Kibum masih dalam keadaan menyedihkan. Dia masih tertidur dengan berbagai alat medis melekat di tubuhnya. Siapapun yang melihat hatinya pasti sangat sedih dan prihatin. Beberapa teman, seperti Donghae, Siwon, Minho, dan Jinki menjenguknya. Sayang mereka hanya bisa melihat dari luar ruangan. Mereka juga sempat menengok Kyuhyun yang kini sudah bisa duduk di ranjangnya. Mereka mengobrol beberapa saat dan pamit untuk pergi. Minho masih sempat meninggalkan kaset game untuk Kyuhyun dan meminta janji untuk bermain game bersama lagi.

Changmin langsung terbang dari Amerika saat mendengar kabar tentang Kyuhyun dari orang tuanya. Tidak peduli dengan jadwal kuliyah. Yang dipikirkannya adalah sahabatnya. Dia bisa mengejar kuliyahnya lain waktu tapi untuk bertemu dengan sahabatnya dia tidak bisa menundanya.

Changmin memeluk Jeun hee dengan erat. "Kau benar-benar teman yang jahat, Kyu."

Jeun hee menepuk punggung Changmin meminta dilepaskan. Jeun hee tertawa melihat Changmin menggembungkan pipinya. "Kau terlihat buruk, Cwang." komentarnya.

Changmin duduk. "Kau tidak mendengarkanku." rajuknya. Jeun hee tersenyum kecil. Changmin memang sahabatnya. Dia tidak pernah berfikir akan memiliki sahabat sebaik ini. Demi untuk melihatnya dia mengabaikan kuliyah dan langsung datang kemari. Bahkan dia langsung dari bandara. Tas ransel yang dibawa Changmin teronggok di sebelah kakinya.

"Aku minta maaf." ucap Kyuhyun tulus.

Changmin menatap Jeun hee. "Jangan minta maaf, seperti bukan dirimu saja."

Jeun hee terkekeh. "Kau bawa apa dari Amerika?"

Changmin berdecak. "Sepertinya kau baik-baik saja."

"Tentu saja! Kau pikir aku sekarat?"

Jeun hee meringis melihat ekspresi Changmin yang langsung berubah sendu mendengar perkataannya. Changmin pasti sudah tahu semuanya entah dari siapa. Semua orang sepertinya sudah tahu kondisinya. Setiap orang yang masuk menjenguknya terlihat menyedihkan. Dia tidak suka itu.

"Eoh, ada Changmin?" Leeteuk masuk. Dia menghampiri mereka. Masih mengenakan pakaian kerja dan wajahnya terlihat lelah.

"Kalau hyung lelah kenapa kemari? Sebaiknya Leeteuk hyung istirahat saja." kata Kyuhyun memperhatikan Leeteuk.

"Gweanchana. Aku ingin melihatmu." Leeteuk tersenyum. Changmin menatap keduanya kemudian mengerti. Dia meraih ranselnya kemudian berdiri.

"Aku akan kembali besok," Changmin berpamitan. Memeluk Jeun hee cukup lama. "Cepatlah sehat." do'anya kemudian pamit pergi.

Leeteuk duduk di tempat Changmin tadi. Mengendurkan dasi dan menanggalkan jasnya. Sepertinya dia benar-benar kelelahan. "Aku mengambil alih semua pekerjaanmu. Dan kau tahu, itu sangat berat. Dan kau mampu menangani semuanya sendiri?" ucap Leeteuk kagum.

Jeun hee mengangguk. "Kelak akan lebih berat lagi, hyung. Gweanchana, Sungmin hyung dan Hyukjae hyung pasti membantumu. Juga appa."

Leeteuk menatap sendu adiknya. "Tapi kami membiarkanmu sendirian." sesal Leeteuk tidak ada habisnya.

Kyuhyun menggeleng, beberapa hari ini dia sering mendengar keluarganya mengatakan penyesalan dan maaf. "Jangan menyesalinya, hyung."

Leeteuk meraih tangan Kyuhyun. "Maafkan aku, Kyunnie. Aku bukan hyung yang baik. Kenapa aku bisa sebodoh ini? Semuanya sangat menyebalkan jika kuingat. Aku buta dan tidak berhati."

Kyuhyun mengusap matanya yang berair. "Itu sudah cukup bagiku. Aku juga pernah sangat marah dan membenci kaliyan. Kenapa kaliyan tidak mengerti? Kenapa kaliyan melihatku seperti itu?" namun Kyuhyun tersenyum lega. "Kita tidak pernah mau mengerti sebelumnya tapi sekarang aku sungguh lega. Terima kasih untuk semuanya."

Leeteuk memeluk Kyuhyun. Mencurahkan semua penyesalan, maaf dan terima kasihnya. Andai dia bisa membuka mata hatinya sejak awal. Andai mereka bisa saling mengerti lebih cepat. Andai dan andai. Maka akan banyak waktu indah yang mereka lalui bersama-sama sebagai keluarga.

Kyuhyun membuka mata saat seseorang mengangkat tubuhnya. Jonghyun tersenyum melihatnya. Sepanjang perjalanan pulang adiknya itu tertidur. Dia tidak tega membangunkannya jadi memutuskan untuk menggendongnya saja.

"Hyung, turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri." pinta Kyuhyun pada Jonghyun yang menggendongnya di kedua lengannya.

Jonghyun menggeleng dan bersikeras menggendongnya. Kyuhyun terasa sangat ringan di lengannya. Appa berjalan di depan mendahului mereka dan berhenti di sebelah eomma yang sudah menunggu di pintu yang sudah terbuka lebar. Kyuhyun tersenyum melihat eomma yang sedang menantinya. Dia meminta turun untuk memeluk sang eomma.

"Jeun hee pulang, eomma." salamnya.

Eomma tersenyum. "Selamat datang, chagi." jawabnya.

Setelah 8 hari di rawat di rumah sakit, Kyuhyun diperbolehkan pulang. Kyuhyun terkejut saat appa Park bilang dia boleh pulang ke keluarga Lee. Dia tidak berfikir apapun, dia hanya merasa sangat bahagia dan tidak sabar untuk berada di rumah keluarga Lee lagi.

Eomma menyelimuti tubuh Jeun hee. "Beristirahatlah." ucapnya kemudian mengecup kening Jeun hee. Appa melakukan hal yang sama dan keluar bersama istrinya.

Jeun hee menatap Jonghyun yang masih berdiri di ruangan.

"Waeyo?" tanya Jeun hee.

Jonghyun menggeleng. Dia mengulas senyum lalu duduk di tepian ranjang. "Akhirnya kau pulang. Aku sangat senang."

Jeun hee ikut tersenyum. Dia juga merasakan hal yang sama. "Terima kasih sudah mau menunggu dan menerimaku kembali. Aku mencintai kaliyan."

Jonghyun mengambil tangan Jeun hee dan digenggamnya dengan erat. "Kau tahu, kami jauh lebih mencintaimu. Kau sangat berarti bagi kami."

Jeun hee mengangguk terharu. Jonghyun mengusap pipinya. "Tidurlah."

Jeun hee memejamkan mata dengan masih tersenyum. Perasaannya lega dan tenang. Dia masih merasakan hangat yang disalurkan Jonghyun dari tangannya. Dia telah menepati janjinya untuk pulang. Bukan berarti dia akan melupakan keluarga Park. Appa dan hyungdeulnya tetaplah keluarganya. Keluarga Lee juga keluarganya. Mereka terjalin jadi satu sebagai keluarga. Dan begiulah dia harap hubungan itu terjaga selamanya.

"Selamat pagi sayang." sapa eomma menyambut Jeun hee yang turun dengan Jonghyun. Eomma menarikkan kursi untuk Jeun hee juga Jonghyun. Sebelum kembali ke kursinya sendiri dia mengecup pucuk kepala Jeun hee.

Appa tersenyum lebar memandang Jeun hee berada di kursi yang telah lama kosong selama ini. Dia hampir-hampir tidak percaya putra bungsunya telah kembali.

Juen hee menatap appa yang tersenyum sedari tadi. Dia terkekeh. "Aigooo aku bukan barang antik appa."

Appa tertawa dan mengusap kepala Jeun hee. "Mari kita sarapan." katanya menatap eomma dan Jonghyun. Eomma segera melayani mereka. Appa lebih dulu mendapat semangkuk nasi kemudian Jonghyun dan Jeun hee.

"Eomma kenapa kau menyiapkan lauk seperti ini?" tanya Jeun hee melihat semua menu sarapan adalah makanan kukus tanpa daging. Dia merasa mereka sengaja karena dirinya. "Kaliyan tidak perlu memakan apa yang kumakan. Masaklah seperti biasa."

"Tidak apa sayang. Sekali ini, kami ingin merasakan apa yang sudah dua tahun ini kau makan. Eomma janji besok eomma akan memasak seperti biasa dan juga memasak khusus untukmu."

"Ne, Jeun. Ini sudah kesepakatan kami." sahut Jonghyun. "Ayo makan!"

Mereka mengambil lauk yang serba kukus dan memakannya dengan lahap. Jeun hee tersenyum kecil. Dia ikut mengambil lauk dan mulai makan. Rasanya seperti biasa hambar. Baginya ini sudah biasa. Tapi melihat keluarganya yang lahap seolah itu adalah makanan enak, dia tidak kuasa meneteskan air mata. Untuknya mereka menyembunyikan rasa hambar tersebut dan memakannya dengan nikmat. Dia mengusap air matanya dan tersenyum lebar menatap mereka.

Jeun hee sedang rebahan di kaki eomma sambil memainkan PSP. Appa dan Jonghyun pergi ke kantor selesai sarapan. Tadinya Jonghyun tidak ingin pergi. Tapi karena desakan Jeun hee dan appa akhirnya dia pergi juga. Tapi dia bilang akan pulang siang nanti. Appa dan Jeun hee tahu Jonghyun sedang ingin-inginnya menghabiskan waktu bersama jadi mereka membiarkan saja dan memakluminya.

"Eomma kau tidak membersihkan rumah?" tanya Jeun hee sambil asyik bermain PSP. Eommanya membelai kepalanya sambil bernyanyi.

"Tidak, ada ahjuma yang nanti datang beres-beres." jawab eomma berhenti bernyanyi.

"Sejak kapan ada ahjuma?"

Eomma mengacak rambut Jeun hee. "Sejak anak eomma ini pulang. Eomma ingin menghabiskan banyak waktu dengannya. Tidak terlewat sedetikpun."

Jeun hee terkekeh kecil. "Eomma seperti muda mudi yang sedang merayu."

"Biarkan saja." sahut eomma lalu menunduk mengecup kening Jeun hee. Dia kembali membelai kepala Jeun hee. "Jeun, eomma ingin kamu sembuh. Jadi kami berfikir agar kamu mendapatkan perawatan yang lebih baik. Dokter bilang pertama yang harus dilakukan adalah mendapat donor ginjal untukmu, baru kemoterapi untuk kankermu bisa dimulai. Tapi untuk sekarang beberapa obat bisa sedikit membantu. Kami harap secepatnya ada donor untukmu."

Jeun hee sudah mempause gamenya sedari tadi. Dia menatap ibunya yang sedang berbicara. Saat eomma berhenti berbicara Jeun hee memeluk pinggang eommanya. "Aku tidak berfikir untuk sembuh eomma. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan bersama keluargaku, teman-temanku dan bersenang-senang. Aku sudah cukup berjuang selama ini, dan sekaranglah waktu untuk bahagia."

Mata eomma memanas. Dia juga ingin Jeun hee bahagia. Apapun pasti dia lakukan agar Jeun hee bahagia. "Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, sayang."

"Gomawo eomma. Kau yang terbaik!"

Saat siang datang Jonghyun pulang. Dia tidak sendirian. Appa ikut pulang bersamanya. Yang lebih mengejutkan ada yang lain juga. Appa Park, Leeteuk hyung dan Hyukjae hyung juga datang. Mereka datang untuk mampir dan melihatnya. Jeun hee tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Dia senang, tentu saja. Hyungdeulnya sekarang ada untuknya.

"Sungmin akan datang nanti. Dia sedang menunggui Kibum hari ini." kata appa Park duduk di sebelah Jeun hee. Appa merangkul bahu Kyuhyun. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

Kyuhyun masih tersenyum. "Baik appa. Sangat baik."

Appa Park yakin itu. Wajah Kyuhyun nampak berseri dan lebih segar dari hari-hari kemarin. "Appa tahu." dia mengecup kepala Kyuhyun lalu pergi menghampiri tuan Lee. Mereka mengobrol dan menikmati teh bersama. Sedangkan eomma berada didapur bersama Leeteuk hyung dan ahjuma. Ini jam makan siang dan eomma meminta mereka untuk makan bersama. Leeteuk hyung langsung ikut ke dapur untuk membantu memasak.

Kyuhyun menoleh pada Hyukjae yang duduk perlahan di sebelahnya. "Gweanchana Kyuhyunnie?" tanyanya masih canggung.

Kyuhyun melihat kecanggungan itu dan menepuk kaki Hyukjae. "Jangan canggung, hyung. Aku lebih muda darimu. Bersikaplah biasa saja."

Hyukjae langsung bersedih. "Kau ingin aku bersikap seperti dulu?"

Kyuhyun menggeleng buru-buru. "Bukan! Maksudku sewajarlah bersikap padaku. Kau terlihat kaku sekali. Aku ini adikmu, jadi lihatlah aku sebagai adikmu bukan musuhmu." katanya menjelaskan.

Hyukjae tertawa melihat Kyuhyun yang kena dikerjainya. Mengetahui hal itu Kyuhyun langsung memukul lengan Hyukjae dan memasang wajah ngambeknya.

"Aigooo, jangan marah ne." pinta Hyukjae masih geli. Dia melingkarkan lengannya di bahu Kyuhyun. "Hyung janji tidak akan bersikap begitu lagi. Maafkan aku, ne. Banyak hal yang kusesali sekarang, Kyu. Hyung sangat menyesal."

Kyuhyun menatap Hyukjae. "Aku tahu, hyung. Tidak ada yang perlu kumaafkan. Kita hanya terlalu egois selama ini. Hanya memikirkan diri sendiri dan tidak melihat yang lain. Aku juga seperti itu."

"Kau lebih baik dariku. Maafkan kami atas semua yang kau alami selama ini." Hyukjae mengerjapkan matanya yang berair saat rasa penyesalan dan sedih itu berkumpul dihatinya lagi. Kyuhyun menggenggam tangan hyungnya, tidak tega melihatnya berada dalam penyesalan dan ingin Hyukjae merasa lebih baik.

Jonghyun turun telah berganti pakaian santai karena setelah ini dia tidak akan ke kantor lagi. Dia langsung menghampiri Jeun hee dan Hyukjae yang sedang mengobrol. Dia bisa melihat kedua appa sedang asyik di sudut yang lain dan eomma yang sedang sibuk didapur bersama Leeteuk dan ahjuma. Pemandangan yang hangat dan menyenangkan. Dia tidak pernah membayangkan keadaan akan berubah sehangat ini.

Tidak lama kemudian eomma memanggil mereka untuk ke meja makan. Ada lebih banyak makanan yang disediakan eomma dan beragam. Dan semuanya kukus. Hanya saja eomma menyiapkan juga garam di meja makan. Untuk mereka selain Kyuhyun, agar bisa menambahkan rasa di makanannya. Tidak ada yang protes dengan apa yang disajikan nyonya rumah. Semua bersikap biasa dan menerima dengan senang hati. Sungmin datang tak lama kemudian dan segera bergabung. Mereka makan dengan suasana hangat, mengobrol dan bersenda gurau untuk lebih mendekatkan diri satu sama lain. Ini pertama kalinya bagi mereka merasakan kedekatan seperti ini. Dan rasanya sangat menyenangkan dan jauh lebih baik. Mereka bahkan sepakat untuk melakukan makan bersama seperti ini lagi nanti jika Kibum sudah kembali sehat.

Jeun hee alias Kyuhyun adalah yang paling bahagia diantara mereka. Dia melihat dua keluarga menjadi satu. Dia dikelilingi orang-orang yang dia cintai. Ini adalah kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam hati berdo'a dan berharap Kibum akan segera membaik dan bisa berkumpul bersama mereka. Dia tidak melupakan niatnya untuk mendonorkan hati untuk saudara kembarnya. Sampai sekarangpun dia masih pada niatnya tersebut. Karena dia ingin bersama Kibum juga. Jika dia bahagia, Kibum juga harus merasakannya. Mereka berbagi pada awalnya dan akhirpun dia ingin berbagi dengannya. Apapun itu.

Tbc-