Author : Ahhh, maaf ya… karena keasikan cari info vocaloid baru jadinya fic sempet terbengkalai begini…
Lola : Hebat, saya baru muncul sekarang!
Author : Maaf sih, dan terima kasih atas review dan favorit. Maaf author belum sempat bales semua review tapi nanti saya sempatkan untuk balas ;w;
Disclaimer : Vocaloid bukan punya saya tapi masing-masing perusahaan pengembang
Warning : Masih jauh dari kata bahaya
"Ini… di mana?" ia berdiri, sekelilingnya terdapat bangunan bergaya Eropa masa pertengahan.
"Oh, ini kan titik mula aku bertemu 'dia' dan masih semanis dulu. Lalu kenapa aku dikejar orang-orang berbaju zirah?"
Baru saja bermacam pertanyaan muncul, sekelompk orang berpakaian jubah hitam sudah mengejarnya. Terlihat sekali keinginan membunuh sangat tinggi terlihat dari raut muka mereka yang murka. Apa kesalahannya hingga mereka mengamuk? Entahlah, ia pun tidak tahu kenapa harus berada di sini.
"Kaulah yang akan membawa kehancuran kepada kami! Kau harus dibunuh!" teriakan terdengar jelas, ia juga baru sadar kalau di tempat tersebut tidak ada orang sama sekali.
"Haha! Jiwa terkutuk macam kalian? Ada juga yang membawa kehancuran itu ya kalian! Buktinya banyak manusia kalian bunuh hanya untuk keabadian dan kekuatan semata! Seharusnya kalian bercermin dahulu. Atau mungkin kalian tidak punya cermin sama sekali?" mulutnya bergerak sendiri, ia mengerti kenapa banyak orang kesal dengan perkataan yang terucap.
Ia berlari walaupun masih menganggap mereka semua tidak sebanding dengannya.
Tapi ia berakhir terjatuh karena merasa menabrak sesuatu entah benda atau orang. Ia menengadah, wajah perempuan yang sedang kesal terlihat jelas.
"Ma-maafkan kami tidak bisa membunuhnya, yang mulia" orang-orang yang mengejar langsung berlutut dengan wajah takut.
"Tidak apa-apa, justru aku takut kalau kalian membunuhnya."
Ia tidak mengerti, hanya cahaya terang berwarna merah terbentuk di tangan kanan si perempuan. Detik selanjutnya ia merasakan sakit luar biasa hingga kehilangan kesadaran.
Perempuan tersebut tersenyum senang, "aku telah menemukanmu, yang akan membawa kematianku namun saat nanti dirimu membuka mata… akan membawa kehancuran terhadap dunia ini."
Kedua mata si laki-laki mulai bergerak, ia membuka perlahan-lahan mata agar terbiasa dengan cahaya. Saat mata berhasil melihat sedikit benda beruba langit-langit, ia langsung saja berdiri cepat. Ia was-was akan dirinya sendiri. Ia akhirnya tahu kalau berada di sebuah ruangan.
Instingnya membuatnya berlari dari ruangan tersebut. Beberapa orang yang mencoba menghentikan si laki-laki berakhir gagal. Ia berhasil meninggalkan tempat tersebut. perempuan tadi sekarang sudah memakai tudung dengan gaun sederhana.
"Bersabarlah, semua ini sudah sesuai rencana."
"Teru-san!"
Ia yang masih berlari tidak mempedulikan panggilan, nama tersebut tidak seharusnya ada karena berasal dari masa depan.
"TERU!" teriakan dengan aksen Inggris mengagetkan, ia membuka mata dengan cepat.
"Hanya mimpi?"
Tangannya memijit dahi, Teru mencoba menghilangkan sedikit rasa pusing. Ia mendongak, wajah-wajah yang dikenal membuatnya sedikit merasa tenang. Mungkin kenyataan yang terjadi mulai memperlihatkan kebenaran sesungguhnya.
Lalu siapa perempuan bersyal warna merah lembut yang muncul sekilas dalam pandangan? Otaknya mulai bekerja untuk menemui titik terang. Tangannya mengacak-acak karena frustasi.
"Sial, mereka bahkan sudah memulai persiapan dengan matang. Menemukan siapa vessel Eve sebenarnya. Ahh… bagaimana bisa aku terlena seperti ini"
"Apa maksudmu?"
"Kita percepat pergi ke Amerika, mungkin mereka suka pesta mendadak."
Ia bangun, kedua kaki telah menyentuh lantai kemudian melakukan peregangan. Kedua mata kuning menatap warna ungu.
"Aku ingin sekali menonjok mereka, apalagi kalau sampai menyentuh Kiyo… mereka akan benar-benar mati"
"Sepertinya teman kita sudah bersemangat duluan, aku akan telepon Mew jadi bisa dipercepat. Semoga dia tidak marah." Bagian akhir dari perkataannya, ia sedikit bergidik ngeri, mungkin Mew jika marah bukanlah orang yang akan melampiaskannya secara normal. Buktinya Gakupo sampai ketakutan begitu.
"Halo?"
Gakupo langsung bergaya seolah orang professional, berbeda jauh dari biasanya.
"Ini, Mew… kami menginginkan pergi ke Amerika dipercepat…"
"Apa? Tidak bisa tapi…"
"Ba-baiklah, maaf mengganggu waktumu."
Gakupo menghela nafas panjang, ia gelengkan kepala pertanda orang yang dihubungi tidak memberikan izin.
"Ya sudah, tidak apa-apa Gakupo. Mungkin kita memang harus sedikit bersabar." Dengan begitu Teru berjalan mendekati pintu keluar.
Orang-orang menatap pintu yang telah ditutup dengan pelan oleh Teru.
"Dasar si cuek…"
…
Seminggu kemudian, asosiasi yang biasanya tenang berubah seperti pusat barang. Terlihat beberapa kotak pengemas dengan berbagai macam isi. Semuanya terlihat masih baru, Teru hanya memperhatikannya dari kejauhan bersama Gakupo.
"Baru kepikiran, lucu juga ya… kau yang bakalan membunuh si perempuan nanti tapi masih ada efeknya kalau kena senjata kiriman ini. Tapi kalau dipikir, menghabiskan berapa juta semua benda-benda tersebut sebenarnya?"
Teru yang sedang melipat tangan di depan dada melihat Gakupo, "kau bosan ya, Gakupo?"
"Ehehehe… oh ya! Ngomong-ngomong, apa ya yang sedang dilakukan Kiyo. Aku merasa bersalah juga tidak melakukan sesuatu saat itu. Kalau nanti bisa bertemu dengan ayah angkatnya di sana pasti aku bakalan dimarahi habis-habisan"
"Kau bakalan dimarahi juga karena jadi orang tidak jelas menjadi ketua asosiasi"
"Haha, kau cukup menyebalkan."
Mereka terdiam, menatap orang-orang berpakaian seragam warna hitam berlalu-lalang. Teru melakukan peregangan, Gakupo melihatnya.
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, perutku minta jatah saja"
"Tidak, aku tidak mau membayarmu"
"Haha. Aku membayar sendiri, siapa yang mau memintamu membayar?"
Ekpresi wajah Gakupo hanya menjadi bahan tawa bagi laki-laki di sampingnya.
Kembali dari tempat makan, keduanya berbincang-bincang dan tidak menyadari kalau Yuuma sedang berdiri bersandar ke tembok memperhatikan mereka. Perhatian mereka teralihkan ketika Yuuma terbatuk, Gakupo tersenyum lebar.
"Ada apa?"
"Si perempuan tinggi berambut hitam panjang dengan kucing telah kembali. Ia ingin bicara tentang rencana di sana. Katanya banyak sekali yang harus dijelaskan."
Yuuma berjalan kembali tanpa mempedulikan kedua orang yang saling pandang. Gakupo mengangkat bahu mengikuti laki-laki tadi, Teru pada akhirnya ikut berjalan dengan santainya sehingga tertinggal paling belakang.
Yuuma masuk ke ruangan yang sering dipakai sebagai pertemuan besar. Teru juga pernah masuk.
Di dalamnya, orang-orang terlihat sibuk berkumpul. Mew terlihat tak sabar, kaki kanannya sudah mengetuk-ketuk lantai. Gakupo sampai berkali-kali membungkukkan badan untuk meminta maaf. Mew manyun, ia ternyata bukan tipe penyuka keterlambatan.
"Baiklah Gakupo, asalkan jangan dilakukan lagi! aku sebenarnya tidak suka namanya telat!"
"Iya, iya…"
Mew melihat laki-laki berambut hitam dengan mata kuning, mulutnya yang terbuka kembali terkatup. Teru hanya tersenyum.
"Tidak memarahiku?"
"Seharusnya kau bersyukur aku tidak marah"
"Takut?"
Mew hanya bisa bungkam seribu bahasa, Teru tahu ia sudah tepat menyinggungnya. Sekarang perempuan itu membuka pertemuan tanpa mempedulikan dirinya.
…
Bandara besar dengan tingkat kesibukan tertinggi di dunia mulai tampak dari jendela pesawat yang dinaiki beberapa orang Jepang. Teru masih termenung, ia mulai memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tapi ia yakin pada satu hal, antara Kiyo atau dirinya, salah satu harus pergi dari dunia. Dan ia berharap dirinya yang terpilih agar bisa membayar semua kesalahan masa lalu.
Waktu seminggu dihabiskan mereka untuk bersiap-siap. Ia masih tak percaya mereka datang ke Amerika pada hari yang diprediksi terjadinya. Alfonso alias guru pengajar bagian olah raga atau lebih sering disebut dengan nama 'Big Al' terlihat paling antusias sampai di Amerika. Mungkin tanah kelahiran membuatnya bahagia bisa menjejakkan kaki kembali di Amerika?
Teru hanya turun dari pesawat dengan pandangan bosan. Headphone di kepala masih belum dilepas, ia tidak mempedulikan orang-orang yang ingin berbicara padanya. Gakupo hanya memandang maklum, Kaito terlihat canggung karena walaupun orang tersebut mirip dengan yang dikenal, tetap saja berbeda.
Mereka memang sampai di bandara John F. Kennedy, tapi ini dikarenakan untuk transit saja. Pesawat langsung berangkat kembali menuju bandara Los Angeles. Dua jam dibutuhkan untuk sampai di tujuan. Sesampainya di Las Vegas, rombongan tersebut telah disambut bis ukuran besar.
Ia kebetulan mendapat kursi dengan keponakan Kiyo, Kaito sendiri. Laki-laki berambut biru itu hanya bisa terdiam dengan canggung. Teru? Ia tidak peduli dan mulai mendengarkan musik dengan volume kencang.
Untuk mengurangi rasa canggung, Kaito memilih mengeluarkan telepon genggam. Foto keluarganya terpampang jelas menjadi lock screen. Melihat foto membuat Teru mengecilkan volume lagu kemudian melepas headphone dari kuping.
"Keluargamu?"
Kaito sedikit terkejut, "i-iya, kenapa?"
"Kedua orang tuamu punya lima anak?"
"Iya, aku di tengah-tengah. Kakak-kakakku sekarang sudah bekerja, sedangkan adikku masih bersekolah"
Teru mendekat agar ia bisa melihat dengan jelas, "mereka tidak sepertimu? Maksudku, mau bekerja di asosiasi?"
Kaito menggeleng, "kedua kakakku menolak dengan keras. Adikku terlalu muda walaupun kata mereka, jika sudah diperbolehkan akan ikut"
"Lalu kedua orang tuamu?"
"Mereka sudah berhenti tapi aku yakin mereka akan melindungi di tempat kami tinggal. Mereka pemburu yang handal."
Teru terdiam, ia mendengarkan penjelasan Kaito. Ia jadi teringat satu hal.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau dekat dengan pamanmu?"
"Eh?"
Teru memandang Kaito dengan pandangan jika diartikan meminta Kaito menjelaskan. Kaito kemudian menggaruk pipi yang tak gatal untuk mengingat masa lalu.
"Mungkin pamanku tidak akan mengingat bagaimana kami bertemu atau berapa banyak peristiwa yang dialami. Oh, aku jadi teringat dia dicakar kucing milik tetangga kami, Nekomura Iroha. Bagaimana keadaan dia ya? apa masih suka dengan Hello Kitty?" sebuah senyuman mengembang, Teru menyadari betapa bahagianya laki-laki muda berambut biru tersebut.
"Apa yang paling berkesan bersama dia?"
"Yang paling… berkesan?"
"Iya, mungkin saja ia bisa mengingatnya… nanti" kata terakhir hanya bisa diucapkan olehnya dengan pelan Kaito hanya memandang kebingungan.
"Lupakan, aku mau tidur dan tolong bangunkan kalau sudah sampai, ya?"
Headphone kembali ke kuping, membuatnya tidak bisa mendengarkan suara di sekitarnya lagi. Makin lama, suara music yang terdengar jelas di telinga mulai memudar hingga akhirnya hanya keheningan dan suara nafas di sela-sela tidur. Orang di sampingnya tidak mau mengganggu dan lebih berkutat pada gadget di tangan.
"Woah, aku belum pernah ke Los Angeles tapi ternyata sehebat ini aslinya!" teriakan Big Al langsung membuat seisi bis menatap jendela, berbagai hotel dan kasino berdiri kokoh. Billboard berbagai ukuran dan beberapa orang berjalan berlalu lalang dengan gaya modis terlihat. Pantas kalau Los Angeles disebut tempat orang elit berkumpul, baik hanya untuk menghabiskan uang dengan berjudi hingga liburan.
Mew yang ternyata duduk di belakang Teru membuka kacamata dan melihat ke luar jendela, "ya… aku dulu pernah ke sini dan kalau kembali lagi rasanya seperti nostalgia. Ah, bagaimana ya kabar dari Zola Project?"
Teru sampai melepas headphone selain karena volume orang bicara mulai mengganggu lagu, ia juga terbangun dengan sendirinya.
"Umm… Teru-san, bagaimana rasanya bisa berjalan sendiri. Dulu kau suka 'bertukar' dengan Kiyoteru-nii san, bukan?"
Pertanyaan tersebut membuat Teru yang sedang berpikiran kosong langsung memperhatikan Kaito.
"Apa? Oh, biasa saja mungkin bedanya aku bisa berjalan sendiri dan melakukan apapun semauku. Kenapa bertanya?"
"Tidak kenapa-kenapa, hanya ingin tahu saja."
Teru tidak membalas lagi, ia sekarang kembali mendengarkan lagu walaupun kali ini tidak sampai tertidur.
Makin lama, bis mulai berkurang kecepatannya setelah melewati beberapa tikungan dan perempatan. Hingga akhirnya berhenti di depan sebuah hotel bintang empat yang tetap saja terlihat mewah untuk ukuran hotel Asia.
Baru menginjakkan kaki di hotel, seisi asosiasi tidak bergegas untuk menikmati isi Las Vegas. Melainkan sibuk mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Terlihat beberapa kotak berbagai ukuran (hebatnya diperbolehkan masuk padahal isinya senjata) terlihat dibawa beberapa orang. Gakupo menghampiri Teru yang sedang asyik melihat orang-orang berlalu-lalang.
"Tidak kusangka Mew mau datang pas hari-H, kenapa kita tidak diperbolehkan bersenang-senang dulu, sih? Mungkin saja ada beberapa gadis berhasil kugaet…" Teru facepalm mendengar celotehan laki-laki berambut ungu di samping bagian kanan.
"Ya untuk menghindari tidak terfokusnya dirimu dan mengurangi nafsu dunia, aku tidak mengerti, seorang samurai sekaligus onmyouji memiliki sifat mesum." Perempuan berambut panjang membalas dengan nada ketus, Teru tersenyum menyeringai melihat Gakupo kalah dan harus tutup mulut.
Sebuah bayangan tentang Kiyo yang sedang tak sadarkan diri dan sedang dilakukan ritual agar laki-laki tersebut dapat 'memikul' sebagai Adam terlihat walaupun hanya sekejap. Ia mulai merasakan kalau darahnya terasa direbus, bahkan tangannya sampai mengepal kencang sehingga bergetar.
"Aku benar-benar tidak akan memaafkan mereka."
Author : ada yang marah…
IA : Author, kapan saya muncul? Atau jangan-jangan saya terlupakan?
Author : Ukhh… itu… ah, terima kasih untuk fave dan favorit beserta review! Terima kasih banyak!
