sassy.chessy present :
A Hunkai Fanfiction
NEVER TOO FAR
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun
It's Sequel of Fallen Too Far
Happy Reading!
.
.
.
Never Too Far : Chapter 29
- Jongin -
Sehun selanjutnya menarikku masuk ke dalam kamarku sampai pintu di belakang kami tertutup dan dia duduk di ranjangku dengan aku di pangkuannya. Aku marah pada awalnya tapi aku sudah membaik sekarang. Dia telah melawati situasi yang mengerikan dan Irene jadi marah. Aku yakin Mark senang disana tidak terjadi drama yang membuatku terlibat.
"Sehun, aku bersumpah semuanya baik-baik saja. Aku baik-baik saja," Aku menyakinkannya, menangkup wajahnya di tanganku. Berurusan dengan Irene dan kebenciannya adalah salah satu dari urusan ini. Aku tahu itu dan aku harus hidup dengan itu jika aku menginginkan Sehun di hidupku.
Dia mengeleng kepalanya. "Tidak ada yang baik tentang hari ini. Aku seharusnya tidak pernah setuju untuk makan siang dengannya disana tadi. Aku tahu yang lebih baik. Aku seharusnya tidak pernah percaya bahwa dia akan jadi orang normal. Aku benar benar minta maaf, sayang. Aku bersumpah kepadamu itu tidak akan pernah terjadi lagi."
Aku menutup mulutnya dengan mulutku dan mendorongnya ke ranjangku. "Aku sudah bilang padamu semuanya baik-baik saja. Berhenti meminta maaf," Aku berbisik di bibirnya.
Tangan Sehun meluncur naik ke bajuku dan menemukan bra ku yang sekarang berukuran dua ukuran lebih kecil. Talinya menekan ke dalam kulitku setelah ku pakai seharian. Dia melepasnya lalu menjalankan tangannya diatas kulit yang ada di bekas tekanan bra yang sakit.
"Kau membutuhkan bra baru," katanya, menyapukan jemarinya maju mundur diatas punggungku membuatku merinding karena kenikmatan.
"Mmmm, jika kau berjanji melakukan itu setiap malam aku akan baik-baik saja," Aku menyakinkannya, membungkuk untuk mencium Sehun kembali.
Dia menarik diri. "Kenapa kau tidak memberitahuku?" Sehun bertanya dengan suara yang terluka.
Memberitahunya apa? Aku menaruh tanganku ke sisi lain kepalanya dan mengangkat diriku sendiri agar berada diatasnya. "Apa yang harus kukatakan padamu?" tanyaku, bingung.
Sehun menyelipkan tangannya di sekitar sisiku hingga tangannya bergeser di bawah payudaraku dan aku lupa kami sedang berbicara. Rasanya begitu nikmat. Mengerang, aku mendorong dadaku ke tangannya dan aku bersiap untuk memohon.
"Kulitmu terpotong karena bra sialan ini, Jongin. Kenapa kau memakainya? Aku harus membelikanmu yang baru. Aku akan membeli yang baru sebelum kau pergi kemanapun."
Dia masih tetap membahas tentang braku. "Sehun, aku ingin kau menyentuhku sekarang. Jangan khawatir tentang bra ku. Hanya tolong…" Aku menundukkan kepalaku turun dan membuat gigitan kecil di bahunya dan menciumnya turun sampai ke dadanya.
"Betapa pun nikmatnya ini terasa kau tidak bisa mengalihkanku. Aku ingin tau kenapa kau tidak memberitahuku kalau bra sialanmu ini menyakitimu. Aku tidak ingin kau tersakiti."
Aku mengangkat kepalaku dan mengamatinya. Dia cemberut. Ini benar sangat menganggunya. Tidak ada yang pernah khawatir tentangku seperti ini. Aku tidak terbiasa. Hatiku membengkak dan aku mengapai bawah dan menarik bajuku dan braku lepas. "Sehun. Aku membutuhkan bra baru. Yang satu ini sudah terlalu kecil. Maukah kau membelikannya satu untuk ku? Tolong?" Aku mengodanya saat tangannya naik keatas dan menangkup payudara bengkakku membuat celana dalamku lebih basah.
"Payudara yang sempurna ini perlu untuk dirawat. Aku tidak bisa membayangkan kalau mereka kesakitan," Dia menyeringai kepadaku, "Kecuali dirikulah yang menyebabkan sakit itu." Sehun mencubit kedua putingku dengan keras dan aku berteriak.
"Payudara ini adalah milikku, Jongin. Aku melindungi apa yang menjadi milikku," dia berbisik sebelum menarik satu puting masuk kedalam mulutnya.
Aku hanya mengangguk dan bergetar didepannya. Ereksinya menekan pada klitku yang bengkak dan apabila aku mengesekannya sebentar saja aku akan langsung datang. Aku benar-benar ingin datang.
"Tenang sayang. Biarkan aku melepaskan celana pendekmu dulu," katanya menciumku turun ke perutku dimana dia berlama-lama dan mencium dengan sangat lembut. Matanya terangkat menatap diriku saat dia dengan perlahan melepaskan celanaku dan mulai menariknya menuruni tubuhku. "Sepertinya seseorang perlu perhatian. Dia membengkak dan basah. Menetes basah. Sial itu mengairahkan," Sehun bergumam saat dia mendorong kakiku terbuka dan menatap dengan rakus diantara kakiku.
Sehun menunduk diantara kakiku sampai mulutnya sangat dekat dengan klitku aku bisa merasakan hangatnya napas dia disitu.
"Malam ini aku menginap disini. Aku tidak bisa tidur mengetahui kau mungkin bangun seperti ini dan membutuhkanku. Pikiran itu membuatku gila," Suaranya berubah menjadi parau yang selalu membuatku bahagia. Aku melihat saat Sehun mengeluarkan lidahnya dan barbel perak itu berkilat mengenaiku sebelum dia menjalankan lidahnya melewati lipatan dan menyelipkannya kedalam diriku.
Aku mencengkeram kepalanya dan mulai memohon kepadanya untuk lebih saat dia membawaku pada bukan hanya satu tapi dua orgasme sebelum dia menaikkan kepalanya dan tersenyum dengan licik kepadaku. "Ini membuat ku kecanduan. Tak seorangpun seharusnya terasa semanis itu, Jongin. Bahkan tidak seharusnya dirimu."
Sehun berdiri dan menarik lepas baju dan celananya. Dia kembali berada di atasku sebelum aku bisa menikmati pemandangan itu cukup lama.
"Aku ingin kau menaikiku," katanya, menciumku lagi sementara ereksinya menyelip diantara kakiku dan mengodaku.
Aku mendorongnya mundur dan dia dengan mudah mengulingkan badannya diatasku agar aku bisa berada diatas. Melihat saat dia dengan pelan masuk kedalam tubuhku terasa lebih menggairahkan dari kata-kata nakalnya yang sering dia bisikan di telingaku untuk membuatku datang.
Aku bisa mencintai pria ini dan menjadi bahagia dengannya selama sisa hidupku. Aku hanya berharap aku mendapatkan kesempatan itu.
.
.
Hari-hari berikutnya terlewat bagaikan dalam dongeng. Aku pergi bekerja. Sehun muncul dan mengalihkanku dengan kehadirannya yang menawan; Terkadang kami berakhir di suatu tempat yang kami seharusnya tidak melakukan seks liar disitu sebelum akhirnya pulang ke kondoku atau rumahnya dan bercinta di ranjang. Yang kedua kalinya selalu manis. Yang pertama selalu intens dan saling membutuhkan bagian dari masing-masing kami berdua. Aku sangat yakin Mark sudah mendengar kami berdua di hari kami berakhir di tempat lemari sewaan saling merobek baju satu sama lain.
Aku masih mencoba untuk memutuskan apakah ini dikarenakan hormon kehamilan atau aku selalu menginginkan Sehun seperti ini. Satu sentuhan darinya dan aku akan putus asa. Hari ini bagaimanapun juga kami sedang istirahat. Aku sedang bekerja seharian di turnamen golf tahunan. Aku harus beradu dengan Mark dan Sehun untuk membiarkan aku bekerja hari ini. Tidak satupun dari mereka berpikir ini aman. Aku, tentunya, menang.
Seragam gadis kereta kami spesial dipesan untuk hari ini. Kami akan memakai seluruhnya baju berwarna putih seperti pemain golf.
Celana pendek kami diganti dengan rok untuk menyesuaikan dengan kaus polo kami. Kecuali, tentu saja, untuk Tao. Dia tetap memakai celana. Dia adalah satu-satunya pria di kereta minum hari ini. Rupanya, dia juga menjadi permintaan spesial.
"Di sana ada lima belas tim. Jongin kau mendapat giliran pertama untuk tiga tim. Dan Yuri kau mendapatkan tiga selanjutnya. Yoon kau yang tiga selanjutnya. Jay kau dapat tiga selanjutnya dan Tao kau mendapatkan tiga yang terakhir. Mereka semua wanita yang dengan khusus memintamu. Ini akan menjadi pertandingan seharian penuh. Jaga pemain golf senang dan jangan kehabisan minuman. Kembali kesini untuk mengambil stok sebelum kau kehabisan sesuatu. Kereta kalian sudah disiapkan dengan minuman dari pilihan pegolf yang kau ikuti hari ini. Kalian masing-masing akan membawa walkie talkie di kereta kalian untuk menghubungiku apabila ada yang darurat. Ada yang punya pertanyaan?" Victoria berdiri di atas beranda di tengah kantor dengan tangannya di pinggul melihat pada kami berlima.
"Bagus. Sekarang pergi ketempat kalian. Jongin akan sibuk tepat setelah pukulan pertama. Sebagian dari kalian harus menunggu dan memeriksa masing masing tim kalian sementara mereka menunggu untuk memulai lagi. Jika mereka ingin minuman berikan pada mereka. Jika mereka ingin makanan, sajikan kepada mereka. Mengerti?"
Kami semua mengangguk. Victoeia melambai kepada kami untuk pergi dan ia kembali ke kantornya.
"Aku benci turnamen. Aku harap aku tidak perlu berurusan dengan Key Lee. Dia sungguh sangat menganggu," Yuri mengeluh saat kami pergi mengambil kereta kami dan memastikan kami mempunyai semuanya sebelum menuju ke lubang pertama.
"Mungkin kau akan mendapatkan Ravi," Kataku, berharap dapat menyemangatinya.
Yuri cemberut "Tidak. Tidak ada kesempatan. Bibi Vic yang mengatur barisan. Dia tidak akan memberiku Ravi."
Ah. Jadi menurutku aku juga tidak akan mendapatkan Sehun. Mungkin itu bagus. Aku perlu fokus bekerja. Bukan melihat betapa kerennya Sehun dengan celana pendeknya dan kaos polo.
Aku memarkir kereta di lubang pertama dan pergi untuk menemui grup pertamaku. Wajah mereka semua sudah akrab dan mereka kelompok yang lebih tua. Mereka akan sangat mudah dan mereka baik sekali dalam memberi tip. Setelah memberikan mereka semua botol minuman aku pergi ke grup selanjutnya. Mengejutkan itu adalah Ravi, Jin dan Mark. Aku tidak mengira untuk mendapat mereka di grupku. "Halo boys. Bukankah aku salah satu yang beruntung?" godaku.
"Aku tadi yakin kami akan mendapatkan Yuri. Asyik, hariku sekarang baru saja jadi lebih baik," balas Jin.
"Diam," Ravi mengerutu dan menyikut Jin di sampingnya.
"Aku tidak sebodoh itu membiarkan Yuri memiliki Ravi. Dia akan mengabaikan orang lain," Mark menjelaskan.
Aku memberikan mereka semua tiga botol air. "Aku senang melayani kalian bertiga. Walaupun aku bukan Yuri," Kataku, tersenyum kepada Ravi.
"Jika aku tidak bisa memiliki Yuri kau pastinya menjadi pemenang pilihan keduaku," kata Ravi dengan seringainya. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menyukai pria ini. Dia lebih dari membuktikan dirinya sendiri akan perasaannya untuk Yuri.
"Bagus. Sekarang, kalian semua membuatku bangga," Aku bersemangat saat aku menuju ke grup berikutnya. Ini adalah grup wanita pertamaku. Aku mengenal mereka tapi tidak yakin dengan pasti siapa mereka. Aku pikir yang elegan tinggi berambut blonde itu mungkin istri Walikota.
Setelah aku memberikan mereka air soda dan memotong lemon aku menuju kembali ke depan. Hampir waktu untuk mulai. Aku melirik kebelakang dan mencari Sehun tapi aku tidak melihatnya. Aku tidak yakin di tim siapa dia berada tapi aku tau dia akan bermain. Aku beranggapan Chanyeol akan bermain bersama Sehun tapi aku juga tidak melihat dia.
.
End for This Chapter
sassy.chessy
