Disclaimer : Yuri on Ice not mine

Rage by Cyancosmic

Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov

.

.

.

Enjoy!

Yura : Checkmate!

"Jangan khawatir!"

Ng! Suara ini… bukankah ini suara…

"Dia takkan pernah menjadi milikku…"

Viktor 'kan? Ini suara pemuda sialan itu? Di mana dia?

"Karenanya, takkan kubiarkan orang lain memilikinya."

Mataku langsung terbuka ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya. Seiring dengan terbukanya mataku, pandanganku menjadi lebih jelas sehingga aku dapat melihat sekelilingku. Tidak banyak yang dapat kulihat, hanya dinding berwarna abu-abu, langit-langit tinggi berwarna putih yang begitu polos dengan bunyi mesin di sekelilingku. Di sekelilingku terdapat banyak ranjang yang diisi oleh manusia dan setiap ranjang dihubungkan dengan sebuah computer, tak terkecuali di tempatku.

"Pemilik vision, ya?" Orang yang memegangi sebuah iPad dengan jas putih muncul di sampingku. Ia menggerakkan jemarinya di iPadnya sebelum berlalu dan berkata pada rekannya yang lain di sebelahnya. "Aku sudah mencantumkan harganya, pindahkan dia!"

Beberapa rekannya langsung bergerak dan mendekat pada tempatku berbaring. Melihat kedatangan mereka, otomatis aku hendak turun dari ranjang dan meninggalkan tempat sesegera mungkin. Hanya saja, sesuatu menahan tubuhku dan membuatku tidak dapat bergerak untuk melepaskan diri.

Dua orang berjas putih mendekati bagian kepala dan kaki ranjang yang kutempati. Awalnya, mereka melepaskan selang yang melilit tubuhku dan meletakkan selang tersebut di samping computer. Kemudian barulah mereka mendorong ranjang tersebut dan memisahkannya dengan ranjang-ranjang lain yang ada di sampingku. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak dapat bergerak untuk meronta atau membuat keributan.

"Hanya seorang visioner tingkat lima," kata yang berada di bagian kakiku. "Tapi harganya tinggi sekali."

"Oh ya?" Yang berada di kepala berkata dengan nada tertarik. "Berapa harganya? Visioner tingkat lima bukannya murah?"

"Mendekati seratus juta," balas yang berada di kakiku. "Harga yang bahkan membuat miliuner berpikir dua kali sebelum membelinya."

"Apa?" Suara lawan bicaranya meninggi ketika mendengar jumlah harga yang disebutkan. "Kenapa harganya bisa setinggi itu? Bukannya biasanya visioner tipe lima hanya seharga sepuluh juta? Kenapa tiba-tiba harganya dinaikkan sepuluh kali lipat? Siapa yang mau membelinya?"

Yang berada di bagian kaki mengangkat bahunya lebih dulu sebelum berkata, "Entahlah, di sini dituliskan 'memiliki potensi khusus', hanya itu. Tidak ada penjelasan lebih lanjut dengan kata potensi khusus yang dimaksud."

"Siapa yang menuliskannya?"

"Mungkin Professor," kata si kaki, "atau mungkin juga Viktor yang mengatakan padanya seperti itu."

Dengan nada mencemooh, orang yang berada di bagian kepalaku berkata, "Hah? Viktor? Orang itu 'kan penilaiannya tidak bisa dipercaya. Dia 'kan hanya senang bermain-main dengan tim peneliti."

"Hei, biarpun begitu professor memercayainya karena dia memiliki bakat khusus yang langka," jawab yang berada di bagian kaki. "Waktu itu juga kita sempat kelolosan beberapa miliar karena tidak mendengarkannya. Kau masih ingat anak yang sulit diatur dan seperti monster dengan kemampuan akselerasi beberapa tahun yang lalu?"

"Oh, anak berdarah Kazakhtan yang membunuh salah satu peneliti yang ingin mengambil sampel darahnya?"

"Ya," jawab yang satunya, "walaupun Viktor mengatakan bahwa anak itu memiliki bakat langka, professor menilainya sebagai barang gagal, makanya ia menjual murah pada Yakov. Untung saja kali ini kita berhasil mendapatkannya lagi."

Yakov? Mereka mengenal Yakov? Dan… tunggu, jadi Yakov membeli anak-anak berbakat? Tapi… bukankah dia hanya Direktur Panti Asuhan? Untuk apa seorang Direktur Panti membeli anak-anak? Apakah dia menjualnya lagi?

"Mendapatkannya lagi?"

"Ya," jawab si kaki yang lebih tahu banyak, "Viktor yang menangkapnya dan sekarang masih diteliti. Namun dari gosipnya, katanya anak itu telah berevolusi menjadi accelerator tipe 1."

"I-Itu hanya kebetulan," balas si kepala yang lebih skeptis, "kebetulan saja anak yang mentalnya terganggu itu ternyata dapat menjadi senjata pembunuh terhebat yang setara dengan para petinggi kita. Takkan ada kebetulan yang sama dua kali."

"Kau belum mendengar yang satunya lagi," jawab yang bagian kaki. "Pemuda Korea yang kita tangkap bersamaan dengannya ternyata adalah anak pengguna telekinetik yang sebelumnya kabur dari pelelangan."

"Lalu? Apa yang hebat dengannya? Sudah banyak pengguna telekinetik di dunia ini," balas si kepala. "Kau terlalu berlebihan."

"Tapi tidak ada yang sekuat dirinya," jawab si kaki, "Peneliti yang mengurusnya bilang pemuda itu memiliki kemampuan telekinetik tipe 1. Kekuatan telekinetiknya dapat mengangkat hingga ratusan ton. Sangat jarang bahkan di antara tipe 1 yang dapat mengangkat hingga ratusan ton."

Si kepala mendecak sementara aku mendengarkan percakapan mereka. Dari perkataan keduanya, sepertinya aku tahu siapa yang mereka maksud. Hanya saja selama ini aku tidak menyangka bahwa keduanya memiliki kekuatan yang diakui oleh para peneliti. Selama bersama mereka, aku tahu mereka cukup kuat walaupun tidak menyangka sehebat ini. Namun dari semua fakta tersebut, aku jauh lebih terkejut ketika mendengar bahwa mereka juga memiliki keterikatan dengan keluarga Nikiforov. Aku tidak pernah tahu bahwa sebelum mereka menjalani hidup di masyarakat, mereka pernah berada di tempat ini dan dijadikan obyek penelitian.

"Jadi karena itu Professor menyesal dan memutuskan untuk memberi nilai tinggi pada vision tipe lima ini?" Kepala kembali bertanya lagi. "Bisa-bisa tidak ada yang mau membelinya karena nilainya yang terlalu tinggi."

"Mungkin kita harus melakukan serangkaian tes padanya," kata yang di bagian kaki, "tapi kita tidak punya waktu. Pelelangan akan segera dimulai."

"Bisa kok," jawab si kepala. "Sudah kau pastikan sabuk yang mengikatnya terkunci dengan baik?"

Si kaki menyingkap selimut yang menutupi tubuhku dan ia mengangguk ketika melihat ikatan yang melintang dan menahan tubuhku. Rupanya selama ini benda itulah yang membuatku tidak bisa bergerak sekalipun sudah mencoba untuk melepaskan diri. "Terkunci sempurna, tidak akan bisa melepaskan diri."

"Bagus," balas si kepala. "Kalau begitu, ini!"

Si kepala mengeluarkan semacam suntikan dari balik bajunya sementara si kaki memandanginya dengan bingung. Ia menatap suntikan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya ia berkata, "S-suntikan itu, bukannya itu stimulan?"

"Bukan," jawab lawan bicaranya, "aku menggantinya dengan racun. Kalau disuntikkan akan memberikan rasa terbakar yang amat sangat dan akhirnya merusak otak. Fatal untuk pengguna vision tipe lima, tapi kita 'kan ingin tahu reaksinya."

"Professor tidak akan suka bila tahu barang lelang dipakai untuk uji coba," balas si kaki. "Hentikan saja!"

"Diamlah!" Yang kepala membalas dengan sikap tidak mau tahu dan membuka tutup suntikan yang ada di tangannya. "Biar aku yang bertanggung jawab!"

Mataku melebar begitu melihat suntikan yang ada di tangannya. Seketika itu juga, sekelebat bayangan kembali muncul di ingatanku dan membuatku melihat kondisiku sendiri dalam lima detik ke depan. Dalam lima detik, orang ini akan menyuntikkan racun itu padaku dan bila aku tidak melepaskan diri, racun itu bisa saja membunuhku.

Tidak mau berpikir panjang, aku mencoba berkonsentrasi. Bagaimana caranya menggunakan kemampuanku waktu itu? Kemampuan yang sanggup membengkokkan tombak seolah besi yang membuatnya tak lebih dari marshmallow yang dapat dibentuk. Atau kemampuan yang dapat membuat waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Bagaimana caranya?

Sebelum aku dapat menggunakan kemampuanku, jarum yang ada di tangan orang itu tahu-tahu saja melayang bersamaan dengan si penggunanya. Tentu saja peneliti yang satunya pun membelalak lebar melihat kejadian itu dan ia segera berbalik untuk memanggil bantuan. Sayangnya ketika ia berbalik, seseorang sudah memukulnya dengan bunyi yang kukenali dengan baik dan langsung menghilangkan kesadarannya dalam sekejap.

Peneliti itu disingkirkan sementara orang yang memukulnya mendekatiku dan menyentuhkan tangannya pada ikatan yang melilit tubuhku. Sementara yang satunya merobek ikatan yang melilit tubuhku, orang yang menerbangkan peneliti satunya pun ikut muncul. Bersamaan dengan itu, muncul pula ucapan sinisnya yang berkata, "Visioner tipe lima, rupanya?"

"Seung Gil," balas yang berada di dekatku yang kini menggerakkan tangannya menuju ke bagian kepalaku dan melepaskan sesuatu di sana yang membuat suaraku kembali. "Hentikan!"

"Harganya lumayan mahal juga…," si pemuda yang membuat jarum melayang-layang kembali berkata sembari menyentuhkan tangannya ke dagu ketika melihat label harga di kaki ranjangku. Namun pandangannya kembali terangkat ke atas ketika si peneliti yang dibuatnya terbang berputar-putar mulai menjerit heboh. Melihatnya, pemuda itu pun langsung menjetikkan jemarinya dan membuat si peneliti menabrak langit-langit terlebih dahulu sebelum menjatuhkannya. "Berisik sekali."

"Salahmu sendiri karena tidak langsung menghilangkan kesadarannya," jawab pemuda yang membantuku untuk bangun dari ranjang. Iris cokelatnya langsung bertemu denganku dan ia berkata, "Kau baik-baik saja?"

Aku mengangguk begitu mendengar pertanyaannya dan mulai menggerakkan tangan dan kaku yang kaku. Sementara aku melakukannya, pemuda berpotongan undercut di sampingku sudah mengangkatku lebih dulu dari ranjang dan nyaris membuatku meronta karenanya. Namun ia hanya berkata, "Kita tidak punya banyak waktu. Sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini."

"Di… mana ini?" Aku bertanya ketika pemuda itu sudah akan membawaku berlari. "Di mana Yuuri?"

"Masih di rumah besar keluarga Nikiforov, di koridor penelitian," jawab Otabek sambil mengangkatku dengan satu tangannya. Ia pun mulai melangkah dan berkata, "Kami tidak menemukan Katsuki-san, mungkin ia sudah dipindahkan dari tempat ini."

"Ta-tapi… bagaimana kalau Yuuri masih di sini?" Aku kembali bertanya. "Kita tidak bisa pergi tanpa Yuuri!"

"Aku tahu," jawab pemuda itu dengan tenang, seperti biasa. "Hanya kita tidak bisa seenaknya berkeliaran dan mencarinya seperti ini."

"Mungkin kita bisa bertanya?" Aku mengusulkan sementara dua pemuda itu berlari. "Pada si peneliti? Sepertinya mereka tahu di mana Yuuri."

"Tidak," jawab pemuda itu sambil terus berlari, "Aku sudah mencoba bertanya tapi mereka juga tidak tahu di mana Katsuki-san."

"Mungkin saja mereka bohong?"

"Oh, tidak mungkin," jawab pemuda di sampingku yang bermata lebih sipit, "Otabek melakukan interogasinya dengan baik, jadi tidak mungkin dia berbohong."

"Interogasi?"

"Lebih baik kau tidak tahu prosesnya," potong si pemuda berpotongan undercut yang membawaku. "Tapi mereka juga tidak tahu di mana Katsuki-san."

Aku terdiam sejenak dan berpikir. Bila mendengar perkataan Otabek, para peneliti ini kemungkinan tidak tahu di mana Yuuri. Aneh sekali. Padahal dari pembicaraan dua peneliti yang membawaku sebelumnya, mereka seolah tahu keberadaan Otabek dan Seung Gil yang merupakan pemilik kemampuan level tinggi. Tapi memang saat itu mereka tidak membicarakan Yuuri.

"Apa… kemampuan level 1 harganya mahal?"

Alis Otabek terangkat ketika mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba. Namun ia segera berkata, "Ya, mungkin mahal."

"Apakah lebih mahal dibanding pemilik darah langka?"

Langkah Otabek terhenti ketika mendengar pertanyaanku. Sementara itu, Seung Gil yang berada di sampingnya lah yang berkata, "Lebih mahal. Seratus juta bahkan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka. Darah mereka bahkan bisa membeli sebuah negara."

"Kalau begitu berarti mungkin Yuuri berada di tempat tersembunyi yang bahkan para peneliti itu tidak tahu tempatnya," jawabku ketika mendengar jawaban keduanya. "Tidak mungkin Yuuri ada di tempat yang mudah ditembus seperti ini. Kemungkinan dia dijaga oleh seseorang yang memiliki kekuatan sangat besar dan tersembunyi, sekaligus dekat dengan tempat pelelangan. Dia pasti ada di dekat tempat pelelangan karena akan aneh sekali kalau mereka tidak menyertakan Yuuri yang bernilai mahal."

"Dijaga… seseorang yang memiliki kekuatan besar?"

"Di tempat tersembunyi yang dekat dengan pelelangan?"

Otabek kembali berpikir, sementara Seung Gil mendecak. Sepertinya ucapanku sudah memberikan petunjuk bagi mereka berdua. Hingga akhirnya salah satu dari mereka berkata, "Mungkin aku tahu di mana dia berada."

"Di mana?"

"Di ruangan paling bawah di rumah ini, di samping tempat diadakannya pelelangan," jawab Otabek yang mulai berjalan lebih cepat. Gerakannya membuat Seung Gil sedikit tertinggal di belakangnya. "Kenapa aku tidak memikirkannya di sana sebelumnya?"

"Apa di sana banyak penjaga?"

"Kemungkinan seluruh petinggi keluarga Nikiforov akan berada di sana," jawab Otabek. "Bersiap-siaplah untuk menghadapi salah satu dari mereka."

Aku mengangguk mendengar kemungkinan tersebut dan mencengkeram sedikit baju Otabek sebagai jawaban. Aku tahu, cepat atau lambat kami harus berhadapan dengan keluarga Nikiforov bila ingin keluar dari sini hidup-hidup. Hanya saja, aku sendiri meragukan kemampuan bila kami harus berhadapan dengan mereka. Berhubung melawan salah satunya saja kami sudah sangat kerepotan.

Menyadari itu, aku pun menggerakkan tanganku yang lain dan menyentuh leherku. Tadinya, aku ingin memastikan bahwa aksesoris yang kuterima dari Phichit masih ada di sana dan dapat kugunakan saat terdesak. Namun ketika aku menyentuh leher, tidak ada lagi bandul berbentuk hati dengan bagian sayap berwarna putih berkilau yang sebelumnya kupinjam. Bahkan, tidak ada satu pun yang menggantung di leherku.

"Kenapa?" Otabek kembali bertanya ketika menyadari keanehan sikapku. "Tenggorokanmu sakit?"

Kugelengkan kepalaku ketika mendengar perkataannya, "Agape. Hilang."

Mendengar perkataanku, Otabek hanya menatapku selama beberapa saat sebelum akhirnya ekspresi monoton kembali ke wajahnya. Bahkan pemuda itu hanya menanggapiku dengan berkata, "Oh.."

Tsk! Sudah jelas ia akan bereaksi seperti itu. Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Dasar bodoh!

"Kalau begitu, jangan jauh-jauh dariku," lanjut pemuda itu.

Aku tidak mengangguk atau pun menggelengkan kepala ketika mendengar ucapannya. Aku hanya berkata, "Aku hanya akan menghambatmu."

"Lebih baik begitu," jawabnya.

"Tidak baik," jawabku. "Kau tidak bisa menyelamatkan Yuuri kalau aku menghambatmu."

Pemuda berpotongan undercut yang berada di dekatku itu berkata, "Memangnya… aku bilang ingin menyelamatkan Katsuki-san?"

Dahiku berkerut ketika mendengar ucapannya. Apa maksudnya? "K-kau tidak ingin menyelamatkan Yuuri? Kenapa? A-apakah kau musuh?"

"Bukan."

"L-lalu kenapa?"

Pemuda yang membawaku itu tidak menjawab. Ia tetap menggerakkan kakinya walaupun tidak ada lagi kata-kata yang ia ucapkan. Walaupun begitu, aku belum ingin pembicaraan ini berakhir, sehingga akhirnya aku mendorongnya dan berkata, "Turunkan aku!"

"Tidak."

"Otabek!"

Terpaksa aku mengeluarkan nada tinggi ketika mendengar jawabannya. Hanya saja, pemuda itu tidak menggubrisnya dan terus saja berjalan. Di sampingnya, Seung Gil yang merasakan suasana canggung di antara kami berdua akhirnya berkata, "Lebih baik, kau jangan memaksanya, Plisetsky!"

"Diam kau!"

Tidak seperti Otabek yang cenderung mengabaikan perkataanku, Seung Gil langsung menurunkan alisnya saat mendengar suaraku. Kemudian dengan sinis, pemuda itu berkata, "Dengar, Plisetsky! Sesungguhnya aku tidak keberatan kalau kau pergi seorang diri saja dan menyelamatkan kakakmu seorang diri. Berterima kasihlah sedikit pada Altin yang mau bermurah hati menemanimu menyelamatkannya."

"Mene…"

"Kami tidak ada urusannya dengan keluargamu," jawab Seung Gil dengan nada ketusnya. "Kalau dia tidak bersikeras, aku pun akan langsung melarikan diri dibanding melawan para petinggi Nikiforov. Memangnya siapa yang mau mempertaruhkan nyawa untuk orang yang baru dikenalinya selama beberapa bulan?"

"Seung Gil!"

Pemuda berdarah Korea itu menatap Otabek selama beberapa saat. Mereka tidak saling mengucapkan kata-kata dan hanya bertatapan seolah sedang bertelepati satu sama lain. Setelahnya, Seung Gil yang tadinya sudah naik darah pun hanya mendecakkan lidah dengan kesal sembari berkata, "Terserahlah!"

"Turunkan aku kalau begitu!" Aku berkata setelah mendengar perkataan Seung Gil. "Biar aku yang menyelamatkan Yuuri sendiri. Seung Gil benar, kalian berdua hanya orang luar yang harusnya tak terlibat dengan urusanku."

Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Otabek menghentikan langkahnya dan ia menurunkanku. Sikapnya yang berbeda ini membuatku mengangkat kepala dan menatapnya dengan dahi berkerut. Apakah ia punya penjelasan untuk sikapnya yang lain dari biasanya ini?

"Makanya aku lebih suka tidak mengucapkan apa-apa," jawab pemuda itu sembari menatapku, "karena aku tahu akan jadi seperti ini."

"Apa… nya?"

"Kau tidak akan pernah mendengarkan," kata pemuda itu, "kau akan selalu seenaknya sendiri, walaupun aku sudah mencoba mencegahmu."

"A-aku tidak…"

"Makanya," jawab pemuda itu, "aku takkan mencegahmu melakukan apa pun."

Eh? Dia tidak akan mencegahku?

"Sebagai gantinya," balas pemuda itu, "biarkan aku melakukan apa yang kukehendaki."

Mataku menyipit mendengar perkataannya. Perkataannya seperti mengandung jebakan, walaupun aku belum tahu apa persisnya yang kukhawatirkan.

"Apa kita sepakat soal ini?"

Untuk beberapa saat, aku hanya mengerutkan dahi dan memikirkan apa yang sebaiknya kukatakan. Dengan kata lain, dia takkan mencegahku melakukan apa pun yang ingin kulakukan, mungkin itu sebabnya dia mengikutiku tanpa banyak bertanya. Namun, sebagai gantinya mungkin aku tidak berhak mempertanyakan mengapa ia terus mengikutiku. Mungkin itulah yang ia maksud dengan kesepakatan ini.

"Kau… tidak akan menghentikanku yang ingin menyelamatkan Yuuri?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya.

"Tapi… kau pun akan terus mengikutiku?"

Ia menatapku selama beberapa saat, dan berkata, "Itu urusanku."

Jadi maksudnya, aku tidak bisa menyingkirkannya ya? Mungkin bukan penawaran yang buruk juga. Toh aku juga tidak bermaksud untuk menyingkirkannya dan memerlukan bantuannya bukan?

"Baiklah," jawabku akhirnya. "Kita sepakat."

Ia mengangguk sementara salah satu tangannya sudah akan mendekat dan mengangkatku kembali. Hanya saja kali ini aku berkelit dan melanjutkan perkataanku, "Dengan satu syarat."

Alis pemuda itu terangkat, "Apa itu?"

"A-apabila aku tidak suka," ucapku sambil menatapnya, "kau tidak boleh melakukannya."

Ia memicingkan mata saat mendengar perkataanku, "Tergantung keadaan."

"H-hah?" Nada suaraku kembali meninggi mendengar jawabannya yang juga seenaknya. "Kalau begitu bisa saja kau melakukan sesuatu yang tidak kusukai dan aku tidak bisa mencegahmu 'kan?"

Ia tidak menjawab kala itu dan hanya terus berjalan. Aku pun mengikutinya walaupun masih mendebatnya selama beberapa saat. Di belakang kami, Seung Gil menggelengkan kepalanya seolah tidak mau ikut campur lagi. Aku masih terus mendebatnya ketika tiba-tiba dua pemuda di dekatku itu berhenti berjalan dan menatap waspada ke satu tempat.

Menyadari reaksi mereka, aku pun mengikuti arah tatapan mereka dan menemukan apa yang membuat mereka berdua setegang itu. Di hadapan kami, dua orang yang tampaknya masih muda dengan pakaian kasual langsung bangkit dari tempat duduknya. Keduanya berdiri menghalangi pintu dan salah satunya menggerakkan leher hingga menimbulkan bunyi berkeretak.

"Kenal?" Seung Gil yang mengambil posisi di hadapanku berkata pada pemuda di sampingnya.

Di sampingnya, Otabek menghela napasnya dan berkata, "Murid Stephane sepertinya, bergerak di bawah petinggi keluarga Nikiforov."

"Apa mereka kuat?"

Otabek menggerakkan kepala, "Entahlah."

"Kemampuan?"

"Sama dengan Viktor?"

Seung Gil mengacak-acak rambutnya mendengar jawaban tersebut. "Merepotkan nih."

"Aku duluan kalau begitu," jawab Otabek yang langsung lenyap setelah mengucapkannya. Sekalipun tahu bahwa lawannya memiliki kemampuan yang sama dengan Viktor, pemuda itu langsung menggunakan kecepatannya untuk melawan hingga memperdengarkan bunyi benturan yang familiar. Ketika mendengar bunyi tersebut, salah satunya langsung membelalakan mata dan memegangi perutnya hingga jatuh berlutut.

Hal yang kurang lebih serupa pun dilakukan oleh pemuda berkemampuan telekinetic di sampingku. Ia menjentikkan tangannya dan seketika itu juga kedua pemuda yang ada di hadapan kami langsung melayang dengan kecepatan yang menakutkan. Bahkan ia tak segan menubrukkan keduanya ke pintu yang ada di belakang mereka.

"Apa cukup?"

"Kurasa cukup," jawab Otabek yang berada di dekat kedua pemuda yang dikalahkan keduanya bahkan tanpa mengeluarkan setitik keringat pun. "Regenerasi mereka tidak secepat orang itu."

Pemuda berdarah Korea itu mengangguk mendengar jawaban Otabek. Kami bertiga pun langsung melewati tantangan pertama tanpa banyak bicara. Dengan munculnya dua orang berkemampuan seperti tadi, dugaanku bahwa Yuuri masih ada di tempat ini sepertinya benar.

Pintu yang kami buka sebelumnya mengarah ke tangga. Otabek menuruni tangga lebih dulu di depanku dengan langkah pelan, diikuti olehku. Sementara di belakang kami, Seung Gil melangkah dengan hati-hati. Melihatnya berjalan, aku pun berkata, "Biar aku saja yang berjalan di belakang."

"Hah?"

"Kalau ada sesuatu yang menyerang," ucapku sambil menunjuk diriku sendiri, "aku masih bisa mengelak dalam waktu lima detik."

Alisnya menukik mendengar perkataanku dan ia mendorongku agar berbalik ke depan sambil berkata, "Tetap di depan, jangan alihkan perhatianmu!"

"Tapi…"

"Beraninya pengguna vision lima detik meremehkanku," jawabnya sambil memaksaku agar tetap berjalan.

"Bukan itu maksudku," balasku dengan kesal. Sungguh aku tidak mengerti, maksudku menawarkan diri di belakang bukan karena aku hendak menganggap remeh kemampuannya. "Aku menggantikanmu karena aku yakin kemampuanku masih dapat menghindarkanku dari serangan mendadak. Sama sekali bukan bermaksud meremehkanmu!"

"Itu namanya meremehkan," kata pemuda itu sambil mendorong pundakku agar aku tetap berjalan menuruni tangga. "Memangnya kau pikir, hanya kau saja yang dapat menghindari serangan di belakang?"

"Tapi aku…"

"Lihat ke depan!"

Bentakannya membuatku tidak banyak bicara lagi. Dengan sedikit jengkel, aku berjalan mendekat pada Otabek yang berada beberapa anak tangga jauhnya. Namun sesampainya di sana dan menawarkan diri untuk berjalan di depan, pemuda itu malah berkata, "Aku melakukan apa yang kuinginkan, ingat?"

Berjalan di depan tidak boleh, berjalan paling belakang juga tidak boleh. Mereka berdua ini kenapa sih? Jangan-jangan justru mereka berdua, terutama Seung Gil yang meremehkan kemampuanku.

Mungkin juga. Mentang-mentang kemampuanku hanya dapat melihat lima detik dan tergolong kelas lima, si sinis Seung Gil mengolok-ngolokku. Memangnya apa salahnya melihat hanya lima detik? Bukankah dengan itu aku bisa menghindari bahaya tanpa membuat si penyerang membatalkan serangannya? Walaupun memang percuma kalau serangannya tidak bisa dihindari kurang dari lima detik.

Tapi… waktu berhadapan dengan Viktor sebelumnya, aku tidak menggunakan semacam serangan khusus. Aku hanya membengkokkan tombak di sampingku dan berjalan mendekati Viktor, namun saat itu Viktor bilang 'Hentikan'. Setelahnya, apalagi yang ia katakan, ya? Rasanya ia juga menyampaikan sesuatu padaku saat itu.

Ketika aku tengah memikirkan apa yang diucapkan pemuda berambut kelabu itu sebelumnya, hidungku tahu-tahu saja menubruk bahu Otabek. Pemuda yang berjalan di depanku itu tahu-tahu menghentikan langkahnya tanpa peringatan sehingga membuatku menabraknya. Aku pun sudah akan menyemprotnya dengan kasar, sebelum sebuah suara memperingatkanku.

"Mereka ini…," ucap seseorang dengan wajah yang berdiri di sisi paling bawah dekat anak tangga. Wajahnya tidak familiar di ingatanku, mungkin karena pengaruh cahaya temaram di sekeliling kami, "barang lelang 'kan?"

"Oh," ucap satu-satunya perempuan di ruangan itu, "memang."

"Kenapa mereka berkeliaran seenaknya?" Orang pertama yang memiliki janggut tipis di dagunya itu kembali bicara. Ia menyikut pemuda berkulit gelap di sebelahnya dan berkata, "Eh, anak perempuan yang berambut pirang itu manis, ya?"

"Emil!" Si gadis kembali memperingatkannya. "Jangan macam-macam dengan barang lelang!"

Dengan suara riang yang mengingatkanku akan seseorang, pemuda berjanggut tipis yang dipanggil Emil kembali berkata, "Kau cemburu ya, Sara? Maaf, ya! Aku janji tidak akan melakukannya lagi?"

"Cemburu?" Pemuda dengan kulit gelap yang disikutnya sebelumnya kembali bicara. "Siapa yang cemburu? Sara tidak punya perasaan padamu, tahu!"

"Ah, Michele yang cemburu rupanya," kata pemuda bernama Emil sambil mengusap-usap rambut cepak yang dipanggilnya Michele. Sikapnya membuat lawan bicaranya itu menjauhkannya dengan kasar walaupun sepertinya percuma. Malah mereka bertiga semakin ribut hingga akhirnya seseorang muncul dari balik kegelapan dan membuatnya berhenti bicara.

"Emil," kata orang yang baru muncul itu, "di dalam sedang berlangsung acara lelang. Kau sebaiknya menahan suaramu!"

Peringatannya membuat Emil langsung bungkam seribu bahasa. Sosok orang yang baru saja masuk itu mengangguk puas melihat kepatuhan Emil sehingga mengalihkan perhatiannya pada kami. Matanya menatap kami satu persatu, sebelum ia mengeluarkan sebuah iPad di tangannya dan menggerakkan jemari di atasnya.

"Otabek Altin, accelerator kelas satu, Lee Seung Gil, telekinetic kelas satu dan Yura Plisetsky, visioner tingkat lima."

"Tingkat lima?" Emil kembali berkata dengan nada mencemooh. "Kenapa ada tingkat lima di sini?"

"Mungkin karena termasuk kawanan Viktor," jawab orang yang baru datang itu sambil menatap kami. Di tengah penerangan yang temaram, wajahnya yang seringkali menggunakan riasan gelap menambah kengerian bagi musuh yang memandangnya. Rasanya, aku setuju dengan sikapnya yang selalu mematikan lampu ketika ia beraksi. "Semua kawanan Viktor dihargai lebih mahal dibanding biasanya mengingat dia sendiri yang membawa dan melatih mereka."

"Dia tidak melatih apa pun!"

"Mungkin kau tidak sadar telah dilatih olehnya," jawab pemuda yang merupakan mantan petinggi nomor dua itu. "Yang jelas, para ahli menilai kalian mahal karena orang itu sendiri yang memilih kalian."

"Itu…"

Otabek merentangkan tangannya di hadapanku yang sudah akan berkomentar dan berkata, "Termasuk Katsuki-san?"

"Katsuki?" Georgi Popovich mengangkat alis mendengarnya. "Tentu. Dia menjadi incaran utama semua tamu yang datang di pelelangan."

"Di mana dia sekarang?"

Georgi menatap pemuda yang bertanya dan ia kembali terbahak-bahak mendengarnya. Kemudian ia meletakkan iPadnya di salah satu meja di sekitarnya dan ia berkata, "Kau mau tahu?"

Pemuda berpotongan undercut di hadapanku itu menatap keempat lawan yang ada di hadapannya. Ia menghela napasnya terlebih dulu sambil berkata, "Tetaplah di dekatku, Yura!"

"Aku tidak wajib mematuhinya," balasku ketus.

Alisnya terangkat ketika mendengar ucapanku. Namun ia tak mempermasalahkannya lagi dan lebih memilih untuk berkata, "Baiklah, aku pun akan berbuat sesukaku."

Instingku mengatakan, ada sesuatu yang tersembunyi yang ia maksud dengan 'berbuat sesukanya'. Walaupun saat ini aku tidak punya waktu lebih untuk mendalami lebih jauh maksudnya. Keempat musuh di hadapan kami lebih menyita perhatianku dibandingkan dengan kata-katanya.

Di samping Otabek, Lee Seung Gil menggerakkan tangannya dengan bunyi berkeretek pelan. Ia menatap keempat lawan di hadapan kami dan berkata, "Hanya berempat?"

Di luar dugaan, pemuda yang tidak kami kenali itu menyunggingkan senyum lebar yang tidak biasa mendengar pertanyaannya. Ia pun menunjuk ke belakang kami dan berkata, "Enam!"

Serta merta aku langsung paham maksudnya. Sebelum Otabek dapat bergerak, aku sudah lebih dulu menjauh dari tempatku sebelumnya hingga ke sisi samping. Sementara itu, di tempatku berada sebelumnya, dua orang pemuda muncul menggantikan tempatku.

"Vision," balas salah satunya sambil menunjukku, "kau lupa. Dia takkan mempan dengan serangan dadakan, Leo!"

"Kau yang bilang untuk menyerangnya sekarang," balas yang rambutnya diikat, "sudah kubilang pakai serangan yang tak bisa dihindarinya, Guang Hong!"

Kucoba untuk merekam baik-baik nama mereka. Yang berkulit cokelat dengan rambut diikat ke belakang disebut Leo, sementara yang berambut cokelat terang dengan kulit putih dipanggil Guang Hong. Bila melihat kecepatan mereka yang hanya lima detik sebelum muncul di belakangku, sepertinya kedua orang ini pun memiliki kemampuan khusus selayaknya empat orang sebelumnya.

"Leo, Guang Hong!" Georgi kembali berkata ketika melihat keduanya. "Tangkap Yura! Usahakan agar dia masih utuh karena dia bisa dijual cukup mahal."

"Vision kelas lima bisa dijual mahal?" Guang Hong kembali berkata. "Bukannya lebih cepat kalau dibunuh?"

Sebelum Guang Hong bisa bergerak, seseorang sudah menyerangnya dengan pukulan beruntun dan membuatnya terlempar beberapa meter ke belakang. Ketika ia hendak bergerak, Georgi sudah berpindah tempat ke sisinya dan menahan tangan si penyerang. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum berkata, "Tangkap Yura Plisetsky! Biar aku yang menahan Otabek Altin!"

Mendengar namanya disebut, Otabek langsung membenturkan tinjunya lagi sebelum menghilang bersama dengan si petinggi keluarga Nikiforov. Walaupun begitu, aku tak bisa memerhatikan mereka lebih lama lagi berhubung Leo sudah mulai mendekat padaku.

Aku memicingkan mata saat melihatnya. Pemuda ini tidak terlihat membawa senjata apa pun. Kira-kira kemampuan apa yang ia miliki?

Ketika aku sedang memikirkannya, sekelebat gambaran masuk ke benakku. Tanpa banyak bicara, aku pun langsung melompat dari tempatku berada dan berpindah ke samping. Sayangnya, saat itu visi lain masuk ke benakku dan membuatku harus kembali melompat kalau ingin tetap utuh. Dan benar saja, tepat di tempatku berada sebelumnya, Guang Hong lah yang muncul dengan dua buah pedang pendek di kedua tangannya. Kalau terkena serangannya akibatnya pasti fatal.

"Kita lihat, seberapa lama kau bisa mengelak," kata Guang Hong sembari mengarahkan pedang pendeknya padaku.

Tak mau menunggu, aku langsung berpindah tempat ke ruangan di samping anak tangga. Aku membuka pintunya tanpa banyak bicara dan langsung mencari tempat yang mungkin bisa kupakai untuk bersembunyi. Dekorasinya sederhana dengan banyak tabung tinggi hingga ke langit-langit yang terhubung dengan kabel dan computer. Tabung-tabung tersebut berisi cairan dan disusun berderet di ruangan yang luasnya seperti aula itu, namun sepertinya tidak cocok sebagai tempat bersembunyi karena terlalu transparan. Tapi di balik meja, mungkin aku…

Langkahku terhenti sebelum aku tiba di balik meja. Seseorang sudah menyusulku, bahkan lebih cepat. Kalau aku terus bergerak, niscaya tangannya akan berhasil menangkapku. Untung saja tangannya tidak berhasil mengenaiku dan malah menyentuh meja berisi computer di dekatnya. Baru saja aku hendak mundur, tahu-tahu saja komputernya meledak dan hangus dalam sekejap.

Tak bisa kuhindari, aku berbalik dan mengamati computer itu. Tidak ada tanda-tanda api di sekelilingnya, hanya ada bau hangus terbakar dan computer yang langsung meledak setelahnya. Bila dilihat dari gejalanya, sepertinya aku mengerti kemampuan si penyerang.

Sial! Pengguna listrik rupanya. Kemungkinan besar kalau aku mendekat, ia akan melancarkan serangan listriknya padaku. Namun kalau tidak kuserang, aku takkan lolos dari pengejaran mereka. Bagaimana caranya?

Selagi aku berpikir, sebuah gambaran bahwa Guang Hong ada di belakangku dan nyaris menebas kepalaku membuatku meloncat dari tempatku berdiri. Beberapa detik setelahnya, visiku menjadi kenyataan dan Guang Hong muncul tepat di tempatku. Pemuda itu mengedarkan pandangannya dan menemukan sosokku yang tengah bersembunyi di balik beberapa tabung cairan yang ada di ruangan tersebut. Tanpa banyak bicara, ia pun langsung menyabetkan senjatanya untuk menebas tabung tersebut.

Berkat tebasannya, air di dalam tabung langsung membasahi lantai dan menghalangi jalan. Untungnya, pecahannya berupa butiran yang tidak menyakitkan walaupun aku tetap menghindar karena tidak ingin pakaianku basah. Saat aku tengah sibuk menghindari air yang mulai mengalir membasahi lantai, tiba-tiba sepatuku terasa begitu berat hingga sulit diangkat. Akibatnya, aku pun terjatuh menubruk lantai dengan bunyi berdebum keras.

Belum menyerah, aku segera berguling ketika melihat Guang Hong mendekat. Aku pun mencoba bergerak lebih cepat, sekalipun yang ia tebas bukan aku. Pemuda itu lebih memilih menebas tabung-tabung kaca yang ada di sekitarku, yang akan langsung pecah menjadi butiran. Hanya airnya saja yang mengenaiku ketika tabung dipecahkan.

Baju yang kukenakan sedikit basah sehingga tubuhku jadi terasa lebih berat. Aku baru saja hendak bangkit berdiri dari lantai ketika melihat Leo telah menyentuhkan tangannya di air.

Jangan-jangan…

"Jangan mati dulu ya," kata pemuda itu sambil menyunggingkan senyumnya. Percikan muncul di tangannya dan langsung disentuhkan pada air di sekelilingku. "Skak mat!"

Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh terkena. Aku tidak mau terkena. Arus listrik itu tidak boleh sampai mengenaiku.

Ketika aku berpikir begitu, jantungku lagi-lagi berdegup kencang dan segala sesuatu di sekelilingku berubah menjadi abu-abu. Aku mengangkat kepala dan melihat pergerakan Leo yang tiba-tiba menjadi sangat lambat. Bahkan aku pun bisa melihat arus listrik yang mulai bersentuhan dengan air dan langsung dihantarkan menuju ke tempatku.

Hanya saja, gerakannya yang lambat membuatku dapat bergulir ke samping ke tempat yang lebih kering. Tak cukup hanya itu, sepatuku pun jadi lebih ringan dalam sekejap begitu juga dengan tubuhku. Akibatnya, tanpa ragu-ragu, kutendang pemuda yang menggunakan arus listrik itu dan seketika itu juga pemandanganku kembali berwarna.

Leo terlempar hingga memecahkan beberapa tabung di belakang dan menubruk dinding dengan bunyi berdebum nyaring. Sementara itu, Guang Hong yang berdiri di atas salah satu tabung membuka mulutnya lebar ketika melihatku berada di tempat seharusnya Leo berada. Dengan gerakan yang super cepat, ia langsung menggerakkan jemarinya dan sepatuku kembali sulit digerakkan.

Apa ini? Kemampuan apa yang dimilikinya? Kenapa sepatuku jadi sulit digerakkan setiap kali ia menggerakkan jemarinya. Tapi kalau begitu, aku cukup melepaskan sepatuku saja 'kan?

Langkahku memang jadi lebih ringan ketika aku melepaskan sepatuku. Hanya saja saat aku berlari dan hendak menjauhi Guang Hong, bobot tubuhku terasa lebih berat dari biasanya dan sekali lagi aku jatuh ke lantai. Kali ini, pakaianku lah yang semakin berat hingga membuatku sulit bergerak.

"Beraninya…"

Pakaian… sepatu… jangan-jangan orang ini…

Menggunakan vision, aku tahu bahwa Guang Hong akan menyabetkan kedua pedangnya di atas kepalaku tanpa memedulikan apakah aku hidup atau mati. Namun sekali lagi, pemandangan monochrome itu kembali muncul dan membuat tubuhku menjadi lebih ringan dibanding sebelumnya.

Aku tidak tahu untuk berapa lama pemandangan monochrome ini berlangsung, namun ketika ini terjadi, aku dapat memanfaatkan gerakan mereka yang lambat dan segera beranjak dari tempatku berada. Bukan hanya itu saja, aku pun dapat memanfaatkan serangan balasan dengan mendorong Guang Hong sekuat tenaga.

Pemandangan monochrome lagi-lagi lenyap, digantikan dengan suara tubrukan Guang Hong pada tabung hingga berakhir di dinding. Dari suara tubrukannya, sepertinya ada beberapa tulangnya yang retak walaupun pemuda itu masih berusaha untuk bangkit berdiri dan menghampiriku. Masih memegangi kedua pedangnya, ia berkata, "Bagaimana… kau masih bisa berdiri? Bagaimana mungkin…?"

Saat pemandangan monochrome hilang, pakaianku memang menjadi jauh lebih berat dan menyulitkanku untuk berdiri. Menyadari hal ini, aku pun akhirnya berkata, "Gravitasi, ya?"

Mata Guang Hong melebar ketika mendengar perkataanku. Dari reaksinya, sepertinya dugaanku soal kemampuannya tepat. Pemuda ini adalah pengguna gravitasi. Melihat caranya, kemungkinan ia memanipulasi gravitasi benda-benda yang kukenakan karena yang beratnya bertambah hanya sepatu juga pakaianku.

"Bagaimana…" Guang Hong berkata sambil melihatku, "visioner kelas satu saja tak bisa melawan kombinasi serangan kami, bagaimana…"

Kelas, kelas, dari tadi aku bosan sekali mendengar kata kelas yang seolah mendeskripsikan perbedaan level kemampuan. Tapi entah kenapa, kali ini aku senang mendengarnya. Bahkan dengan senyum mencemooh dan menggerakkan ibu jariku melintang di leher, aku berkata padanya, "Checkmate!"

.

.

.

(t.b.c)

Author's note :

Holla XD masih bersama saia mendekati chapter akhir :P semoga kalian masih tahan menikmati keegoisan saia ini sampe akhir ya :D

Aniway :

Fujoshi desu XD : LOL, padahal Vitya mau ngilang tapi Fujocchi malah bersorak, kasihan sekali si rambut uban satu itu XD (kalo karakternya di YoI, doi pasti lagi nangis di pojokan nunggu dihibur :P #kidding) dan uhuk, saya bikin doi posesif memang, ane juga setuju soal posesif bastar (dilempar piso sama Viktor, kabur)

Nama kemampuan Yura yang baru itu sama ama Viktor, dan ane belom mutusin namanya nih XD boleh banget kalo Fujocchi ada ide nama yang sesuai XD

Sementara soal repiu kamu yang satunya lagi, soal kemampuan Chris, emang bener doi itu kemampuannya kayak Mirai di Kyoukai no Kanata. Dia bisa jadiin darah sebagai senjata, tapi senjatanya bermacem-macem, yang nunjukkin tingkat kemampuan imajinasi dia dan kemampuan dia yang uda tinggi levelnya dibanding Yuuri. Kalo nanti Yuuri berlatih, mungkin Yuuri bisa jadi kayak dia XD

SayaTest : saya juga mikirin absennya itu gimana T_T, uda berbulan-bulan nggak sekolah, sepertinya uda nasib kalo dedek satu ini sampe tinggal kelas gegara ulahnya si Rambut Uban :D

Stammi Vicino uda dipake sama Vitya dengan nama –Aria :D dan berhubung doi mau menghilang kayaknya duet 'Stay with me' hampir sulit terealisasi T_T mungkin kalo kita bedah otaknya, kita bisa nemuin duet 'Stay with me' nya doi. #najeminpiso

Network Error : loph u juga Network Error, siap2 sama serangan apdet gerilya saya yak :D

And for all of you, thank you for reading! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD