Random update ftw!


One Piece © Eiichiro Oda

Two Schools, Two Worlds

Chapter V

Left for Dance – Part 1

A Message in the Wind


Pengumuman prom beberapa hari lalu mengubah Seifu yang biasanya lumayan tenang dan damai menjadi tegang seolah terjadi perang dingin. Ini karena para senior berebut mengundang nama-nama top sekolah ke prom! Di permukaan mereka terlihat bersaing dengan sportif, tapi sebenarnya... tiap hari, puluhan korban berjatuhan karena kerasnya kehidupan percintaan SMU Seifu.

Pak Jyabura dan anggota Komite Disiplin sudah beberapa kali menangkap basah murid-murid tolol yang berantem memperebutkan cewek/cowok. Tentu saja mereka menghukum semua yang terlibat, bahkan objek rebutannya juga yang mereka tak berani melerai (atau justru menikmati pertempuran di depannya). Tapi, karena ujian masuk universitas tinggal 2 bulan kurang, Pak Jyabura tak bisa men-skors mereka. Padahal dia sangat menikmati wajah shock murid dan orangtua yang mendapat surat skors... dasar orang sadis.

Kondisi perang dingin di sekolah rupanya nggak terlalu mempengaruhi solidnya geng-geng terbesar Seifu. Anak-anak Spade yang dikomandoi Marco tampak santai-santai saja. Para personel Shichibukai tetap mengamen dengan penuh semangat seperti biasa. Kekaisaran Kuja makin menguatkan gandengan tangan mereka untuk melindungi anggotanya (terutama sang ratu) dari ajakan ke prom. Supernova tak merusuh karena hanya 2 anggotanya yang harus ikut prom. Sementara SH... sepertinya juga tidak terpengaruh.

Kecuali beberapa cowok populernya.

"..." Alis Zoro berkerut setelah melihat lokernya lagi-lagi dipenuhi surat. Raut wajahnya itu membuat murid-murid kurang beruntung yang memiliki loker di sampingnya buru-buru kabur.

Bagaimana tidak kesal? Surat harian dari para fansnya saja sudah sangat merepotkan, apalagi ditambah undangan ke prom! Zoro mendecakkan lidahnya sambil mengambil surat-surat yang terjatuh dan menumpuknya lagi.

Kenapa mereka bisa tahu nomor kombinasi lokernya, Zoro hanya berpikir kalau ada orang dalam SH yang membocorkannya karena disogok...

"Waah, Zoro populer juga ya," komentar Chopper setelah menyaksikan perlakuan dingin Zoro pada surat-surat dalam lokernya.

"Heee...?" Nami mendekatinya, dan tertawa kecil melihat tumpukan surat dalam loker Zoro. Kemudian, dia mengelus kepala cowok yang lebih tinggi 30 cm darinya itu. "Nak Zoro sudah dewasa rupanya... Nami-nee bangga padamu."

Wajah cowok marimo itu memerah.

"J-jangan bertingkah seperti ibuku!" Zoro menampik tangan Nami.

"Hehe. Ini yang membuatku suka menggoda kamu, Zoro!" Nami meloncat mundur sambil menjulurkan lidahnya, kembali ke dekat Robin yang memandangnya tanpa berkedip.

"Beruntungnya kau, marimo sialan... dielus Nami-swan seperti itu," gumam Sanji.

"Apanya? Oi, kulihat kau juga dapat banyak undangan, keju!" Zoro nyolot.

Benar, di loker Sanji juga ada banyak sekali surat. Beda dengan Zoro yang memperlakukannya dengan dingin, cowok pirang itu "menyortir" surat-surat dengan... membauinya?

"Ya, tapi nggak semuanya mellorine," kata Sanji sambil mengendus sepucuk surat dengan amplop violet. Menurutnya, ketulusan (dan kecantikan) seorang gadis bisa dinilai... dari parfum yang dia bubuhkan ke surat. "Hmm~! Ini mellorine!"

"... dasar pria rendah."

"Pria rendah yang disukai wanita? Terimakasih pujiannya~" Sanji bersenandung.

"Aku nggak memujimu, idiot."

"Wooow?!" tiba-tiba Usopp berteriak, membuat Zoro dan yang lain mengalihkan perhatian mereka ke si hidung panjang. "Lihat ini..."

Usopp menunjuk Luffy yang berdiri tak bergerak di depan lokernya. Zoro dan kawan-kawan melongok dan... melihat loker sang ketua penuh dengan kotak bento. Juga undangan prom.

Dagu mereka jatuh menyentuh lantai.

Luffy... Monkey D. Luffy yang itu... punya banyak penggemar?!

"Yosssh! Hari ini juga makan besar!" Luffy mengangkat kedua tangannya.

"'J-juga'?" tanya Nami, kesulitan mengembalikan dagunya ke posisi semula.

"Ya! Sejak awal minggu ini lokerku selalu penuh dengan bento kiriman. Dan semuanya enak!" jawab Luffy dengan cengiran khasnya.

Ini hal baru untuk anak SH lainnya. Karena jarang berangkat sekolah bersama sejak liburan musim panas, mereka tak tahu tentang ini. Apalagi, akhir-akhir ini Luffy lebih suka makan siang bersama teman-teman barunya di Supernova.

"Bagaimanapun... popularitas Luffy-san melejit setelah kemenangannya atas Eustass-senpai." Marguerite menggigit jempolnya, dia tampak khawatir entah karena apa.

"H-heee..." Nami tak bisa berkomentar apa-apa.

"Hhhh. Aku merasa pesonaku sebagai anggota Straw Hats paling ganteng memudar..." Sanji tampak lesu.

"Pfft, 'paling ganteng'? Itu yang dikatakan pria-yang-cuma-mendapat-surat-sedikit-itu?"

"Haah?! Jangan sombong, kau marimo busuk-" Sanji menunjukkan tumpukan suratnya ke wajah Zoro. "Lihat, hari ini aku dapat 8!"

"Ara, Zoro-kun dapat 10 lebih surat dan undangan," tiba-tiba Robin nyeletuk, matanya tak terlihat karena tertutup kilauan kacamatanya.

Sanji memandang Robin dengan mata terbelalak, kemudian badannya semakin melemas seolah tulang-tulangnya dicabut. Sedangkan Zoro merasakan hawa dingin tak terjelaskan. Jika Robin memanggilnya dengan embel-embel "-kun", berarti ada yang membuatnya kesal...

"Aaaah!" Sanji menggaruk kepalanya, frustasi karena dikalahkan 2 orang bebal di SH. "Oi, Luffy... karena kau tiap hari dapat kiriman bento, kurasa aku nggak perlu masak lebih untukmu..."

"Eeeh~?! Aku masih mau bekalmu, Sanjiiii!"

"Enak saja! Kalau aku nggak masak bento-mu yang jumlahnya absurd itu, aku bisa berkreasi lebih untuk para gadis!"

"Oi, gimana dengan kami para cowok?" tanya Usopp.

"Kita juga mau makan enak, Sanji!" Mata Chopper berkaca-kaca komikal.

"Jadi... aku juga tak bisa membuatkan bento untukmu lagi, Luffy-san?" tanya Marguerite. Dia tampak sedih...

"Eeeh, jangan dong!" kata Luffy.

"Benar. Sebaiknya kamu nikmati saja kiriman dari para penggemarmu..." kata Nami sambil mencengkeram pundak Luffy erat.

"Adauw!"

-o0o0o0o0o-

Jam makan siang hari itu...

"Oi, Ace! Kita makan di markas aja, ada pertemuan konsolidasi Spade." Marco bangkit dari kursinya. Ace menanggapinya dengan menghela napas panjang. "Koraa, ini penting!"

"Ya, ya..." Ace memundurkan kursinya, tapi gerakannya terhenti karena merasakan keberadaan seseorang di depannya. "Yaa, ada apa, yang mulia?"

Itu Hancock. Dia berdiri dengan menyandarkan sebelah tangannya di atas meja, aura kekuasaannya terpancar menyilaukan seperti biasa. Tapi kemudian dia tampak gugup.

"Portgas. Eh, um, A-Ace-kun..." Wajah sang ratu memerah, membuat jantung Ace berhenti berdetak. "Ki-kita harus bicara. Empat mata."

"?!"

"Temui aku di lapangan secepat mungkin."

Seisi kelas menjatuhkan dagu mereka ke lantai. Bahkan Pak Capone yang masih di dalam kelas menjatuhkan permen cerutu di mulut saking kagetnya.

Hancock... mengajak Ace bicara 4 mata!?

Berita itupun menyebar ke seluruh sekolah hanya dalam waktu 5 menit akibat ulah anak jurnalistik. Lokasi pertemuan mereka, lapangan sekolahpun jadi amat ramai seolah menjadi lokasi syuting film romantis...

"Haa... hah. Huff. O-oi oi, Marco! Apa yang terjadi?" Sabo menyapa ketua Hancock fans club itu sesaat setelah dia sampai di lokasi. "Kupikir Hancock-san nggak suka sama Ace?"

"Kupikir juga begitu, Sabo. Tapi, ini..." Marco memandang kedua selebritis sumber kehebohan yang saling berhadapan di tengah lapangan. Keduanya tampak grogi...

"Uh... suasananya pas banget..." Sabo mencengkeram batang pohon di depannya erat-erat. "Hal terakhir yang ingin kurasakan sebelum lulus SMU adalah kalah dari anak ini!"

"Ssst! Sudah dimulai!" kata Jozu.

Benar saja, Hancock tampak mengatakan sesuatu yang membuat Ace bertambah grogi. Lalu, diiringi jepretan kamera dan teriakan keputusasaan para penggemar kedua pihak, Hancock... memberikan sepucuk surat ke Ace!

"?!"

"Onore, Aceeee!" teriak Sabo dramatis. Dia memakai jaket coklat panjang, kacamata bulat dan topi ala Narutaki dari Kamen Rider Decade.

Tapi, ekspresi Ace berubah melihat surat itu. Dia mengatakan sesuatu, dan kali ini giliran Hancock yang bertambah grogi.

"Eh? Dia menolaknya?!" Sabo melepas jaketnya.

"Jangan bodoh! Tak ada yang bisa menolak Hancock-chan!" teriak Marco.

Ace memandang Hancock dengan penuh tanya, dan keheningan pun menyelimuti lapangan... merasa ada yang aneh dengan suasana itu, Sabo segera beranjak dari persembunyiannya!

"Oi, jangan ganggu mereka-!" Jozu berusaha menghentikan Sabo, tapi dia terlalu licin.

"Apa yang ingin dia lakukan, idiot itu?!"

Tak lama, Sabo sudah berada di samping Ace. Kedua orang itu samasekali tak memperhatikannya, jadi sepertinya hal yang mereka bicarakan itu bukan hal yang terlalu pribadi... yang jelas, suasana di situ amat tegang...

"... oi, Ace." Sabo yang tak tahan dengan suasana tegang ini, menyikut Ace sambil berbisik. "Apa yang terjadi? Kenapa kau berwajah seperti itu? Harusnya kau senang... dia mengundangmu ke prom 'kan?"

"Tenang saja saudaraku, undangan itu bukan untukku." Ace melirik surat di tangan Hancock.

"Hah?" Sabo mengamati surat itu, lalu menggaruk pipinya. "Oh... untuk Luffy, nih?"

Wajah Hancock memerah menanggapi pertanyaan itu.

Sabo menghela napas panjang. Semua udah jelas...

"Jadi, aku ulangi. Kamu... ingin mengajak adikku?" Ace melipat lengannya.

"I-iya..." jawab Hancock tanpa mengangkat wajahnya. Badannya bergetar karena grogi.

"Hnngggh! Kenapa saat berurusan dengan Luffy, sang Ratu Es melembek..." pikir Ace dan Sabo kompak. Mereka tak bisa bernapas melihat Hancock yang malu-malu itu.

Tapi...

"Sayangnya, aku tak bisa membiarkan Luffy pergi denganmu."

"Kenapa?!" Hancock mengangkat wajahnya, kaget. "... ! A-apa Luffy-sama su-sudah punya p-pa-pacar sehingga kau melarangku?"

"Nggak," jawab Ace dan Sabo kompak.

Hancock menghela napas panjang, lega. Kemudian dia menegakkan tubuhnya.

"Lalu, kenapa kalian melarangku?! Biarkan aku pergi dengannya!"

"Dia kembali ke dirinya semula..."

"Ooh, tidak bisa. Kalau kamu ingin mengundang adikku, kamu harus mengajaknya langsung," kata Ace tegas. Paling nggak mereka bisa mengganggu sang pujaan hati untuk terakhir kalinya dengan ini...

"Benar. Aku nggak bisa membiarkan Luffy pergi dengan cewek yang bahkan nggak berani bicara dengannya langsung," sambung Sabo.

Wajah Hancock semakin memerah karena marah, dan dalam sekejap kedua cowok lawan bicaranya terkapar menatap langit biru dengan benjol di kepala mereka. Kumpulan penonton pun perlahan bubar dengan wajah-wajah lega...

"Augh... dia tampak sangat marah, Ace."

"Ini sepadan."

Mereka tertawa kencang, melupakan rasa sakit di kepala mereka.

"... Luffy anak yang beruntung," kata Sabo kemudian.

"Heh, anak itu akan merasakan tinjuku nanti."

"Aku juga mau memukulnya..." Sabo mendudukkan dirinya. "Hey, bagaimana kalau sepulang sekolah kita pergi ke ding-dong? Kau tahu, pesta sesama orang yang patah hati."

"Ooh, ide bagus, saudaraku! Ajak Marco dan yang lain juga, supaya mereka merasakan penderitaan kita!"

Sementara itu, Sonia dan Mary yang mengintip kejadian itu di balik pohon menelan ludah menyaksikan Hancock kembali dengan menghentak-hentakkan kakinya.

"A-Anee-sama gagal..." kata Sonia.

"Lawannya 2 troll itu sih..." Mary membuka lagi keripik kentangnya.

"I-iya. Jangan menyerah, anee-sama. Kesempatan akan datang..."

Hancock menundukkan kepala. Badannya bergetar...

"J-jangan menangis!" teriak kedua adiknya kompak.

"B-baiklah!" Hancock mengangkat wajahnya. Dia tampak penuh determinasi. "... aku akan bicara dengan Luffy-sama langsung!"

"Ooh?!"

-o0o0o0o0o-

Tak terpengaruh keramaian di lapangan, SH makan siang bersama di atap seperti biasa. Untuk pertama kalinya setelah libur musim panas, semua anggota berkumpul. Termasuk Luffy yang diseret Nami sebelum dia ngacir ke markas Supernova, membuatnya mendapatkan ucapan terimakasih tulus dari Kid.

"Jadi, akhir minggu ini kita akan melakukan gathering setelah sekian lama," kata Nami, yang disambut sorakan Luffy dan yang lain. Gathering SH berarti makan-makan! "Tentunya kalian semua bisa datang 'kan?"

Semua anggota SH menganggukkan kepala mereka, tapi... Zoro mengangkat tangannya.

"Aku nggak ikut."

"Lhooo, kenapa, Zoro? Kenapa kamu nggak bisa ikut?" tanya Chopper dengan puppy-eyes

Zoro mengerang. Padahal dia tak ingin menceritakannya... tapi bling-bling dari mata Chopper menusuk hatinya...

"... akhir minggu adalah waktu yang dijanjikan Koshiro-shishou untuk berduel denganku."

"Oh!" Usopp menolehinya dengan wajah tertarik. Dia dapat berita bagus untuk minggu depan! "Duel yang kapan hari itu, agar kamu bisa meninggalkan dojo kah?"

"Yahh. Sudah 3 bulan lebih Mihawk melatihku. Aku siap." Zoro mengusap rambut di belakang kepalanya.

"Yohoho! Kalau begitu saya akan mengumpulkan pendukung!" kata Pak Brook dengan mulut penuh.

"Aiiih! Eike juga! Ne, ne, mau cewek tulen apa cewek jadi-jadian, Zoro-kyun?" Bon-chan mencolek dagu Zoro.

"Gyah!" 'Serangan' itu membuat bahkan seorang Zoro merinding. Dia segera menggeser duduknya jauh-jauh dari sang okama. "Nggak usah berlebihan begitu! Kalian cukup mendukungku dari jauh!"

"Shishishi. Nggak bisa begitu dong! Kita akan nonton langsung!" kata Luffy.

"Ah, benar juga. Kita bisa gathering di dojo setelahnya, sekalian merayakan kemenanganmu," sambung Nami.

"Jangan meremehkan shishou, Nami."

"Tapi, yang kita bicarakan ini kamu, Zoro. Kamu pasti menang." Nami tampak pede daripada Zoro. Zoro cuma bisa menggaruk pipinya menanggapi dorongan semangat temannya itu.

"Haaah, dengan kata lain aku harus menyiapkan pesta di rumah marimo sial ini," Sanji mengetukkan rokoknya di dinding.

"Yoosh! Kalau gitu aku akan mengajak Ace dan Sabo, anak-anak Supernova juga!" teriak Luffy.

"Coby, Helmeppo, Conis... dan tentu saja Kaya!" sambung Usopp.

"A-apa aku bisa mengajak Hancock-sama dan kawan-kawan juga?" tanya Marguerite.

"Eh, tentu aja."

"Yooosh! Kalau ada cewek-cewek sebanyak itu, aku akan masak Genghis Khaaaan!" teriak Sanji dengan badan berselimutkan api. Genghis Khan adalah masakan barbeque daging domba dengan porsi masif, yang cukup untuk memberi makan pasukan Mongolia pada zaman sang Khan.

"Oooooh?!"

Melihat anak-anak sangat antusias mendukungnya seperti itu, Zoro hanya bisa tersenyum tipis.

"Fufufu, kamu nggak jujur sama perasaanmu, Zoro," komentar Robin.

"Di-diam!"


A/N Corner

Sesuai janji dulu, di chap V akan ada scene duel Zoro vs Koshiro. Siapa yang bilang kalau battle fic nya berakhir... haha. Karena itu, update selanjutnya akan agak lama karena harus research tentang kendo dulu...

Vaynard, out!


Next in Two Schools, Two Worlds

Chapter V Part 2 – Messenger of the Sword

"Ini mirip adegan di dorama yang isinya: 'Kalau kau menginginkan putriku, langkahi dulu mayatku!'"