Finally! This is the last chapter, guys.. I hope you like it.. And I'm sorry it's been so long. Too long.
Setelah bulan lalu kita dimanjakan oleh foto-foto RobSten, aku berharap dibulan ini kita juga dimanjakan oleh kabar-kabar bahagia dari RobSten. Amen for that.
And, I'm writing the new story. Still don't know when I post it. But hopefully still in this month. And now, I'm waiting for Rob's birthday! *jumpjump*
Well, gak usah kebanyakan bicara kalau gitu, ya, langsung aja.
Enjoy!
Epilog
THE BEGINNING OF FOREVER
Edward PoV
"Ed-waaaaard!" Suara Bella terdengar dari lantai atas dan aku langsung berlari secepat kilat kekamar kami yang ada di lantai dua. Yap, kamar kami.
Setelah aku melamar Bella di Meadow kami, aku langsung bilang pada Bella kalau aku tidak ingin menunggu terlalu lama. Bella pun memutuskan bulan apa kami akan menikah dan aku yang memutuskan tanggalnya. Akhirnya kami sepakat untuk mengambil 13 agustus sebagai hari pernikahan kami.
Alice jadi Alice. Reaksi pertama setelah kami memberitahu keluargaku dan Bella di acara makan malam dia langsung berteriak dan meloncar-loncat seperti anak kecil didepan pohon natal dengan tumpukan hadiah dibawahnya. Tapi setelah dia tahu kapan tepatnya kami akan menikah, ekspresi kecewa, jengkel dan marah langsung tergambar jelas diwajahnya.
"Apa? Itu terlalu dekat. Paling tidak beri aku waktu sampai tahun depan untuk mempersiapkan segalanya."
"Alice," Aku memulai tapi Alice memotong ucapanku.
"Aku kan harus menyiapkan gaunmu. Bunga, undangan, makanan, belum lagi mencari gedungnya, dan…"
"Alice, stop!" Akhirnya aku bisa, tunggu, itu bukan suaraku. Kulirik Bella yang dari tadi duduk disebelahku, diam.
Selama ini Bella selalu mengalah pada Alice, aku rasa ini memang waktunya dia bicara. Kuremas jari-jarinya dengan lembut.
"Bella?" Alice bertanya, tatapannya tidak fokus. Seolah dia tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
Bella menari nafas. "Aku menghargai semua yang ingin kau lakukan, tapi ini pernikahanku, Alice, dan aku ingin menjadikan pernikahanku sesuai dengan keinginanku." Muka Alice sedikit lagi jari-jari Bella yang masih aku genggam. "Selama ini aku selalu menurut padamu, tapi tidak selamanya aku harus menurutimu. Aku juga punya keinginan. Dan inilah harapanku, menikah dengan orang aku cintai dan yang mencintaiku dan dengn cara yang kami inginkan. Bisakah kau melakukan itu?"
Bella meminta Alice untuk mengerti. Padahal dia tidak harus meminta ijin Alice, tapi karena Ia tidak mau menyakitinya, dia melakukan ini. Rasa cinta dan banggaku pada Bella semakin bertambah.
Kami semua terdiam, menunggu Alice menanggapi permintaan Bella. Setelah hening cukup lama akhirnya Alice menjawab.
Tangannya berada dipangkuan dan kepalanya sedikit menunduk. "Maafkan aku, Bella. Aku tidak sadar kalau aku begitu egois selama ini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk orang-orang yang aku cintai."
Jasper langsung memeluk pundak Alice. "Ini bukan salahmu, Alice."
"Jasper benar. Kau tidak bisa menghilangkan perasaanmu itu, hanya saja, bisakah kau sedikit meredamnya?" Alice menatap Bella dan mengangguk. "Bagus, karena kau masih punya tugas untuk mempersiapkan pernikahanku."
Mata Alice langsung melebar dan wajahnya berubah. "Benarkah?" Bella tersenyum padaku lalu mengangguk kearah Alice. "Ohmygod! Aku harus segera mempersiapkannya mulai malam ini juga." Jika tidak dirangkul Jasper, mungkin saat ini juga Alice sudar menghambur keseluruh ruangan. Well. Mungkin terlalu berlebihan tapi memang begitulah Alice.
"Jangan keterlaluan." Bella mengingatkan. Semangat Alice langsung sedikit memudah tapi kemudian tersenyum berseri-seri.
"Paling tidak aku masih bisa mengerjakannya." Alice menjulurkan lidahnya pada Bella. Kami hanya bisa cekikikan melihat tingkah mereka berdua.
Kucium rambut Bella dan membisikan "Aku cinta padamu" ditelinganya.
~oEOBo~
"Ada apa, Bella, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku sambil ngos-ngosan berdiri diambang pintu.
Bella sedang berdiri membelakangiku jadi aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Lalu Bella berbalik sambil menggenggam masing-masing satu pakaian di kedua tangannya. Dia masih menggunakan kaosku yang sudah menjadi piyama favoritnya. Kaos itu menunjukkan perutnya yang sudah semakin besar.
"Aku tidak bisa memilih, menurutmu aku pakai yang mana?" Tanyanya sambil menyodorkan dua pakaian kearahku, memamerkannya agar aku bisa melihatnya lebih jelas.
Kupandang Bella tak percaya. "Kau memanggilku seperti orang kesurupan hanya untuk bertanya pakaian mana yang akan kau kenakan?" Alisku terangkat dan Bella mengangguk. Kupenjamkan mataku sebelum aku mengatakan sesuatu yang akan aku sesali.
Selama mengandung, hormon Bella memang naik turun. Dan aku hampir terbiasa dengan itu. Tapi bukan berarti aku tidak kesal. Sekali dua kali kami sempat bertengkar karenanya.
"Ya Tuhan, Bella, apa kau tidak bisa memanggilku dengan cara biasa? Apa harus memanggilku seperti itu? Aku pikir kau akan melahirkan, atau yang lebih parah, kau terjatuh atau apa." Jelasku panjang lebar.
Muka bella langsung merah padam. Ada kemarahan dan pengesalan didalamnya. Aku tidak tahu mana yang akan dia keluarkan. Selama kehamilan pertamanya hormonnya selalu tidak bisa ditebak. Kadang aku sampai merasa bahwa aku akan meledak menghadapi perubahan sifat atau sikap Bella. Tapi setiap kali itu akan terjadi, Bella berubah menjadi Bella yang sesungguhnya, sama seperti saat dia belum mengandung. Dan itu langsung menyurutkan amarahku.
Dan sekarang aku berhadapan lagi dengan Bella yang hormonal. Aku mendesah sebelum melangkah masuk ke kamar kami untuk berdiri di depannya. Wajah Bella sekarang menunduk, bajunya masih berada digenggamannya yang sekarang terkulai lemas disamping badannya. Aku merasa seperti orang idiot karena sudah menyebabkan Bella menjadi seperti ini. Tapi kehamilan Bella sudah memasuki bulan ke sembilan. Wajar saja hal sekecil apapun akan membuatku khawaatir.
Kami sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara makan malam rutin dirumah orang tauku. Setiap Jumat malam kami semua akan berkumpul disana, keluargaku dan keluarga Bella. Tidak, bukan itu, tapi keluarga kami. Keluarga kami.
Kaungkat wajah Bella dengan menggunakan jari tanganku di dagunya. Dan hatiku serasa jatuh begitu melihat ekspresi wajahnya. Kedua mata indah dan pipinya basah karena air matanya. Aku tidak sadar kalau nada suaraku tadi terlalu kasar. Dan kali ini aku benar-benar ingin menendang pantatku sendiri.
Kuusap air mata dipipinya dengan jari tanganku yang bebas. "Bella," Aku memulai tapi Bella memotongku.
"Maafkan aku." Ucapnya lirih. "Aku tidak bermaksud membuatmu cemas seperti itu." Gurat penyesalan tergambar jelas diwajah, mata dan suaranya.
Aku tidak bisa memikirkan kata-kata lain selama beberapa detik jadi kuatarik Bella ke dalam pelukanku. Menguburkan wajahku di rambut ikalnya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf. Tidak seharusnya aku berbicara dengan nada seperti itu padamu. Tapi kau memang benar-benar mengagetkanku tadi."
Kulonggarkan sedikit pelukanku agar aku bisa menatap wajahnya. Bella sudah tidak menangis, syukurlah. Tapi wajahnya belum seratus persen kembali seperti semula, jadi aku harus berbuat sesuatu untuk merubahnya kembali.
"Dan sekarang," Kuambil dua gaun yang Bella pegang, mundur beberapa langkah agar aku bisa melihatnya lebih jelas. "hmm, kurasa aku tahu mana yang harus kau kenakan."
Ditangan kiriku adalah gaun sederhana dibawah lutut berwarna hijau dengan dua tali kecil dibagian bahu. Yang satunya adalah gaun berwarna biru, panjangnya hanya sampai lutut dengan tali menyamping dibagian atasnya. Dibagian bawah ada sedikit rimpel.
"Ini," Kuserahkan gaun berwarna biru ketangan Bella. "pakai yang ini, okay?"
Bella menatapku sejenak. "Apa aku tidak akan terlihat seperti seekor lumba-lumba yang sedang berjalan? Jangan bilang kau memilihnya hanya karena warnanya biru." Bella memicingkan matanya kearahku.
Aku tersenyum. Well, selain aku memang menyukai Bella dengan pakaian berwarna biru, aku juga menyukai gaun itu. Warna hanyalah bonus.
"Well, itu tidak bisa aku pungkiri. Tapi aku bisa membayangkan kau mengenakan gaun itu." Bella masih memandangku dengan mata menyelidik. "Dan aku bisa membayangkan betapa cantiknya kau nanti saat memakai gaun ini." Muka Bella memerah lagi, kali ini karena tersipu. Kuusap pipinya yang memerah dengan punggung tanganku. "Cepat ganti bajumu."
"Okay." Bella tersenyum dan meraih gaun hijau yang masih ada ditanganku.
Kujauhkan gaun itu dari jangkauan Bella. "Kau ganti baju saja, biar aku yang mengembalikan ini ketempatnya." Bella mengangguk, kukecup keningnya sebelum Bella pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan menyelesaikan make up nya.
Dua puluh menit kemudian kami sudah sampai di halaman rumah orang tuaku. Setelah menikah kami mulai mencari rumah untuk kamu tempati. Sebenarnya aku sudah mulai mencari-cari sebelum pernikahan kami agar setelah kami pulang berbulan madu dari Brasil kami bisa langsung menempati rumah baru kami. Tapi belum ada yang sesuai dengan keinginanku dan aku yakin tidak ada satupun yang akan menarik perhatian Bella.
Dan tepat sebelum hari pernikahan kami—lebih tepatnya malam pernikahan kami—aku memilih untuk mengadakan acara bachelor party dirumah. aku bukanlah satu dari mereka yang sedih karena akan meninggalkan masa bujangannya dengan merayakannya secara gila-gilaan. Aku malah bahagia dan tidak sabar untuk menunggunya.
Saat itulah aku iseng-iseng membuka laptopku untuk mencari rumah yang siapa tahu saja ada yang menarik. Ternyata benar, ada satu rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Hanya berjarak kurang lebih dua puluh menit.
Rumah itu mempunyai taman depan dan belakang. Empat kamar tidur dan satu kamat tidur utama. Empat kamar mandi. Ada ruang baca yang akan bisa kujadikan kantor dan perpustakaan untuk Bella. Rumah itu bertingkat tiga. Diujung atas ada balkon yang bisa kami gunakan untuk menikmati matahari atau bintang-bintang di malam hari. Sekali melihatnya aku langsung tertarik. Dan tanpa pikir panjang aku langsung mengambil kunci mobilku dan membawa laptopku untuk menemui Bella. Tidak sabar untuk menunjukan ini padanya.
"Edwaaard! Apa yang kau lakukan disini?!" Alice lah yang membukakan pintu untukku. Seharusnya aku memberitahu Bella dulu agar aku bisa selamat dari Alice.
"Hallo, Alice." Alice tidak menjawab, dia hanya melihat kearahku. Menungguku menjaab pertanyaannya. "Apa Bella belum tidur?"
"Sudah." Alice berkaack pinggang. "Dan kalaupun belum aku tidak akan mengijinkanmu untuk menemuinya. Dan apa yang akan kau lakukan dengan aptop itu." Alice menunjuk ke laptop yang ada ditanganku dengan gerakan dagunya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu pada Bella."
"Memangnya tidak bisa menunggu? Kau bahkan tidak seharusnya berada disini. Kalian tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan kalian besok."
"Alice, siapa itu? Aku seperti mendengar suara Edward."
"Bukan siapa-siapa." Langsung saja Alice merapatkan pintu sehingga hanya badannya yang terlihat dari luar. Tapi aku tidak mempedulikannya.
"Bella! Bisakah kau keluar sebentar?"
"Edward?" Bella bertanya dengan terkejut. Sedetik kemudian Bella sudah berdiri didepanku. "Apa yang kau lakukan disini." Meskipun bingung tapi raut kebahagiaan tergambar jelas diwajahnya. Alice hanya mengeluh lalu pergi kedalam dan meneriakkan kat-kata "Lima menit" Well, paling tidak dia member kami waktu.
"Well?" Bella mulai bertanya tapi sebelum dia bertanya lebih banyak, kurengkuh wajagnya dengan satu tangan dan mencium bibirnya dengan sepenuh hati. Bella membalas ciumanku. Lidah kami bertemu dengan mesranya. Selama satu menit penuh bibir kami tidak berpisah. Dan aku tidak peduli kalau ada tetangga yang melihat kami.
"Hmm, bukannya aku keberatan, tapi untuk apa itu?" Tanya Bella.
"Aku hanya sangat merindukanmu."
Bella mengambil nafas panjang. "Okay, apa yang ingin kau katakan atau tunjukkan padaku."
Kugandeng tangan Bella dan berjalan ke samping teras untuk duduk. Kutarik Bella kepangkuanku dan menaruh laptopku dipangkuannya sebelum kunyalakan. Setelah menunggu beberapa saat laptopku menyala dan tanpa menghabiskan banyak waktu aku langsung mencari foto rumah yang akan aku tunjukkan padanya.
"Lihat ini." Bella terkesiap. Jadi aku ras keputusanku untuk datang kemari tepat. Bella masih belum bersuara. "Kau suka?" Tanyaku mulai cemas.
"Apa…apakah rumah ini dijual?"
"Kita beruntung karena pasangan yang mempunyai baru akan menjualnya mala mini. Kalau kau suka aku bisa langsung menelfon mereka dan membuat janji. Menurut yang aku baca disini, mereka masih tinggal disana. Jadi mungkin kalau kita menghubungi mereka sekarang, kita bisa langsung datang kesana."
Bella menoleh untuk melihat wajahku dengan matanya yang berseri-seri. "Kau serius?" Tanyanya penuh semangat. Aku mengangguk, tidak mampu berkata-kata melihat kebahagian terpancar diwajahnya. "Kalau begitu segera telfon mereka!"
Aku tertawa. "Kenapa kau tidak melihat detail-detail rumah ini dulu sementara aku menelfon mereka?" bella mengangguk kemudian melakukan gerakan berusaha bangkit dari pangkuanku, tapi aku mencegahnya dengan mempererat pelukanku dipinggangnya.
Setelah kututup telefonnya kami langsung bergegas berangkat sebelum Alice keluar dan mencegah kami. Saat kami sudah di dalam mobil, Alice keluar dan meneriakkan nama kami. Kami hanya melambaikan tangan dan segera meninggalkan parkiran.
Dan seperti itulah bagaimana kami mendapatkan rumah kami.
Aku melirik kearah Bella dan dia terlihat seperti sedang menahan sesuatu. "Bella, kau baik-baik saja?" Kugenggam tangannya lalu Bella meremas jari-jariku.
"Aku baik-baik saja. Ayo kita masuk."
Aku segera turun dan berputar untuk membukakan pintu bagi Bela. Tapi kata-kata Bella tadi tidak sesuai dengan ekpresinya, meski Ia berusaha keras menutupinya.
"Kau mau pulang saja?" Aku menawarkan.
"Edward, jangan konyol. Kita sudah sampai disini, lebih baik kita segera masuk sebelum Esme menyuruh team evakuasi untuk mencari kita."
Aku mendesah. "Baiklah. Tapi jika kau merasa tidak nyaman atau tidak enak badan, kau harus langsung memberitahuku seketika."
"Siap Mr. Cullen." Bella tersenyum, kali ini senyumnya tidak dibuat-buat. Aku melingkarkan satu tanganku dipinggangnya hingga ujung jari-jariku menyentuh bagian pinggir perut Bella. Aku mengusapnya dengan lembut.
Tapi sebelum kami sampai di dalam rumah, Bella tiba-tiba berhenti dan menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Sontak aku langsung ikut memegangi perutnya, takut kalau-kalau perutnya akan menghilang atau apa. Aku tahu, itu bodoh. Orang-orang yang ada di dalam rumahpun berhamburan keluar dan dimulailah angin topan. Semua orang berseliweran kesana kemari. Tidak jelas apa yang mereka lakukan.
Kami bergegas membawa bella kerumah sakit dan beberapa jam selanjutnya Andrew Edward Cullen lahir dengan sehat dan sempurna.
Bella PoV
Empat Tahun Kemudian
Tidak terasa tiga tahun telah berlalu setelah malam kelahiran Andrew di acara makan malam keluarga kami. Dan sekarang aku berdiri disini, melihat suami dan anakku sedang bermain didepanku.
"Mama?" Panggil Andrew.
"Ya, honey?"
"Ngantuk."
Aku tersenyum dan berjalan ke arahnya sebelum menggendongnya dan membawanya ke kamar. "Saatnya untuk sang Jagoan tidur." Edward tersenyum melihat kami dan segera membereskan mainan Andrew yang berantakan sementara aku akan memandikan Andrew dan menidurkannya.
Andrew adalah bayi yang paling dimanja didunia—well, paling tidak menurutku—dia adalah cucu pertama keluarga Cullen dan Swan, jadi tidak diragukan lagi.
Saat seperti ini—menidurkan Andrew dikamarnya yang ditata oleh nenek dan tantenya sedemikian rupa—aku sering melihat kembali perjalanan kami, saat aku pikir bahwa hal semacam ini tidak akan pernah terjadi lagi. Tapi disinilah aku, bersama Edward dan putra kami.
Aku berdiri disamping ranjang Andrew, memandangnya yang sedang tidur lelap tanpa khawatir akan dunia. Aku ingin Andrew selalu merasa seperti itu. Tenang dan damai, tidak pernah memikirkan apapun. Tapi itulah bagian menjadi dewasa. Aku mendesah sebelum kurasakan dua buah tangan memeluk perutku dari arah belakang.
"Hai." Edward mencium pundakku.
Kusandarkan kepalaku kebadannya. "Hai."
Edward menaruh dagunya dipundakku dan mengikutiku memandang Andrew. "Apa aneh kalau aku berharap bahwa Andrew selamanya akan seperti ini?"
"Itu hal yang baru saja aku pikirkan. Tapi kita tidak bisa mencegah atau menghentikan waktu."
"Well, paling tidak kita harus menikmati masa-masa seperti ini. Sebelum Andrew mulai menyukai seseorang."
"Edward, aku rasa kau sudah benar-benar berlebihan. Saat ini boleh saja kau sukses mempengaruhi Andrew tentang gadis, tapi tidak selamanya Andrew akan mempercayai itu."
"Dia memiliki wanita-wanita paling sempurna di dunia untuk apa wanita lain."
Aku hanya memutar bola mataku dan meraih tangan kiri Edward, menariknya untuk keluar dari kamar Andrew dan menuju kamar kami. Sepanjang perjalanan ke kamar kami otakku kembali sibuk. Memutar ulang memori saat hari pernikahan kami.
~oEOBo~
"Bella, apa kau baik-baik saja?" Esme bertanya padaku dari arah belakangku, melihatku dari cermin. "Kau terlihat pucat."
"Apa kau pikir dia bisa menjalaninya?" Kali ini ibuku yang bertanya, tapi tidak padaku.
"Aku baik-baik saja, jangan melebih-lebihkan, mom." Jawanku sambil memandang ibuku sebelum beralih untuk memandang Esme dari pantulan cermin. "Aku hanya gugup. Itu saja."
"Gugup itu wajar, sayang, asal jangan sampai membuatmu berubah pikiran."
Aku tersenyum. "Tidak akan, Esme."
"Bagus kalau begitu." Terdengar suara Alice dari arah pintu, dibelakangnya Charlie tampak pucat. Ternyata bukan cuma aku. "Ini." Alice menyerahkan buket bunga padaku. "Sudah saatnya." Alice bicara pada Esme dan Ibuku. Merekapun segera keluar dari kamar.
Edward dan aku memilih untuk menikah di halaman belakang rumah keluarga Cullen. Esme dan Carlisle tidak henti-hentinya tersenyum waktu kami memberitahukan keinginan kami. Awalnya aku berpikir apakah tidak apa-apa, tapi Edward meyakinkanku kalau aku tidak perlu khawatir.
"Setelah aku keluar, hitung sampai lima baru giliranmu." Alice menatap mataku, meyakinkanku.
"Okay." Jawabku. Charlie langsung berjalan ke arahku dan berdiri disampingku. Kurangkulkan tanganku di lengan Charlie. Meremasnya.
"Kau siap, Bella?"
Kuambil nafas panjang sebelum menjawabnya. "Tidak pernah sesiap ini." Dan lagu pernikahanpun dimulai, itu tanda buatku untuk keluar.
Tamu yang kami undang tidaklah banyak. Hanya keluarga, dan beberapa sahabat dekat. Jane pun ada disini. Hubungan kami masih belum bisa kembali seperti semula. Aku tidak tahu kapan kami akan menjadi sahabat lagi. Tapi Alec dekat dengannya dan aku mempunyai firasat kalau hubungan mereka lebih dari pertemanan.
Dan diujung sana, Edward berdiri menungguku. Senyuman tersungging di wajah tampannya. Tuxedo yang Ia pakai hanya mempertegas ke-dewaan wajahnya. Dia benar-benar sempurna di mataku. Aku benar-benar beruntung bisa hidup bersamanya selamanya. Melihat dia berdri disana membuat senyum diwajahku mengembang.
Janji pernikahan kami sederhana, janji yang sudah di lafalkan oleh ribuan pasangan pengantin sebelum kami. Janji suci yang akan kami jaga selamanya.
Pesta pun bergulir hingga tiba saatnya keberangkatan kami untuk berbulan madu. Tadinya Edward bersikeras untuk merahasiakan tempat bulan madu kami, tapi seteah setengah mati merayu Edward untuk memberitahuku dimana kami akan pergi berbulan madu, Edward pun menyerah dan memberitahuku kalau kami akan pergi ke Brasil. Wow.
Kami tinggal disana hampir satu bulan. Menikmati saat-saat hanya ada kami berdua. Aku terhanyut dengan suasana disini hingga saat hari dimana kami harus berkemas aku merasakan berat untuk meninggalkan tempat ini. Tapi disisi lain, aku juga merindukan keluarga kami.
~oEOBo~
"Beautiful, apa yang kau pikirkan?" Suara Edward membangunkanku dari lamunan. Kami sudah sampai dikamar dan Edward baru saja mengambil piyama untuk kami pakai. Well, piyamaku adalah kaosnya dan boxer.
Kugelengkan kepalaku. "Aku hanya sedang ingat pernikahan kita dan bulan madu kita ke Brasil."
Edward tersenyum jahil. "Hmm, saat-saat yang indah, bukankah begitu?" Edward memberikanku kaosnya dan sebuah boxer untukku pakai. Aku pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi dang anti baju. Setelah selesai aku keluar, mendapati Edward sudah berada di tempat tidur di sisihnya. Aku menyusulnya dan berbaring di sebelahnya. Tapi Edward langsung menarikku ke dalam pelukannya.
Kepalaku berbaring di dadanya. Bisa kurasakan detak jantungnya di telingaku. Aku khawatir akan reaksi Edward tentang kabar yang akan kuberitahukan padanya. Aku sangat mencintainya, tapi kalau dia tidak bisa menerimanya, aku tidak tahu harus bagaimana.
Edward sepertinya tahu kalau pikiranku sedang berputar sangat keras. Dia mengangkat daguku agar kami bisa saling menatap.
"Kau yakin, kau baik-baik saja? Aku bisa merasakan kepalamu berputar."
"Aku baik-baik saja." Edward masih memandangku, tidak mempercayai kata-kataku. "Well, sebenarnya ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu." Edward melepaskanku dan memiringkan tubuhnya sehingga kami berhadap-hadapan. Tangannya menggenggam erat tanganku.
"Okaay?"
Bagus, belum apa-apa kau sudah membuatnya cemas. "Ini bukan kabar buruk. Tergantung bagaimana kau menanggapinya."
"Bella, kau membunuhku. Katakan saja ada apa." Desaknya.
Kuambil nafas dalam-dalam. Sekali lagi mempersiapkan diriku untuk kabar besar ini. Kuraih tangan Edward dan membawanya ke perutku. Menaruhnya disana. Edward masih terlihat bingung. Tapi aku sama sekali tidak bicara, aku hanya menatapnya. Berharap tatapanku bisa menjawab pertanyaannya.
Lalu senyum kecil mengembang di wajah Edward dan senyumnya makin lama makin lebar. "Benarkah?" Tanyanya, aku hanya mengangguk. Tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena tenggorokanku rasanya tercekat.
Edward langsung merengkuhku ke dalam pelukannya. Praktis sekarang aku berada diatas tubuh Edward. Edward tertawa, tapi bisa kurasakan kalau dia juga menangis. Tapi kemudian Edward melepaskan pelukannnya dan menaruhku kembali di tempat kaget dengan perubahan sikapnya.
Detik berikutnya Edward menghilang dari pandanganku. Menyibakkan kaosku, dia mencium perutku sebelum membisikan sesuatu. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.
"Kau tahu, dia masih belum bisa mendengar ucapanmu."
"Well, tidak masalah." Edward mencium perutku sekali lagi dan kembali ke sisihnya sebelum menarikku kembali kedalam pelukkannya. Edward mencium keningku, meninggalkan bibirnya beberapa saat disana.
"Terima kasih, untuk sesuatu yang berharga ini."
Kueratkan pelukanku di pinggangnya. "Kau tahu, itu bukan aku saja yang membuatnya." Ledekku. Edward tertawa.
"Aku tahu." Hening beberapa saat sebelum Edward bicara lagi dengan lembut. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu.
THE END
Well, what do you think, guys? Like it, hate it? Review please, for the last one… *puppy dog eyes*
Thank you for all of you reader, your review is everything for me.
See you guys in my new story..
Love,
B
Ps. Maaf untuk kesalahan dalam menulis, aku bekerja sendiri tanpa editor
