Jimin | Yoongi | Boy's Love | As Sweet As Sugar's Sequel! | This gonna be Mpreg. Do you want to, don't you? | I don't take any profit with this chara | AU | R-18 | Beware! '-')/
.
.
.
Do not republication! Do not plagiarize!
.
Enjoy!
.
.
.
.
I.
.
.
.
Siang itu Yoongi sedang memberi makan empat ekor ikan mas koki yang masih dipeliharanya didalam kolam karet kecilnya itu.
Yoongi juga menggerutu karena ikannya masih tetap begitu-begitu saja tanpa ada perubahan yang signifikan, ikannya tetap berukuran sama tak memanjang sedikitpun seperti Jimin yang tidak bertambah tinggi.
Um... Sepertinya Yoongi berpikiran yang sama seperti Jungkook tentang ikan mas kokinya.
Setelahnya Yoongi segera kembali ke dapur untuk meletakkan makanan ikan dan mencuci kedua tangannya. Siang ini Yoongi sedang banyak waktu luang, apalagi kalau Minki sedang tidur siang seperti ini. Yoongi tak perlu mengejar Minki yang kini sudah bisa belajar duduk dan mulai belajar untuk menyeret diri pergi dari kasur lantai tipisnya.
Yoongi kini bisa bersantai sejenak sampai Minki terbangun dan menonton televisi bukanlah hal yang buruk saat ini. Lagipula, Yoongi juga bosan ingin melakukan apa.
Ketika sedang asyiknya Yoongi menonton tontonannya, tiba-tiba ponsel yang sengaja diletakkannya diatas meja itu berdering sebagai tanda ada panggilan masuk disana.
'Park-Bocah sialan-Jimin'
Begitu nama yang tertera disana. Yoongi sama sekali tak merubah nama kontaknya seperti saat mereka masih pacaran waktu itu.
"Hm." Yoongi menerima panggilannya dengan malas seperti biasa. Menempelkan ponselnya di sebelah telinga dan kedua matanya tetap tertuju pada televisi.
"Didi~~"
Suara ceria diseberang telepon sana membuat Yoongi berdecak malas kemudian. "Ada apa?"
"Didi lagi ngapain? Baby Minki lagi ngapain? Semuanya sudah makan belum? Sudah minum susu? Terus hari ini—"
"Bawel, berhenti bicara atau aku tutup teleponnya."
"Eh iya iya jangan ditutup teleponnya!" Panik Jimin.
"Mau ngapain sih?" Tanya Yoongi, malas menghadapi pembicaraan tak penting dari suami bocahnya itu.
"Aku sedang membutuhkanmu, Didi."
"Huh?"
"Phone sex yuk?"
"HAH?!"
Terdengar kekehan Jimin dari sambungan telepon Yoongi mendengar reaksi kaget pemuda manis yang langsung terlonjak dari duduknya. Untung Yoongi sedang tidak mengunyah apapun, bisa tersedak juga kerongkongannya.
Lagipula, apa-apaan siang di tengah hari yang terik seperti ini Jimin mengajaknya tentang begituan. Belajar darimana dia.
"A—ada Minki." Jawab Yoongi sekenanya meski ia jadi agak gugup. Jimin itu memang yang paling ahli membuat Yoongi jantungan karena tingkahnya yang ajaib.
"Oh ya? Mana-mana? Sini aku mau berbicara dengan Minki." Pinta Jimin.
Yoongi terdiam. Duh, Yoongi tak terbiasa berbohong.
"Didi? Mana suara Minkinya? Kok diam saja sih?"
Hening. Yoongi tak menjawab apapun.
"Didi bohong ya~ jam segini pasti Minki sedang bobo siang." Jimin terkekeh kembali. Ia tahu Yoongi sedang mengelak.
"Ba—bawel!" Yoongi mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Ia bisa mendengar suara tawa Jimin kemudian.
"Jadi...bisakah kau bayangkan Mommy Mingi?"
Yoongi mengangkat satu alisnya tanda tak mengerti maksud pertanyaan Jimin. "Apaan?"
"Membayangkan aku penuh nafsu menghantam lubangmu yang sempit itu dengan kencang dan bergairah di siang hari yang panas ini?"
Blush.
"Ji—Jimin!" Yoongi merona panas dikedua pipinya saat itu juga. Bisa-bisanya Jimin bicara kotor seperti itu dengan suara rendahnya di sambungan telepon.
"Iya sayang? Kau bisa membayangkannya bukan?" Jeda sebentar. Hanya terdengar suara napas Jimin yang entah kenapa membuat telinga Yoongi panas mendengarnya. "Aku mencumbumu diatas sofa kamar kita dan membelai tubuhmu lembut dengan jari pendekku ini, hm?"
Yoongi terdiam. Tak berbicara sepatah katapun atau bergerak sedikitpun. Tetapi Jimin tetap berbicara di sambungan teleponnya.
"Mencengkeram erat penismu dan mengulumnya—"
"Hyaa bocah mesum sialan! Awas kalau pulang!"
FLIP!
Yoongi segera memutuskan sambungan teleponnya dengan kasar. Napasnya memburu dan kedua pipinya memerah seperti apel. Ia juga mengipasi dirinya dengan tangan.
"Brengsek Park Jimin." Gerutunya kemudian.
.
Disisi lain di sebuah ruang lounge yang sepi, ada Jimin yang duduk sendirian disana dengan cup caramel macchiato dingin yang baru dibelinya itu.
"Yaaah, kok dimatiin? Aku 'kan seriusan Didiiii~ ;_;"
Sebenarnya Jimin sedang horny sendiri siang ini. Biasalah masalah lelaki.
Mari biarkan Jimin merana.
.
.
.
.
II.
.
.
.
Yoongi menggigit bibir bawahnya dengan raut wajah dilema. Ia menatap Minki digendongannya dengan cemas. Yang dibalas tatapan lugu dari bayinya.
Hari ini ia baru saja dihubungi oleh Namjoon—rekan rappernya untuk tampil di tempat biasa. Namjoon bilang katanya mereka bakal kedatangan rekan underground dari Daegu yang sudah lama tidak tampil bersama. Tentu saja Yoongi harus menemui mereka untuk beradu rap.
Tetapi... bagaimana dengan Minki?
Yoongi akan berangkat pukul lima sore dan tentu saja saat itu Jimin belum pulang.
Siapa nanti yang akan menjaga Minki?
Kalau diajak pun nanti Minki juga akan bermain dengan Tae—oh iya, Taehyung!
Menitipkan Minki pada Taehyung saja mungkin tidak buruk. Hm, Yoongi harus menghubungi pemuda itu tentu saja.
.
"Halo, Tae?" Yoongi langsung menghubungi Taehyung setelah ia bersiap dan mengganti pakaiannya dengan yang catchy itu siap untuk melakukan performnya setelah sekian lama. Ukh, rasanya Yoongi jadi tidak sabar.
"Yaa~?" Dari seberang telepon terdengar menjawab ceria.
"Tae, aku butuh bantuanmu." Pinta Yoongi, ia duduk diatas ranjang dan menoleh pada Minki yang tiduran disebelahnya memekik senang dengan mainan karetnya.
"Bantuan apa, Hyung?"
"Bisakah kau jaga Minki untuk malam ini? Tidak sampai larut kok."
"Woaaah~ jagain Minki!" Taehyung berseru senang. "Ta—tapi Hyung..."
"Kenapa?"
"Aku harus menemani Hosiki-hyung malam ini... ah! Kalian akan perform bersama, bukan?"
"Itu dia masalahnya... Aku harus ikut dan Jimin belum pulang, Tae. Lalu bagaimana dengan Minki?" Yoongi mengeluh. Berharap sahabat suami bocahnya itu bisa memberikan solusi.
"Sebentar..." Yoongi dapat mendengar gumaman tak jelas dari sambungan teleponnya. "Bagaimana kalau kita titipkan Minki pada Jungkook saja?"
"Jungkook?" Yoongi mengangkat satu alisnya heran.
"Iya, Jungkook pacarnya Jin-sunbae itu."
"Bukan...bukan itu maksudku. Memangnya dia datang juga? Biasanya Seokjin sendirian."
"Mereka datang kok. Percaya padaku." Taehyung meyakinkan.
Yonngi berpikir sebentar.
"Baiklah." Yoongi segera menutup sambungannya dengan Taehyung. Ia lalu segera menggendong Minki dan juga menyiapkan keperluan bayi yang akan dibawanya malam ini.
Yoongi benar-benar akan membawa Minki ke kafe tongkrongannya itu.
Tanpa sepengetahuan Jimin tentunya.
.
.
Hari sudah semakin larut ketika Jimin sampai di apartemennya. Ia terlihat begitu lelah sepertinya. Lihat saja raut wajahnya yang kusut, lengan kemeja yang dinaikkan, dan dasi yang berantakan karena dilonggarkan dengan asal-asalan. Belum lagi lengannya menenteng tas yang disampirkan dibahu dan sebuah kardus tak terlalu besar bertuliskan 'lego' disana dengan banyak aksen warna-warni. Oh, Jimin membelikan hadiah mainan baru untuk Minki rupanya.
"Aku pulang..." Jimin berseru pelan ketika ia melangkah masuk ke dalam apartemennya. Namun pandangannya mengerut begitu mendapati suasana gelap dari dalam ruangan.
"Aku pulang? Didi? Minki-ya?"
Jimin berseru kembali namun hanya keheningan lah yang menyapa. Jimin mulai berpandangan horor, ia berjalan menuju saklar ruang tengah tanpa melepas sepatunya.
"Kemana mereka?" Jimin mulai bernada cemas kala menyalakan lampu tetapi tak menemukan seseorang pun disana. Kekhawatirannya pun semakin memuncak dan membuatnya berdebar takut kala ia tak menemukan siapapun disana dan yang membuatnya semakin memanas antara cemas, khawatir, dan marah adalah Jimin menemukan ponsel Yoongi diatas meja ruang santai.
Jimin menggigit bibir bawahnya cemas. Ia melempar tasnya keatas sofa bersamaan dengan dus mainan yang sempat dibelinya tadi sepulang bekerja. Jimin segera beranjak cepat dari apartemennya untuk kembali ke parkiran. Ia harus mencari Yoongi sekarang juga.
Jimin membanting pintu mobilnya sendiri dan segera menjalankannya pergi, ia berniat untuk pergi ke rumah kakak iparnya lebih dulu. Siapa tahu Yoongi pergi kesana dan lupa membawa ponselnya. Selagi dalam perjalanan, Jimin juga menelepon Yoonjae untuk sekedar memastikan keberadaan orang yang paling dicintainya itu.
.
"Halo, Yoonjae-hyung?"
"Jimin? Tumben meneleponku?"
"Iya, Hyung. Maaf kalau aku mengganggumu. Apa Yoongi-hyung ada dirumahmu sekarang?" Tanya Jimin tanpa basa-basi. Ia masih berusaha fokus pada setirnya mengarungi jalanan Seoul.
"Yoongi? Kurasa ia tak mengabari apapun karena tiga hari ini aku sedang berada di Gangwon." Terdengar nada heran dari kakak iparnya. "Ada apa?"
"O—oh maaf, Hyung. Aku hanya ingin memberi kabar hehehe." Jimin tertawa dipaksakan. Tak ingin membuat nada khawatir yang akan dicurigai oleh kakak iparnya itu. "Kalau begitu selamat malam, Yoonjae-hyung."
Setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Yoonjae, dibuat semakin khawatirlah Jimin. Kemana lagi Yoongi pergi selain ke tempat kakaknya?
Ke Busan? Tidak mungkin. Yoongi mana mau pergi jauh-jauh tanpa ditemani.
Ke mall? Lebih tidak mungkin. Yoongi bukan tipe orang penyuka belanja gila-gilaan yang semakin malam semakin mendapatkan diskon besar.
Lalu kemana Yoongi pergi? Jimin hanya bisa gundah kalau begini. Ia lelah, ia ingin tidur, dan ia juga lapar. Tetapi keluarga kecilnya lebih penting dari semua hal itu saat ini jika Jimin dibuat khawatir seperti sekarang.
Jimin lalu menepikan mobilnya sebentar. Ia kembali membuka ponselnya untuk menghubungi beberapa teman Yoongi untuk menanyakannya. Tetapi anehnya, semua nomor yang Jimin ketahui tentang teman-teman Yoongi tidak ada yang tersambung satu orang pun. Semuanya tidak ada yang mengangkat panggilan Jimin.
Jimin menggigit bibir bawahnya cemas, lengannya memukul-mukul pelan kemudi. Kemana lagi ia harus mencari Yoongi kalau sudah seperti ini. Dan membayangkan istri serta bayi kecilnya berada diluar rumah semalam ini membuat Jimin mulai berpikir hal-hal buruk yang negatif. Bagaimana kalau mereka tersesat? Kedinginan? Lapar? Diculik?
Astaga, Jimin akan pingsan saja rasanya dengan pemikirannya sendiri.
Kemudian Jimin mengusap wajahnya dengan gusar, masih dengan menepikan mobilnya ia mulai mengutak-atik ponselnya kembali untuk menelepon Taehyung.
Ya, Kim Taehyung sahabat seperjuangannya yang bodoh lagi penyuka singa itu. Pemuda itu selalu menjadi satu-satunya 'tempat sampah' curhat kala Jimin sedang memiliki masalah. Begitupun sebaliknya, mereka selalu berbagi cerita selama perjalanan muda mereka di Seoul sebagai seorang sahabat.
Lama tak diangkat, Jimin mencoba mengulang panggilannya kembali. Entah kenapa ia melakukan itu. Ia hanya merasa Taehyung pasti tahu sesuatu mengingat pemuda itu penyuka anak kecil dan juga sangat dekat dengan Minki.
.
"KRSSKK~~"
Jimin menjauhkan ponselnya dari telinga begitu panggilannya tersambung dan ia mendengar suara berisik musik dari sana. Dengan agak meninggikan suaranya, Jimin kembali mendekatkan ponselnya ke telinga dan berseru disana.
"HALO? KIM TAEHYUNG?"
"HALOOO?" Sambungan teleponnya segera terjawab.
Jimin mengernyitkan dahi. Taehyung terdengar seperti sedang berteriak dan sepertinya tempat dimana Taehyung berada sedang menyalakan musik nyanyian...
.
.
...Sebentar.
Berisik. Musik. Nyanyian.
Astaga.
Kenapa Jimin tak kepikiran kafe tongkrongan Yoongi dan kawan-kawannya itu?!
.
"Taehyung! Katakan sedang dimana kau sekarang?"
"Aku? Tentu saja bersama kekasihku." Suara Taehyung masih terdengar bercampur dengan suara musik disana.
"Kekasihmu ada jadwal manggung malam ini?"
"Iya, Jim."
"Sama gengnya?"
"Iya, Jim."
"Anggota gengnya lengkap bertiga?"
"Iya, Jim."
"Apa anakku bersamamu?"
"Iya, Ji—HAH? Minki tadi tidak bersamaku kok!"
Bagus. Jimin tahu sekarang Yoongi sedang manggung.
Jimin mulai berdecak malas juga mendengar jawaban Taehyung. Iya tahu benar gelagat Taehyung dari pertanyaan terakhirnya itu berisi kebohongan.
"Terus sekarang anakku dengan siapa kalau ibunya saat ini sedang manggung bersama teman-temannya?" Tanya Jimin dengan yang hanya mendengar dari suaranya saja sudah membuat Taehyung gelagapan.
Jimin itu kalau sudah tersulut pasti akan benar-benar marah.
Taehyung jadi bingung harus menjawab apa. Salahnya juga menerima telepon ketika tengah menikmati penampilan kekasihnya saat ini bersama geng rappernya yang tentu saja ada Yoongi disana.
"Jim, dengar—"
"Aku akan kesana."
Jimin dengan cepat memutuskan sambungan teleponnya dengan Taehyung. Ia mulai menyalakan kembali mobilnya dan membawanya pergi ke tempat yang sudah sangat ia hapal. Beruntung jaraknya dekat dengan posisi Jimin saat ini.
Rasa khawatirnya kini bercampur dengan amarah. Yoongi berani membawa Minki pergi selarut ini hanya untuk manggung bersama teman-temannya. Dan yang membuat Jimin kecewa adalah kenapa Yoongi tak mengabarinya untuk meminta bantuan. Seharusnya Yoongi 'kan bisa menghubungi Jimin untuk menjaga Minki di rumah atau sekedar mengabarinya. Tetapi yang dilakukan Yoongi diam-diam membawa Minki pergi dan membuat Jimin khawatir benar-benar keterlaluan.
.
Di tempat duduknya, Taehyung menepuk dahinya dan mengeluh.
"Haduh! Sepertinya barusan aku keceplosan." Ucapnya cemas, memikirkan pasti sahabatnya itu sedang dalam perjalanan kemari untuk menyusul istrinya dan marah-marah. Taehyung lalu menatap panggung sudut kafe yang masih ramai oleh penampilan kekasihnya dan kawan-kawannya. Tetapi Taehyung menatap Yoongi dengan rasa bersalah. Ia harus mengabarinya dengan segera kalau Jimin akan menjemputnya sekarang.
Taehyung lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri panggung kecil itu untuk memanggil Yoongi. Membuat pemuda manis yang sedang mengobrol bersama rekan penyuka musiknya itu merengut menatap tingkah absurd Taehyung yang melambai-lambaikan tangan padanya seraya menghampiri.
"Didi Didi Di—"
"Hei hei hentikan panggilan itu disini, Taehyungie.". Yoongi mengibaskan sebelah tangannya.
Taehyung hanya menggeleng dan dengan wajah paniknya ia menitah Yoongi dengan menarik sebelah tangannya. Membuat pandangan orang-orang disana menatapnya penuh tanya.
"Duh Didi, Jimin akan kesini sekarang!"
Yoongi mengangkat satu alisnya mendengar pernyataan Taehyung, ia lalu membawa pandangannya untuk melihat jam dipergelangan tangannya. "Memangnya sekarang jam—mwo? Sudah setengah sebelas!"
"Didi maafkan aku! Tadi aku tak sengaja mengatakan pada Jimin kalau dirimu dan baby Minki ada disini ;_;" Taehyung berucap khawatir dengan wajah bersalahnya.
Yoongi menggigit bibir bawahnya cemas meski ditutupi dengan wajah datarnya dan ia berjalan mendahului Taehyung.
"Tidak, Tae. Ini bukan salahmu. Sekarang aku harus—"
CRING.
Yoongi mengangkat pandangannya pada pintu utama kafe yang terbuka dan kedua tatapnya langsung bertemu dengan manik tajam yang begitu dikasihinya.
Jimin benar-benar mendatanginya seperti apa yang Taehyung bilang.
Dan oh tidak, jangan wajah itu lagi. Yoongi sedang tak ingin bertengkar lagi sekarang.
"Jimin!" Itu suara Taehyung memanggil. Yang dipanggil segera menoleh kearah Taehyung, wajahnya terlihat sangat tidak ramah.
"Tae, dimana bayiku." Tanya Jimin pelan, wajahnya menegang dan ia terlihat begitu kesal sekarang apalagi melihat Yoongi yang kini dihadapannya.
"Baby Minki ada di lantai dua dan santai saja, Jim—"
Belum selesai Taehyung berbicara Jimin sudah melesat begitu saja melewati Taehyung dan Yoongi untuk menuju sudut ruangan dimana terdapat sebuah anak tangga disana. Tanpa melirik Yoongi sedikitpun.
Yoongi menghela napas dengan gusar. Jimin tak mau menyapanya dan sepertinya pemuda itu benar-benar marah padanya.
Taehyung menatap Jimin yang menjauh lalu bergantian dengan menatap Yoongi cemas. Biar bagaimanapun ia juga merasa bersalah disini karena telah memberikan ide untuk membawa Minki kemari.
"Didi, maafkan—"
"Sudahlah, Tae. Aku bisa urus sendiri dengan Jimin." Yoongi tersenyum kecil kearah Taehyung sebelum akhirnya mengikuti langkah Jimin pergi ke lantai dua untuk menyusul bayi mereka.
Taehyung jadi terharu sendiri melihat tingkah Yoongi. Betapa ia begitu mengagumi lelaki pucat itu yang kini telah terlihat begitu dewasa dalam menghadapi sikap Jimin yang begitu kekanakkan seperti saat ini.
.
Yoongi dengan susah payah mengejar langkah Jimin sampi akhirnya mereka berdua berhenti didepan sebuah pintu kayu, Yoongi menarik lengan Jimin untuk menarik perhatiannya.
"Jimin hei—"
Tetapi Jimin menepis lengan Yoongi hingga membuatnya tersentak dan Jimin beralih untuk membuka pintu dihadapannya.
Taehyung sampai terkejut menahan tubuh Yoongi dibelakangnya. Jimin yang sedang marah memang tak pernah main-main. Selalu saja terlihat panas.
CKLEK.
Tepat begitu pintunya terbuka, sontak dua orang lelaki yang terduduk disalah satu sudut disana langsung menatap kearah pintu dengan tatapan terkejut.
Benar saja ada Minki disana. Bersama Seokjin yang memangku tubuh mungil bayi yang sedang tertawa itu dan Jungkook yang duduk disamping Seokjin terlihat baru saja menghentikan tawanya begitu ada orang datang ke ruangan mereka.
Merasakan kedatangannya membuat Minki memekik lucu dan menjulurkan kedua tangannya kearah Jimin, mengisyaratkannya untuk meminta digendong.
Tetapi Jimin tidak sedang terlihat ramah. Setelah lelah mencari akhirnya ia menemukan Yoongi dan juga bayi mereka, tetapi melihat Yoongi melepaskan Minki dan membiarkannya bersama orang lain membuat Jimin tidak nyaman.
"Berikan Minki pada ibunya." Jimin berucap tanpa melangkahkan kakinya sedikitpun dari ambang pintu. Membuat Minki semakin merengek dari gendongan Seokjin untuk meminta berpindah pada Jimin. Tetapi Jimin mengabaikan rengekan bayinya.
Yoongi menghela napas dan segera menghampiri Seokjin yang menatapnya bingung dengan apa yang sedang terjadi. Yoongi beralih memindahkan Minki dari gendongan Seokjin.
"A—hinggh—"
Tetapi kelihatannya Minki mulai semakin merengek digendongan Yoongi dan tetap mengulurkan kedua lengan mungilnya kearah Jimin.
Jimin sedang tak mempedulikan itu sekarang, kini ia menatap Yoongi dan mengisyaratkan dengan dagunya untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Pulang sekarang." Lalu Jimin segera berbalik dan berjalan lebih dulu meninggalkan semua yang ada disana tanpa menyapa mereka sedikitpun.
Yoongi menghela napas kembali. Ia mulai menimang Minki yang mulai bergerak gusar dalam gendongannya karena melihat Jimin pergi. Bayi itu sudah mulai mengenal Jimin dan kebiasaan barunya adalah mengisyaratkan meminta Jimin untuk menggendongnya ketika pemuda itu pulang ke rumah. Tetapi kini Jimin sedang dalam amarah dan mengabaikan semuanya.
"Yeah, aku harus pulang sekarang." Yoongi berjalan kearah sofa untuk mengambil tasnya. "Terimakasih sudah menjaga Minki untukku malam ini, Jin-hyung, Jungkook, dan kau Taehyungie."
Seokjin menghampiri Yoongi sebentar. "Apa Jimin marah lagi padamu?"
"Ukh, Yoongi-hyung maafkan aku, pasti gara-gara aku Jimin jadi marah..." Taehyung memasang wajah menyesalnya kearah Yoongi.
Yoongi tersenyum kecil mendengarnya. Ia menaikkan gendongan Minki dan mengusap sayang tubuhnya karena rengekannya semakin kencang. "Tidak apa-apa, Jimin memang selalu seperti itu jika ia sedang merasa lelah."
"Uuu dedek Minkinya mulai nangis nih, sedih sekali sepertinya sampai netesin airmata." Jungkook ternyata berada didekat Yoongi dan mengusap pipi tembam bayi manis itu.
"Kalau begitu aku duluan." Yoongi segera berlalu dari ruangan lounge diatas kafe itu. Taehyung ikut mengekori Yoongi untuk mencoba menghibur Minki yang semakin menangis.
.
"Minkinya sudah dijemput nih, Hyung. Kita ngapain lagi dong sekarang." Jungkook memangku wajah dengan sebelah tangannya.
Seokjin hanya mengusak sayang kepala Jungkook. "Sudah malam juga, pulang yuk."
.
.
"Jimin." Yoongi duduk disamping kemudi dan kewalahan memegangi Minki yang terus merengek dan memberontak dengan Jimin yang bersiap untuk menyalan mesin mobilnya. "Aku tahu kau marah, Jim. Tetapi bisakah kau menggendong Minki sebentar saja? Ia merindukanmu."
Jimin yang sedari tadi hanya bungkam jadi tersentak mendengar perkataan Yoongi. Ia kemudian menatap bayi mungilnya yang belum genap berusia satu tahun dalam dekapan Yoongi. Wajahnya memerah dan kedua mata beningnya berkaca-kaca, pipi tembamnya terhiasi airmata lalu kedua sudut bibirnya yang turun kebawah. Sebelah tangan jari-jari mungilnya terulur ke arah Jimin seolah ingin menggapainya.
Menatap wajah buah hati kesayangannya yang begitu polos membuat Jimin tak sampai menahan amarahnya lagi. Rasanya sudut hatinya meleleh begitu saja dan memberikan rasa nyaman seolah semua penat dan lelah dalam diri Jimin terangkat begitu saja.
Jimin mulai menarik kedua sudut bibirnya untuk mengulas senyum. Sebelah lengannya meraih lengan mungil Minki dan menggenggamnya hangat.
"Minki sayang~~ sini Dada gendong, hm?"
Yoongi ikut tersenyum kemudian. Melihat bagaimana perubahan wajah Jimin pada Minki membuat hatinya ikut menghangat. Menandakan betapa kehadirannya begitu mengharmonisasikan kehidupan antara Jimin dan Yoongi.
Yoongi dengan senang hati memberikan Minki ke pangkuan Jimin yang segera didekap hangat oleh pemuda itu dengan hati-hati seakan takut tubuh mungil bayinya akan terbentur dengan kemudi karena mereka masih berada didalam mobil.
Minki yang semula merengek segera memekik senang Jimin akhirnya menggendongnya, apalagi ketika Jimin dengan gemas menciumi wajahnya dan menggelitiknya dengan menggesekkan hidungnya di pipi tembam bayi itu. Membuat Minki tertawa ala bayinya yang sungguh menggemaskan.
"Ujujuju~ anak Dada lucu banget sih? Gigit ah gigit."
Jimin malah keterusan bercanda dan mulai memainkan bibirnya di pipi Minki untuk menggigitnya. Minki jadi semakin ceria digendongan Jimin. Kepalan tangan kecilnya memukul-mukul wajah Jimin dengan gemas.
Yoongi terus tersenyum menatap keduanya. Minki itu kalau sudah bertemu Jimin pasti akan selalu ceria dan terus tertawa bersamanya.
"Jimin... sudahlah. Ayo kita pulang. Minki juga sudah harus tidur." Yoongi mengulurkan kedua tangannya untuk meraih Minki agar kembali ke gendongannya.
Minki mulai memekik kembali saat Yoongi menyentuhnya. Ia mulai menendang-nendang saat Yoongi menjauhkannya dari Jimin.
"Uh oh! Baby Minki harus tidur. Jangan main terus!" Jimin mengisyaratkan dengan shush pelan kearahnya.
Minki sudah akan menangis lagi kalau saja Yoongi tidak menyumpalnya dengan dot susu hangat yang sudah Yoongi keluarkan dari tasnya.
Jimin terkekeh menatap bayinya. Ia segera bersiap menyalakan mobilnya untuk membawa mereka pulang.
.
Tetapi disepanjang perjalanan, suasana menjadi hening sampai mereka sampai di apartemen. Hanya terdengar suara dengkuran lembut Minki yang memang sudah tertidur lelap dalam dekapan Yoongi.
.
.
Jimin telah lebih dulu pergi ke ranjang ketika mereka sampai.
Yoongi membawa Minki ke keranjang tidurnya dan menggantikannya pakaian lalu memberinya selimut. Yoongi juga membereskan bawaannya dan membersihkan diri untuk berganti pakaian dengan piyamanya.
Yoongi menatap jam dinding kamarnya dan menghela napas kemudian, sudah lebih dari tengah malam rupanya. Yoongi jadi merasa bersalah karena sejak mereka pulang Jimin belum berbicara sepatah katapun. Pasti suami bocahnya itu masih marah padanya.
Yoongi perlahan menghampiri ranjangnya, menatap sejenak punggung tegap Jimin yang membelakanginya diatas tempat tidur.
Dengan gerakan pelan Yoongi menaikkan dirinya keatas ranjang, menghampiri Jimin untuk ikut berbaring dibelakangnya dan Yoongi menelusupkan lengannya melewati perut Jimin dan memeluknya erat dari belakang.
Tak ada gerakan apapun, Yoongi berpikir Jimin pasti sungguh lelah hari ini sampai tertidur pulas.
Yoongi berusaha memejamkan kedua matanya, lengannya tetap melingkar di perut Jimin dari belakang dan Yoongi menempelkan dahinya dibelakang kepala Jimin. Disana Yoongi berbisik penuh penyesalan.
"Jimin-ah... mianhae." Bisik Yoongi lembut. Mengeratkan pelukannya pada tubuh Jimin sampai membuat tubuhnya menempel di punggung Jimin.
"Mianhae." Bisiknya lagi dengan lirih.
Seiring dengan detik jam yang berdentang dalam hening malam, Yoongi akhirnya terlelap juga.
Jimin membuka kedua matanya dengan perlahan merasakan deruan napas teratur dibelakang lehernya. Sedari tadi ia hanya berpura-pura tidur dan mendengar semua apa yang Yoongi lakukan sedari tadi.
Jimin menurunkan sebelah tangannya untuk menemukan lengan Yoongi yang masih memeluknya. Jimin mengelus punggung tangan itu dengan hangat dan menggenggamnya lembut.
Sebenarnya ia tak sampai hati untuk mengabaikan Yoongi sedari tadi.
Jimin lalu dengan perlahan membalikkan tubuhnya sampai ia berhadapan dengan wajah Yoongi yang terlelap. Jimin menatap lembut wajah orang terkasihnya itu. Ia juga mengusap dahi Yoongi untuk menyingkirkan poni yang hampir menutupi kelopak mata kecilnya. Jimin tersenyum lembut dan mencium kening Yoongi dengan begitu pelan seolah takut akan membangunkannya. Lalu Jimin berbalik memeluk tubuh Yoongi, menelusupkan lengannya pada pinggang ramping Yoongi dan membawanya semakin mendekat pada tubuhnya dan membiarkan kepala Yoongi bersandar di perpotongan lehernya.
"Nado mianhae."
Jimin kembali memejamkan kedua matanya. Kali ini benar-benar menyusul Yoongi kealam mimpi mereka berdua dengan saling berbagi kehangatan yang jauh lebih hangat dari sebuah selimut. Yaitu dengan pelukan sayang yang selalu mereka bagi di setiap malam.
.
.
.
.
III.
.
.
Akhir-akhir ini Jimin sedang sensian. Begitu Yoongi menyebutnya ketika mendapati Jimin mendiamkannya. Yoongi jadi berpikir apa mungkin karena kejadian malam itu Yoongi pergi diam-diam dengan Minki membuat Jimin sesinsitif seperti sekarang ini?
Mungkin ya, mungkin tidak.
Yang pasti Yoongi itu memang orang yang cuek, tetapi ia tidak suka dicuekin.
Hm.
.
Malam itu Jimin sedang duduk santai diatas sofa dengan mengunyah biskuit coklat milik Yoongi. Ia baru saja menidurkan Minki sampai bayi mungilnya itu terlelap di keranjang tidurnya.
Ya, Jimin benar-benar serius menonton televisi bersama camilannya sampai tiba-tiba ia menangkap tingkah aneh Yoongi.
Disebut aneh oleh Jimin karena ia baru kali ini melihat Yoongi memakai setelan piyama super tipisnya. Entah ia mendapatkannya darimana tetapi itu hal yang benar-benar menarik perhatian Jimin. Serius.
Dan Yoongi berjalan dari arah dapur dengan membawa mug berisi susu favoritnya kearah Jimin. Wajahnya terlihat ragu namun langkahnya dengan perlahan mendekati Jimin dan ia mengambil tempat kosong diatas sofa yang kini Jimin tempati. Tak hanya itu, Yoongi juga duduk merapat pada Jimin sampai kedua bahu mereka bersentuhan.
Masih dengan wajah yang kikuk ia duduk disebelah Jimin, Yoongi menyesap susunya.
Jimin yang menatap tingkah itu tersenyum gemas kemudian. Yoongi berniat menarik perhatiannya, eh?
Atau sedang ingin menggodanya?
Dengan iseng kemudian Jimin menyenggol sikut Yoongi yang masih menyesap susunya. Membuat pegangannya pada cuping mug bergoyang dan susu yang diminumnya tumpah di bibir Yoongi sampai ke bajunya. Membuat piyama tipis sewarna gading itu basah oleh susu di bagian dada Yoongi.
"Yah!"
Akhirnya Yoongi bersuara.
Jimin terkekeh kecil menatapnya. Yoongi sudah menatap kesal padanya sekarang. Lengannya kini sibuk memegangi baju basahnya dan dengan berdecak kesal ia beranjak dari atas sofa kembali menuju dapur dengan langkah menghentak kesal.
Jimin jadi terkekeh semakin senang melihatnya. Ia meninggalkan tontonan televisinya dan juga beranjak untuk menyusul Yoongi ke dapur sebelum istrinya itu benar-benar marah karena ia menyenggol susunya.
Sesampainya di dapur Jimin malah disuguhi pemandangan paling menggoda yang pernah Yoongi berikan padanya.
Yoongi sedang menelanjangi dirinya di sudut dapur dan menatap Jimin begitu menggoda dengan pandangan sayunya ketika Jimin datang menatapnya. Yoongi menggigit bibir bawahnya dan merona malu ketika ia mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu ke lantai.
Jimin hanya diam terpaku di sisi lain dapur. Menatap dengan intens dan membiarkan Yoongi menyelesaikan kegiatannya. Melepas bajunya sendiri dengan begitu seduktif seolah menunggu Jimin untuk menderita karena ia begitu sensual kelihatannya untuk menyicipi kulit sepucat salju itu.
Lihat betapa istrinya yang menggemaskan itu kini sudah bisa menggoda Jimin dengan nakal.
Yoongi melepas sisa kain terakhir ditubuhnya dengan membelakangi Jimin. Membiarkan pemuda itu menatap punggung dan bokong kecilnya semakin lapar.
Bibir Jimin sudah kering sedari tadi. Dan melihat Yoongi sudah bertelanjang bulat dihadapannya membuat Jimin sudah tak tahan untuk menghampirinya dan menerjangnya.
Dengan langkah yang tidak bisa dibilang santai, Jimin menghampiri Yoongi di sudut dapur. Memeluk tubuh telanjangnya dari belakang dan dengan segera Jimin membisikinya.
"Aku tahu kau mencoba menggodaku sedari tadi. Sedang ingin bercinta, hm?"
Yoongi menunduk dalam. Memegangi erat lengan Jimin yang mulai melingkari perutnya. Ia jadi merasa malu sendiri tingkahnya dapat dengan mudah Jimin baca. Suaminya itu memang selalu mesum, tetapi Yoongi membutuhkannya saat ini untuk memuaskan hasratnya.
"Kalau sedang ingin katakan saja... aku pasti akan memanjakanmu."
Jimin berbisik lembut menggelitik leher belakang Yoongi.
Yoongi menggigit pelan bibirnya merasakan tubuhnya mulai meremang. Belum lagi lengan Jimin yang sudah berjelajah diatas kulit telanjang Yoongi.
Jimin menyeringai puas. Ia akan melakukan tugasnya sebagai seorang suami untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Jimin lalu membalik tubuh Yoongi untuk menghadapnya. Menatap dalam manik sayunya sebelum akhirnya Jimin mempertemukan kedua belah bibir mereka dalam sebuah ciuman.
Yoongi segera memejamkan kedua matanya dan lenganya melingkari leher Jimin. Membiarkan pemuda kesayangannya itu untuk merengkuhnya erat dan menciumnya semakin dalam. Membelah bibir tipis kemerahannya dan mencari beribu kenikmatan lain dari dalam mulut Yoongi yang selalu terasa manis bagi Jimin.
"Emmh...cuph..."
Lama kelamaan Jimin semakin liar mencium Yoongi. Meraup bibir tipisnya dan menggigitinya dengan gemas seolah bibir kenyal itu adalah permen gummy bear. Membuat Yoongi melenguh karena ciumannya dan membuat bibirnya merekah sempurna dengan basah.
Merasa Jimin terlalu bersemangat menciumnya, Yoongi memukul pelan belakang kepala Jimin untuk menghentikannya. Jimin segera terkekeh dalam ciumannya menyadari itu.
Tak ayal untuk melepaskan ciumannya, Jimin malah menjauhkan bibirnya dari bibir Yoongi untuk menelusuri garis rahangnya. Mengecupnya dengan begitu menggoda sampai Jimin berhenti diperpotongan leher Yoongi yang begitu pucat dan bersih. Membuat Jimin jadi sangat ingin mewarnainya.
"Hmmh..."
Jimin menjilati leher Yoongi dengan basah sebelum ia menanamkan hisapannya pada salah satu titik sensitif Yoongi di lehernya yang sudah sangat dihapal oleh Jimin. Menghisap dan menggigitnya kencang dan gemas sampai membuat Yoongi melenguh antara geli dan juga keenakan. Meninggalkan bekas memerah yang begitu kontras dengan warna kulit pucat Yoongi sebagai tanda kepemilikannya yang tak bisa diganggu gugat.
Tak puas hanya dilehernya saja, Jimin juga menanamkan ciuman lain yang membekas di bahu putih Yoongi sampai ke dadanya. Belum lagi lengan nakal Jimin yang bermain-main dengan kesejatian Yoongi dengan mengurutnya sampai menegang dan sesekali Jimin menekan jarinya dibawah selangkangan Yoongi dengan iseng. Membuat Yoongi menggelinjang disana karena sejak awal ia memang sudah terangsang dan menginginkan sebuah aktifitas sex.
"Jimin... cepatlah." Yoongi menarik-narik pelan rambut Jimin untuk segera melepaskan ciuman di dadanya dan segera bermain ke intinya.
"Wow santai, sayang~" Jimin menegakkan tubuhnya dan melepas kecupannya di dada Yoongi yang sudah terdapat bercak kemerahan disana. "Didi tidak ingin melepas bajuku lebih dulu begitu?"
Blush.
Yoongi menyadari Jimin masih berpakaian lengkap santainya dan dirinya sendiri sudah bertelanjang bulat.
"Ya—yak! Jimin bodoh!"
Jimin hanya tertawa kemudian. Ia segera mengecup singkat bibir merekah Yoongi karena ulahnya itu dan kemudian melepas kaus putih yang dipakainya sampai ia bertelanjang dada.
Yoongi kembali merona menatapnya. Tubuh atletis Jimin memang membuatnya selalu berdegup kencang entah meski berkali-kali pun Yoongi menatapnya atau menyentuhnya.
Jimin menarik pinggang Yoongi untuk merangkulnya kembali dan menatapnya penuh cinta.
"Kita lakukan diatas meja yuk?" Ajak Jimin.
"Mwo mwo?" Yoongi sudah mau protes lagi kalau saja Jimin tak menggendongnya sekarang.
Jimin benar-benar mengangkatnya dari lantai dan membawa Yoongi keatas meja yang tak terlalu luas itu untuk mendudukkannya. Meja makan dengan empat kursi yang simpel dan tak terlalu besar.
Yoongi dibiarkan duduk diatasnya dengan kedua kaki menjuntai di udara karena ia duduk di tepiannya.
Jimin menatapnya dengan tersenyum. Mengusap rambut Yoongi ke belakang telinganya dan diam-diam ia melebarkan kedua paha Yoongi yang terduduk disana.
Yoongi hanya bisa balas menatap sayu Jimin. Kedua pipinya merona dan bibir merekah akibat ciuman dari Jimin itu sedikit terbuka. Sikap alaminya yang begitu menggemaskan.
"Jimin..."
Jimin membawa sebelah lengannya untuk mengusap pipi Yoongi turun ke lehernya sampai ke dada Yoongi. Terus turun sampai lengan Jimin sampai pinggang Yoongi, mengelusnya pelan dan jemari itu semakin turun menjalar sampai ke paha Yoongi dan Jimin mengusap hangat paha dalam pucat itu.
Yoongi hanya bisa melenguh pelan merasakannya. Ia merekam jelas dalam memorinya bagaimana Jimin begitu lembut menyentuhnya jika dalam momen berdua yang mulai memanas seperti ini.
Jimin kemudian mendekati bibirnya di belakang telinga Yoongi. Mengendusi titik sensitifnya dan membisikinya dengan seduktif disana.
"Aku akan menuruti semua perkataanmu, Princess. Akan aku lakukan dengan cepat." Bisiknya begitu rendah sampai membuat Yoongi meremang karenanya.
Selanjutnya Jimin mendorong pelan kedua bahu Yoongi untuk menuntunnya berbaring diatas meja. Yoongi agak tersentak merasakannya permukaan keras yang dingin di punggungnya membuat Yoongi menegang. Lalu Jimin juga menuntun sebelah kaki Yoongi untuk ia letakkan di bahunya. Membiarkan sebelah kakinya menggantung di tepian meja.
Sekali lagi Jimin harus membasahi bibirnya yang terasa kering menatap Yoongi saat ini. Tubuh telanjang diatas meja dan selangkangan yang terbuka lebar karena Jimin menahan satu kaki Yoongi di bahunya benar-benar sebuah pose yang begitu menyentak birahi Jimin saat ini.
"Berhenti menatapku seperti itu, bodoh!"
Yoongi menyadarkan Jimin dari lamunannya. Aura tsun-tsunnya sedang kuat sekali hari ini.
"Yes, baby. Ayo katakan 'AHH'?"
Tak disangka Jimin sudah memposisikan lengannya didepan manhole Yoongi. Bersiap dengan jemari yang juga sudah dilumuri oleh precum Yoongi sebelumnya itu memasukkan jari tengahnya. Membuat Yoongi mendesah saat itu juga.
"Anggh..."
"Kubilang katakan 'AHH'?"
Jimin memasukkan dua jemarinya sekaligus dan membuat Yoongi menjerit.
"AHH!"
"Tepat sekali sayang." Jimin menyeringai puas. Ia lalu mulai menggerakkan tiga jari chubbynya didalam Yoongi dengan cepat.
"AHH... Jimin—AHH."
Yoongi terlihat memejamkan kedua matanya dan mencengkeram tepian meja.
"Ya, terus mendesah seperti itu, sayang."
Jimin semakin semangat menggoda Yoongi dengan jemarinya. Terus memaju-mundurkan jemarinya atau sekedar menekuk jemarinya didalam sana yang membuat Yoongi semakin mendesah keras.
Entah Yoongi yang memang sedang bernafsu, tiba-tiba saja perutnya begitu tegang dan ia merasa orgasme pertamanya akan datang hanya dari servis jari Jimin.
"Ukh...Jimin, aku dat—"
Cairan cinta Yoongi telah lebih dulu datang daripada Yoongi menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Yoongi semakin memajukan pinggulnya kearah Jimin.
"Oh shit, kau terlalu cepat keluar, Didi."
Dengan terburu-buru Jimin mengeluarkan jemarinya dari manhole Yoongi dan ia dengan cepat menurunkan celana training hitam yang masih melekat padanya untuk segera mengurut kejantanannya sendiri dengan cairan cinta milik Yoongi.
Yoongi sendiri mencoba mengatur napasnya saat ini. Peluhnya menyelimuti tubuhnya dan rasa lengket tidak nyaman terasa di punggungnya karena ia berbaring diatas meja kayu.
Yoongi lalu mencoba mengangkat tubuhnya dan menahannya dengan kedua sikunya. Menatap apa yang sedang dilakukan Jimin.
Tetapi hal itu malah membuat wajahnya semakin memerah. Ia melihat Jimin sedang mengocok kejantanannya sendiri untuk bersiap memasuki Yoongi.
"Nah Didi, akan kulakukan dengan cepat."
Jimin mengeratkan sebelah kaki Yoongi yang masih bertengger di bahunya selagi ia mencoba untuk memasuki lubang hangat kesukaannya.
Yoongi bisa melihat jelas bagaimana Jimin menatap penuh nafsu bagian bawah tubuhnya ketika ia memasuki manhole Yoongi.
Yoongi tak kuasa menahan tubuhnya lebih lama dengan sikutnya. Ia kembali ambruk diatas meja hanya untuk mendesah kembali merasakan benda tumpul yang panas mulai semakin jauh memasuki tubuhnya. Memberikan rasa sakit sekaligus menginginkannya lebih jauh.
"AARGH! JIMIN!"
Yoongi selalu menjerit kapanpun Jimin memasukkan miliknya. Dan itu membuat Jimin agak bersalah sebenarnya. Tetapi demi membawa kenikmatan lebih jauh untuk mereka berdua, Jimin memang harus melakukannya.
"Urgh, sempit... Kau memang yang terbaik, Yoongi-ah." Jimin menggeram dan memejamkan kedua matanya merasakan miliknya yang tegang dicengkeram sempurna oleh dinding hangat yang berkedut nikmat itu.
"Ahh...ahn..." Yoongi mendesis pelan. Milik Jimin telah tertanam seutuhnya didalam dirinya. Dan itu membuat Yoongi terasa begitu penuh.
Jimin tersenyum lembut. Ia menjauhkan tubuhnya untuk bersiap menghantam kenikmatan mereka berdua. "Akan kumulai, Didi. Bersiaplah."
"AHH!"
Yoongi mencengkeram erat tepian meja begitu Jimin mendorong kejantanannya dengan kuat didalam Yoongi. Menjauhkannya kembali dan kembali menghantamnya.
"AHH...AHH!"
Terus seperti itu dalam tempo yang melambat dan dipercepat. Jimin yang berdiri menggenjot Yoongi sampai membuat tubuh yang terbaring diatas meja itu hanya bisa terkulai pasrah dan terdorong naik-turun disetiap hentakan yang Jimin berikan.
"Jimhh...Ji—jiminnh..."
Yoongi semakin mendesah kuat kala Jimin berhasil menyentuh titik terdalamnya.
Jimin mencengkeram erat paha Yoongi dimana sebelah kakinya masih bertengger dibahu Jimin. Pemuda itu juga memaju-mundurkan pinggulnya dengan luwes memasuki manhole Yoongi dengan semangat. Desahannya pun saling bersahutan dengan Yoongi dan bunyi gesekan antara kulit yang ditimbulkannya.
"Hmm... aku akan keluar lagi..." Yoongi membusungkan dadanya di sela-sela tubuhnya yang masih terhentak karena Jimin.
"Se—sedikit lagi, Didi—" Jimin mengusahakan dirinya untuk tetap menggenjot Yoongi kala pergerakannya mulai terhambat karena Yoongi mengeratkan manholenya dan membuat Jimin kewalahan untuk bergerak.
Yoongi menggelengkan kepala, wajah dan sebagian rambutnya telah basah karena keringat. "Sekarang! Nghh...!"
Yoongi menyemburkan cairan cinta putihnya tepat di perut Jimin. Ia sampai menahan napas untuk merasakan kenikmatan yang menghujamnya saat ini.
Tak lama, Jimin segera menyelesaikan orgasmenya didalam Yoongi. Menusuknya semakin dalam dan menembakkan cairan cintanya jauh didalam Yoongi.
"Ahh..."
Keduanya mendesah nikmat secara bersamaan. Yoongi memejamkan kedua matanya dengan erat merasakan Jimin memenuhi dirinya dengan begitu hangat. Rasanya begitu menenangkan dan nyaman. Nikmat sekali.
Merasa ia telah menyelesaikan seluruh orgasmenya didalam Yoongi, Jimin menjauhkan miliknya keluar dari manhole Yoongi. Membuat si manis yang terbaring lemas itu mendesis pelan karena merasa kehilangan.
Jimin mengatur napasnya lalu terkekeh kearah Yoongi. "Mau lagi?" Tawarnya kemudian.
"Aku mau tidur!" Yoongi menjawab dengan cepat. Menatap Jimin tajam dengan kedua mata sayunya.
Jimin terkekeh pelan kemudian membantu Yoongi untuk bangkit dari posisinya dan duduk di tepian meja.
"Aku 'kan hanya bercanda, Didi~" Jimin berseru senang selagi ia membenarkan letak celana trainingnya kembali.
"Ukh."
"Yasudah, ayo naik. Saatnya Didi mingi tidur."
Jimin memposisikan punggungnya dihadapan Yoongi. Menyuruhnya untuk naik ke punggungnya.
Yoongi menatap sebentar punggung telanjang yang terlihat tegas itu sebelum akhirnya menuruti Jimin dan Yoongi segera memeluk punggung Jimin untuk berada di piggybacknya.
Jimin membawa Yoongi ke kamar. Ia melangkahkan kakinya kearah keranjang tidur Minki lebih dulu.
"Didi lihatlah, baby Minki sudah pintar untuk tak menangis lagi jika Dada dan Didinya sedang beraktifitas malam, hihi~" Jimin berucap berbisik dan terkekeh menatap bayi mungil yang tertidur pulas ditempatnya.
Yoongi segera memukul pelan bahu Jimin mendengar perkataannya. "Shut up."
Jimin lalu membawa Yoongi ke ranjang mereka yang segera Yoongi bergelung nyaman diatasnya. Jimin lalu menarik selimut biru untuk menyelimuti tubuh mereka dua.
"Selamat malam, Didi. Saranghae..."
Yoongi hanya tersenyum kecil mendengarnya. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Jimin dan segera pergi ke alam tidurnya yang nyenyak.
"Nado... saranghae."
.
Tetapi Jimin tak benar-benar ikut tertidur. Ia menunggu sampai Yoongi benar-benar tertidur.
Jimin lalu bangkit dari ranjangnya. Mengecup dahi Yoongi sebentar lalu ia turun dari ranjang dengan pelan tanpa niat untuk mengganggu tidur Yoongi. Jimin lalu menyelinap keluar kamar untuk memakai pakaian atasnya kembali dan pergi ke dapur.
Jimin menyeduh susu milik Yoongi di dapur dan membawanya ke balkon kecil di sudut ruangan.
Entahlah, Jimin sedang tidak mengantuk sekarang. Dan ia pergi ke balkon sekedar untuk merasakan angin malam.
"Hmm." Jimin menyesap pelan susu panasnya. Udara malam di musim panas memang yang terbaik. Begitu cerah dan bertabur banyak bintang. Suasana gemerlap kota Seoul juga membuatnya tampak lebih berkilau dan menenangkan.
"Indah ya."
Jimin tersentak kaget mendengar suara yang begitu dikenalnya. Ia berbalik hanya untuk menemukan Yoongi yang bersandar di pintu balkon dengan wajah mengantuknya dan membuatnya terlihat semakin sayu. Dan lihatlah penampilan lucunya, ia hanya melilit tubuhnya dengan selimut biru langit yang sebelumnya ia pakai saat tertidur tadi.
Jimin tersenyum gemas. Ia meletakkan gelas susunya di meja pendek di sudut balkon lalu menghampiri Yoongi untuk memeluknya. Sungguh, Yoongi terlihat lucu sekali dimata Jimin saat ini karena penampilannya yang hanya berbalut selimut. "Didi ngapain kemari?"
"Kau yang sedang ngapain disini." Yoongi hanya membiarkan Jimin memeluknya dengan gemas. "Kenapa tidak tidur?"
"Didi juga, kenapa tidak tidur dan malah menyusulku disini?" Jimin balik bertanya.
"Jangan membalik perkataanku!" Yoongi mengerucutkan bibirnya.
Jimin hanya menggesekkan hidungnya di bahu Yoongi yang terekspos itu dengan gemas.
.
Lama mereka terdiam berdiri disana, membuat Yoongi yang masih mengantuk itu semakin mengantuk karena Jimin mengusapi tubuhnya dari balik selimut yang dililitnya.
"Kau tidak mengantuk?" Tanya Yoongi.
Jimin bergumam pelan. "Em~ belum."
Hening kembali.
Hanya angin semilir yang menyapa mereka dan kehangatan dari Jimin yang memeluk Yoongi.
Tetapi seiring berjalannya waktu, kehangatan itu mulai berubah semakin memanas kala Jimin mulai menelusupkan tangannya dibalik selimut yang melilit Yoongi. Mengusap-usap dada Yoongi disana.
"Hmm Jimin..."
Mendengar lenguhan pertama Yoongi membuat pemuda itu membawa Yoongi berbaring diatas lantai balkon dan menarik lepas selimut yang melilit tubuh Yoongi untuk dijadikannya sebagai alas.
Yoongi cukup terkejut akan tingkah Jimin. Tetapi tubuh telanjangnya segera dinaungi oleh Jimin yang berada diatasnya. Menatapnya penuh sayang dengan tatapan tegasnya yang begitu Yoongi sukai.
"Bagaimana kalau kita lakukan satu ronde lagi untuk membuatku mengantuk?" Pinta Jimin. Sebelah lengannya mengusapi pipi merona Yoongi dengan lembut.
"Ta—tapi Jimin... ini masih di balkon..." Yoongi berucap ragu.
Jimin segera tersenyum menenangkan. "Tenang saja, tak ada yang mengetahui kita disini dan..." Jimin mulai mengecupi seluruh wajah Yoongi untuk menenangkannya.
"...apa salahnya kita mencoba outdoor sex, hm?"
Yoongi semakin merona pekat. Jimin mencoba membangkitkan gairahnya kembali dan itu berhasil.
.
Selanjutnya Yoongi hanya bisa membiarkan Jimin melakukannya. Memberikannya kenikmatan dan debaran lain yang menakjubkan ketika mereka melakukannya di ruang terbuka seperti balkon ini. Hanya disaksikan oleh temaram malam yang bertabur bintang dan kawanan ikan mas koki yang di pelihara Yoongi dalam kolam karet kecilnya.
Lagipula, apa salahnya Yoongi mencoba membantu suaminya untuk mengantuk malam ini?
Ah, rasanya baru kali ini Yoongi melihat bintang-bintang di langit malam begitu indah begitu saat menatapnya ketika Jimin kembali memenuhi dirinya.
.
.
.
IV.
.
.
Hari sabtu ini Jimin berencana untuk tidur seharian di ranjang apartemennya bersama Yoongi. Sungguh, ia hanya butuh tidur saja untuk hari ini dengan damai.
Tetapi semua itu hanya menjadi angan Jimin ketika apartemennya kedatangan tamu langgangan dari sahabat sejatinya itu.
Siapa lagi sih kalau bukan Kim Taehyung. Pemuda satu itu memang selalu merusuh di kehidupan rumah tangga Jimin hanya untuk bermain dengan Minki. Astaga, Jimin benar-benar harus berhati-hati pada sahabatnya ini yang selalu memiliki fetish terhadap anak kecil. Dikira usianya masih balita?
Tak hanya Taehyung—yang tentu saja selalu mengikutsertakan kekasihnya untuk ikut mampir ke apartemen mereka—kali ini juga ada Jungkook si bocah menyebalkan mulai sering ikut main. Awalnya Jimin tidak mengijinkan, tetapi Yoongi bilang kalau Minki 'anteng' ketika bersama Jungkook mau tak mau Jimin juga mengiyakannya.
Astaga, mau jadi apa bayinya kalau teman bermainnya anak-anak berusia diatas tujuhbelas tahun semua?
Atau lebih tepatnya, mau jadi apa mereka bermain dengan anak berusia hampir sembilan bulan seperti Minki yang bahkan berbicara pun belum bisa?
Sungguh luar biasa memang orang-orang disekeliling Jimin.
Dan hari ini. Pagi yang indah di hari sabtu dengan Jimin mendapatkan libur dua hari penuh, sudah ada tamu yang akan mengacak ruang tamunya.
Hm.
.
"Adik bayi Minkiii~"
Jungkook berlari-lari masuk kedalam setelah dipersilakan masuk oleh Yoongi. Ikut nimbrung bersama Taehyung dan Minki yang sedang duduk diatas karpet. Disana juga ada Hoseok yang duduk santai diatas sofa dengan memainkan ponselnya. Sedangkan Yoongi berjalan beriringan bersama Seokjin untuk menghampiri mereka.
Lalu Jimin...
Masih terbuai mimpi di ranjangnya. Begitu damai dan menenangkan sampai sinar mentari yang menyelinap masuk pun membuatnya semakin merasa nyaman karena kehangatannya.
Tetapi kenyamanan itu tak bertahan begitu lama sampai tiba-tiba suara-suara berisik terdengar ditelinganya.
"Minki Minki! Coba katakan Didi? Katakan Didi?"
"A—hingg~"
"Ikan mas koki masih hidup! Dia gizi buruk karena tubuhnya tak membesar tetapi perutnya menggendut!"
"Hei—hei letakkan legonya disana."
"Botol susu Minki mana? Tadi disini?!"
"Yak! Remotnya jangan dipakai untuk ganjelan!"
Dan semacam itulah keramaian yang terjadi di apartemen keluarga mini Jimin kalau dikunjungi teman-teman liarnya.
Jimin jadi terganggu juga 'kan lama-lama dari tidur indahnya.
.
Tak lama kemudian Yoongi melongokkan diri di pintu kamar. Menatap Jimin yang tak kunjung beranjak dari selimut merahnya. Masih bertelanjang dada dan—
—sebentar.
Yoongi pikir tadi ia melihat Jimin masih berpiyama lengkap dan kini pakaian atasnya telah tanggal. Ah, tetapi Yoongi sudah biasa karena biasanya juga Jimin memang seperti itu kalau berencana tidur sampai siang.
"...Didi?"
Yoongi memasang wajah mengerut lucunya. Ia mendengar Jimin memanggilnya berarti Jimin sudah terbangun.
"Didi sini..."
Yoongi memutar mata malas mendengar panggilan memelas Jimin.
"Manja." Yoongi bergumam namun ia menghampiri ranjang mereka dan duduk ditepiannya.
"Bangun sana, sarapan." Yoongi berucap datar seperti biasa. Masih saja terlihat dingin dan cuek namun perhatian.
"Emm~" Jimin malah mengolet seperti anak kucing. Ia lalu menyeret tubuhnya di ranjang kearah Yoongi untuk menyandarkan kepalanya diatas pangkuan Yoongi. Jimin juga meraih sebelah tangan Yoongi untuk ditempelkan dipipinya sendiri.
"Didi, kenapa berisik sekali sih? Aku 'kan masih ingin tidur :(" Jimin mengeluh.
Lengan Yoongi yang berada di pipi Jimin jadi tergerak sendiri dan beralih mengusap anak rambut di dahi Jimin.
"Ada Taehyungie, Jungkook, Hoseok, dan Jin-hyung. Seperti biasa..."
"Aish, kenapa sih mereka selalu mengganggu liburanku." Jimin menggerutu.
Yoongi menyentil pelan dahi Jimin karena gerutuannya. "Mereka teman-temanmu juga."
Jimin berganti mengerucutkan bibirnya. Ia lalu hanya terdiam menikmati sentuhan halus jemari Yoongi yang masih bermain dirambutnya.
"Didi mingi."
"Apa?"
"Kok cantik banget sih?"
Tuk!
Yoongi menjitak dahi Jimin kemudian mendengar perkataan Jimin. "Aku tidak cantik."
"Ukh," Jimin menggerutu. "Tapi kau yang paling istimewa bagiku. Kau tahu tidak, kau itu bagaikan per—"
"Tak usah menggombaliku sebelum aku membuang kepalamu ke lantai."
Sadis.
Jimin segera mengangguk menurut dan nyengir sok polos tanpa berani melanjutkan niat gombalnya pada Yoongi.
Yoongi menghembuskan napas malas melihatnya. Ia lalu melanjutkan lengannya untuk mengusap rambut Jimin dipangkuannya.
"Jimin, aku ingin bertanya satu hal."
Jimin memejamkan mata menikmati usapan Yoongi di kepalanya. "Tanya apa?"
"Kenapa waktu itu... kau tidak marah? Padahal kupikir saat itu kau marah sekali ketika aku membawa pergi Minki..." Yoongi menundukkan kepalanya dengan sedih.
Jimin membuka matanya lalu bangkit dari pangkuan Yoongi. Ia menatap Yoongi lembut lalu mendorong kedua bahunya pelan sampai ia terbaring diatas ranjang kemudian Jimin beranjak diatasnya untuk menaunginya mensejajarkan wajahnya dengan Yoongi.
Yoongi mulai berdegup kencang dan kedua pipinya merona menatap Jimin saat ini.
"Kau tahu kenapa?"
Yoongi menggeleng kecil. Tak bisa melepaskan pandangannya dari kedua manik gelap yang tajam dan menguncinya itu.
"Aku...aku mencintaimu, Yoongi. Aku mana mungkin bisa memarahi orang yang paling aku cintai, orang yang telah rela menjadi istriku, orang yang telah rela mengandung dan melahirkan anakku, aku... tidak akan pernah rela untuk sekedar membentaknya. Aku juga tidak berhak untuk marah padamu."
Tutur kata Jimin membuat Yoongi melengkungkan senyumannya karena perasaan hangat yang segera menyelimuti hatinya. Jimin begitu royal sampai memperlakukan Yoongi selembut sekasih sayang ini. Yoongi dibuat terharu karenanya.
"Kau tahu? Inilah mengapa aku bisa membalas seluruh cintamu." Yoongi berucap lembut. Sebelah lengannya naik untuk mengusap pipi Jimin dengan sayang.
Jimin tersenyum senang. Ia segera menundukkan wajahnya untuk menghujani wajah Yoongi dengan ciuman kupu-kupunya.
"Saranghae... Saranghae... Sa—"
CKREK!
"Nado saranghae~~~" sebuah suara shutter kamera dan suara berat yang sangat dikenali oleh Jimin itu terdengar, membuat sepasang suami istri diatas ranjang dengan posisi berbahaya itu terkejut dan refleks menoleh kearah pintu dimana ada seorang pemuda berambut soft orange dengan cengiran khasnya itu memegang sebuah kamera.
"KIM TAEHYUUUNG, YOU BITCH!" Jimin segera beranjak dari atas tubuh Yoongi untuk mengejar Taehyung.
Yoongi yang terkejut karena Taehyung memotretnya hanya bisa menghela napas kemudian. Bocah satu itu memang selalu mengisengi Jimin. Tetapi Yoongi kembali tersenyum mengingat perkataan Jimin. Sepertinya ia akan selalu mengingat perkataan itu dalam memorinya.
Yoongi lalu ikut beranjak dari ranjang untuk menghampiri semuanya di ruang tamu.
.
Jimin masih berusaha mengejar Taehyung yang berani-beraninya mengambil fotonya bersama Yoongi. Tetapi disana Jimin juga sempat untuk menegur Jungkook yang masih anteng bermain dengan Minki.
"Yak yak bocah! Jangan mengusap anakku seperti anak anjing!"
Jimin menegur Jungkook yang sedang menggelitik bawah dagu mungil Minki.
"Kim Taehyuuung kemari kau, Hidung besar!"
"AHAHAHAHA~"
.
Pada akhirnya, cinta dan persahabatan tak selalu berakhir menyakitimu. Kalau bisa ada yang menyenangkan, mengapa tak kau buat untuk jadi yang lebih membahagiakan?
.
.
.
.
The end.
.
.
2014.05.15 ~ 2015.12.06, from As Sweet As Sugar till As Sweet As Caramel with Minyoon.
.
.
.
Nb : hai hai haaaaai. Sudah lama tak bertemu ya? Akhirnya ini sampai yang beneran terakhir :"D
Duh, tak terasa bangtan udah comeback lagi. Gimana yang udah berspekulasi tentang butt-erfly nya? XD
Buat album yang baru kalian paling suka track yang mana? Kalau saya sih pastinya title track jadi favorit ya, terus yang kedua adalah track ke- 6! Hehehe :3
Sekarang minyoon udah gak langka ya, puji syukur akhirnya saya gak perlu buru-buru ngebet pengen bikin ff tentang mereka cuma buat baca doang x'D
Tetapi walau begitu minyoon tetap jadi couple yang paling menawan hati. Tidak ada tukar posisi dan akan selalu minyoon lol.
Setelah ini saya juga tetap menulis ff minyoon atau namseok kok, yah meski tidak mungkin update sesering dulu. Tapi yang namanya nulis ff itu emang sudah jadi hobi dan termasuk apresiasi saya karena cita-cita yang tak sampai :"""D
Hahahaha.
terimakasih buat kalian semua yang mendukung fanfic ini sejak awal, terimakasih atas respect yang kalian berikan karena itu membuat saya merasa sangat dihargai menulis disini. terima kasih :)
Oke, keep support Bangtan, guys! '-')9
See you in another story!
.
.
.
With Love,
.
.
This story copyright © by Phylindan.
