Cuplikan Chapter Sebelumnya:

-Di Suatu Tempat-

Di suatu tempat nan gelap, terdapat seseorang yang terlihat cukup tua. Bagian punggung orang tua itu terdapat suatu kabel yang menghubungkannya dengan sebuah patung manusia yang mempunyai 9 mata. Dia ditemani 2 "manusia" berwarna putih.

Ada satu orang lagi selain mereka bertiga. Dia tiba-tiba datang entah darimana. Pakaiannya sangat berbeda sekali dengan 3 orang tadi. Dia memakai kimono hitam dan haori berwarna putih dengan tulisan "五" di punggungnya. Orang itu juga memakai kacamata berbentuk kotak. Dia membawa sebuah pedang yang ia taruh di pinggang kirinya.

"Kau... Uchiha Madara, kan?" tanya pria misterius tersebut. Ia mencoba memastikan identitas dari orang yang ada di hadapannya sekarang

Madara mengerutkan alisnnya saat mendengar hal itu. "Siapa kau?" tanya balik Madara.

"Sangat menarik. Jadi kau bisa melihatku, ya?" jawab pria tersebut tanpa memerdulikan pertanyaan Madara. "Jika aku bilang bahwa aku adalah shinigami, apa kau akan percaya?"

..

Rating: T

Genre: Adventure, Hurt/Comfort

Warning: OC, Death Character

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, Bleach milik Tite Kubo

Main Chara: Uzumaki Minana (OC), Lucky (OC), Mibu Kyo (dari anime Samurai Deeper Kyo), Uzumaki Kushina, Namikaze Minato

Pembuat fic: Kuroki


Chapter 29: Pengorbanan

.

(15 Menit Sebelumnya)

-POV Lucky-

Aku sekarang sedang menjalankan misi bersama Minato dan 3 shinobi lainnya (entah siapa). Tujuan dari misi yang kami terima adalah mengusir atau membunuh semua shinobi yang menyusup ke Hi no Kuni. Itupun jika bertemu musuh. Dan kelompok kami sedang memeriksa wilayah sekitar sini.

Namun dari posisi kami sekarang, aku bisa merasakan reiatsu dari shinobi lain. Jarak antara kami dengan mereka kurang lebih 5 km. Dari yang kulihat dengan mata iblisku, sepertinya mereka adalah shinobi Kumogakure.

"Lucky, bagaimana situasi disini?" Saat sedang melakukan misi, Minato pasti akan menanyakan pertanyaan yang sama seperti ini. Dasar menyebalkan.

"Ah, itu–"

Saat aku ingin memberitahu Minato, sesuatu yang lebih penting menghentikanku untuk mengatakannya.

"Ada apa?" tanya Minato karena aku tiba-tiba berhenti bicara.

"Tunggu sebentar," pintaku.

Kemudian aku mengambil gulungan yang ada di dalam kantung shuriken-ku. Itu adalah gulungan yang diberikan Minana dulu. Dan sepertinya ada tulisan baru yang tertulis di gulungan ini. Lalu aku membuka gulungan tersebut.

Lucky, apa kau tahu dimana Obito sekarang?

Saat aku sedang membaca gulungan itu, Minato mendekat ke arahku. Refleks, aku langsung menjauhkan gulungan itu agar tidak dibaca Minato.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya lagi Minato.

"Tidak, bukan apa-apa. Ini hanya Minana," jawabku seperti biasanya. "Sebentar. Aku akan membalas pesan ini dulu," tambahku.

Setiap aku mendapatkan misi bersama Minato, entah kenapa Minana selalu menanyakan sesuatu lewat gulungan ini. Jika aku bersama kelompok lain, aku pasti akan dimarahi karena hal itu, tapi untung saja Minato mau mengerti.

"Hoi, bisakah kalian berdua (baca: Lucky dan Minana) hentikan itu? Kita sedang dalam misi."

Tapi kadang dia juga mengomeliku seperti ini.

Obito sekarang sedang melakukan suatu misi. Jarak antara kau dan Obito kurang lebih 80 km.

Setelah aku menjawab pesan Minana itu, aku menjawab pertanyaan Minato tadi. Aku memberitahu Minato berapa jarak antara musuh dengan kita. Musuh berjumlah 3 orang. Aku juga memberitahunya soal musuh yang berasal dari Kumogakure.

"Diantara shinobi Kumo itu, apa kau mengetahui informasi tentang mereka?" tanya lagi Minato.

Aku mengangguk pelan. "Salah satunya adalah Akun (baca: A-kun/Raikage), putra dari Sandaime Raikage. Dia adalah orang yang menjabat sebagai Raikage yang sekarang."

"R-Raikage..?"

Mereka semua langsung terkejut saat aku mengatakan hal itu, tak terkecuali Minato sendiri. Tapi, bukan itu saja hal yang mengejutkan.

"Lalu ada satu orang lagi yang harus kalian waspadai. Aku tidak tahu siapa dia, tapi yang pasti, dia adalah jinchuuriki."

Saat aku mengatakan hal itu, mereka tambah terkejut. Bahkan ekspresi mereka sekarang seperti berkata 'ini mustahil'. Sepertinya Minato juga berpikir demikian, hanya saja ekspresi di wajahnya tidak sejelas seperti yang lainnya.

"Bagaimana, Minato? Mau mundur? Atau kita berdua saja yang maju?" tanyaku.

Minato berpikir sejenak. Kemudian dia menoleh ke arahku sambil berkata, "Menurutmu?"

Saat Minato menanyakan hal itu, jawabannya sudah jelas, kan? "Tentu saja maju dan melawan mereka. Lagipula lawan kita hanya Raikage, Jinchuuriki, dan shinobi figuran (?), kan?"

Minato dan yang lainnya langsung sweatdrop saat mendengar kata-kataku. Apa aku mengatakan hal yang aneh?

"'Hanya', huh?" komen Minato.

"Lawan kita adalah Raikage dan Jinchuuriki, dan kau bilang 'hanya'?"

"Sudahlah. Harusnya kita sudah tahu wataknya. Sejak awal cara berpikirannya memang sudah salah."

Komentar mereka benar-benar nusuk. Lagipula Minato tadi meminta pendapat dari sudut pandangku. Tentu saja jawabanku akan seperti itu, kan?

"Ya sudah, kalian disini saja. Aku yang akan kesana. Tujuan misi kita hanya mengusir mereka, kan? Yaaah, itu mudah."

Lebih baik seperti ini. Yah, lagipula memang lebih enak bergerak sendiri dibandingkan berkelompok. Namun saat aku hendak pergi, Minato menghentikanku.

"Ini terlalu berbahaya. Lebih baik kita menunggu bantuan datang," kata Minato memperingatiku.

Aku tidak bisa menahan tawaku saat Minato mengatakan hal itu. "Takut? Bahaya? Huh, aku selalu tertawa di depan bahaya, hahaha." Jadi teringat masa lalu. Ya, itu adalah kata-kata yang pernah dikatakan Minana dulu [di chapter 22].

"Dan lagi, saat sedang menjalankan misi, apa kau pernah melihatku terluka?" Kuharap kata-kata ini cukup untuk membuat Minato mengerti.

'Gomen, Minato. Sepertinya aku punya sedikit dendam dengan Akun, walau aku sendiri tidak ingat, sih. Yah, sebenarnya aku hanya ingin menghajar wajah porongnya itu (?)... walau hanya sekali.'

Akhirnya Minato membiarkanku untuk pergi. Namun sebelum aku pergi, Minato memberikan kunai hiraishin-nya padaku. Huh, saat aku mengambil kunai itu, entah kenapa aku merasa seperti diawasi.

Kemudian aku pergi dengan shunshin. Terus dan terus menggunakan shunshin sampai jarakku dan kelompok Akun hanya 45,98065 meter. Karena sudah sedekat ini, aku menyiapkan kunai-ku. Lalu menyerangnya dengan serangan tiba-tiba.

"Hiraishin level 4," gumamku pelan sekali.

Dalam sekajap, aku sudah berada di belakang Akun. Tubuh Akun sekarang diselimuti oleh chakra petir. Saat aku melihat hal itu, aku sadar kalau Akun ternyata menyadari seranganku. Menyadari hal itu, aku mengarahkan kunai-ku ke arahnya. Seolah waktuku bergerak sangat lambat. Aku harap seranganku ini mengenainya sebelum ia menghindarinya.

Tapi ternyata tidak. Dia berhasil menghindarinya. Lalu disaat yang sama, dia melancarkan pukulan ke arahku.

'Hiraishin level–'

Saat aku ingin menggunakan hiraishin level 4, Minato tiba-tiba muncul di belakangku. Dia langsung menarik rompi jounin-ku dan menghindari pukulan Akun dengan shunshin.

"Sepertinya aku datang tepat waktu," gumam Minato dengan bangganya.

"Iya, iya. Dan terimakasih," balasku tidak semangat.

Sudah cukup bercandanya. Aku dan Minato menyiapkan kuda-kuda kami. Begitu pula dengan musuh yang di depan kami.

"Shinobi Konoha berambut kuning? Dia pasti Konoha no Kiiroi Senko," terang shinobi Kumo yang tidak kuketahui namanya a.k.a si figuran.

"Hmph, jadi dia ya shinobi tercepat di Hi no Kuni," ujar Akun dengan santainya.

Kami berdua tidak menanggapi ucapan mereka.

"Dengan adanya aku dan Brother, kami pasti bisa mengalahkanmu. Bakayaro! Konoyaro!"

'Percaya diri sekali dia,' pikirku sweatdrop.

Tanpa membuang waktu, Minato memulai aksinya. Dia melempar beberapa kunai hiraishin-nya ke sembarang arah. Namun Akun tidak membiarkan Minato berbuat seenaknya. Dalam sekejap, dia sudah ada di depan Minato. Menyadari hal itu, Minato melepaskan kunai yang ada di tangannya dan berteleport ke tempat lain. Satu detik kemudian, Minato menteleport dirinya lagi di belakang Akun. Tapi, serangan Minato tidak berhasil mengenainya. Tiba-tiba sebuah tentakel gurita mendorong Akun. Dan yang Minato potong adalah tentakel gurita tersebut.

Itu adalah kesempatanku. Selagi Akun menyeimbangkan tubuhnya karena didorong oleh tentakel itu, aku mendekat ke tempatnya dengan shunshin. Kemudian aku mengarahkan pukulanku ke arahnya. Tapi dengan cepat, ia berhasil menghindari pukulanku.

'Dia sangat cepat. Aku tidak bisa menyamai kecepatannya dengan shunshin. Apa aku harus menggunakan shunpo?' pikirku mencoba menganalisa.

Karena Akun adalah shinobi termahir dalam menggunakan shunshin (yang pernah kutemui), maka kecepatan shinigami yang mahir menggunakan shunpo adalah dua kali lipatnya. Lagipula, shunshin yang biasa dipakai shinobi adalah teknik yang diciptakan oleh shinigami yang menggunakan gigai. Jadi tidak heran kalau kecepatan shunpo adalah dua kali lipatnya kecepatan shunshin.

Lalu sekarang Minato sedang bertarung dengan Jinchuuriki. Itu artinya, lawanku adalah–

"Lucky..."

A-aku benar-benar kaget. Tiba-tiba suara Minana terdengar di dalam kepalaku. Namun saat aku ingin menjawab, Akun datang dan kembali menyerangku dengan sangat cepat.

'Gawat!'

Aku benar-benar terkejut dengan serangan tiba-tibanya itu. Bahkan sangking terkejutnya, aku sampai refleks menggunakan shunpo untuk menghindari serangannya.

"Ah, Es Batu, ya? Maaf, sekarang aku sedikit sibuk. Bisakah kau menghubungiku lagi nanti?"

Jika ini hanya pertarungan biasa, aku pasti akan mendengarkan apapun yang Minana katakan. Tapi sayangnya, lawanku sekarang adalah Raikage. Masalahnya sekarang adalah kecepatan Akun melebihi perkiraanku. Dan lagi, si Durian Runtuh (baca: Minato) ada disini. Akan fatal akibatnya jika aku terkena serangan Akun walau hanya satu kali. Aku memang tidak akan mati, tapi ya itu... Minato ada disini. Minana dan Kyo melarangku untuk memberitahu siapapun tentang diriku yang abadi.

"Kalau begitu cukup dengarkan saja. Aku hanya akan mengatakannya sekali. Jadi dengarkan baik-baik."

"Hoi, apa kau tidak dengar apa yang aku katakan barusan, huh?" balasku dengan nada lemas.

Dia tidak mendengarkan ucapanku. Dasar Es Batu sialan. Konsentrasiku akan terbagi 2 jika kau mengatakan sesuatu di dalam kepalaku, Hoi.

Ck! Lagi-lagi Raikage kembali menyerangku. Hal yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghindarinya. Aku menghindari serangannya dengan shunshin. Kadang aku juga menghindarinya dengan shunpo.

"Waktu itu kau pernah bilang padaku bahwa 'apapun yang kupilih, maka hasilnya akan kau buat sama'..."

'Minana, bisakah kau berhenti mengoceh untuk sesaat? Aku sedikit frustasi, tahu!'

"...Aku memilih untuk mencegah penyebabnya, jadi tolong pastikan kalau penyerangan Kyuubi nanti tidak akan terjadi. Dan kau harus selalu memastikan keselamatan Tou-chan, Kaa-chan, dan Naru-nii-chan,"

'Eh? Dia bilang apa?'

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang dia katakan barusan. Aku tidak tahu kenapa dia mengatakan hal itu, tapi ada satu hal yang kuyakini sekarang... Dia mencoba melakukan hal yang bodoh.

"M-Minana, tung–"

Aku lengah.

"Rariatto!" seru Akun saat menghantam dadaku dengan tangannya.

Aku langsung terlempar karena serangannya itu. Minato yang menyadari hal itu langsung menangkap tubuhku. Aku kena telak serangan Akun. Serangannya itu menghancurkan dada dan tulang rusukku. Mungkin jantung dan hatiku juga sudah hancur karenanya.

DEG

"Hoi, Lucky, bertahanlah!"

Saat Akun menghantamku dengan serangannya itu, aku merasakan sensasi aneh di dadaku. Menurutku, sensasi itu adalah sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan lukaku sekarang.

Saat Akun menghantamku dengan serangannya itu, samar-samar aku mengingat sesuatu. Sepertinya itu adalah serpihan dari sekian banyak ingatanku yang hilang.

-Flash Back-

Aku tidak ingat apa yang kulakukan saat itu. Tapi yang pasti, saat itu diriku sedang diselimuti oleh perasaan takut dan keputusasaan. Perasaan itu sampai membuat tubuhku tidak bisa bergerak. Bahkan aku sampai terduduk lemas karena perasaan keputusasaan itu.

Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Hal yang terpikirkan olehku saat itu adalah, 'M-Mereka datang! Aku akan dibunuh!'

"Luck–"

Aku langsung berbalik dan menusuk jantungnya dengan tanganku. Tapi... aku sangat terkejut saat tahu siapa orang yang ada di belakangku itu.

"K-ke..napa..?"

Aku... aku tidak ingat wajahnya. Aku tidak tahu siapa yang kubunuh saat itu. Namun satu hal yang pasti... dia memakai jaket berwarna hitam.

Jika aku tidak punya mata iblis, wajahku pasti sudah basah karena air mata. Aku mencoba menyembuhkannya dengan Refresh, tapi itu tidak berhasil. Saat itu aku berteriak sangat kencang. Aku tidak bisa menahan kesedihanku.

Kemudian seseorang datang menghampiriku. Aku tidak ingat dia siapa, tapi sepertinya dia sangat tidak asing.

"Tasukete...hiks..." Dengan suara gemetar, aku meminta bantuan padanya. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong saat itu. Tapi... dia hanya duduk di sampingku. Dia mengacuhkan permintaanku.

-End Flash Back-

"AAAAARRRRRRGGGGHHHHH!"

Aku memegang dadaku yang sudah berlubang. Rasanya sangat sakit. Rasanya sangat sakit! Rasanya aku ingin sekali menghancurkan semuanya!

"Lucky, bertahanlah!"

DEG

Aku bisa mendengar suara Minato. Saat mendengar suaranya itu, aku jadi ingat dengan kata-kata Minana tadi. Dan saat aku mengingatnya, aku merasa sesuatu sudah merasuki tubuhku.

-End of Lucky POV-

Seketika, atmosfir di tempat itu berubah drastis. Semua shinobi Kumo langsung menatap tajam ke arah Lucky yang tiba-tiba berhenti berteriak.

"Blood field," gumam Lucky pelan.

Mereka yang ada disana bisa merasakan perubahan yang signifikan dari pria bermata merah itu.

TIK TIK

Hujan rintik-rintik mulai membasahi tempat ini. Tetesan air tersebut mengenai apapun yang ada di permukaan, termasuk Minato, Lucky, Raikage, dan semua yang ada di sekitar mereka. Raikage merasa ada yang aneh. Dan dugaannya benar. Saat ia melihat tubuhnya yang terkena air hujan, itu bukanlah air hujan seperti pada umumnya. Itu adalah darah.

'A-apa ini?' batin Raikage yang masih bingung dengan semua ini.

Namun saat dalam rasa kebingungannya itu, mata Raikage tertuju pada pria yang baru ia kalahkan itu. Dirinya tambah terkejut saat melihat pria tersebut mulai bangkit. Terlebih lagi dia bangun dengan menggunakan tentakel air yang terbentuk dari cairan merah a.k.a darah. Darah itu mengelilingi Lucky dan bertindak seolah tidak akan membiarkan apapun melukai tuannya.

"L-Lucky?" Minato mencoba memanggil temannya itu, tapi Lucky tidak menghiraukan panggilan Minato.

Kemudian Lucky memegang kepalanya dengan tangan kanannya. "Minana, kau dengar aku? Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan sekarang. Jadi, tolong jangan melakukan hal yang gegabah. Tunggu sebentar. Aku akan menyelesaikan masalah yang disini dulu. Setelah itu aku akan kesana. Dengar, ya! Jangan melakukan hal aneh!"

Setelah mengatakan semua itu pada Minana, Lucky menadahkan tangannya. Darah yang ada di sekitarnya merespon hal itu. Di tangan Lucky tercipta sesuatu yang mirip seperti balon air.

"Maaf, aku sekarang tidak punya waktu untuk meladeni kalian. Jadi bagaimana kalau kita akhiri saja pertarungan membosankan ini," ujar Lucky sambil memainkan balon air yang ada di tangannya.

'A-ada apa dengannya?' Mendengar kata-kata Lucky, Raikage langsung memasang kuda-kudanya.

Melihat Raikage yang seperti itu, Lucky sadar kalau Raikage sama sekali tidak ada niat untuk mundur.

"Jadi itu pilihanmu? Kalau begitu, jangan coba-coba untuk menghindarinya!" seru Lucky seraya melemparkan balon air yang ada di tangannya ke arah Raikage.

'Aku tidak tahu apa yang ingin ia coba lakukan, tapi sebaiknya aku menghindari semua serangannya,' pikir Raikage.

Kemudian Raikage melapisi kembali tubuhnya dengan petir. Namun saat ia ingin menghindarinya, tubuhnya tidak bisa bergerak. Raikage benar-benar terkejut dan bingung. Hingga balon air yang di lempar Lucky mengenai badan besar Raikage. Darah yang merupakan isi dari balon tersebut membasahi tubuh Raikage.

"Brother!"

"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa," jawab Raikage sebelum Bee terlalu mengkhawatirkannya.

Kemudian Lucky mengarahkan tangannya ke depan. Darah yang ada di sekitarnya merespon hal itu. Darah tersebut kini membentuk sebuah tombak. Padahal darah adalah sesuatu yang cair, tapi Lucky memegang tombak itu seperti memegang tombak pada umumnya.

"Ah iya." Lucky menoleh dan menatap tajam ke arah Bee. "Untuk kalian berdua, sebaiknya jangan coba-coba menggangguku. Jika kalian melanggar, kalian akan tertidur sampai batas waktu yang tidak akan kutentukan," intimidasi Lucky pada Bee.

Setelah mengintimidasi mereka, Lucky melihat ke arah Raikage lagi.

"Waktumu habis, Akun. Jika kau mau menghindari benda ini, maka kau harus pulang ke desamu!" perintah Lucky seraya melempar tombak yang ada di tangannya.

"Brother!"

Bee sadar kalau kakaknya tidak bisa menggerakkan kakinya. Tanpa berpikir panjang, Bee langsung berlari ke tempat Lucky.

"Hentikan, Bee!" suruh Raikage pada Bee. Lalu disaat yang sama, ia menghindari tombak yang di lempar Lucky.

Melihat hal itu, Bee langsung berhenti. Sedangkan Lucky masih menatap Raikage dengan datarnya.

"Aku tidak tahu jurus apa yang sudah kau gunakan. Tapi, sepertinya jurusmu itu adalah 'perintah sebab akibat'. Contohnya seperti saat kau menyuruhku 'jangan coba-coba untuk menghindarinya'. Jika aku mencoba menghindari lemparan balon darahmu, maka aku tidak bisa bergerak. Dan jika aku tidak mencoba untuk menghindarinya, maka aku akan bisa bergerak... tapi, jika aku bergerak, itu artinya aku menghindari lemparan balon itu," terang Raikage menduga inti dari kemampuan Lucky. "Bee, sebaiknya kau jangan menyerangnya. Jika kau menyerangnya, maka kau benar-benar akan mati."

Lucky diam sejenak sebelum akhirnya mulai mengatakan sesuatu. "Aku tadi bilang tidur sampai batas waktu yang tidak akan kutentukan. Tapi, yah, yang kau jelaskan itu kurang lebih benar... walau penjelasanmu sangat berbelit-belit."

Setelah mengatakan hal itu, Lucky menghilang dari tempatnya. Kemudian darah yang membasahi tempat ini mulai berkumpul dan membentuk suatu sosok. Beberapa detik kemudian, sosok tersebut terlihat mirip seperti Lucky.

Walau Lucky yang asli sudah digantikan dengan suatu bunshin, Raikage tidak mengubah keputusannya untuk mundur. Setelah Raikage pergi, hujan darahnya mulai berhenti.

"Masalah disini sudah selesai, sebaiknya kita kembali, Minato," ujar bunshin Lucky mencoba menghilangkan ketegangan yang dibuat oleh 'dirinya'. Setelah mengatakan hal itu, iapun mulai pergi.

Namun setelah beberapa langkah, bunshin Lucky menghentikan langkahnya. Ia sadar kalau Minato masih diam ditempat dan tidak mengikutinya.

"Ada apa?" tanya bunshin Lucky. Dari posisinya, ia juga bisa melihat wajah Minato yang serius.

"Meninggalkan misi dan digantikan oleh bunshin tidak terlihat seperti dirimu yang biasanya, Lucky. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai-sampai kau harus melakukan hal itu?" tanya Minato penuh curiga.

"..." Bunshin Lucky tidak menjawabnya.

"Jangan membuatku menunggu, Lucky."

Bunshin Lucky masih diam. Namun setelah beberapa menit, ia memutuskan untuk mengatakannya. "Ada 2 alasan kenapa aku bertindak seperti ini. Pertama, Minana mencoba melakukan hal yang berbahaya. Lalu yang kedua, aku harus menjauhkan Minana dari mereka."

"'Mereka'? Siapa? Apakah mereka adalah orang yang membunuh keluarga Minana?" tanya Minato bingung.

Bunshin Lucky menggeleng pelan. Kemudian dia diam sejenak dan menundukkan kepalanya.

"Aku tidak bisa mengatakan detailnya. Tapi yang pasti, aku harus menjauhkan Minana dari mereka. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan Minana terlibat dengan mereka," jawab Lucky pelan sekali. Namun Minato masih bisa mendengar suaranya. "Ah, iya, sebaiknya kau juga tidak berurusan dengan mereka. Mereka sangatlah berbahaya," tambahnya.

"Aku mau saja mengikuti saranmu, tapi mereka itu siapa? Dan seperti apa mereka?" tanya lagi Minato.

Kali ini Lucky sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Dia langsung pergi ke tempat rekan-rekannya yang lainnya. Melihat hal itu, Minato sadar kalau ia tidak bisa memaksa Lucky menjawab pertanyaannya itu.

-Di Tempat Lucky-

Dengan hiraishin level 4, Lucky sampai di tempat Minana. Tapi... disini tidak ada siapapun. Yang ada disini hanyalah mayat shinobi Kirigakure. Reiatsu milik Minana berakhir disini. Lucky tidak bisa merasakan reiatsu Minana dimanapun. Saat menyadari hal itu, pikiran Lucky langsung tertuju pada satu hal.

"Uchiha... Obito!" desisnya.

Kemudian Lucky melacak reiatsu milik Obito. Setelah beberapa detik, ia menemukannya. Obito sekarang ada di Konoha. Namun saat ia ingin pergi, seseorang memanggilnya. Luckypun menoleh ke arahnya.

"Kau..!" desis Lucky saat melihatnya.

Orang itu adalah shinobi yang sering ia temui. Shinobi itu memakai pakaian ANBU dan memakai topeng berbentuk harimau. Bahkan jika orang tersebut memakai topeng, Lucky tetap bisa melihat mata merah milik orang tersebut.

Saat tahu kalau itu adalah Kyo, Lucky langsung menarik rompi ANBU Kyo.

"Kalau kau disini, itu artinya kau melihat semuanya, kan?! Cepat katakan! Dimana Minana sekarang?!" bentak Lucky pada Kyo. Sepertinya seluruh amarah Lucky sekarang tertuju pada Kyo.

Kyo tidak menghiraukan apa yang Lucky katakan. Ia lebih memilih untuk menyembuhkan luka di dada Lucky dengan Refresh.

"HOI, JAWAB AKU?!" bentak Lucky, tapi Kyo masih sibuk menyembuhkan luka Lucky.

Setelah menyembuhkan luka Lucky, Kyo diam sejenak. Kemudian setelah beberapa detik, dia mulai mengatakan sesuatu. "Minana? Oh, maksudmu kunoichi berambut merah itu, ya? Dia sudah tidak ada di dunia ini."

Saat mendengar hal itu, Lucky tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Spontan dia langsung menghajar muka Kyo. Kyo menerima pukulan itu. Pipi kirinya langsung memar karena pukulan tersebut.

"KENAPA KAU TIDAK MENGHENTIKANNYA, SIALAN!" Lucky langsung terduduk lemas. Ia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya. "Hiks, INI BOHONG, KAN! MINANA TIDAK MUNGKIN MATI! DIA TIDAK MUNGKIN MATI, SIALAN!"


-Di Tempat Lain-

Di suatu tempat di dunia shinobi, terdapat dua figur yang tidak di ketahui asal-usulnya. Yang satu terlihat seperti gadis berusia 15 tahun dan yang satunya lagi terlihat seperti pria dewasa berumur 35 tahun. Gadis tersebut memakai kimono berwarna hitam dan membawa sebuah pedang yang ia taruh di pinggang kirinya. Lalu penampilan yang pria tidak jauh berbeda dengan gadis yang ada di sampingnya, hanya saja ia memakai haori berwarna putih dengan tulisan "五" di punggungnya, serta pria tersebut juga memakai kacamata berbentuk kotak.

"Hinamori-kun, selanjutnya siapa lagi?" tanya pria tersebut.

Sedangkan gadis yang dipanggil Hinamori hanya diam saja. Wajahnya terlihat bingung.

"Apa terjadi sesuatu, Hinamori-kun?" tanya lagi pria tersebut dengan nada khawatir.

Hinamori langsung menggeleng pelan. "Tidak, bukan begitu, Aizen-taichou. Aku hanya sedikit bingung dengan perintah yang diberikan Soul Society," jawab Hinamori tidak yakin.

Setelah mengatakan hal itu, Hinamori mengambil ponselnya. Kemudian ia menunjukkan isi perintah di ponselnya pada Aizen.

"Agar kita tidak salah sasaran, biasanya Soul Society memberi tanda merah pada target. Beberapa menit yang lalu, manusia bernama Nohana Rin masuk dalam target yang harus kita bunuh. Tapi saat kulihat lagi... namanya sekarang tidak ditandai sebagai target. Padahal dia masih hidup. Aku benar-benar tidak mengerti," jelas Hinamori.

Aizen diam sejenak. Ia mencoba memikirkan alasan kenapa Soul Society bisa keliru seperti itu. Setelah berpikir sebentar, ia berkata, "Untuk saat ini, sebaiknya kita kembali ke Soul Society. Jika Nohana Rin memang termasuk target selanjutnya, kita akan datang lagi kesini."

Hinamori mengangguk mengerti. Kemudian ia menarik pedangnya. Lalu ia menghunuskan pedangnya ke suatu arah. Tiba-tiba sebuah gerbang muncul. Dari gerbang itu juga keluar 2 kupu-kupu hitam.

"Ayo, Hinamori-kun."

Mereka berduapun masuk ke gerbang itu. Setelah mereka masuk, pintu gerbang itu menutup sendiri. Kemudian gerbang itu hilang tanpa bekas.


(3 bulan kemudian)

-Kediaman Namikaze-

Seorang wanita berambut merah sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Namun ia tidak sendirian. Ia ditemani oleh 3 orang. Pertama adalah pria yang berpakaian serba hitam dan memiliki mata berwarna merah. Pria itu sedang duduk sambil membaca suatu buku. Kedua adalah wanita berambut merah dan matanya berwarna violet. Dia sedang duduk sambil mengupas sebuah apel. Lalu yang ketiga adalah pria yang memiliki rambut seperti durian dan berwarna kuning. Dia memakai jaket putih dengan garis vertikal disetiap lengannya. Dia juga sedang membaca suatu buku.

'Es Batu, mau sampai kapan kau seperti ini? Cepatlah sadar. Banyak hal yang harus kulaporkan padamu, Bodoh.'

-Flash Back-

"KENAPA KAU TIDAK MENGHENTIKANNYA, SIALAN?!" Lucky langsung terduduk lemas. Ia benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya. "Hiks, INI BOHONG, KAN! MINANA TIDAK MUNGKIN MATI! DIA TIDAK MUNGKIN MATI, SIALAN!"

"Setelah menggunakan Kishou Tensei, dia terlihat kesakitan. Itu benar-benar aneh. Harusnya kan dia tidak menggeliat kesakitan seperti itu," jelas lagi Kyo.

DEG

Saat mendengar kata-kata Kyo barusan, Lucky langsung mendengakkan kepalanya dan melihat ke arah Kyo. "Apa maksudmu... Kyo?" tanya Lucky bingung.

"Fuuh, seperti yang kubilang barusan. Setelah menggunakan jurus itu, dia malah terlihat kesakitan. Itu benar-benar aneh. Harusnya orang mati tidak perlu menggeliat kesakitan seperti itu. Lagipula, kau pasti tidak akan percaya kalau aku bilang dia sudah mati, kan?" terang Kyo tanpa menyaring kata-katanya.

Saat mendengar hal itu, senyum tipis muncul di wajah Lucky. Walau semua kata-kata Kyo terdengar mengerikan, tapi karena Kyo bilang 'harusnya', itu artinya Minana masih hidup.

"Jika dia masih hidup, kenapa aku tidak bisa merasakan r– chakra-nya?" tanya lagi Lucky. Dia hampir saja keceplosan mengatakan reiatsu.

"Bukankah sudah kubilang? Dia sudah tidak ada di dunia ini. Dia sekarang berada di dimensi kamui. Sebelum menyelesaikan jurusnya, Minana meminta Obito melakukan hal itu," jawab Kyo.

"Obito? Kamui?" gumam Lucky bingung.

Namun Lucky tidak mempermasalahkannya. Ia bisa mencari tahu hal itu nanti. Kemudian tanpa berpikir lagi, Lucky langsung pergi ke Konoha dengan hiraishin level 4. Kyo yang menyadari hal itu juga pergi mengikuti Lucky.

...

Dalam sekejap, mereka sudah sampai di Konoha... tepatnya di depan ruangan Kakashi di Rumah Sakit Konoha.

TOK TOK TOK

Tanpa menunggu jawaban dari orang yang di dalam, Lucky langsung membuka pintunya. Obito dan Rin sangat terkejut saat melihat Lucky dan Kyo yang ada di depan pintu. Saat melihat mereka berdua, Obito tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.

"Maaf, Rin. Aku permisi sebentar," ujar Obito pada Rin. Lalu tanpa menunggu jawaban Rin, Obito keluar dari ruangan Kakashi. Lucky dan Kyo segera mengikuti Obito.

Setelah berada di luar ruangan, Lucky menarik tangan Obito. Kemudian dengan hiraishin level 4, Lucky, Obito, dan Kyo tiba di apartemen Minana dalam sekejap.

"Keluarkan Minana dari dimensimu!" perintah Lucky pada Obito.

Obito langsung mengangguk mengerti. Kemudian ia mengaktifkan Mangekyou Sharingan-nya. Sebuah portal kecil mulai terbentuk. Setelah beberapa detik, Minana keluar dari portal tersebut. Reiatsu Minana yang semula tidak bisa dirasakan kini bisa Lucky rasakan kembali.

Minana masih tidak sadarkan diri. Ia sekarang tidak terlihat kesakitan seperti yang Kyo katakan tadi. Minana sekarang hanya terlihat seperti sedang tidur. Kemudian Lucky memindahkan Minana ke tempat tidur. Begitu memindahkan Minana di atas kasur, Lucky langsung memeriksa keadaan Minana.

"Jadi dia benaran masih hidup? Tapi bagaimana bisa?" tanya Kyo bingung.

Lucky masih diam. Ia masih memeriksa keadaan Minana. Setelah beberapa menit, Lucky sudah selesai memeriksa dan menyimpulkan keadaan Minana.

"Kau masih ingat tentang ingatan Minana masa depan?"

"Iya, masih ingat," jawab Kyo.

"Saat penyerangan Kyuubi waktu itu, Minana yang baru lahir ditusuk dan dibunuh. Namun 'Minana' tetap hidup, walau akhirnya dia mati juga. Harusnya kau mengerti kenapa Minana yang ini tetap hidup," jelas Lucky.

"Kalau itu aku juga tahu. Tapi yang kutanya 'kenapa bisa'?" tanya lagi Kyo.

Lucky memutuskan untuk diam sejenak. Ia harus memikirkan kata-kata yang pas agar penjelasannya itu tidak menyinggung sesuatu tentang ras-nya dan yang berasal dari dunia sana.

"Kyoshiro pernah bilang, 'Mata iblis akan memaksa siapapun untuk menggunakan jurus mustahil, entah 'inangnya' mau atau tidak menggunakan jurus tersebut.' Saat itu aku tidak terlalu menanggapi ucapannya... mengingat bahwa kami pasti akan menggunakan jurus tersebut tanpa unsur paksaan. Tapi setelah melihat keadaan Minana ini, aku sekarang sadar kalau yang diucapkan Kyoshiro itu adalah benar," jelas Lucky.

Kyo mencoba mencerna apa yang baru saja dijelaskan Lucky. "Jadi maksudmu... Mata iblis aktif sendiri menggunakan jurus mustahil jika kami mati sebelum menggunakan jurus tersebut sampai 2x?" tanya Kyo memastikan.

Lucky mengangguk pelan, menandakan kalau hal tersebut adalah benar. "Sepertinya begitu."

"Fuuh~." Kyo langsung menghela napas saat mendengar jawaban Lucky. Ia tidak menduga kalau mata iblis bisa digunakan sebagai nyawa cadangan seperti ini.

Kemudian Kyo menoleh ke arah Obito. Ia hampir lupa kalau bocah tersebut juga ikut bersama mereka. Lalu Kyo memberi "pengetahuan" pada Obito tentang apa yang sudah dan akan mereka lakukan, walau tidak semuanya. Lucky juga memberitahu Obito tentang Minana yang berasal dari masa depan. Karena Obito sudah dipasang suatu segel oleh Minana, jadi harusnya itu bukan masalah sekalipun Obito mengetahuinya.

Lucky menyuruh Obito untuk bertingkah normal seperti biasanya. Setidaknya untuk sekarang, tidak ada hal yang harus Obito lakukan untuk mereka. Obito mengangguk mengerti. Kemudian ia kembali ke rumah sakit untuk menemani Rin dan Kakashi.

"Hmph, sepertinya aku penasaran dengan apa yang akan mata itu ambil darinya," gumam Kyo sambil melihat ke arah Minana.

"Ah, iya. Kalau dipikir-pikir, kau adalah orang yang menggunakan jurus mustahil untuk menghapus semua ingatan orang-orang tentang ras-ku, kan? Ngomong-ngomong, aku juga penasaran apa yang mata itu ambil darimu," balas Lucky pada Kyo.

-End of Flash Back-


-POV Minana-

Setelah menggunakan Kishou Tensei, tubuhku langsung sakit semua. Tubuhku seperti ditusuk oleh ribuan pedang. Tidak hanya itu. Mata kananku juga terasa panas, seperti terbakar. Sangking sakitnya, aku sampai tidak punya tenaga untuk berteriak. Karena tempat gelap ini, aku hanya berbaring dan pasrah menerima rasa sakit itu. Hmph, aku tidak menyangka kalau efeknya akan seperti ini. Kukira aku akan mati tanpa merasakan sakit.

Perlahan rasa sakit itu mulai mereda dan menghilang. Tubuhku dibuat lemas karenanya. Aku mencoba membuka mataku, tapi ternyata semuanya masih terlihat gelap seperti sebelumnya. 'Kalau seperti ini, lebih baik aku menutup mataku saja,' pikirku.

Aku tidak tahu sekarang ada dimana... atau tepatnya, aku tidak menyangka kalau dunia kematian itu adalah tempat segelap ini. Ah, ngomong-ngomong soal gelap, sepertinya kegelapan ini mirip sekali dengan 'diriku' yang bertemu dengan Lucky.

"Aku tidak menyangka kau akan mampir kesini, Minana-chan."

DEG

A-aku benar-benar terkejut. Sangking terkejutnya, mataku pasti langsung loncat keluar jika hal itu memang bisa. Aku benar-benar terkejut! Aku tidak menyangka kalau aku akan mengalami hal yang sama seperti diriku yang di masa depan!

"Apa ini mimpi? Tapi apa mungkin orang mati bisa bermimpi?" gumamku masih tidak percaya.

"Apa tempat ini memang segelap itu sampai kau berpikir kalau ini hanya mimpi?"

Kata-katanya benar-benar mirip sekali dengan Lucky yang ada di dalam ingatan 'diriku' itu. Jujur saja. Aku masih tidak percaya bisa mendengar suaranya di situasi seperti ini. Meski begitu, aku benar-benar senang bisa mendengar suaranya. Setidaknya, aku tahu kalau aku tidak sendirian di tempat gelap ini.

"Jika tahu gelap, harusnya kau "nyalakan lampu" seperti yang kau lakukan sebelumnya, Bodoh!" omelku.

"Begitu. Jadi itu ya yang mata itu ambil darimu."

DEG

'Eh?'

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang Lucky katakan barusan. Yang mata itu ambil? Apa maksudnya?

L-lagi-lagi aku dibuat terkejut. Kali ini seseorang memelukku. Refleks aku langsung mengaktifkan kemampuan sensorikku. Aku sedikit terkejut karena aku bisa mengaktifkan kemampuanku itu. Lalu saat aku mengaktifkannya, aku sadar kalau ini bukanlah dunia kematian. Dengan kemampuan sensorikku ini, aku bisa merasakan chakra Lucky, Tou-chan, dan Kaa-chan. Mereka ada di sini... di sampingku. Lalu orang yang sedang memelukku sekarang adalah...

"Kushina...-san?" gumamku masih terkejut.

"Okaeri, Minana." Aku bisa mendengar suara laki-laki selain Lucky. Sudah pasti kalau itu adalah Minato.

Kaa-chan semakin erat memelukku. Pelukannya itu seolah takut kehilangan diriku. Aku tahu karena ini sama seperti yang di ingatan diriku yang di masa depan.

"Dasar bodoh! Hiks, jangan melakukan hal berbahaya seperti itu lagi, hiks," isaknya.

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya membalas pelukannya. Rasanya hangat. Walau mereka tidak tahu bahwa aku adalah anaknya, aku tidak menyangka kalau Tou-chan dan Kaa-chan akan mengkhawatirkan diriku seperti ini. Aku juga tidak pernah menyangka kalau pelukan orang tua pada anaknya akan hangat seperti ini.

Aku ingin seperti ini selamanya. Tapi aku sadar kalau itu tidaklah mungkin. Aku tahu itu. Dan aku harus sadar dengan hal itu.

-End of Minana POV-

...

Tidak terasa hari sudah malam. Minato dan Kushina sudah tidur di ruangan mereka. Minana dan Lucky masih terjaga seperti biasanya. Yah, mungkin itu karena pengaruh dari mata iblis. Dan lagi, di ruangan ini sekarang tidak hanya ada Lucky dan Minana saja. Terdapat satu orang yang tidak diundang yang juga ikut mendengarkan perbincangan mereka. Meski begitu, Lucky dan Minana tidak peduli dengan kehadiran orang tersebut.

"Jadi alasan kenapa aku tidak bisa melihat karena efek dari menggunakan jurus mustahil, huh?" tanya Minana setelah Lucky menjelaskan kenapa tadi ia tidak bisa melihat.

Lucky mengangguk pelan.

"Mata iblis hanya akan mengambil sesuatu yang tidak diinginkan 'inangnya', huh? Yah, sepertinya Lucky yang di masa depan pernah mengatakan hal itu, tapi aku tidak menyangka kalau pengorbanannya akan semurah ini untuk menghidupkan orang yang mau mati," ujar Minana.

"Harusnya kau bersyukur, Es Batu. Meskipun mata itu mengambil penglihatanmu, tapi kau tetap bisa melihat dengan mata kananmu a.k.a mata iblis," ceramah Lucky.

Namun seperti biasa, Minana sama sekali tidak menghiraukan perkataan Lucky. Minana masih sibuk melihat-lihat tangan, tubuh, dan semua yang ada di sekitarnya.

"Ngomong-ngomong, Kyo-sensei. Kenapa kau datang kesini? Ini adalah kediaman Namikaze, ttebane. Harusnya kau tidak menganggap tempat ini seperti apartemenku."

Sedangkan orang yang dimaksud sama sekali tidak menghiraukan apa yang Minana katakan. Ia masih duduk di pojok ruangan sambil menutup mata dan melipat tangannya di dada.

"Ah, iya. Kalau tidak salah, Kyo-sensei pernah menggunakan jurus mustahil, kan? Kalau begitu, apa yang diambil mata itu darimu? Dilihat darimanapun, kau seperti tidak kehilangan sesuatu," tanya Minana penasaran.

Kyo masih diam.

"Kalau dilihat-lihat, kau juga seperti tidak kehilangan sesuatu, Es Batu," ujar Lucky agak sweatdrop.

"Hmph, padahal kau dari masa depan, tapi kau masih tidak tahu apa yang hilang dariku? Dasar murid tidak tahu diri," celetuk Kyo seenaknya.

Minana sedikit tersentak saat mendengar ucapan Kyo. Dia benar. Minana baru sadar kalau di masa depan, mata iblis sudah mengambil sesuatu dari Senseinya.

"Indra perasa," ujar Lucky memecahkan keheningan di ruangan ini. "Itulah yang mata iblis ambil darinya," lanjut Lucky.

"Indra... perasa?" tanya Minana bingung.

"Kyo tidak bisa merasakan apapun, entah itu sentuhan, basah, kering, lembab, rasa sakit, atau semacamnya. Bahkan dia juga tidak bisa membedakan rasanya berdiri dan duduk. Memegang benda atau tidak, baginya itu sama saja. Semua itu membuatnya seperti hidup di dunia hampa," jelas Lucky.

Saat mendengar semua itu, entah kenapa Minana merasa kasihan pada Senseinya. Mata iblis mengambil apa yang tidak diinginkan 'inangnya'. Apa yang diambil mata iblis dari Kyo... Minana tidak tahu harus menyebut itu keberuntungan atau kutukan.

"Klan Mibu adalah klan terhebat dalam menggunakan pedang. Namun klan itu sudah punah karena penyakit mematikan yang di derita anggotanya. Cepat atau lambat, Kyo pasti akan mati karena penyakit tersebut. Lalu karena tidak ingin mati oleh penyakit tersebut, mata iblis mengambil indra perasanya agar inangnya–"

"Hoi, hanya karena aku diam, bukan berarti kau bebas membeberkan rahasiaku padanya, Kakek," potong Kyo saat tahu kalau Lucky mengatakan sesuatu tentang dirinya.

Sedangkan Lucky langsung pasang muka polos saat Kyo menceramahinya.

"Ah iya, aku hampir lupa soal laporanku," kata Lucky saat ia mengingat sesuatu. "Dua hari lalu, Hokage-sama, penasehat hokage, pemimpin jounin, pendiri ANBU, dan Daimyo melakukan rapat tentang hokage selanjutnya. Lalu yang menjadi Hokage selanjutnya adalah Minato."

Minana tidak kaget lagi tentang Sandaime yang akan digantikan. Lagipula itu sama dengan yang ada di ingatan Minana masa depan.

"Lalu ada satu hal lagi yang menggangguku," tambah lagi Lucky.

"Soal apa?" tanya lagi Minana.

"Akatsuki. Saat aku sedang menjelajah Amegakure, nama itu sempat menjadi perbincangan penduduk disana. Aku tidak tahu apakah ini adalah organisasi yang sama seperti lawanmu di masa depan atau tidak, tapi ada baiknya kau memeriksa organisasi tersebut."


-Keesokan Harinya-

Setelah keadaannya sudah membaik, Minana mulai melakukan kebiasaan buruknya, yaitu kabur tanpa mengatakan apapun pada si pemilik rumah. Mau tidak mau, Lucky harus ikut dengan Minana juga. Jika tidak, yang ada dia akan jadi pelampiasan amarah Kushina.

Minana dan Lucky sekarang berada di markas NE. Mereka bermaksud untuk membicarakan sesuatu pada Danzo.

"Langsung saja. Mulai sekarang, aku keluar dari NE," ujar Minana to the point.

Minana bisa melihat wajah kesal Danzo. Tentu saja, sebelumnya ia gagal dalam pencalonan hokage, dan sekarang bawahannya pergi dengan seenaknya. Namun Minana mengabaikan hal itu. Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Minana memutuskan untuk pergi. Tapi, sepertinya itu tidak akan mudah. Lagipula, Minana sadar kalau cara untuk keluar dari NE tidak semudahlah itu.

"Yare-yare..." gumam Minana saat melihat puluhan anggota NE tiba-tiba mengepung dirinya dan Lucky. "Danzo-sama, aku sudah bosan menjadi bawahanmu. Makanya aku memutuskan untuk keluar. Hanya karena kau kalah dalam rapat pelantikan hokage kemarin, tolong jangan jadikan kami pelampiasan amarahmu itu," celetuk Minana seenaknya.

Satu detik setelah Minana mengatakan hal itu, di sekitar Lucky dan Minana tercipta dinding yang terbuat dari air. Melihat hal itu, para bawahan Danzo melempari Lucky dan Minana kunai dan shuriken. Namun saat senjata mereka menyentuh dinding air tersebut, senjata mereka malah berubah menjadi lebur seperti pasir.

"Karena ini akan menjadi pembicaraan kita yang terakhir, aku akan memberikanmu saran yang bagus, Danzo-sama. Sebaiknya kau lupakan saja tujuanmu untuk menjadi hokage. Selama kau memakai cara licik untuk menjadi hokage, sampai matipun kau tidak akan pernah menjadi hokage."

Setelah mengatakan hal itu, Lucky dan Minana pergi meninggalkan tempat itu dengan hiraishin level 4. Dan dalam sekejap, mereka berdua sekarang sudah berada di dekat gedung hokage. Begitu mereka tiba disana, Kushina langsung menghampiri dan mengomeli mereka. Hari ini adalah hari pelantikan Minato menjadi Hokage. Lucky dan Minana hanya pasrah saat Kushina menyuruh mereka memakai baju se-'formal' itu di hari penting ini.

"Hoi, Bodoh. Kenapa kau memindahkan kita disini?" gerutu Minana. Ia menggunakan jurus telepati.

"Mau bagaimana lagi. Kalau kita langsung pergi ke Amegakure, begitu kita pulang nanti, kita akan 'mati' di tangan Kushina," jawab Lucky tidak semangat.

.

.

Bersambung . . .


A/N: Chapter 29... done. Yang berpikir kalau ini bukan chapter terakhir, selamat, kalian benar *tepuk tangan*
Yo, Reader-san. Menurut kalian, gimana tentang chapter ini?
Hmm, padahal di chapter kemarin Kuroki berharap kalian akan percaya kalau Minana mati. Tapi ya sudahlah. Sepertinya Kuroki memang tidak pakar membuat troll :3
Ah, baiklah, Kuroki akan menjawab review Reader-san yang belum sempat Kuroki balas.

..

myuu: Yo, myuu-san. Tenang saja, feeling myuu-san benar, kok. Ini bukan chapter terakhir. Petualngan Minana masih berlanjut... untuk sekarang :3
Arigatou tuk pujian dan support-nya, myuu-san. Kuroki senang sekali XD

..

Reader-san, Kuroki benar-benar minta maaf. Untuk chapter selanjutnya, sepertinya Kuroki tidak akan bisa cepat update. Soalnya sekarang udah mulai masuk kuliah. Apalagi sekarang tugas mulai menyerang dan membunuh Kuroki (?), padahal baru masuk T.T

Sekali lagi Kuroki minta maaf karena harus hiatus lagi. Dan Kuroki juga minta maaf kalau ada kata-kata yang salah dan itu membuat Reader-san tersinggung. Arigatou karena sudah mau mampir kesini. Kita akan bertemu lagi... entah kapan :')

Jaa ne #BOOF


Istilah-istilah di anime Bleach:

Gigai: tubuh manusia buatan. Biasanya digunakan oleh shinigami yang perlu tinggal sementara di dunia manusia. Ketika menggunakan gigai, kekuatan shinigami akan turun drastis, serta mereka dapat dilihat dan berkomunikasi dengan manusia biasa.

Shunpo: teknik pergerakan yang memungkinkan penggunanya untuk bergerak lebih cepat dari yang bisa diikuti mata biasa. Shunpo mirip dengan shunshin, hanya saja di ff ini, shunpo 2x lebih cepat dibandingkan shunshin.


Spesial Thank for:

3'Oct
4869fans-nikazemaru
Aditya Otsutsuki Namikaze
Aggee
Agura Putyansa
Ahaya Uzunami
Akai. Sora13
aldona. aryadi
AlexanderFaks
Arif262
atika. faradilla. dea
Bang Pama
bhocahnakhal. phunyaathuranii
Black Id
Brian123
Ceremonial
ChientzNimea2Wind
daikinz namikaze (guest)
Damrieo
Dark Menma (guest)
Dark Namikaze Ryu
Date Uzumaki Ryumune Otsutsuki
Dev460
deva. r. Savitri
dhany kun
dRa9on'aRT
dyan. saputra. 102
eliaza272
Emiya07
fahri. uchiha
Faisal123
Fannylla
feba. ananta
Fushigi Yamiharu Qiya
Gray Areader
Grie Lord Of Ackerman
haenaaz1
haruno sora black
Hay Anime14
hendrawan. putra. 948
heztynha uzumaki
hilmi no uchiha
HollyLucifer
Hyoton no ice
Icatisa
Imu-chan Otsutsuki
JoSsy aliando
JumAwan
Kagami noKyo
kaizokuu
Kamikaze Yugito
Kapellan23
kat. mini. 718
katanya201
khf16
Kimiko Nao
kniexmatan
Kyu-ru. 25
Len Crimson
Lone Dreyar
MaraNakagawa
mitsuka sakurai
mizuki. runa. 5
monkey D nico
Moyahime
Mr. Ogy
muharrom. Cantang
Mushi kara-chan
myuu (guest)
leontujuhempat
Namikaze Pakong
Namikaze wahyu
Neko no Kitsune
Ootsutsuki Nero
PahleviAkbarZ
pencil dan tinta of begin
Refier
Reiji021
rezzaalfian4
ricky. brandals
riki. henera
Rinmatho
robby. feadsback
robyzek
septianyudaprasetyo48
sherrysakura99
ShiroiAn
Shiromaki Uzuto
ShuuRuri Shippers
SilverBlack16
Southern Light
Steven Yunior Roger
Tenza z2
Tragger
triexs. alazka
Tsuki (guest)
uchiha. izami
uchikaze Mukuzo-M. A. P
Uchizuma Angel
Uzuchiha no Name
Uzumaki Akagami
Uzumaki Danty
Uzumaki Fiyyana (guest)
Vanny Zhang
Vlatipus
Vin'DieseL D'. Newgates
vira-hime
Wong807
Yasuna Katakushi
Yoan Liyu