Meant To Be
.
.
By phoenixmaiden13
.
.
Translate by Uchiha Kazusha
.
.
Chapter 29
Dengan kebebasan barunya, Harry sudah membuat sebuah rencana kunjungan lain dengan Ron dan Hermione, hanya mereka berempat kali ini, Tom sangat tidak senang untuk mendengar bahwa dia akan meninggalkan rumah dengan Wynter lagi, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Harry sangat sering mengingatkan Tom bahwa dia sangat berterimakasih karena Tom telah mengizinkannya keluar, jadi mereka baik-baik saja. Tapi dengan betapa sibuknya Ron dan Hermione, mereka mungkin akan jarang bertemu. Tapi Harry tetap senang bahwa dia akan bertemu dengan mereka segera.
Sebagai gantinya, dia mengisi waktunya dengan mengurus Wynter dan bermain dengannya. Dan selama waktu itu, suatu kejaiban terjadi, Wynter merangkak untuk yang pertama kali! Well, tidak merangkak sepenuhnya. Dia sudah bisa menopang tubuhnya dengan tangan dan lututnya, menggerakkan tangan dan kakinya dan mendorong tubuhnya ke depan, kemudian menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia hanya bergerak satu inci, tapi itu adalah sesuatu. Tom dan Harry dipenuhi dengan kesenangan, menyelamati Wynter dan memberikannya ciuman, agar Wynter tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang benar.
Wynter lanjut untuk terus mencoba setelah itu, sampai akhirnya suatu hari, dia melakukannya.
Tom sedang duduk di area hiburan menonton TV dengan Wynter di pangkuannya, mencoba yang terbaik agar Wynter mengatakan 'Daddy' selagi Harry membuat makan malam.
"Dad-dy," kata Tom.
"De?" kata Wynter kepada Tom, memasukkan jari-jarinya ke mulutnya.
"Dekat, Dad-dy."
"De!"
"Bagaimana dengan Da?" tanya Tom.
Wynter terlihat seperti sedang mempertimbangkannya, "Da?"
"Itu dia, sekarang katakan Dee."
"Dee!" teriak Wynter.
"Sekarang katakan, Daddy."
"De!"
Tom mendesah kalah dan menjatuhkan kepalanya di sofa. "Kau tidak akan pernah mengatakannya, iya kan?"
Wynter tertawa dan mengulurkan tangannya ke Tom, "Mama!"
"Tidak, aku bukan Mama."
"De!" Wynter mengatakan lagi kemudian mengatakan, "Dedee!"
"Sangat dekat!" kata Tom dengan sebuah senyuman, "It's Da-ddy."
"Dedee!" kata Wynter lagi.
"Sepertinya hanya itu lah yang bisa kau dapatkan. Untuk sekarang," kata Harry.
"Aku tahu," kata Tom dan mencium Wynter di dahinya.
Wynter tertawa lagi dan menarik bajunya saat Tom akan bangkit, "De?"
"Daaaaaaan kembali ke yang pertama," kata Tom dan meletakkan Wynter ke sofa dimana mainannya berada. Wynter merengek dan mengulurkan ke Tom saat Tom berjalan menjauh. "Aku akan kembali."
"Mama," kata Wynter dengan sedih.
"Daddy hanya pergi ke kamar mandi, dia akan kembali," Harry memberitahu Wynter saat Wynter melihat ke sekeliling mencari Tom. "Bermainlah dengan mainanmu sekarang."
Wynter melihat ke sekelilingnya dan mengambil satu dari mainannya, melihatnya sebentar, kemudian menjatuhkannya untuk mencari Daddy-nya. Setelah beberapa saat, Wynter melihat ke atas ketika dia mendengar suara pintu terbuka dan melihat Daddy-nya keluar dari salah satu ruangan di sebelah kiri. "Dedee!" Wynter berteriak dengan senang.
Tom menatap ke Wynter saat dia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke Harry, "Makan malam sudah siap?"
Harry memutuskan tatapan matanya dari Wynter ke makanan yang sedang di masaknya, "Tinggal sedikit lagi, mungkin sekitar li-" dia tiba-tiba tersentak.
"Apa?" tanya Tom dan berbalik untuk melihat kemana Harry melihat, yang mana adalah Wynter. Dan Wynter sedang menuju ke arah Tom. Merangkak. Dia merangkak!
"Oh Tuhan, Oh Tuhan!" teriak Harry, dengan panik melihat ke sekeliling, "Dimana kamera ku?!"
Tom berlutut dan menyemangati Wynter saat Wynter dengan terbata-bata merangkak menuju dirinya, "Datanglah kesini, Tuan Putri. Kau bisa melakukannya."
"De!" kata Wynter dengan senang saat Wynter terus menatap Tom dan lanjut maju. Itu adalah gerakan lambat, dan dia harus berhenti beberapa kali, tapi dia mulai bisa melakukannya.
"Lihat dia maju!" teriak Harry, mengambil gambar dan gambar pada Wynter, sebelum mengubahnya ke video untuk menangkap momen ini.
"Ayolah!" kata Tom sambil mengulurkan tangannya ke Wynter.
Wynter mempercapat langkahnya, menuju tepat ke Tom sampai akhirnya dia melakukannya, sambil berteriak, "Dedee!" saat dia melakukannya.
"Kau berhasil!" teriak Harry.
Tom mengangkat Wynter dan memberikan sebuah ciuman ke pipinya dan Harry memberikan ciuman ke pipi yang lain. "Aku sangat bangga padamu Wynter," Tom mengatakan ke Wynter dan Wynter mengoceh dengan senang ke Tom.
"Oh Tuhan, dia merangkak," kata Harry saat fakta itu mulai masuk ke pikirannya, "Setelah itu dia akan mulai berjalan! Berhentilah tumbuh," kata Harry ke Wynter dan Wynter tertawa dan menepuk tangannya. "Aku akan menangis."
"Jangan menangis," kata Tom dengan santai, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan dengan tangisan.
"Aku tidak berjanji."
Setelah usaha pertamanya, Wynter menjadi semakin lebih baik dan cepat saat merangkak dan rumah kecil mereka segera terisi dengan suara berlari dan teriakan dari "Jangan sentuh itu!" "Tetap dimana aku bisa melihatmu," dan "Wynter tidak!" saat Wynter dapat menyentuh apa saja saat dia menjelajahi kebebasan barunya dan Harry yang mengejarnya. Dan dia berpikir itu lucu, dia tertawa saat dia membuat Harry dan Tom mengejarnya. Dan, Tuhan, dia bergerak sangat cepat!
Telah hilang hari-hari tenang dan sunyi ketika mereka tidak perlu khawatir tentang Wynter. Dan sekarang? Sekarang mereka harus mengawasinya agar dia tidak menyentuh sesuatu. Atau melakukan sesuatu yang tidak boleh dia lakukan, yang mana sangat banyak.
Pernah sekali, seminggu setelah Wynter mulai merangkak. Saat itu sangat hangat di luar dan pintu dan jendela di buka, Harry sedang bertelanjang kaki dengan celana pendek dan sebuah kaos dan Wynter telah melepaskan semua pakaiannya dan sedang merangkak hanya dengan sebuah popok. Tom telah pergi ke atas untuk mengganti baju setelah pulang dari "kerja" dan hanya sedang mendengarkan Harry yang sedang memasak di bawah ketika tiba-tiba...
"Wynter?! Dimana popokmu?"
Berhenti.
"Uh oh."
"Uh oh? Kenapa uh oh? Dimana kau meletakkannya?"
Sebuah bisikan.
"Apa maksudmu kau tidak tahu? Kau tidak buang air dimana-mana, iya kan?"
"O!" dia dapat mendengar Wynter protes dengan kuat, dan Tom tersenyum saat dia mengancing bajunya.
"Kau lebih baik tidak melakukannya. Kesinilah," dia mendengar Harry mengatakan. "Aku bilang kesinilah, kembali kesini!"
Saat Tom berjalan ke bawah dia melewati Harry dengan Wynter yang telanjang di tangannya.
"Aye, Dedee!" dia menyambut Tom dengan sebuah senyuman.
"Awasi sebuah popok," kata Harry sambil lewat, "Dan mungkin beberapa tempat yang basah."
"Baiklah."
Tom berakhir dengan menemukan popok Wynter di bawah sofa dan tidak ada tempat yang basah di sekeliling rumah, untungnya.
Di waktu yang lain itu hanya Wynter yang suka mengambil barang-barang, tapi terima kasih pada refleks Harry yang cepat, tidak ada kerusakan yang parah. Wynter hanya lebih banyak mengikuti Nagini, yang telah memutuskan untuk tinggal di Haven Hall dari pada kembali ke manor, Harry mempunyai perasaan bahwa itu karena dia ingin tinggal dekat dengan Wynter dan bukan karena ingin melarikan diri dari "tikus-tikus yang bau" yang mendiami manor seperti yang dikatakan Nagini. Harry berpikir bahwa Nagini sangat manis, dia hampir seperti anjing yang patuh dengan cara dia menjaga Wynter, meringkuk di depan tempat tidur Wynter di malam hari, yang biasanya berakhir dengan terbangun karena lemparan sebuah bantal di wajah dan teriakan yang keras dari "Ge-ni!"
Untuk mengatakannya lebih singkat, sekarang sangat ribut di rumah mereka, tapi Tom maupun Harry tidak keberatan, itu membuat mereka tetap sibuk. Tapi pada malam hari ketika Wynter tidur, waktu itu adalah untuk mereka.
"Aku tidak tahu bahwa Wynter dapat menjadi melelahkan," Harry menguap saat dia menjatuhkan dirinya si sofa di depan TV, kepalanya dengan pelan menimpa kaki Tom.
"Mmm," Tom setuju, sambil mengusap rambut Harry, "Apakah Cuma aku, atau dia memang semakin cepat?"
"Oh, dia semakin cepat dan dia pikir ini lucu."
"Tidak lucu," jawab Tom. Dia telah mengejar-ngejar Wynter sejak dia pulang, dia tidak pernah mengejar orang. Tidak pernah. Sekarang, disini dia, berkeringatan saat Wynter merangkak ke sekeliling menyentuh hal-hal yang tidak boleh dia pegang. Sekarang bahwa dia sudah bisa bergerak, Tom telah mulai untuk berpikir untuk memeriksa hal-hal yang berbahaya untuk bayi di rumah.
"Tuhan, kenapa sekarang sangat dingin? Ini musim panas!" teriak Harry berbalik dari sofa ke depan perapian untuk menghangatkan dirinya.
"Australia punya zona iklim yang berbeda dari Inggris. Sebenarnya sekarang kebalikannya, musim panas adalah musim dingin di sini dan musim dingin adalah musim panas."
"Ini aneh," kata Harry sambil menguburkan dirinya di sofa, "Dimana mataharinya? Matahrinya disini beberapa minggu lalu. Seharusnya besok hujan! Dan tidak juga hujan yang hangat, yang dingin."
"Kau harus terbiasa untuk itu."
"Aku tahu. Setidaknya akan lebih hangat di tempat Ron besok."
"Apa?"
"Jangan 'apa?' aku. Aku telah memberitahumu. Apa kau telah kehilangan ingatanmu?"
"Aku tidak hilang ingatan," bisik Tom. Dia ingat Harry memberitahukannya tentang kunjungannya yang akan datang ke rumah temannya, dia tidak senang tentang ini.
"Kalau begitu kau ingat. Lagipula, kau akan kerja besok."
Tom mendengus dan mereka kembali diam sambil melihat TV sampai waktunya mereka harus tidur.
MMMMMM
Keesokan paginya, Harry bangun pagi-pagi sekali agar dia dapat mencuci baju dan membersihkan semua mainan yang berserekan. Rumahnya sudah bersih saat Wynter terbangun, jadi semua yang harus dia khawatirkan sekarang adalah tentang menyiapkan Wynter. Lebih mudah di katakan daripada di lakukan. Tapi pertama-tama, mereka harus sarapan dulu, yang mana mulai menjadi sebuah tugas. Wynter sekarang sudah dapat makan makanan padat dan akan meletakkan tangannya ke makanannya dan membuat kekacauan. Selagi dia memberi makan Wynter, Tom pergi ke atas untuk bersiap-siap bekerja.
"Kenapa kau menjadi pemakan yang berantakan?" Harry bertanya pada Wynter saat dia mengambil makanan dengan tangannya dan meletakkannya di mulutnya, banyak dari makanannya yang keluar dari tangannya. "Well, setidaknya kau mencoba," dia menambah dengan sebuah desahan dan Wynter memberikannya senyuman tidak bersalah.
"Mama?" dia bertanya pada Harry, mengulurkan tangannya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Terima kasih," katanya dan melihat saat Wynter makan sendiri dengan rasa kelelahan yang dia rasakan, sendoknya di abaikan di samping nampan Wynter. "Apa kau mau menggunakan sendokmu?"
"Dooook?" dia bertanya dengan penasaran. Harry menunjuk ke sendok dan Wynter memberikan sendok itu pandangan sekilas kemudian mengambil makanan dengan tangannya lagi.
"Bagaimana jalannya?" tanya Tom, datang dari belakangnya.
"Selain dari fakta bahwa dia mempunyai makanan yang menempel di seluruh wajahnya. Sempurna." Jawab Harry dengan hampa.
"Mmm. Well, aku akan pergi."
"Keluar dari sini, huh?"
"Ya," kata Tom sambil melihat penampilan Wynter yang kacau.
"Oke. Wynter, Daddy akan pergi. Katakan bye-bye."
"Aye, Dedee!" kata Wynter sambil melambaikan tangannya yang kotor ke Tom.
"Bye, sayang," kata Tom dan mencium dahi Wynter, hati-hati agar tidak terkena tangan kotor Wynter.
"Aku akan bertemu denganmu nanti," kata Harry dan memberikan sebuah ciuman, " Jangan terlalu merindukanku," katanya dengan senyuman yang menggoda.
Tom melotot padanya, tapi tidak marah, "Aku akan berusaha."
-Aku akan ikut denganmu master- desis Nagini sambil maju ke arahnya.
-Aw, kau pergi Nagini?- tanya Harry.
-Ya. Dengan Master, kau dan si anak kecil Wynter pergi, tidak ada gunanya aku disini- dia mendesis sambil lidahnya menjulur keluar.
-Well, tempatmu untuk berjemur di sinar matahari akan ada disana ketika kau kembali- Harry mendesis ke Nagini dengan sebuah senyuman.
-Terima kasih-
Dengan itu, Tom dan Nagini pergi meninggalkan Harry dengan bayi yang di selimuti makanan.
Dia berbalik ke Wynter dengan sebuah desahan, "Apa kau sudah siap?"
"Un, Mama!"
"Oke, waktunya untuk mandi," dan Harry mengangkat Wynter ke lantai atas untuk membersihkannya, yang mana mengambil banyak waktu karena Wynter tidak bisa duduk diam sampai akhirnya dia memakai baju dan siap untuk pergi. Tapi kemudian Harry melihat ke dirinya dan melihat bahwa dia di selimuti makanan dan basah dari mandinya Wynter, jadi dia harus mengganti baju. Setelah dia sudah siap, mereka telah terlambat dari waktu yang telah di janjikan dengan Ron dan Hermione.
Tapi mereka akan lebih terlambat karena ketika dia ke lantai bawah Harry menyadari bahwa dia belum membersihkan tempat duduk Wynter yang penuh dengan kekacauan. Dengan erangan, dia meletakkan Wynter di lantai dan memberitahukannya untuk tetap diam, kemudian menggunakan sihirnya untuk membersihkan. Dia sedang memeriksa tasnya untuk memastikan semuanya ada ketika telponnya berbunyi.
"Halo?" dia menjawab.
"Harry?" suara Hermione datang padanya.
"Aku tahu, aku tahu."
"Oke, aku tidak yakin kalau kau datang."
"Aku akan datang, hanya saja," dia mendesah. "Ini adalah pagi yang sibuk."
"Terdengar seperti itu."
"Aku tidak bercanda. Dengan dia yang sudah merangkak ke sana ke mari. Ini seperti dia sudah menemukan sebuah kebebasan, yang mana itu tidak apa-apa, tapi dia hanya- Wynter! Jangan sentuh itu!" dia tiba-tiba berteriak saat Wynter mengambil kotak mainannya yang sudah di rapikan.
"Apa dia sedang memegang sesuatu?"
"Ya. Tapi lagipula, aku akan mengambil tasnya dan kami akan pergi beberapa menit-" suara dari kayu yang jatuh ke lantai memenuhi ruangan dan Harry menutup matanya dengan lelah, kemudian melihat ke Wynter yang sedang melihat kepadanya dengan tidak bersalah dari mainan-mainan yang berjatuhan. "Buat itu jadi dua."
"Oke, ambil waktumu," kata Hermione, dia dapat mendengar senyuman di suara Hermione.
Dia menutup telponnya dan berbalik ke Wynter, tangan di pinggang.
Wynter hanya memberikannya senyuman yang bersinar.
MMMMMM
Pintunya terbuka dan Hermione meyambutnya, "Hai," kata Harry dengan senyuman yang lelah.
"Kau datang! Ayo masuk," kata Hermione, membuka pintu agar mereka dapat masuk.
"Oh ini sangat hangat," teriak Harry sambil menyamankan Wynter dan meletakkan tasnya di sofa.
"Di tempatmu tidak hangat?" tanya Hermione dengan santai.
"Tidak, disana semakin dingin! Hujannya juga tidak membantu."
"Anie!" teriak Wynter memotong mereka.
"Hai, Wynter!" kata Hermione, teralihkan, tapi dia akan menyimpan informasi itu nanti. Dia mengambil Wynter dari tangan Harry dan memeluk Wynter. "Oof. Kau sangat berat!" komentar Hermione.
"Setiap hari," jawab Harry.
"Hey, kawan," sapa Ron, "Kau terlihat sangat lelah."
"Aku sebenarnya baik-baik saja, kemudian dia membangunkanku," kata Harry dan memberikan Ron sebuah pelukan, "Aku lelah," erang Harry sambil merapat ke Ron.
Ron tertawa, mengelusnya di punggung dan melepasnya, "Sangat senang, aku bukanlah kau."
"Aku akan sepertiku suatu hari dan kau akan merasakan rasa sakitku," kata Harry, dan melihat ke ruang keluarga yang kosong, "Tidak ada yang lain?"
"Tidak, kami tidak memberitahukan semua orang bahwa kau datang kali ini," kata Ron.
"Bagus,aku tidak yakin aku bisa bertemu dengan mereka sekarang."
"Aw! Dia punya gigi yang lain," teriak Hermione saat dia membuat Wynter tersenyum.
"Ya, mereka sudah bermunculan," kata Harry dan duduk di sofa, "Dia punya yang lainnya di bawah."
"Man!" kata Wynter dan melambaikan tangannya ke Ron.
"Apa dia akan mengatakan Paman?" pada anggukan Harry, Ron tersenyum, "hey," katanya dan mengambil Wynter dari Hermione. "Bagaiman kabarmu?"
"Oke," kata Wynter.
"Oke. Membuat Ibu mu banyak masalah?"
"O."
"Ha! Kata Harry, "Ya, benar."
"Uuun," kata Wynter sambil melihat ke Ron.
"Apa?"
"Dia ingin turun," kata Harry.
"Oh," kata Ron dan meletakkannya di lantai.
"Mama, edy?"
"Teddy di sini," kata Harry sambil menunjuk ke tasnya dimana bonekanya terlihat. Dia melihatnya dan merangkak ke sana.
"Ahh! Dia merangkak!" Teriak Hermione, "Aku tahu kau bilang bahwa dia merangkak, tapi...wow!'
"Gezz, dia cepat," komentar Ron.
"Dan sekarang kau tahu apa masalahku," kata Harry, tapi sekarang Wynter sedang berperilaku baik, "Jadi bagaimana dengan kabar kalian? Kampanye tentang peri rumah berjalan lancar?" dia bertanya pada Hermione.
"Ugh. Lambat," jawab Hermione, "Orang-orang sudah mulai mendengar dan mengerti kasus tentang bagaimana peri rumah di perlakukan, tapi mereka tidak mau melakukan apapun!"
"Well, kau tahu bahwa itu akan menjadi sebuah tantangan, tapi itu tidak pernah menghentikanmu," kata Harry dengan sebuah senyuman.
"Ya. Aku tidak akan berhenti," katanya dengan tegas.
"Bagaimana tentangmu Ron?"
"Sibuk. Lebih banyak seperti yang biasa, pembobolan, perdebatan yang menjadi kacau, kau tahulah." Harry mengangguk. "Kemudian penyerangan-"
"Penyerangan?" tanya Harry sambil duduk.
"Kau tidak mendengarnya?" tanya Ron.
Harry menggelengkan kepalanya, "Aku tidak benar-benar tahu tentang apa yang terjadi disini lagi."
"Voldemort melakukan penyerangan di sebuah kota di luar Glasgow minggu lalu. Kami masih membersihkan kekacauannya."
"Aku mengerti," kata Harry dengan pelan. Dia tidak tahu bahwa Tom melakukan hal yang seperti itu, lagipula mereka telah setuju untuk tidak membicarakan semua hal yang di lakukannya sebagai Voldemort. Tapi itu tidak menghentikan rasa bersalah pada dirinya karena pria yang berada di balik semua ini, adalah orang yang tidur di tempat tidurnya.
"Ah, kau tidak perlu khawatir tentang itu semua," Ron dengan cepat berkata, menyalahpahami kediaman Harry. "Hanya tinggalkan pertarungannya pada kami. Kami akan menemukan cara untuk mengalahkan Voldemort. Maksudku, dengan kau yang tidak lagi bertarung dengan kami, itu akan menjadi sulit, tapi pasti ada cara yang lain. Kami tidak menyalahkanmu! Well, beberapa, tapi-"
"Apa yang ingin dikatakan Ron," Hermione memotong dan melotot ke Ron, "Adalah kau hanya harus fokus pada Wynter. Itulah yang terpenting."
"Be-benar, Voldemort tidak punya urusan denganmu lagi," tambah Ron.
Hermione berbalik ke Ron dan mendesis, "Kau tidak membantu!"
Harry tertawa pada perdebatan mereka, namun dia masih merasa sedikit kurang nyaman. Oh Ron, kau tidak tahu...
"Well," kata Hermione menepuk tangannya dan berbalik menuju ke Harry, "Bagaimana kabarmu?"
"Oh, darimana aku mulai...?"
MMMMMM
Harry, Ron, dan Hermione tertawa dan berbincang-bincang dengan satu sama lain, memakan makan malam yang telah lewat atau sarapan untuk Harry dan mengawasi Wynter dengan tajam. Dengan Wynter di rumah, Ron dan Hermione mendapatkan pengalaman pertama dengan bagaimana kah tangan Wynter yang suka menyentuh sesuatu. Mereka mengejar Wynter ketika dia memegang sesuatu yang tidak di perbolehkan dan ketika Wynter akan mengambil sesuatu. Harry sangat menikmatinya.
"Kau menikmati ini, iya kan?" kata Ron sambil menjatuhkan dirinya di kursi.
"Sangat," kata Harry, "Sekarang kau tahu apa yang kubicarakan."
"Ya, aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya," kata Hermione.
"Sejujurnya, aku tidak tahu. Apa?" dia bertanya saat Wynter merangkak ke Harry.
"Mama? Dedee?" Wynter bertanya sambil mengedipkan matanya dengan tidak bersalah ke Harry.
Harry merasakan jantungnya ingin meledak, Oh Sial! "Dia tidak disini sayang," dia memberitahukan Wynter sambil berharap mereka tidak mendengar apa yang di bilangnya. Tapi tentu saja...
"Apa dia baru saja mengatakan Daddy?" tanya Hermione.
"Tidak, itu uh sebuah mainan. Dia meninggalkannya di rumah."
"Tidak...itu terdengar seperti Daddy."
"Dedee?" kata Wynter lagi.
"Bukan, bagaimana bisa? Ron hanyalah satu-satunya pria lain di hidupnya," Harry tertawa, tapi itu terdengar palsu di telinganya, "Benarkan?" katanya ke Wynter. Membujuk dengan matanya agar Wynter tidak mengatakannya lagi.
"Dedee!" Wynter mendesak.
"Tunggu..." kata Hermione dengan lambat, sebuah senyuman datang di wajahnya, "Berbicara tentang pria..."
"Oh Tuhan," Harry mendesah sambil menunduk maju agar kepalanya ditopang di tangannya. Dia merasakan sebuah tangan kecil mengelus kepalanya dan melihat mata hijau Wynter yang khawatir.
"Aku benar-benar lupa tentang pria yang sedang kau kencani."
"Oh ya," kata Ron, "Kau telah menutupinya dari kami selama ini. Jadi? Katakan."
"Siapa namanya?" tanya Hermione, matanya bersinar pada hal yang berbau informasi.
"N-Nama? Namanya-" Harry membeku. Sial! Apa yang harus aku katakan? Kalau Tom, sangat jelas. "Mar-" Tidak, masih lebih jelas! "k..."
"Mark?"
"Ya, dia Perancis," kata Harry sambil menutup matanya sebentar, sambil mengutuk dirinya. Perancis? Benarkah? Apakah Mark nama orang Perancis? Kenapa aku tidak membuat sebuah cerita? Tapi itulah dirinya, selalu membuat sesuatu disaat benar-benar terjadi.
"Perancis?" tanya Hermione dengan senyuman lebar.
"Ooh la la," goda Ron.
"Aku bertaruh dia pasti bagus di tempat tidur."
"Hermione?!" sentak Harry, pipinya berubah menjadi merah muda.
"Aku ambil itu sebagai ya," Hermione terkekeh.
"Dimana kau bertemu Mark ini?" tanya Ron.
"Di...toko?" tanya Harry dengan ragu. "Aku pergi kesana setiap minggu, dan dia selalu disana di waktu yang sama, jadi kami mulai berbicara sejak saat itu," Harry menyelesaikannya dengan perlahan.
"Dan dia adalah seorang penyihir?" tanya Hermione.
"Ya, disana ada beberapa penyihir di area itu. Kau dapat mengetahuinya karena mereka berpakaian sedikit lucu."
"Apa dia berpakaian dengan lucu?" tanya Ron.
"Tidak. Dia tahu bagaimana cara berpakaian," Harry tersenyum.
Hermione tersentak dengan semangat, "Apa dia punya aksen?"
"Sedikit?" kata Harry dengan ragu.
"Apa dia berbicara bahasa Perancis denganmu? Itu sangat seksi."
"Mungkin aku harus belajar," komentar Ron dengan santai.
"Mungkin kau harus," kata Hermione. Harry tertawa dan menggelengkan kepalanya. Mereka kadang-kadang terlalu berlebihan. "Bagaimana dia dengan Wynter?"
"Dia...luar biasa. Aku benar-benar tidak bisa meminta lebih, dia hanya sangat...lembut dengan Wynter dan memperlakukannya seperti putrinya sendiri," Yang mana memang benar...pikir Harry, "Ketika mereka pertama kali bertemu, Wynter hanya akan menatap padanya, tidak yakin sama sepertiku, tapi Wynter mulai nyaman dengannya. Dan sekarang Wynter telah mulai memanggilnya Daddy dan Mark terlihat seperti tidak keberatan. Malah dia sangat kesenangan," kata Harry dengan senyuman bangga.
"Dan kau?"
"Aku? Aku tidak keberatan. Wynter membutuhkan seorang ayah, dan Mark sangat cocok untuk itu. Aku tidak...yakin, pertama-tama, apalagi dengan situasi kami, aku tidak ingin meletakkan kami di situasi yang berbahaya. Mark juga tidak keberatan, dia tahu siapa aku, itu sangat jelas," kata Harry sambil menunjuk ke lukanya, "Dan juga alasan kenapa aku bersembunyi," tambah Harry, dan mengelus rambut Wynter, yang telah duduk di kakinya sambil bermain dengan bonekanya. "Juga, aku tidak punya banyak, uh, pengalaman dengan Pria dan dengan Wynter, aku tidak yakin apakah dia akan tertarik? Kupikir. Tapi kami memulai dari hanya sebagai teman, itu berlanjut. Kami bisa hanya berbicara, tentang sesuatu dan semuanya. Lebih utama Wynter. Tapi lebih banyak..."
"Sentuhan?" tambah Ron.
Harry merasakan wajahnya memanas, "Y-Ya. Itu."
"Jadi dia baik dengan kalian berdua?" tanya Hermione.
"Ya." Kata Harry sambil memikirkan Tom, "Dia memperlakukan Wynter dengan baik, seperti seorang putri dan Wynter menyukainya. Melihat dia dengan Wynter aku dapat melihat bahwa dia mencintai Wynter dan dia sangat berhati-hati karena Wynter sangat kecil. Dan dia juga bersemangat saat Wynter belajar sesuatu, seperti ketika Wynter mulai merangkak dan mendapatkan gigi pertamanya. Dan Mark sangat menyukai Wynter, Wynter adalah dunianya sekarang."
"Dan kau?" tanya Hermione dengan lembut agar tidak mengganggu pikiran Harry.
"Aku? Well, itu...maksudku..." dia tergagap, mencoba mencari kata yang tepat. "Aku tidak tahu. Kami sangat-sangat berbeda, namun kami dapat bergaul satu sama lain dengan baik, kadang-kadang kami bertengkar, tapi bukankah itu hal yang biasa? Aku lebih...terbuka? aku pikir memang benar dan dia-Mark- dapat menjadi sedikit...menjauh dan kadang-kadang sedikit angkuh dan sedikit...kasar, kupikir. Itu adalah dirinya, seperti dia tidak mengerti bagaimana cara..." dia mengendikkan bahunya, "Mengeluarkan ekspresi?"
"Terdengar seperti pekerjaan yang sulit," komentar Ron.
"Ya, tapi dia mencoba. Dia bisa menjadi sangat...manis dan lembut dan baik, sedikit kasar dan kadang-kadang membuatku jengkel. Dia tidak...melebih-lebihkan apapun, dia hanya memberitahukan apa yang sebenarnya. Suatu saat dia bisa menjadi kasar dan merendahkan dan selanjutnya dia menjadi manis dan penuh perhatian. Dia sebenarnya sangat humoris yang menuju ke garis yang nakal dan logika. Dia juga sangat pintar, jadi candanya sering ke arah...itu, tapi...dia membuatku tertawa. Dan dia menjadi lebih lembut sejak dia bersama Wynter. Melihat mereka bersama..." dia menggelengkan kepalanya, tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata.
Ron dan Hermione saling bertatapan dan mengeluarkan senyuman bahwa mereka mengetahuinya. "Kau jatuh cinta padanya," kata Hermione.
Harry merasa seperti dia baru saja di siram oleh air es dan dia menatap ke Hermione dengan tidak percaya.
"...A-Apa?! Tidak!" kata Harry dengan tidak percaya, mata melebar. "Tidak. Itu tidak mungkin."
"Benarkah? Itu hanya, caramu membicarakannya...itu terdengar seperti-"
"Tidak!" kata Harry, tidak ingin mendengarkannya. Itu tidak mungkin. Dia tidak- Dia tidak boleh...
"Harry," kata Hermione dengan lembut, melihat rasa panik di wajah Harry, "Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta."
"Ya, tapi..." dia berhenti. "Tidak dengan dia," dia berbisik pada dirinya dan menekan tangannya ke matanya.
Hermione mengerutkan dahinya ketika dia mendengarnya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak menyangka pada tipe reaksi ini pada informasi baru ini. Dia pikir itu adalah hal yang bagus, Harry bukanlah orang yang akan memberikan hatinya dengan mudah; Wynter adalah pengecualian.
Harry sedang merasakan apa yang seperti serangat panik kecil ketika dia merasakan sentuhan kecil di kakinya dan dia memindahkan tangannya untuk melihat ke bawah ke arah Wynter yang sedang duduk di kakinya.
"Mama, oke?" Wynter bertanya padanya, matanya cemas.
"Aku baik-baik saja sayang," kata Harry dan mengangkat Wynter. Wynter meletakkan tangannya di wajah Harry dan melihat ke Harry seperti ingin memastikan, kemudian mengalungkan tangannya ke leher Harry dengan pelukan dan Harry memeluk Wynter kembali.
"Harry..." kata Hermione dengan ragu.
"Aku tidak ingin membicarakan tentang ini lagi. Tolong," kata Harry sambil mengusap kepalanya dimana dia merasakan sakit kepala.
Dan seperti kalau ingin mengkonfirmasi kalau percakapan itu telah selesai, Wynter berteriak "O!" memarahi mereka berdua.
Mereka akhirnya mengakhiri percakapan itu dan mereka berlanjut ke topik percakapan yang lain, tapi kata-kata itu tetap berada di kepalanya selama kunjungannya.
MMMMMM
Harry masuk ke rumah dengan Wynter di pinggangnya dan Tom berada di sana menunggu di area tempat duduk sambil membaca sebuah koran. Dia melihat ketika Harry masuk dan dia merasa lega, namun dia mengerutkan dahinya ketika Harry dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"De!" teriak Wynter ketika dia melihat Tom dan dia menggeliat agar di turunkan, jadi Harry meletakkannya ke bawah dan Wynter merangkak ke Tom, "Dedee!"
"Hai sayang," kata Tom sambil mengangkat Wynter, "Apa kau bersenang-senang hari ini?"
"Ah!"
"Ya?" dia berjalan ke arah Harry yang sedang meletakkan barang-barangnya, "Kau kembali lebih cepat."
"Well, disana sudah larut. Mereka harus tidur, kau tahu."
"Hmmm, Tom berdehem dengan setuju, berjalan ke samping Harry, "Apa kau pergi berbelanja?"
"A-Apa?" tanya Harry, terkejut karena kedekatannya, "Tidak, tidak ini adalah hadiah mereka untuk Wynter. Hermione memberikannya sebuah baju dan Nyonya Weasley membuatkan sesuatu, dan Tonks memberikan sebuah kemeja...ini gila."
"Apa mereka ada disana lagi?"
"Tidak. Hanya Ron dan Hermione. Mereka mengirimkannya ke Ron dan Hermione dan Hermione memberikannya untukku."
"Aku mengerti...jadi semuanya baik-baik saja?"
"Ya, kenapa kau bertanya?" tanya Harry dengan cepat, meringis pada suaranya yang gagap dan dia berbalik untuk menyibukkan dirinya dengan tasnya.
"Kau terlihat...terganggu," kata Tom dengan hati-hati.
"Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Kau tahu, kau juga disini lebih cepat."
"Aku tidak punya banyak yang harus kulakukan, namun aku harus kembali lagi nanti...kau yakin kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Harry..." kata Tom dan meletakkan Wynter turun jadi dia dapat bermain dengan mainannya dan Tom menarik tangan Harry dan membalikkannya.
Harry menegang pada sentuhan Tom, sangat sadar akan Tom dan berbalik untuk melihat ke dadanya dari pada melihat ke wajahnya. Dia melihat tatapan khawatir disana, tapi semua yang bisa dia pikirkan hanyalah apa yang telah dikatakan Hermione – bahwa dia ... dengan Tom - itu lah yang sedang dia pikirkan selama beberapa jam ini. Jadi ketika dia melihat ke wajah Tom dia tidak tahu apa yang ingin dia katakan dan jantungnya berdetak sangat cepat dan dia merasakan seperti semua yang dia rasakan tampak di seluruh wajahnya, jadi dia mengatakan hal pertama yang datang ke pikirannya. "Aku harus memberitahukan mereka siapa kau!"
Pada alis mata Tom yang terangkat, dia menjelaskan. "Well, tidak tentang mu , tapi kau sebagai..." dia membuat gestur karena tidak dapat mengatakannya, tapi Tom mengerti. "Mereka ingin tahu namamu, bagaimana kita bertemu...aku tidak tahu apa yang haru ku katakan, aku panik."
"Apa yang kau katakan?" tanya Tom.
Harry mengangkat bahunya dan mengangkat tangannya dan menjatuhkannya dengan menyerah, "Aku bilang bahwa namamu adalah Mark, kau adalah orang Perancis dan kita bertemu di toko."
"Mark?" tanya Tom/
"Ya, Mark. Apa itu bahkan Perancis?!" teriak Harry sambil menarik-narik rambutnya dan berjalan mondar-mandir, sekarang benar-benar panik. "Aku tidak bisa memikirkan yang lain, mereka mendesakku. Aku tidak bisa mengatakan Tom karena hanya satu Tom yang kami tahu, Tom Riddle. Dan aku ingin mengatakan Marvolo, tapi bahkan itu sangat jelas!"
"Apa itu M-a-r-c atau M-a-r-q-u-e?" tanya Tom sambil berfikir.
"Aku tidak peduli bagaimana mengejanya! Kenapa kau tidak panik?"
"Mereka memang sudah tahu bahwa kau sedang berhubungan dengan seseorang, iya kan?"
"Ya. Tapi masih saja!"
Tom mengangguk pada dirinya, "Aku pikir M-a-r-q-u-e bisa. Dewa perang sangat cocok denganku."
"Ugh! Aku merasa sangat bodoh!"Harry mengerang dengan kuat.
"Tenanglah," kata Tom dan menarik Harry ke arahnya, "Tout ira bien, mon coeur," (Semuanya akan baik-baik saja, cintaku) dan menarik Harry untuk sebuah ciuman.
Mereka berhenti dan Harry menatap ke Tom, "Tentu saja kau bisa berbicara bahasa Perancis."
"Tentu saja," kata Tom dengan sebuah senyuman dan mencium Harry lagi. Dia menarik dirinya lagi dan menambah, "Semua yang kau lakukan hanya memberikanku sebuah nama dan darimana aku berasal dan bagaimana kita bertemu. Kau tidak berbohong tentang yang lain, iya kan?"
"...Tidak," kata Harry sambil melihat ke arah yang lain, malu karena apa yang telah dia katakan.
"Alors il n'y rien à craindre." (Kalau begitu tidak ada yang perlu di khawatirkan)
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Tapi Hermione benar," bisik Harry, "Itu seksi."
"Oh? Aimes-tu ça, Harry?" kata Tom dengan sebuah seringai, merasakan rasa menggigil pada Harry. (Apa kau menyukainya Harry?)
Harry menatap pada mata biru Tom dan merasakan jantungnya berdetak dengan kencang saat kata-kata yang dibisikkan padanya yang dia tidak mengerti menyentuh telinganya, namun membuatnya merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Kau mencintainnya iya kan? Harry tiba-tiba menjauh dan berbalik, jantungnya sekarang berdetak cepat karena alasan yang lain, "Aku-Aku harus membuat makan siang dan menidurkan Wynter," katanya dengan cepat sambil pergi menuju dapur dimana dia mengambi wajan dan lain-lain sambil melihat kesana-kesini terlihat sangat sibuk, jadi dia ketinggalan Tom yang mengerutkan dahinya dan tatapan mencurigakannya.
Namun selain rasa penasarannya pada kenapa Harry berperilaku seperti itu, dia tidak menekan, sebaliknya Tom menjaga Wynter dan membuatnya sibuk dan menghindarkan Wynter dari masalah, sebuah pekerjaan tersendiri.
Harry, di lain sisi, mencoba untuk mendorong pikiran terlarang itu saat dia fokus pada makan siangnya. Dia hanya tidak boleh jatuh cinta pada Tom. Dia adalah Raja Kegelapan, dia membunuh dan menyiksa orang-orang! Dia tidak punya hati dan tidak memaafkan. Dia telah membunuh orang tuanya! Itu hanya tidak mungkin dan salah, sangat salah!
Harry menatap ke mereka saat dia mendengar suara tawa Wynter dan merasakan hatinya meleleh saat dia melihat Tom mengangkat Wynter ke udara, membiarkannya melambaikan tangannya dan menendang-nendang kakinya dan menariknya untuk beberapa ciuman dan mengangkatnya lagi, hanya akan menarik Wynter dan memberikannya lebih banyak ciuman.
Dia melihat ke bawah ke makanan yang sedang di aduknya dan mengerutkan dahinya. Dan namun, di samping semua itu. Di sini dia tinggal bersama Raja Kegelapan itu, mempunyai anak bersama dengannya. Dan dia senang. Dia tidak lagi harus melihat belakangnya, dia mempunyai rumah yang sangat bagus di atas kepalanya dan mempunya keluarga kecil yang luar biasa. Harry bahkan melihat sisi lain dari Tom, senyuman ini, sisi humorisnya yang tidak pernah di lihat oleh orang-orang sebelumnya. Tapi Tom sedang mencoba dan dia suka melihat perubahan di Tom, itu sangat spesial dan menyegarkan untuk melihat Tom ceria ketika dia bersama dengan putrinya.
Hal-hal antara mereka juga baik-baik saja. Dia tidak di perlakukan seperti sampah atau lebih buruk dari seorang manusia, dia tidak disiksa, dia sangat di perlakukan dengan baik. Dan mereka bisa bersama dengan bagus dan menghabiskan waktu bersama- makan malam bersama dan menonton TV, atau hanya duduk dengan kesunyian yang nyaman- tapi itu tidak berarti apa-apa. Itu hanyalah apa yang orang-orang lakukan, apalagi yang harus mereka lakukan? Benar dia cukup menyukai Tom, dia baik, sexnya sangat luar biasa dan dia sangat baik pada Wynter, tapi dia tidak jatuh cinta dengannya.
Iya kan?
End Of Chapter
