Chapter 57

Pieces

"Apa maksudmu Shaka?" tanya Camus tak mengerti. "Kau bilang itu bukan kunang-kunang lalu apa mereka itu?"

Shaka mengangkat tangannya dan meraih satu makhluk bercahaya itu dengan tangannya. "Memang dengan mata telanjang kita lihat ini adalah kunang-kunang tetapi sebenarnya ini adalah pecahan cosmo milik seseorang." Shaka memandang Deathmask. "Bukankah begitu Deathmask, aku yakin kau juga merasakannya, kau sudah biasa bukan melihatnya"

Deathmask menyunggingkan bibirnya. "Aku sependapat dengan Shaka, meski sangat tipis tetapi aku bisa merasakannya kalau itu adalah pecahan cosmo, tetapi aku tidak mengetahuinya milik siapa itu." jelas Deathmask.

"Aku rasa beberapa diantara kita mengenalinya milik siapa ini, benarkan Saga?" tembak Shaka dia berjalan mendekati Saga menyorongkan tangannya yang merengkuh lembut kunang-kunang itu, lalu mengalihkan pandangannya pada dua pembuat onar di sanctuary "Milo dan Aiolia" katanya.

Saga melirik Aiolia dan Milo, mereka sama seperti dirinya hanya bisa membisu, baik Saga, Milo maupun Aiolia memang merasakan ada cosmo pada serangga itu, mereka merasakan cosmo Lecca, karenanya Milo dan Aiolia tak ragu lagi ketika kunang-kunang itu seakan menunjukkan jalan untuk mereka.

"Kalian juga kan? Aiolos…..Shura" lanjut Shaka.

Saga terenyak pandangannya langsung beralih ke Shura dan Aiolos, wajahnya kagetnya tak bisa dia sembuyikan lagi, Saga memandang Aiolos dan shura tajam, seakan menuntutjawaban kepada mereka berdua bisa mengenali cosmo milik wanita yang paling ia sayangi, dan sepertinya dari gelagatnya Aiolos mengetahui apa yang terjadi pada Lecca, pertanyaan yang menyelimuti otak Saga sewaktu birthstone miliknya diambil hingga dia tak sadarkan diri, Saint Sagitarius ini punya jawabannya.

Saga berjalan mendekati Aiolos. "Kau mengetahui apa yang tidak kuketahui, Aiolos." ucap Saga.

"Apa yang menurutmu aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui?" balas Aiolos.

"Aku tahu kau punya jawaban yang ingin aku dengar."

"Aku tidak punya hak untuk mengatakannya padamu."

"Jadi kau mengetahuinya?!" nada suara Saga meninggi. "Muntahkan semua yang kau ketahui Aiolos"

Aiolos terdiam, dia ingin sekali menjelaskan semua pada Saga apa yang ingin dia ketahui, tetapi dia mengurungkan niatnya, Aiolos berpendapat bukan dirinyalah yang berhak untuk menjelaskan semuanya, tetapi Lecca sendiri. Tetapi melihat sifat Lecca, mungkin gadis itu tidak akan mengatakan begitu saja pada Saga.

"Jawab aku Aiolos!" tekan Saga.

"Dia akan mengatakannya sendiri Saga." sela Shura "Kalaupun dia tidak mengatakannya, kau pasti bisa menyimpulkan sendiri kenapa dia tak ingin mengatakannya padamu, kalau kau terlalu bodoh untuk menyimpulkannya ada orang yang akan memuntahkan semuanya yang ingin kau ketahui, dan itu bukan kami."

"Lalu?!" kata Saga

Shura menunjuk Saga. "Lelaki yang punya wajah sama denganmu."

Saga terkejut mendengar perkataan Shura, Saga tahu yang dimaksud Shura adalah Kanon, adik kembarnya.

"Dia datang ke sanctuary?!" kata Saga.

"Athena memanggilnya setelah birthstone milik Aldebaran, Dohko, Milo, Aiolia, dan dirimu diambil oleh demon yang bernama Murmur, demon yang menyamar menjadi Aphrodite." jelas Aiolos.

Saga terdiam kepalanya tertunduk dia tak bisa menerima ini semua, kenapa hanya dirinya yang selalu berada dalam gelap, tidak mengetahui apa-apa soal Lecca, kenapa Lecca malah memberitahu Aiolos, dan Shura terlebih lagi Kanon. Saga sangat memahami perasaan adiknya itu terhadap Lecca, meskipun Kanon sama sekali belum pernah bertemu dengan Lecca, bagaimana nanti kalau Lecca malah memilih kanon ketimbang dirinya yang tidak sepenuhnya menjadikan Lecca satu-satunya wanita dalam hidupnya. Memikirkan semua ini membuat Saga menjadi resah, Saga sangat mencintai Lecca tetapi kesetiaannya pada Athena membuatnya lebih mengutamakan Athena ketimbang Lecca yang dikukuhkan oleh Saga dalam hatinya sebagai wanita yang paling dia cintai melebihi Athena, namun kenyataannya Saga sama sekali tidak memperlihatkan kesungguhannya di depan Lecca, dia masih ingat bagaimana Lecca terluka karena melindunginya waktu di pope chamber saat yasha bernama Rusty melancarkan serangannya pada Athena, waktu itu Athena sudah terjepit, tanpa sadar dirinya langsung melindungi Athena tanpa mempedulikan yang lain termasuk perasaan Lecca, Saga memegang pipinya dia masih ingat darah merah hangat mendarat diwajahnya, itu darah Lecca yang mengorbankan dirinya untuk melindungi dirinya, karena dia melindungi Athena. Saga mengepalkan tangannya, dadanya terasa sakit memikirkan ini, apakah hati Lecca akan berubah?, Kanon mungkin bisa memberikan perhatian lebih pada Lecca, Saga mengetahui siapa Kanon, lelaki yang lebih eksprsif ketimbang dirinya, lebih blak-blakan ketimbang Saga yang selalu terututup, apakah Lecca akan meninggalkannya karena sikap Kanon lebih peduli kepada Lecca daripada pada yang lain, meski Kanon dan saga sama-sama saint Athena, tetapi Kanon jauh lebih bisa mengutarakan apa yang dia rasakan, Saga ingat pernah sekali Kanon menolak perintah Athena untuk tinggal di sanctuary, dia lebih memilih tinggal di ring terluar sanctuary yaitu pulau Zan. Cemburukah saga? Jawabannya iya. Saga tak akan membiarkan ini terjadi. Kanon merebut Lecca.

Aiolos menepuk bahu Saga, membuat Saga tersadar dari pikirannya sendiri.

"Jangan berpikir terlalu jauh Saga, Lecca bukan wanita seperti yang kau bayangkan dalam kekhawatiranmu." kata Aiolos, Saga memandang Aiolos lekat-lekat, tak hanya sekali Saga dibuat takjub oleh Saint Sagitarius ini, kata-katanya seakan dia mengerti apa yang baru saja Saga pikirkan.

"Aiolos…apa Lecca yang memberitahumu?" tanya Saga.

Aiolos tertawa pelan. "Bukan, tapi Adder. Lecca tak mengatakan sepatah katapun soal masa lalunya."

"Adder?" Saga tak menyangka kalau yasha itu yang memberitahu Aiolos. "Sudah kuduga dia mengetahui semuanya tentang Lecca, aku harus memaksanya untuk memuntahkan semua."

"Kurasa itu tidak mungkin." sela Shura lagi.

"Apa kau mencoba melindunginya Shura?"

"Dia sudah mati, Saga."

"Apa katamu?!" ujar Saga tak percaya.

"Aku bilang dia sudah mati, kau tak mungkin bertanya pada orang mati bukan?" balas Shura

Kerutan di kening saga bertambah, semakin banyak pertanyaan berputar dikepalanya, rasa ingin tahu yang medesaknya seakan dia diburu sesuatu, rasa terasing karena tak mengetahui hal yang paling kecil mengenai gadis yang dicintainya, ketidaktahuannya itu membuat Saga kesal dan marah, pada orang di sekelilingnya yang lebih tahu darinya, juga dengan dirinya sendiri.

"Maaf daripada itu sebaiknya kita memikirkan cara kita keluar dari tempat antah berantah ini." sela Deathmask yang melihat sepertinya perdebatan Saga dengan Aiolos dan Shura tak akan berakhir dalam waktu singkat.

"Bagaimana kalau aku hancurkan gerbang ini." usul Aldebaran

"Kau tak akan bisa." balas Shura enteng, dia mendongakkan wajahnya dia tak bisa melihat puncak dari gerbang besar di depannya. "Bahkan Excalibur saja tak membuatnya retak sedkitpun." lanjutnya

Beberapa gold saint membelalakan matanya tak percaya, jurus andalan Shura tak bisa membelah gerbang itu, Excalibur milik Shura yang bisa memotong apapun tetapi tak mempan membelah gerbang hitam itu.

"Bagaimana kalau kita menyatukan kekuatan kita untuk menghancurkan gerbang ini." usul Aiolia.

"Ide bagus, bagaimana kalian setuju?" kata Camus. "Mungkin dengan begitu kita bisa benar-benar menghancurkannya dan keluar dari sini.

Sebagian besar gold saint mengangguk menyetujui usul Saint Aquarius ini.

"Itu tidak perlu." kata seseorang

"Lecca…" kata Shura yang mengenali suara itu.

Saga, Aiolos, Milo dan Aiolia mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara itu tetapi sosok Lecca tak nampak.

"Kunang-kunangnya…" ucap Deathmask, menunjuk kunang-kunang yang beterbangan di sekeliling mereka, kunang-kunang itu berkumpul di satu titik tepatnya di depan gerbang, lama kelamaan kunang-kunang itu membentuk siluet manusia, siluet iru makin jelas, sosok Leccapun muncul berbalut cahaya keemasan itu. Gadis itu tersenyum pada semua gold saint yang ada di depannya. Lecca membalikkan badannya dan menyentuh ringan gerbang besar itu, tak disangka gerbang itu perlahan membuka, dari balik pintu itu bersinar cahaya yang amat menyilaukan sampai semua gold saint meyipitkan matanya bahkan mengangkat tangannya melindungi pengelihatannya.

"as páme ágioi spíti to chrysó (ayo kita pulang gold saint)" kata Lecca menjulurkan tangannya, cahaya itu semakin menyilaukan menyellimuti 12 gold saint, Shura merasa tangannya ditarik menuju cahaya putih yang menyilaukan itu dan berputar-putar sampai dia tak bisa melihat apapun selain warna putih keperakkan.

Disaat yang bersamaan di sanctuary, cahaya menyilaukan itu meredup dan menghilang bersamaan dengan itu Lecca membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah wajah cemas Kanon tapi disaat yang bersamaan rona kelegaan terlukis diwajahnya. Lecca mengangkat tangannya dan memegang pipi Kanon. "Aku berhasil membawa mereka kembali, Kanon." ucap Lecca lirih.

Kanon mengalihkan pandangannya, benar saja satu persatu gold saint bangkit dari ketidaksadarannya, Aldebaran, Mu, Camus, Shaka, Aphrodite, Deathmask, Dohko, Aiolos, Milo, Aiolia, Shura, sudah berdiri berkerumun di depan Kanon dan Lecca.

Lecca memandang satu persatu gold saint tetapi kenapa sosok Saga tak terlihat, Lecca buru-buru melepaskan diri dari Kanon, namun karena tubuhnya lemah Lecca terhuyung dan tak bisa mempertahankan keseimbangannya, melihat itu Kanon langsung menangkapnya. "Kau ini mau kemana?!" marah Kanon.

"Saga…Saga..dimana dia!" kata Lecca panik, dia takut kalau dirinya tak bisa membawa Saga kembali.

"Tenanglah Lecca!" ujar Kanon

"Bagaimana aku bisa tenang, aku tak melihatnya…aku tak melihatnya, bawa aku menemuinya Kanon!" Lecca mencoba berdiri lagi tetapi jatuh terduduk lagi, Shura mendekati Lecca dan berjongkok di depannya. "Dia baik-baik saja, hanya saja dia…." Kata-kata Shura tenggelam begitu saja, dia tak bisa meneruskan kalimatnya, apa yang Saga rasakan sedikit banyak Shura memahaminya.

Lecca meraih bahu Shura dan menjadikannya tumpuan untuk berdiri, meski kakinya masih lemah untuk menahan berat tubuhnya Lecca berusaha menahannya. "Berpeganglah padaku." kata Kanon yang tahu-tahu sudah ada di samping Lecca menyodorkan lengannya.

"Terimakasih Kanon" balas Lecca pelan.

Kanon membimbing jalan Lecca, menyeruak kerumunan gold saint, di tengah pope chamber dia menemukan sosok Saga, seperti prajurit yang kalah perang dia duduk bersila dengan kepala tertunduk di lantai batu pope chamber.

Lecca menghentikan langkahnya, tangannya meremas pelan lengan Kanon membuat saint Hamelin itu melirik padanya, kesedihan terlukis jelas di wajah Lecca, sangat menyakitkan bagi Lecca melihat Saga yang bersedih seperti itu dan yang menyebabkannya adalah dirinya, Lecca tahu itu dia bilang ingin selalu membuat Saga tersenyum tetapi malah dirinyalah yang membuat Saga bersedih sampai seperti ini.

"Maafkan aku…..Saga." bisiknya suara yang hanya didengar Kanon yang ada di sebelahnya, Kanon menepuk lembut tangan Lecca yang bergantung di lengannya matanya seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, meski demikian Lecca tetap merasa kalau Saga sampai berwajah seperti itu karena dirinya, dirinya yang tidak mau mengatakan apa yang dipertanyakan oleh Saga, sikapnya selama ini yang sepertinya menjauhkan Saga dari dirinya, padahal semua hal itu karena hanya untuknya, apakah Lecca harus mengatakan semuanya pada Saga termasuk alasan kenapa dirinya menjadi ghost, semua itu karena Saga, Lecca tak sampai hati menyampaikan semuanya pada Saga, belum saja Lecca menyampaikan semuanya pada lelaki itu senyum diwajahnya sudah lenyap, bagaimana jika Lecca mengatakan seluruhnya tanpa dikurangi pada Saga, rasa bersalah Saga padanya pasti akan bertumpuk, kesedihan Saga seperti menghimpit ruang nafas Lecca, dialah orangnya yang membuat Saga kembali bersedih, dialah yang membuat Saga kembali kehilangan senyumnya. Dari pikirannya itu Lecca memutuskan untuk tetap diam dan tetap pada pendiriannya, kalau dia tak akan menceritakan apapun pada Saga.

Sesampainya di depan Saga, Lecca langsung melepaskan dirinya dari Kanon, dia duduk bersimpuh di depan Saga yang tertunduk lesu.

"Saga…" panggil Lecca. Namun Saga tak menjawab, dia tetap tak bergeming.

Suasana menjadi beku sepertinya waktu di dalam pope chamber berhenti sejenak sampai Saga mengangkat wajahnya memandang Lecca.

"Apa kau akan menjelaskan semua yang tidak kuketahui sekarang Lecca?" kata Saga


Chapter 58

In Silence

Lecca membisu tak menjawab, mulutnya seperti dijahit dia hanya menatap Saga dengan ekspresi yang sulit bagi orang di sekitarnya untuk menebak apa sebenarnya yang dirasakan Lecca.

"Kenapa kau menjadi seorang ghost Lecca?"

"Apa yang menjadi keinginan terbesarmu?"

"Kenapa kau melakukan semua ini Lecca?"

Pertanyaan Saga datang bertubi-tubi tetapi Lecca tetap diam tak menjawab semuanya.

"Jawab aku Lecca! Kenapa kau hanya diam!" tukas Saga tak sabar.

"Semuanyanya sudah berakhir Saga" kata Lecca setelah diam cukup lama.

"Tidak bagiku!" balas Saga. "Kau sama sekali tak menjawab pertanyaanku kau…"

"Tidak ada lagi yang harus aku katakan padamu Saga!" potong Lecca.

Saga mengertakkan giginya, mengepalkan tangannya.

"15 tahun yang lalu andai saja lebih jujur pada perasaanku sendiri, andai saja aku lebih berani melawan semua yang menjadi penghalangku, andai saja aku tidak mempedulikan peraturan sanctuary, andai saja aku bisa menahanmu hari itu, aku pasti punya lebih banyak waktu dengamu, tetapi yang kulakukan membiarkan dirimu pergi, aku mengingkari perasaanku sendiri, aku pengecut. Sampai detik ini aku terus menyesali apa yang telah aku perbuat, aku mengutuki diriku sendiri kenapa waktu itu aku tidak lebih berani, agar aku bisa bersamamu lebih lama lagi, bukan hanya tujuh hari yang tersisa!" kata Saga, Lecca bisa merasakan emosi Saga yang bercampur aduk, marah, sedih, rasa bersalah, penyesalan.

"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi padaku Saga, dan jangan merasa bersalah karenanya, sebab itu bukanlah salahmu." balas Lecca.

Saga memandang Lecca tak percaya kenapa Lecca sepertinya datar saja menanggapi pengakuan Saga itu, apakah hati lecca memang sesuai perkiraannya Lecca sudah tidak mencintai dirinya lagi. Lecca hanya menanggapi semuanya dengan hambar sepertinya Lecca ingin buru-buru pergi dari sini.

"Yang harus kau lakukan untukku adalah melepaskanku, Saga" kata Lecca

Kata-kata Lecca membuat Saga terperanjat, pandangan Saga beralih pada kanon yang berdiri di belakang Lecca, mata mereka bersirobok, mereka saling pandang dalam diam.

Saga mendengus. "Jadi begitu?" ucapnya

Lecca melihat ada kemarahan dimata Saga. "Semua yang kau pikirkan salah Saga!" tegas Lecca. "Ini tidak…"

"Cukup, aku mengerti sekarang!" potong Saga ketus, menatap tajam Lecca, jelas rona kekecewaan yang dalam terlukis jelas di wajahnya, sebagai seorang empathpun Lecca merasakan emosi saga begitu gelap dan sedih serta penuh amarah, Lecca memejamkan matanya sulit baginya untuk mengatakan semuanya pada Saga, tetapi tidak mengatakannya pun juga membuat Saga seperti ini, Lecca memandang Saga. Namun, ketika pandangan mereka bertemu Saga malah membuang muka tak mau memandang Lecca.

"Apa kau membenciku Saga?" tanya Lecca, Saga tak menjawab juga tak memandang Lecca.

"Saga kau…!" ujar Kanon, tetapi belum Kanon selesai bicara tangan Lecca terangkat, dia menoleh kearah Kanon mengisyaratkan agar Kanon berhenti bicara, Kanon memang berhenti bicara tetapi wajahnya terlihat gemas sekali dan sebal melihat Saga, tak hanya Kanon tetapi Milo juga demikian kalau Aiolia dan Aiolos tidak menahannya Saint Scorpio itu mungkin sudah menendang wajah Saga.

Saga menolehkan wajahnya ke Lecca memandangnya sejenak dan membuang muka lagi.

"Pergi, pergilah Lecca…itukan yang kau mau…melepaskanmu." kata Saga tanpa memandang Lecca.

Lecca mengehela nafas panjang, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, dia akan membiarkan semuanya seperti ini, mungkin akan lebih baik seperti ini. "Terimakasih Saga." ucapnya lirih, Lecca berdiri dan behenti sejenak, Saga sama sekali tak menahannya.

Lecca membalikkan badannya di depannya Kanon berdiri menghalangi jalannya, Lecca mendongakkan wajahnya menatap Kanon lekat-lekat, tanpa bicara Kanon menyingkir dan memberi Lecca jalan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun Lecca berjalan melewati gold saint bahkan Aiolos, Milo dan Aiolia, Lecca juga tak memepedulikan Athena, dia hanya melirik Athena dengan tatapan sedih lalu berlalu begitu saja.

Di depan pintu keluar pope chamber, Lecca melihat Shura bersandar di salah satu pilar yang mengapit pintu keluar. Lecca mengehentikan langkahnya di depan saint Capricorn itu.

"Aku telah memenuhi janjiku padamu Shura, hutangku sudah lunas." Kata Lecca.

Shura menatap Lecca dan mendekatinya, kedua tangannya memegang wajah oval gadis itu, wajah Lecca dingin, bahkan Shura tahu kalau Lecca tidak ada disini lagi karena dia sama sekali tidak merasakan adanya cosmo Lecca.

"Aku bersyukur aku bisa melihat sosokmu yang terakhir Lecca, dan izinkan aku mengucapkan terimakasih padamu." Shura mendekatkan wajahnya dan mencium lembut kening Lecca, Lecca tak bisa menahan airmatanya saat Shura mengecup keningnya, hatinya terasa hangat sekali. "Dan pergilah dengan tenang Lecca." ucap Shura pelan sambil menghapus airmata Lecca. "Terimakasih shura" balas Lecca lirih, lalu Lecca melepaskan dirinya dan pergi mejauh dari Shura.

Sementara itu saga masih terdiam di tempatnya, Kanon memandang sebal pada Saga. "Apa manusia tolol ini sudah menyimpulkan sendiri kenapa Lecca tak mau membuka mulutnya?!" kata Kanon ketus.

"Kau mengerti apa!" balas Saga kesal.

"Kau tak mengerti apapun juga Saga, kau pikir berapa banyak kesedihan yang dia tanggung untuk menyelamatkanmu, berapa banyak penderitaan yang dia tahan sampai dia mencapaimu di sanctuary ini, kalau kau memang benar mencintainya, kau seharusnya lebih bisa memahami dirinya, sekarang kau hanya membuatnya terluka!" ujar Kanon. "Kau yang tak punya pendirian, kau hanya mementingkan tugasmu sebagai gold saint, kau menkesampingkan semua tentangnya dan hanya berpikir tentang dirimu sendiri, apa kau pernah menyisakan sedikit lebih banyak hati dan pikirannmu untuknya! Kau berlagak seperti prajurit kalah perang, mengambek seperti anak kecil yang tak kebagian permen hanya karena dia diam, dia diam hanya karena dia tak ingin melukaimu lebih dari ini, dia lebih memilih melukai dirinya sendiri ketimbang dia harus mengatakan kenyataannya padamu! " seru Kanon.

"Kau sama sekali tidak…"

"Kaulah orangnya yang menjadikannya seorang ghost!" teriak Kanon di depan muka Saga. Saga terbelalak mendengar kalimat adik kembarnya itu.

"Apa maksudmu?" tanya Saga tak mengerti

"Cih" desis Kanon, rasanya dia ingin menonjok wajah Saga, dia geram sekali, apa juga tadi dia tidak merasakan ada yang lain dari Lecca, gadis itu sebenarnya sudah mati wujudnya yang sekarang tak lebih sekedar jasad tanpa isi. Bahkan cosmo saja sudah tak terasa sebelum dia mengembalikan 12 birthstone itu. Saga hanya memikirkan kekecewaan dirinya tanpa memikirkan perasaan Lecca. Kanon tak bicara lagi dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Saga.

"Saga." tegur Shaka.

"Apa kau tahu mengapa manusia bisa menjadi seorang ghost? Tak perlu bantuan Astarte, manusia bisa menjadi seorang ghost, itu karena dia masih terikat di dunia ini, rohnya menjadi tidak tenang, membuatnya berjalan dengan bersusah payah di jalan menuju Homotsu Hiratsaka, dengan rantai yang berat mengikat tangan dan kaki mereka, ikatan itu adalah perasaan orang yang mencintainya, orang yang tak merelakan kematian mereka, penyesalan, rasa bersalah, dendam, itulah yang menjadi ikatan manusia sehingga dia bisa menjadi seorang ghost, mendapat tubuh yang baru dan menyelesaikan urusan yang belum selesai. Namun tidak ada kebahagiaan yang di dapat seorang ghost hanya penderitaan karena dia tak bisa pergi ke surga atau membusuk di neraka, sampai hari yang di janjikan tiba dia hanya berjalan di dunia tanpa tujuan juga tanpa bisa menyelesaikan apa yang belum dia selesaikan" papar Shaka.

"Dan kaulah yang menjadi ikatan Lecca." sambung Aiolos. "Kaulah yang membawanya dari tanah kematian sampai ke sanctuary ini Saga."

Seperti ada beban berat jatuh ke perut Saga, inikah…inikah yang enggan disampaikan Lecca padanya.

"Apa kau makin merasa bersalah Saga? Kau tambah bersedih? Itulah kenapa Lecca tak ingin mengatakan semuanya padamu." kata Aiolos.

Saga diam seribu bahasa, dia baru memahami maksud perkataan Lecca tadi, Saga sungguh tak bermaksud untuk mengikat Lecca dengan apa yang dirasakannya, tetapi ternyata apa yang dia rasakan untuk Lecca malah membuat gadis itu menderita, menjadikannya seorang ghost.

"Kalau kau sudah memahami semuanya, sekarang bukan saatnya untuk merasa bersalah atau makin tenggelam dengan kesedihanmu Saga!" kata Milo, Saga memandang Milo waktu mengatakan itu wajah Milo terlihat sedih, terlihat Aiolia mencoba menenangkan saint termuda ini dengan membelai lembut punggung Milo.

"Orang yang sudah mati tidak membutuhkan ikatan, tetapi hanya doa." sambung Aiolos.

Athena hanya bisa terdiam melihat adegan demi adegan, dia hanya terdiam tidak ada yang bisa dia lakukan, dia hanya bisa melihat Lecca berkorban begitu besar demi menyelamatkan para saintnya, Athena mengangkat papan tebal yang di beri oleh Lecca, papan yang berhiaskan batu-batu bening berkilau yang mengelilingi batu hitam dan merah, meski dia adalah inkarnasi dari Dewi Hera tetap saja pemilik tubuh itu adalah Lecca bukan Dewi Hera, jiwa yang terluka juga jiwa milik Lecca bukan milik Dewi Hera, dan dia tahu sekarang ini yang menjaga segel yang dipegangnya itu bukan Dewi Hera tetapi hanya gadis biasa bernama Lecca.

Athena membelai pelan batu-batu bening itu. "Terlalu menyedihkan Lecca…Saga…" gumamnya "Maafkan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk kalian." wajah dewi perang itu terlihat sangat sedih.

Kuil Athena itu terasa sunyi semua terdiam setelah mendengar penjelasan Shaka dan Aiolos.