BAB 28

"Hentikan." Sehun emosi.

Entah mengapa ia merasa sangat marah mendengar ucapan Baekbeom tentang Jongin dan Kris.

"Mereka tidak mungkin begitu, Baekbeom. Jongin sudah bersuami!"

Baekbeom lagi-lagi tersenyum sinis. "Lalu apakah kau melihat suaminya berada di sekitar sini?"

"Suaminya seorang pilot. Jadi mungkin saja sekarang dia sedang bertugas."

"Benarkah? Pantas jika Jongin berselingkuh dengan kris. Siapapun laki-laki bodoh yang menyia-nyiakannya itu sudah membuat Jongin merasa kesepian hingga memilih Kris untuk menjadi pelabuhan hati berikutnya. Aku tidak tau apakah kau beruntung karena terlepas dari itu atau harus merasa malang karena wanita yang kau sukai ternyata menduakan suaminya dengan..."

"Kau tidak sedang mengaduku dengan Kakakku, kan?"

"Apa untungnya buatku. Meskipun, yah! Pasti seru jika melihat pertengkaran di rumah ini!"

Baekbeom kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia tau kalau Sehun sudah meradang. Sehun mengambil handuk dan mungkin akan berendam selama berjam-jam di kamar mandi. Hatinya pasti merasa panas. Baekbeom belum tau seperti apa intrik Jongin di rumah ini, sebenarnya. Yang pasti orang-orang di rumah ini sedang mengira kalau dia sedang baik-baik saja. Saat Kris mengatakan bahwa Haowen adalah putri Baekhyun, Baekbeom sudah dipengaruhi oleh kecurigaan.

Jika Jongin memang sudah bersuami,mengapa dia harus menyembunyikan siapa Haowen sebenarnya di rumah ini? Bukankah Normal jika dia memiliki seorang anak jika sudah bersuami? Kecuali sejak malam pernikahan mereka tidak pernah bercinta sama sekali. Dan Jongin memiliki laki-laki lain sebagai ayah dari anaknya yang tidak ingin diketahui oleh suaminya. Jika begitu, hipotesis Baekbeom menyiratkan bahwa Jongin adalah wanita yang licik. Tapi dia tau kalau Jongin tidak begitu. Ia ingin mengungkap misteri aneh ini sebelum kembali melanjutkan kehidupannya. Baekbeom tidak akan pernah membiarkan rasa penasaran menggerogoti hidupnya.

Jongin berdelik kepada Minho yang menyuapi Haowen dengan coklat foundue. Jongin yakin, dalam beberapa hari lagi, Minho akan menyuapi Haowen dengan makanan pedas seperti yang dilakukannya kepada Yoogeun dulu. Laki-laki itu sepertinya sangat suka memanjakan Haowen dengan makanan sebagaimana ia memanjakan Yoogeun. Ia bahkan membelikan tart besar untuk dilahap Yoogeun seorang diri hari ini untuk mengisi hari libur.

"Kalu lihat, Jongin? Dia sedang berusaha membuat keponakannya menjadi rakus seperti yang dilakukannya kepada putranya!" Jiyeon berdesis sambil mengawasi suapan-suapan Yoogeun yang lahap.

Tangan Yoogeun sudah penuh dengan krim. Anak itu tidak lagi menggunakan sendok untuk menikmati tart yang dibelikan oleh ayahnya.

"Memangnya kenapa? Ini hanya kue coklat!"

Minho membela diri lalu kembali berkonsentrasi menyumpali mulut Haowen dengan kue itu. Haowen sangat menyukainya.

"Makanlah sayang, habiskan. Paman suka melihat bayi-bayi yang gemuk!"

"Itu sudah potongan kedua, kan?"

"Ya, kau tidak perlu khawatir Jongin, aku bersumpah ini yang terakhir. Setelah ini kau bisa melihat Haowen tertidur karena kekenyangan."

"Ya, kelihatannya Haowen sudah mengantuk!"

Jongin menghela nafasnya lega karena Minho tidak mungkin memaksakan Haowen untuk makan lebih banyak lagi. Bayi mungil itu pasti sudah sangat kenyang. Haowen hanya menyukai rasa manis coklat dan ia terus berusaha melahapnya dengan mata yang sudah sayu.

"Bisakah aku mengambil Haowen sekarang? Aku harus membersihkannya sebelum dia tertidur!"

Minho menyerah lalu memenuhi mulutnya dengan sisa kue coklat yang tidak dihabiskan oleh Haowen. Ia memberikan Haowen kepada Jongin setelah itu.

"Bersihkan disini saja, setelah ini kau bisa melakukan hal lain." Jongin menggeleng.

"Aku hanya bisa mengurusi Haowen saja di rumah ini. Semua orang tidak mengizinkanku melakukan hal lain. Aku permisi dulu!"

Jongin berbalik dan beranjak keluar dari kamar pasangan itu. Ia menghela nafas lega karena akhirnya Haowen akan tidur. Jongin hanya perlu menggendongnya sambil menimang tubuhnya hingga ia benar-benar terlelap. Tapi sebelum itu, Haowen sudah harus bersih. Wajahnya sudah seperti topeng karena dipenuhi dengan noda krim coklat dari kue yang Minho berikan.

"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" Jongin terkesiap.

Baekbeom tiba-tiba saja ada di hadapannya berdiri dengan kokoh. Ia tau kalau Baekbeom sedang berusaha memintanya menjelaskan kecurigaannya. Ia tidak tau lagi harus bersikap apa mengenai ini.

"Aku harus menjelaskan apa, Tuan?" Baekbeom menggeleng.

"Kau pasti tau tentang apa itu Nyonya."

"Aku harus memandikan Haowen dulu." Potong Jongin, "Dia sudah sangat mengantuk."

"Ya, kalau begitu jelaskan sambil memandikan Haowen. Bisa,kan?" Jongin menghela nafas, ia menyerah.

"Baiklah, kau boleh ikut aku ke dapur." Senyum Baekbeom mempengaruhinya.

Haruskah ia menceritakan tentang rahasianya kepada Baekbeom? Lalu Jongin harus memulai dari mana? Jongin mulai dijalari perasaan gugup. Ia mengerjakan semuanya dengan perasaan bercampur. Di mulai dari menyiapkan air hangat hingga akhirnya menidurkan Haowen. Jongin semakin didera perasaan tidak tenang saat ia melihat Haowen terlelap, sekarang sudah saatnya ia mengatakan sesuatu. Jongin menoleh kepada Baekbeom, laki-laki itu memandangnya.

"Tanyakanlah tentang apapun yang ingin kau ketahui. Aku akan berusaha menjawabnya!" Baekbeom beringsut sedikit lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

Ia masih bersandar di ambang pintu dan membiarkan pintu terbuka. Baekbeom tidak berkata apa-apa untuk beberapa waktu hingga ia yakin semua pelayan meninggalkan Dapur. Tidak ada seorangpun yang boleh menguping percakapan mereka berdua. Baekbeom ingin mengetahui semuanya bukan untuk disebarkan.Ia melakukannya untuk kepuasan pribadi.

"Sebelumnya, aku beritahukan kepadamu. Aku tidak akan menceritakan kepada siapapun tentang percakapan kita ini. Jadi jangan khawatir dan jawablah semuanya dengan jujur. Ini untuk kepuasan diriku secara personal. Kau mengerti?" Jongin menghela nafas lega.

"Aku senang mendengarnya."

"Kalau begitu ceritakanlah!"

"Aku tidak tau harus memulai dari mana."

"Mulailah dari mengapa orang-orang di rumah ini tidak mengetahui siapa Haowen sebenarnya!"

Jongin menghela nafas lagi, ia nyaris memulai semuanya jika saja Baekbeom tidak mengangkat tangannya karena ada seseorang yang memasuki dapur. Setelah Baekbeom memerintahkannya untuk melanjutkan ceritanya, Jongin memulainya dengan suara yang sangat pelan.

"Ini ide Baekhyun. Dia mengetahui aku hamil tanpa suami. Kau tau mengenai peraturan di rumah ini? Jika kami, para pelayan mengalami kejadian seperti itu, kami harus berpisah dari anak kami untuk beberapa waktu dan diperbolehkan pulang setelah dinikahkan dengan seseorang yang tidak kami kenal. Aku tidak ingin berpisah dari anakku. Karena itu aku mengikuti ide Baekhyum tentang Haowen. Meskipun Haowen diakui sebagai anaknya, aku tidak akan pernah berpisah dari anakku dan tetap bisa menimangnya. Lagipula kau tidak perlu khawatir. Baekhyun tidak akan melakukan itu selamanya. Setelah Haowen cukup besar atau paling tidak setelah Haowen berhenti menyusu. Kami akan mengatakan semuanya."

"Dan kau akan menerima hukuman?"

"Tuan Park mengatakan kalau dia tidak akan pernah menghukumku. Tapi ia harus melakukannya. Tuan Park harus melakukannya untuk menjaga kehormatannya. Ia berusaha keras menasihatiku untuk menikah sebelum mengakui Haowen sebagai anakku. Dengan itu aku tidak harus keluar dari rumah ini. Atau mungkin aku akan tetap keluar dari rumah ini tanpa harus berpisah dari Haowen."

"Jadi Park Jung soo sudah tau?" Jongin mengangguk.

"Dan kau memilih Krisuntuk menjadi laki-laki yang membantumu menyatukan Haowen dengan dirimu? Kau yakin?"

"Menurutku Kris cukup baik untuk diandalkan!"

"Lalu siapa ayah dari putrimu ini?"

Jongin menahan nafas, pertanyaan itu datang lagi. Ia harus mengatakan apa? Jongin mulai sesak. Ia merasa sedih untuk pertama kalinya saat pertanyaan itu menyerangnya. Jongin menoleh kepada Haowen yang tertidur di atas ranjang dengan sangat perlahan.

"Aku tidak tau!"

"Apa maksudmu? Mustahil kalau kau tidak tau siapa yang menidurimu, kan?"

"Aku bahkan tidak mengingat kapan semua ini terjadi. Menurut Baekhyun berdasarkan usia kehamilanku, seseorang memaksaku bercinta dengannya pada pesta malam itu. Ia mendengar teriakanku, itu katanya. Saat itu aku sangat mabuk. Aku bahkan tidak sadar kalau pada malam itu, aku kehilangan segalanya."

"Dan kau tidak berusaha untuk mencari tau siapa yang menidurimu?"

"Ada beribu laki-laki yang hadir di pesta itu. Haruskah aku mendatangi mereka satu persatu dan menanyakannya? Bagaimana jika tidak ada seorangpun yang mengaku? Kalau aku melakukan itu, aku bukan hanya akan mempermalukan diriku. Tapi juga keluarga ini. Karena itu aku memutuskan untuk tidak mencari tau. Biarlah Haowen hanya menjadi anakku. Aku tidak ingin Haowen dipisahkan dariku sama sekali."

"Orang-orang di rumah ini sangat kejam. Apakah kau tidak pernah berfikir untuk membawa Haowen pergi dari rumah ini?" Jongin menggeleng.

"Aku belum pernah berfikir sampai kesana. Dan aku harap, aku tidak pernah melakukannya. Setidaknya selagi Tuan Park masih hidup."

Tbc.

Novel by PHOEBE