Author: Thewi Choi
Genre: FriendShip, Romance, little humor
Warning : YAOI!
Rating: Teen
POV: author
"Ohshin High School"© 2013 by Thewi Choi
Summary: Ini adalah kisah kehidupan sekolah biasa seorang siswa bernama Do Kyungsoo. / Kisah tentang persahabatan, cinta, keegoisan, dan pengkhianatan itu pun berlalu cepat. Tahun ini pun bisa terlewati. Dan perpisahan pun tak dapat dihindari. /CP 28 . YAOI. Kyungsoo!MAIN
.
.
.
Sehun hanya duduk diam mendengarkan ocehan sang kakek tentang kekacauan yang dibuatnya tadi. Sehun menolehkan kepalanya kearah jendela dan nampak bayangan sebuah pesawat melintas jauh diatasnya. Sehun menatap jauh pesawat yang terlihat kecil itu. Tidak biasanya dia menangkap sebuah pesawat melintas dari sini. Dimana awan tebal yang biasanya melindunginya. Apa langit juga ingin memperlihatkan kepergian Luhan.
.
"Kyungsoo!" Chanyeol segera menyongsong namja mungil itu ketika keluar dari pintu depan bandara.
"Chan?"
"Kata Xiumin kau menemui Luhan. Apa berhasil?"tanya Chanyeol setelah dia tepat berada didepan Kyungsoo. Namja tinggi ini bahkan ijin dari tempatnya bekerja setelah mendapat kabar dari Xiumin. Chanyeol memang menggunakan waktu bebas sekolah untuk membantu ditoko buku milik kenalannya. Sementara dia menunggu hasil pengumuman tes masuk universitas yang telah dilalui kemarin.
Kyungsoo tersenyum tipis lalu mengangguk kuat.
"Tentu saja. Dia tersenyum. Manis sekali" Chanyeol nampak lega terbukti dari ekspresi wajahnya.
"Dia bahkan sampai berlari jauh untuk itu." Desis Kris yang muncul dari belakang. Chanyeol menepuk kepala Kyungsoo. Senyum Kyungsoo yang sekarang adalah senyum yang beberapa hari tak dilihat Chanyeol .
"Senang bisa melihatnya lagi" gumam Chanyeol.
.
.
Kyungsoo baru saja masuk melalui pintu rahasia dan seketika terkejut dengan Jongin yang sudah menghadangnya.
"Hyung?" namja tan itu tersenyum lembut lalu menyodorkan orange jus kaleng pada kekasihnya itu.
"Selamat datang" ucapnya sambil membantu Kyungsoo berdiri. "Sepertinya semuanya berjalan lancar? Benarkan?" Namja mungil itu menambah lebar senyumnya. Sedikit berjingkit lalu memeluk leher Jongin senang.
"Aku senang. Meski dia tidak berkata apapun kurasa dia memaafkanku" lirih Kyungsoo. Jongin tersenyum lagi seraya mengelus rambut halus Kyungsoo.
"Syukurlah aku tak harus melihat air matamu itu terus menerus" canda Jongin. Hanya kekehan kecil yang didapat Jongin.
"Oi, jangan bermesraan disini. Aku mual" sinis Kris sambil melewati pasangan itu. Bahkan dia sempat menjentik kepala Kyungsoo dengan jarinya.
"Terima kasih, Kris" ucap Jongin tulus.
"Sama-sama, berkat kalian minat bolosku jadi hilang" sindir Kris sebelum benar-benar menghilang dari sana.
"Luhan. Sepertinya dia sedang mengejar cita-citanya sekarang" ujar Jongin membuka suara. Kyungsoo menatap bingung Jongin. Kyungsoo sempat mengira Luhan hanya ingin pergi untuk menghindari dirinya.
"Jangan khawatir. Sehun melihat surat undangan klub di apartemennya. Mungkin dia mendaftarkan dirinya di akademi football disana. Kau ingat betapa atletisnya dia, kurasa dia akan jadi pemain yang handal dimasa depan" jelas Jongin. Kyungsoo tidak terkejut, minat Luhan pada sepak bola memang terlihat jelas. Sekarang Kyungsoo yakin Luhan memang bersandiwara saat memasuki banyak klub dulu. Dasar Luhan. Seharusnya dia masuk klub teater juga.
Kyungsoo terkekeh sendiri.
.
.
Musim panas tanpa terasa tiba. Malam yang penuh hingar-bingar festifal musim panas. Begitu banyak stand-stand makanan dan pernak-pernik menghiasi sisi jalan.
Chenyeol terlihat asyik membungkus sepotong roti disalah satu stand disana. Tadinya dia hanya ingin jalan-jalan bersama Kyungsoo dan Jongin, tapi begitu melihat bibi jauhnya sedang membuka stand roti disana Chanyeol pun tergerak untuk membantunya. Maklum saja bibinya hanya sendirian sekarang, anak semata wayangnya sedang kuliah diluar kota. Pasti kerepotan jika sendirian.
"Maaf ya kalian jalan-jalan saja. Ini puncaknya, aku tidak tega pada bibi."ujar Chanyeol sambil tertawa lebar. Wanita paruh baya yang dipanggil Chanyeol bibi tersenyum tidak enak.
"Oh ok... Kami kesana dulu. Kalau perlu bantuan telepon saja ne? Bye Chaan..." Dia tersenyum hangat ketika Kyungsoo melambaikan tangannya dengan Jongin disampingnya. Melihat punggung dua orang terdekatnya menjauh membuat perasaannya sedikit berubah. Dia tersenyum kecut.
Kyungsoo kecengannya sudah punya kekasih. Rasanya tragis sekali dia tidak memiliki pasangan selama dia hidup 17 tahun ini. Chanyeol menghembuskan nafasnya lelah.
"Maaf ya Yeollie. Bibi malah merepotkanmu" Chanyeol hanya tertawa menanggapi kata-kata bersalah bibinya.
"Justru aku berterima kasih. Dari pada jadi obat nyamuk mereka, lebih baik aku membantu bibi. Lagi pula tidak lama lagi aku akan kuliah, belum tentu aku bisa membantu bibi lagi nanti. Hee" dalam hati dia berdoa semoga jodohnya ada pada salah satu pembeli yang datang kestand roti bibinya ini.
Sambil menyelam minum air.
.
Tepi sungai nampak ramai dengan pengunjung. Beberapa bahkan menggelar tikar dan membawa cemilan. Jongin dan Kyungsoo duduk diatas rumput hijau disana. Menikmati kembang api yang sebentar lagi muncul.
Sudah sebulan semenjak Luhan pergi. Meski dia tak pernah bisa menghubungi Luhan setelah itu, Kyungsoo meyakini dirinya, Luhan pasti baik-baik saja. Dia pasti sedang berusaha keras untuk bisa menggapai cita-citanya dan menemukan jati dirinya sendiri. Kyungsoo yakin sekali.
"Hyung menurutmu aku bisa tidak mengapai cita-citaku? Luhan yang sempurna saja pasti berjuang mati-matian. Bagaimana denganku yang malas ini?" keluh Kyungsoo. Jongin terkikik.
"Kau tahu malas, kenapa masih dipelihara. Tidak ada yang tidak mungkin, Kyung. Bahkan presiden sekali pun harus berusaha keras agar negaranya bisa makmur" nasehat Jongin. Kyungsoo mengangguk cepat. Kekasihnya ini memang keren. Tidak heran saat nilai ujiannya keluar kemarin begitu banyak siswi yang mengantri hanya untuk memberinya hadiah. Tentu saja dia ada diperingkat pertama sekolah.
"Kurasa benar. Aku yang seperti ini malah dapat kau yang begitu sempurna. Rasanya seperti mimpi" Kyungsoo menyandarkan kepalanya dibahu Jongin. Namja tan itu tertawa. Mana ada manusia yang sempurna. Dia saja sadar diri jika suaranya saat menyanyi bisa membuat orang yang mendengarnya kejang-kejang. Minus Tao mengingat jiwa Jonginersnya yang begitu tinggi.
"Setelah ini aku akan kuliah di kota lain. Meninggalkanmu rasanya berat sekali" gumam Jongin. Kyungsoo menoleh.
"Aku janji jika Hyung disana aku akan sering berkunjung. Nanti aku menginap di tempatmu di akhir pekan, kemudian Hyung akan mengajakku keliling kampus hingga aku bosan. Pasti menyenangkan" ujar Kyungsoo sembari memainkan tangannya ceria.
"Dasar pengkhayal. Kau percaya begitu saja berduaan denganku?" ujar Jongin menepuk dahi Kyungsoo.
"Hehehe... tentu saja, kau tidak semesum Chanyeol kok"
Tawa Kyungsoo terhenti. Sebuah suara keras nampak menarik perhatiannya.
"5... 4... –" hitungan mundur kembang api sudah dimulai. Seseorang dengan pengeras suara nampak bersemangat memulai hitungan mundurnya.
"3..."Kyungsoo ikut berteriak semangat. Jongin hanya merangkul Kyungsoo.
.
"2..." Xiumin yang tak jauh dari sana nampak ikut-ikutan bersemangat. Chen mendengus. Sebenarnya dia tidak suka dengan keramaian seperti ini. Jika tidak Xiumin merengek-rengek mana mau dia kesini.
.
"1!"
.
DUARRR!
.
Kembang api itu meledak dengan indahnya.
Hingar bingar ledakan dilangit dengan pesona warna yang indah memenuhi langit malam. Kyungsoo tak tahu kapan dia bisa melepaskan pandangannya pada kembang api yang terus-terusan meledak diatas kepalanya.
"Waah, itu besar sekali" ujar Xiumin kagum. Chen nampak tak begitu peduli, baginya i-pad didepannya ribuan kali lebih menarik dari pada ledakan-ledakan memekakkan telinga itu.
Kyungsoo nampak semangat karena tanpa sadar dia melompat-lompar dari tempatnya sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Jongin bahkan sampai harus menahan tawa. Ini bahkan lebih menarik dari pada kembang api disana.
.
"Ahjusi, rotinya satu" Chanyeol merasakan perempatan didahinya. Memangnya dia setua itu. Dia hampir memarahi pembeli itu kalau tidak melihat wajah sang pembeli.
"Baek?" Namja berperawakan mungil itu tersenyum menyebalkan.
"Ohh, kau kenal ahjusi ini Baek?" tanya gadis disampingnya. Chanyeol mengerutkan keningnya. Rasanya wajah gadis ini agak familiar. Lagi pula apaan panggilan ahjusi itu.
"Ahjusi ini teman sekolah Jongin Hyung, Sulli-ya" Baekhyun menunjuk Chanyeol tidak sopan. Sialan, rasanya Chanyeol tahu alasan utama Tao begitu jengkel pada Baekhyun.
DUAARR!
Chanyeol mendongakkan kepalanya. Kembang apinya sudah dimulai.
"Oh, sudah mulai" gumamnya dari balik meja stand bibinya. Baekhyun dan Sulli ikut mendongak. Mata cantik keduanya berbinar-binar. Dua sepupu itu nampak antusias dengan kembang api diatasnya.
"Waah keren!"
.
Jumyeon menatap jendela kamar inapnya dengan mata lembut. Kembang apinya benar-benar terlihat dari sini. Meski dirumah sakit rasa ini tidak seburuk perkiraannya.
.
"Berhenti sebentar" suara tua itu membuat Sehun yang sedang menatap kembang api dari jendela mobil menoleh. Mobil mewah itu berhenti perlahan, menepi di tepi tanjakan. Dari kejauhan sini kembang api terlihat kecil. Tapi itu cukup bagi Sehun.
"Biarkan bocah ini menikmati kembang api. Klien masih bisa menunggu..." gumam kakek Sehun bijak. Tanpa mengubah wajahnya, namja dingin itu segera keluar dari mobilnya. Berdiri diujung jalan untuk sekedar menikmati kembang api dan angin diujung sana.
.
Lay nampak tak peduli dengan letusan-letusan yang terdengar dari luar rumahnya. Dia hanya berkurung dikamar gelapnya dengan berbagai alat-alat yang ajaib -menurutnya. Kartu tarot berhamburan dimana-mana.
"Hominaaa—Skla..laka" mantra aneh lagi-lagi meluncur. Lantunan dering ponsel menginterupsinya. Dia membuka ponselnya dengan wajah curiga.
Dia menerima foto kembang api dari Kyungsoo. Lay tertawa kecil. Lebih mirip kikikan nenek sihir difilm horor. Bentuk perasaannya pada Kyungsoo. Anak itu pasti tahu bahwa dia tak pernah mau menononton hal-hal seperti ini. Sedikit terharu pada capture yang dikirimkan Kyungsoo padanya.
.
Tao keluar dari minimarket didekat rumahnya. Niatnya untuk berdiam diri dirumah musnah ketika ibunya memintanya membelikan cemilan untuk persediaan. Namja panda itu terhenti ditengah jalan saat mendengar letusan nyaring. Kembang api yang meluncur indah itu membuat Tao sedikit terpukau.
Dengan santainya dia duduk dipagar besi yang ada didepan minimarket. Pagar besi yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa itu nampak dingin ketika menyentuh kulit Tao. Namja itu membuka es loli yang dibelinya dan mengulumnya dengan cuek. Biar saja dibilang seperti anak kecil.
"Oh, seperti bocah ingusan. Mengerikan" celetuk seseorang. Tao menatap sengit namja yang menatapnya dari jarak beberapa meter itu. Namja yang terkenal dengan wajah sangar itu menangkat tangannya seakan menyapa Tao. Sebatang rokok nampak menyelip diujung bibirnya.
"Aah ada Krissie..."gerutu Tao sebal. Kris tanpa peduli duduk dipagar yang sama, namun dengan jarak yang tak bisa disebut berdekatan. Dia menghembuskan asap rokoknya ke udara, pemandangan kembang api diatasnya ini sedikit membuatnya tertarik.
Seorang perorok dan pelahap es loli duduk bersama dibawah langit berwarna. Pemandangan yang kontras.
.
Luhan merebahkan tubuhnya diatas rumput hijau dilapangan yang luas. Bola yang sedari tadi bergulir dari kakinya nampak terhenti tak jauh dari gawang. Keringat mengalir dari pelipisnya. Dadanya naik turun karena terus-terusan latihan selama 2 jam penuh. Namja itu masih tetap cantik meski kulitnya agak sedikit menggelap. Dia menatap langit hitam yang tepat diatas wajahnya. Dia mengangkat tangannya. Sekedar melihat jam tangan yang melekat dipergelangan tangan mungilnya. Dia tersenyum tipis.
"Musim panas ya..."
Dipandangnya lagi langit hitam yang ada diatasnya. Seandainya dia di tempat itu, pasti langit tidak akan segelap ini.
.
.
Upacara perpisahan sekolah sudah berakhir. Dengan jas biru kebanggaan sekolah dan bunga merah yang terselip disaku dadanya, Jongin terlihat menawan. Jongin kini gelabakan melihat para fansnya yang berjumlah puluhan menangisi kelulusannya.
"Priincee...Hikss.. bagaimana kami tanpamu?hikss.." tangis puluhan orang itu pecah. Membuat Jongin jadi kebingungan. Kyungsoo yang melihatnya dari jauh hanya tertawa kecil. Lucu sekali wajah Jonginnya ini.
"Kau tidak cemburu?" tanya Chanyeol. Kyungsoo menggeleng.
"Buat apa? Lagipula hanya ada aku dihatinya itu" ujar Kyungsoo percaya diri. Namja tinggi berjas biru disampingnya hampir tersedak mendengar ucapan pede tetangganya itu.
"Selamat atas kelulusanmu ne?" ucapan Kyungsoo seakan membawa kenangan lalu tentang perasaan Chanyeol. Namja tinggi itu tersenyum lebar khas Chanyeol seraya membenarkan bunga disaku dadanya.
"Hkkk... Kau pasti kesepian kalau tidak aku nanti, chagiyaa?" goda Chanyeol. Kyungsoo mendelik lalu menendang bokong Chanyeol kejam. Chanyeol memang sudah resmi terdaftar pada universitas dikota sebelah. Upacara perpisahan disekolah ini hanya sekedar formalitas.
"Kau ini dari pada menggodaku, cari pacar sana! Mau jadi bujang lapuk? !" delik Kyungsoo.
"Aiguu, kan sudah kubilang. Hanya kau yang ada dihatiku, Chagiya?" ujar Chanyeol gemulai.
"Diam. Kau membuatku muaal!" Kyungsoo menggeram lalu menendang-nendang kaki panjang Chanyeol yang tak sepadan dengannya.
"Mana ada yang mau pada raksasa aneh macam dia, Kyung" timpal Tao tiba-tiba muncul. Belum sempat Chanyeol membalas Tao, namja panda itu malah kabur. Kemana lagi kalau bukan ikut menggerumbungi prince kesayangannya. Mengucapkan selamat dengan semangat apinya. Tao tetap lah Tao. Dia tetap seorang fans Kim Jongin.
"Yooo! Selamat ya raksasa tidak kusangka kau bisa lulus" sahut Baekhyun dengan senyum polosnya. Chanyeol yang biasa pasti akan jengkel, tapi karena ini hari kelulusannya jadi angap saja Baekhyun memujinya.
"Hee... makasih" Chanyeol tersipu.
"Sayang sekali Jumyeon drop lagi. Dia masuk rumah sakit tadi pagi. Padahal ini mungkin terakhir kali bisa berkumpul dengannya sebagai seorang pelajar"ujar Xiumin. Kyungsoo menunduk.
"Bagaimana jika..."
.
"Selamat atas kelulusannyaaa!"
"Hoominaaa...~"
Kyungsoo, Chanyeol, Lay dan Baekhyun nampak yang paling bersemangat. Meski Lay hanya mengucapkan kata 'homina' tapi rasanya semangatnya bisa terlihat jelas. Jongin hanya tersenyum sambil mengangkat ditangannya. Seakan meminta pengertian dari Jumyeon yang tengah terbaring tak jauh dari sana.
"Oi oi ini rumah sakit..." ujar Chen malas.
"Cerewet!" desis Kris jengkel. Lagi-lagi Kyungsoo menariknya dalam perjalanan kemari. Nasibnya memang selalu sial kalau berhubungan dengan Kyungsoo.
"Kenapa aku bisa dalam rombongan aneh ini"gerutu Sehun. Dia tak percaya Jumyeon hanya tertawa kecil melihat keributan ini.
"Hei berhenti memakan itu. Itu bingkisan untuk Jumyeon sunbae" tegur Tao seraya memukul kecil pucuk kepala Xiumin. Ibu jejadian Kyungsoo itu memang sedang kelaparan, dia tak sempat makan siang semenjak pulang sekolah.
"Sekarang kita sudah bukan anak sekolahan lagi lho. heheh" sahut Chanyeol sambil duduk diranjang Jumyeon. Namja pendiam itu hanya tersenyum simpul.
"Terima kasih" ucapnya tulus.
"Sunbae semangat ya. Kalau sembuh nanti Sunbae pasti sudah ditunggu di universitas. Aah keren sekali anak kuliahan. Sudah bisa minum soju..." celoteh Kyungsoo.
"Tanya sama Kris saja kalau mau tahu rasanya" adu Tao. Namja jabrik itu mendelik
"Oooh... dasar preman. Sok-sokan minum soju. Kuadukan sama Yesung saemnim kau!" ancam Baekhyun. Rasanya tidak rela, padahal kemarin dia sudah memesan Soju tapi gagal karena tampangnya yang tidak meyakinkan. Namun apa daya Baekhyun hanya mengap-mengap karena Kris tiba-tiba saja mencengkram kepalanya.
"Aaaa... Hyyung!" rengek Baekhyun pada Jongin. Hanya kekehan kecil yang keluar dari bibir Jongin.
Tanpa sadar Jumyeon tersenyum tulus. Dia melihat satu-persatu orang yang ada disini. Menyenangkan sekali bisa berkumpul seperti ini. Jumyeon tak pernah mengira bisa merasakan perasaan seperti ini lagi setelah kematian kawan-kawan seperjuangannya dulu.
"Kudengar kau akan operasi dalam seminggu ini" ujar Sehun. Semua keributan yang dibuat yang lain nampak tak dipedulikannya. Jumyeon menoleh dan mengangguk singkat.
"2 hari lagi dengan Rasio keberhasilannya hanya 40% " jawab Jumyeon singkat. Sehun terdiam mendengar ucapan pelan Jumyeon.
" Jumyeon..." Jongin yang mendengar perbincangan itu hanya tertunduk lesu.
"Jangan berwajah muram begitu. Suasana sudah bagus seperti ini. Nanti yang lain malah tidak bersemangat lagi" Jumyeon tersenyum singkat. Senyum yang seakan tak ada beban. Dia menatap teman-temannya yang masih sibuk bercanda.
"Melihat kalian saja sudah cukup bagiku. Jikapun kau mati, aku tidak merasa menyesal. Aku sudah memiliki teman-teman yang bisa mengerti aku. Itu cukup untukku. Semua manusia juga akan mati kan?"
"..."
"Semuanya, Terima kasih sudah mau menjadi temanku" ujar Jumyeon agak nyaring. Membuat teman-temannya yang lain menoleh. Jongin dan Sehun yang terlibat percakapan sensitif tadi hanya diam.
"Hehe..." hanya terdengar kekehan kecil dari bibir Kyungsoo. Seandainya mereka mendengar percakapan Jumyeon dengan Sehun dan Jongin tadi, pasti Kyungsoo takkan bisa tersenyum seperti ini.
"Bertahanlah sebentar lagi Jumyeon. Ketika aku menjadi dokter nanti, aku pasti akan menyembuhkanmu" lirih Jongin. Jumnyeon tersenyum tipis, matanya terasa basah secara tiba-tiba.
"Kau seperti anak kecil yang mengungkapkan cita-citanya" Ejek Kris. Bibirnya tertarik tipis, Kris tersenyum.
"Ye, tentu saja. Aku akan menunggumu..."Jumyeon mengangguk yakin. Chanyeol tiba-tiba saja merangkul Jumyeon.
"Tentu saja kau harus menunggu si jenius itu... Kita masih punya banyak hal yang harus dilakukan" ujar Chanyeol.
"Lalu kita bisa minum soju sama-sama dengan Sehun yang mentraktir kita semua" timpal Baekhyun ceria. Sehun mendesah, kenapa harus membawa-bawa namanya.
Soju ya. Mungkin itu adalah hal kedua yang ingin dirasakannya ketika sembuh. Hal pertama yang akan dilakukannya adalah berlari. Hal sederhana yang justru tak pernah bisa dilakukannya. Dia begitu iri pada yang lain ketika bisa merasakan angin menyapu saat mereka berlari.
Jika pun operasinya gagal, dan dia meninggal dimeja operasi. Mati pun dia takkan menyesal. Karena perasaan hangat yang didambakannya telah dirasakannya sekarang. Daripada berdiam diri menunggu kematian, ini justru lebih baik.
.
.
"Harus pergi sekarang ya?" tanya Kyungsoo lagi. Chanyeol memasukan kotak terakhirnya didalam mobil milik ayahnya. Namja tinggi itu berbalik lalu tersenyum lebar. Hari ini memang keberangkatan Chanyeol kekota sebelah. Universitas yang dipilih Chanyeol kebetulan terletak ditempat yang sama dengan ayahnya tinggal. Sehingga Chanyeol tak perlu menyewa kamar. Dia akan tinggal sementara dengan ayahnya.
"Kenapa? Kau takut kesepian?" tanyanya pede. Kyungsoo berdecih lalu memukul bahu chanyeol.
"Hehe... Kangen juga tidak apa kok. Iya kan Jong?" Jongin hanya tersenyum kecil sambil mengusak rambut Kyungsoo.
"Waah... kau membaca majalah dewasa rupanya" Komentar Tiffany seraya menatap salah-satu kotak yang terbuka. Chanyeol segera berlari dan mengamankannya dari tangan jahil ibunya.
"Ayah, ibu mulai iseng!" adunya sambil membawa kotaknya kedalam bagasi.
"Dasar bodoh, kenapa bawa yang begituan!" Ceramah ayahnya. Chanyeol hanya menunduk sambil cemberut.
"Yang seperti itu banyak kok disana!"
"EEH?"
Kyungsoo tersenyum melihat kelakuan keluarga Chanyeol yang lucu itu. Rasanya jarang sekali melihat mereka bertiga berinteraksi mengingat ibu dan ayah Chanyeol sudah bercerai. Sedikit rasa iri hinggap dihati Kyungsoo. Seandainya keluarganya lengkap, apakah mereka akan sebahagia keluarga Chanyeol sekarang?
"Jangan berwajah seperti itu. Nanti Chanyeol jadi kepikiran loh" bisik Jongin. Kyungsoo mengangguk ragu. Chanyeol sudah seperti saudara baginya, melepasnya seperti ini mau tak mau membuatnya sedih.
"Oi, Chanyeollie. Jangan jajan sembarangan. Makan yang teratur. Jaga keperjakaanmu. Yang paling penting jangan merepotkan tau dia selalu mengeluh padaku hingga telingaku panas" nasehat Tiffany sambil menepuk kepala anaknya yang tingginya melebihi dirinya. Chanyeol mendesis. Apa-apaan yang ditengah itu. Jaga keperjakaan? Tidak perlu diucapkan sekeras itu kan.
"Aish... sudah-sudah... Kau hanya mau menyindirku" jengkel ayahnya Chanyeol sambil memasuki mobilnya dan duduk dibalik kemudi.
Chanyeol menatap ibunya dalam. Mungkin dalam jangka waktu yang lama dia tidak akan mendengar omelan ibunya. Pasti akan sepi, memang siapa lagi yang bisa mengerjainya seperti ibunya ini.
"Eommaa..."Chanyeol tiba-tiba memeluk tubuh ibunya yang mungil itu.
"Eomma jaga diri ya. Jangan suka lembur lagi. Kalau eomma kesepian Eomma ganggu Kyungsoo saja ya. Telepon kalau ada apa-apa. Eomma kan sendirian, mungkin mencari pendamping baru tidak apa-apa." gumam Chanyeol sambil terus menghirup aroma ibunya yang menenangkan. Tiffany tersenyum hingga matanya menyipit.
"Kau menyuruhku mencari jodoh, sedang kau sendiri tidak pernah pacaran selama 18 tahun umurmu" Ujar Tiffany sambil menyeka sedikit air mata yang menggenang dimatanya. Anak semata wayangnya akan tinggal jauh darinya sebentar lagi. Darah dagingnya yang sangat dicintainya selama hidupnya.
"Nee... eomma, aku akan mencarinya nanti disana" Chanyeol melepaskan pelukannya dan beralih pada Kyungsoo.
"Naah, Kyung. Hufft... Kau jangan sedih seperti ini dong" Desah Chanyeol setelah sadar dengan raut sedih Kyungsoo. Namja mungil itu mengangguk dengan wajah cemberut. Chanyeol lalu maju dan memeluk Kyungsoo hangat.
"Baik-baik disini ya. Jongin mungkin akan menyusul dalam beberapa hari ini. Setelahnya akan sedikit sepi nanti. Kau harus bisa hidup tanpa kami sementara ini, kau harus bisa mandiri untuk kehidupanmu nanti" pesan Chanyeol sambil mengelus bahu kecil Kyungsoo. Namja kecil mengangguk ketika Chanyeol melepaskan pelukannya.
"Dan ingat, mimpikan aku dalam tidurmu terus, Chagiyaa..." Chanyeol mengedipkan matanya genit membuat moment mengharukan ini menjadi aneh. Kyungsoo megeplak kepala Chanyeol jengkel. Dasar bodoh, apa Chanyeol masokist hingga begitu senangnya disiksa Kyungsoo.
"Nah Jong. Aku duluan..."ujar Chanyeol sambil memeluk singkat Jongin.
"Hmm... selamat atas kelulusanmu. Aku belum mengucapkannya kan?" ujar Jongin seraya tersenyum.
"Kau juga. Semoga sukses untuk kita berdua" sahut Chanyeol sambil beradu tinju satu-sama lain.
"Kapan-kapan kau harus ketempatku, Oke?" Jongin dan Chanyeol memang melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda. Jongin yang sudah terbiasa dengan kehadiran si berisik Chanyeol, pasti juga akan merasakan kehilangan. Begitu juga sebaliknya.
Rasanya baru kemarin dia bersamalam dan saling berkenalan. Tanpa sadar mereka sudah harus berpisah untuk cita-cita masing-masing.
"Tentu saja jika kau memberikanku tiket pesawat gratis. Tiket ke eropa kan mahalnya bukan main. khukhu"
"Chaan, cepatlah..." panggil ayah Chanyeol dari dalam mobil.
"Iyaa... sebentar. Nah semuanya. Aku pergi. Doakan aku ya..."
Dan Chanyeol pun benar-benar menghilang dari padangan. Menuju masa depannya, yang semoga saja cerah. Kehidupan baru yang penuh perjuangan akan ditempuhnya.
.
.
Sore itu terasa sangat damai dengan angin sejuk menyapu sisi danau yang ada dipinggiran kota itu. Pepohonan nampak rapi berjejer tak jauh dari sana. Suasana asri yang begitu disenangi Kyungsoo.
Namja manis itu membuka matanya lebih lebar ketika kicauan burung terdengar ditelinganya.
"Aku akan merindukanmu" bisik seseorang yang lain. Kyungsoo menoleh ketika merasakan pelukan erat dari belakang. Namja mungil itu tersenyum sambil menyambut tangan Jongin yang ada diatas perutnya.
"Katakan sekarang jika kau tidak mau melanjutkan ini" bisik Jongin. Kyungsoo melepas pelukan Jongin dan menatap namja tampan itu terkejut.
"Apa maksud, Hyung?" namja tan itu menggusak rambutnya sendiri dengan gusar.
"Aku tidak bisa membuatmu terikat sementara aku berada jauh darimu. Ini bukan waktu yang singkat Kyung..." lirih Jongin. Suara yang biasanya yakin itu kini terdengar bergetar.
"Aku mungkin akan pergi selama 3 bahkan 4 tahun? Apa kau bisa menungguku selama itu?" Jongin menunduk dalam. Kyungsoo merasakan dadanya berdenyut. Dia tahu Jongin akan kuliah diluar negeri, tapi dia tak tahu Jongin akan pergi selama itu.
"K-kalau begitu... aku akan ketempatmu setiap akhir pekan. Seperti kataku dulu. Pasti tidak seberat itu kan Hyung" ujar Kyungsoo tergesa. Jongin menangkup wajah Kyungsoo.
"Aku tidak kuliah ditempat yang bisa ditempuh dengan 1 jam atau 2 jam perjalanan, Kyung" lirihnya. Kyungsoo merasakan air matanya menetes. Dia tak bisa merasakan kakinya lagi.
"Aku tak bisa mengikatmu dalam ketidak pastian. Ak –"
"Kau memutuskanku? Apa mungkin sebenarnya Hyung yang tidak bisa terikat denganku" ujar Kyungsoo sambil terisak. Jongin mencelos, demi Tuhan. Jongin tak pernah ada niatan untuk meninggalkan Kyungsoo. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana Kyungsoo bisa bahagia jika orang yang merupakan kekasihnya berada diluar jangkauannya.
"Kyung, dengarkan aku. Aku mencintaimu apapun yang terjadi nanti. Aku hanya tak ingin kau terikat dalam hubungan yang tidak pasti. Aku berada ditempat jauh, kau akan sendirian menghadapi hari-hari mu selama beberapa tahun. Apa kau sanggup menungguku?" tanya Jongin lembut. Tangan mungilnya nampak menghapus air mata Kyungsoo. Lelaki macam apa dia membuat kekasih yang begitu dicintainya menangis seperti ini.
"Aku akan menunggu hyung... Aku akan menunggumu...Hiks..huhu" tangis itu pun semakin pecah. Jongin segera memeluk tubuh itu hati-hati, Kyungsoo begitu rapuh dimatanya sekarang.
"Maaf, meragukanmu... aku mencintaimu Kyung" lirih Jongin setengah teredam karena bibirnya terus-terusan menempel dipucuk kepala Kyungsoo.
"Hikss... aku akan menunggumu"
"Hmm... tunggulah aku jika kau bisa... aku tidak akan menyalahkanmu jika kau memiliki seseorang yang bisa menjaga mu saat aku tidak ada. Aku tidak akan marah. Tapi jika kau masih membuka tanganmu untukku nanti, akan ku pastikan aku kembali padamu. Kau tahu aku tak punya tempat kembali selain kepadamu.." gumam Jongin.
"Jangan bicara bodoh" isak Kyungsoo sambil mencengkram punggung Jongin. Rasa sesak didadanya tidak hilang begitu saja.
"Maaf... ne..." Kyungsoo mengangguk keras dalam pelukan itu.
"A-aku akan berangkat besok..." bisik Jongin bersamaan dengan pelukan Kyungsoo yang semakin mengerat.
"Hu'um, aku akan mengunggumu Hyung karena aku mencintaimu dengan segenap perasaanku" Kyungsoo berusaha menghentikan tangisnya. Dia takkan menangis kali ini. Hantarkan Jongin dengan sebuah senyum.
Dibawa dedauan yang menguning, janji itu terucap. Janji yang akan terus terpatri dihati keduanya. Meski ditempat yang berbeda, mereka tetap dibawah langit yang sama. Hanya perlu keteguhan hati untuk membuat sebuah kebahagian sederhana.
Melihatnya tersenyum.
Seperti dulu.
Begitu banyak kejadian yang sempat membuat senyum Kyungsoo memudar. Dia tak pernah tahu membenci akan seperti apa rasanya. Karena sepahit apapun, Kyungsoo mengerti kesakitan itu semakin menambah rasa sayangnya.
Keluarganya.
Teman-temannya.
Sahabatnya.
Kekasihnya.
Bahkan...
Musuhnya.
Dia menyayanginya sepenuh hati.
.
.
Angin bertiup pelan menerbangkan helaian daun maple, seakan ikut menyemarakkan aroma musim semi tahun ini. Sehelai daun lagi-lagi jatuh dan terbang di langit cerah. Menari-nari diudara hingga akhirnya mendarat ditelapak seorang namja bermata bulat.
Namja itu menggenggam helaian daun itu sambil tersenyum cerah. Tubuhnya yang mungil terlihat masih dibalut seragam sekolah dengan sweater hangat karena memang hawa khas musim dingin masih terasa. Rambut hitamnya ikut tersapu angin yang berdesir pelan.
Semester baru Ohshin High School dimulai.
END
Ini tamat? Wkkk sumpe demi apa? Sinetron kita udah selese teman-teman.
Dan demi apa gue kehilangan sense anime dan humornya. Akkkkhhh... Jangan bunuh gueeh. Tapi ya seinget gue drama-drama korea juga rata-rata humornya akan menipis kalo udah deket ending. Gue ga bisa ngapa-ngapain, Gue kehabisan inspiration. Wkkk
Ohiya... gue punya epilognya nih. Tentang kehidupan mereka setelah 5 tahun kemudian. Masih tetep garing. Karena lagi-lagi sense humor gue ga balik. Pliss, anime yang kalian saranin gue udah tonton dari dulu. Waktu itu ff ini masih awalan, jadi anime-anime itu udah kadaluarsa. His... something new please.!Hiks
Gue perlu banget, biar otak gue lancar. Tiap hari ngurusi skripsi, bikin otak gue beku. #alesan
Sebenarnya gue punya beberapa opsi ff sih. Entah kenapa gue pingin bikin cerita singkat Luhan dinegeri sebrang sana aja. Mudah-mudahan ya gue ga males. Adegan Luhan itu udah nempel aja di otak, tapi belum ditulis. Gue mau masukin di epilognya, tapi kayaknya udah ga bisa. Panjang bingits soalnya. Gue ga sanggup bayangin pembaca teler.
Oh iya anggep aja ini kado gue dari gue sebagai calon penganten baru. 24 Mei ini gue mau nikahan. Eyooo... makanya gue maraton ngepost, ga kaya dulu ngaretnya ga ketulungan.
Salam dari gue. Bubyee... ketemu di epilog. Cauw!
Review plis!:*
