Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM and Nitroplus

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. MikaKiyo inside this chapter... maaf kalau ada karakter yang out of character.


Reijin sedang duduk dipangkuan Yotsune-san sambil menikmati makan malamnya. Yotsune-san sendiri hanya sesekali mengelap pipi Rei yang kena bumbu kari. Sesudah Rei selesai, dia mengusir gadis itu dari pangkuannya, membuat gadis itu duduk di sofa di lobi lantai dua. Dokter Kotarou sendiri sedang menonton TV.

"Tak ada mereka jadi sepi ya." komentar Reijin.

"Saniwa Reijin-sama, bukankah kamu sudah terbiasa dengan rasa sepi?" ledek Yotsune-san sambil mencuci piring.

"Whoa, saniwa Reijin-sama dalam tubuh anak lima tahun!" komentar Sanjo-san yang baru keluar dari toilet.

Sanjo-san memang datang menginap bersama dokter Kotarou karena Yotsune-san akan kewalahan mengurus gadis cilik itu sendirian.

"Halo, tukang pandai besi yang hanya bisa membuat 1.30 timer." sapa Reijin dengan kejam.

"Aku bisa buat empat jam kok! Hanya saja, suka-suka moodku!" protes Sanjo-san.

"Sama saja. Omong-omong, Konnosuke, sampai kapan kamu mau pura-pura jadi boneka Rei?" tanya saniwa.

"...tajam seperti biasa." Konnosuke melompat turun dari pangkuan Reijin.

"Reijin-sama, kenapa anda mengirim mereka ke tempat itu?" tanya dokter Kotarou yang akhirnya mematikan TV.

"Kenapa? Karena mereka harus membangkitkan kekuatan toku." jawab saniwa dengan mudah.

"Kejam juga, Reijin-sama. Tempat itu kan tempat termudah untuk membangkitkan toku tapi sulit untuk keluar dari sana tanpa ada korban." Sanjo-san tersenyum.

"Aku kan percaya akan kekuatan mereka. Jangan meremehkan pedang dengan saniwa tingkat tinggi. Mereka pasti akan keluar hidup-hidup. Meskipun terluka ataupun ada tubuh yang terpotong sekalipun." kata Reijin.

"Tempat itu, adalah anomali di dunia manusia dan dunia yang tak terlihat. Tempat itu sebenarnya harus dimusnahkan. Namun anomali antara dunia manusia dan dunia tak terlihat selalu ada. Kita hanya bisa menekannya—taman hiburan yang dipakai oleh yang tak terlihat untuk menjadi lebih kuat." Reijin menghela nafas.

"Manusia yang masuk kesana dinyatakan menghilang. Atau yang lebih buruk—kehilangan nyawa disana." tambahnya.

"Jadi?" tanya Yotsune-san.

"Aku sudah meminta mereka membereskannya." kata Reijin.

"Membereskan? Guru, mere-" kata-kata Yotsune-san terputus.

"Aku sudah bukan gurumu. Lagipula mereka harus melakukannya. Harus. Demi menyegel kegelapan di dunia yang sudah terkontaminasi ini. tidakkah kalian lihat? Seluruh berita terus menerus memberitakan orang hilang, pembunuhan, kejahatan dimana-mana, perampokan, kejahatan seksual! Manusia bisa tertolong kalau kita melakukan rencana ini! Saniwa lain pun begitu! Persekutuan Saniwa juga sudah setuju akan rencana ini!" Reijin menggigit bibirnya.

"Persekutuan Saniwa setuju?!" dokter Kotarou terlihat kaget.

"Wow, aku baru kali ini mendengarnya." ujar Yotsune-san.

"Karena kalian bukan saniwa tingkat tinggi. Meskipun usia jiwa kalian bisa saja lebih lama dariku, kalian membangkitkan kekuatan spiritual kalian lebih lambat dariku. Tentu saja kalian tak tahu keputusan Persekutuan Saniwa." Kata Reijin.

"...apa keputusan mereka?" tanya dokter Kotarou.

Saniwa Reijin seperti akan menjawab ketika gadis itu tiba-tiba menerima panggilan telepati dari Yamanbagiri.

"Ah! Ya? Manba?" tanya Reijin.

"Aruji, tolong selesaikan kata-kata anda tadi."

"Yang mana?" tanya saniwa yang sudah lupa.

Saniwa bisa mendengar Yamanbagiri menghela nafas.

"Hey!"

"Bisa tolong beri kami perintah? Apa saja. Aku...aku takut...Kiyomitsu pingsan dan sebagian awataguchi hampir tewas...aku..." suara batin Yamanbagiri terdengar sangat jelas.

"Aku akan beri kalian perintah. Jangan mati. Kembali hidup-hidup. Hanya itu. Aku yakin kalian bisa. Aku sangat, sangat mencintaimu. Jadi aku percaya kalau kamu adalah sekertaris andalanku." Reijin menyemangati pedang pertamanya.

"...iya." jawaban Yamanbagiri membuat saniwa percaya kalau mereka pasti pulang hidup-hidup.

Sesudah Yamanbagiri memutus hubungan telepati mereka, Reijin mengambil NDS miliknya dan membuka cooking m*ma.

"Intinya, kita santai saja. Rencanaku pasti berhasil." kata saniwa yang digantikan oleh persona Rei.

"Cooking!" Rei memainkan dsnya dengan wajah semangat.


Para toudan masih berdiam diri, mengembalikan emosi dan kekuatan spiritual mereka. Yasusada melirik Kashuu yang ujung-ujungnya tertidur. Yasusada menatap Mutsunokami yang menutup matanya namun tak tidur. Yamanbagiri menutupi wajahnya dengan tudung.

Tarou dijadikan sandaran Jirou sementara kedua yari juga tidur sambil memeluk yari mereka. Ishikirimaru memeluk Aoe sambil mengembalikan kekuatan spiritualnya. Para tantou juga tertidur bersama pedang yang dekat dengan mereka. Midare menyelip antara Tarou dan Jirou.

Sayo bersama Kousetsu, Hakata ikut Hasebe. Atsushi dan Gokotai bersama Ichigo sementara Maeda dan Hirano bersama Namazuo dan Honebami. Monoyoshi menyelip ke dalam pelukan Tonbokiri setelah diusir oleh Honebami. Aizen tertidur sambil dipeluk Hotarumaru namun wajah Aizen seolah mendapat mimpi buruk.

Tantu saja sisanya tertidur sambil memeluk partnernya masing-masing. Yasusada melihat Kanesada yang berusaha tidur. Yasusada menghela nafas.

"Kanesada, kamu boleh bersandar di pundakku." tawar Yasusada.

"Nanti kekasihmu cemburu." tolak Kanesada.

"Daripada kamu tak nyaman kan?" tawar Yasusada lagi.

"Jangan marah kalau nanti Kiyomitsu mengomelimu." Izuminokami Kanesada memakai pundak Yasusada untuk tidur.

Sulit rasanya untuk tidak tidur namun Yasusada akhirnya tertidur lelap, memimpikan hari-hari cerah bersama Okita dan Kashuu di masa bakumatsu.


Yasusada terbangun akibat suara kencang. Kanesada pun terlonjak. Namun Kashuu masih tak sadarkan diri. Yamanbagiri terbangun dan suara 'bedebam!' itu kembali muncul. Wajah Yamanbagiri memberi kabar tak bagus.

"Perisainya dihancurkan. Kita harus menyerang balik. Semua ketua, ikuti kapten kalian dan berpencar! Kelompok Kashuu akan ikut Yasusada sebagai kapten pengganti!" seru Yamanbagiri sambil memastikan kalau rekan timnya mengikutinya.

Mutsunokami berlari lurus—arah yang sama dengan Ookurikara sebelum akhirnya berpencar. Kogitsunemaru membawa timnya ke arah kiri sementara Yasusada—sambil menggendong Kashuu—dan Yamanbagiri ke arah kanan. Yasusada menoleh ke arah rumah boneka yang sudah terbengkalai sebelum akhirnya dia mengubah arah ke gudang tua tak terpakai.

Yasusada berhenti setelah menutup pintu gudang, memastikan kalau seluruh timnya ada. Taroutachi, Jiroutachi, Namazuo, Midare dan Kanesada bernafas tersengal-sengal. Kashuu sendiri sudah di gendong Yasusada. Mata birunya memastikan kalau gudang ini tak memiliki celah untuk dimasuki musuh.

"Kita sudah aman?" tanya Midare.

"...ya ampun..." mata biru Yasusada menatap ke arah ruangan kecil dalam gudang itu.

"Itu...jebakannya?" bisik Jirou yang tak yakin.

Suara bisikan angin mampu terdengar, membawa pesan dari Uguisumaru.

"Bisa terdengar?" tanya Uguisumaru.

"Ya." Namazuo menjawab.

"Tim lain sudah menemukan jebakannya. Kita tinggal menyalakannya secara bersamaan dan mencari letak bola misterius yang harus dihancurkan. Ingat, secara bersamaan." kata Uguisumaru mengulangi poin penting.

"Bersamaan ya?" bisik Yasusada.

"Satu hal lagi. harus wakizashi yang mengaktifkannya." kata Uguisumaru.

"Hah? Kenapa?" tanya Namazuo.

"Energi kalian yang masih muda lebih diterima. Kata saniwa sih begitu."

"Kapan kalian tanya begituan?"

"Saat Kousetsu Samonji-san berlari. Dia masih bisa berkonsentrasi sambil menelepon saniwa." Namazuo bisa mendengar tawa Uguisumaru dan Tsurumaru.

"Hebat..." Nanazuo tak ingin banyak berkomentar.

Dia mendekati jebakan itu. Jebakan itu berbentuk bola energi yang tak jelas berwarna putih. Dia menyiapkan pedangnya.

"Aku akan menyambungkan seluruh komunikasi kita. Tadi itu hanya dua arah sih. Sudah siap?" tanya Uguisumaru.

"Siap." jawab Namazuo.

"Tancapkan pedang kalian pada saat bersamaan. Tiga...dua...satu...sekarang!"

Namazuo menancapkan pedangnya pada bola energi itu. Bola energi putih itu memancarkan cahaya terang sebelum akhirnya padam dan menghilang. Pada saat bersamaan, bola energi di tempat lain juga menghilang.

"Kashuu sudah bangun?" tanya Yamanbagiri.

"Belum." Jawab Yasusada.

"Kurasa dia tak akan bangun. Kecuali kalau energi spiritualnya sudah kembali." tambah Jirou.

"Ya sudah, misi kita adalah melacak lokasi bola energi pusat yang kemungkinan berada di tempat terdalam. Kemampuan Uguisumaru dan Kashuu akan berguna tapi mengingat Kashuu menguras tenaganya, kita hanya bisa minta bantuan Uguisumaru." Kata Yamanbagiri.

"Hey, kekuatanku tak sehebat itu. Lagipula, aku hanya tahu bola energi itu ada di dalam ruangan." Uguisumaru beralasan.

"Intinya, tetap saja kita harus mencari seluruh gudang atau pun gedung-gedung tua." kata Yasusada dengan pedas.

"Augh! Yasusada...!" Yasusada menutup mulut.

Dia bisa membayangkan Yamanbagiri ingin menjitak kepalanya.

"Hey, aku mengatakan fakta!" bela Yasusada.

"Cepat cari bola energi pusat!" perintah Yamanbagiri.

Yasusada hanya tertawa sambil menatap anggota timnya.

"Kalian dengar apa kata sekertaris." Kata Yasusada.

"Ya, kapten." Midare tersenyum jahil.

"Tunggu dulu! Siapa yang akan menjaga Kashuu Kiyomitsu?" Jirou menarik kerah Yasusada.

"Aku kok."

"Jangan bercanda..." Jirou menghela nafas.

"Aku lebih gesit dari aniki. Aku yang gendong Kashuu Kiyomitsu-kun." kata Jirou.

"Maaf aku memang lebih lambat..." kata Tarou yang tahu kalau dia memang lebih lambat akibat tubuh yang terlalu tinggi dan besar.

"Enak saja! Aku mana tahu kalau dia bakal aman denganmu!" Yasusada mulai protektif.

"Jangan, jangan! Dia memang begitu. Mereka sudah punya hubungan khusus. Biarkan saja mereka." Midare mengajak Jirou ke pojokan, berbisik berdua.

"Baiklah. Kamu jaga Kashuu-kun baik-baik ya! Dia kan anak kesayangan mami!" Jiroutachi tersenyum jahil.

"Siapa yang mami?! Kamu kan cowok!" Yasusada membalas dengan pedas, berharap Jirou bakal terluka.

"Gyahahah! Siapa ya?" Jirou belagak tak tahu.

"Semuanya...ingat misi kalian dong!" teriak Namazuo.


Yasusada terhenyak ketika mereka keluar. Para arwah manusia, sesuatu yang harusnya tak terlihat dan pasukan penghancur sejarah terlihat dimana-mana. Namun Yasusada tahu ada yang salah. Mereka bergerak layaknya zombie, mayat hidup meskipun mereka sudah tak memiliki tubuh manusia.

"Yasusada! Sadar!" Namazuo menonjok pipi Yasusada.

Yasusada tersadar kalau sesuatu yang dilihatnya hanya ilusi.

"Ilusi..." bisiknya sambil memegang pipinya yang sakit.

"Aku merasa...aura disini lebih kental...aura jahat." kata Tarou.

"Aku juga. Berarti kita sudah dekat bola energi itu?" tanya Jirou.

"Begitulah." jawab Tarou singkat.

"Aniki...kamu kesal?"

"Tidak."

"Hey! Disini!" Midare menemukan letak bola energi itu.

Bola energi itu hitam dan memiliki aura yang sangat gelap dan pekat.

"Beritahu Yamanbagiri kalau kita menemukannya!" perintah Yasusada.

"Yasusada! Awas!" Yasusada menangkis serangan musuhnya sebelum musuh menyentuh Kashuu.

Musuh itu terbentuk dari kegelapan pekat dan berbentuk sedikit seperti manusia. Paling tidak, ada matanya. Yasusada menurunkan Kashuu di tempat yang agak tersembunyi, berharap tak ada monster yang menyerang Kashuu. Namun memang musuh satu ini tidak mengincar Kashuu sama sekali.

'Kenapa?' batin Yasusada.

Tim Kogitsunemaru, tim Ookurikara dan tim Mutsu langsung datang, membantu mereka menghadapi musuh. Ookurikara menggeram kesal. Musuh terus berdatangan tanpa habis. Ookurikara menarik Mitsutada hingga mereka berdua bertemu punggung.

"Mitsutada, Tsurumaru! Lepaskan energi toku kalian bersamaan denganku!" perintah Ookurikara.

"!" Tsurumaru terlihat tak ingin melakukan.

Mitsutada sendiri terlihat bingung. Mereka bertiga terus menyerang musuh sambil bercakap-cakap.

"Kamu mau melakukan toku bertiga?! Energiku bakal habis!" protes Tsurumaru.

"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Mitsutada.

"Toku adalah saat dimana kita mengakses energi spiritual kita. Energi toku yang sebagian terlepas dari kita bila bertemu energi toku lain akan menciptakan anomali energi yang berbahaya bagi yang tak terlihat." kata Ishikirimaru yang menyerang musuh dengan kecepatan yang termasuk lambat bagi Oodachi.

"Intinya sangat efektif untuk melawan kebiishi ataupun yang tak terlihat. Tapi berbahaya dan beresiko tinggi karena kalian akan melepaskan energi spiritual dalam jumlah besar." Kousetsu Samonji menghela nafas namun pedangnya terus menebas musuh.

"Intinya sehabis melepaskan toku, kekuatan kalian akan bereaksi satu sama lain dan membuat tempat ini luluh lantak. Mengingat masih banyak pedang yang terluka, kuharap kalian tak akan melakukannya." Yamanbagiri muncul bersama timnya disaat musuh terhenti.

"Huh? Kenapa seluruh musuh terhenti?" tanya Yasusada.

"Yamabushi Kunihiro toku. Efek sementara sih." Yamanbagiri berjalan mendekati bola energi itu.

"...Aoe, Hotarumaru, tolong ya." kata Yamanbagiri.

Aoe hanya mendekati aura pekat itu dan memotongnya, membuat perisai gelap bola energi itu menghilang. Hotarumaru menggunakan pedangnya, menebas bola energi itu. Bola energi itu terbelah dua, bersinar kuat sebelum menghilang begitu saja. Suara gemuruh kencang bisa terdengar sangat jelas dari arah gunung-gunung disekitar daerah itu diikuti gempa ringan yang perlahan menguat.

"Apa yang terjadi?!" tanya Gokotai yang hampir menangis.

"Tempat ini akan runtuh! Semuanya, ke dermaga!" perintah Yamanbagiri.

Yasusada mendecih pelan sebelum cepat-cepat menggendong Kashuu, mengikuti rekannya kearah dermaga. Bangunan itu mulai runtuh, batu-batu beton mulai berjatuhan. Begitu mereka semua keluar, mereka bisa melihat banyak musuh yang menjadi gila, menyerang membabi buta satu sama lain seperti kanibal.

"Jangan pedulikan mereka! Potong saja kalau mereka menghalangi jalanmu!" perintah Yamanbagiri.

Mereka membuat jalan keluar, memotong musuh yang menghalangi jalan mereka sambil membuka jalan menuju dermaga.


Kashuu melihat Shishiou di depannya. Sepertinya dia kembali ke citadel jiwa. Kashuu berdiri di lorong terbuka. Kelihatannya dia berdiri di depan kamar seseorang.

"Areee? Kashuu Kiyomitsu? Bukannya kamu masih di dunia manusia?" tanya Shishiou yang membawa Nue seperti biasa.

"Aku memakai terlalu banyak kekuatan toku." jawab Kashuu.

"Ahahah! Kurasa Jii-chan akan senang! Munechika-jii-chan!" panggil Shishiou ke arah kamar itu.

Pintu terbuka dan salah satu tenka goken pun keluar dari kamar itu.

"Shishiou? Ada ap-! Kashuu Kiyomitsu!" Mikazuki cepat-cepat memeluk Kashuu.

"Mika-!" ucapan Kashuu terputus.

Bibir mereka bertemu. Ciuman terlepas segera begitu mereka berdua membutuhkan udara—sekalipun sebenarnya tak perlu. Shishiou hanya memasang wajah setengah terganggu karena mereka melakukannya tanpa peduli Shishiou disitu. Nue menggeram pelan.

"Ayo masuk, kalian berdua." kata Mikazuki.

"Munechika-jii-chan, ah..." Shishiou diam melihat Juzumaru yang duduk didepan papan go.

"...Main go dengan taruhan lagi?" tanya Shishiou.

"Taruhan apa?" tanya Kashuu.

"Siapa tenka goken paling indah. Hahaha!" Mikazuki tertawa.

"...bukankah kamu yang paling elegan?" Kashuu mendengus.

"Hahaha!" tawa Mikazuki menyembunyikan maksud lain.

Kashuu sudah bisa membedakan mana tawa tulus dan tawa palsu Mikazuki.

"Karena aku sudah kalah, aku permisi dulu." kata Juzumaru dengan kalem.

Tenka goken bertasbih itu hanya menghela nafas dan keluar dari kamar Mikazuki.

"Nah, karena pengganggu sudah pergi, bagaimana kalau kita melakukan xxx?" tanya Mikazuki.

"Anu...aku tak yakin kalau kita bisa melakukan sesuatu karena aku tak tahu kapan jiwaku akan di tarik ke dunia manusia." tolak Kashuu.

"Hey. Aku tak bermaksud mengganggu kalian tapi Kashuu Kiyomitsu perlu tahu hal penting kan, Munechika-jii-chan?" tanya Shishiou yang jengah di anggap tak ada disana.

"Oh! Iya! Begini, karena keputusan tertinggi menyatakan kalau mereka akan mengutus tiga pedang untuk membantu kalian. Lalu, satu hal lagi. Aku kangen sekali padamu." bisik Mikazuki.

Senyum Mikazuki adalah hal terakhir yang dilihat Kashuu ketika jiwanya tertarik kembali ke dunia manusia.


Mata merah Kashuu terbuka. Tubuhnya terasa berat namun ada perasaan aman. Yasusada dan seluruh rekannya sedang berdiri di dermaga.

"Yasu?" tanya Kashuu.

Suaranya serak. Yasusada langsung menghampirinya.

"Sudah baikan?" tanya Yasusada lembut.

"Berapa lama aku pingsan?" tanya Kashuu.

"Beberapa jam? Aku tak tahu." Yasusada tak bisa menjawab berapa lama Kashuu pingsan.

Tak ada matahari dan petunjuk akan waktu di tempat ini. Yasusada sendiri tak yakin sudah berapa lama mereka terjebak di taman bermain hiburan yang mengerikan ini dan lagi, meskipun banyak yang tak terlihat yang melakukan kanibalisme, mereka tak mampu mendekati dermaga seolah ada kekuatan yang menghalau mereka dari dermaga.

"Untuk sementara kita aman." kata Yasusada.

"Aku tak yakin." komentar Kashuu.

Suara kencang mulai terdengar lagi dan Kashuu menghela nafas lega.

"Kapal." bisiknya.

"Kapal?"

"Aku mendengarnya, dari riak-riak permukaan air. Kapal itu disini! Kita bisa keluar!" kata Kashuu dengan bersemangat.

"Benarkah?!" Yasusada agak pesimis karena bisa saja perkiraan itu meleset.

Namun benar saja kata Kashuu. Sebuah bayangan kapal muncul ke arah mereka, tanpa ada pengemudi seolah terseret air. Kapal itu cukup besar untuk menampung mereka semua. Kapal itu dengan sendirinya mendaratkan diri di dermaga, tali itu bergerak mengaitkan diri ke salah satu pancang kayu dermaga seolah memang ada kekuatan takterlihat yang menggerakkannya secara otomatis. Para pemuda itu pun naik mulai dari oodachi dan tantou. Para uchigatana dan tachi berjaga-jaga, memastikan agar mereka semua bisa naik.

"Kashuu, saniwa bilang tugas terakhir adalah untukmu." perintah Yamanbagiri.

Kashuu mengangguk. Yamanbagiri hanya diam sambil berkonsentrasi, melaporkan hasil kerja mereka. Hampir semua tsukumogami sudah naik ke perahu ketika hanya tersisa Yamanbagiri, Kashuu dan Yamato. Begitu Yamanbagiri naik, para monster berhasil merobek perisai spiritual dermaga. Yasusada yang panik cepat-cepat menarik lengan Kashuu. Namun Kashuu melepas pegangan Yasusada.

Kashuu memotong tali kapal dan menendang kapal itu sejauh-jauhnya, memakai kekuatannya agar kapal itu terseret arus ke luar pulau.

"Kerjaan terakhir, ingat?" tanya Kashuu.

"Kiyo!" Yasusada ingin berteriak 'Bahaya! Cepat kembali kesini!' namun Kashuu hanya menatapnya dengan kecewa.

Yang tak terlihat menyerang Kashuu dengan bayangan hitam, namun tubuh Kashuu hanya berubah menjadi cipratan air. Air disekitar pulau itu bergemuruh kencang dan tak lama setelah kapal itu cukup jauh, sebuah gelombang tsunami bisa terlihat dan menenggelamkan pulau itu.

"Yasusada, Kashuu Kiyomitsu akan kembali." hibur Yamanbagiri.

"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Yasusada dengan tatapan marah.

"Karena saniwa tahu. Karena dia memang akan kembali." kata Yamanbagiri.

"Tuh." Yamanbagiri menunjuk ke arah permukaan air yang beriak akibat gelembung.


Kashuu membuka matanya. Tubuhnya mengambang dan dia mampu merasakan sesuatu mendekatinya.

"KIYOOOO!"

Kashuu hanya diam. Yasusada pasti akan menceramahinya, memukulnya, dan marah padanya karena dia sudah melakukan hal bodoh lagi. Yasusada berhasil menariknya ke atas perahu berbentuk rakit itu meskipun kaki Kashuu masih terkena air. Yasusada memeluknya dengan erat.

"Si bodoh...membuat orang terus khawatir dan sok pahlawan..." suara Yasusada bergetar.

Kashuu tahu Yasusada menangis. Dia hanya tak ingin membuat Yasusada malu dan Kashuu membiarkan Yasusada menangis di bajunya.

'Jadi begini...rasanya, dicintai secara tulus...' Kashuu dengan lembut mengusap punggung Yasusada, memberi tahunya kalau dia masih disini, hidup dan tak kenapa-kenapa.

Matahari pagi bersinar seolah menyapa mereka, memberi selamat mereka atas kemampuan mereka melewati ujian mengerikan dari saniwa.


Saat mereka kembali ke penginapan mereka, wajah mereka kaget bukan kepalang melihat jam. Jam menunjukkan kalau mereka hanya pergi semalam entah kemana. Yasusada terus menangis dan menolak melepaskan Kashuu. Mereka semua kembali ke kamar mereka dan langsung memilih istirahat, tidur atau mandi sebelum langsung tertidur memeluk guling.

Kashuu sendiri masih berkutat dengan Yasusada yang masih menangis dan menolak untuk tidur di ranjangnya sendiri. Kashuu akhirnya mendorong ranjangnya agar mereka bisa tidur bersama.

"...berhentilah menangis...aku bingung menghadapi orang menangis..." Kashuu beralasan.

Yasusada tak menunjukkan tanda bahwa dia akan berhenti menangis dan Kashuu hanya ingat satu hal yang dia tahu bisa menghentikan tangisan Yasusada.

"Hey, mau aku menceritakan cerita kepahlawanan Okita?" tanya Kashuu.

"...agu zudah dahu zemuanya...! agu...bedangnya..." tolak Yasusada sambil sesengukan.

"Suaramu sudah serak dan wajahmu sudah penuh bekas iler." komentar Kashuu yang mengambil tissue dan menyerahkannya ke Yasusada.

Yasusada membuang ingusnya dengan suara kencang. Kashuu hanya meringis mendengarnya. Dia tak pernah melihat Yasusada seperti ini.

"Ini sudah pertengahan november." Kashuu mengalihkan topik.

Yasusada mengangguk.

"Kita bakal ada jalan-jalan karyawisata." kata Kashuu.

"Kudengar, kita bakal ke Kyoto. Terus ada lomba olah raga...akh! Aku ada lomba kendo!" Yasusada baru ingat akan hal ini.

"Kamu juga lupa toh. Syukurlah. Aku juga lupa." kata Kashuu tersenyum senang.

"Eh! Malah senyum! Kita harus latihan!"

"Cuma kamu. Aku kan cuma manajer." Kashuu masih tersenyum.

Yasusada langsung mencubit pipi Kashuu.

"Hahu!"

"Kalau kamu manajer, kamu juga mesti menghadiri rapat klub!" kata Yasusada, melepas cubitannya.

"...Yah, demimu, apa saja deh." kata Kashuu yang malah masuk ke dalam toilet sambil misuh-misuh memegang pipi bekas dicubit.

"Tunggu, buka pintunya!" pinta Yasusada.

Pintu terbuka sedikit.

"Memangnya kamu darurat?"

"Engga tapi aku mau kita mandi bareng aja."

"Mesum!" pintu langsung di tutup lagi.

"Buka! Aku masu masuk!" Yasusada mengetuk pintu berkali-kali.

Tidak digedor hanya saja di ketok berkali-kali sampai pintu itu kembali terbuka.

"Kamu engga cape ya?" tanya Kashuu yang rambutnya terlihat sudah basah.

"Maka itu! Aku mau mandi bareng biar cepat!" kata Yasusada.

Kashuu menghela nafas.

"Kalau kamu aneh-aneh, aku langsung keluarkan kamu dari toilet." ancam Kashuu.

Yasusada memasuki kamar mandi. Dia melihat Kashuu sudah membuka celana—hanya sisa brief yang dipakai dan kemeja hijau. Kashuu membuka kemejanya, Yasusada terpana.

Bekas insiden ikedaya memperlihatkan dirinya, bekas luka menganga dari belakang leher, dekat pundak ke punggung.

Dia jadi merasa canggung. Kashuu yang hanya memakai brief melihat Yasusada yang masih belum membuka baju.

"Kalau kamu cuma mau nonton, mending kamu keluar dan tidur demi kesehatan tubuhmu." kata Kashuu sambil menghela nafas.

"Eh?! Ah! Bukan! Aku cuma..." kata-kata Yasusada terhenti.

Dia tak ingin berkata kalau dia terhenti karena melihat bekas ikedaya. Kashuu paling benci dikasihani seperti itu.

"Aku cuma berpikir kalau melihatmu dari belakang terkesan sexy!" Yasusada menutupi keresahannya dengan kata-kata asal.

"...hah? Jeez! Alasanmu selalu aneh-aneh. Buka bajumu, kamu boleh masuk shower denganku." komentar Kashuu yang tersenyum.


Sesudah mandi bersama, Kashuu keluar duluan dengan alasan sudah selesai. Dia juga menatap Yasusada dengan mata setengah curiga setelah melihat Yasusada junior. Kashuu memakai baju tidurnya, t-shirt dan celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Yasusada masih sibuk membilas shampoo ketika dia mendengar ketukan pintu kamar mandi.

"Aku keluar dulu ya! Aku mau beli minuman!" seru Kashuu.

"Tunggu! Aku titip su-"

"Susu dingin! Aku tahu!" balas Kashuu.

Yasusada bisa mendengar suara pintu kamar mereka tertutup. Yasusada menghela nafas. Rasa ketakutan akan hampir kehilangan Kashuu kembali menyerangnya. Dia ingat bagaimana dia kehilangan Kashuu di ikedaya, bagaimana dia terus berteriak memohon Okita untuk kembali dan jangan meninggalkan partnernya, rasa putus asa karena melihat Kashuu yang tak kunjung bergerak dan ultimatum ketika dia mendengar Kashuu tak bisa di perbaiki.

Yasusada menghela nafas, mengeluarkan sebagian kecil emosinya dalam helaan nafas dan bekas luka Kashuu mengingatkannya akan kesalahannya—meskipun para saniwa terus berkata kalau itu bukan salahnya. Yasusada bisa mendengar suara pintu kamar terbuka.

"Yasu, kamu belum selesai mandi?" suara Kiyo membuatnya sedikit lega.

Perasaan khawatirnya masih ada namun terasa berkurang hanya dengan mendengar suara pemuda bermata merah itu.

"Kiyo, bisa ambilkan handukku?" tanya Yasusada.

"Bukannya di kamar mandi ada?" tanya Kiyo.

"Oh." jawab Yasusada singkat.

Yasusada keluar dengan t-shirt hijau dan celana santai hitam. Kiyo duduk di ranjang mereka. Sebotol susu dalam kemasan kaca bertuliskan 'rasa pisang' bertengger anteng di meja kecil dekat ranjang. Kashuu juga membongkar belanjaannya berisi beberapa batang coklat, tiga mi ramen instant dan beberapa kotak biskuit.

"Heeey, airhead, apa yang kamu pikirkan?" tanya Kashuu sambil membuka salah satu ramen instan dan memasukkan bumbunya.

"Banyak hal." jawab Yasusada pendek.

Kashuu berjalan beberapa langkah, mengisi mi ramen instan itu dengan air panas.

"Kalau kamu masih lapar, kamu boleh makan dua." kata Kashuu sambil menaruh mi itu di atas meja.

"Lantas apa yang akan kamu makan?"

"Coklat, biskuit dan susu, mi instan." jawab Kashuu.

"Pantas saja kamu kurus." komentar Yasusada.

"Hey!"

Makan malam singkat itu membuat mood Yasusada kembali terasa lebih baik. Karena, Kiyo ada disini, di depannya, membuka TV lalu menonton enimax sambil menggigit coklatnya dan mata merahnya siap menangis menonton adegan dimana Kaoru akan mati dibunuh oleh Shin. Yasusada meremas tangan Kiyo yang tidak sibuk. Kiyo menatap Yasu dan menutup saluran TV yang mengganggu.

"Kenapa?" tanya Kiyo dengan nada lembut.

"Aku cuma...ingin memelukmu." jawab Yasu dengan wajah memerah.

"...Hey, Yasu..." bibir mereka bertemu.

Tangan Yasusada mulai bergerak ke dalam T-shirt Kiyo. Ciuman mereka hanya sebentar karena Kiyo tersenyum jahil, merencanakan sesuatu. Ranjang itu bergerak, Kashuu menduduki Yasusada dengan tatapan tak terbaca.

"Pegawai hotel disini boleh juga, memberikan kamar couple untuk kita." komentar Kashuu.

"Benar?"

"Ini double bed plus sesuatu yang kutemukan di lemari." kata Kashuu sembari mengeluarkan satu pak benda yang mungkin akan dikira anak kecil sebagai permen dan sebotol lotion.

Wajah Yasusada memerah. Kashuu mulai merobek kemasan itu dengan tangan dan giginya, sengaja menuang minyak ke dalam api. Celana pendek Kashuu tak bisa menolong Yasusada, kulit mereka bertemu dan Yasusada bisa merasakan kalau tubuh Kashuu dan diriinya sama-sama panas.

"Malam ini akan panjang, eh, Yasu?" tanya Kiyo.

"Ya, akan sangat panjang." balas Yasu sebelum bibir mereka kembali bertemu.