Balas Review! :D
BlueAhoge: Mungkin aja Eve iseng ubah sirkuit lengannya biar otaknya pinter dikit! *di-Canon Blade.* Baiklah, terima kasih Review-nya! :D
Honey Sho: Maaf meralat, tapi kau harus dengerin penjelasannya! *nunjuk Raven yang mau murka.*
Raven: "SIAPA YANG LU MAKSUD OC-NYA GIRL-CHAN?! GUE CHARA ELSWORD, WOY! KAGAK PERNAH MAIN ELSWORD, YA?!"
Mathias: *muncul sambil getokin kepala Raven dari belakang.* "Ya udah, sih! Dia kan kagak tau kayak waktu itu dia ngira gue ngancem dia, padahal gue aslinya pengen ngancem si Luthfi!"
Raven: "Oh, oke, fine! Gue maklumi aja!" *nyelonong pergi.*
Me and Mathias: *sweatdrop.*
Hmm, gimana ya? Gue pernah ngobrol sama Dissa di FB, katanya waktu itu kamu kelas 2 SMA yang berarti sekarang udah naik kelas jadi kelas 3! Aku sendiri baru lulus SMP dan masuk SMK kelas XAP (Sepuluh Administrasi Perkantoran)! Soal itu, katanya Arthur kagak setuju tapi alasannya masih dipertanyakan! ^^V Okey, Thanks for Review! :D
Happy Reading! :D
Chapter 27: Tragedi Saus dan Kenangan Penyambutan
Jumat pagi hari yang (terlihat) cerah di kost para guru NNG dan para penghuninya sedang bersiap untuk melakukan aktivitas harian mereka, kecuali jika...
"WOY, BANGUN KAGAK LU BERTIGA?!"
Terdengar teriakan gaje dari Ryder sang guru baru yang membuat dua orang guru menuju ke TKP (baca: ruang tengah kost).
"Ada apaan, sih?" tanya Lance sambil ngucek mata.
"Iya, ribut banget deh!" timpal Matt sambil menguap lebar.
"Nih tiga kebo kagak bisa dibangunin! Capek gue teriak sampe serek!" jawab Ryder dengan sangar plus OOC sambil menunjuk Mathias, Ciel, dan Raven yang molor dengan tidak elitnya.
"Ya udahlah, kalau itu mah biarin aja! Paling juga bangun sendi-" Lance yang berniat menasihati Ryder memotong kalimatnya saat melihat Matt mengeluarkan sebotol parfum. "Lu mau ngapain, Matt-kun?"
"Huehehehe, gue pengen ngerjain mereka aja!" balas Matt sambil nyengir jahil.
Dia pun membuka tutup parfum itu dan mendekati ketiga makhluk tersebut dengan perlahan.
"Mendingan kita jaga jarak aja dulu, daripada mental!" saran Lance sambil menarik tangan Ryder untuk menjaga jarak sejauh mungkin.
Matt yang sudah berada di dekat mereka kemudian menyemprotkan parfum itu ke wajah Mathias dan menunggu reaksinya.
1 detik...
2 detik...
3 de-
DUAK!
Belum tiga detik setelah penyemprotan itu, Matt (beserta Raven dan Ciel yang masih molor) pun langsung mental seketika.
Sementara Mathias sendiri? Lebih baik jangan ditanya, deh!
"AAAAAAAAAAAAAAAAAARGH! ASTAGA KAMBING, MIN GUD, WHAT THE DENMARK?! SIAPA NIH YANG NYEMPROT PARFUM BAU IKAN BUSUK ITU KE MUKA GUE, HAH?!" teriak Mathias dengan sangat murkanya.
"Lihat sendiri, kan?" tanya Lance kepada Ryder sambil menunjuk Mathias yang murka tersebut.
Ryder pun langsung menelan ludah melihatnya.
Sementara itu, Matt (beserta Raven dan Ciel yang udah bangun) langsung ngelus badan mereka karena membentur tembok akibat mental barusan.
'Mimpi apa gue sampe dimentalin pas tidur begini?' batin kedua makhluk yang baru bangun itu.
"Mendingan makan aja, yuk!" ajak Matt mengalihkan perhatian agar tidak ketauan kalau dia yang nyemprot parfum berbau ikan barusan.
Tolong dimaklumi! Sebenarnya dia sengaja nyemprot parfum itu karena tau Mathias alergi ikan!
Di Kantin saat jam istirahat...
"Well, makanannya lumayan juga!"
Hari ini Ryder sedang beradaptasi dengan lingkungan NNG yang terkadang suka berubah tergantung keadaan para warga di dalamnya. Mulai dari kelas, ruang guru, lapangan, perpustakaan, kantin, bahkan sampai toilet.
"Yah, di sini memang tidak banyak makanan! Tapi setidaknya, terkadang kau harus mensyukuri apa yang ada!" balas Chung sambil menyantap Phoru Cookies-nya. "Terakhir kali persediaan makanan menipis karena dipakai untuk perang oleh Mathias dan Andre (yang entah udah keberapa kalinya saat itu), kami terpaksa berburu dan memancing di luar!"
"Tapi aku belum pernah mencoba semua makanan di sini!" sahut Ryder tidak memperdulikan cerita Chung barusan. "Oh iya, kue itu enak tidak? Boleh aku minta satu?"
"Tentu!" Chung memberikan sebagian kue-nya kepada anak berambut coklat itu.
"Sepertinya dia akan terbiasa di sini!" bisik Rena kepada Natalie yang tersenyum kecil melihat keakraban kedua anak itu.
"Yeah, dan aku harap anak itu tidak terlalu banyak disuguhi kenistaan di sini!" balas Natalie sambil melahap muffin-nya.
Di sudut lain Kantin, ada sepasang Demon yang berniat makan bakso. Tapi...
"Lu-sama, apa tidak apa-apa kau mau makan dengan saus sebanyak itu?" tanya Ciel saat mendapati Lu sedang membuka sebungkus kecil saus untuk bakso pesanannya.
"Oh, ayolah! Aku laper banget dan berniat meningkatkan selera makanku dengan ini!" jawab Lu yang tanpa sadar membuat bungkus saus itu mencipratkan isinya dan...
"Aaaaaah! Siapa yang nyiprat mataku dengan saus?!"
Rupanya cipratan saus itu mengenai mata Lukas.
"Astaga Kambing, Kas!" Andre yang kebetulan makan di dekatnya langsung kaget melihat Lukas memegangi matanya yang terciprat saus.
"Ya Tuhan, Kas! Cepet kucek mata lu!" usul Elsword panik.
"Jangan, Els! Mendingan dilap aja!" saran Ieyasu.
"Pake apa?" tanya mereka semua bingung.
"Pake dengkul!"
Webek, webek...
"Errr, apa tak ada cara yang lebih baik dari itu?" tanya Gerrard agak skeptis.
"Sayangnya kagak, sih! Soalnya kalau dikucek, itu mah bakalan tambah parah nantinya!" jawab Ieyasu sedikit risih.
"Ya u- Oy, ngapain lu ngelap pake dengkul gue?!" tanya Mathias saat mendapati Lukas sibuk mengarahkan wajahnya ke dengkul pria jabrik itu.
Karena Mathias saat itu cuma pake kemeja, dasi, celana panjang, dan sepatu, jadi bayangin aja sendiri seberapa ambigu-nya!
"Hmm, Lukas! Yang dimaksud Ieyasu dengan ngelap pake dengkul itu harus dengkul sendiri, bukan dengkul orang!" jelas Add yang sweatdrop melihat keambiguan tersebut.
Guru-guru lainnya pun langsung ikutan sweatdrop melihat kejadian itu.
Yah, lebih baik kita abaikan saja para guru dan 'Tragedi Saus' yang terjadi sekarang ini!
Di kelas 9E...
"Hmmm..." Pemuda Greenlandic berambut putih jabrik itu terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil menatap langit-langit kelas.
"Kenapa, Thias?" tanya Dark yang bingung melihat Luthias melamun sambil bergumam sendiri di bangkunya.
"Aku teringat kejadian waktu itu, deh!" jawab Luthias sambil menoleh ke arah kawannya tersebut. "Kau mau dengerin kagak, Darukun?"
"Yah, boleh sih! Tapi, lu bisa kagak sih ngomong pake 'lu-gue' aja? Bahasa lu kaku banget kayak gitu, tau!" balas Dark agak risih sambil duduk di depannya.
Tak taunya, Dark merasakan aura mencekam di sekitarnya dan mendapati Luthias sedang memandanginya dengan tatapan plus aura mematikan yang sukses membuatnya merinding disko.
"Ohayo, Darukun, Luthias! Eh, kok auranya agak suram ya?" tanya Aiko yang heran dengan aura mencekam di antara mereka berdua.
Aura mencekam itu pun menghilang dan Luthias menengok ke arah Aiko dengan tampang datar sambil mendorong kacamatanya.
"Kau mau apa?" tanya Luthias melupakan fakta kalau dia nyaris membunuh Dark dengan aura-nya barusan di depan Aiko.
"Well, aku bosan! Apa kau punya cerita yang menarik untuk dibagikan, Luthias?" tanya Aiko dengan tampang berbinar-binar.
"Kalau itu maumu, kebetulan aku mau cerita! Duduk aja kalau kau mau!" balas Luthias sambil tersenyum ramah dan menyuruh Aiko duduk.
Aiko pun duduk manis di samping Dark.
'Kayaknya gue mesti ngomong baek-baek deh sama nih anak! Serem banget aura-nya!' batin Dark yang nyaris sekarat di tempat akibat kejadian barusan.
"Hmm, oke! Jadi kejadiannya berawal sehari setelah masuk ke sini, saat itu..."
-Flashback-
Giro sedang memegangi sebuah papan bertuliskan 'Selamat Datang, Luthias Oersted!' saat tiba-tiba Luthias berada di belakangnya sambil ngomong, "Salam kenal, Luthiasimik ateqarpunga (namaku Luthias)!"
"Ah, j-ja!" balas Giro gelagapan. "S-salam kenal, namaku Giro Cat- Haciuh!"
Sementara di Kantin...
"Hey, dimana Giro?" tanya Luthfi.
"Dia kan sedang menyambut teman baru kita!" jawab Idham yang sedang menyiapkan beberapa dekorasi.
"Hmm, seperti apa ya tampangnya?" tanya Luthfi penasaran.
"Hey, Luthfi! Kau tidak lihat foto dari Pak Kambing, ya? Dia kan ngasih tau di sini, lho!"
"Shalalalalalalalalalalalalalalalala!" (Anggap aja ocehan panjang Luthfi karena Author susah ngasih dikte-nya! *deja vu!*)
Idham pun hanya bisa memasang tampang yang 'tak bisa dijelaskan Author' mendengarnya.
"Sore wa Luthias-pyon, dayo!" ujar Giro sambil memperkenalkan pemuda Greenlandic berambut putih jabrik itu di depan kedua temannya.
'Dia ternyata lebih tinggi dariku!' batin Luthfi cengo.
"Hilsner (Salam kenal)!" kata Luthias datar.
"Salam kenal!" balas Idham.
"Salam kenal!" sambung Luthfi.
"L-Luthias, pelajaran apa yang paling kau sukai di sini?" tanya Luthfi.
"Aku baru pertama kali di sini, jadi aku belum tau pelajaran apa saja yang ada!"
"Hmm, Luthias! Apa kau sudah punya ekskul di sini?" tanya Idham.
"Aku baru pertama kali di sini, jadi aku tidak tau ekskul apa saja di sini!"
'Terus apa yang harus kita tanyakan padanya?' batin Idham saat suasana Kantin mulai hening.
"Oh, sou ka! Aku melupakan kue-nya! Biar kuambilkan!" ujar Giro sambil berjalan pergi.
"Eh, tunggu dulu! Aku mau ikut!" sahut Luthfi sambil menarik baju Giro.
"Oy, tunggu! Aku juga ikut!" Idham langsung menarik baju Luthfi dan...
DUUUNG!
Ketiga anak itu pun langsung jatuh dengan tidak elitnya.
"Beklager vente længe (Maaf menunggu lama)!" kata Giro yang sudah kembali dengan kue-nya.
"Hey, bagaimana kalau kita taruh lilin di atasnya?" usul Luthfi yang memegang sebuah lilin berwarna merah.
"Oh, ide bagus! Ayo letakkan!" balas Giro senang.
Ketika lilin itu disulut api, tiba-tiba kue itu langsung meletup gaje.
"Gyaaaaaaaa!" jerit Giro dan Luthfi.
"Itu petasan dan bukan lilin!" seru Idham panik.
Beberapa menit kemudian...
Luthias hanya bisa menatap bingung kejadian di depannya barusan dengan wajah berlumuran krim kue.
"Oh tidak!" gumam Giro dengan wajah resah.
"Luthfi..." Idham langsung menatap Luthfi dengan tampang kesal.
"Maafkan aku..." balas Luthfi pelan.
Ketiganya pun langsung berantem, sementara Luthias yang melihatnya hanya bisa menatap kejadian itu dengan bingung dan kemudian...
"Hm, hmhm, hahaha, hahahaha!"
"Beklager, tapi sepertinya aku akan menyukai suasana di sini!" ujar Luthias dengan tampang senang.
"Hehe!"
"Nyahahahaha!"
"Ahahaha!"
Akhirnya mereka pun menyiapkan jus jeruk.
"Nah, Luthias Oersted-pyon! Selamat datang di NihoNime Gakuen ini!" kata Giro.
"Aku senang kau berada di sini!" lanjut Idham.
"Aku juga senang!" sambung Luthfi.
"Aku juga senang berada di sini!" balas Luthias sambil tersenyum kecil.
"Kanpai!" Keempatnya pun bersulang.
-Flashback End-
"Hoooooh!" Aiko dan Dark pun hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.
TENG TONG TENG TONG TENG TONG TENG TERERERENG!
"Oh, kayaknya sudah masuk!" ujar Aiko sambil kembali ke tempat duduknya diikuti Dark.
Sementara Luthias tetap berada di tempatnya sambil menyiapkan buku dan kelas 9E pun langsung tertib sambil menunggu kedatangan guru mereka.
To Be Continue...
'Tragedi Saus' itu kisah nyata pas acara makan bakso di rumahku dimana adik sepupuku membuka bungkus saus nyiprat kena matanya dan nangis dengan hebohnya sampai temen mamaku nyaranin buat usapin matanya pake dengkul sendiri! Pokoknya begitu, deh! ^^'a
'Kenangan Penyambutan' itu terinspirasi dari Vocaloid Petit Drama (lagi) yang judulnya 'Megurine Luka was Come!' di Youtube! Sumpah, aku paling ngakak di bagian petasan di atas kue-nya itu lho! :3
Review! :D
