Previous
"Selamat malam Sehun."
Yang tidak Luhan ketahui Sehun sedang mati-matian menahan nafasnya saat ini. Menunggu dengan cemas kapan Luhan benar-benar tidur sampai suara dengkuran terdengar dari pria mungil yang nyaris menabraknya beberapa saat lalu.
Membuat Sehun bergumam lega sebelum
"haah-…"
Dia mencari udara sebanyak-banyaknya. Dengan tangan yang tetap melingkar di pinggang Luhan, jantung Sehun berdegup tak beraturan. Dia tidak ingin melewatkan satu hal, dan karena hal itu pula dia menyalakan lampu temaram di meja kecil tempat tidurnya.
Klik..
Cahaya lampu temaram itu menyinari raut cantik wajah Luhan. membuat Sehun harus kembali terperangah karena untuk kali pertamanya setelah lima tahun. Ini adalah kesempatannya untuk melihat Luhan tidur dengan sangat cantik.
Membuatnya tak bosan memperhatikan wajah Luhan dengan tangan yang terus mengusap pinggang Luhan. Sehun tersenyum kecil sebelum diam-diam mencuri ciuman di bibir Luhan.
Ciuman singkat namun membuat hatinya hangat karena merasa sangat merindukan Luhannya. Disingkirkannya anak rambut yang mengganggu wajah cantik Luhannya dan kembali mencium kening Luhan -agak lama kali ini-
Menyampaikan seluruh perasaannya yang berkecamuk antara rindu dan putus asa karena untuk mendapatkan Luhan kali ini tak akan semudah mendapatkan Luhan kali pertama.
"Selamat malam Lu. Aku tahu aku gila mengatakan ini-…Tapi aku mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Triplet794 Present new story :
My Forever Crush
Main Pair : Sehun-Luhan
Support pair : Kim Jongin-Do Kyungsoo, Park Chanyeol-Byun Baekhyun
Rate : T & M
.
.
.
.
.
"Aku mencintaimu.."
"Haaaah-..."
Tak ada yang lebih membingungkan saat kau mendengar suara yang terdengar begitu nyata namun ternyata itu hanya mimpi.
Luhan saat ini mengalaminya. Disaat dia mengira bahwa itu suara Sehun yang mengatakan cinta maka bibir tipisnya hanya bisa tersenyum kecil.
Hatinya tertohok memelas menyadari bahwa mimpi mendengar Sehun mengatakan cinta hanyalah omong kosong sesaat.
Bagaimana bisa Sehun mengatakan cinta padanya jika pria dengan seluruh ketampanan di wajahnya itu bahkan sudah tidak ada disampingnya. Sisi sebelah kanan sudah rapih tak berantakan menandakan bahwa Sehun sudah bangun lebih awal.
"Haaah-..."
Tersenyum kecil adalah hal yang Luhan sebelum menyingkap selimutnya. Mencari sandal tidur miliknya sebelum berjalan keluar kamar untuk mencari Sehun.
Cklek...!
Rumah besar ini benar-benar terasa berbeda saat ditinggalkan nenek. Terasa kosong dan untuk alasan tertentu ada bagian besar yang hilang dari suasana di rumah ini.
Luhan bisa merasakannya, ada bagian-bagian dimana kehadiran nenek menjadi satu-satunya pelengkap dirumah asing ini. Dan saat sang pemilik meninggal dunia maka hanya ada rasa kosong dan kesedihan teramat untuk yang ditinggalkan.
"Selamat pagi Lu."
Luhan sampai pada pijakan terakhirnya di tangga. Menyambut sapaan Paman Kim dengan senyum sebelum secara naluriah bertanya dimana teman kecilnya. "Paman…Dimana Sehun?"
"Duduklah Lu. Sebentar lagi sarapanmu siap."
"Mmh... Tapi dimana Sehun?"
"Aku disini Lu."
Luhan menoleh cepat, mencari asal suara sebelum dahinya mengerut bertanya-tanya darimana Sehun. Mengapa wajahnya berkeringat ditambah baju tidurnya yang penuh dengan tanah "Kau darimana? Dan kenapa bajumu berkeringat. Tanganmu kotor dan-...Astaga Sehun tanganmu terluka!"
Luhan memekik heboh sementara yang memiliki luka hanya tertawa kecil merasa goresan di tangannya sama sekali tidak sakit. Karena untuk alasan gila rasa sakitnya hilang melihat Luhan masih seperti Luhannya jika melihat dirinya terluka.
"Ini hanya luka kecil. Aku akan segera membilasnya Lu."
Berjalan menuju wastafel adalah hal yang Sehun lakukan sebelum
Sret...!
Luhan menarik lengannya. Membawanya entah kemana hingga mereka berakhir di taman belakang tempat keduanya biasa menghabiskan sepanjang hari dirumah nenek.
"Duduk dan tunggu aku."
Selesai mendudukan Sehun di lantai berkayu di taman belakang. Luhan kembali berlari kedalam rumah, mencari kotak kecil obat untuk mengurus entah goresan apa yang membuat tangan Sehun berdarah.
"Ini sudah mengering jadi percuma...arhhh!"
Luhan menekan kencang goresan luka di telapak tangan Sehun. Sedikit mendelik sebelum mengusap perlahan kali ini "Darahmu terus keluar dan kau bilang ini sudah kering? Mau aku pukul?"
Sehun terkekeh mendengar ucapan Luhan, dibiarkannya si pria cantik meniup goresan dalam di tangannya sementara tangannya yang lain dengan cekatan bergerak membersihkan luka di telapak tangan Sehun.
"Darimana kau mendapatkan luka ini?"
"Ah-... Kau ingat Pepo?"
"Anjing kecil seperti Vivi?"
"Dia sudah besar dan memiliki anak sekarang."
"Benarkah?"
Dengan perlahan Luhan mengoleskan antiseptik, membuat sesekali Sehun meringis namun ditahannya karena tatapan dingin Luhan lebih menyakitkan "Y-ya dia sudah memiliki dua anak sekarang."
"Lalu apa hubungannya dengan lukamu?"
"Aku berniat membuatkan rumah untuk mereka, tapi karena terlalu bersemangat tanganku tak sengaja terkena pukulan palu dan pakunya menancap di tanganku."
Mendengarnya saja sudah membuat Luhan meringis apalagi menjadi Sehun yang beberapa saat lalu terkena paku dan mencabut paksa pakunya. Membuat Luhan mendelik kesal benar-benar tidak menyukai kecerobohan Sehun.
"Lalu kau mencabut paksa pakunya?"
"Begitulah."
"Benar-benar idiot!"
Luhan menggeram marah saat memasangkan perban di tangan Sehun. Mencoba untuk tenang namun terus merasa kesal karena kecerobohan Sehun tidak pernah hilang darinya.
"Kau kesal lagi?"
"..."
"Aku tidak tahu darahnya akan sebanyak ini—aarhhh!"
Lagi-... Luhan sengaja menekan luka Sehun. Agak kencang kali ini, membuat Sehun meringis sakit namun diabaikan oleh Luhan.
"Lu kau mau kemana? Aku masih sakit?-...Luhan!"
Sehun hanya bisa tertawa kecil saat ini, kenyataan bahwa Luhan selalu membenci kecerobohannya adalah satu hal yang tidak berubah dari Luhan. Karena tiap kali Luhan marah pada kecerobohannya maka bisa dipastikan bahwa rasa peduli Luhan masih tersisa untuknya.
Ya-... Walau tak banyak setidaknya Sehun masih memiliki sedikit dari hati Luhan sampai saat ini. -itu harapannya-
.
.
.
Malam harinya…..
.
BLAM….!
"Kita sampai Tuan muda."
Sehun secara refleks menoleh ke tempat yang disebut yayasan oleh neneknya. Sedikit menaikkan kedua alisnya mengira tempat yang akan ia datangi ini sangat mewah dan mengundang banyak tamu ternama. Bukan tempat yang terlihat seperti gereja kecil dengan pemandangan sederhana seperti yang dilihat kedua matanya saat ini."
"Paman apa kau yakin kita tidak salah tempat?"
"huh? Apa maksud anda tuan muda?"
"Maksudku tempat ini terlalu kecil untuk selera nenek. Aku bahkan-…"
"Sehun."
Luhan menginterupsi semua celotehan Sehun. Jelas terdengar jika mantan kekasihnya ini terlihat sangat gugup. Terus mencari alasan dimana dia bisa melarikan diri hingga hal itu membuat Luhan selaku partner nya malam ini mulai jengah melihat teman kecilnya.
"Ada apa Lu?"
"Tidak bisakah kita turun sekarang? Aku mulai kepanasan."
"Ya tentu saja. Tapi aku rasa kita salah tempat."
Luhan menoleh menatap Sehun. menatapnya galak sebelum membuka pintu mobil "Jangan banyak alasan. Cepat turun atau aku akan sangat marah padamu." Katanya mengancam Sehun sebelum
BLAM…!
Luhan sudah lebih dulu keluar dari mobil. Meninggalkan Sehun yang semakin gugup namun tak memiliki pilihan lain selain menyusul Luhan yang kini sedang menyapa beberapa suster kepala dengan akrab.
"Paman…"
"Ya tuan muda?"
"Kenapa Luhan terlihat akrab dengan mereka?"
Paman Kim tersenyum kecil, menyadari raut bingung cucu dari majikannya adalah hal yang lucu. Niatnya tidak akan memberitahu apapun mengenai yayasan ini dan Luhan. Tapi mengingat dia akan memberikan ucapan sambutan dan terimakasih mewakili neneknya maka hanya beberapa informasi saja yang bisa diberikan kepala rumah tangga yang telah bekerja untuk nenek Oh hampir seumur hidupnya.
"Alasan mengapa Luhan berada disini adalah karena wasiat dari nenek anda Tuan muda."
"huh? Apa maksudmu?"
"Anda akan tahu setelah masuk dan melihat ke dalam. Silahkan turun tuan muda."
"Tidak…aku akan tetap disini. Keringatku banyak sekali."
Paman Kim hanya tertawa kecil sebelum menggoda Sehun dengan menghela dalam nafasnya "Kalau begitu hanya tinggal menunggu waktu sampai Luhan berteriak."
Sehun mengernyit saat mata paman Kim menoleh ke suatu tempat. Membuatnya ikut melihat ke arah yang sama dan benar saja-….Luhan sedang menatap menyeramkan ke arahnya. Tatapannya sama sekali tidak mengerikan namun penuh kekesalan disana. Dan saat kedua mata mereka bertemu maka Luhan seperti mengatakan "CEPAT TURUN ATAU AKU AKAN MARAH." dengan tatapan dinginnya.
"Baiklah baiklah aku tidak memiliki pilihan lain." ujarnya terkekeh sebelum
BLAM…!
Sehun mengancingkan jas hitamnya. Setelah memastikan tampilannya sempurna dia pun bergegas mendekati Luhan yang masih menatap dingin padanya "Kau membuatku berdebar dengan tatapanmu."
"Omong kosong!"
Luhan mencibir asal, diraihnya lengan Sehun sebelum tangannya melingkar sempurna disana "Kita masuk sekarang."
"Lu. Aku tidak pernah kesini sebelumnya, aku sangat gugup dan tidak tahu harus melakukan apa."
"Anggap saja itu gunanya aku menemanimu."
"huh?"
Luhan tersenyum penuh percaya diri sebelum mengerling Sehun sedikit menggoda "Aku sudah beberapa kali ke sini."
"Benarkah? Bagaimana bisa?"
"Kau tidak perlu tahu Tuan Oh."
Dan saat Sehun masih memiliki banyak pertanyaan, maka Luhan lebih memilih menyapa beberapa suster dan penjaga di yayasan neneknya. Mereka bahkan beberapa kali tertawa sebelum akhirnya dipersilahkan duduk di tempat yang telah disiapkan.
Sehun bergerak resah di tempatnya. Beberapa kali mencoba untuk melarikan diri namun tangan Luhan terus melingkar sempurna di lengannya. Membuatnya sedikit kesulitan bergerak dan tidak akan pernah bisa pergi dari tempat yang keberadaannya saja tak pernah ia ketahui.
"Lu apa yang harus aku lakukan?"
"Duduk dan tunggu giliranmu memberikan satu dua patah kata untuk nenek."
"Tapi aku belum mempersiapkan apapun." Katanya panik sebelum
"Oh Sehun silakan kedepan dan memberi kata sambutan."
"Astaga mereka memanggilku. Aku harus ke depan Lu."
Luhan terus memegang lengan Sehun. rasanya ingin sekali tertawa namun harus ia tahan tak mau membuat Sehun malu saat ini "Lu mereka memanggilku."
"Bukan Oh Sehun dirimu. Tapi Oh Sehun kecil."
Luhan menunjuk ke arah panggung. Memperlihatkan pada Sehun siapa Oh Sehun yang dimaksud kepala yayasan "Nenek yang memberikan nama Oh Sehun untuknya."
"huh?"
Dan benar saja saat Sehun melihat ke atas panggung maka dia bisa melihat seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun disana. Terlihat sangat gugup seperti dirinya namun Oh Sehun kecil mengatasinya dengan senyum, membuat Sehun bertanya-tanya mengapa sang nenek memberikan namanya pada anak itu sebelum suara Luhan kembali berbisik di telinganya
"Bukan tanpa alasan nenek memberikan namamu padanya."
Sehun kembali melihat pria cantiknya. Kali ini harus kembali terpesona saat melihat Luhan tersenyum menceritakan Sehun kecil padanya, membuat mau tak mau Sehun merasa sedikit ingin tahu dan bertanya pada mantan kekasihnya "Apa yang kau ketahui Lu?"
Kali ini Luhan yang menoleh. Menatap sekilas pria tampan disampingnya sebelum tersenyum berujar dengan bangga "Cukup banyak salah satunya tentang Sehun kecil."
"Apa yang kau ketahui tentang Sehun kecil."
"Dia sangat mirip denganmu. Benar-benar mirip."
"Benarkah?"
"mmh…Beberapa kali aku berbicara pada Sehunnie dan aku merasa berbicara pada Sehun teman kecilku. Kalian akan berwajah dingin dan bernada datar pada banyak orang. Tapi saat dia melihatku atau nenek sikapnya persis seperti kau memperlakukan aku dan nenek."
"Apa kau senang?"
Tawa Luhan terhenti sesaat. Rasanya jika mengingat hari dimana dia memaksa Sehun kecil menjadi Sehunnya adalah hari yang sangat kejam untuk Oh Sehun kecil. Karena tiap kali dia mengunjugi nenek di Sydney dia akan meminta Sehun kecil bertingkah seperti Sehunnya. Jahat memang-…Tapi hanya itu satu-satunya cara agar Luhan berhenti merindukan Sehun saat keduanya berpisah beberapa tahun yang lalu.
Luhan terus melihat Sehun kecil berbicara. Memperhatikannya cukup lama sampai akhirnya dia mengangguk membenarkan pertanyaan Sehun. "Setelah aku berbicara dengannya aku tidak lagi merindukanmu. Jadi ya-….Aku senang."
"Lu-…"
"Terimakasih untuk Nenek Oh. terimakasih karena Nenek Oh sudah memberikan hidup yang baik untuk Sehun dan teman-teman Sehun. Nenek Oh juga bilang jika dia tidak datang dalam dua bulan itu artinya nenek sedang dalam perjalanan yang cukup jauh. Perjalanan untuk bertemu Tuhan. Iya kan suster kepala?"
Perhatian Sehun dan Luhan tertuju pada Sehun kecil. Karena saat bocah kecil itu bertanya polos tentan dimana neneknya, maka hati keduanya –Sehun terutama- tertohok sangat perih. Matanya bahkan memanas dengan hati tersayat rindu mendengar Sehun kecil berbicara.
"Nenek bilang Sehun hyung akan datang mewakilinya. Dan aku dengar bahwa Sehun hyung memang sudah datang. Teman-teman ayo beri salam untuk Sehun hyung."
Sehun kecil menunjuk dimana tempat Sehun dan Luhan duduk. Membuat seluruh teman-teman yayasannya berdiri sejenak untuk membungkuk menyapa Sehun.
Sehun pun membalas sapaan anak-anak pintar di depannya, meminta mereka untuk kembali duduk dengan hati yang begitu sakit tak menyangka neneknya akan membesarkan banyak Sehun kecil yang lebih pintar, lebih dewasa dan lebih menyayanginya tentu saja. Hal itu membuat Sehun merasa malu sebagai Sehun tentu saja.
"Gomawo adik-adikku."
Sehun mengklaim mereka sebagai adik-adiknya. Membuat seluruh anak kecil yang dibesarkan di yayasan neneknya tersenyum senang dan kembali menempati tempat masing-masing. Susana sedikit tenang beberapa saat sampai Sehun kecil kembali berbicara dan menyapa padanya.
"Sehun hyung anyyeong. Namaku juga Sehun."
Sehun meresponnya dengan senyum, kembali berdiri dan mulai melambai ke arah Sehun kecil "Anyyeong Sehunnie."
"eoh…Lu hyung juga suka memanggilku Sehunnie. Katanya agar dia tidak merindukan Sehunnya lagi."
Sehun menoleh cepat melihat Luhan. sedikit tersenyum sebelum mengusap lembut kepala Luhan "Sehunnya sudah ada disini. Jadi Lu hyung tidak akan merindukan Sehunnya lagi." Katanya menjawab Sehun kecil sebelum kembali terdengar dari bocah enam tahun yang sangat pandai berbicara.
"Nenek Oh juga sering melihatku saat dia merindukan Sehun cucunya."
"huh?'
Sehun tidak menyangka reaksinya akan seperti ini, tapi setiap kali neneknya disebut dan bagaimana wanita tua cantiknya sangat menderita. Maka hatinya benar-benar hancur karena tak menjadi cucu yang baik untuk neneknya.
"Alasan mengapa nenek memberikanku nama Sehun karena saat aku ditemukan di depan rumahnya aku mirip dengan Sehunnya. Jadi nenek memutuskan untuk memberikan nama marga dan nama cucunya padaku. tidak apa kan hyung?"
Sehun mendongak cepat, mencegah air matanya turun sebelum mengangguk dan mengangkat kedua ibu jarinya "Aku lebih menyukaimu daripada diriku. Nenek pasti bangga padamu Sehunna."
Sehun tercekat dengan ucapannya sendiri. Mengatakan Nenek pasti bangga padamu Sehunna seolah mengatakan itu pada dirinya sendiri. Dia berharap bisa mendengar neneknya mengatakan hal itu lagi. Mendengar saat nenek memarahinya, mendengar semua yang dirindukan pada nenek. Namun menyadari semua itu tinggal kenangan maka Sehun melemparnya pada Sehun kecil. Berharap bisa membagi perasaan rindunya agar mereka berdua bisa saling menghibur sebagai "Sehun" nenek Oh.
"Hyungnim…"
"Ya?"
"Lalu dimana Nenek? Kenapa nenek pergi lama sekali hyung?"
"huh?"
"Kami merindukan nenek."
Luhan melihat wajah Sehun memucat. Dengan menggigit kencang bibirnya Sehun terlihat kebingungan. Matanya sudah terus berkedip seolah mencegah air mata turun di depan seluruh adik-adik yang dibesarkan neneknya.
Membuat Luhan secara naluriah berdiri tepat di depan Sehun untuk berbicara dengan Sehun kecil "Sehunna."
"Ya Lu hyung?"
"Bukankah kita memiliki janji?"
"Janji?"
"Akan terus menjadi anak baik dengan atau tanpa kehadiran nenek. Kau ingat? Kalian semua ingat?"
Seluruh anak dengan usia enam-dua belas tahun itu diam sejenak. Mencoba mendengarkan Luhan sebelum dengan serempak menjawab "Ya hyuuuung."
"Bagus. Sekarang nyanyikan lagu yang biasa kita nyanyikan dengan nenek bersama-sama. Kalian semua bisa naik ke atas panggung."
Tampak suster kepala menoleh pada Luhan, menatap berterimakasih karena setidaknya Luhan berhasil membuat anak-anak tenang tanpa keresahan lagi. Jujur saja Kepala Jang sudah beberapa kali memberitahukan tentang kepergian nenek Oh namun percuma karena mereka berfikir nenek Oh akan tetap kembali.
Dan terimakasih pada Luhan karena setidaknya dia bisa membuat anak-anaknya tenang tanpa harus menyisakan keresahan tentang fakta bahwa Nenek Oh memang tidak akan pernah kembali lagi.
Amazing Grace how sweet the sound
Dan saat suara merdu itu bersahutan menyanyi. Maka Sehun hanya bisa kembali bersandar di kursinya. Suaranya tercekat sama sekali tak bisa keluar, tangannya berkeringat sangat banyak dengan wajah pucat yang sangat terlihat di wajahnya.
"Aku juga merindukan nenekku."
"Sehun?"
"hmhh?"
Sehun berusaha untuk baik-baik saja. Dia kemudian mendongak menatap mata rusa Luhan yang masih berdiri dan menatap cemas di depannya "Kau baik-baik saja?"
I once was lost but now I'm found.
Mencoba fokus pada lagu adalah hal yang Sehun lakukan sebelum mengangguk menjawab pertanyaan Luhan "Ya Lu. Aku baik." Katanya mencoba tersenyum namun terlihat sangat gagal di mata Luhan.
Membuat Luhan hanya bisa mencoba menghargai keputusan Sehun untuk bersikap baik-baik saja walau dia tahu -terlalu tahu- bahwa jauh di dalam sana-….Hati Sehunnya sedang hancur berkeping.
"Aku baik-baik saja Lu."
Seolah tak ingin Luhan meragukannya. Sehun kembali mengulang jawaban yang tak perlu. Membuat lagi-lagi Luhan tak memiliki pilihan selain ikut duduk menemani Sehun disampingnya tanpa bisa membuat cucu kandung nenek tersayangnya merasa lebih baik.
Diambilnya tangan kanan Sehun lalu digenggamnya erat tangan yang dulu selalu menjaganya. Luhan memakai cara lama untuk menenangkan Sehun tanpa menyinggung perasaannya. Memberikan kecupan sekilas tanpa pandangan iba adalah hal yang selalu mereka lakukan sejak kecil, saat mereka bersama hingga saat hubungan mereka terasa jauh seperti saat ini. tujuannya hanya satu -menenangkan tanpa harus menunjukkan rasa iba secara berlebihan- Luhan pun terus menatap kedepan. Tersenyum menggenggam erat tangan Sehun sebelum berujar
"Aku tahu kau baik."
.
.
.
.
.
.
.
.
Tengah malam mereka baru sampai dirumah. Tak seperti saat mereka berangkat ke yayasan, Sehun cenderung diam selama perjalanan pulang. Membuat sekali lagi Luhan mencoba mengerti dengan tidak mengusiknya dan menanyakan apa Sehun baik-baik saja padanya.
Dan karena hal itu pula Luhan berada sendiri di kamar mereka saat ini. sudah satu jam mereka pulang dari asrama tapi Sehun tak kunjung masuk kedalam kamar. Membuat pria bermata cantik itu sedikit resah dan ragu.
Resah karena takut membiarkan Sehun bersedih seorang diri serta ragu apakah harus menemui Sehun atau terus membiarkannya memiliki waktu sendiri. Entahlah rasanya serba salah saat kau seorang teman tapi disaat seperti ini kau ingin menjadi lebih dari teman.
Sret…!
Membuat Luhan menyingkap kasar selimutnya dan
Cklek…!
Entah ini keputusan tepat atau tidak. Tapi Luhan sudah memutuskan untuk menemani Sehun malam ini.
"Dimana dia?"
Dilihatnya ruang santai gelap dan sunyi. "Tidak mungkin Sehun disana."
Tempat selanjutnya adalah dapur. Dan tak berbeda jauh dengan ruang santai, dapur juga terlihat kosong dan sunyi namun lemari es sedikit terbuka menandakan seseorang baru saja mengambi minuman dari dalam.
Dan tak perlu bertanya siapa yang membukanya karena saat ini di taman belakang atau tepatnya di rumah baru anjing peliharaan sang nenek. Sehun sedang duduk termenung memeluk lututnya. Membuat Luhan menghela dalam nafasnya merasa sangat tak tega melihat Sehun bersedih untuk kedua kalinya.
"Sehunna."
Sehun menoleh cepat mencari asal suara Luhan. dan Luhan bersumpah sebelum Sehun melihatnya dia juga melihat Sehun mengusap kasar pipinya. Tebakannya itu air mata, membuat entah karena alasan apa Luhan tiba-tiba ingin menangis karenanya.
"Hey Lu. Kau belum tidur?"
Luhan dengan piyama selututnya menggeleng. Disingkirkannya empat kaleng soda yang kosong sebelum duduk tepat di samping Sehun "Aku menunggumu tapi kau tak kunjung masuk kedalam kamar."
"Ah-…Mianhae. Aku sudah selesai. Ayo kita masuk."
Sehun menawarkan tangannya untuk membantu Luhan berdiri, tapi yang dilakukan Luhan adalah hal sebaliknya. Dia kembali menarik tangan Sehun -memaksa mantan kekasihnya untuk kembali duduk-
"Ada apa Lu?"
"Duduklah sebentar."
"Disini dingin Lu. Kau hanya memakai piyama tipis itu lagi."
"Kau bisa memakaikan aku jas milikmu."
Buru-buru Sehun melepas jasnya. Segera memakaikannya pada Luhan sebelum kembali duduk disamping pria yang begitu ia sukai sejak kecil "Sekarang apa?" katanya bertanya pada Luhan. membuat si pria cantik sedikit salah tingkah sebelum menyeringai melihat dua kaleng soda yang masih utuh.
"Sekarang kita minum." Katanya membuka kaleng soda sebelum
Sshh….
Sodanya membasahi tangan Luhan namun ia hiraukan karena ingin mencari cara bisa duduk lebih lama dengan Sehun "Ayo minum."
Sehun tahu Luhan hanya ingin menghiburnya. Dia bahkan tidak menyukai soda dengan kadar alkohol tinggitapi memaksa untuk minum. Membuat Sehun tersenyum kecil ingin tahu sejauh mana Luhan akan bertahan dengan minumannya. "ssh…."
"Segar bukan?"
"Aku sudah meminum empat kaleng. Lima dengan ini Lu. Tentu saja segar" Katanya mengoreksi Luhan yang tertawa kecil saat ini.
"Kalau begitu temani aku."
"Aku juga sedang melakukannya Lulu."
Luhan terdiam sejenak. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar Sehun memanggil Lulu dan saat mantan kekasihnya memanggilnya Lulu lagi, maka hanya senyum pahit yang terlihat di wajah Luhan "Kau tidak pernah memanggilku Lulu lagi selama lima tahun. Apa rasanya canggung?"
"Tidak sama sekali."
"Bagaimana bisa?"
"Karena aku selalu memanggil Lulu sebelum tidur sejak lima tahun terakhir. Entah dengan alasan apa aku memanggilmu. Tapi aku selalu melakukannya agar merasa tenang."
"Begitukah?"
"Begitulah."
Kali ini keduanya diam. Tak ingin membahas masa lalu mereka lebih jauh lagi karena hanya akan ada kekosongan dan entah perasaan sakit apa yang selalu keduanya rasakan ketika masa lalu mereka tak sengaja dibicarakan.
Kesunyian ini terus berlanjut hingga dua menit sampai akhirnya Luhan kembali menenggak sodanya dan memberanikan diri bertanya pada Sehun
"Sekarang aku benar-benar akan bertanya padamu."
Sehun menatap Luhan sekilas sebelum ikut memandang taman belakang yang didekorasi nenek dengan sempurna. Ditambah suara gemericik air dari kolam ikan membuat suasananya benar-benar seperti di rumah mereka.
"Aku juga akan menjawabnya kali ini." timpal Sehun membuat Luhan sedikit bersemangat. "Sehunna."
"hmmh?"
"Apa kau baik-baik saja?"
Sehun diam sejenak mendengar pertanyaan Luhan. sedetik kemudia dia tertawa lalu detik kemudian dia menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Sedari tadi dia tidak menginginkan pertanyaan apa dia baik-baik saja. Namun saat Luhan terus bertanya maka yang bisa dilakukannya hanya tertawa namun berakhir diam tak mengerti harus melakukan apa.
"Sehunna."
"Entahlah Lu. Entahlah."
"Sehun"
"Hatiku terus merasa kosong. Tapi aku tak mengerti karena apa."
Sehun mengusak kasar kepalanya. Berharap menemukan jawaban namun hanya rasa kosong tanpa tahu apa jawabannya. Dia terus diam sampai merasakan tangan Luhan menarik pundaknya. Sedetik kemudian Sehun tahu Luhan sedang memeluknya, Luhan bahkan bersikap seperti Luhan saat menjadi kekasihnya. Mengusapnya dalam diam namun tak membiarkan jarak mengisi kekosongan mereka.
"Mianhae. Harusnya aku tidak bertanya hal mengerikan padamu. Mianhae Sehunna."
Luhan mencium berulang kepala Sehun. Memeluknya erat hingga keduanya merasa lebih baik. Tak ada lagi yang bertanya dan menjawab, keduanya hanya memilih diam berharap rasa sakit mereka sedikit berkurang "Lu."
"hmmhh…"
Masih memeluk erat tubuh mantan kekasihnya, Luhan menjawab panggilan Sehun. Tidak berniat melepas pelukannya sebelum suara Sehun kembali terdengar "Aku rasa aku tahu kenapa aku merasa begitu kosong dan kesepian."
"Katakan padaku Sehunna."
Sehun melingkarkan erat tangannya di pinggang Luhan. menyembunyikan wajahnya di dada Luhan sebelum mengatakan apa yang mereka rasakan "Aku merindukan nenek."
"Aku juga Sehunna. Aku juga merindukan nenek."
"Tapi bukan itu yang membuat hatiku kosong."
Mengetahui Sehun mulai meracau. Luhan memeluknya semakin erat, membiarkan Sehun bersandar sampai suaranya kembali terdengar "Kau yang membuat hatiku kosong Lu."
"huh?"
Merasa menjadi penyebab kekosongan hati Sehun, Luhan merasa sedikit bersalah. Namun secara tidak sengaja Sehun memang menyalahkannya. Membuat Luhan begitu tak mengerti harus merespon dengan cara apa lagi ucapan mantan kekasihnya.
"Aku lebih merindukanmu daripada nenek."
"Sehunna apa yang kau bicarakan? Aku disini memelukmu."
Sehun melepas pelukan Luhan, memaksa Luhan duduk menatapnya dengan tangan yang mengusap sedikit memaksa wajah cantik prianya "Aku merindukanmu sebagai kekasihku Lu. Tidak bisakah?"
"Sehunna."
Sehun menyadari raut bingung di wajah Luhan. Sedikit tersenyum dipaksakan sampai pikiran gila memaksanya mengatakan hal gila pula "Aku mencintaimu Lu. Masih sangat mencintaimu"
Harusnya Luhan memekik senang saat mimpinya menjadi nyata. Harusnya dia melompat ke pelukan Sehun dan membalas apapun perasaan yang Sehun ucapkan. Harusnya dia bahagia karena pada akhirnya dia dan Sehun memiliki jalan untuk kembali bersama.
Namun seolah memiliki trauma hebat dengan mantan kekasihnya-….Luhan diam. Terlalu diam bahkan terkesan bungkam, dia tak merespon apapun yang Sehun katakan. Hanya menatap kosong ke depan sampai Sehun memegang tangannya "Lu. Aku mohon."
Luhan secara refleks menjauhkan tangannya. Dan entah untuk alasan apa dia merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Kali pertama saat Sehun memintanya pergi lalu saat ini Sehun mengatakan kembali mencintainya. Apa dirinya begitu mudah ditarik kemudian dilepaskan. Apa Sehun tidak tahu bagaimana sakitnya malam itu. Membuat Luhan segera berdiri dan menjauh dari topik yang begitu sensitif untuknya.
"Aku akan pergi tidur lebih dulu."
Hanya itu yang Luhan katakan, setelahnya dia berjalan tergesa menuju kamar sebelum
Sret….!
"Lu…Jangan menghindariku lagi."
Kali kedua malam ini Sehun memegang lengannya. Membuat Luhan merasa tersinggung dan bahkan ingin menangis "Bisa kau lepaskan?"
"Aku akan melepaskannya jika kau merasa lebih baik. Maaf aku mengatakannya terlalu cepat, tapi aku tidak bisa menahannya lagi Lu. Aku benar-benar mencitaimu. Tidak bisakah?"
Luhan menatap frustasi, tangannya yang bebas digunakan untuk melepas tangan Sehun yang menggenggamnya. "Entahlah Sehunna. Aku terlalu bingung saat ini." katanya bergerak pergi sebelum
"AKU MENCINTAIMU LUHAN."
Luhan berhenti dilangkahnya. Sejauh ini dia mencoba bersabar pada Sehun, tapi saat mantan kekasihnya itu berteriak mengatakan cinta. Maka hanya goresan luka yang bisa Luhan rasakan. Tangannya terkepal begitu kuat sebelum menatap pria yang kini sedang memohon cinta setelah memaksanya pergi.
"Cinta? Kau bilang cinta padaku? Jika kau tidak mengusirku pergi malam itu mungkin kita sudah menikah saat ini. Kau adalah pria yang membuat kata cinta terdengar seperti omong kosong untukku Sehunna-….KAU!"
Luhan menunjuk marah pada diri Sehun. Setelah lima tahun akhirnya Luhan memiliki kesempatan untuk memaki Sehun, dan saat dia melakukannya maka hanya dua hal yang membuat Luhan menangis karena hal ini.
Pertama dia takut Sehun kembali mengusirnya. Kedua dia takut pada akhirnya Sehun tak akan mengatakan cinta lagi padanya.
"Karena kau, aku bahkan tak pernah sekalipun menerima cinta yang lain. Siapapun termasuk Myungsoo! Karena Kau OH SEHUN!"
Entah emosi macam apa yang sedang dirasakan dua pria dewasa malam ini. dimana yang satu terus menyalahkan sementara yang satu hanya bisa menangkap bibir Luhan menyebutkan nama pria lain, membuatnya tersenyum kecil sebelum melangkah mendekati Luhan
"Jadi ini karena Myungsoo? Jadi kau menyukainya?"
"Oh Sehun kau benar-benar…."
"JADI KAU BERENCANA MEMBALAS PERASAAN MYUNGSOO. KAU AKAN-…"
Hmphhhh….
Teriakan Sehun tertahan saat Luhan menarik kemejanya. Entah apa yang dilakukan pria mungilnya tapi Luhan sedang berjinjit dan melumat agak kasar bibirnya. Membuat Sehun diam sejenak sebelum menyadari bahwa Luhan seolah ingin mengatakan bahwa keraguannya bukan karena Myungsoo.
Dan untuk Luhan dia tahu dia bertindak sangat murahan. Karena saat dia meminta Sehun menyimpan ucapan cintanya maka disinilah dia, sedang berusaha melumat bibir mantan kekasihnya berharap ada balasan disana.
Hal gila ini Luhan lakukan karena pikirannya kosong, hatinya terlalu takut saat nama Myungsoo seolah ditekankan menjadi hal yang membuatnya ragu. Luhan tidak ingin kesalahpahaman ini semakin jauh hingga akhirnya memberanikan diri melakukan hal gila ini.
"Sehun balas aku…ngngghh.."
Luhan menggumam frustasi, dia sudah melakukan semua yang dia bisa tentang berciuman namun tak kunjung mendapatkan respon. Dia bahkan sudah memasukkan lidahnya ke rongga mulut Sehun dan menghisap seluruh yang bisa dia hisap di mulut mantan kekasihnya. Maka tak heran jika setelah beberapa lama benang saliva pun terlihat di tautan mereka.
Namun karena tak kunjung mendapat balasan Luhan berniat menyudahi lumatannya. Berniat meminta maaf pada Sehun sebelum
Nghhh…
Sehun berbalik memaksa masuk kedalam rongga mulutnya. Tangan kekarnya bahkan sudah melingkar sempurna di pinggang Luhan. Dia tahu Luhan sudah akan menyudahi lumatannya, maka jangan salahkan Sehun jika dia belum jika keintiman ini segera berakkhir.
"Sehun!-..nhhh…"
Berhasil menyusuri rongga mulut Luhan tak membuat Sehun puas. Dia segera beralih mengecupi leher menggoda mantan kekasihnya dengan kasar. Menghisap, menjilat lalu membuat beberapa tanda disana adalah hal yang dia lakukan agar Luhan sepenuhnya jatuh ke dalam pelukannya.
"rrhhh…."
Dan benar saja tebakan Sehun, tak perlu menunggu lama untuk Luhan menyerahkan dirinya. Karena saat dia mulai melucuti piyama kebesarannya-…Luhan hanya diam dan pasrah. Membuat Sehun semakin leluasa menjamah tubuh polos berbalut boxer sexy yang masih dikenakan Luhan.
"Luhan…"
Suara Sehun semakin berat karena nafsunya, dia benar-benar tidak akan melewatkan malam ini. hal yang dia lakukan kemudian adalah menggendong tubuh Luhan, membuat Luhan secara refleks melingkarkan kakinya di pinggang Sehun sementara Sehun berjalan menuju kamar dengan tangan yang meremat bokong Luhan dan bibir yang menghisap kuat di leher pria cantiknya.
"Sehun….Sehuunnaaa..nghh.."
Sehun terus menjamah tubuh Luhan tanpa jeda sedikit pun. Merasa begitu bersemangat sebelum
BRAK…!
Dengan cepat dia menindih Luhan dan mulai membuka kemeja lalu membuangnya asal ke lantai. "Sehun aku rasa kita-…arrhh.."
Mengabaikan ucapan Luhan, kini Sehun kembali melumat bibirnya. lembut namun menuntut sebelum perlahan turun ke leher hingga akhirnya sampai ke dua tonjolan kecil milik Luhannya.
"Sehun—nggh!"
Luhan menggelinjang merasakan Sehun menyesap kuat nipplenya. Tubuhnya terangkat dengan tangan Sehun yang terus bermain di paha bagian dalamnya "Luhan..Luhan…"
Seolah hanya bisa memuja Luhan, maka Sehun terus memanngil nama Luhan berharap Luhan akan membalas apapun yang dia lakukan.
Mencium dan menjamah seluruh tubuh Luhan adalah hal yang terus Sehun lakukan agar membuat Luhan sedikit "bersemangat". Dijilatnya seluruh tubuh Luhan sampai akhirnya dia sampai tepat di depan boxer hitam ketat yang masih digunakan Luhan. menjilatnya menggoda sebelum
"Sehun—aah-apa yang kau lakukan?"
Sret…!
Tentu saja Sehun menurunkan boxer hitam yang mengganggu kesenangannya. Dibuangnya asal satu-satunya kain yang melekat pada tubuh Luhan hingga terlihatlah kejantanan Luhan yang jelas sudah terangsang karena foreplay yang mereka lakukan.
"Sehun jangan mengulum—aah!"
Lagi-…Sehun mengabaikan peringatan Luhan. dikulumnya penis yang dulu sering ia jamah dan kulum sewaktu mereka bersama. Penis yang ukurannya sama sekali tak bisa dibandingkan dengan miliknya itu selalu berkedut manja inging dijamah dan dikulum.
Entah sudah berapa lama Sehun memimpikan ini yang jelas dia sangat merindukan semua tentang Luhan -wajahnya, hati dan tubuhnya- Sehun merindukannya. Membuatnya tanpa sabar mengulum kuat milik Luhan dengan tangan yang mulai keluar masuk kedalam lubang sempit yang terasa sama saat kali pertama mereka bercinta.
"hunnn—ngh.."
Sementara Sehun terus menjamahnya dengan lihai maka yang Luhan lakukan hanya menggeliat sesekali menjambak resah rambut Sehun. Mengingnkan lebih walau hatinya memberontak bahwa ini salah. Setidaknya jangan malam ini disaat mereka bahkan tak tahu jenis hubungan apa yang mereka miliki.
Setelah merasa cukup mempersiapkan Luhan, Sehun membuka celananya sebatas lutut. Tak lupa melebarkan paha Luhan untuk mencari posisi yang pas saat mereka bercinta sesaat lagi.
"Aku akan melakukannya."
Suara Sehun sepenuhnya bernafsu, sangat berat tak seperti biasa. Membuat Luhan tahu bahwa sebentar lagi mereka akan benar-benar menyatukan diri seperti dulu. "nghh…"
Luhan meringis saat penis besar Sehun mencoba menerobos masuk lubangnya. Rasanya begitu perih sama perihnya saat kali pertama mereka melakukannya saat itu. bedanya jika dulu Luhan pasrah maka setidaknya rasa sakit ini memberi kesadaran untuk Luhan.
Dia bisa merasakan kepala penis Sehun berhasil masuk ke dalam lubangnya. Namun detik kemudian Luhan meronta -langsung mengambil posisi duduk- hingga dengan tak rela Sehun harus mengeluarkan kejantanannya yang sudah setengah masuk kedalam lubang Luhan.
"hah-…hah…"
Luhan mengambil cepat selimutnya. Menutupi tubuhnya dengan maksud agar nafsu Sehun sedikit berkurang. Rasanya dia ingin menangis dengan keputusannya tapi Luhan meyakini bahwa ini adalah hal terbaik untuk mereka berdua
"Lu? Ada apa?"
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa Sehunna."
Luhan menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Banyak yang pikiran yang sialan yang memenuhi kepalanya. Salah satunya adalah tindakannya dan Sehun yang sudah terlalu jauh beberapa saat lalu.
Luhan sering bercinta dengan Sehun. Tapi itu lima tahun lalu saat mereka memiliki hubungan. Sekalipun mereka belum menjadi kekasih saat itu, setidaknya mereka tahu mereka saling mencintai hingga rasanya tak ada yang salah saat bercinta malam itu.
Berbeda dengan malam ini. keduanya bahkan tak tahu jenis hubungan apa yang mereka miliki. Munafik memang-..untuk Luhan setidaknya. Luhan jelas masih mencintai Sehun dan Sehun sudah mengatakan mencintainya. Lalu apa yang mengganjal dirinya menolak Sehun? -Entahlah..- Apapun itu pastilah sesuatu yang memberatkan Luhan.
Bisa jadi karena trauma yang ia katakan, atau mungkin Myungsoo sekalipun. Dia merasa ada sesuatu yang salah jika mereka secara gila melakukan hal egois itu. membuat hanya isakan kecil yang terdengar dari Luhan sementara Sehun mencoba mengerti namun terus gagal untuk tidak merasa sakit hati.
"Mianhae Sehunna. Aku tidak bermaksud melakukan hal ini padamu. Aku hanya-…Pikiranku kosong dan aku ketakutan."
Luhan berbicara diiringi isakannya. Dia tak lagi berani menatap Sehun yang mungkin memandangnya dengan tatapan kecewa saat ini. membuatnya sangat bingung tak mengerti mengapa dia setega itu pada Sehun.
Melihat punggung Luhan bergetar hebat membuat Sehun sedikit mengerti. Awalnya dia enggan untuk memastikan ini, tapi dia rasa hanya satu hal yang bisa membuat Luhan menolaknya malam ini. membuatnya merangkak mendekati Luhan sebelum bertanya padanya "Apa kau memikirkan Myungsoo?"
"Banyak hal yang menggangguku Sehunna."
"Dan Myungsoo adalah salah satu hal yang mengganggu pikiranmu?"
Luhan tak memungkiri bahwa Myungsoo adalah salah satu alasan mengapa dia menolak Sehun malam ini. membuatnya mengangguk membenarkan tebakan Sehun "Myungsoo salah satunya."
Sehun bahkan tidak menyadari bahwa Myungsoo mengambil tempat terlalu banyak di hati Luhan. Sehun juga berani bertaruh bahwa tempat Myungsoo mungkin sedikit lebih banyak di hati Luhan daripada dirinya. Membuat senyum lirih ia tunjukkan dengan ribuan jarum terasa menusuk hatinya.
"Araseo…Aku mengerti." Katanya membawa Luhan ke pelukannya dan mulai berbagi selimut yang sama dengannya.
"Maaf membuatmu kecewa."
Sehun hanya diam sesaat. Membenarkan posisi bersandar Luhan sebelum mencium dahinya sekilas "Wajar jika dia mengganggu pikiranmu Lu. Mau bagaimanapun selama lima tahun ini aku membiarkan tempat kosong milikku diisi oleh Myungsoo. Dan saat aku kembali aku hanya berhasil memiliki setengah dari tempatku, dan setengah yang lain dari milikku sudah berhasil dimiliki Myungsoo."
"Sehun kau tidak mengerti, bukan Myungsoo yang-…."
"Aku mengerti Lu. Sungguh."
Perlahan Sehun mengubah posisinya memunggungi Luhan. Dia berusaha untuk tenang namun tak bisa, hatinya terus berdenyut sakit menyadari kesempatannya untuk mendapatkan Luhan tidaklah sebesar egonya. Dia bahkan memaksakan nafsunya pada Luhan beberapa saat tadi.
Membuat sedikit perasaan malu bercampur menyesal ia rasakan. Dan untuk kali terakhir dia mengambil banyak nafasnya, mencoba untuk menenangkan diri sebelum menyampaikan sesuatu pada Luhan.
"Sekarang tidurlah Lu. Aku akan lebih menghormati dan menghargaimu lain waktu. Aku janji."
Setelah menghapus cepat air mata sialan miliknya, Sehun memejamkan mata. Mencoba untuk melupakan malam ini walau nyatanya kejadian malam ini akan menjadi kenangan buruk tak terlupakan untuknya "Selamat malam Lu."
Luhan menutup kencang mulutnya. Mencoba untuk tidak terdengar menangis menyesali keputusan yang ia buat beberapa saat lalu. Dia tahu dia sudah mempermalukan harga diri Sehun dikamarnya sendiri -di tempat tidur miliknya sendiri- namun sungguh bukan itu maksud Luhan. Dia hanya membutuhkan waktu untuk memulai semua ini dari awal.
Dan untuk itu dia membutuhkan Sehun membantunya. Membantunya untuk menghapus segala keraguan dan kekosongan yang terus berputar menghantuinya. Dia membutuhkan Sehun untuk melaluinya.
Mungkin benar dia memikirkan Myungsoo. Tapi satu yang tidak Sehun ketahui. Bahwa sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa mengambil tempat Sehun di hatinya-…Tidak siapapun bahkan Myungsoo sekalipun. Jikalaupun benar Myungsoo memiliki tempat di hatinya. Maka Luhan bisa memastikan dia tak pernah menempati tempat Sehun.
Kenapa?
Karena teman pertama Luhan adalah Sehun.
Karena cinta pertama Luhan adalah Sehun
Dan Karena Sehunlah lelaki pertama yang selalu ia doakan menjadi lelaki terakhir di hidupnya
Hanya Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
Mom…Kau harus selalu mengingatkan aku…
.
.
.
.
.
.
Setelah lima hari akhirnya Sehun dan Luhan sampai kembali ke Seoul. Keduanya baru saja turun dari pesawat dan baru selesai melakukan segala pemeriksaan untuk bisa keluar dari bandara.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Luhan mengangguk sebagai respon. Membiarkan Sehun membawa barang-barangnya dengan troley sementara dia hanya terus berjalan diam di sampingnya. "Baiklah."
Setelah malam itu tak banyak hal yang berubah dari keduanya. Sehun menerima dengan lapang dada penolakan Luhan sementara Luhan hanya terus berharap agar apapun yang dia lakukan tidak menyakiti siapapun.
Tak ada kecanggungan berarti yang mengganggu Sehun. Dia tetap tidur bersama Luhan di sisa hari mereka di Sydney. Tetap mengajak Luhan membeli beberapa oleh-oleh untuk timnya atau bahkan si kembar.
Sehun juga tak mengungkit apapun tentang malam panas mereka. Hanya mengingat point bahwa Luhan meminta waktu padanya. Setidaknya itu menunjukkan bahwa Luhan masih mempertimbangkannya. Membuat Sehun sedikit bersemangat dan berjanji akan bersaing sehat dengan Myungsoo untuk mendapatkan Luhan.
"Sehun."
"hmm?"
"Lihat siapa yang datang."
Luhan menunjukan pada Sehun siapa yang datang menjemput mereka. Antara ingin tertawa dan gemas dia rasakan saat melihat si model cantik yang merupakan ibu kandung Sehun berdiri tepat di tempat penyambutan bandara.
Dan entah apa yang Miranda lakukan dengan banner mengerikan itu. Yang jelas banner bertuliskan "Selamat telah menyelesaikan bulan madu" terlihat mengerikan untuk keduanya.
Sehun bahkan menurunkan topinya semakin ke bawah agar orang-orang di bandara tidak mengetahui bahwa wanita heboh di depan sana adalah ibunya.
"Mom…."
Berbeda dengan Sehun yang merasa sangat malu. Maka Luhan tanpa ragu berlari mendekati ibunya. Memeluk erat Miranda seolah menyampaikan rasa maafnya karena pergi dengan cara yang tak sopan "Lulu sayangku. Kau semakin cantik saja."
"Jangan mulai Mom."
Luhan berusaha menghindari cubitan gemas dari ibu Sehun sementara si anak kandung mengendap berjalan menjauhi dua kecintaannya yang selalu terlihat berlebihan jika bersama "Mommy tidak mulai nak. Kau memang-…Y-YAK!"
"Astaga…"
Luhan berjengit kaget sementara Sehun menggumamkan mantranya. Berharap sang ibu tidak memanggilnya sebelum
Sret…!
"Mom sakitt…."
"Mau kemana kau anak nakal? Setelah puas berbulan madu kau mau pergi begitu saja."
"ish! Berbulan madu darimana. Menyentuhnya saja tidak."
Kalimat terakhir Sehun gumamkan sangat pelan. Mengingat bagaiamana dirinya dan Luhan hanya nyaris bercinta adalah hal yang sangat menohok untuknya. Jujur saja Sehun selalu mencoba dengan keras melupakan hari itu. namun semakin dia mencobanya maka rasanya semakin miris untuk dilupakan.
"Mom sakit…."
Kedua anak dan ibu itu masih bertingkah konyol di depan umum dengan tawa Luhan yang sangat terdengar. Si pria cantik baru saja akan melerai keduanya sebelum terdengar suara lain yang memanggilnya.
"LUHAN!"
Detik selanjutnya Luhan sudah berada di dalam pelukan seseorang, pelukannya terlampau erat sampai rasanya sulit untuk Luhan bernafas. Namun saat pria yang memeluknya terdengar sangat putus asa maka rasa sesak yang ia rasakan seolah tak ada artinya saat ini "Aku merindukanmu. Aku mohon jangan marah padaku."
Ah-…Ini Myungsoo. Luhan mengenali suaranya -tidak- Luhan juga mengenali cara Myungsoo mendekapnya. Karena tiap kali Myungsoo memeluknya, Luhan bisa merasakan kesepian yang dirasakan leader nya. Membuat Luhan secara refleks pula mengangkat kedua tangannya dan mulai membalas pelukan pria yang selalu bersamanya lima tahun ini.
"L…"
"Mom…"
Sehun melihat adegan yang cukup membuat dadanya sesak. Adegan dimana Luhan memeluk pria yang jelas juga mencintainya. Rasanya sangat ingin Sehun berada di tengah-tengan mereka dan mengambil tubuh mungil Luhan ke dekapannya.
Namun ketika dia menyadari bahwa kini posisinya dan Myungsoo sama di hati Luhan-…Maka Sehun hanya bisa melihatnya dari jauh menikmati rasa perih di hatinya.
"Sayang siapa lelaki yang memeluk Luhan?"
Sehun hanya tersenyum lirih. Bukan tak ingin menjawab pertanyaan Miranda, tapi dia tidak bisa. Suaranya tercekat sementara hatinya terasa panas namun perih saat ini. sangat perih sampai terkadang nafasnya sulit untuk dia rasakan. "Dia lelaki yang hatinya juga dijaga Luhan Mom."
"huh?"
"Aku tahu aku bersalah. Tapi jangan marah padaku. Aku sangat merindukanmu Lu."
"Aku juga merindukanmu."
Secara refleks leader BTR itu melepas pelukan Luhan. Menatap dalam mata cantik Luhan untuk mencari kebenaran disana "Benarkah?"
"hmmmh…"
"Kau tidak marah lagi padaku?"
Luhan tersenyum kecil sebelum menggeleng sebagai jawaban "Aku hanya terkejut malam itu."
"Gomawo Lu."
Di depan Sehun dan ibunya, Myungsoo kembali mencium kening Luhan. membuat Miranda sedikit terkejut sementara Sehun membuang wajahnya. Luhan sendiri bergerak salah tingkah dengan tingkah Myungsoo sedikit melirik Sehun yang kini membuang muka sementara tatapan Miranda juga menunjukkan bahwa dia sangat bingung melihat apa yang terjadi di depannya.
"Kalau begitu kau pulang denganku."
"L…Aku dengan-…"
"Sudah cukup kau bersamanya. Kau denganku sekarang!"
"ah persaingan anak muda."
Miranda mengerti dimana posisi Sehun dan pria itu untuk Luhan saat ini. keduanya jelas sama-sama mencintai Luhan. Dan Luhan juga sepertinya sulit memilih. YA-…Tentu saja Luhan sulit memilih, lima tahun yang lalu si bodoh putranya yang memutuskan hubungan dengan Luhan. Jadi wajar jika Luhan didekati banyak pria atau wanita sekalipun.
Bahkan Sehun harusnya bersyukur karena Luhan masih mempertimbangkannya, karena jika dia adalah Luhan. Miranda tidak akan pernah memberi kesempatan kedua untuk mantan kekasih idiot yang membuatnya.
"Mom aku-…"
"Pergilah Lu. Sehun dengan Mommy."
Sehun masih membuang wajahnya sementara Luhan menatap tak enak hati pada Miranda. Namun saat ibunya mengijinkannya. Maka Luhan hanya membiarkan Myungsoo membawanya pergi saat ini.
Saat keduanya terlihat semakin jauh, barulah Sehun melihat ke arah Luhan. Menghela dalam nafasnya sebelum bergumam lirih "Bajingan itu bahkan tidak membiarkan Luhan membawa tasnya." Katanya menggeram kecil dengan rasa panas di hatinya tak kunjung reda.
"Nak…Apa kau baik-baik saja? Kau tidak perlu-…"
"Mom…"
"huh? Ada apa?"
Sehun tersenyum sangat dipaksakan. Membenarkan posisinya mendorong troley sebelum menatap ibunya sedikit terluka.
"Nak? Ada apa?"
"Pastikan Mommy selalu mengingatkan aku untuk mendapatkan Luhan." katanya terdengar sangat bingung sebelum berjalan mendului ibunya. Membuat sang model menatap iba putra tunggalnya dan bersedia untuk menjadi satu-satunya penyemangat putranya untuk mendapatkan Luhan -cintanya-
"Pasti nak. Pasti Mommy akan selalu mengingatkanmu."
Berbeda dengan Sehun yang tak memiliki kepercayaan diri. Maka Miranda berani bertaruh bahwa Luhan pada akhirnya akan tetap memilih Sehun sebagai cintanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Darimana kau tahu aku pulang malam ini."
Yang ditanya hanya menatap sekilas pria cantiknya. Sedikit termenung sebelum tertawa kecil dan fokus menyetir "Mereka memberitahuku."
"Mereka?"
"Kau akan segera tahu."
"Siapa yang kau maksud? Aku tidak-…."
Ckit….
"Astaga L. Apa yang kau lakukan?"
"Aku perlu menanyakan ini padamu. Aku tidak bisa menundanya lagi Lu."
Katakanlah seluruh tindakan Sehun dan Myungsoo selalu membuat Luhan was-was. Kedua pria yang dengan jelas menyatakan cinta padanya cenderung memiliki sikap arogan dan selalu sesuka mereka. Membuat Luhan menjaga jarak berjaga-jaga agar kejadian Sehun tidak terulang pada Myungsoo.
"Apa?"
"Setelah semua ini selesai. Setelah final sialan ini berakhir. Maukah kau-…Maukah ikut pergi jauh denganku?"
"huh?"
"Aku tahu seluruh keluarga dan teman-temanmu disini. Mantan kekasihmu bahkan tinggal disini, tapi bisakah kau ikut denganku seperti lima tahun lalu?"
"L apa yang kau bicarakan?"
"Aku akan kehilanganmu jika kita terus berada disini Lu! AKU AKAN KEHILANGAN DIRIMU!"
Myungsoo memukulkan kepalanya di kemudi mobil. Terus memukulnya berulang merasa hanya tinggal menghitung hari sampai dia benar-benar kehilangan Luhan.
"Hey tenanglah. Kenapa kau harus kehilangan aku? Aku dan Sehun tidak-…"
"Bukan Sehun yang menggangguku. Sungguh bukan dia yang menggaguku."
"Lalu apa? Kenapa kau bertingkah seperti ini L?"
"Entahlah Lu. Aku hanya perlu kau menjawab pertanyaanku. Aku mohon."
Sesuatu jelas sedang mengusik Myungsoo. Leadernya itu terlihat ketakutan karena sesuatu, dan entah apapun yang membuatnya ketakutan pastilah itu mengusiknya. Membuat Luhan merasa harus menenangkan Myungsoo dengan menarik dan membawa Myungsoo ke pelukannya.
"Tenanglah. Aku tidak akan pergi kemanapun."
Rasanya begitu tenang setiap kali Luhan memeluknya. Seluruh ketakutannya seolah jauh dibawa pergi dan hanya tenang yang Myungsoo rasakan. Dan karena alasan itu pula Myungsoo semakin takut kehilangan Luhan hingga rasanya rela akan melakukan banyak hal agar Luhan tetap dengannya "Lu…Aku butuh jawabanmu. Maukah kau pergi jauh denganku?"
Selalu seperti ini untuk Luhan, jika dia ingin fokus pada satu pria maka pria yang lain akan muncul di pikirannya. Ini lebih seperti saat dia bersama L maka Sehun akan terus memenuhi pikirannya. Berbeda jika dia bersama Sehun-…L hanya akan ada di pikirannya jika Sehun mulai bersikap kasar padanya.
Sebenarnya Luhan sudah bisa menyimpulkan siapa Sehun untuknya dan siapa Myungsoo untuknya. Tapi dia enggan untuk mengakuinya, alasan yang dia miliki bahkan terlalu klise takut membuat Sehun dan Myungsoo merasa terluka. Karena jauh di dasar hatinya, Luhan sendirilah yang enggan untuk merasakan sakit. Membuatnya tanpa sadar terus menarik Sehun-Myungsoo untuk merasakan sakit yang tak pernah bisa dijelaskan entah karena apa.
"Lu…."
"Beri aku waktu dan aku akan menjawabmu L. Aku janji."
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
Dilanjut minggu kalo gaujan *mulaigesreknya wkwkw
.
.
.
.
Eh a/n sedikit ya gue…boleh ya?
.
.
1. Ga nyangka ih ini udah 5K. Makasi banyak buat cintanya kalian sama MFC bikin semangat bener-…TAPI-…. Gue marah bgt loh klo ada yang bilang gue ngejar review di MFC. Ada yang bilang MFC ga di end-end in karena ini-itu. Eh kamu yang tugsnya Cuma baca tapi komplen selangit ini gue juga gemes bgt pengen END in tapi ga kena2 timingnya. Bisa aja gue besok end in. tapi terus gue nyesel karena ga sesuai sama yang gue mau *ICY contohnya. Itu FF gue paksa END sebenernya makanya gantung dan gue benci banget sama yg gantung2* jadi gue kapok dan memutuskan untuk membaca nyir2an dan tetep biarin MFC sesuai jalurnya.
2 . Tapi banyak juga yang bikin gue seneng. Kaya yang ga pernah nanya kapan end misalnya wkkwk… Yang ga pernah nanya kapan end tipe gue waktu jadi reader. Terima jadi apa yang ditulis kan ya wkwkw. Karena mikirin ending mau dibawa kemana mumetloh asli. Belum lagi ada yang rq married, m-preg segala hunhan jadi kakeknenek juga ada .
3. Gue janji ff next gue ga akan sebanyak ini. klopun ujung2nya begini lagi yaaaa mapin hidup triplet yang penuh drama wkwkwkw. Perasaan per chapter udah kisaran 6K-13K tetep aja ga kelar maap ya gengs…
4. Eh btw ini udah mau end kok. Gausa tegang gitu ah. Biar cepet gue usahain dua kali seminggu. Minggu depan END target ;p
5. Udah deh selesai.
6. Ngaku deh baca a/n apa curcolan gue :v
7. Sabar ya
8. Happy reading review
9. See u di minggu *diusahain
10. \/ *visss
.
.
.
