Chapter 29
.
.
,
Warning ALUR SINETRON MASIH BERLAKU, TIDAK SUKA SILAHKAN SKIP...
.
.
Manusia bertahan karena memiliki mimpi, impian tinggi bak imajinasi fiktif yang sedang berusaha direalisasikan menjadi kisah nyata yang indah...
.
.
.
Oh iya... wifi di rumah mati jonnn... Author akan kesulitan update. Biasanya kudu ke warnet. Tapi jauuuuh.. kalo lewat Hp bisa, ya syukurlah, ntar author akan coba2 dulu...
Dozo...
.
.
.
SAKURA'S LOVE STORY
.
Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Sabaku no Gaara,
Uzumaki Karin, Ino Yamanaka, Shimura Sai, Namikaze Naruto, Madara Uchiha, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.
.
Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.
saya Cuma minjem nama dan karakternya.
Cerita murni dari saya.
.
=SATA ERIZAWA PRESENT=
.
WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC,
.
Rated: T
.
ALUR SINETRON
.
===========ITADAKIMASU==========
/.
.
.
.
"KENAPA HARI INI AKU SIAL MELULU SIH? HAAAAAAAAAAAH" Sakura memukul keras stir mobilnya.
Ia lalu menangis. Ia tak ingin mengucapkan sumpah serapah atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini, tapi apa daya, hanya manusia biasa yang bisanya hanya bisa mengeluh.
Pergi dari rumah karena bertengkar dengan Sasuke, di jalan terjebak badai. Parahnya lagi, kini ia sedang berada di jalan yang membelah pegunungan. Kanan kiri hanya ada hutan. Mobilnya tak bisa lewat karena di depan ada pohon tumbang, mau mundur, ia tak bisa melakukannya. Ada pohon tumbang 10 m di belakangnya, ia selamat dari pohon yang hampir merobohi mobilnya tadi. Dan mirisnya, salju makin menumpuk, meski tak ada pohon tumbangpun, mustahil baginya untuk lanjut mengendarai.
Ini sudah hampir sejam ia terjebak di dalam mobilnya. Ia bahkan berfikir jika mungkin saat ini ia akan mati karena azab dari Tuhan akibat kurang ajar pada suaminya. Pergi tanpa izin dan seenaknya saja.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika aku nekat keluar dan berjalan, apakahkah ada pemukiman di dekat sini? Jika aku tetap bertahan, apa aku akan tetap selamat?" gumam Sakura. Ia lalu mengelus perutnya.. Ia menjadi sangat khawatir... "Sasuke... Hiks..."
Dulu tak masalah ia terkena hal macam ini, tapi sekarang beda, ia tak lagi sendiri. Ia tengah mengandung, ada sosok yang harus ia jaga, ia selamatkan. Ketakutannya menjadi berlipat ganda.
Ponselnya masih menyalah, bahkan batrainya juga belum habis. Hanya saja, sinyal menghalangi keinginannya untuk meminta pertolongan. Sejenak ia berfikir, sepertinya tak ada juga yang akan menolongnya, siapa juga yang mau mempertaruhkan nyawanya di cuaca extrem seperti ini?
Suhu semakin dingin.
"Sasuke... aku takut sekali.. ayah... ibu... hiksss..."
/
/
Thok.. thok... thok...
Suara ketukan kaca mobil terdengar. Seorang laki-laki bermantel tebal, memakai pakaian khas musim dingin tengah berdiri di samping mobil.
Sakura yang kedingan langsung membuka pintu mobilnya.
"Akhirnya ketemu juga..." kata lelaki itu.
Betapa kagetnya Sakura ketika mendengar suara dan melihat seorang laki-laki itu. Ia langsung memeluk sosok itu... ia menangis sekerasnya dan memukul-mukul pelan tubuh lelaki itu.
"Hiiiksssss... kenapa lama sekali! Kau tak tahu betapa takutnya aku saat ini? Hiks... kau jahat! Kau keterlaluan!"
Ya. Uchiha Sasuke sang pangeran tsundere.
"Maaf... maaf... Kau baik-baik saja?"
Sakura mengangguk... "Bagaimana kau menemukanku?"
"Aku memasang GPS di ponselmu dan menguncinya sesaat sebelum kehilangan sinyal.. Ayo kita keluar dari tempat ini, di sini akan semakin berbahaya. Puncak badai akan segera menerjang wilayah ini... Kita harus segera pergi.."
."Tapi ini kan hutan, Sasuke?"
"Harusnya dalam 3 Km lagi ada sebuah kedai ramen, kita bisa beristirahat di sana sembari menunggu badai mereda."
Sakura mengangguk. Sasuke lalu melepaskan seatbelt milik Sakura. Ia lalu melepaskan sarung tangannya dan memakaikannya pada Sakura. Beruntung Sakura memakai mantel yang cukup tebal sehingga mampu untuk menghalau hawa dingin yang menerjang tubuh.
Mereka berduapun berjalan menembus badai menuju kedai ramen.
"Kau lelah?" tanya Sasuke. "Ingin istirahat?"
Sakura menggeleng... ia hanya semakin mengeratkan pegangannya pada jemari Sasuke. "Lebih baik kita segera sampai ke kedai itu... kau tak memakai sarung tangan, Sasuke... Kau pasti sangat kedinginan..."
"Kau ingin kugendong?"
Cih, dia sok kuat... "Itu tidak mungkin, aku hamil, baka!"
"Gendong depan.."
"Kita akan mati bersama sebelum sampai di kedai ramen karena kelelahan dan kedinginan..."
Hahhaha...
Dan merekapun tertawa...
Sakura tahu jika saat inipun Sasuke sedang khawatir, mungkin juga takut. Ia tahu tubuh Sasuke gemetaran. Ia melihat rahut cemas itu nampak di wajah Sasuke yang tertutup masker. Walau Sasuke sok bersikap kuat dan baik-baik saja, sebenarnya itu hanya untuk menenangkan dirinya, hanya untuk tidak memperkeruh suasana. Jika Sasuke bersikap seperti itu, ia juga akan mengikutinya, ia tak ingin semakin membebani Sasuke yang jauh-jauh datang untuk menyelamatkannya.
./
Sesampainya di kedai ramen, mereka berdua disambut hangat oleh pemilik kedai, Orochimaru. Ada pengunjung lain yang rupanya mengalami hal yang sama dengan Sasuke dan Sakura. Terjebk badai.
Setelah selesai makan ramen dan menghangatkan badan, mereka berdua memutuskan untuk menginap.
"Disita?" Gumam Sakura.
Orochimaru hanya tersenyum... "Iya, dua minggu yang lalu saya mendapat surat peringatan penggusuran dari Uchiha Group tentang tempat ini..."
Sakura terkejut. Ia tahu ada luka di balik senyuman itu dan tunggu.. Uchiha?... "U-Uch..." Sasuke menghentikan Sakura bicara.
"Apakah paman tidak memiliki dokumen pendukung yang bisa menguatkan kepemilikan paman?" Tanya Sasuke.
Orochimaru menggeleng... "Meskipun saya memiliki sertifikat resmi dari pemerintahpun, apa bisa orang kecil seperti saya melawan perusahaan besar seperti Uchiha Group? Lagipula, mereka akan merombak tempat ini. Mungkin saja mega proyek mereka bisa membangun tempat ini menjadi lebih maju lagi..."
Sasuke dan Sakura sejenk terdiam... "Bagaimana dengan penduduk yang lain?" Tanya Sasuke.
"Mereka sebagian berencana akan melakukan demo untuk menyelamatkan hak mereka. Pembelian tanah yang dilakukan oleh Uchiha Group tidak sesuai harga yang disepakati penduduk. Mereka membeli jauh lebih murah dari harga pasar..."
"Ba-bagaimana bisa?" Kaget Sakura.
"Kami sedang berupaya untuk negoisasi kembali, jika tidak berhasil, entahlah bagaimana nasib kami nanti.. Kami senang ada perusahaan yang mau mengembangkan tempat ini, tapi setidaknya mereka juga memikirkan nasib orang-orang yang menempati tempat ini juga.. Nah ini kunci kamarnya, silahkan beristirahat. Saya permisi..."
Setelah Orochimaru pergi, Sasuke dan Sakura masuk ke kamar mereka. Sasuke menyalahkan pemanas yang ada di kamar itu. Sakura melepas mantelnya.
"Sasuke, kenapa kau diam saja melihat nasib para penduduk tempat ini? Apakah dari dulu Uchiha Group selalu seperti ini?" Tanya Sakura sembari merapikan mantelnya. Sungguh, ia sangat kesal.
"Tidak, aku dan kakek tidak akan melakukan hal ini. Kakek itu berprinsip untuk menciptakan kebahgiaan atas apa yang ia bangun." Jawab sasuke.
"Lalu ada apa dengan tempat ini? Bukankah ini tempat sangat indah? Ada mata air panas alami lagi.. sayang sekali jika dilakukan penggusuran.."
"Kau bermasalah dengan kondisi alam tempat ini atau hak penduduk yang tak sesuai?"
"Dua-duanya, jika itu aku, aku tak akan melakukan penggusuran. Aku lebih suka wilayah ini tetap asri seperti sekarang ini. Jika ingin dibangun, lebih baik wisata alam saja. Aku benci jika tempat yang indah ini menjadi gunung beton dan tempat belanja... dan juga, berilah harga yang pantas bagi semua penduduk yang tinggal di sini!"
"Proyek ini tidak jatuh ke tanganku, tapi dimenangkan oleh Paman Kakuzhu dan didukung penuh oleh paman Pain... Aku akan berbuat sesuatu dengan masalah ini..."
"Iya, kau harus melakukannya..."
"Aku ganti pakaian dulu..." sasuke pergi ke kamar mandi.
Setelah selelsai merapikan mantel dan tempat tidurnya, ia lalu duduk. Mengusap perutnya perlahan. Ia khawatir setengah mati dengan kandungannya. Sempat kedingin cukup lama dan di bawa jalan cukup jauh.
"jangan khawatir sayang, mama akan menjagamu..."
"Eh.." Tak sengaja sasuke melihat dan mendengar saat Sakura sedang berbicara dengan janinnya. Sakura langsung memerah, ia lalu mengambil selimut untuk menutupi kandungannya. Sasuke hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Canggung.
Kenapa selalu seperti ini?
Padahal tadi bisa nyaman dan nyambung saat membicarakan masalah penggusuran tempat ini.
" selesai ganti pakaiannya?" Tanya Sakura.
"Hn..." Sasuke beranjak menuju sisi ranjang yang lain untuk membaringkan badannya yang sudah sangat lelah.
Sakura yang duduk di ranjang sisi satunya juga melakukan hal yang sama, ia juga membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia miring ke sisi berlawanan dengan sasuke. Seperti yang biasa mereka lakukan. Sakura bahkan menarik selimutnya sampai ke setengah pipinya.
Mereka berdua tidur di ujung ranjang mereka, menyisakan ruang yang cukup lebar di antara mereka.
Sasuke yang belum ngantuk, ia hanya bisa menghela nafasnya. Ia belum merasa lega dengan benaknya. Ia belum berdamai dengan suasana hatinya. Ia memandang ke arah Sakura yang membelakanginya. Ia tahu jika Sakura saat ini belum tidur. Ia bahkan bisa merasakan jika sakura juga canggung dengan dirinya.
Ia ingin memegang bahu Sakura, tapi ia hentikan sebelum menyentuhnya. Ia ingat bagaimana kasarnya ia pada Sakura akhir-akhir ini. Apa lagi soal tadi siang.
"Sakura..."
"Hm?"
Mereka berbicara tanpa saling menatap lawan bicaranya.
"Apa kandunganmu baik-baik saja?"
"Iya, baik-baik saja." Jawab Sakura datar.
"Syukurlah. Kalau begitu, selamat tidur.."
"Ya."
Sakura masih marah dengannya. Hah. Begini ya rasanya dicuekin istri batinya ingin ikutan kesal. Tapi ia kembali mencoba bersabar.
"Sakura..."
Apa lagi sih? Sakura mulai kesal karena ingin segera tidur... "Hm?"
"Kau... masih marah?"
"Menurutmu?"
"Sepertinya..."
"..."
"..."
"..."
"Soal tadi siang, aku... aku minta maaf karena sudah berkata kasar padamu..." Kata Sasuke akhirnya.
Sakura meneteskan air mata. Ia merasa heran, kenapa semenjak hamil ia mudah sekali menangis? "Ano ne Sasuke... setelah apa yang kau lakukan padaku, lalu kau bilang meragukan kehamilanku itu sangat keterlaluan! Apapun yang kau lakukan padaku adalah yang pertama dalam hidupku, kenapa tega sekali kau berucap seperti itu? Hatiku bahkan lebih sakit dari melihatmu dengan Yamanaka-san..."
"Maaf.." Gumam Sasuke. Benar, apapun yang ia lakukan pada Sakura adalah pertama kalinya bagi Sakura, bahkan buat dirinya sekalipun. Ciuman itu.. sentuhan itu... semuanya... bukan berati ia meragukan kehamilan Sakura, sungguh, ia tahu jika dirinyalah yang menghamili Sakura. Kata kasarnya tadi siang hanya karena ia tak bisa mengendalikan emosinya.
"Tak ada maksud menyembunyikan masa laluku dengan Gaara-senpai... Tapi situasi membuatku sulit berucap. Aku tak menyangka jika kau memiliki hubungan rumit dengannya.. mengertilah, akupun memiliki posisi yang sulit untuk masalah ini, begitupun dengan senpai..." Akhirnya Sakura mencoba membuka diri. Ia ingin bercerita apapun pada Sasuke.
Sasuke tidak bodoh, ia juga memahami posisi Sakura... "Mengetahui jika kau adalah mantan kekasihnya membuatku sangat kesal. Darisekian banyak laki-laki di dunia ini, kenapa harus dia?.. Aku menjadi banyak berfikir dan itu sangat mengganggu. Kau sudah 'diapakan' saja sama dia?"
Urat kesal Sakura muncul. Bukankah suasana sudah membaik, tapi kenapa kata-kata Sasuke masih menyebalkan sih?... "Cih, harusnya kau paham betul bagaimana sifat Gaara-senpai itu seperti apa.. Dia sangat menghormatiku... kami berpacaran dengan cara yang sehat dan bahagia... Tidak seperti dirimu!"
Sehat dan bahagia, kini giliran Sasuke yang kesal. Maksudnya apa coba? Sakura sedang membandingkan hubungan dengannya vs dengan Gaara?... "Hai.. hai... Apa aku selalu jahat di matamu...?"
"Itu kau sadar.."
"Kau..."
"Benar kan? Bagaimana bisa kau meragukan kehamilanku padahal sudah jelas-jelas ini anakmu!"
"Aku sudah minta maaf..."
"Aku sempat ingin berpisah denganmu karena kau meragukan kehamilanku.."
"Jangan pernah lakukan itu! Aku tidak akan pernah menyetujuinya!"
"Jika kau tak menyetujuinya, setidaknya bersikaplah tegas pada diriku dan juga Yamanaka-san! Aku ini wanita, Sasuke! Aku istrimu! Aku mengandung anakmu!.. Aku tahu kau berteman sejak kecil dengannya, aku mencoba paham jika kau perhatian dengannya.. Tapi.. Tapi semakin lama kau bersamanya, aku tak bisa... dadaku terasa sangat sesak.. aku kesal.. aku.. aku.. aku hampa... hiks..."
Mendengar isakan tangis Sakura, Sasuke lalu menggerakkan badannya mendekati Sakura. Tubuh Sakura gemetar. Sasuke, mengusap perlahan untuk menenangkan Sakura...
"Meskipun aku merasakan sakit di dadaku, tapi aku bisa apa?... Kau mencintainya.. aku sudah tahu sejak awal sebelum kita menikah... Kau meninggalkannya demi perjodohan denganku.. Di sini, akulah orang jahatnya..." Lanjut Sakura. Ia menangis tersedu-sedu.
Apa sudah waktunya ia buka suara? Sasuke merasa jika ia sudah banyak membuat Sakura kesakitan.. "Aku memiliki perasaan pada Ino, itu benar adanya..."
Sakura melebarkan matanya, ia lalu memejamkan mata perlahan karena dadanya terasa semakin sesak. Seketika itu air matanya semakin deras mengalir.
"Tapi itu dulu.. sekarang sudah berbeda..." Lanjut Sasuke.
"..."
"Aku menaruh perhatian lebih pada Ino karena aku berjanji akan menjaganya. Dia sudah tidak memiliki ibu, aku merasa tanggung jawab akan dirinya.. Soal perasaan yang kau maksud, tidak seperti itu... Perasaan itu sudah tidak ada.. memang seharusnya tidak ada..."
Suara sasuke terdengar perih.. Sakura tahu, Ino dulu menolak perasaan Sasuke. Itu artinya, dulu Ino tidak memiliki perasaan romantis pada Sasuke. Cinta yang tak terbalas. Itu pasti sangat sakit... "Meski begitu, haruskah sampai segitunya kau menghawatirkannya? Kau bahkan sampai terkena isu yang tidak baik, belum lagi soal kecelakaaan itu. Kau menjadi tahanan kota, dan apa yang kau lakukan saat ini? Kau bahkan keluar kota, kau bisa dipenjara saat kembali nanti.."
"Apa aku harus diam saja saat mengetahui kau dan anak kita dalam bahaya? Aku mencoba bersikap baik, Sakura..."
"Kalau kau niat mencoba bersikap baik padaku, JAUHI YAMANAKA-SAN!"
"Kenapa kau meninggikan suaramu? Kau membencinya? Dia temanku, Sakura..."
"Aku tidak membencinya, aku HANYA TIDAK SUKA DIA MENEMPEL PADAMU SEPERTI ULAT GENIT MENYEBALKAN!"
"Kau... cemburu?"
"IYA AKU CEMBURU! KARENA AKU MENCINTAIMU, MAKANYA AKU CEMBURU!"
?
?
Sakura menutup mulutnya. Bagaimana ia keceplosan mengucapkan jika ia mencintai Sasuke?.. Bukankah itu artinya jika dia sedang menyatakan perasaannya? Pipinya memanas. Ia lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia sangat malu..
Sasuke yang juga kaget dan sekaligus... tak menyangka akan mendapat pernyataan cinta dari 'istrinya' sendiri, ia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia bahkan memerah dan tersenyum.
Ia lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Sakura. Sakura mencoba menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Sasuke menyingkirkan kedua tangan itu. Ia menatap wajah Sakura. Sangat memerah. Sakura juga merasa malu, sama seperti dirinya.
"Sa..Sakura... tataplah aku! Aku merasa jika kau tak pernah menatapku dengan benar..." Pinta Sasuke. Sakura perlahan memberanikan diri untuk menatap balik Sasuke.
"Sa-Sasuke..."
"Aku senang! Aku sangat senang, Sakura!" potong Sasuke dengan cepatnya. "Bisakah kau mengulanginya?"
"Tidak."
"Ayolah, sekali lagi!"
"Tidak!"
"Aku ingin memastikan saja jika apa yang aku dengar tadi itu tidak salah.."
"Kau salah dengar, Sasuke... Jadi lupakan saja dan segera tidur!"
Segitu malunya sampai harus seperti itu? Mengalihkan pembicaraan. Tapi, apa ia salah dengar? Tidak, ia yakin Sakura mengungkapkan perasaannya. "Lupakan?"
"Iya, lupakan saja! Tidak penting juga buatmu..."
"Maaf saja Sakura, aku tak ingin melupakannya..." Sasuke lalu mencium bibir Sakura dengan lembut.
Sakura melebarkan kedua matanya. Sasuke melepaskan ciumannya. "Ke-kenapa kau menciumku?"
"Bukankah kau juga menginginkannya?" Seringai Sasuke.
Perempatan muncul, dengan gerakan sangat cepat, Sakura menjedotkan jidatnya ke jidat Sasuke... "FORHEAD ATTACK!"
Aaakkkhhhhhhhhh...
"SAKIT, BAKA!" Sasuke memegangi jidatnya.
"Bukankah sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk berciuman? Aku tak mengira kau akan melakukannya..."
"Bagaimanapun aku ini laki-laki... Aku ingin berbaikan denganmu..."
"Aku hargai niat baikmu... aku juga tak ingin berlarut-larut stress karenamu..."
"Sakura... apa kau pernah berciuman dengan gaara?"
"Hah? Kenapa dari sekian kata untuk berbaikkan kau justru memilih pertanyaan seperti itu? Niat baikkan gak sih?"
"Jawab saja apa susahnya..."
"Iiiishhh... Tentu saja tidak! Sekalipun tidak pernah!"
"Kau sering berduaan dengannya.. waktu di dapur kemarin..."
"Dia membantu mengambil sisa makanan di pipiku..." Entah kenapa ia ingin menjawab semua pertanyaan dari Sasuke dengan jujur.
Sasuke menjadi banyak bicara malam ini. Tepatnya ia menanyakan apapun soal hubungannya dengan Gaara. Padaha ia sudah memberitahu Sasuke jika Sasuke adalah yang pertama dalam hidupnya, tapi tetap saja, Sasuke masih haus penjelasan.
Sasuke juga bertanya bagaimana mereka bisa bertemu, jadian, dan akhirnya memutuskan untuk pisah. Sungguh, malam ini, hanya dengan menurunkan ego untuk saling terbuka, ia bisa mengenal sosok Sakura jauh lebih dekat lagi. Kenapa ia tidak sejak dulu membuka komunikasi dengan Sakura?
Bahkan, Sakura juga bertanya soal Ino. Sasuke memberikan akses soal Ino kepada Sakura. Sakurapun membahas panjang lebar soal hubungan Sasuke dan Ino. Masih sakit juga saat mengetahui seberapa besar perasan Sasuke pada Ino.
"Aku tahu kau memiliki perasan terhadapnya, Sasuke... Tapi, sekarang aku mengandung anakmu. Kau juga tak ingin bercerai denganku. Aku tak tahu harus bagaimana... Jujur saja, itu sulit buatku..."
"Aku bilang aku bertanggung jawab akan hidupmu!"
"Tapi kau juga memiliki tanggung jawab akan dirinya, kan?"
"Sakura..."
"Andai saja kau bisa memilih salah satunya antara Yamanaka-san atau diriku beserta anakku..."
"..."
"Benarkan? Aku sudah tahu kau akan kesulitan... Aku sadar kok, aku ini orang baru dalam hidupmu. Aku tak bisa dibandingkan dengannya. Aku sudah kalah sebelum bertanding dengannya... Mungkin kau tetap bersamaku hanya karena aku mengandung anakmu... Kau merasa bersalah karena sudah menghamiliku, makanya kau berusaha tanggung jawab... Aku bisa memahamimu, Tuan..."
"Bicara apa kau ini, hah? Bukankah kau bersedia percaya padaku?"
"Aku ingin percaya padamu, Sasuke... Tapi sekarang menjadi sangat sulit... Soal aku bilang mencintaimu, itu benar. Aku memang mencintaimu, aku tak tahu sejak kapan dan seberapa dalam.. Sungguh, aku berusaha keras untuk percaya padamu, hanya saja, hubunganmu dengan Yamanaka-san terus saja berputar-putar di kepalaku... Aku tak tahan dengan semua itu..." Sakura mulai menangis lagi.
"Berapa kali harusku bilang padamu, Sakura... perasaanku pada Ino sudah lama berakhir... Wanita yang kucintai sudah ada di depanku saat ini, kenapa kau justru memaksaku mengingat masa laluku dengan Ino?"
Sakura menatap Sasuke... "Sa-Sasuke? Kau..."
"Ya, aku juga mencintaimu, bukan Yamanaka Ino!"
"..."
"Kau ingin aku mengulanginya?"
"Katakan sekali lagi Sasuke..."
"Aku mencintaimu, Uchiha Sakura..."
Sakura menangis keras... Sasuke tambah bingung. Kenapa justru Sakura makin menangis? Bukankah ia memblas perasaan Sakura? Harusnya Sakura bahagia, kan? Apa ini tangis bahagia? Kata orang, jika terlalu bahagia, bisa bercampur dengan air mata... Ahh.. wanita memang sulit dimengerti.
Sasuke lalu memeluk Sakura. Ia mencium kening Sakura untuk menenangkannya...
"Merasa lebih baik?" Tanya Sasuke setelah ia tak lagi mendengar tangisan Sakura.
Sakura mengangguk... "Terima kasih..."
Sasuke melapaskan pelukkannya... "Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Ino secepatnya. Soal insiden kecelakaan itu, percayalah, aku tak tinggal diam. Aku memiliki rencanaku tersendiri..."
"Iya.."
"Ano... Sakura..."
"Hm?"
Sasuke memalingkan wajahnya... "Bo.. bolehkah aku memegang perutmu? Selama kau hamil, aku belum pernah melakukan hal ini.. aku ingin menyapa anak kita..." Ia memerah.
Sakura meraih tangan kanan Sasuke menuju perutnya yang sudah lumayan membesar... Sasuke bisa merasakan kehangatan memancar di telapak tangannya. Menyentuh batinnya. Menarik senyuman tulusnya. Ia bahagia, sangat bahagia. Di dalam sana, sedang berjuang hidup, anaknya dengan Sakura.
"Bolehkah aku melakukan ini setiap hari?"
"Hm, tentu saja... Kau kan papanya..."
Sasuke mencium bibir Sakura... "Arigatou..."
Dan mereka kembali saling berciuman. Menyalurkan kasih sayang yang amat besar. Menyalurkan segala perasaan yang selama ini tak tersampaikan, tak terucapkan. Mereka saling mencintai. Mereka saling menyayangi. Mereka saling melengkapi. Mereka saling memaafkan jiwa yang terluka. Berdamai dengan masa lalu. Masa lalu adalah kenangan, meski tak diinginkan, hanya saja, manusia tidak bisa berdiri hari ini tanpa adanya kisah masa lalu..
"Sakura.. aku..."
Suasana memanas meski terselimut salju nan tebal..
"Lanjutkan...!"
"Tapi kau sedang hamil..."
"Tak apa jika kau berhati-hati..."
"Hm..."
Mereka saling tersenyum. Saling percaya melebihi apapun.
.
.
Badai salju bersaksi, Cinta baru mulai bersemi...
.
.
.
"Aku mencintaimu, Sasuke-kun..."
.
.
.
.
.
.
"Aku lebih mencintaimu, Sakura..."
.
.
.
.
.
Dan badai gelora asmara beradu dengan badai salju yang membahana... #preeet hahahhha
.
.
.
.
======= BERSAMBUNK=======
.
.
.
.
PREEET banget mah untuk chapter kali ini... sekali lagi gomen for telat updatenya.. ini sudah di buat, tapi You know.. wifinya lagi off.. hahahahha...
.
.
.
Tapi aku sedang berusaha keras kok...
.
.
.
Bye bye...
