hatimu, dalam tangan ini
disclaimer: mobile legends: bang-bang (c) moonton.
chapter 29: abundant; lolita/harley – 28 maret 2017
sinopsis: aku mau ikut kamu aja; karena mama pernah bilang untuk kejar mimpiku, dan mimpiku cuma kamu.
note: saya (masih) gabisa ngegombal, maaf garing, ga kreatif, dan gamutu.
.
.
Lolita mengangkat palunya dan mengeluarkan tameng noumenon untuk melindungi Harley dari mata tombak bayangan yang diarahkan padanya. Pelan-pelan ia juga menarik diri—tidak lupa untuk melemparkan kumpulan energi yang berasal dari perisainya sebagai distraksi. Keduanya bersama-sama berlari ke arah yang sembarang; karena keduanya tak tahu dimana mereka sebenarnya.
Ada seorang pemuda yang menuntun mereka ke sebuah suaka perlindungan di mana orang-orang berdiam untuk memulihkan diri mereka. Mereka berdua dibiarkan duduk bersandar, mengatur napas. Lolita melihat sebuah kristal biru raksasa di tengah ruangan; dan ada suara layaknya air mancur mengisi kekosongan.
"Indahnya." Gumam Lolita.
Harley mendecih, "Rasanya biasa saja." Pikirannya masih memikirkan kakaknya—ia tahu kakaknya adalah wanita yang kuat, tapi ia takut sesuatu terjadi pada kakaknya; situasi di luar tidak baik, Alpha dan Bruno saja sampai terluka parah karena serangan yang tak diduga-duga dari pihak musuh.
"Ah, ada sesuatu yang lebih indah dari ini, sebenarnya."
"Apa?"
"Wajahmu."
Ia membuang muka, elf cilik itu tersenyum lebar.
Harley mengayunkan tongkat sihirnya, ia mengeluarkan sihir mautnya pada Gord, lalu dengan cekatan menghilang dari pandangan. Ia muncul lagi di belakang Lolita, yang tanpa basa-basi menggetok kepala kakek tua itu, membuat kepalanya terasa pusing dan memberikan celah bagi Harley untuk melakukan trik-nya.
Keduanya tertawa saat ia kabur dengan tergesa.
Setelah itu Lolita bilang padanya, "Harley, sepertinya ada yang tidak beres dengan mataku."
Penyihir cilik itu menghela napas. Apapun itu, ia tahu Lolita akan mengatakan sesuatu yang memalukan. Ia tak meladeninya.
"Aku tak bisa berhenti menatapmu sih!"
Kan.
Mereka berdua bersembunyi di semak-semak, tak jauh dari sana, seorang gadis belia dengan kuncir dua berlari tergopoh, baru saja dikejar oleh Alpha yang kini menyibukkan dirinya untuk bermain bersama Beta di sisi lain hutan. Mereka memutuskan untuk maju.
Gadis itu terkesiap, ia menggunakan senjatanya untuk menembaki mereka, namun Lolita mengangkat tamengnya dan melindungi Harley dari serangannya; sia-sia, karena kemudian Harley menggunakan sihirnya untuk menyudahi perlawanannya, dilindungi oleh Lolita.
Setelah itu keduanya berlari ke semak-semak lagi. Dari kejauhan mereka mendengar raungan senapan dan seseorang mengaduh kesakitan—Lesley dekat dari sini. Kakaknya telah tiba di medan pertempuran, dengan kepala seseorang yang harus ia lubangi dengan peluru hitamnya.
"Harley," Lolita berbisik padanya.
Ia mendesis. "Apa?" lihat saja kalau ini tidak penting.
"Kalau aku kucing, aku akan menghabiskan sembilan nyawaku bersamamu."
Ia ingin mengutuk Lolita dan melemparnya ke dimensi lain, spontan ia jawab demikian. Tapi elf itu hanya terkekeh. Senyumnya sampai ke matanya dan untuk sesaat Harley merasa gugup saat mata mereka bertemu di suasananya.
Ratu iblis itu memojokkan Harley—yang tadi ditinggalkan Lolita karena ada yang membutuhkan bantuannya. Ia tersenyum miring, tahu ini adalah situasi yang buruk. Bagaimana kalau ia dibawa pergi? Oh, ia tidak mau—seharusnya ia mendengar nasehat Saber; untuk selalu hati-hati karena tadi ia hanya seorang diri tanpa bantuan, nyaris semua temannya sibuk untuk membantu perang yang meledak di sisi lain.
Kini wanita itu memandang rendah dirinya—ia tak suka diremehkan.
Saat genting, Lolita datang dengan Bruno, menyelamatkannya—namun Alice mampu meloloskan diri, meninggalkan Lolita terluka parah, masih belum pulih dari serangan yang ia terima untuk melindungi teman-temannya dari peperangan yang pecah sebelumnya.
Harley mengampirinya, Bruno mengangkat tubuhnya. "Kau tidak apa-apa? Bruno! Ayo, bawa dia ke rumah sak—"
Lolita menyambung, "Tidak perlu… rumah sakit… hatimu."
….
Krik.
Karena tak ada yang paham, ia berdehem. "Aku hanya mau… dibawa ke hatimu… Harley."
"…."
Setelah itu Lolita kehilangan kesadarannya, tersenyum dramatis seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa.
Lagi sekarat malah sempet-sempetnya ngegombal.
Harley berteduh di bawah pohon, ia mengantuk. Tak lama Lolita mendatanginya, ia duduk di sebelahnya, tak mengucapkan apapun. Akhirnya, Harley pikir mungkin Lolita telah lelah berbicara. Matanya terpejam, ingin tidur. Pikirnya karena elf cilik itu berada dekat dengannya, ia akan aman.
Namun tidak sampai sepuluh menit, ia membuka matanya, karena merasakan sepasang mata menatapnya dengan intens. Ia memandang risih Lolita di sampingnya, yang tersenyum, matanya melekat pada Harley. Dirinya dibuat malu setengah mati.
"Maaf! Hanya saja… kamu tuh seperti kamera—tiap kali aku lihat kamu, aku tidak bisa berhenti tersenyum."
"Jangan lihat kalau begitu!"
Lolita menyeringai saat ia melihat Harley—anak lelaki itu spontan tahu.
"Harley—aah, apakah kamu penyihir?!"
Jawabannya, tentu saja iya.
"Soalnya seluruh dunia seolah lenyap tiap kali aku melihatmu!"
Profesor Rooney membelikan mereka kue-kue manisan sebagai apresiasi atas kerja mereka membantu pada elf dari invasi kegelapan.
"Aduh, aku akan diabetes kalau terus begini." Gumam Lolita, ia meminum air. Haus. Matanya terfokus pada Harley. "Pertama cake ini, lalu bola-bola cokelat itu, selanjutnya kue krim itu, dan juga… kamu. Aaaah!"
Harley nampak tak senang, tapi kemudian ia tersenyum. "Itu buruk."
Mata Lolita berbinar—akhirnya, setelah 39 gombalan, ini adalah yang pertama dibalas dengan senyum. Ia sudah buntu ide. "Ah, maaf. Tapi apa standar yang kau miliki untuk dikatakan bagus? Karena aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu."
"Entah." Balasnya. "Kalau aku mendengarnya keluar dari mulutmu, aku akan tahu."
Keduanya tersenyum seribu arti pada satu sama lain.
.
.
[end.]
