Prolog:

Sabaku no Gaara, pewaris Sabaku corporation, karena deadline berumah tangga kakak perempuannya sudah dekat dan kenyataan kalau kakak lelakinya sama sekali tidak punya bakat memimpin perusahaan. Maka, mau tidak mau (walaupun Gaara benar-benar tidak mau), dia harus bersedia menerima pertunangannya dengan salah satu Hyuuga yang merubahnya jadi HOMO.

AU, OOC

Main pairing: NejiGaara

Slight pairing: SasuNaru, ShikaTema, SaiIno, KibaHina, LeeSaku, SasoDei, PeinKonan, KisaIta, dll.

Summary:

"I love you, really love you. With all my heart, my soul, my mind." bisik Neji pelan-pelan. NejiGaara. Ch 29

XxXxX

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI

CAN WE PRETEND TO LOVE, THEN WE'LL MARRY? © HELENA NEGA

SPECIAL PRESENT FOR

Mendy.d'LovelyLucifer

XxXxX

Neji berjalan pelan-pelan ke resort. Gaara lagi ngambek, nggak ada gunanya godain dia kalo cuma bakal digamparin kayak di pantai. Neji juga bingung kenapa dia termakan hasutan Sasuke buat menguji kadar kehomoan Gaara. Itu terjadi gitu aja setelah Neji mendengar kalimat Aki-chan di Sensitive Pornograph, "If guys aren't your thing, close your eyes."

Andai Gaara bisa mendadak berubah jadi badass uke gitu. Mendatanginya dengan horny, blowjob, terus berakhir dengan MSM.

"Haaaa," kata Neji mendesah, dia memukul pipinya, "Jangan mimpi, Neji. Ingat janjimu pada Temari, ingat janjimu pada diri sendiri,"

Nggak terasa Neji udah di depan pintu kamar mereka, Gaara udah memasang gantungan pintu raccoon di hari pertama mereka datang. Pelan-pelan Neji menyentuhnya, lalu dia galau lagi.

Neji membuka pintu dan masuk. Gaara nggak di kamar, tapi sewaktu Neji membuka kamar mandi buat bersih-bersih make up, Gaara ada di sana, di tub penuh busa sabun warna warni.

"Oops," kata Neji sambil mundur dan reflek mengangkat tangan, jaga-jaga kalo Gaara mendadak marah dan melempar sesuatu. Dilempar bebek mandi masih mending, tapi kalo disambit gayung atau pipa shower, sakitnya pasti lumayan.

Ternyata Gaara nggak ngapa-ngapain, dia sibuk niup sabun di tangannya dengan gaya unyu tanpa menoleh ke arah Neji. Neji tertawa, jadi ngambeknya diem-dieman, khas Gaara.

Neji juga pura-pura nggak ngeliat Gaara, dia buka baju sampai telanjang dan jalan ke arah shower. Dengan cuek Neji guyuran dan pake sabun dan sampo. Sengaja lama-lama waktu menggosok rambutnya, dan berusaha membuat gerakan sekeren dan seseksi mungkin walaupun matanya pedih penuh busa sabun. Seharusnya Neji sampoan pake sampo bayi.

"Ehm!"

Neji melirik, berusaha nggak keliatan terlalu berpuas diri waktu noleh ke arah pacarnya yang berdehem. Tapi Gaara tiba-tiba udah dibelakangnya, dorongan yang dikasih Gaara bikin Neji terpeleset dan nabrak dinding. Neji kaget waktu Gaara senyum dengan aura Icibi disekelingnya.

"Gaara-chan?"

Gaara duduk di atas paha Neji, badannya masih penuh busa tub jadi duduknya meleset sedikit ke depan dan menabrak dada Neji. Dia bangun seolah barusan nggak ada dua pedang yang bersentuhan, yang bikin Neji merinding.

"Neji-san cantik banget lho waktu jadi cewek," kata Gaara.

"Hah?"

Neji yang masih merhatiin selangkangannya mendongak menatap Gaara, nggak nyangka malah Gaara yang mengungkit berantem mereka di pantai, bukannya dia lagi ngambek? Bukannya Neji habis digamparin?

"Eh, makasih," kata Neji, nggak terpikir kata lain.

"Bener-bener cocok,"

Gaara duduk tegak, sebelah tangannya bertumpu di pundak Neji yang masih penuh sampo lalu dia tergelincir. Neji menangkapnya, tergelincir juga dan mereka berdua jatuh ke lantai. Neji berhasil melindungi kepala Gaara dari ancaman geger otak dengan susah payah.

"Ayo kita lakukan aja," kata Gaara kalem, bangun dengan keren dan mendekat ke arah Neji.

"Hah?"

Pikiran Neji blank, dia masih terjatuh dengan nggak elit dalam usaha penyelamatan yang nggak dianggap Gaara. Tapi Gaara udah mengeliminasi jarak mereka dan mulai menciuminya. Gaara terpeleset lagi sewaktu mencoba lebih dekat, kepala merahnya hanya satu senti dari sudut tub mandi. Neji menangkapnya sebelum ada korban benjol lain yang harus dibawa ke dukun pulau sebelah dan menyusul Naruto. Dengan punggungnya Neji berputar, menjauhkan Gaara dari apapun yang bisa membuatnya cidera.

Gaara bergerak makin semangat, bibirnya naik turun. Menghisap, menjulurkan lidah.

Neji ngikut aja, tangannya di rambut Gaara, yang lain mengelus pantatnya, mencari jalan dengan refleks.

"Tau bagaimana homoseksual bercinta?" kata Neji pelan-pelan, nggak berfikir, otaknya meledak dalam bunga merah jambu, Temari udah tersingkir jauh, juga janji-janjinya.

"Tau," kata Gaara, dia bangun dari rutinitas menggigiti dada Neji, "aku udah pernah ngeliat SasuNaru dua kali."

Neji mengangguk.

"Dan udah nonton Sensitive Pornograph dua kali dan Enzai sekali,"

Neji ketawa, itu informasi baru, "Kita memakai ini," katanya, pelan-pelan memasukkan satu jari ke selangkangan Gaara.

Reaksi Gaara nggak terprediksi, tangannya memberontak dan meninju dada Neji sampai sakit banget. Neji blank satu menit, campuran antara sesak napas dan jantungan.

"It's hurt," bentak Gaara.

Neji menggeleng, menjernihkan matanya dari kabut hitam dan bintang-bintang. Beban di dadanya hilang, kayaknya Gaara udah menyingkir dari badannya.

"Apa yang Neji-san lakuin? Itu sakit banget,"

Gaara memang udah nggak mendudukinya, dia pindah ke lantai dan tampangnya manyun.

"Tapi..."

Neji berusaha mengingat, dia pernah memasukkan satu jari dulu, waktu Gaara sedang horny-hornynya, dan kayaknya dia nggak dapet tinju. Apa yang beda?

"Sorry, my mistake. Let's try again,"

Neji berpindah posisi, mendorong lalu menyerang Gaara dan menciuminya. Hipotesis Neji, pikiran Gaara harus dialihkan. Gaara harus sibuk membalas ciuman agar nggak merasa sakit dan meninjunya lagi.

"Ouch,"

Tapi Neji melepas ciumannya dan merasa sesuatu yang asin di lidahnya.

"Sakit!"

Gaara udah duduk tegak, tatapannya penuh aura pembunuh. Tadi dia menggigiti bibir Neji keras-keras sampai Neji harus berhenti.

Neji ikut duduk, pikirannya kusut. Hipotesisnya gagal. Apa yang beda dari waktu itu?

Lalu sesuatu melintas di otak Neji kayak disihir Harry Potter.

"Vodka, Gin, Tequila. Drunk!" bisik Neji.

Neji bangun dengan panik, "Tidak!" pikirnya. Dia menggeleng dengan ngeri. Mencoba memperkosa Gaara aja udah melanggar semua aturan yang dia bangun sendiri, jangan tambah kebejadan lain dengan mengajaknya mabuk-mabukan. Sekalian aja Gaara dimutilasi terus dimasukin ke kantong kresek dan dibuang ke kolam penuh hiu.

"Neji-san?"

Ternyata Neji udah berdiri, sebelah kakinya udah melangkah seolah mau kabur, takut ada di satu ruang dengan Gaara tanpa ancaman mengajaknya mabuk, memperkosanya, dan membuang buktinya ke laut.

"Kita belum selesai kan?"

Sungguh aneh bagi Neji ngerasa kayak cowok impotent padahal Gaara yang selalu KO walaupun cuma digesek-gesek Neji.

"Eh..."

Gaara menarik Neji, membelai dahinya, pipinya, hidungnya, lehernya, dan dadanya.

"Wow, tunggu... Siapa yang menggoda siapa disini?" pikir Neji panik.

"Neji-san cantik banget," kata Gaara pelan-pelan.

Neji berkedip beberapa kali. Bukan perasaannya aja, muka Gaara merah, bahkan lebih merah dari rambutnya.

"Kita nggak bisa lanjut sekarang, Gaara-chan," kata Neji hati-hati.

"Kenapa?"

Gaara menciumnya lagi, menggesek-gesek selangkangannya.

"Katamu sakit," kata Neji, mencoba berfikir jernih. Susah, jarinya udah bergerak ke selangkangan Gaara, tapi masih belai-belai aja, kalau ditusuk takutnya nanti Neji digamparin lagi.

"Ganti rencana," kata Gaara. Napasnya menyapu hidung Neji, wangi...

Neji udah berfikir rencana lain, mungkin menggantikan jarinya dengan lidah dan memakai lubricant.

"Gimana kalo Neji-san yang jadi uke?"

"HAH?"

Neji pernah dikagetin Hizashi pake ular bohongan, juga pernah dikagetin Hanabi pake kostum shodako, bahkan pernah dikagetin Akatsuki yang nyamar jadi banci terus digrepe bareng-bareng. Tapi nggak sekaget saat ini, saat Gaara mau nge-ukein dia? Neji kaget beneran lho. Kalo punya penyakit jantung, Neji pasti udah koit.

"Tunggu, Gaara chan. Kita bisa pake love lotion atau baby oil, atau lotion apa aja biar nggak sakit. Nggak harus ganti rencana," kata Neji panik. Jadi uke? Astajim.

"Oke," kata Gaara cemberut.

Neji agak lega, dia ngambil lubricant di meja rak, sengaja lama-lama buat mengulur waktu. Tapi setelah dua menit dan Gaara mulai batuk parah, Neji nggak punya pilihan selain nyamperin Gaara. Neji juga menyambar beberapa kondom.

"Ayo pindah ke kamar. Punggungmu pasti sakit kalo di lantai,"

Gaara mengulurkan tangannya dengan gaya unyu, "Carry me,"

Neji tersenyum, mengendong pacarnya yang nyengir dan menjatuhkannya pelan-pelan ke ranjang.

Belum sempat Gaara berpose uke minta diraep, Neji udah mengangkat kakinya ke atas dan menuang lubricant ke selangkangannya. Digin...

"Ayo mulai dari awal," kata Neji.

Neji mencium Gaara, meremas dadanya juga selangkangannya. Lalu Neji merobek kondom dengan giginya dan menyarungkan ke jarinya.

Gaara yang lagi menciumnya berhenti. Neji yang merasa perhatian Gaara teralih, ikut berhenti.

"Harus pake kondom ya?"

Neji baru mau membuka mulut tapi nggak jadi, Gaara memotongnya.

"Biar aku nggak hamilkan?"

Neji nggak tega mempertanyakan pengetahuan biologi Gaara. Gaara nggak mungkin hamil, dia nggak punya rahim, kalopun Gaara punya, memangnya jari Neji bisa ngeluarin sperma?

"Jaga-jaga," kata Neji.

"Tapi aku nggak mungkin hamil, Neji-san. Aku cowok," kata Gaara kalem. Cekikikan ngebayangin dia hamil terus ngidam pengen ngejambak rambut Akatsuki.

"Sex disease, penyakit menular seksual paling mudah ditularkan lewat anal sex."

Gaara melongo, "Apa itu anal?"

Neji ikut melongo, sebagai homo pengetahuan sex Gaara bener-bener payah. Neji menjungkirkan Gaara, menahan kaki Gaara, pelan-pelan memasukkan jarinya, mulus berkat love lotion. Gaara cuma berjengit sedikit.

"Ini namanya anal,"

Jari Neji bergerak, membuat Gaara menjerit dan Neji menarik jarinya dengan refleks.

"Baik baik aja?" tanya Neji cemas.

"Yah, oke. Wow, rasanya aneh,"

Untunglah Gaara lebih keliatan bergairah dari pada mau ngegampar.

Neji tersenyum, respon yang jauh lebih baik, "Oke, mari mulai lagi,"

Neji mencium Gaara, membelai miliknya dan terus ke belakang. Satu jari lolos, saat digerakkanpun Gaara nggak melepas ciumannya atau mendorongnya. Jari kedua masuk, Neji mempercepat Gerakan jarinya.

Gaara merengek, kuku jari Gaara terasa mencakar punggung Neji, tapi Gaara nggak mendorongnya atau menggigiti bibirnya.

Jari ketiga, ciuman Gaara lepas dan dia teriak. Tapi pelukannya terlalu kuat dan kayaknya Gaara malah bakalan memutilasi Neji kalo dia berani melepas jarinya.

"Tunggu," kata Neji berusaha nggak panik. Gaara mulai nangis. Neji meraba kondom lain dan menyarungkannya ke penisnya.

"Tarik nafas,"

Sewaktu Gaara menarik napas, Neji mendorong pelan-pelan. Gaara memeluknya, menangis, dan menggigiti bahunya.

"It's hurt,"

Neji diam, nggak berani bergerak, dia menunggu Gaara mencari sendiri posisinya.

"It's better,"

Neji menghela napas lega, "Baik-baik aja?" tanyanya setelah Gaara melepas pelukannya dan mengangguk.

"Oke, aku akan mulai bergerak, bilang kalau rasanya lebih sakit, kita akan mencari posisi lain,"

Tapi Gaara cuma mendesah walaupun Neji bergerak makin cepat. Tangan Neji menggenggam milik Gaara. Dia mencium Gaara. Kamar mereka mendadak penuh bunga dan berwarna merah jambu.

XxXxX

Gaara membuka matanya. Mimpi? Mendadak dia bangun dan sakit menyengat bagian belakangnya. Bukan?

Neji muncul dari kamar mandi, masih dililit handuk, "Kenapa?" katanya waktu ngeliat Gaara bengong sambil jongkok di bawah selimut.

"Ada yang sakit?" tanya Neji panik, "pusing? Vertigo? Mual-mual?"

Gaara menggeleng, hati-hati dia berdiri tapi sebelum berhasil lantai tiba-tiba menariknya. Neji menangkapnya hampir tepat waktu, Gaara sempet kejedot walaupun pelan.

"Hati-hati,"

"Aku nggak bisa berdiri," kata Gaara cemas, dia memandangi tangannya yang gemetaran.

"It's ok," kata Neji, mendudukkan Gaara ke ranjang, "cuma lemes. Aku akan ngambil sesuatu buat dimakan. Usahakan jangan bergerak tiba-tiba dulu, ok? Kalo pusing, tiduran aja,"

"Tapi gimana kalo nggak bisa berdiri selamanya? Gimana aku main basket? Nanti Gai-sensei dan neechan marah,"

Jari Neji menyentuh bibir Gaara, "Rileks. Pasti temporary. Aku ambil sesuatu, oke,"

Neji mengambil telpon dan mengorder makanan dalam bahasa Korea sementara Gaara melanjutkan paniknya, "Gimana kalo aku dikejar Akatsuki terus nggak bisa lari? Keperawananku direnggut dan aku digilir?"

Neji nyengir, keperawanan Gaara udah direnggut Neji duluan. Bukannya Neji rela Gaara digilir, kalo Akatsuki berani nyentuh propertynya, siap-siap aja dijyuuken.

"Gimana kalo aku dikerjain Kotetsu dan Izumo tapi nggak bisa nguber mereka pakai sapu?"

Neji angkat bahu dan makin nyengir, "tangkep pake laso?"

"Gimana kalo niichan pelit dan nggak bagi es krim sundae dan strawberry cake? Aku nggak bisa nyolong di kulkas terus aku mati kelaparan?"

"Nanti kubelikan kursi roda pake remot, Gaara-chan. Sekarang makan dulu dan susunya diminum. Apa mau kusuapin?" kata Neji sambil berdiri waktu bel kamar berdering dan seorang pegawai resort keliatan membawa serantang makanan dari lubang intip.

"Makan dulu. Nanti kita pikirin lagi soal Akatsuki, Gai-sensei, neechan-mu, niichan-mu, juga Kotetsu dan Izumo. Kalo udah kenyang, kita pasti tau kakimu bagusnya harus diapain,"

Tapi Gaara tiba-tiba bengong, mukanya berubah ngarep. Neji meletakkan makanan ke meja, udah nebak reaksi Gaara selanjutnya.

"Tapi kalo aku nggak bisa jalan, Neji-san masih cinta nggak?"

Neji nggak tahan nggak nyengir, susah pura-pura serius sekarang. Dia mendekat, menciumi bibir Gaara penuh napsu, menyingkirkan piama dan boxer yang Neji pakaikan tadi malam biar Gaara nggak masuk angin sekaligus mencegahnya menggarap Gaara dua kali.

"Nggak masalah kamu nggak punya kaki, nggak punya tangan, nggak punya apapun. Asal Gaara-chan masih punya hati buatku. Itu cukup,"

Gaara blushing tingkat tinggi, mukanya mendadak sama warna kayak rambutnya.

Neji menurunkan handuknya, menempelkan semua bagian tubuhnya erat-erat pada Gaara yang bengong nggak bergerak. Menciuminya lagi, menjilatinya, meraba semua bagian sensitif yang diingatnya tadi dalam.

Gaara merespon, balas mencium, mendesah lebih kencang. Lupa kalo tadi masih mencemaskan soal kakinya yang ternyata sekarang malah mengangkang lagi dengan lebih lebar, menunggu milik Neji yang menggesek-gesek mencari jalan.

"I love you, really love you. With all my heart, my soul, my mind." bisik Neji pelan-pelan, "Nggak masalah walaupun Gaara-chan nggak bisa jalan, nggak bisa ngeliat, nggak bisa ngomong, atau nggak bisa bergerak, atau jadi tua. I love you..."

Neji baru mau memulai ciuman yang lain sewaktu Gaara melepas pelukannya dan mendorong Neji menjauh.

"Hah?"

"Jadi tua?" kata Gaara, cemberut menatap Neji.

Neji nggak menjawab, speechless karena ditolak.

"Kalo aku udah tua, berarti Neji-san lebih tua lagi donk. Artinya aku yang harus menerima Neji-san apa adanya,"

Giliran Neji yang bengong. Gagal gombal.

Neji menyerang lagi. Hari ini, Gaara nggak cuma nggak bisa berdiri, dijamin nggak bisa bergerak juga.

XxXxX

TBC

XxXxX

Huahahaha ancur. Gue menghindari lemon karena ga bisa bikin lemon. Sorry...