Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ To Be A Princess ~
[ Chapter 28 ]
.
.
Setelah mendapat surat dari ayahnya dan menunggu hingga dia lulus SMA, Izuna mendapat kebebasannya, Itachi membantunya untuk meminta ijin pada kakek buyutnya tentang Izuna yang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dalam surat itu, ayahnya hanya meminta untuk tinggal sementara waktu bersama mereka saat Izuna sedang kuliah.
"Aku akan sangat merindukanmu." Ucap Itachi.
Izuna sudah merapikan pakaiannya dan mulai menarik kopernya.
"Tidak perlu seperti itu, aku saja tidak akan merindukanmu." Ucap Izuna, akhir-akhir ini sikapnya sedikit berubah walaupun tidak seceria dulu, Itachi berusaha menopang Izuna dari masa terpuruknya, yang di lakukannya hanya bisa membuat Izuna merasa lebih baik tinggal di istana tanpa kedua orang tuanya.
"Ah, sampai kapan pun kau akan menjadi pangeran menyebalkan, oh iya, tanggal pernikahanku sudah di tetapkan, datanglah saat hari itu, aku akan sangat senang jika kau hadir." Ucap Itachi, kabar pernikahannya dengan putri Izumi sudah di beritakan.
"Semoga aku tidak lupa."
"Jika kau tidak datang, aku akan mengirim pengawal dan memaksamu datang." Ucap Itachi.
Sebuah senyum di wajah Izuna, memegang bahu Itachi. "Terima kasih atas selama ini, jaga dirimu." Ucap Izuna.
Berjalan pergi dan membawa sebuah tas kopernya. Hampir mendapat gerbang dan langkahnya terhenti, Sasuke berjalan dari arah depannya dan langkah mereka sama-sama terhenti.
"Kau akan pergi?" Ucap Sasuke.
"Hn. Belajarlah yang lebih rajin, aku tidak bisa mengajarimu lagi." Ucap Izuna.
"Aku akan belajar sendiri." Ucap Sasuke.
Izuna terdiam, menatap Sasuke yang kini sudah sedikit lebih besar dari dulu, dia yang akan menggantikannya, amanah itu berpindah tangan, Sasuke lah yang akan mencari gadis bermarga Haruno itu dan menikahinya, ada perasaan kecewa dan kembali rasa tidak adil itu membesar dalam dadanya.
"Sampai kapan pun aku masih tidak akan menerimanya, takdir itu." Ucap Izuna dan berjalan melewati Sasuke.
Sasuke tidak berbicara apapun dan hanya terdiam, dia merasa Izuna sedang membangun tembok darinya, membatasi diri mereka, orang yang awalnya menjadi panutan baginya, Sasuke jauh lebih berharap pada Izuna dari pada kakaknya sendiri, mereka selalu di samakan dan terlihat seperti saudara kembar, Sasuke tidak keberatan, dia senang Izuna seperti kakak kandungnya sendiri, orang jenius yang akan selalu di andalkannya.
.
.
.
.
.
Izuna Pov.
Kota Suna.
"Ahh..~ laparnya, makan di sana saja, mereka punya ramen yang enak." Ucap seorang gadis berambut softpink dengan seragam SMPnya.
"Mau makan mie lagi? Kita sudah makan mie kemarin." Ucap gadis lainnya, mungkin teman gadis berambut softpink itu
"Ayolah, makan ayam saja." Ucap gadis lainnya lagi.
"Jajan ayam?"
"Apa tidak ada makanan lain lagi?"
"Aku pulang saja kalau begitu."
"Jangan pulang, Sakura!"
Aku menemukannya, gadis berambut softpink itu bermarga Haruno, sekarang dia masih SMP kelas 2, menatap sebuah foto keluarga yang di kirimkan padaku, wanita yang bernama Haruno Mebuki itu adalah calon menantu kerajaan, tapi mungkin dia pun tidak tahu tentang amanah ini dan pada akhirnya, anaknya yang akan mendapat amanah itu, ini tidak jauh beda dengan kasus di keluargaku, ayah sudah memilih ibu dan amanahnya turun padaku, tapi amanah itu akhirnya berpindah, aku hanya bisa melihat dari jauh gadis itu, begitu polos dengan umurnya yang masih begitu muda, kedua orang tuanya menatap di Suna, aku mendapat begitu banyak informasi setelah datang kemari untuk melanjutkan perkuliahanku, tidak menyangka ayah memilih kota ini sebagai tempat tinggalnya.
Setahun berikutnya.
Ayah meninggal, ibu tidak berbicara apapun padaku, dia tidak ingin mengatakan sebuah kebenaran yang mungkin tidak akan bisa aku terima tentang kematian ayah, ibu memintaku untuk tetap fokus pada kuliahku dan menjadi orang sukses untuk melanjutkan keinginan ayah menjadi pangeran yang baik dalam pandangan kerajaan, sejujurnya aku tidak begitu sudi akan hal itu.
Berikutnya, Sakura tiba-tiba pindah, keluarganya kembali ke Konoha dan menetap di sana, seperti sebuah rencana, apa ada yang merencanakan hal ini? Mereka pindah setelah aku mendengar jika kakeknya mewariskan sebuah rumah dan sebelum meninggal beliau ingin anak dan cucunya itu kembali ke kediamannya di Konoha.
Aku tidak senang mendengar berita itu.
.
.
Pada akhirnya.
[Suara tv]
Hari ini kami akan saksikan acara pernikahan pangeran Uchiha Sasuke generasi ke-9 dari kerajaan Uchiha dengan seorang gadis yang bermarga Haruno, dia gadis dari keturunan tabib terbaik kerajaan terdahulu...
Piip.
Hampir seluruh stasiun tv menyiarkan hal itu, Sasuke dan Sakura akhirnya menikah, bagaimana jika Sakura tahu kalau Sasuke bukanlah calonnya? Aku merasakan sesak dan kesal yang amat sangat terasa, ini sangat tidak adil.
.
.
Aku kembali ke Konoha setelah bertahun lamanya, Shisui yang memaksaku untuk kembali, dia ingin melihat kondisi ibunya, aku sudah mendengar kasus yang menimpa bibi Yuko, suaminya memang perlu mendapat pelajaran.
Saat itu, aku bertemu dengannya lagi, dia sudah menjadi putri mahkota dan terlihat berbeda saat aku menemukannya dengan seragam SMPnya dulu di Suna, dia duduk bersama Sasuke, wajah yang tidak berubah, tapi kali ini dia berdandan saat acara pemberian nama untuk anak dari Itachi, sudah lama aku juga tidak bertemu pangeran kasar itu, dia jauh lebih tenang bahkan dalam berbicara dan bersikap.
Mata hijau zambrut itu mengarah padaku, aku sadar sejak tadi dia melihat ke arahku dan Shisui, mungkin saja dia baru melihat kami, tapi aku sudah lama melihatmu putri Sakura, dan lagi tatapan tajam di sebelahnya, dia seakan tidak suka jika aku menatap ke arah Sakura, bahkan gadis itu mendapat teguran, aku bisa melihat gelagatnya saat Sasuke melihatnya menatapku, apa kau sedang marah Sasuke? Aku tidak merebutnya, kaulah yang merebutnya.
.
.
"Tunggu." Ucapku padanya, aku ingin berbicara dengannya.
Aku bisa mendengar para dayang yang berada di sebelahnya memperingati Sakura, apa itu perintah dari Sasuke?
"Hanya sebentar saja." Ucap Sakura pada kedua dayangnya, dia ternyata gadis yang baik dan bahkan peduli pada orang yang baru saja di lihatnya, sikapnya terlihat lebih kaku dan seakan berusaha menyamankan diri menjadi seorang putri, tapi dari cara bicaranya dia kesulitan, ini sangat menarik bagiku.
"Ada apa Yang mulia? Ah, maaf, sebelumnya, selamat datang kembali ke istana Yang mulia, mungkin aku tidak begitu pantas untuk mengatakan ini pada Yang mulia karena aku termasuk orang baru, tapi setidaknya terimalah ucapanku ini." Ucapnya, lucu, dia berusaha berbicara sesopan dan seformal mungkin padaku, aku ingin melihat dirinya yang asli, seorang Haruno Sakura, bukan Uchiha Sakura.
Aku mulai berbicara padanya tentang ayahku, aku yakin Sasuke sudah cerita padanya, hal ini sudah bukan lagi masalah yang perlu di tutupi, aku sedikit memancingnya, tatapannya terlihat dia masih kebingungan, setelah menyederhanakannya.
"Seharusnya yang menjadi suamiku adalah Yang mulia pangeran Izuna!" Ucapnya dan inilah Haruno Sakura, sikap aslinya lebih terpancar saat dia spontan berbicara.
Sayangnya, pembicaraan kami cepat berakhir, Sasuke datang dan dia memperlihatkan tatapan tidak senang itu padaku.
"Masih tidak berubah pangeran Sasuke dan maaf jika aku sedikit lancang membiarkan putri Sakura terlambat kembali ke kediamannya." Ucapku.
"Aku tidak sudi untuk mendengar maaf itu dan jaga jarakmu dari putri Sakura, dia adalah istriku." Ucapnya. Dia marah? Siapa yang seharusnya merasa ini tidak adil?
Membiarkannya pergi, aku merasa Sakura akan kesulitan jika dia berada di dekatku. Setelah pembicaraan kedua kami, Sakura mulai jaga jarak dan seakan takut padaku, aku hanya memeluknya sekali untuk menegaskan perasaanku padanya sejak dulu, saat kami akan di takdirkan, aku sudah mencari tahu apapun tentangnya, bahkan bertemu dengannya saat dia sama sekali tidak tahu siapa aku.
Pada akhirnya.
Sasuke lah yang menang.
Dia membuat Sakura hanya menatapnya.
Apa aku harus menyerah sekarang?
Ending normal Pov.
Ending FlashBack.
.
.
.
.
Di resort Konoha.
Setelah mandi dan membersihkan wajah dari make up rasanya begitu segar, aku ingin segera tidur, rasanya bahaya sudah menjauh dariku, aku harap raja gemuk itu segera pulang dan tidak perlu melihatnya lagi, sekarang bukan cuma pangeran Izuna yang menjadi ancaman, raja itu juga yang akan membuatku dalam masalah, melirik ke arah ranjang, Sasuke sudah berbaring di sana, apa dia sudah tidur? Melirik jam, ini masih jam 10 malam, kita pergi dari pesta lebih awal.
Mengeringkan rambutku dan berbaring, aku juga ingin cepat tidur dan besok sudah pulang, akhirnya, lebih baik berada di kediaman dari pada di resort ini dan tidak menikmati apapun, kecuali ruangan pijatnya.
Terkejut, Sasuke tiba-tiba bangun dan menindihku.
"Kau sedang mandi atau tidur di dalam, kenapa lama sekali?" Ucapnya.
"A-aku pikir kau tidur, aku hanya sedang menikmati berendam bunga dan sempat tertidur sih." Ucapku dan terkekeh.
"Aku tidak tidur." Ucapnya dan tatapan Sasuke terlihat aneh, dia menatap seperti itu? Tatapan sayup yang menenangkan.
Cup..~
"Ke-kenapa menciumku?" Ucapku, terkejut, aku yakin wajahku sudah merona.
"Aku pikir ini waktu yang tepat dan ini." Ucap Sasuke dan memberikanku sesuatu, sebuah kotak dan membacanya.
"Kon-" Berhenti membaca dan membulatkan tatapanku. "Se-sekarang!" Panikku.
.
.
TBC
.
.
update lagi...
uhm.. sepertinya fic ini akan berhenti sementara waktu, bukan hiatus atau apapun, author hanya akan ada kesibukan beberapa hari kedepan dan bakalan nggak sempat ngetik apalagi mikir, mungkin akan update lagi hari senin, kira-kira begitu lah, sorry, berharap nggak ada yang protes, hehehehehe.
*sempatkan untuk membaca review*
sebenarnya untuk alurnya yang Lemon & Lime dan sebagainya itu author kurang pandai bahkan cukup buruk untuk membuatnya, ini udah sering author katakan, bahkan di semua fic author yang rate M, jadi jangan terlalu banyak berharap jika author Sasuke Fans ini membuat fic dengan rate M dan ada lemonnya, lemonnya itu bakalan jelek, kaku dan rada-rada aneh, kadang iri sama author yang amat sangat pandai membuat rate M plus lemon, tapi, memang author sendiri tidak begitu suka alur lemon yang over, lebih patokan pada alur pokoknya saja, lemon dan lime pun kadang akan jadi selingan yaaa itu pun selalu tidak sesuai dengan harapan reader XD.
mungkin hanya sempat untuk membalas salah satu review saja, author benar-benar sibuk, hiks, berharap bisa segera lanjut fic ini lagi.
see you next chapter.
hari senin yaa...!
