi, dahinya sedikit berkerut "ibu itu siapa?"

Irene melihat apa yang di maksud anaknya. Dan melihat seseorang yang berdiri di depan pagar rumahnya dan Irene menghampirinya.

"Permisi? Apa anda punya keperluan di sini?" tanya Irene sopan tapi, tak ada balasan.

Irene merasakan sesuatu yang besar ketika dia bicara dengan orang di depannya entah, itu cewek atau cowok pokoknya dia merasakan sesuatu yang berbahaya.

"Erza, menyingkir dari sini" perintah Irene dia melihat aura hijau besar

"Ibu ada apa?" Erza tampaknya khawatir tapi, tak ada balasan dari ibunya.

"Jadi, kau kesini dengan niat tak baik" Irene mengeluarkan aura merah besar.

"Siapa, sangka aku berhadapan dengan Si Scarlet Despair" orang tadi membuka penutup kepalanya dan ternyata itu wanita.

"Kau?!"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Sebuah restaurant di mana tempat Natsu bekerja kini, kondisinya sangat ramai dengan pengunjung dan saking ramainya mereka tak bisa beristirahat sebentar.

Dan terlebih lagi kini Restaurant plus cafe ini ada konsep dan nuansa yang sedikit baru, hingga membuat betah para pengunjung di sini.

"Ya, ampun bahkan hari ini lebih parah dan ramai di banding libur besar atau hari minggu" Natsu mengelap jidatnya kedua tangannya sibuk mengolah makanan.

"Yah, kupikir jam-jam segini memang seperti itu" balas Yajima yang berdiri di samping Natsu.

"Tapi, tidak separah biasanya, ini sangat ramai sekali" Natsu menghidangkan makanan ke piring

"Itu sah-sah saja Natsu, soalnya tuan Yajima memberikan konsep yang baru dan keren jadi, wajar saja pengunjung agak tertarik" celetuk Jet yamg sibuk mengupas bawang.

Tringg!

Nada bel berbunyi.

"Natsu! Sepiring kepiting saus tiram!" teriak Brandish dari depan.

"Oke,!" balas Natsu berlari ke ruang pendingin

"!"

Natsu, Brandish, Yajima radar mereka bereaksi dengan cepat mereka, bertiga merasakan sesuatu pancaran Reaitsu besar dan sepertinya ada sesuatu yang berbahaya di luar sana.

"Ini," guman Natsu berlari ke arah Yajima.

"Kau merasakannya juga?" tanya Yajima

"Yah, ini cukup lumayan dan berbeda-beda tempatnya" Natsu mengangguk

"Ada apa Natsu?" Jet menoleh, Natsu langsung menggeleng.

"Ada tiga orang tapi, satu ini aku mengenalnya karena, aku pernah melawannya tapi, yang sisanya aku tau tau" Yajima terlihat tenang

"Tch, apa yang mereka pikirkan" gerutu Natsu kesal

"Cepat selesaikan ini, kau dan Brandish akan langsung pergi" perintah Yajima Natsu mengangguk.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Berat, lelah dan terluka yang kini di rasakan Mirajane, tubuhnya berasap seperti terbakar pakaiannya compang-camping dan di sudah tak bisa bertarung lagi karena, kekuatan dia ada batasnya juga.

Soalnya secara mendadak ada seseorang yang ingin menyakiti keluarganya sebagai seorang kakak tertua sudah sepantasnya melindungi adik-adiknya

Orang yang menyerang mereka tak lain dan tak bukan adalah orang yang sama waktu bentrok dengan Yajima kemarin malam yaitu Jackal.

Dan untuk Elfman dan Lisanna mereka tetap di belakang bersembunyi menunggu dengan ekspresi khawatir dan berharap cemas tak terjadi sesuatu yang gawat.

Elfman sebenarnya ingin, membantu tapi, Mirajane menahan mereka untuk diam saja dan tak boleh ikut campur.

"Whahahaha! Kalian manusia di berkahi kekuatan lebih tapi, bodoh menggunakannya" Jackal tertawa dia tampaknya menikmati pertarungan ini

"Hah! Hah! Hah! Sebenarnya apa tujuanmu bentrok di sini" Mirajane nafasnya tersenggal-senggal

"Ini, hanya perintah tuan Mard Geer untuk menyuruh kita mengacau di sini" balas Jackal tak peduli.

"Kita?" Mirajane menyeka jidatnya

"Oh, ya aku datang tidak sendiri, aku datang bersama yang lain" Jackal hanya mendesah

"Jadi, kau bermaksud untuk mengacau?" tanya Mirajane menatap tajam.

"Begitulah" Jackal mengangkat tangannya dengan api.

Booommmmmm!

Ketika Jackal mengangkat tangannya muncul sebuah ledakan, Mirajane mundur menghindarinya dan Jackal membuat banyak ledakan Mirajane sedari tadi menghindarinya dan tak menyerang balik.

'Sial aku kehabisan waktu, dan polisi belum juga tiba' Batin Mirajane kesal.

Jackal membuat pilar api di sekeliling Mirajane dia menyatukan tangannya dan pilar tadi langsung meledak berskala besar.

"Hahaha,begini saja kah?" Jackal tertawa lepas

Mirajane tak membalasnya dia hanya bisa menghela nafas dan menahan rasa nyeri di tubuhnya.

Wushh!

Slashhh!

Tiba-tiba muncul cahaya biru cepat dan langsung menembus ke arah pundak kiri Jackal. Mirajane menoleh ke asal serangan dan melihat lelaki berambut pink dan wanita berambut Hijau.

"Natsu, dan siapa wanita itu?" guman Mirajane memegang dadanya.

"Hei, kau tidak apa-apa" Brandish menghampiri Mirajane.

"Yeah, terima kasih tapi, bagaimana kalian bisa tau?" tanya Mirajane.

"Kami melihat ledakan jadi, kami kemari" balas Brandish.

"Jadi, kau kemari juga?" Jackal menyeringai.

"Kau yang menyerang Restaurant dan tuan Yajima?" Natsu memegang kedua pedangnya.

"Hah, kakek tua itu sudah kuhajar" Jackal terlihat cuek.

Natsu langsung melepaskan pedanganya. Di tangan kanan pedang hitam tipis panjang dengan garis corak merah dan di tangan kirinya pedang agak besar dengan lengkungan di bagian ujungnya berwarna perak dan simbol matahari di belakang pedang yaitu ciri khas Quincy.

'Jadi, ini hasil latihan Natsu yang di katakan ibu' Batin Brandish dia merasakan sesuatu yang kuat ketika Natsu melepaskan pedangnya.

"Tampaknya, aku mendapat sesuati yang mena-"

Wushhh!

Slashh!

Booommmmmm!

Sebelum Jackal berbicara lagi, Natsu sudah cepat di depannya dengan dua pedang terayun yang menghasilkan goresan hitam kemerahan dan menyabetkannya ke Jackal dan membuat lelaki pirang itu terhempas jauh.

"Arhhhhhh! Bajingan kau!" Jackal yang terlihat marah.

Tapi, sebelum Jackal menyerang balik Natsu sudah membuat busur panah dan langsung menembakannya tapi, ukurannya sedikit lebih besar dan cepat.

Wusshhh!

Booommmmmm?!

"Wow, Natsu kuat sekali" Puji Lisanna kagum.

"Jadi, ini yah kekuatan yang sebenarnya dan aku baru tau sekarang" sambung Elfman memuji juga.

"Bajingan tengil kau!" Jackal kondisi tubuhnya penuh luka padahal Natsu hanya dua kali menyerang.

"Lain, kali jika bertemu takkan kubiarkan ini"

Jackal langsung membuat lubang garganta dan menghilang secara cepat

"Tch, dia kabur" gerutu Natsu dan berjalan ke arah Brandish "kondisinya bagaimana?"

"Dia banyak terluka dan kondisi tubuhnya tak stabil" Brandish memegang kepapa Mirajane.

"Terima kasih, Natsu pertolongannya" Lisanna berlari dan memeluk Natsu

"Bagaimana kondisi Nee-can?" Elfman yang terlihat khawatir.

"Hanya butuh perawatan saja dan setelah itu baik" jawab Natsu

Tiba-tiba Handphone Natsu berbunyi dan Natsu mengangkatnya

"Halo!"

Wajah Natsu yang tadinya tenang kini terlihat panik.

"Ada apa Natsu?" Lisanna melihat wajah aneh Natsu.

"Bukan hanya kita saja yang di serang ternyata yang lainnya juga, kini mereka berada di rumah sakit" jawab Natsu

"Apa!?"

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Mereka semua di rumah sakit dan setelah Natsu mendengar kabar bahwa yang lainnya juga di serang buru-buru dia ke rumah sakit sambil membawa Mirajane juga

Kini banyak yang menunggu di ruang tunggu, Erza yang tak berhenti menangis takut ibunya kenapa-napa, sementara Lisanna menenangkannya, Elfman hanya merenung di pojokan

August memberi tau yang ia dengar bahwa mereka di serang oleh seseorang tapi, Natsu sudah bisa menebaknya siap dalang di balik semua ini

"Ahhh, sial siapa sih sebenarnya mereka" gerutu Midnight kesal.

"Sebenarnya yang terakhir kudengar dari Erik, orang yang menyerangnya sama dengan yang waktu di Pulau Tenrou" balas Sorano.

"Maksudmu? Grimoire Heart? Bukankah mereka sudah di tangkap?" celetuk Ur.

"Mungkin!" Sorano mengangkat bahunya.

"Jadi, Natsu yang kudengar kau melawan mereka?" tanya August

"Yah, aku berhasil menekannya tapi, dia kabur" Natsu menghela nafas

Natsu memang tidak menceritakan semua yang terjadi tapi, August tau bahwa muridnya yang satu ini masih ingin membicarakannya tapi, tampakanya memang keadaan yang sekarang kurang memungkinkan.

Dan tak lama muncul Yajima.

"Ada apa anda kemari?" Natsu bingung karena bukankah restaurant jam segini belum tutup.

"Aku sengaja menutupnya lebih awal" Yajima menjawab pikiran Natsu "hei, August bisa bicara secara pribadi?"

"Tentu!" balas August mengikuti Yajima.

Semua mata bertuju kepada Natsu dengan maksud bertanya tapi, Natsu mengangkat bahunya pertanda tak tau apapun tapi, tidak menutup kemungkinan berbicara soal kejadian tadi sore.

"Kau mau ke mana Natsu?" tanya Lisanna melihat Natsu pergi.

"Yah, membeli makanan aku lapar" Natsu berjalan keluar.

"Natsu aku juga ikut" Brandish berlari mengikutinya.

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Kini percakapan dua orang tua di kursi koridor rumah sakit. Yajima menceritakan semua yang terjadi dari penyerangan terhadap dirinya, dan hilangnya Juvia atau juga kejadian tadi sore

Penyebabnya sudah jelas yaitu orang-orang yang berbeda dunia tapi, yang membuat August cukup terkejut yaitu salah satu anak muridnya di culik dia memang baru tau-tau ini.

"Lalu, setelah ini apa yang kau rencanakan, mengingat aku tak tau apapun dan sepertinya kau tau banyak tentang ini?" August berbicara dengan nada serius.

"Yah, maka dari itu aku meminta persetujuanmu untuk melakukan hal ini" Yajima membalasnya "dan terlebih kau tak bisa diam karena, muridmu di ambil begitu saja?"

"Jadi, apa rencanamu?" tanya August.

"Yah, jika kau boleh aku hanya meminjam murid-muridmu untuk pergi ke Huenco Mundo" balas Yajima.

"Huenco Mundo, rasanya pernah mendengar?" August mengangkat alisnya.

"Tempat tinggal Hollow dan selain itu kita bertujuan untuk menyelamatkan muridmu itu?" Yajima dengan suara sedikit di naikan.

"Jadi berapa orang yang ingin kau bawa?" tanya August

"Enam orang dua sudah siap" balas Yajima

Dan tak lama muncul Natsu dan Brandish berada di belakangnya

"Begitu jadi sisanya?" tanya August balik.

"Itu keputusan yang akan kuserahkan kepada Natsu" balas Yajima

"Baiklah, besok kau hubungi aku jika, sudah dapatkan orangnya" August berlalu pergi

.

.

Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx

.

.

Natsu kali ini di tinggal berdua bersama Brandish mereka berdua makan di sana yah, mereka juga tengah mendiskusikan tentang siapa saja yang nantinya ikut.

"Sudah, kau putuskan siapa yang ikut?" tanya Brandish meminum jusnya.

"Sudah tapi, ada sedikit masalah" balas Natsu menatap ke bawah

"Masalah apa?" Brandish mengangkat sebelah alisnya.

"Yang jadi, masalahnya mereka mau atau tidak jika ikut ke tempat berbahaya seperti itu" Natsu menghela nafas pasrah.

Yah, yang ada di pikiran Natsu saat ini bukan karena takut ke sana atau terjadi sesuatu yang buruk tapi, yang jadi masalah apakah mereka mau atau tidaknya mengingat hati orang berbeda-beda.

"Tak, apa biar kubantu nanti" Brandish membalasnya.

"Terima kasih, kau teman yang baik" Natsu sedikit tersenyum

'Mungkin sekarang teman tapi, suatu saat nanti kau jadi milikku'

Brandish memang sudah memiliki perasaan kepada sang Quincy ini di tambah lagi, mereka memiliki hubungan antara ibu mereka dan sejarah orang tuanya

Tapi, alasan Brandish menyukai Natsu bukan hal seperti itu yah, harus di akui Natsu Tampan, keren dan juga kekar kalau sudah kenal dekat mungkin lelaki itu baik dan tak kenal menyerah.

Tapi, sekarang dia tak usah memikirkan itu tapi, yang jelas suatu saat nanti dia akan menyatakan perasaannya sendiri tapi, menunggu waktu yang tepat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Hohohohohohoho! Sekarang sudah mulai seru (mungkin saja) dan tak peduli apapun yang terjadi tetap update

Nah maaf jika lama saya gak ada waktu ke warnet buat publish karena sekarang saya gak ada kuota buat update di hp(curhat lagi)

Ahhhh lupakan saya rencana sudah buat fic baru dan sedang dalam proses maaf, jika Wordnya dikit maklum saya agak sulit buat bikin panjang tapi, kalau lagi bagus-bagusnya juga panjang

Yah PM sajalah

.

RnR.