AKATSUKI KELILING DUNIA
Chapter 29. Hawaii
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Humor/Adventure
Rating : K+
Summary : Akatsuki mendapatkan hadiah keliling dunia secara gratis bersama Naruto si tourguide ceroboh dan Sasuke si pilot dadakan./ "Dei-Senpai! Sasori-Senpai! Tobi sudah temukan Shion!"/"Holly Sh*t! Nenek siapa lagi yang di jadikan Tour Guide oleh acara ini?!"/"Tour Guide apanya? Dasar kau anak kurang ajar! Cepat kembalikan aku ke tempat tadi! Aku sedang menunggu cucuku!"
.
.
.
Pagi ini, Akatsuki cs bersiap untuk penerbangan mereka menuju Hawaii. Itu adalah tempat terakhir yang akan menjadi penutup tour keliling dunia mereka. Perjalanan berlalu cukup lama mengingat posisi mereka yang berada cukup jauh dari Hawaii.
Setibanya di bandara Hawaii, mereka hanya bisa terduduk di salah satu kursi panjang yang tersedia di sana. Naruto tidak bisa menghubungi tourguide mereka karena ponselnya mati. Yang dia ingat hanya nama tour guide nya saja. Kalau dia tidak salah ingat sih namanya Shion.
"Bagaimana mungkin kita mencari seseorang berdasarkan namanya di tempat seramai ini?!" pekik Sakura begitu Naruto mengatakan bahwa satu-satunya informasi yang dia tahu adalah nama tourguide mereka adalah Shion.
"Te-tenang, Sakura. Kita bisa berpencar dan mencarinya," ucap Naruto agak panik ketika melihat Sakura seperti akan mengamuk.
"Haaah, mau bagaimana lagi," pasrah Sakura. Akatsuki pun mulai berpencar untuk mencari seseorang bernama Shion.
Naruto, Tobi, Deidara dan Sasori mencari ke arah barat. Mereka bertanya pada setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Namun tentu saja itu tidak mudah mengingat mereka ini ada di bandara Internasional dan banyak tourist dari berbagai negara yang datang kemari.
Naruto menghampiri seorang wanita yang tampak menunggu seseorang. Pria kumis kucing ini meneliti wanita tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita berkulit putih dengan rambut cokelat, pakaiannya juga simpel dan dia memakai topi. Sesekali wanita tersebut melihat ponselnya. Berdasarkan analisis Naruto, wanita itu pasti adalah Shion yang menunggu Akatsuki. Dengan percaya diri, Naruto pun berjalan ke arahnya.
"Halo, apa namamu adalah Shion?" tanya Naruto. Wanita itu sedikit mengernyit heran, "Kenapa kau tahu namaku?"
"Ah! Aku Naruto. Kami sudah menunggumu dari tadi. Ayo ikut aku!" Naruto menarik tangan wanita tersebut.
"Eh? Apa-apaan ini?! TOLONGG!"
Berkat teriakan wanita itu Naruto pun di gusur ke kantor security karena di kira penculik.
Sementara itu Tobi, Sasori dan Deidara tidak menyadarinya karena sibuk mencari Shion. Sasori bertanya pada setiap orang yang lewat. Sementara Deidara bertanya pada orang-orang yang sedang duduk. Setelah cukup lama, Deidara pun mendekati Sasori.
"Tidak semudah yang kita kira, aku sudah lelah, un," keluh Deidara.
"Ngomong-ngomong, Naruto dan Tobi dimana ya?" tanya Sasori. Mereka berdua pun mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat. Dari jauh mereka melihat seorang pria bertopeng lolipop sedang menuntun seorang nenek tua.
"Sedang apa dia?" tanya Sasori.
"Dia anak baik, un. Pasti dia menolong nenek itu untuk ke suatu tempat," Deidara terharu melihat aksi heroik Tobi.
"Tapi kenapa mereka menuju kemari?" tanya Sasori lagi.
"Dei-Senpai! Sasori-Senpai! Tobi sudah temukan Shion!" pekik Tobi sambil melambai-lambai.
"Holly Sh*t! Nenek siapa lagi yang di jadikan Tour Guide oleh acara ini?!" umpat Sasori kesal. Ia masih dongkol karena kemarin neneknya menjadi Tour Guide.
"Apa-apaan ini? Kenapa aku dibawa kemari?" tanya nenek tua tersebut.
"Nah, ini teman-teman Tobi, Nek. Nenek kan Tour Guide kami," jelas Tobi.
"Tour Guide apanya? Dasar kau anak kurang ajar! Cepat kembalikan aku ke tempat tadi! Aku sedang menunggu cucuku!" omel Nenek tersebut.
"Ssstt, Tobi! Cepat kembalikan nenek itu ke tempat semula, un. Kalaupun dia Tour Guide kita, sebaiknya kita pura-pura bukan klien nya saja!" bisik Deidara. Tobi menggaruk tengkuknya, "Tapi senpai, Tobi lupa dimana nenek itu sebelumnya. Tempat ini begitu luas dan terlihat sama di semua sudut," jelas Tobi.
Deidara menepuk jidatnya, Tour Guide mereka saja belum ketemu. Sekarang muncul masalah baru, mereka harus mengantarkan nenek itu ke tempatnya semula.
Sasori pun mengusulkan untuk tidak panik. Mereka bertiga pun mengantar nenek itu ke tempatnya menunggu cucunya. Sudah sekitar 5 tempat yang mereka datangi namun tempat itu bukanlah tempat yang di maksud sang nenek.
"Astaga! Aku sudah lelah, un!" keluh Deidara.
"Semangat, Dei-Senpai! Semakin cepat kita berjalan semakin cepat kita menemukan tempat tadi. Membantu nenek-nenek itu hal yang baik loh~" ucap Tobi. Deidara dongkol, apa nya yang membantu, yang membuat kekacauan ini kan dia.
Tak lama kemudian terdengar seorang wanita berkata "Itu dia penculiknya! Itu nenekku!"
Wanita itu datang bersama dua orang security. Sang nenek yang melihat cucunya datang segera berhambur ke pelukan sang cucu. Tobi tersenyum bangga, ia merasa telah menjadi pahlawan yang telah mempertemukan sang nenek dan sang cucu. Deidara terharu melihat adegan pelukan tersebut. Memang pada dasarnya Deidara sering terbawa drama yang dia tonton. Lain halnya dengan Sasori, bocah baby face itu malah dongkol melihat adegan tersebut. Dalam hatinya ia bergumam 'Seperti inikah diriku saat di peluk nenek? Memalukan' seketika pipinya memerah.
Saat sedang asyik dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba saja sejumlah security menyeret mereka ke kantornya karena mengira mereka adalah komplotan penculik nenek-nenek.
"HOLY SH*T! KAMI BUKAN PENCULIK! APA GUNANYA JUGA MENCULIK NENEK-NENEK!" pekik Sasori sebelum dirinya dimasukan ke kantor security untuk di interogasi.
Baru saja mereka bertiga masuk, di dalam kantor terdapat seorang security yang sedang menginterogasi seseorang.
"Naruto, kenapa kau ada disini, un?!" tanya Deidara.
"Teman-teman! Syukurlah kalian datang! Mereka mengira aku penculik!" adu Naruto pada ketiga Akatsuki itu.
"Ooh, rupanya kalian berempat sekongkol? Yang satu menculik wanita dan yang lainnya menculik nenek-nenek?" tanya security yang menginterogasi Naruto.
"Apa? Menculik nenek-nenek?" Naruto sweatdrop mendengarnya.
"Jangan banyak bicara cepat duduk! Dan jangan coba-coba untuk kabur!" ucap security yang lain.
.
Sementara itu di sudut lain bandara, rombongan Akatsuki akhirnya bertemu dengan Shion yang asli. Dan orang yang menemukan Shion adalah Pein.
Awalnya, pria berpierching itu hanya bertanya sesekali pada orang yang lewat. Dan saat ia hampir putus asa, Pein melihat seorang wanita berambut pirang dengan tubuh sexy. Wanita itu menggunakan hotpants ketat dan baju corp yang hanya menutupi bagian dada dan sebagian lengannya.
"Waooww, tiba-tiba saja aku kembali bersemangat," gumam Pein sambil membuntuti wanita tersebut dari belakang.
Konan yang berkeliaran di sekitar sana pun melihat Pein yang sedang membuntuti wanita seksi. Ia pun segera menghampiri Pein dan menjewer kupingnya.
"A- aduh! Apa-apaan ini!"
"Dasar mata keranjang, bukannya mencari Shion kau malah mengikuti wanita sexy!" semprot Konan.
Shion yang mendengar keributan tepat di belakangnya pun menoleh.
"Eh? Apa kalian menyebutkan namaku?" tanya Shion. Pein dan Konan tampak keheranan. Lalu Konan pun berkata "Kami sedang mencari seorang Tour Guide bernama Shion."
"Ah, jadi kalian Akatsuki dari Konoha? Aku mencari kalian kemana-mana!" seru Shion senang.
"Jadi benar kau Tour Guide kami?!" pekik Konan seakan tak percaya.
"Lihatkan? Aku ini bukan mengikuti wanita seksi. Aku membuntuti dia karena instingku mengatakan bahwa dia adalah tour guide kita!" elak Pein. Dalam hati ia bernapas lega.
"Hmm," Konan melepaskan jewerannya, namun manik matanya masih menunjukkan ketidakpercayaannya. "Kau pasti mengada-ngada kan?"
"Ti-tidak! Memang benar kok. Aku mengikutinya untuk menyelidiki apakah dia Shion yang kita cari atau bukan," jelas Pein lagi. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.
"Hm, kali ini kau selamat," ucap Konan akhirnya. Pein kembali bernapas lega.
Beberapa Akatsuki yang menunggu di tempat perjanjian pun sudah berkumpul. Hanya tinggal Naruto, Sasori, Tobi dan Deidara yang belum muncul.
"Bagaimana ini? Apa mereka tersesat?" tanya Itachi.
"Apa kita cari saja mereka?" tanya Sakura. Akatsuki pun setuju. Tapi hanya Pein yang mencari karena Konan mengusulkan bahwa Pein adalah ahli pencari orang. Terbukti dengan cara dia menemukan Shion. Sudah Pein duga, membohongi Konan bukan ide yang bagus.
Dengan perasaan dongkol, pria bertindik itu pun mencari ke empat orang yang tidak kunjung datang itu. Saat ia berjalan, Pein melewati segerombol ibu-ibu yang sedang membicarakan tentang penculik. Pein pun tertarik dan ikut bergabung bersama ibu-ibu tersebut. 'Lumayan sekalian cuci mata' batin Pein begitu melihat ibu-ibu muda tersebut mengenakan pakaian terbuka yang biasa dikenakan di tempat panas seperti Hawaii.
"Benar-benar keterlaluan, ada penculik yang menculik wanita muda dan nenek-nenek," ucap salah satu wanita tersebut.
"Iya dan parahnya lagi ternyata mereka satu komplotan!"
"Nenek-nenek? Apa gunanya menculik nenek-nenek?" Pein ikut menyumbangkan pendapatnya.
"Entahlah, mungkin mereka berniat memeras keluarganya. Padahal sangat di sayangkan. Mereka masih muda, sepertinya seumur denganmu," sahut wanita yang lain pada Pein.
"Wah-wah keterlaluan sekali, masa muda mereka harus digunakan oleh hal buruk seperti itu," Pein menggelengkan kepala dengan tangan yang dilipat di dada. Khas orang bijak.
"Iya, untung saja mereka sudah diamankan di kantor security."
"Aku melihat para penculiknya, yang satu rambutnya sama denganmu, hanya warnya pirang," wanita itu menunjuk gaya rambut Pein.
"Iya dan yang satu lagi rambutnya seperti wanita!"
"Ada juga yang pakai topeng aneh seperti lolipop!"
"Yang paling di sayangkan yang rambut merah, padahal wajahnya tampan dan mulus seperti pantat bayi!"
Otak beku Pein berputar sedikit demi sedikit. Ia mencerna kata-kata mereka. Pria berambut jabrik warna pirang, itu seperti rambut Naruto. Pria berambut wanita sepertinya mirip Deidara. Dan orang bodoh mana yang pakai topeng sama dengan Tobi? Lalu rambut merah dengan wajah tampan baby face rasanya teringat pada Sasori.
Seketika Pein menyadarinya kalau ia sedang mencari keempat orang tersebut.
"Dasar anak buah bodoh! Di suruh mencari tourguide malah menculik! Dan bodohnya lagi kenapa menculik nenek-nenek? Kenapa tidak wanita muda yang sexy saja sekalian!" umpat Pein sambil berjalan menuju kantor security. Mengabaikan ibu-ibu yang shock karena mendengar pengakuan Pein. "Jadi... dia ketua para penculik itu?!"
Pein memberitahu Akatsuki cs kalau Naruto dan yang lainnya ada di kantor security. Mereka pun datang berbondong-bondong dan menjelaskan kebenarannya pada security tersebut. Akhirnya Naruto, Sasori, Deidara dan Tobi pun diizinkan pergi.
.
Akatsuki pun memulai acara traveling mereka setelah beberapa jam tertunda karena mencari Shion. Saat keluar dari bandara, terik matahari yang menyengat segera menyambut kedatangan mereka. Akatsuki cs membuka jubah mereka karena kepanasan kecuali Itachi yang tidak ingin kulitnya terbakar. Pria berambut hitam itu tetap mengenakan jubah Akatsuki.
"Kita akan kemana?" tanya Sakura.
"Kita akan ke pantai Honululu. Tapi sebelum ke sana, kalian butuh pakaian pantai dan beberapa peralatan lain. Jadi kita akan ke pusat perbelanjaan dulu sebelum ke sana," jelas Shion. Wanita cantik itu membawa Akatsuki menuju sebuah tempat dimana banyak orang yang berjualan baju dan barang-barang khas pantai seperti bikini, topi pantai, alat snorkeling, bahkan yang menjual kayu bakar untuk api unggun pun ada disini.
Mata Konan berbinar-binar. Ini saatnya belanja! Pikirnya senang. Namun baru saja wanita berambut biru itu akan berjalan menuju salah satu stand. Shion mencegahnya.
"Kita hanya akan belanja barang yang diperlukan. Dan aku akan membagi tugas belanja ini agar lebih cepat," jelas Shion. "Yang pertama, kau dan kau!" Shion menunjuk Deidara dan Tobi. "Kalian beli topi pantai. Ini uangnya harus cukup untuk 14 topi," ucap Shion.
"Huapaa, un? Kenapa aku harus dengan di bodoh ini?!"
"Yeay! Tobi senang! Ayo senpai, Tobi akan pilihkan topi untuk semua!" Tobi menyambar uang yang disodorkan Shion, lalu menarik Deidara menuju kerumunan pasar.
"Lepaskan aku, un! Aku ingin pergi dengan Sasori-danna!"
"Oke selanjutnya, kau dan kau," Shion menunjuk Hidan dan Kakuzu.
"What? Aku dengan dia?" Hidan kaget setengah mati. Lagi-lagi dia dipasangkan dengan Kakuzu yang kalo nawar bisa sampai 2 jam.
"Tidak boleh ada yang protes. Kalian berdua beli minuman dingin dan marsmallow!" tandas Shion. Hidan pun pasrah dan berjalan gontai bersama Kakuzu.
"Kau dan kau, beli baju dan celana pantai. Beli pakaian yang dingin dan celana pendek untuk laki-laki," Shion menunjuk Pein dan Konan.
"Baiklah! Aku setujuu!" teriak Pein semangat. Ia segera menarik Konan menuju pasar. Selanjutnya adalah Itachi dan Sasori yang mendapat tugas membeli sunblock dan payung serta P3K. Lalu Kisame dan Sasuke mendapat tugas membeli ikan, cumi dan kayu bakar untuk membuat api unggun nanti malam. Sakura dan Zetsu bertugas untuk menyewa tenda.
Semua orang pun sudah pergi. Hanya tinggal ada Naruto dan Shion disana.
"Lalu apa tugasku?" tanya Naruto.
"Kau temani aku menunggu mereka disini," ucap Shion seraya duduk di salah satu kursi yang tersedia disana. Naruto tampak kecewa. Padahal ia juga ingin ikut belanja seperti yang lainnya. Pemuda itu pun pasrah dan ikut duduk di sebelah Shion.
"Kalau tidak salah kau pasti anaknya Minato-Sama ya?" Shion memulai percakapan.
"Yup," Naruto mengangguk ramah.
"Apa kau lupa siapa aku," tanya Shion lagi. Naruto mengernyitkan dahinya. Kemudian pemuda pirang itu pun meneliti wajah Shion dengan seksama.
"AH! Kau pasti Shion kan?!" teriak Naruto heboh.
"Jadi kau ingat?!"
"Ah, tidak juga. Aku hanya tahu namamu Shion. Memang apa yang aku lupakan?" Naruto tampak berpikir dengan pose lengan di dagu. Shion memutar bola matanya, kesal.
"Aku Shion, temanmu saat kita masih di taman kanak-kanak!" jelasnya.
"HUAPAA? Taman kanak-kanak? Mana aku ingat! Saat itu otaku masih kecil!"
"Sepertinya otakmu juga tidak tumbuh besar! Kau pasti lupa tentang janji kita kan?!"
"Janji? Janji yang mana?"
"Huh!" Shion melipat tangannya di dada dan membuang muka. "Semua laki-laki memang sama saja!"
"Tunggu dulu, aku benar-benar tidak ingat biarkan aku berpikir sejenak," ucap Naruto sambil memegang kepala jabriknya.
"Oke aku beri kau waktu 5 menit!"
.
Di sebuah toko topi, Tobi dan Deidara tampak berkeliaran sembari memilih topi yang pas untuk teman-teman mereka. Untuk Deidara sendiri sih dia sudah dapat sebuah topi berwarna hitam macho. Ia pun mencobanya di depan cermin.
"Maaf, Nona. Itu topi untuk pria. Untuk wanitanya sebelah sini," ucap penjaga toko.
"Aku ini laki-laki, un!" bentak Deidara kesal.
"Oh, ma-maaf. Habisnya kau mirip wanita," cicit penjaga toko.
"Apa kau bilang, un? Aku ini pria macho, tahu!" tandasnya kesal.
"Mohon maaf," ucapnya seraya menjauh dari Deidara. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, "Huh sial, aku menyesal tidak mendengarkan ucapan temanku tentang banci yang sensitif," gumamnya. Penjaga toko itu pun melihat Tobi yang sedang mencoba Topi anak-anak. Ia pun menghampiri pria bertopeng itu.
"Maaf tuan, ini topi untuk anak-anak. Untuk pria dewasa di sebelah sana," ucap penjaga toko.
"Oh, begitu ya. Apa disana ada topi bergambar Bora The Explorer?" tanya Tobi.
"Aku rasa tidak ada."
"Kalau begitu Tobi mau disini saja, wah ini bagus gambar Boraemon!" pekik Tobi riang. Sebuah keringat bertengger di dahi sang penjaga toko. Kenapa hari ini pelanggannya aneh semua ya?
.
Sementara itu di toko makanan ringan...
"Kami mau beli ini semua, berapa harganya?" tanya Hidan sambil membawa beberapa bungkus Marshmallow dan minuman kaleng dingin.
"Tunggu sebentar, akan aku hitung," ucap sang kasir. Pria muda itu pun mulai men-scan satu persatu barcode yang terdapat pada minuman dan makanan yang dibawa Hidan. Setelah selesai ia pun menyebutkan total belanjaan mereka.
"Apa? Kenapa mahal sekali, uang kita tidak cukup!" ujar Kakuzu.
"Tidak cukup apanya? Tadi kan Shion memberi kita uang lebih dari itu?" tanya Hidan. Ia merasakan aura-aura menyebalkan dari Kakuzu.
"Apa maksudmu? Tentu saja aku butuh uang saku! Kurangi saja marshmallownya!" titah Kakuzu.
"Tuh kan, feelingku benar!" gumam Hidan. Sang kasir pun mengeluarkan sekantung marshmallow dan kembali menyebutkan total belanjaan Hidan dan Kakuzu.
"Apa kita tidak dapat diskon? Kita kan sudah belanja banyak?!" ucap Kakuzu sebelum membayar. Hidan hanya bisa menepuk jidatnya seraya mengelus dada. Padahal mereka sudah memilih makanan dan minuman yang harganya paling murah. Masih saja si Kakuzu ini minta diskon. "Sabar... sabar... besok akan aku jadikan dia persembahan jashin," batin Hidan. Di belakang mereka orang-orang berdecak kesal karena menunggu Kakuzu yang tak juga selesai membayar.
"Maaf tuan, ini sudah harga pas. Kami tidak bisa memberikan diskon," jelas sang kasir dengan sabar. Kakuzu pun mengeluarkan uangnya dengan tidak ikhlas.
"Maaf tuan kembalian 1 cent nya mau di sumbangkan?"
"Tidak!" jawab Kakuzu, singkat padat dan jelas. Jelas kikir maksudnya.
"Em, eto... kembalian 1 cent nya tidak ada. Kami ganti dengan permen ya?" pinta kasir tersebut.
"What? Mana bisa begitu! Uang dan permen itu tidak bisa di samakan, tahu!"
"Tapi, permen ini harganya 1 cent, tuan...,"
"Pokoknya tidak bisa! Yang namanya kembalian itu harus uang! Uang dan permen tidak bisa disamakan! Apa kau bisa membeli marshmallow dengan bayaran sebuah permen? Tidak bisa kan! Apa kau bisa membeli rumah dengan segudang permen? Tentu tidaj bisa!" jelas Kakuzu panjang lebar.
"Haduh lama sekali sih, kami sudah pegal nih!" keluh para pembeli yang mengantri di belakang Kakuzu.
"Maaf, harap bersabar ya," Hidan mencoba menenangkan suasana. Kakuzu cuek, ia pura-pura tidak mendengar. Dasar si Kikir sialan. Dendam Hidan bertambah satu tingkat.
"Lalu bagaimana tuan, kami tidak punya satu cent."
"Itu masalahmu! Cepat kembalikan 1 cent ku!" Kakuzu menggebrak meja kasir. Sang kasir pun mulai ketakutan dan memanggil security. Tak lama kemudian seorang pria berbadan kekar datang dan menyeret Kakuzu dan Hidan.
"Tunggu-tunggu! Aku bisa jalan sendiri!" protes Hidan.
Swiinggg~
Mereka berdua pun di lempar ke luar toko bersama barang belanjaan mereka.
"Woi! Kembalikan uang satu cent-ku! Akan ku tuntut kalian!" teriak Kakuzu.
Swiingggg!
Bletak!
Sebuah permen mendarat di dahi Kakuzu.
"Cih! Aku mau satu cent-ku!"
.
"5 menit! Waktu habis!" tandas Shion. Naruto masih mematung dengan tatapan kosong. Sejak beberapa detik yang lalu, dia sudah ingat siapa wanita berambut pirang ini. Dia adalah anak seorang penjaga kuil. Sejak ia masuk taman kanak-kanak, Shion dikenal sebagai seorang anak peramal. Dia bisa meramalkan masa depan lewat penglihatannya yang entah iaa dapat dari mana.
Bukannya Naruto tidak senang bertemu teman lama, tapi sejak dulu ia selalu sial jika berurusan dengan Shion. Wanita berambut pirang itu sangat hoby meramalkan kesialan Naruto dan ramalannya itu selalu tepat.
"NARUTO!"
"Eh? I-iya!" Naruto tersadar dari acara melamunnya.
"Kau sudah ingat siapa aku?"
"I-iya aku ingat. Kau Shion si peramal itu kan?"
"Benar sekali, aku senang kita bertemu lagi!"
"A-aku juga," ucap Naruto bohong. Boro-boro senang, saat ini ia malah gugup karena takut diramalkan lagi oleh Shion.
Setelah beberapa lama menunggu Akatsuki cs berbelanja akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pantai Honululu. Cukup dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari pasar. Mereka kini sudah bisa melihat hamparan pasir putih yang luas serta deburan ombak yang indah.
Kisame yang melihatnya pun bersemangat untuk berenang.
"Tunggu, Senpai! Tobi juga ingin ikut!" teriak tobi.
"Bukannya kau tidak bisa berenang?!"
"Kalau begitu ajari Tobi berenang."
Beberapa Akatsuki memilih untuk berenang dan bermain air di pantai dan sebagian lagi mendirikan tenda serta mengumpulkan kayu bakar untuk nanti malam. Mereka akan bermalam di sisi pantai seraya membakar ikan dan cumi. Mengobrol hingga larut dan kembali ke Jepang besok pagi. Rencana yang sederhana. Tapi hidup tidak akan semulus itu. Sesederhana apapun rencananya, pasti akan di selingi oleh sesuatu hal diluar rencana.
Seperti malam ini, mereka semua berkumpul mengelilingi api unggun. Rencana mereka untuk makan ikan bakar pupus sudah. Hal itu disebabkan oleh Kisame yang malah melepaskan ikan-ikan itu ke pantai. Katanya sih itu hak asasi Ikan. Akatsuki pun akhirnya hanya bisa makan marshmallow.
Suara deburan ombak menghiasai malam mereka. Bintang-bintang pun bersinar terang menghiasi langit. Akatsuki pun terlihat mengobrol seru di pinggir api unggun. Rupanya mereka sedang membicarakan Shion dan Naruto yang ternyata adalah teman kecil.
"Shion lumayan juga biarpun dia tidak seseksi Hinata," bisik Pein.
"Tidak, Pein. Kau hanya belum tahu saja. Dia itu selalu membuatku sial," balas Naruto.
"Itu sih memang nasibmu!"
"Apa? Kau bisa meramal?" terdengar suara pekikan Hidan yang heboh. Semua mata pun tertuju pada Shion dan Hidan yang sedang mengobrol.
"Kau bisa meramal?" Pein pun tertarik dan bergabung bersama Shion.
"Iya, dari kecil aku bisa melihat masa depan."
"Waww, keren! Coba ramal aku, un!" pinta Deidara.
"Aku bukan peramal seperti itu, ramalan itu datang begitu saja," jelas Shion.
"Aku sarankan sebaiknya kalian tidak berharap diramal olehnya," gumam Naruto pelan.
Waktu terus berlalu, Akatsuki pun menghabiskan malam mereka dengan bernyanyi. Pein memainkan ukulele sementara Tobi dan Itachi menari hula-hula.
Keesokan paginya, Akatsuki terbangun dengan badan pegal-pegal. Itu karena Tobi dan Itachi memaksa Akatsuki untuk ikut menari hula-hula termasuk Sasuke, Sakura dan Shion.
Mereka pun menempuh perjalanan dengan jalan kaki menuju bandara karena letak pantai yang memang tidak terlalu jauh. Sebelum masuk ke dalam pesawat, mereka berpamitan dengan Shion.
"Kami pergi ya, sampai ketemu lagi," pamit Naruto.
"Tunggu!" Akatsuki yang akan beranjak pun kembali diam, "Tadi malam aku bermimpi," lanjut Shion.
"Dalam mimpi itu aku melihat kalian semua, Akatsuki. Lontang lantung tidak punya rumah."
"Hah?"
"Pppfff!"
"Hahhaaha, itu tidak mungkin! Kami ini punya rumah di tengah hutan dan rumah itu sudah anti gempa dan anti digusur!" ucap Pein dengan sela-sela tawa di setiap kalimatnya.
"Terserah, aku hanya beritahu," ucap Shion cuek.
Akatsuki pun masuk ke dalam pesawat. Mereka semua duduk rapi di dalam kabin. Sebelum berangkat, Naruto berdiri di depan kabin bersama kameranya. Pria kumis kucing itu tampaknya ingin mengatakan sesuatu.
"Mohon perhatiannya sebentar teman-teman!" ucap Naruto. Tapi Akatsuki cs malah sibuk sendiri dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka semua sedang membereskan barang-barang agar tidak ada barang mereka yang ketinggalan ketika mereka kembali ke jepang.
"Satu...dua...tiga...," terdengar suara Itachi yang sedang menghitung sesuatu. Di sampingnya Kisame juga sedang membereskan gantungan kunci berbentuk ikan yang ia borong di pasar Honululu.
"Teman-teman, tolong dengarkan aku sebentar," pinta Naruto sekali lagi.
"Deidara! Aku pinjam hairdryermu!"
"Tumben sekali kau pakai hairdryer, un?"
"Barbieku habis keramas."
"Teman-teman...,"
"Dua belas, tiga belas, empat bel-? Loh? Kok Cuma tiga belas?! Siappa yang mencuri sempakku?!" pekik Itachi heboh.
"ASTAGA! BISAKAH KALIAN DENGARKAN AKU SEBENTAR, HAH?!" teriak Naruto dengan wajah memerah. Akatsuki pun menghentikan aktivitas mereka. Kecuali Itachi yang masih sibuk mencari barangnya yang hilang.
"Sempakku! Dimana sempakku?! Aku punya 14 tapi hanya ada 13! Itu artinya seseorang mencurinya!" pekik Itachi. Naruto sweatdrop mendengarnya. Orang bodoh mana yang mau mencuri sempaknya?
"Tenang, Itachi-Senpai! Tobi sang detektif akan membantu!" tiba-tiba Tobi muncul di hadapan Itachi dengan sebuah kaca pembesar. Naruto masih mematung dengan sweatdrop yang semakin membesar.
"Terimakasih, detektif! Sempakku itu sangat berharga. Tolong temukan sempakku secepatnya," ucap Itachi dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm, sebelum itu, Tobi ingin menanyakan sesuatu. Kapan terakhir kali Senpai melihat ke 14 sempak itu?" tanya Tobi dengan gaya detektif gadungan. Ia melihat Itachi menggunakan kaca pembesar.
"Kalau tidak salah aku melihatnya kemarin pagi sebelum kita tour ke hawaii," jelas Itachi.
"Hmm," Tobi tampak berpikir serius. "Kalau begitu dimana sempak itu sebelumnya?"
"Disini, di tasku!"
"Apa ada orang yang kau curigai?"
"Siapa ya," gumam Itachi sambil melirik ke arah Kisame yang ada di sampingnya. "Mungkin Kisame. Dia kan duduk di sampingku. Dia yang paling mudah mencuri sempakku!"
"Apa kau bilang? Untuk apa aku mencuri sempakmu!" bantah Kisame.
"Biar Tobi periksa!" ucap Tobi sambil mengambil tas Kisame lalu membongkar isinya.
"Silahkan, saja! Aku tidak takut karena aku tidak mencurinya!" tandas Kisame.
"Apa ini milikmu?" Tobi menunjukkan sebuah sempak gambar ikan paus. Itachi menggeleng. Beberapa kali Tobi menunjukkan sempak yang ada di tas Kisame tapi semua itu bukan milik Itachi.
"Lihatkan? Sudah aku bilang aku tidak mencurinya!"
"Tunggu, kita kan belum periksa sempak yang senpai pakai," ucap Tobi sambil memincingkan matanya.
"Holly shit! Kau ingin aku menunjukkan sempak yang aku pakai?!" bentak Kisame.
"Tentu saja, itu salah satu penyelidikan!"
"Persetan dengan penyelidikan! Menjauh dariku!" Tobi terus memaksa untuk melihat sempak yang Kisame pakai. Terjadi kejar-kejaran antara mereka berdua. Sementara itu Itachi tampak tertegun memikirkan sesuatu. Tampaknya sulung Uchiha itu telah menemukan sebuah petunjuk.
Jika sempaknya ada 14, dan di tas ada 13 itu artinya satu sempaknya hilang. Tapi ia lupa menghitung sempak yang ia pakai. Jika di tambah dengan satu sempak yang ia pakai, maka jumlahnya memang 14. Itu artinya tidak ada yang hilang.
"AHAAA!" teriak Itachi sambil berdiri mengacungkan telunjuknya.
Tobi dan Kisame yang sedang kejar-kejaran pun berhenti karena teriakan Itachi.
"Ternyata satu sempakku sudah aku pakai, ahahhaaha!" Itachi tertawa tanpa dosa. Kisame dongkol. Naruto jawsdrop mendengarnya, Akatsuki yang lain terjungkal dari kursinya sementara Tobi tersenyum senang.
"Yes! Kalau begitu penyelidikan Tobi berhasil! Jika ada barang hilang yang lain, silakan panggil nama Tobi 3x!" ucap Tobi sambil berjalan menuju kursinya kemudian duduk manis sambil mengemut lolipop.
Setelah acara detektif nista itu berakhir, akhirnya Naruto bisa mulai bicara.
"Ekhm..." Naruto berdehem sebelum memulai. "Teman-teman semua. Hari ini kita akan melakukan perjalanan panjang menuju Jepang. Tidak terasa perjalanan keliling dunia kita telah berakhir. Aku harap kita akan tetap menjadi teman meskipun kita tidak sama-sama lagi. Terimakasih telah berpartisipasi dalam acara kami. Semoga kita semua sampai ke Jepang dengan selamat," ucap Naruto dengan serius. Akatsuki yang mendengarnya pun mulai berkaca-kaca. Bahkan Kakuzu meneteskan air matanya.
"Woi! Siapa yang menyimpan bawang iris disini!" teriak Kakuzu.
"Maaf, itu ritual untuk keselamatan kita," sahut Hidan simpel.
.
.
.
TBC
Yuhuu~ im comeback! Cerita ini belum tamat ya, masih ada satu chapter lagi. Di chapter terakhir akan menjadi acara penyambutan kedatangan Akatsuki. Sampai jumpa di chapter depan ya~
.
Balas Review :
DandiDandi : Hahaha, pulang keliling dunia kayaknya dia bakal jadi atlet marathon :v
Kazumaki Mikushi : wkwk, iya gapapa yang penting tetep review, heheh
Chapter kemarin special nista untuk Sasori :v
Masih ada chapter terakhir minggu depan yaa... kenapa tamat? Karena saya udah kehabisan tourguide :v dan pengen bikin fict lain, hehe
Buat Hinatanya aku adain di chapter depan yaa~
Euraa : Iya nih, udah saatnya mereka balik ke konoha :v
Ashuraindra64 : Sudah lanjuut
RendyDP424 : Wkwkwk, makasiih, semoga chapter ini juga suka
Honeymoon Hamada : Selamat, tebakan anda benar! Sebagai hadiahnya anda mendapatkan hadiah makan malam romantis bersama Kisame! :v
Baik sih, tapi tetep nge-preman :v
Gak usah disihir juga mukanya udah kek bayi :v
Masih ada 1 chapter lagi yaa...
Menang di IFA? Amiin, amiin makasih ya dukungannya ^_^
Anni593 : Wkwk, nenek Chiyo emang nenek super :v
Niilaaa : Sudah lanjutt
NuNuOi : Baik hati sih, tapi... ya begitulah :v
Al FaHmY : Huehehe, makasih... scene naruhinanya gak janji ya tapi chapter depan bakal ada Hinata kok. Semua tourguide bakal menyambut kedatangan Akatsuki termasuk Hinata :v
Vira D Ace : Sasori : *PurapuraAmnesia*
Masih ada 1 chapter lagi yaa...
Cupcupcup jangan nangis yaa nanti di hibur sama Kisame pake tarian hula-hula :v
