Author : Melody-Cinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Pairing : Naruto U. x Hinata H. ?

Singer : She

Title : Bukan Untuk Sembarang Hati

A/N : Ini sequel chapter 16

.

.

(Naruto PoV)

Sore ini, aku mematut-matutkan diriku di depan cermin. Rencananya sih sore ini aku dan Hinata akan pergi kencan ke taman dekat sekolah. Hm, di kencan kami nanti, aku ingin sekali memberikan kenangan yang tak terlupakan bagi dia. Aku akan menjadikan sore ini adalah sore terindah yang pernah ia miliki seumur hidupnya.

Setelah yakin penampilanku cukup oke, -sangat oke malah, haha- aku berjalan keluar dari kos-anku. Aku memandang langit sore yang tampak oranye, wuah, untung saja hari ini cerah ya! Tapi, apa tidak lebih bagus hujan? Siapa tahu aku dan Hinata bisa satu payung atau.. em.. basah-basahan? Kelihatannya asik!

Tak kusangaka setelah aku berkata seperti itu, langit mulai menjadi gelap. Dan awan hitam sudah berkumpul diatas. Ya Tuhan, apakah kau benar-benar mendengar perkataanku barusan? batinku.

Aku berlari menuju ke tengah taman. Disana terlihat seorang gadis berambut indigo panjang sedang duduk termenung. Ha, kalian pasti sudah tau itu Hinata! Pacarku yang sangat cantik itu! Dan tentu saja yang sangat aku cintai!

Aku dengan cepat menghampirinya, "Hai, Hinata-chan!" sapaku dengan senyum lebar andalanku. "Sepertinya kita harus pindah tempat, sebentar lagi akan hujan." aku memberitahunya. Menggandeng tangannya menuju sebuah kafe di pinggir jalan. Setidaknya kami bisa berteduh sambil makan. Hehe..

Diluar, rintik-rintik air hujan sudah mulai terlihat. Dan semakin lama semakin deras. Hawanya pun semakin lama semakin dingin. Kurapatkan jaketku dan kulihat Hinata; memastikan dia kedinginan atau tidak.

Kulihat bahunya bergetar. Sepertinya ia kedinginan. Dengan sigap aku mengabaikan rasa dinginku dan memberikan jaket cokelatku kepada Hinata. "Pakai ini agar kau tidak kedinginan," ujarku. Hinata mendongak kearahku, kulihat wajahnya pucat dan seperti menahan tangis, ada apa ini? "Hinata? Kau kenapa? Kau sakit?" tanyaku dengan panik.

Hinata menggeleng pelan. Ia meraih tanganku, "Kiba.. dia kecelakaan. Dan sekarang keadannya kritis.." jawab Hinata. "Aku khawatir.. Aku menunggumu agar kita bisa menjenguk Kiba bersama-sama." lanjut Hinata. Dari matanya sudah terlihat sangat khawatir.

Aku tertegun. Sebegitu berhargakah Kiba baginya?

Aku mengangguk pelan, "Ayo kita ke rumah sakit." ucapku datar sambil memegang tangan Hinata lalu keluar dari kafe kecil itu.

:Aku cinta mati padamu,

Tak kan sanggup aku tanpamu,

Bahagiamu itu bahagiaku,

Dan setiap airmatamu, itulah juga kesedihanku:

Hinata segera berlari menuju ruangan Kiba dan menggenggam tangan Kiba. Dan walaupun tidak terlalu heboh dan kelihatan, tapi aku sebagai pacarnya sangat tahu bahwa dia sedang menangis dalam diam.

Aku hanya berdiri di belakang Hinata yang sedang duduk dan menggenggam tangan Kiba. Jujur saja, aku sangat cemburu, tapi apapun yang terjadi, Kiba adalah sahabat Hinata, aku tidak boleh cemburu.

Jam demi jam terlewat begitu saja. Tak terasa sekarang sudah waktunya makan malam. "Hinata," panggilku sambil menepuk pundaknya, ia menoleh kearahku, "Sekarang sudah waktunya makan malam, lebih baik kita pergi makan dulu. Kalau telat makan, kau bisa sakit." ujarku.

Ia menatapku ragu. Lalu ia melihat Kiba yang masih terbaring tak sadarkan diri, dan kembali melihat kearahku. Sejenak menunduk, lalu ia berdiri, "Baik, Naruto-kun." ujarnya pelan. Aku menggandeng tangannya keluar dari ruangan Kiba. Sebentar aku melirik kearah Kiba. Tuhan, jangan buat Hinata mengurangi rasa cintanya padaku hanya karena Kiba.. Aku sangat mencintainya.

:Aku cinta mati padamu,

Jangan pernah meragukanku,

Terlalu dalam cintaku ini,

Mungkin kau bisa mati,

Bila harus kehilangan dirimu:

Hinata memakan makanannya dalam diam. Sepertinya ia sedang melamun.

"Hinata, aku ingin kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu." ujarku memecah keheningan diantara kita.

Ia menatapku datar, "Aku juga mencintaimu, Naruto-kun." jawabnya membeo.

"Hinata," aku kembali memanggil namanya, tak puas dengan jawabannya tersebut. "Kumohon, aku tidak bermaksud melarangmu tapi, sungguh, aku tidak suka kau terlalu mengkhawatirkan Kiba seperti itu. Bisakah kau berhenti memikirkan dia dan makan dengan tenang bersamaku? Aku pacarmu, Hinata." jelasku berharap ada respon lebih dari Hinata.

"Aku tahu itu, Naruto," responnya. "Tapi seharusnya kau bisa mengerti. Keadaan Kiba saat ini sangat tidak memungkinkan aku untuk selalu bersamamu. Aku yakin kau pasti tahu tentang Kiba yang cinta mati padaku, kan? Dia sangat membutuhkan aku saat ini." jelasnya.

Aku menggenggam tangan mungil Hinata, "Bukan hanya Kiba yang cinta mati padamu, Hinata. Aku juga!" ujarku memberi penekanan. Aku mengerti keadaannya, tapi.. aku juga tidak mau kehilangan Hinata!

Ia melepas tangannya dari tanganku, "Maaf, Naruto, makananku sudah habis. Aku akan kembali ke ruangan Kiba." dan ia pun pergi meninggalkanku di kantin rumah sakit sendirian.

:Bukan, untuk sembarang hati,

Aku katakan ini,

Sungguh aku cinta kamu,

Bukan, untuk sembarang hati,

Hingga nafas berhenti,

Aku rela berlelah untukmu:

Aku duduk di sofa ruang rawat Kiba. Masih menunggu kapan Hinata akan berkata padaku, "Cukup sampai disini aku bersedih untuknya, ayo kita pulang.". Tapi pertanda Hinata akan berkata begitu padaku tidak ada sama sekali. Nihil. Itu semua hanya harapan kosong.

Aku melirik jam tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan itu sudah waktunya kami untuk pulang. Aku kembali mengingat rencanaku tadi sore, aku akan membuat kenangan yang tak akan dilupakan oleh Hinata. Tapi.. sepertinya aku gagal. Ini malah kenangan buruk yang tak terlupakan olehku. Aku berdiri dan mengampiri Hinata, "Sudah jam sembilan Hinata, ayo kita pulang. Aku tidak mau Hiashi-sama memarahiku karena telat mengantarmu pulang." ujarku. Hinata masih tak bergeming.

"Tapi Naruto-kun.." ia terdiam. Sepertinya ia ragu antara ikut pulang bersamaku atau masih menunggu Kiba disini.

"Hi.. na.. ta.." tiba-tiba saja suara Kiba memecah keheningan diantara kita. Dia mengigau. Itu adalah pertanda bahwa ia sudah sadar. Tapi, sungguh, di lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak rela ia mengigau sambil memanggil-manggil nama Hinata.

"Kiba!" Hinata kembali memegang tangan Kiba. "Kiba, aku ada disini. Tenang, Kiba.." ujarnya, membuatku semakin cemburu dan kesal. "Naruto! Kumohon kau panggil dokter!" Hinata menyuruhku. Aku hanya mengangguk dan keluar dari ruang rawat Kiba dengan perasaan campur aduk antara kesal, khawatir dan sebagainya.

:Aku cinta mati padamu,

Jangan pernah meragukanku,

Terlalu dalam cintaku ini,

Mungkin aku bisa mati,

Bila harus kehilangan dirimu:

Setelah kami mendengar penjelasan dokter dan menunggu Kiba sebentar, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Cuaca diluar memang masih gerimis, tapi itu sudah jauh lebih baik dari cuaca sebelumnya. Dan, karena kami tidak menemukan satu pun kendaraan yang lewat –karena jam yang sudah menunjukkan pukul duabelas- pun akhirnya memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki.

"Naruto," ia memanggilku pelan, aku hanya menoleh kearahnya dan menunggunya kata-kata selanjutnya. "Aku sudah berpikir matang-matang masalah ini," lanjutnya masih dengan menggantung. "Aku akan menemani Kiba. Karena.. kau tahu sendiri kan? Dokter bilang tadi.."

"Ya, aku tahu." potongku tak mau mengingat kejadian sebelumnya. "Tapi, Hinata, kau tidak boleh gegabah seperti itu! Aku ini juga mencintaimu! Sangat mencintaimu!" aku sedikit membentaknya. Aku sudah tidak dapat mengontrol emosiku lagi.

"Maaf, Naruto." ia berkata pelan. Ia mengambil jaket cokelat yang sejak tadi tersampir di bahunya. Jaketku. "Aku mau mengembalikan jaket ini kepadamu. Kuharap kau bisa mengerti dengan keadaan ini. Aku tidak bisa meninggalkan Kiba dengan keadaannya yang seperti itu. Maaf, Naruto." lanjutnya.

Aku terdiam di tempat. Tuhan, kumohon, bilang ini semua hanyalah mimpi! Kumohon, Tuhan! Aku tidak sanggup bila Hinata akan meninggalkanku dengan cara yang seperti ini! Tidak sanggup!

Aku dengan cepat menarik dirinya kedalam pelukanku. "Kumohon, Hinata, pertimbangkanlah sekali lagi." aku berkata lembut masih sambil mendekap tubuhnya.

Ia menggeleng pelan dalam pelukanku. Lalu ia melepas pelukan eratku itu dengan pelan, "Maaf Naruto, tapi aku tidak bisa." ia kembali menggeleng. Ia berjalan menjauhiku tanpa menoleh sedikit pun. Tuhan, apa maksudnya ini?

Hujan semakin lama semakin deras. Entah apa yang telah terjadi. Tapi hujan ini seakan membantuku, menyamarkan titik air mata yang entah sejak kapan telah menggenang di pelupuk mataku. Hinata..

:Bukan, untuk sembarang hati,

Aku katakan ini,

Sungguh aku cinta kamu,

Bukan untuk sembarang hati,

Hingga nafas berhenti,

Aku rela berlelah untukmu:

Aku merasa badanku sangat lemas. Tak pernah kubayangkan kisah cintaku dan Hinata akan berakhir seperti ini. Tak pernah. Bahkan mengkhayal sebentar pun aku tidak pernah! Dan tak akan pernah! Tapi kenyataan memang benar-benar pahit.

Aku jatuh terduduk karena sudah tidak bisa berdiri lagi. Energiku sudah habis terkuras untuk sekedar menatapi kenyataan pahitku sekarang. Aku masih menangis ditemani hujan.

TIIN! TIIN!

Suara klakson mobil terdengar nyaring di telingaku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati sebuah mobil yang nampaknya rem-nya rusak. Dan itu menyebabkan mobil itu tidak bisa berhenti dan terus meng-klaksoniku agar menghindar.

Aku kembali menatap kedepan dan menutup mataku. Daripada aku hidup tanpa menikmati kasih sayang Hinata, lebih baik aku mati sekarang juga. Ya, itu jauh lebih baik.

TIIN! TIIN!

Mobil itu masih membunyikan klaksonnya. Suara gesekan ban dan jalanan pun terdengar semakin mendekat. Tuhan, biarkan aku mati saat ini juga.

BRUKK!

Kurasakan mobil itu menabrakku dengan kencang. Badanku terpental cukup jauh dari tempat kejadian, dan kepalaku menghantam tiang listrik kokoh. Lalu aku terjatuh dan darah mengucur dari seluruh tubuhku. Kurasakan sakit yang luar biasa akan kecelakaan singkat itu.

Hinata, aku akan tetap mencintaimu walaupun akhirnya kau harus bersama Kiba. Aku merelakan diriku agar kau tak perlu ragu lagi. Jika kau bahagia, aku akan bahagia. Yang jelas Hinata, jangan pernah lupa bahwa aku sangat-sangat mencintaimu.

Sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang, aku bergumam.

"Tuhan, terimakasih kau telah mengabulkan doaku untuk mati sekarang juga."

:Bukan, untuk sembarang hati,

Aku katakan ini,

Sungguh aku cinta kamu,

Bukan untuk sembarang hati,

Hingga nafas berhenti,

Aku rela berlelah untukmu:

.OWARI.

Huwaa.. kayaknya chapter ini sinetron dan Gaje banget ya? Haha.. emang. Yang jelas ini sequel dari yang Juliette, Tetap Mencintaimu. Kalau kalian nanya, Kiba itu sebenarnya kenapa sampai akhirnya Hinata milih buat sama Kiba aja, itu kalian pikirkan dan bayangkan sendiri aja. Soalnya Mel sama sekali gak tau cocoknya Kiba dibuat gimana. Oke, mind to review?