Chapter 29 – Sanctification
Saat dihadapkan pada dua pilihan untuk menyucikan roh jahat, menenangkan arwah tersebut atau terpaksa membunuhnya, yang manakah yang akan kau pilih?
.
Vengeance Arc
.
Leila menjelaskan bahwa ada dua cara untuk menyucikan roh jahat dan mengeluarkannya dari tubuh seseorang, menenangkan arwah tersebut dengan membantunya menyelesaikan urusan yang belum tuntas, urusan yang ingin ia selesaikan, atau perasaan yang belum dituntaskan dan kedua, jika mereka tak bisa menemukan cara untuk menenangkan arwah tersebut, maka mereka terpaksa membasminya, membunuh roh itu setelah mengeluarkannya secara paksa dari wadah yang ia rasuki dengan konsekuensi 50:50 roh tersebut kemungkinan akan musnah jika ia tidak sanggup menahan serangan yang diterimanya
"kita tak tahu apa yang diinginkan arwah yang merasukinya, terlebih ada lebih dari satu arwah, jika kita ingin menenangkan arwah tersebut maka akan sangat sulit, tak ada pilihan lain selain membasmi mereka", Yasmine menghunuskan belatinya dan katananya "kami akan membantu menahannya tapi apa yang akan kau lakukan setelahnya?".
Fuyu terkekeh "jangan meremehkan keturunan kaum Siren, kau akan mengerti kenapa kaum kami ditakuti dan disebut sebagai kaum penyihir".
Shina menghentikan percakapan mereka, ia memberitahu apa yang ia lihat "mereka datang".
"tetap di belakang kami, tuan putri", Hak membentengi Yona dan menghunuskan mata tombak Tsu Quan Dao "Fuyu, kami takkan melarangmu tapi ingat, jika terjadi hal yang berbahaya saat kau berusaha menyelematkannya, keselamatanmu akan lebih kami prioritaskan".
Terkejut mendengar ucapan Hak, Fuyu menoleh ke arahnya dan bersiap protes "apa-apaan...".
"kami mengerti, kau istrinya dan kau merasa ini tanggung jawabmu, tapi pikirkan perasaan si mata sayu jika terjadi sesuatu padamu terlebih jika kau terluka di tangannya pada saat ia bukan dirinya..." potong Hak.
Saat Fuyu berniat membalas ucapan Hak dengan menggodanya sedikit, Leila melompat maju ke depan mereka dan menancapkan Kum Kang Jeo ke tanah "aktifkan segel ke-4 dewa mata angin?!".
Sebelum Leila mengaktifkan segelnya, Jae Ha sudah terlanjur mendarat ke dalam area kekkai sehingga Leila melompat ke belakang sambil menyilangkan kedua tangannya ke dadanya saat Jae Ha yang berada di depannya menendangnya. Meski ia berhasil menahan tendangan Jae Ha, Leila terpental karena Jae Ha menendangnya dengan kaki naganya. Akibat serangan Jae Ha, kekkai yang dipasang Leila sempat goyah meski akhirnya Leila bisa menstabilkan kekkainya dengan memasang kekkai melingkupi desa Ryokuryuu agar Jae Ha tak bisa kabur keluar desa.
"kau tak apa?", Hak berhasil menangkap Leila namun ia terkejut melihat lebam biru di kedua tangan Leila yang menahan serangan Jae Ha barusan "tanganmu...".
"hanya memar", Leila mengelus-elus kedua tangannya yang terasa nyeri dan menyeringai "dia benar-benar kesurupan, rupanya? Jae Ha yang biasanya takkan menendang sampai seperti itu".
"mundurlah...", Fuyu merenggangkan kedua jari tangannya "seseorang, bisa lemparkan aku ke belakangnya?".
"kalau begitu, biar kubantu", Yasmine merenggangkan kakinya, di antara mereka yang kakinya paling lincah selain Jae Ha memang hanya dia.
"hei, kakakmu sudah lebam begini? yakin tak apa-apa?" tahan Yun mengoleskan obat ke luka memar di kedua tangan Leila.
"jangan meremehkan mantan pembunuh wanita dari kuil Sakura merah", Fuyu mengeluarkan jarumnya "ada banyak cara untuk melumpuhkan seseorang tanpa membunuhnya".
"kalau begitu, kita mulai~", Yasmine menggendong Fuyu dan berlari ke arah Jae Ha.
Entah arwah yang merasuki Jae Ha terbilang cerdas atau hanya insting, menyadari bahaya yang datang dari Fuyu dan Yasmine, Jae Ha terus melompat untuk menghindari Fuyu dan Yasmine sambil menyerang warga desa Ryokuryuu satu persatu. Yang ditumbangkan oleh Jae Ha hanya para laki-laki yang merupakan prajurit penjaga desa Ryokuryuu, itupun hanya ia lukai seperti mematahkan tulang atau menebas mereka, tak ada yang mati terbunuh di tangannya terutama wanita dan anak-anak. Saat prajurit penjaga desa Ryokuryuu berhasil ditumbangkan semuanya, Jae Ha berjalan menghampiri tetua desa Ryokuryuu yang berdiri di antara para laki-laki, warga desa biasa.
"Jae Ha, berhenti?!" ujar Yona membentengi tetua desa Ryokuryuu, membuat uluran tangan Jae Ha berhenti, beberapa arwah yang merasuki Jae Ha terlihat keluar dari tubuh Jae Ha dengan wajah tenang namun itu belum cukup untuk mengusir semua arwah yang merasuki Jae Ha.
"bagus, Yona", Haku melingkarkan tangan kirinya melewati bahu Yona, merangkul Yona dari belakang dan mengarahkan tangan kanannya yang memancarkan aliran listrik pada Jae Ha.
Setelah Jae Ha berlutut di tanah pasca tersengat aliran petir dari Hak, Kija dan Yasmine segera menahan Jae Ha setelah membantingnya ke tanah. Yasmine melakukan kuncian lengan pada lengan kiri Jae Ha. Kija menahan lengan kanan Jae Ha dengan tangan kanannya dan menahan tubuh Jae Ha ke tanah dengan cakar naganya.
"Hak!? kenapa melemparkan petirmu pada Jae Ha?!" protes Yona.
"tak apa, Yona... aku yang memintanya...", Fuyu melangkah maju, ia menyadari siapa arwah yang kini berdiam di dalam tubuh Jae Ha, ia berlutut di atas tanah yang ada di atas kepala Jae Ha yang berbaring di tanah "para arwah pendahulu Ryokuryuu, kembalikan suamiku... kalian semua sudah mati, sudah tak ada yang bisa kalian lakukan untuk...".
"BERISIK... DENDAM... NYAWA DIBALAS NYAWA...", potong suara yang keluar dari mulut Jae Ha, suara itu bukan hanya berasal dari satu orang tapi gabungan beberapa orang, sebenarnya ada berapa banyak yang merasuki Jae Ha?
"apa boleh buat, kalian yang memaksaku... jangan salahkan aku karena aku membasmi kalian paksa...", Fuyu memegangi kepala Jae Ha setelah melirik Yasmine dan Kija "tolong pegang tubuhnya erat-erat, ini untuk membawanya kembali".
Muncul cahaya temaram berwarna hijau keputihan seperti cahaya kunang-kunang dari tangan Fuyu yang memegang kepala Jae Ha "jurus terlarang, Going Under...".
Going Under adalah jurus terlarang yang dimiliki kaum Siren dimana mereka dapat merasuki kesadaran atau isi hati dalam tubuh seseorang. Dengan jurus ini, Fuyu masuk ke dalam tubuh Jae Ha dan sampai di dalam isi hatinya. Ketika ia sampai di dalam 'kesadaran' yang merupakan isi hati Jae Ha, di tengah kegelapan Fuyu melihat gumpalan roh jahat dan begitu ia mendongak ke atas, ia melihat Jae Ha yang tak sadarkan diri terikat oleh belenggu yang dibuat oleh para arwah pendahulu Ryokuryuu yang menjadi gumpalan roh jahat. Fuyu menghunuskan kedua trisulanya dan berusaha membebaskan Jae Ha tanpa memedulikan efek yang didapat tubuhnya.
Semakin ia berusaha melawan para arwah jahat yang membelenggu Jae Ha, semakin banyak luka goresan di tubuhnya dan semakin banyak pantulan masa lalu yang ia lihat dengan jelas. Fuyu melihat semua yang terjadi pada Jae Ha sebelum Jae Ha kabur dari desanya termasuk siksaan yang ia dapatkan dari Garou. Ini tak ada bedanya dengan apa yang ia rasakan saat masih berada di kuil Sakura merah sebelum ia dibawa kabur oleh Shurin, tapi yang membuat Fuyu menangis bukan hanya apa yang dialami Jae Ha sebab ia juga melihat penderitaan yang dialami para arwah pendahulu Ryokuryuu, tak heran mereka berkumpul dan menjadi sekumpulan roh jahat.
Tapi ini tak benar, tak peduli seperti apapun penderitaan mereka yang merasuki Jae Ha, bukan berarti mereka bisa membalas dendam terlebih menggunakan Jae Ha.
Dengan air mata berlinang membasahi pipinya, Fuyu mendongak dan berteriak "Jae Ha!? buka matamu!? sadarlah!?".
Seseorang menepuk bahunya, begitu Fuyu menoleh ke belakangnya, ia melihat pria berambut hijau bermata ungu, warna rambut dan mata yang sama dengan Jae Ha. Meski gigi taring dan tombak yang ia bawa memberi kesan garang, Fuyu merasa ia bukanlah orang jahat.
"anak-anak!? ini bukan tubuh kalian, jadi lepaskan dia dan kembalilah?!".
Saat gumpalan arwah penasaran itu melepaskan Jae Ha dan menghampiri pria itu dengan wujud manusia mereka, Fuyu berlari dan mendekap Jae Ha yang tergeletak di lantai.
Sebelum pergi, pria itu sempat menepuk kepala Fuyu dan menatapnya dengan tatapan simpati bercampur kasihan "maafkan mereka, nona... sekarang, lebih baik kau segera kembali ke dunia nyata, obati luka di tubuh kalian dan jaga suamimu".
Fuyu mendongak dengan air mata berlinang "...anda siapa?".
Pria itu tersenyum simpul "Zeno pasti mengenalku jika kau tanya siapa itu Shuten...".
Saat pria itu pergi meninggalkannya dan Jae Ha, Fuyu berteriak "tuan Shuten!? terima kasih?! Terima kasih banyak?!".
Sejak Fuyu mengerahkan jurus Going Under dan masuk ke dalam kesadaran Jae Ha, perlahan-lahan namun pasti, kamaitachi (bekas luka sayatan akibat angin) terus bermunculan di tubuh Fuyu, darah yang keluar dari kedua tangan, kaki, wajah dan tubuhnya kini membuat kimononya berlumuran darah.
"seseorang, hentikan Fuyu!? Darahnya banyak sekali yang muncrat keluar, kalau begini terus, bisa-bisa..." ujar Yona panik.
"tapi tak ada yang bisa kita lakukan?! Jika kita pisahkan secara paksa, bisa-bisa kesadaran Fuyu tertinggal dalam tubuh Jae Ha dan Fuyu bisa koma?!" sahut Yasmine tak kalah paniknya.
"yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu Fuyu sendiri yang membatalkan jurusnya dan membawa kesadarannya kembali kemari, aku mengerti perasaan kalian tapi aku juga tak suka ini" tambah Leila melipat tangan, dari luar ia terlihat tenang tapi jelas ia juga khawatir.
Tak lama kemudian, setelah Fuyu meneteskan air mata, tiba-tiba tubuh Fuyu terpental saat ia melepaskan tangannya dari kepala Jae Ha. Yona menangkap tubuh Fuyu dari belakang sambil berusaha menyadarkan Fuyu sementara Kija dan Yasmine yang menahan tubuh Jae Ha segera melepaskan Jae Ha yang akhirnya sadar kembali.
"...tubuhku sakit semua..." gumam Jae Ha yang tak bisa bergerak.
"sama..." gumam Fuyu yang akhirnya sadar, terkekeh "tapi apa boleh buat, kau dirasuki sampai seperti itu...".
Saat Yun memeriksa Jae Ha, terdapat luka memar dan tebasan pedang di beberapa bagian tubuh Jae Ha sehingga ia menahan pendarahan di tubuh Jae Ha sementara Leila menahan pendarahan di tubuh Fuyu.
Tetua desa Ryokuryuu meminta mereka meninggalkan desa Ryokuryuu secepatnya, saat itulah Fuyu memaksa untuk berdiri dan melepaskan pegangannya dari Yasmine.
"apa kalian tak sadar bahwa apa yang kalian lakukan bahkan lebih rendah dari binatang?! tidak heran mereka menjadi gumpalan roh jahat jika kalian memperlakukan mereka sekejam itu?!", Fuyu mengeluarkan kedua trisulanya "meski tubuhku terluka, dengan taraf luka seperti ini, aku masih punya tenaga yang cukup untuk menghabisi kalian demi membayar apa yang telah kalian lakukan pada mereka... jangan remehkan aku meski aku mantan pembunuh...".
Jae Ha melepaskan bahunya dari bahu Haku, dengan langkah gontai ia menghampiri Fuyu dan memeluk Fuyu dari belakang "Fuyu, kau sudah berjanji kalau kau takkan membunuh lagi, kan? ingatlah perasaan itu, bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau tak ingin membunuh orang lagi?".
"aku tahu... tentu saja aku ingat?! Tapi aku tak tahan... kenapa... kita tak bisa memilih dimana dan sebagai apa kita dilahirkan, karena itu kenapa... hanya karena kelahiran kalian yang agak berbeda dengan orang lain, kalian harus diperlakukan tidak adil?" isak Fuyu memeluk Jae Ha.
Saat mereka meninggalkan desa Ryokuryuu, mereka masih bisa mendengar bisik-bisik warga desa yang membuat kuping mereka panas. Kalau saja Kija tak membantu Hak memapah Jae Ha, dia pasti akan kembali untuk memarahi mereka. Yasmine yang menggendong Fuyu bahkan sependapat dengan Kija. Setelah mereka berada agak jauh dari desa Ryokuryuu, Yun dan Leila mengobati luka di tubuh Jae Ha dan Fuyu sebelum keduanya dibaringkan dalam satu tenda. Jae Ha merasa bersalah melihat luka di tubuh Fuyu yang ia dapat ketika berusaha menyadarkannya namun Fuyu meyakinkan kalau ia tak keberatan.
Melihat wajah cemberut Jae Ha, Fuyu mendekapkan kepalanya ke pelukan Jae Ha sebelum ia mencium Jae Ha "hei, sudahlah... rasa sakit ini tak seberapa ketimbang harus kehilanganmu".
Jae Ha tertawa kecil mendengar jawaban Fuyu, memeluk dan menciumnya balik "aku sangat mencintaimu...".
