... *nangis di pojokan* ... Anisha minta maaf sekali karena udah telat (BANGET) ngeupdate cerita-cerita di sini (TTATT) Habisnya beneran sibuk banget buat persiapan kelas 3... Ini pun juga begadang-begadang kerjain tugas... Mohon maaf sekali atas keterlambatannya mengupdate fic ini (TTwTT) Baiklah, tanpa basa basi, mari kita lanjutkan fic ini!
-_-_-_- ?'s POV -_-_-_-
Aku terduduk diam sambil menatap plester pemberian gadis pirang yang sempat menabrakku hingga dia menindihku kemarin lalu. "Emily", nama gadis itu.
(Sebelumnya di LOVE HER LOVE HER, dengan ?'s POV)
"Debu menutupi bagian luar... Namun dibalik itu terdapat kecantikan yang indah dari dalam... Katakan, wahai Cinderella, apa yang kau lakukan di pagi buta begini?"
Gadis itu tersentak, baru kali ini mendengar ada orang yang memanggilnya seperti itu. "E—Emily bukan Cinderella—" sahut gadis itu panik dan secara tidak sengaja menyebut namanya.
"Oh, namamu Emily, ya? 'Selalu ingin tahu dan penasaran'... Itu arti namamu kan? Kau benar-benar gadis yang selalu ingin tahu, bahkan kau sampai berani mencoba meloncat melihat keindahan matahari terbit di pagi hari dengan memanjati atap rumah orang lain... Benar-benar gadis yang lucu," pujiku sambil menggunakan kalimat "manis"-ku.
"E—Enak saja! Emily nggak nyoba kayak gitu!" Emily segera bangkit. "Nih! Emily punya plester, kalau ada yang luka, pasang saja itu, ya!" Emily memberikan sebuah plester pada orang berjaket itu lalu berlari ke Inn.
Aku hanya mampu tersenyum, sambil membuka tudung jaket, memperlihatkan sedikit rambutku yang berwarna silver. "Emily ya namanya... Hmm..."
(Kembali ke masa sekarang)
BRUK!
Aku segera turun dari dahan pohon tempatku duduk tadi ke tanah. Dengan segera kutatap langit. Matahari sudah mulai terbit di ufuk timur. Sudah saatnya rencanaku untuk mencuri di toko roti Claire beraksi. Sekali dayung, dua gadis terlampaui!
-_-_- Doug's Inn -_-_-
Aku memandang gedung orange tinggi yang berada di depanku. Tidak masalah untuk memanjatnya. Hup! Dan benar, aku sudah ada di atas atap hotel ini dalam hitungan detik. Merayap dan perlahan, aku masuk ke hotel itu melalui jendela tempat gadis pirang itu menginap.
"Ungg..."
Aroma kamar wanita. Dan juga wangi dedaunan kering. Gadis ini memang senang meninggalkan kamarnya dalam keadaan jendela terbuka hingga terdapat sedikit daun kering saat kakiku melangkah di sekitar kamarnya. Gadis itu masih tertidur pulas dengan muka memerah. Ah, jangan-jangan dia sedang sakit. Kuletakkan jari jemariku ke atas keningnya. Panas.
Berarti dia memang sakit. Wanita yang sakit hatinya akan semakin lemah dan melembut, sama seperti kucing yang selalu pasrah apabila sakit dan mau tidak mau harus dirawat manusia dengan kelembutan. Sepertinya akan mudah sekali menjinakkan gadis ini.
"Ung..."
Gadis itu mengigau lagi. Anak yang lucu, begitu pikirku. Aku langsung duduk di lantai dekat muka gadis itu berpaling, dan segera kukecup keningnya yang masih panas.
"... Ah?"
Gadis itu perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Hijau emerald. Kedua matanya langsung melotot saat melihatku.
"!"
Segera kututup kedua telingaku. Ya, sudah kuduga reaksinya pasti akan berteriak sekencang ini.
"Siapa kau? Mau apa-hatchii!" gadis itu panik dan tidak sengaja bersin ke arahku. "Ma, maaf!" pintanya panik.
"Tenang saja... Kau masih ingat aku? Yang waktu itu kau tabrak di halaman rumah petani itu... Dan kau memberiku ini," aku mengacungkan plester yang diberikan gadis itu. "Aku berterima kasih atas ini, dan akan kuberikan apapun yang kau inginkan..."
"Eh? Hah?" gadis itu panik.
"... Maukah kau menjadi kekasihku... Emily?" tanyaku dengan nada seromantis mungkin sambil mengedipkan sebelah mataku.
"... Hueeeeeeeee~~~!" Emily langsung lemas di kasurnya dengan muka bersemu super merah. Heheh. Jebakanku berhasil.
"Aku akan penuhi semua keinginanmu... Segalanya..." bisikku perlahan sambil mengecup kembali pipinya. "Hanya kaulah bidadari malam dan malaikat pagiku..."
"... Hue... Hueee... Seseorang tolong aku..." Emily panik dengan muka masih bersemu sangat, sangat, dan sangat merah seperti udang rebus. Sepertinya jebakanku sangat bekerja padanya.
"Ada apa Emily? Kudengar kau—" aku melihat ada seorang gadis lagi dan datang memasuki kamar. "... Siapa kau? Ini belum jam buka Inn!" omel gadis itu kesal.
"Maafkan ketidaksopananku, wahai gadis..." aku memasang senyum tipisku. "Aku sudah tidak sabar mendatangi bidadari cantikku ini yang baru saja meluluhkan hatiku untuk mencintainya seumur hidup..."
"... !" kini giliran gadis itu yang panik.
"Kalau tidak salah... Ann kan, namamu?" tanyaku sambil tetap tersenyum. "Aku senang kau menjadi gadis pertama yang menjadi saksiku mengungkapkan cintaku pada gadis pirang cantik ini..."
"... Hue... Ini... Bukan mimpi kan...?" tanya Emily panik sambil tetap menunjukkan muka merah bersemunya. "Anncchi, tolong aku!" jeritnya panik sambil mencoba mendekati Ann dan memeluknya lemas.
"Te, tenang dulu! Tunggu dulu!" Ann mengacungkan kedua lengannya panik. "Kau, datang pagi-pagi ke lantai 2 lewat jendela, hanya untuk menyatakan cinta aja?"
"Apa itu bermasalah untukmu?" tanyaku sambil tersenyum manis.
"... Sama sekali tidak..." Muka Ann sama-sama memerah.
"Anak baik. Sekarang, bisa kau pergi sebentar?" pintaku sambil kembali mendekati Emily, memastikan kalau aku benar-benar ingin sekali mendekati gadis pirang tersebut. "Aku masih ingin berbicara dengan si manisku ini."
"Ba, baik!" Ann langsung kabur dan menutup pintu dengan cepat.
BRAK!
Setelah yakin Ann pergi, aku tersenyum kembali dan mengelus kepala Emily. "Kau masih panas, Emily. Kugendong ke kasur ya?"
"Ehh? Ngga usah, Emily bisa bangun sendiri kook..." kata Emily pasrah meskipun jalannya masih miring ke kanan dan ke kiri.
"Bohong," aku mengangkat tubuh gadis itu dan kupanggul di punggungku. "Tuh kan,ngga bisa?"
"Ukh... Terima kasih... Eng..." Emily memeluk pelan. "... Emily belum tahu namamu..."
"... Panggil saja 'pangeran', wahai Cinderella..." bisikku lembut.
"Jangan panggil aku Cinderella! Panggil aja Emily! Dan... Emily ingin manggil kau dengan nama aja! Ngga usah panjang-panjang, kumohon..." pinta Emily lemah.
"... Baiklah, panggilah aku Sora." sahutku sambil membaringkan Emily ke kasurnya.
"Sora. Sora-kun kalau begitu!" Emily tersenyum ceria sambil memegangi tanganku.
Hmph. Dasar anak bodoh. Kau sudah terjebak ke dalam perangkapku yang manis.
-_-_-_- Claire's POV -_-_-_-
Aku menghela napas. Sudah beberapa hari ini Emily sakit. Kudengar dia terjatuh di kolam Kappa saat bermain-main di hutan. Haaah, sungguh anak yang eksentrik dan hiperaktif. Tidak kusangka kolam Kappa dia mainkan juga (eh).
KLINING KLINING
"Yaa, siapa?" aku menoleh.
Sesosok pemuda berambut silver dengan sepasang bola mata hijau zamrud. Pemuda yang belum pernah kutemui di Mineral Town seperti ini. Siapa dia?
"Apa anda Haibara Claire?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.
"Ya, saya sendiri, ada apa?" tanyaku kembali dengan heran.
"Aku mendapat secarik surat untukmu. Awalnya aku ingin membantunya menulis, tapi dia memaksakan diri untuk menulisnya sendiri karena dia bilang dia rindu sekali padamu. Ini," sahut pemuda itu sambil memberikan surat dari saku bajunya.
Saat kubuka dan kubaca suratnya, selembar kertas kuning tipis dengan tulisan acak-acakan tertera di kertas itu. Tidak salah lagi, pasti ini Emily.
"Dear Boss Claire.
Aku rindu sekali padamu! Aku ingin bertemu padamu meskipun aku sakit flu! Ayo datang jenguk aku di Doug's Inn! Gray dan Cliff juga pasti ingin bertemu padamu lagi! Oh iya, dan ini Sora, dan dia bilang kalau dia ini kekasihku (./.) Dia datang ke kamarku tadi pagi dan langsung mengaku pada dirinya sendiri kalau aku ini kekasihnya! Tolong aku, boss!
Signed, Emily."
Mukaku langsung bersemu panas. Pemuda ini kekasih Emily? Tidak mungkin. Emily kan kekanak-kanakan, mana baru saja 'putus hubungan' dengan Rick. Tapi masa dalam waktu seminggu punya kekasih? Dan lagi, kenapa cowok ini dengan mudahnya mengaku "kekasih" tiba-tiba padanya?
"Ehehehe. Kau sudah membaca surat itu ya?" sahut sang cowok yang kuketahui bernama Sora itu.
"Ehh... Iya... Dia ingin sekali kukunjungi..." jawabku jujur.
"Akan kuantarkan kau... Gadis cantik sepertimu tentu saja harus diantarkan oleh pria kalau berpergian..." tawar Sora tenang dengan nada romantis. "Kau mau?"
"Eng... Tentu, mungkin jam 5 besok sore akan kukunjungi dia..." jawabku agak ragu. Aneh sekali. Ini terlalu aneh. Dia mengakui kalau dia kekasih Emily (yang sama sekali tidak kuketahui bagaimana cowok ini bisa kecantol secepat ini) tepat saat dia baru bangun, tapi kenapa dia bisa memuji wanita lain dengan nada segombal tadi?
"Baiklah. Aku kembali dulu menuju Inn. Sampai jumpa besok sore, manisku." bisik Sora sambil mengambil sejumput rambutku dan mengecupnya hingga membuatku berdegup.
... Apa ini... Rasa hangat di hati ini...? Rasa hangat yang sama saat aku bersama Gray saat itu. Rasa hangat yang membuat hatiku melembut... Apakah ini...
-_-_-_- Sora's POV -_-_-_-
"Ini baru permulaan, Claire..." bisikku licik setelah aku keluar dari toko roti Claire. "Akan kucuri segalanya, semua yang ada di rumahmu segera... Hehehehehhh..." senyumku semakin melebar. Aku kembali berjalan menuju Doug's Inn kembali.
Saat aku berjalan, kepalaku agak pusing karena kurang tidur. Tch, aku lupa untuk minum obat agar membuatku terjaga selama seharian ini. Selama ini aku mencuri setiap malam dan tidur di pagi hari hingga malam menjelang. Aku harus bertahan untuk seharian ini!
-_-_-_- Doug's Inn -_-_-_-_-
Aku masuk dan melihat Emily sedang bermain dengan dua pria disampingnya.
"Ah, Sora-kun! Selamat datang kembali!" sahut Emily riang sambil mengacungkah lengannya. "Aku sudah agak mendingan, jadi aku main bersama Gray-kun dan Cliff-kun hari ini!"
"Kami sedang main Uno," sahut Gray kalem sambil mengocok kartu. "Kau ikut saja."
"Tidak terima kasih," jawabku santai sambil segera memilih tempat duduk di sebelah Emily dan melancarkan jurusku seperti biasa. "Aku lebih senang membantunya bermain dan membantunya mengalahkan kalian."
"Sora-kun juga harus main! Ayo dong, ayo!" bujuk Emily. Hah. Mudah sekali.
"Baiklah, kalau itu yang kau mau..." aku tersenyum sambil mengambil tiga lembar kartu. "Baiklah, ayo main."
"Merah!" teriak Emily sambil mengeluarkan kartu 7.
Cliff membalas dengan melempar kartu 7 merah juga. Gray membalas dengan melempar 7 hijau. Aku melihat kartuku. 8 biru, 9 merah, dan kartu swap colors. Langsung saja kulempar Swap Colors. "Aku ingin warna biru."
"Ehh! Emily ngga punya!" Emily langsung mengambil kartu lagi. "Tetap tidak ada... Ayo diteruskan!"
Cliff melempar kartu 3 biru. Gray melempar Reverse. Cliff melempar kartu Reverse juga. Gray marah dan mengerang. Terpaksa dia mengambil kartu baru. Aku melempar kartu 5 biru. Emily membalas dengan kartu 8 biru. Cliff sadar kalau kartu di tangannya hanya satu. "Uno!" dia berteriak dengan senang.
KRUYUUUK
Tanpa disadari, Emily dan kedua pria di sampingku kelaparan sampai-sampai perut mereka saling beradu untuk meminta diisi. Aku tertawa kecil. Gray hanya bisa menunduk dengan muka bersemu malu, Cliff tidak kalah malunya dan Emily hanya bisa tertawa keras dengan muka semerah udang rebus.
"Kalian semua lapar ya?" tanyaku sambil melemparkan kartu. Mereka semua menirunya dan mengangguk cepat. "Akan kubuatkan makanan. Mau?" tawarku. Mereka mengangguk lagi.
"Mau masak apa, Sora-kun?" tanya Emily.
"Makanan yang sangat kucintai. Kare," jawabku bangga.
"KARE?" jerit Emily senang. "Cliff-kun! Makanan favorit kita!" jeritnya lagi sambil memeluk Cliff.
"I, iya Emily..." jawab Cliff gugup masih dengan muka memerah.
Aku tersenyum kecil. "Baiklah, kupinjam dapurnya ya."
Beberapa langkah menuju dapur, kulihat ada seorang bapak-bapak berambut merah sedang memasak.
"Om, boleh aku masak kare di sini?" tanyaku sopan.
"... Ah! Maaf, kau tidak bisa masak di sini. Aku juga sedang memasak!" omel bapak-bapak itu.
"Ayah! Sudah, jangan marahi tamu kita!" tiba-tiba Ann datang melerai kami. "Sora, kau mau memasak di sini? Silahkan! Gunakan saja sesukamu," katanya ramah.
"Baik, akan kubuat kare terenak di sini," sahutku bangga. "Kare... Minyak... Garam... Merica... Nasi..."
Saat aku berkutat dengan kare, maka tidak akan ada lagi yang bisa mengangguku. Dunia seolah menjadi milikku sendiri dan kekasih tercintaku. Aku dan kare. Kare dan aku. We are happy family. Maaf, sekali-kali teringat Barney.
"Hmmm... Aromanya wangi, Sora-kun!" Emily tiba-tiba muncul dari belakangku dan memeluk lengan kananku. "Kau hebat sekali membuat kare sewangi ini. Pasti rasanya juga enak!"
"Ahaha, tidak juga, Cinderellaku," ucapku lembut sambil sekali lagi mengecup pipinya. "Hanya kaulah 'masakan' yang paling kucintai bersama dengan kare ini."
"Hee, ayo cepat! Kami sudah nunggu di luar! Sora-kun juga makan sama-sama ya!" ajak Emily sambil tersenyum bahagia.
Aku sedikit heran dengan gadis ini. Apa dia benar-benar percaya kalau aku ini "mencintai"nya? Sementara aku hanyalah memberikan tanda-tanda kasih sayang palsu padanya sejak awal. Aku menjadi agak resah. Skye, ingatlah. Dunia ini hanya dipenuhi oleh kasih sayang yang fana. Takkan ada yang mau peduli padamu. Dan dunia hanya akan menjauhimu kalau kau takkan bisa bertahan diri. Dan inilah salah satu caraku untuk bertahan diri dan menipu orang-orang. Ini hanya untuk perangkapmu sendiri, Skye. Jangan sampai kau terlena menjadi peran kekasih "sungguhan" untuknya!
"Sora-kuuuun~! Ayo makaaan!" Emily mengacungkan lengannya sambil melihatku dari luar. "Ayo makan sama-samaaa~!"
"Baik, baik, sayang..." aku memasang senyum palsuku seperti biasa. Lebih baik aku terus saja menipunya sampai aku bisa mendapat informasi dari toko roti Claire melalui gadis pirang bodoh ini.
"Ayo Sora-kun! Aku sudah siapkan semuanya, jadi ayo makan layaknya 'keluarga'!" ajak Emily senang sambil mengajakku duduk bersama Gray dan Cliff.
"Nasi ini..." aku memandang nasi yang berada di sebelah kare buatanku. Masih pulen. Bagus, dengan ini cita rasa kare buatanku takkan menurun.
"Mari makaaan!"
Kami berempat memakan kare buatanku. Mereka terlihat sangat senang karena bisa mencicipi kare "dewa" buatanku.
"... Rasanya enak sekali... Ini... Kare terenak yang pernah Emily makan! Iya kan, Cliff-kun?" Emily menangis terharu sambil memakan karenya.
"Iya... Ini... Kare yang lezat sekali..." Cliff terbata-bata sambil menikmati makan malamnya dengan bahagia.
"... Kare seenak ini dari bahan apa saja?" tanya Gray sambil mengunyah sesendok kembali kare.
"Ini kubuat dengan campuran bumbu-bumbu, dan juga menambah yogurt di dagingnya sebelum dimasak," jelasku bangga. "Makanya rasanya terdapat rasa asam yang segar dan pedas yang pas dalam karenya. Ditambah dengan sayuran segar dari kota ini, tentu saja segala rasa dalam kare ini menjadi sempurna."
"Sora-kun keren!" puji Emily senang. "Berkat Sora-kun, sakitku hilang dan nafsu makan musim gugurku makin meningkat berkat kare buatanmu!"
"Terima kasih Emily..." bisikku tenang sambil kembali memanjakannya dengan memberikannya kecupan di dahi.
-_-_- several hours later-_-_-
"...Kalian romantis sekali," goda Ann yang membantu ayahnya mengelap gelas. Kebetulan Gray dan Cliff sudah naik ke atas duluan untuk tidur karena kekenyangan memakan kare. Hanya ada aku dan Emily (dan aku masih saja melancarkan jurus-jurusku).
"Anncchi!" jerit Emily dengan muka memerah.
"Sudah, kalian balik ke atas sana. Sudah saatnya aku yang mengurus di sini." Ann merapikan gelas-gelas yang akan segera dipakai bapak-bapak di Mineral Town untuk mabuk-mabukan.
"Baik! Sora-kun, ayo ke kamarku!" ajak Emily sambil menarik lenganku. Dengan refleks kuikuti saja.
-_-_- Girl's room, 2nd floor of Inn-_-_-
"Terima kasih untuk hari ini Sora-kun, aku senang sekali!" Emily memelukku senang. "Hari ini aku tidak pernah merasa sesenang ini, dan ditambah lagi Sora-kun datang!"
"Iya..." aku mengelus kepala Emily. "Aku senang kalau kau ikut senang juga."
"Tapi... Ada satu hal yang janggal dari kare buatanmu, Sora-kun..." bisik Emily pelan.
"Huh? Apa itu?" tanyaku heran. Semua bumbu dan rasa sudah kucoba. Dan itu sudah sempurna!
Emily menunduk. "... Rasa 'cinta' dan 'kasih sayang'... Rasa yang tidak pernah bisa kita rasa, tapi rasa itu selalu bisa terasa apabila "semua orang" menjadi "keluarga" yang baik..."
"... Hahaha!" Aku hanya bisa tertawa pahit. Aku lupa. Sangat lupa kalau aku yang sama sekali tidak pernah mendapat kasih sayang ini bisa membuat sesuatu hal yang mengandung "kasih sayang" bahkan "cinta" sekalipun...
"Apa yang lucu, Sora-kun?" omel Emily sambil menggembungkan pipinya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tertawa saja," ucapku sambil menutupi kesedihanku untuk sementara. "Untuk sekarang aku akan menginap di sebelah kamarmu, oke?"
"Ehh? Sora-kun akan tinggal di sini? Horeee!" teriak Emily senang sambil memelukku kembali. Pelukan yang cepat tapi hangat dan lembut dari seorang gadis pirang bodoh itu. Dia hanya gadis pirang yang bodoh, Skye. Ingat itu.
"Selamat malam Sora-kun! Sampai jumpa besok pagi!" Emily kembali memelukku dan mengecup pipi kiriku. Kini giliranku yang terdiam lagi, bingung hendak membalasnya dengan apa.
"... Se, selamat malam manis..." bisikku pelan sambil mematikan lampu kamar. Aku meninggalkan Emily yang sudah tertidur dan kembali turun ke bawah.
"Ann. Aku ingin menginap di sini untuk sementara saja. Boleh kan?" pintaku pada Ann yang masih saja merapikan botol wine yang berserakan di sekitar Inn.
"Sementara? Boleh-boleh saja," Ann menjawab agak kagok karena masih harus membersihkan bertumpuk-tumpuk botol. "Kau boleh tinggal bersama Gray dan Cliff di lantai atas mulai hari ini."
"Terima kasih banyak," aku tersenyum dan mengangguk. Sudah lengkap jebakanku untuk hari ini. Aku sudah siap mencari informasi dan mencuri di toko roti Claire. Tapi pertama, aku masih harus menempel pada asistennya yang bodoh itu. Setelah cukup baru kucuri!
TO BE CONTINUED
