Go go go! Kita makasih ama para pembaca dan pereview, okay guys!?*dak* huhuhuhuhu... Author nangis deh, karena maen game ga selese selese... *Kissu kissu TOA...*
Evil Red Thorn:
Yups, siapa tau benaran!*Ge er juga lo thor...* tenang saja, Cow Cow itu udah jelas banget! Bakar Cow Cow!*dibakar duluan* Aaakh... Thanx!*Buru buru nyari aer*
Black Rosses 00:
Ini kayak flashback gitu, ntar diceritain deh... . wa kebiasaan pikun, so wa ga boleh lupa... Tenang saja, biasanya wa catat dihape/microsoft office word... Ntar ntar, juga kadang kadang wa baca ulang... Thanx!
ScarletAndBlossoms:
Kalau itu maumu, okelah kalau begitu! *Thumb's up* Gapapa, oh yah, gimana dengan Mid-nya? Wa kepo niiih... *alah lu thor, mau tau urusan orang aje...* Thanx!
BlackKnight92:
Oke, ga masalah kok kalo mo nya chara cowok & cewek. Hahaha... Thanx!
Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapters 29: I'm back?
Gendre: Friendship & Adventure *Tapi kok rada rada romance alay Thor?-Brisik, #Tendang Aupu*
Rate: K+
Chara: Da Qiao & Lu Chuo Kuo *N-G-A-R-E-P #Aupu ditendang lagi*
Summary: Lu Chuo Kuo... Kalau saja kita tidak bertemu, akankah aku didaerah dingin itu lagi? Tapi, yang menganjalku saat ini... Kenapa aku bisa ada disana?
.
.
.
"Masih bodoh..." komentar Lu Chuo Kuo.
"Sebal! Kan susah! Mana mungkin bisa belajar kuda dalam waktu satu hari!" ucapku.
"Bisa saja, kalau kamu konsentrasi"
"Ung..." ucapku mengangguk.
"Fong, kamu baik baik saja? Lenganmu lecet..." tanya Da Qiao membalut lenganku dengan perban.
"Eh, oh, aku... Aku tidak tahu" ucapku baru menyadari itu.
Aku menatap kelenganku, lecetnya sejak kapan yah? Aku saja tidak merasakannya. Apa saat aku jatuh dari kuda? Tapi aku sudah 21 kali jatuh dari kuda...
"Ah, saljunya berhenti" ucap Lu Chuo Kuo.
"Benar juga... Ah, sebaiknya saya segera mencari kayu yang bisa dibakar" ucap Da Qiao segera keluar.
'Tipe gadis yang bekerja keras' pikirku.
"Hei Li Ling Fong" panggil Lu Chuo Kuo.
"Hm?" tanyaku menoleh kearahnya.
JEPRET!
"Jreng" ucap Lu Chuo Kuo tersenyum lebar.
"Eh? Eh? Ka, kamera...?" tanyaku menunjuk nunjuk.
"Lho? Belum sadar juga?" tanya Lu Chuo Kuo.
Aku mulai berpikir. Belum sadar juga? Kamera? Kenapa ada benda seperti itu di zaman ini!? Dia ini siapa yah? Monster yang menjelma kali yah...
"Eh! Walau kamu hilang ingatan saat berumur 7 tahun!(1) Masa kamu melupakan-ku!?" tanyanya kaget.
"Kamu... Tahu aku hilang ingatan...?" tanyaku.
"Tentu saja, Masya sudah menceritakannya padaku. Bahkan aku yang pertama kali diceritakan" jelas Lu Chuo Kuo.
"? Kau siapaaaa?"
"Hah... Walau aku sudah pindah rumah jangan lupa..."
Aku mulai mengangga. Jangan jangan...
"JANGAN-JANGAN RI-CHAN!?" teriakku.
"Apa maksudmu dengan chan! Berhenti memanggil nama kecilku!"
"Eeeeh..."
Aku menunjuk nunjuk sambil tergagap gagap. Masa benar dia itu Rio Kousuke? Anak laki-laki yang pindah rumah itu? Jadi, dia benar-benar 'Cinta pertama'ku itu!?(2)
"Hehehe, sudah 6 tahun tidak bertemu, sifat pikunmu belum hilang ya?" tanyanya melewe lewe-kan lidah.
"... Ri-chan... Jadi kamu itu... Juga bisa kesini! Bukannya kamu di Jepang!?(3)"
"Itu juga jadi pertanyaan"
Aku mulai menoleh kearah lain dan tertuju ke kamera.
"Mau kau apakan foto itu?" tanyaku.
"Mau kuperlihatkan ke orang yang pertama kali menemukanku, dia manis lho..."
"A, APA MAKSUDMU DENGAN MEMPERLIHATKAN KE 'ORANG YANG PERTAMA KALI MENEMUKANKU'!?" teriakku blushing.
"..."
"Fong!" panggil Da Qiao.
"Oh, Kak Da Qiao..."
"Aku sudah ambil kayu bakar, kita pergi sekarang saja" ucap Da Qiao. "Aku tidak tahan dengan orang mencurigahkan ini!"
"..." aku menoleh ke Luo Chuo Kuo.
"Eh? Tenang saja, aku sekarang mau ke kerajaan Jin. Ayo Taku" jawab Lu Chuo Kuo alias Ri-chan, mengendong Taku dan menaruhnya dipundaknya.
"Sayonara, fukusei" ucap Ri-chan memasang wajah serius.
"..."
Lu Chuo Kuo maksudku Ri-chan segera pergi dari desa ini. Begitu juga aku dan Da Qiao. Aku menaiki kudaku, Da Qiao segera mendekati dan berjalan disamping kuda.
Sayonara itu selamat tinggal... Kalau fukusei? Kata kata itu terdengar pahit olehku...
'Sayōnara, fukusei...'
"Ung"
Aku kembali terkejut. Apa... Apa lagi sekarang...
.
"Hah... Hah... Hah..." dengus Da Qiao.
"Kau masih bisa bertahan Da Qiao? Atau kita istirahat sebentar?" tanyaku.
"Jangan! Aku sudah melihat kerajaan Wei!" ucap Da Qiao menunjuk kedepan.
"Oh! Benar..."
'Jangan berjalan selangkah lagi...'
"... Kau yang pertama mengatakan untuk ke Wei! Untuk menemui dirimu!" ucapku, membuat Da Qiao binggung.
'Apa kau masih belum menyadarinya? Kita baru bertemu!'
"Baru bertemu... Jangan jangan...!"
'Ya! Kau ADALAH aku! Aku ADALAH kau!'
"Aku tidak mengerti..."
'Kau mengerti... Kau sangat mengerti... Karena, kau adalah copy-an dariku!'
Mataku mulai kosong... Itu salah... Apa yang dimaksud dari copy? Ri-chan tidak sejahat itu! Aku tahu jelas dia! Aku...
'Kau ditemukan di ruang gudang barang laboratori bukan? Disana kamu dibawa lari dari laboratori sesungguhnya!'
"Aku bukan..."
'kuceritakan sesungguhnya...'
.
'Aku diculik oleh ayahmu sebagai kelinci percobaan, yaitu adalah meng-copy manusia. Atau dengan kata lain replikasi... Semua sifatku itu ada padamu... Walau memang ada sedikit perbedaan. Kau di-copy-kan secara sempurna, tak ada sedikitpun kesalahan dalam dirimu. Seperti tuhan yang telah membuatmu. Tapi, copy itu sebenarnya gagal, dan tak semua ingatanku ada padamu... Yaitu kejadian aku diculik oleh ayahmu. KAU MENGERTI REPLIKAT! JANGAN MENGELAK!'
.
Mataku terasa kosong, kosong sekali. Rasanya tak ada lagi nyawa dalam tubuhku ini, jiwa yang tak ada ditubuh ini... Tubuhku segera jatuh dari kuda, untungnya Da Qiao menangkapku. Aku ini... Apa sebenarnya... Apakah Masya tahu? Kalau aku ini hanya manusia copy-an... Hah...
.
Rasanya kosong... Aku kenapa yah... Kok perasaanku tidak enak sekali... Aku membuka mataku, dan melihat kesekeliling. Ini... Tempat yang aneh, banyak kapsul dan meja dimana mana. Apalagi gelap sekali...
KLEP!
"LEPASKAN!" teriak suara anak kecil. Aku segera bersembunyi dibalik meja.
"..." orang yang mengengam lengan anak itu hanya terdiam. Aku menatap kaget, AYAH!?
"LEPASKAN! SAKIIIT!" teriak kembali anak itu berusaha melepaskan diri. Rambut pirang keemasan... Jangan jangan itu Ri-chan?
Mereka berjalan ke meja, tempat dimana persembunyianku berasal. Ayah segera menantukkan kepala Ri-chan kemeja. Membuat Ri-chan mengeram sakit. Masa sih, ayah...
Mereka kembali berjalan, Ri-chan ditidurkan disuatu meja dan diikat dengan sabuk yang seperti sabuk tali pinggang. Disana Ri-chan melotot sambil berusaha melepaskan diri. Walau kelihatannya dia sudah terperangkap.
"Paman! Apa-apaan ini!" tanya Ri-chan.
"Kamu hanya perlu menonton saja, tenang saja, tidak sakit" ucap ayah mengetik komputer yang sudah ada didepannya.
'Sudah lihat duplikat?'
Suara itu lagi...
"Aku tidak tahu ini..."
'Hasilnya kita lihat saja'
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Dalam komputer tersebut, tertulis kode aneh. Aku menatap tidak percaya... Walau aku harus tetap diam dikolong meja...
Ayah mulai menekan tombol ENTER. Dia membalik kursinya untuk melihat hasil yang dilakukannya yang sebenarnya salah! Cahaya tiba-tiba datang menyilaukan mata. Aku tidak lihat apa-apa... Aku tidak tahu apa-apa setelah cahaya itu.
'Itu dia'
Aku menatap keranjang sebelah, seorang anak perempuan yang kelihatan tak bernyawa... Matanya terpejam seakan benar benar tak peduli dunia... Apakah itu aku...
"Ini... Manusia copy-anku?" tanya Ri-chan duduk dimeja. "Tidak mirip!"
"..."
"Lagipula, kau bilang ini perempuan!"
"Dia memang perempuan" jawab Ayah. "Yang akan menjadi anakku"
"..."
Aku menatap Ri-chan yang memasang wajah penuh dendam...
"Kenapa kau tidak membunuhku?" bisikku.
'...'
"Kenapa tidak menjawab?"
'...'
"Aku menanyakanmu sebuah pertanyaan, dan seharusnya kamu menjawabnya"
.
.
.
Author's note:
(1) Khusina hilang ingatan saat berumur 7 tahun, dan mengenal Rio tentunya diatas umur 7
(2) Rio adalah laki-laki yang pernah memberikan apple tea ke Khusina. Pernah diceritakan diChapter sebelumnya
(3) Rio Kousuke berasal dari Jepang, adalah orang yang sempat ke Indonesia untuk meneliti hasil Ayah Khusina... Jadi, sebenarnya Rio ada hubungan dengan Ayah Khusina~
Sorry kalo Chapters ini aneh banget, besok besok wa perbaiki lagi yeee... Review guys?
