Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto, High School DxD [Ichie Ishibumi] and others not Mine!

Genre: Adventure, Family, Supernatural, Action, Hurt/Comfort, Romance and Mistery.

Warning: Still and always Newbie, Alternative Universe, Semi-Alternative Timeline, Typo's, Miss-Typo's, Multi Genre, Bahasa Gado-GadoAlur tak menentu Kadang cepat, kadang lambatdan masih terkesan kacau, OOC (Amat sangat), Adult Theme, Violence, HalfDevil!Naruto, Gender bender, Fem!Hidan (Hilda), Death Chara, Sibling!NarutoVali, GradualyOverpowered!MainCharacter, Gray!MajorityMainCharacter, Etc.


Arc III

[Early and Late]

.

.

Chapter 28

[Daybreak — The Forgotten Strongest One!]


.

.

.

.

.

.

.

"Naruto..."

Rias Gremory tidak tahu harus berbuat apa lagi. Untuk kali pertama sejak mengenal pemuda yang dipanggil, Rias melihat secara langsung sisi lain dari Naruto. Bukan sisi sebagai keturunan Lucifer, namun sisi yang begitu besar rasa sayangnya kepada keluarga terutama adik pemuda itu. Rias akan berbohong bila dirinya tidak terkejut mendengar identitas sejati dari Naruto. Seorang pemuda yang sudah dia buat hancur hatinya adalah keturunan dari raja iblis sebelum kakaknya.

Mengabaikan hal tersebut, Rias tidak pernah menyangka kalau sebenarnya Naruto memiliki sisi yang sangat berbanding terbalik persepsinya kepada Lucifer. Kejam, tampa ampun, haus akan perang dan kekuatan serta beberapa hal yang pastinya negatif.

Walau tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Naruto dan Vali. Rias setidaknya bisa mengetahui keinginan dari keduanya. Vali yang sangat ingin membunuh kakaknya, dan Naruto yang dengan senang hati dibunuh oleh adik yang bahkan tidak diingat. Tidak peduli seberapa besar rasa sayang seorang kakak kepada adik. Tidak pernah sekalipun dia melihat ada seorang kakak yang ingin dibunuh oleh adiknya hanya karena itu berdasar pada keinginan sang adik.

Jika rasa sayang Naruto kepada adiknya sudah sebesar ini, bagaimana dengan perasaan pemuda itu padanya?

Sebuah tepukan pelan pada pundaknya memaksa Rias menelenkan kepala ke kiri, iris biru-hijau yang sedikit meredup cahayanya itu melirik seseorang dibelakang sana.

"... Onii-sama?"

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Imōuto." disaat-saat seperti inilah Sirzechs tidak ingin bertindak sebagai Maōu. Seperti saja pria dengan rambut merah itu habis menerima anugerah menyaksikan interaksi Naruto dan Vali. "Aku sudah tahu semua yang terjadi antara kau dan Naruto."

Tubuh Rias menegang sesaat, iris biru-hijau miliknya juga sedikit melebar. Dia tidak menyangka bahwa rahasia yang sangat tidak diketahui oleh orang terdekatnya—kecuali Akeno ternyata sudah terbongkar. "Onii-sama sudah tahu?"

Sirzechs mengangguk kecil. "Ya, aku sudah tahu, begitupun Grayfia. Bahkan dia yang pertama tahu perasaan Naruto padamu." jelas Sirzechs sambil melirik sesaat ratu-nya yang tidak sedikit pun mengalihkan perhatian dari pertarungan dua naga surgawi yang sudah berlangsung beberapa menit. "Grayfia mengetahuinya di hari pertunanganmu dengan Riser."

"Lalu, apa yang harus kulakukan, Onii-sama?"

Sirzechs berpikir sejenak. Entah kenapa peringatan yang dikeluarkan Azazel setelah Hashirama menciptakan hutan mulai merasuki tubuh Maōu satu ini sampai muncul rasa was-was dalam hatinya. Malaikat Jatuh itu benar, Madara dan dua ninja itu bisa saja merepotkan ketiga fraksi termasuk iblis bila mana menjadi musuh dengan kemampuan yang sebagian besarnya belum diketahui.

"Minta maaflah ke Naruto, mungkin hanya dengan itu semuanya akan terselesaikan. Namun bukan sekarang, karena..." Sirzechs beralih pandangan menuju tengah lapangan, tempat dimana Hyōdō Issei tengah berusaha menyatukan Divine Dividing dan Boosted Gear. "...Issei-kun sedeng mempertaruhkan nyawanya disana."

Rias mengangguk pelan. Benar apa yang dikatakan oleh kakaknya, satu-satunya hal yang perlu dia lakukan adalah meminta maaf ke Naruto bila bertemu nanti. Berbeda dengan Issei yang merupakan anggota Peerage-nya. Pada momen ketika Issei berhasil menggabungkan Sacred Gear berstatus rival tersebut, Rias melirik sang ratu yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

"Akeno, ada apa?"

"... Ehhh?!"

Gadis bergelar Pendeta Petir terkejut sesaat sebelum menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Buchōu. Aku hanya khawatir pada Issei-kun." walau secara jujur mulutnya mengatakan hal tersebut, namun dalam kepala Akeno tengah memikirkan hal yang cukup rumit.

.

.

.

.

.

Sikut-sikutan Nitenryū (Two Heavenly Dragon) telah berakhir. Jalannya pertarungan tidak kala besarnya dengan pertarungan Hashirama dan Madara melawan Katerea Leviathan. Satu gedung akademi Kuoh, beberapa batang pohon ciptaan Hashirama dan kawah-kawah berbagai ukuran menjadi saksi bentrokan pertama dari kedua inang kadal besar itu. Selain itu, ada beberapa kejadian yang terjadi pada pertarungan barusan. Diantaranya, Issei yang berhasil menggabungkan Boosted Gear dan Divine Dividing lalu diberi nama Dividing Gear. Hal tersebut sempat membuat Albion tak percaya. Namun, itulah yang terjadi. Memanfaatkan ketidaksempurnaan [Program Sacred gear] dan berhasil menggabungkan dua hal yang berlawanan, seperti Irreguler Balance Breaker: Holy Demonic Sword milik Kiba.

Lalu, Issei yang mengamuk habis-habisan karena Vali menggunakan Half Dimension, salah satu kemampuan dari Divine Dividing. Penyebab dari mengamuknya sang Sekiryūtei tentu saja payudara gadis-gadis yang akan menyusut setengahnya. Walau sudah mengurangi sifat mesumnya, membayangkan impiannya, payudara anggota klub penelitian ilmu gaib terutama milik Rias akan terbagi tentu saja menyulut amarah Issei.

Terakhir, Vali hampir saja mengaktifkan Juggernaut Drive kalau saja Bikou, member tim bentukan pemuda itu tidak muncul dari atas langit memecahkan lapisan pelindung kompleks akademi.

Lalu, disinilah kita. Dimana Vali akan mundur dari pertempuran melawan rivalnya.

"Jadi begitu... Ophis sudah setuju. "

"Khakhakha... Kujamin kau akan tertawa keras kalau tahu cara Le Fay meyakinkan Ophis untuk setuju, Vali."

Masih berbalut armor Vanishing Dragon Scail Mail tanpa helm, Vali bergerak membelakangi keturunan dari Sun Wukong. "Itu tidak penting."

"Ah, kau dingin sekali hari ini."

"Sudahlah, ayo pergi dari sini."

Bikou melalukan gerakan akrobatik sebelum menghantamkan ujung tongkatnya pada permukaan tanah. Seketika muncul kegelapan mengerikan dan mulai menghisap mereka. Namun, sebelum benar-benar tertelan kegelapan yang merupakan tehnik teleport,. kedua pemuda yang cukup aneh bila akrab menurut Azazel memberikan salam perpisahan masing-masing.

"Salam kenal, Sekiryūtei!"

"Hyōdō Issei. Suatu saat kita akan bertarung sekali lagi, tapi pada saat itu akan lebih dahsyat."

.

.

.

.

.

Harapan Sirzechs dan Michael setelah kepergian Vali yang ingin tidak ada lagi masalah serius terjadi harus pupus. Suara mirip tembakan misil jarak jauh memaksa dua orang itu bersama yang lain mendongak. Azazel yang tahu betul pancaran aura dari sesuatu berwarna emas di langit meneguk kasar ludahnya, begitupun dengan Koneko.

Tidak sampai 10 detik lamanya sesuatu itu menghantam permukaan tanah sekitar 50 meter dari rombongan peserta konferensi. Hembusan angin kuat efek dari tabrakan barusan memaksa ketiga pemimpin kembali mengaktifkan pelindung agar tidak terhempas.

"Ah, sudah berapa lamanya aku tidak mengambil alih tubuh bocah ini secara sempurna."

Suara berat yang berasal dari dalam kepulan debu membuat semuanya mengerjit keheranan, kecuali Azazel yang tahu betul pemilik suara itu.

Lenguhan panjang lolos dari mulut Azazel. 'Suara ini, tidak salah lagi... Kurama! Huh, dasar! Sepertinya ini akan menjadi masalah besar.'

"Siapa kau?"

Jawaban dari pertanyaan Sirzechs langsung terjadi. Muncul hembusan untuk kedua kalinya, menyapu bersih segala macam material yang berada di tengah-tengah lapangan utama akademi Kuoh yang sudah tak berbentuk lagi. Terpampanglah sosok yang baru saja datang itu.

"Uzumaki-dono?"

Michael berujar sedikit tidak percaya melihat pemilik aura dan tekanan besar tersebut, dia adalah Naruto Uzumaki—atau sekarang dikenal sebagai Naruto Lucifer yang tubuhnya diambil alih oleh Kurama. Setahu Malaikat dengan 12 sayap itu, Naruto tidak memiliki aura dan tekanan kekuatan yang sebesar tadi, bahkan ketika saling ancam antara kelompok pemuda itu melawan perwakilan ras iblis.

Menggeleng pelan, malaikat bersaya emas itu lalu memandangi Naruto dengan mata menyipit. "Tidak-tidak, anda bukan Uzumaki-dono."

"Kau benar sekaligus salah, Tenshi-san." Kurama berujar pelan selagi menegakkan tubuh yang sedikit tertekuk karena pendaratan kerasnya tadi. "Aku bukanlah bocah bodoh ini." Kurama membuka mata secara perlahan, memperlihatkan iris yang tidak lagi biru cerah seperti milik Naruto, melainkan merah pekat dengan garis vertikal runcing yang memancarkan sinar kebencian pada beberapa orang disana. "...dan yang benar adalah Lucifer-dono."

Sirzechs ikut menyipitkan mata. "Lalu siapa kau? Dan kenapa kau bisa mengambil alih tubuh Naruto? Sejauh yang kutahu, Naruto tidak memiliki mahluk yang bersemayam dalam tubuhnya seperti Issei-kun dan Vali."

"Gremory, Sitri dan kalian yang mengenal bocah ini. Aku tidak tahu kalian ini bodoh, atau hanya mahluk lemah yang terlalu percaya diri pada kekuatan yang dimiliki..." Senyum mengejek terukir cukup jelas di mulut Naruto. "Hmm... Katakan saja sejak ingatan dan sisi iblis Naruto tersegel, aku sudah berada dalam tubuhnya, tapi kalian tidak pernah menyadarinya bahkan ketika bertarung melawannya. Ya, aku sebenarnya tidak memaksanya menyembunyikan keberadaanku, hanya menyuruhnya untuk tidak mengatakannya kecuali ada seseorang yang menyadarinya." kepala Kurama sedikit bergerak ke kiri, memandangi satu-satunya orang yang tidak lagi memiliki pengawal. "... seperti kasus malaikat bejad itu."

Azazel selaku orang yan disebut melambai ringan. "Yo... Rubah brengsek." sapa malaikat jatuh itu ceria disertai wajah yang sama. "Lama tidak bertemu, kulihat kau tidak pernah bosan memperlihatkan wajah aroganmu."

"Kau pun sama, malaikat kotor." Kurama membalas pedas dan makin pedas saat menambahkan. "Masih setia memasang tampang bejad yang makin mengerikan sampai Naruto menaruh rasa hormatnya padamu di kloset."

"Ugh... " Azazel melenguh kesakitan tertusuk kata-kata pedas Kurama sampai ke relung hati yang paling dalam. "Sebegitu rendahanya kah harga diriku sebagai pemimpin?"

"Ya, memang kenyataanya seperti itu, malaikat kotor." Kurama mengangguk singkat. "Sudah jomblo bau tanah, bejad, miskin, hobi numpang makan, kurang beruntung, hidup pula. Sana mati saja biar bebas dari kesengsaraan."

"Ugh... Brengsek!"

Mengabaikan Azazel yang sudah mengumpat tidak jelas sambil mencak-mencak tak terima dikatai sedemikian rupa, Kurama kembali memandang para rombongan rapat lalu mendesah. "Yaah, walau ini salahku hanya memberi Naruto sepersekian kecil kekuatanku."

Tubuh sebagian besar dari rombongan menegang. Mereka adalah orang yang pernah melawan Naruto, baik dalam pertarungan sesungguhnya maupun latih tanding. Mereka tidak menyangka bahwa selama ini pemuda itu hanya menggunakan sepersekian kecil kekuatan dalam tubuhnya saat bertarung. Khusus untuk beberapa anggota klub penelitian ilmu gaib, dua kali melawan Naruto dan masih bisa menghirup udara segar pada detik ini mereka anggap sebuah keberuntungan.

Sama seperti yang lain, Sirzechs akan berbohong bila tidak sama seperti yang lain mendengar hal tersebut, namun dengan baik dia menyembunyikan rasa kagetnya dan kembali berbicara. "Jadi, kemampuan Naruto menggunakan api sebaik bahkan diatas Phenex adalah milikmu, begitupun kemampuannya menggunakan Senjutsu secara sempurna?"

Kurama mengangguk singkat. "Kau benar, alasan bocah ini bisa memakai elemen api walau tidak memiliki energi sihir adalah kekuatanku." kemudian rubah itu menggelengkan kepala. "Namun kemampuan dia menggunakan Senjutsu adalah usahanya sendiri, diajarkan cara memakai oleh tiga orang lalu dia sempurnakan seorang diri, yang bahkan orang mesum itu tidak bisa melakukannya."

"Lupakan soal Naruto. Siapa sebenarnya kau?"

"Kurama."

Kali ini bukan orang yang ditanya menjawab, melainkan Azazel.

"Salah satu Yōukai terkuat yang pernah kuketahui. Setara atau mungkin diatas kekuatan dari beberapa Youkai kuat yang kukenal seperti Sun Wukong dan Yasaka."

Di sela-sela saat berbicara, di kening Azazel mengucur setetes keringat dingin. Dia tidak akan pernah lupa kejadian dimana hampir saja dikirim ke tempat jauh tanpa bisa kembali lagi. Sungguh, Azazel benar-benar ingat pada hari itu, mimpi buruk yang ia alami tempo Great War berlangsung kembali muncul dan memaksanya untuk bertarung menggunakan mode Armageddon.

"Tapi, mungkin beberapa dari kalian tidak lagi mengingat bahkan tahu akan Kurama. Mengingat rubah sialan itu sudah sangat lama menghilang dan tahu-tahunya muncul dalam tubuh keturunan dari Lucifer."

Malaikat jatuh itu menghapus kasar keringat di kening lalu melenguh panjang. "Huuu... Sungguh, candaan dari takdir bukan hanya untuk Vali, kakaknya ternyata juga sama."

Kekehan pelan keluar dari mulut Naruto. "Benar juga. Aku lupa kalau Naruto sudah memberitahumu, Malaikat Kotor."

Sirzechs memperlihatkan wajah serius setelah mengetahui bahwa yang mengambil alih tubuh Naruto bukanlah sosok sembarangan, bahkan lebih kuat dari Yōukai kera yang sudah tidak diragukan lagi kekuatannya. "Lalu apa tujuan anda baru memunculkan diri setelah sekian lama bersembunyi, Kurama-san?"

Kepala Naruto bergerak pelan yang diberangi dengan perubahan ekspresi mendadak di wajah pemuda itu. Memandangi dua atau mungkin beberapa orang yang menjadi alasannya mengambil alih tubuh Naruto selagi sang pemilik sibuk mencari tahu masa lalu. "Tujuanku baru muncul sekarang? Dari tekanan yang kupancarkan saat tiba kalian sudah pasti bisa menebaknya. Menebus semua yang pernah kalian lakukan pada dua orang yang paling kuhormati, kusayangi sekaligus tidak kusukai karena sifatnya."

Atas pernyataan Kurama itu, semua yang berada di sana langsung memasang postur tubuh bersiaga. Terlebih Azazel yang lumayan tahu apa yang bisa dilakukan Naruto dan Kurama bila melakukan kombinasi.

"Cih!" Kurama mendecih kala garis penglihatannya tertuju pada Grayfia yang berdiri paling kanan dari rombongan fraksi iblis. "Sepertinya cuma beberapa orang saja yang ada disini. Apa boleh buat, membunuh salah satu dari kalian mungkin cukup untuk menebus kematiannya."

"Kematian satu dari dua orang yang anda hormati? Apa maksud anda sebenarnya? Lagi, siapa dua orang itu? Apa Naru-tan?" setelah lama berdiam diri dan hanya menyimak apa yang terjadi, Serafall tiba-tiba berbicara dengan suara ditinggikan. "Setahu kami, ras iblis tidak pernah membunuh satu pun Yōukai." Serafall sedikit tersinggung diberi tatapan pembunuh oleh Kurama menggunakan wajah Naruto.

"Naruto? Mungkin iya, mungkin juga tidak." Kurama menjawab tidak jelas. "Sungguh, apa yang kau ucapkan membuat muak. Bangsa kalian sejauh yang kutahu memang tidak pernah membunuh Yōukai, tapi perlakuan kalian pada beberapa Yōukai tidak bisa kumaafkan. Grrr, lupakan saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengan Yōukai, itu sekarang menjadi tanggung jawab Yasaka."

Michael mengangguk pelan mulai paham mau dibawah kemana topik yang sedang terjadi. "Jadi, orang yang paling dihormati Kurama-dono bukanlah Yōukai. Lalu, berasal dari ras mana dia, Kurama-dono?"

'Apa sebenarnya tujuan dari rubah brengsek ini?' lain halnya dengan Azazel. Malaikat jatuh ini malah mengerutkan kening bingung melihat gerak-gerik Kurama. 'Datang dengan Senjutsu gila-gilaan yang seharusnya habis terpakai saat Naruto mengaktifkan mode mengerikannya itu. Lalu mengungkit-ngungkit soal kematian seseorang... Tck! Jangan kalau dia mau—'

Renungan Azazel terhenti kala Kurama membalas apa yang diucapkan oleh Michael barusan.

"Yang anda katakan benar, Tenshi-san. Dia bukan Yōukai, sejujurnya aku juga tidak tahu dia mahluk apa. Tapi, sebelum kalian membunuhnya, dia disebut-sebut sebagai..." Kurama memberi jeda sejenak selagi menajamkan penglihatannya ke Sirzechs, Serafall dan Grayfia. Semua yang berada disana meneguk kasar ludah menunggu siapa yang akan disebut oleh rubah itu.

"... Eksistensi paling ditakuti ras iblis!"

"Paling ditakuti bangsa kami?" suara Serafall makin tinggi kala menyahut dengan sebuah pertanyaan. "Jangan bercanda! Selama ini, kami tidak pernah mengenal ada mahluk semacam itu."

Tentu saja Serafall tidak terima dengan adanya mahluk yang disebut Kurama, bukan hanya Maōu perempuan ini, seluruh iblis disana juga sependapat. Sepanjang sejarah fraksi iblis, hanya mereka yang memiliki kekuatan berbasis cahaya seperti Malaikat dan Malaikat Jatuh yang patut diperhitungkan, serta beberapa mahluk yang bukan berasal dari dua ras itu tapi mempunyai aura suci yang cukup untuk membunuh iblis kelas tinggi bahkan ultimate.

"Sudah kuduga kalian akan menolak kenyataan tersebut. Kenyataan bahwa diluar sana ada mahluk yang sangat ditakuti oleh ras kalian. Ya, memang sulit diterima karena kakek buyut bocah ini—Lucifer tidak memiliki rasa takut sampai menangtang Tuhan."

"Kurama-san. Jika niat anda seperti Uchiha Madara yang ingin menyulut amarahku, bisa kubilang itu sia-sia saja." Sirzechs menyahut tenang. "Tidak peduli jika anda mengatakan ada mahluk yang kami takuti di luar sana. Aku tidak akan terpropokasi karena bagaimanapun hanya Malaikat dan Malaikat Jatuh dengan kekuatan cahaya mereka serta hal-hal yang mengandung aura suci seperti Excalibur dan True Longinus yang menjadi kelemahan kami, namun tidak sampai membuat kami ketakutan."

"Haaa, iblis dan kesombongan mereka!"

Setelah Kurama mengucapkan sindiran bernada tinggi itu, Michael tiba-tiba menyahut diikuti Azazel yang membenarkan apa yang diucapkan oleh malaikat bersayap emas itu.

"Maaf menyela... Tapi yang dikatakan Kurama-dono memang benar bahwa diluar sana ada—lebih tepatnya pernah ada mahluk yang ditakuti oleh iblis."

"Huh, aku jadi ingat kali pertama Lucifer mengambil satu langkah mundur saking takutnya. Bahkan aku yakin kalau iblis laknat itu sudah pipis di celana dihadapan pedang lawannya yang dikatakan mampu menghancurkan dunia hanya dengan sekali tebasan."

Selepas itu, Michael menadahkan wajah ke atas. Sorot matanya terlihat menerawang jauh ke masa lalu mengingat seseorang yang menjadi ujung tombak fraksinya dalam Great War. "Dulu, memang ada eksistensi yang ditakuti oleh bangsa iblis. Kalau tidak salah sebelum dan saat great war berlangsung. Mungkin, kalian tidak mengenalnya karena saat Great War berlangsung, beliau bertarung di garis depan melawan Yōndai Maōu dan para petinggi pertama Grigory, bahkan berhasil membunuh Beelzebub."

"Hmmn," Azazel menyeringai misterius memandang pemimpin ras malaikat itu. "Sedikit mengenang masa lalu, kah? Kalau tidak kuat, kau tidak usah menjelaskannya panjang lebar Michael."

Seperti yang dikatakan Azazel, di wajah Michael mulai memancarkan kesedihan mendalam yang tak dapat ditahan. "Beliau merupakan salah satu malaikat terkuat di Surga, pemegang pedang terkuat yang pernah ada. Selain itu, beliau memiliki keistimewaan yang hanya beliau seorang yang memilikinya. Walau malaikat terkuat sekaligus istimewa, beliau tidak termasuk dalam jajaran sepuluh Seraph maupun pelindung Throne of Heaven. Sayang, di penghujung great war beliau dinyatakan tewas dan bersamaan pedang terkuat itu hilang tanpa kabar saat Ayah menurunkan Nitenryū untuk menghentikan peperangan."

"Haaaa..." Azazel mendesah panjang melihat raut wajah Michael yang sekarang serta suara yang makin melemah. "Sudah kubilang tidak usah bercerita kalau tidak kuat. Singkatnya... Dari pihak kami dan pihak iblis yang pernah melawan dan selamat darinya, julukannya yang disebut Kurama tadi. Sedangkan Lucifer, Leviathan dan Asmodeus memberinya julukan—" Azazel mengambil jeda sejenak untuk sekedar mengingat beberapa julukan Malaikat yang pernah memporak-porandakan bangsa iblis.

"—Akuma no Gōroshi (The Devil Slayer), Malaikat yang dikenal sebagai Oshioki no Tenshi (Angel of Punishment) dan Kami no Ikari (Anger of The God). Nama beliau adalah... Kushiel-dono."

Keheningan langsung melanda lokasi tersebut. Berkat informasi dari Michael pula, pihak iblis tidak bisa lagi membantah bahwa diluar sana pernah ada mahluk yang sangat ditakuti oleh ras mereka sampai-sampai Lucifer—pemimpin sekaligus iblis terkuat yang pernah ada dibuat mengambil langkah mundur, atau bisa dikatakan ketakutan akan sosok malaikat bergelar Malaikat Penghukum itu. Beruntungnya, Kushiel telah dinyatakan tewas oleh fraksi malaikat sehingga untuk saat ini fraksi iblis bisa bernafas lega.

—Atau mungkin informasi soal kematian Malaikat Kushiel adalah kebohongan?!

Ditengah-tengah suasanan hening yang mana pihak iblis mulai berpikir untuk tidak lagi terlalu percaya diri pada kekuatan seperti kata sang Yōukai, Michael dengan kening mengkerut memecah kesenyian mencekam disana.

"Hmmn, ini aneh. Kushiel-dono seharusnya sudah tewas, dan itu semakin diperkuat dengan hilangnya nama Kushiel-dono pada buku yang dipegang salah satu bawahanku. Tapi kenapa Kurama-dono bisa tahu mengenai Kushiel-dono serta gelarnya... Atau jangan-jangan—"

"Hentikan,Tenshi-san. Biarkan mereka sendiri yang mengingatnya... Lagipula, seperti yang dikatakan Madara dan Hakuryūkō, tidak ada gunanya membunuh seseorang bila melupakan kesalahannya di masa lalu."

Kurama yang langsung menyela sang Malaikat membuat decihan marah lolos dari mulut Sirzechs dan Serafall. Sekuat apapun kedua Maōu itu mencoba mengingat, hasilnya tetap saja nihil. Sejauh yang mereka ingat, sejak Great War hingga detik ini, tidak pernah sekalipun melawan eksistensi yang katanya ditakuti ras mereka, apalagi membunuh. Jangankan bertarung, meninggalkan dunia bawah saja mereka sangat jarang karena tugas sebagai Maōu.

"Siapa sebenarnya yang anda maksud, Kurama-san? Jika Anda tidak memberitahukan namanya, kami pun tidak akan bisa mengingatnya."

"Tck!"

Kini giliran Kurama yang mengeluarkan decakan keras yang mampu didengar oleh siapapun disana.

"Baiklah... Kalau begitu, akan kubuat kalian mengingat orang itu—" Kurama menjeda kalimatnya, lalu menggumamkan sesuatu dalam hati dilanjutkan dengan melepaskan sebuah segel yang tertanam dalam tubuh Naruto. 'Bocah ini sudah mengetahui kebenaran siapa dirinya jadi tidak perlu menahan diri lagi.'

"Hyakkasō Fuin: Rerīzu!" (Hundred Flower Funeral Seal: Fully Release)

Aura kuat nan berat khas Yōukai berwarna jingga seketika menguar dari tubuh Naruto sampai menciptakan efek udara terdorong. Selang beberapa detik, aura tersebut menghilang dan sedetik kemudian muncul sembilan ekor pada tubuh Naruto yang tumbuh dari pantatnya. Ekor yang tercipta dari api murni berwarna jingga. Dengan sembilan ekor yang mulai bergerak liar di belakang tubuh Naruto, aura lain kembali muncul di sekitaran pemuda itu. Aura dengan warna keemasan yang muncul dari ketiadaan, begitu kental akan kekuatan dan tekanan yang memaksa Azazel meneguk kasar ludah untuk kali kedua.

"—Dengan memberikan rasa takut teramat sangat akan kombinasi kami berdua!"

.

.

"Senjutsu!" Rook dari Rias yang tahu betul aura emas di sekitaran Naruto mengambil satu langkah mundur dengan tubuh bergetar hebat selagi bergumam. Dari pori-pori kulit putih mulus tanpa cacat gadis Yoūkai itu mulai mengeluarkan keringat dingin. "...Dan itu sangat besar dan dipenuhi kebencian murni!"

Sambil memperlihatkan seringai keji, Kurama sedikit menunduk, kaki kanan dimundurkan sedangkan yang kiri ditekuk pada bagian lutut.

"Senpō: Museigen no Furu Pawā!" (Sage Art: Unlimited Full Power)

.

.

.

.

.

Di dalam sebuah ruangan bergaya tradisional Jepang, seorang wanita yang tengah sibuk mengurus sesuatu yang tidak diketahui apa itu menghentikan kegiatan tersebut secara tiba-tiba. Matanya sedikit melebar, diikuti dengan membesarnya pupil emas berhiaskan garis vertikal. Sang wanita lalu menelenkan kepala menuju ke jendela, memandang dengan mata yang masih sama ke luar sana.

Dia mengamati dengan seksama apa yang terjadi pada dunia luar.

Setelah satu atau dua menit mengamati, dia akhirnya mengerti kejadian apa yang terjadi serta penyebabnya,

"Ara ara maa... "

Kini wanita itu paham. Kenapa langit di atas tempatnya tiba-tiba menggelap walau hanya terjadi beberapa detik saja, dan itu hanya bisa dilihat oleh ia dan mahluk sebangsanya. Selain itu, puluhan atau bahkan ratusan pohon sakura yang bergerak seirama semakin menambah keyakinan dia bahwa hanya satu penyebab kejadian ini bisa terjadi.

"Setelah sekian lama, anda akhirnya menampakkan diri. Aku jadi penasaran, apa yang terjadi di konferensi tiga fraksi sampai memaksa Yōukai terkuat mengaktifkan Overlimit Layline miliknya—Fufu... "

"Yasaka-himesama!"

Wanita bernama Yasaka mengalihkan perhatian menuju pintu yang dibuka secara kasar lalu diikuti suara seseorang yang memanggilnya. Yasaka tersenyum kecil dan mengangguk.

"Tanah kita seperti menyambut kedatangan seseorang. Dan ya, tidak salah lagi... Pemimpin kita yang sebenarnya telah kembali."

.

.

.

.

.

Mode terkuat kombinasi antara Naruto dan Kurama kini aktif. Mode terkuat yang diciptakan oleh Naruto yang meniru cara kerja dari Hachimon Tonkōu no Jin (Eight Gate Formation) milik Maito Dai. Dengan seluruh Senjutsu dalam tubuh yang digabungkan dengan kekuatan Yōukai Kurama, yang tidak lagi sepersekian kecil, namun keseluruhan. Hawa teramat panas dari kekuatan Kurama akan memicu dan memperkuat seluruh organ tubuh Naruto sehingga bekerja melewati batas normal dan akan disembuhkan oleh Senjutsu apabila mengalami kerusakan. Dengan begitu, kekuatan fisik, kecepatan, daya tahan dan seluruh panca indra Naruto meningkat sangat pesat kemampuannya.

Walaupun menggunakan Senjutsu secara terus menerus serta kekuatan seorang Yōukai tidak halnya membuat tubuh Naruto mengalami perubahan berarti, kecuali uapan asap keemasan yang sesekali keluar dari beberapa anggota tubuh Naruto.

'Jadi seperti ini rasanya menggunakan mode terkuat ini! Tck, tak kusangka kecerdasan bocah ini tidak hilang walau ingatannya disegel. Dia mampu menciptakan tehnik semengerikan ini di usia yang cukup muda.'

Kurama membatin kagum sekaligus ngeri kali pertama menggunakan Senpō: Museigen no Furu Pawā. Dia merasakan kalau saat ini tubuh Naruto benar-benar tidak terkalahkan dengan kekuatan alam yang digabungkan dengan kekuatan miliknya. Kurama jadi bertanya, jika dengan kekuatan yang sekarang mode ini sudah sangat mengerikan, bagaimana kalau kekuatan iblis sang inang sudah kembali? Membayangkannya saja Kurama sudah bisa tahu seberapa kuat Naruto.

Sirzechs, Serafall, Sōji, Diehauser dan para iblis muda yang menganggap diri mereka adalah target Kurama langsung memasang mode siap tempur.

Berbeda dengan Azazel, Michael dan malaikat pengawalnya yang hanya memasang gerak tubuh waspada.

Ketika Sirzechs baru saja ingin fokus ke lokasi Naruto, targetnya sudah menghilang entah kemana dan tahu-tahunya tekanan abnormal sudah terasa dari arah kiri. Saat Sirzechs menoleh, matanya sedikit melebar sembari menaikkan aura iblis yang dimiliki.

'Sejak kapan?'

'C-Cepat sekali!'

Semua orang disana kecuali Azazel terkejut sekaligus melupakan bahwa beberapa saat yang lalu sudah melihat seberapa cepat Naruto dalam mode ini.

Kurama yang berada tepat di samping kiri Maoū Lucifer masa kini mengepal tangan kanan dan menyelimutinya dengan api keemasan.

Tidak ingin Raja-nya diserang, Sōji Okita yang mengandalkan kecepatan bidak Ksatria miliknya segera melesat lalu melompat ke atas Kurama dengan katana yang siap dihunuskan.

"Lambat..." Kurama menghilang sepersekian detik sebelum katana itu membelah dua kepala inangnya.

Ketika Sōji sudah menarik kembali katana miliknya selagi mencari keberadaan Kurama bersama Sirzechs, orang yang dicari malah muncul di tempat yang sama, dengan pose yang masih sama, ingin melancarkan pukulan yang kali ini benar-benar dilancarkan.

"...Sangat, sangat lambat!"

"Senpō: Kōenteikai: Hōken!" (Sage Art Emperor Brilliant Flame Command: Breakdown Fist)

Sirzechs yang kembali dibuat terkejut dan tak tahu—tak sempat berbuat apa-apa selain menaikkan intensitas kekuatan iblis yang dimiliki harus rela terkena serangan telak Kurama tepat di sebelah kanan kepala.

Dalam sekejap, Maōu Lucifer lenyap (terlempar) dari lokasinya, menciptakan suara misil jarak jauh yang ditembakkan serta meninggalkan kawah kecil yang tiba-tiba muncul di tempat Kurama dan Sōji yang tengah melayang. Sepersekian detik kemudian muncul lobang raksasa nan dalam yang lebih mirip terowongan pada hutan buatan Hashirama. Disanalah Maoū Lucifer terlempar.

"Onii-sama!"

"Sirzechs-sama!"

"Sir-tan!"

"Sirzechs!"

Barulah beberapa detik setelah kejadian tadi, beberapa orang langsung meneriaki nama sang Maōu Lucifer yang sudah dilempar masuk ke hutan. Namun, mereka juga sadar, ini bukan waktunya untuk mengkhawatirkan seseorang, apalagi orang itu sekelas Iblis terkuat di Dunia Bawah. Sayangnya, sebagian besar dari mereka terlambat menyadari hal tersebut dikarenakan Kurama sudah melakukan gerakan selanjutnya dan mengincar dua iblis betina kuat disana.

'Dia mengincar Leviathan-sama dan Lucifuge-san. Aku harus menyerang di saat yang tepat!' Diehauser mengamati dengan teliti dan sempat melihat lirikan mata Kurama tertuju pada Serafall dan Grayfia. Sebagai iblis yang memegang gelar Emperor karena banyak kemenangannya dalam Rating Game, Diehauser memiliki kecerdasan yang lumayan dalam pertarungan, itulah yang menjadi salah satu senjatanya untuk melancarkan serangan balasan. 'Dia memiliki kecepatan luar biasa gila, aku harus mencari cela untuk melancarkan satu serangan telak.'

Seperti yang diperkirakan oleh Diehauser, Kurama benar mengincar Serafall dan Grayfia yang berdiri berdampingan. Kembali, sang Yōukai melancarkan pola serangan yang sama, menghilang dan muncul di dekat dua iblis betina incarannya.

'Bingo' Diehauser menyeringai. Dia pun bersiap-siap melancarkan serangan dengan salah satu kemampuan yang diwarisi sebagai seorang keturunan Belial. 'Maaf, Leviathan-sama, Lucifuge-san, aku harus menggunakan anda berdua sebagai umpan.'

"Selanjutnya, kalian berdua." Kurama mendesis dalam keadaan melayang horizontal tepat di hadapan dua iblis betina itu. Menyulut api emas yang lumayan banyak pada kedua kaki, Kurama langsung menyerang.

"Senpō Kōenteikai: Daibakuha Kagizume!" (Sage Art Emperor Brilliant Flame Command: Explodiling Claw)

"Kyaaahh... "

Serafall yang menjadi sasaran pertama Kurama berteriak kencang sebelum mengalami hal yang sama dengan Sirzechs saat terkena tendangan putar mematikan.

Pada jeda serangan yang sebetulnya adalah dua serangan beruntung itu, Kurama melirik Diehauser yang berlari ke arahnya. Persetan dengan cecunguk iblis itu, dia lebih memilih untuk lanjut menyerang, apalagi target kedua adalah seorang Lucifuge yang seharusnya melayani keluarga Naruto, bukannya melayani keluarga Gremory yang hanya salah satu dari mereka digelari Lucifer karena menjadi pahlawan dalam perang saudara.

"Kau telah menodai nama Lucifuge, iblis jalang!"

Diluar dugaan Kurama, Grayfia melakukan sesuatu yang menurutnya cukup nekat. Iblis betina itu melepaskan kuda-kuda bertarungnya, seolah-olah dia ingin menerima serangan Kurama tanpa sedikit pun perlawanan. "Ya, aku tahu itu."

"Kalau begitu... Sesali apa yang telah kau perbuat."

Dan benar saja... Tanpa melakukan apapun, Grayfia menerima serangan telak Kurama.

.

.

10 detik. Dalam waktu sesingkat itu, Kurama berhasil mementalkan tiga iblis terkuat Dunia Bawah menuju hutan Hashirama. Bahkan salah satu dari mereka kemungkinan besar mengalami luka fatal atau lebih parahnya sudah dalam keadaan sekarat.

Kini, pada hutan Hashirama sudah ada tiga terowongan panjang tempat tiga iblis barusan terlempar. Anggota klub penelitian ilmu gaib pun berdidik ngeri dengan perasaan takut teramat sangat mulai menggerogoti tubuh masing-masing. Melihat bagaimana tiga iblis terkuat Dunia Bawah dibuat seperti itu mereka jadi semakin yakin jika masih bisa menghirup udara segar sampai saat ini setelah dua kali melawan Naruto benar-benar sebuah keberuntungan.

Setelah mengatasi tiga orang, Kurama yang masih dalam keadaan melayang melirik sejenak ke bawah. "Heh, satu cecunguk ternyata mau ikut terlempar."

Di bawah Kurama, Diehauser yang tadi berlari melakukan gerakan takel dengan tangan kanan mengarah ke paha kanan Naruto. "Senjutsu, kekuatan yang hampir sama dengan milik Sairaorg Bael. Kau kurang beruntung hari ini rupanya."

"Gerakan yang bagus, Belial-san." Sona mengomentari apa yang dilakukan Raja Rating Game. Dengan senyum kecil di wajahnya, Sona membatin. 'Kemampuan Worthlessness Belial-san pasti sangat berguna disini, apalagi dia sudah mengetahui unsur dasar dari kemampuan Naruto.'

"Maju!"

"Balas apa yang dia sudah lakukan pada Maōu-sama!"

Selaras dengan Sona, anggota klub penelitian ilmu gaib menyoraki Diehauser dengan penuh keyakinan bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bodoh, cepat pergi dari sana Kōtei-kun, apa yang ingin kau—"

"Ada apa ini, kekuatanku tiba-tiba menghilang?"

Diehauser menyeringai penuh kemenangan. Dia sudah menyentuh paha kanan Naruto dan melancarkan salah satu kemampuan yang sangat diakui di Dunia Bawah. Dan seringai itu semakin melebar kala melihat ekspresi penuh keterkejutan dari Kurama yang secara bersamaan asap keemasan yang sesekali menguap sudah terhenti.

"—Hanya bercanda!"

"... A-apa?!"

"Ti-tidak mungkin, kekuatannya tidak menghilang?"

Dalam sekejap, situasi diputarbalikkan. Kini giliran Diehauser yang terkejut bukan main. Dia yakin seharusnya kekuatan dari Kurama sudah dibatalkan dan tidak bisa lagi digunakan, tapi kenapa api emas dalam jumlah banyak berkobar dashyat pada tangan kanan pemuda di atasnya. Tak ayal, keringat dingin ditambah kulit yang memucat pasih sudah terpampang jelas bersama ekspresi terkejut pada wajah Diehauser yang sudah tidak bisa lagi berbuat banyak karena posisinya yang tepat berada di bawah sang lawan.

Bukan hanya Diehauser, iblis muda disana juga ikut terkejut terutama Sona yang tadinya sangat yakin serangan sang Emperor akan mengakhiri semuanya.

"Membuatmu terlempar sepertinya kurang enak, bagaimana kalau membuatmu sekarat? Atau lebih baik kau mati saja, hmm, bagaimana iblis kelas kecebong?"

"Keparat!"

Mengabaikan umpatan sepenuh hati Diehauser, Kurama melancarkan serangan yang sama dengan pemberiannya untuk Sirzechs. Dengan memutar tubuhnya yang dalam pose horizontal searah jarum jam di udara dan melancarkan pukulan tangan kanan berselimut api emas, ledakan besar terjadi disusul gelombang kejut dan kepulan debu pekat bercampur api keemasan.

Rias, Sona, Sōji dan semua yang berada di sana langsung terbang ke atas untuk menghindari efek lain dari ledakan barusan berupa hempasan udara padat yang bisa mementalkan benda sebesar pohon dan pagar besi bahkan meretakkan dinding gedung yang jaraknya cukup jauh dari sumber ledakan.

Hampir semenit berlalu, kepulan debu yang menutupi lokasi Kurama dan Diehauser akhirnya menghilang. Beberapa pasang mata yang mengarah ke sana langsung melebar syok. Rias bersama iblis muda lain langsung menutup mulut mereka dengan ekspresi tidak percaya.

Di tengah-tengah cekungan yang hampir mengambil setengah bagian lapangan utama akademi Kouh, Kurama berdiri pada pusatnya. Dia berdiri dengan wajah yang sedikit memancarkan ekspresi kagum kepada mahluk yang saat ini diinjak kaki kananya.

"Heh, kekuatan iblis yang mungkin setara dengan Gremory menyelematkan iblis kelas kecebong ini. Lumayan juga. Tapi, yaa..."

Iris merah pada mata Naruto melirik ke bawah, melihat keadaan Diehauser. Pemuda itu benar-benar dalam keadaan mengenaskan, mata yang kehilangan pupil terbuka lebar, mulut mengeluarkan darah segar, dan sebuah luka menganga pada bagian perut yang juga mengeluarkan banyak darah namun lebih banyak. Walau mengalami luka yang sangat parah, nyawa Diehauser seperti yang dikatakan Kurama tidak sampai melayang, namun tidak untuk kesadarannya.

"... tak cukup kuat untuk tidak membuatnya sekarat, pada akhirnya dia tetap iblis kelas kecebong." Kurama kemudian mengarahkan pandangan menuju hutan. "Tck, sialan! Aku sampai lupa dengan tujuanku."

Dalam sekejap, tubuh Naruto yang dalam kendali Yōukai yang kekuatannya diakui Azazel lebih kuat dari Sun-Wukong menghilang tanpa bekas apapun. Memanfaatkan keadaan dimana Kurama mungkin sudah berada dalam hutan meladeni Sirzechs, Serafall dan Grayfia. Azazel bersama Michael dan pengawalnya menghampiri rombongan iblis muda yang melayang bersama Sōji Okita.

"Huh, dasar. Apa dia sadar kalau kekuatan yang ingin dibuat tidak berguna itu adalah kekuatan alam? Sebenarnya dimana otak para iblis sih, atau memang benar yang dikatakan Kurama kalau kalian cuma mahluk yang ingin terlihat kuat dengan begitu percaya diri pada kekuatan yang dimiliki?" Azazel memandang prihatin tubuh tak berdaya Diehauser di tengah-tengah kawah lalu mengalihkan perhatian ke para iblis muda yang diiringi pandangan mengejek.

"Oh, aku hampir lupa..."

Azazel bersama yang lain mengalihkan perhatian mereka mendengar suara berat Kurama kembali terdengar dan asalnya berada cukup dekat.

"—Ini untuk kalian terutama kau Rias Gremory!"

Dalam keadaan melayang puluhan meter jauhnya dan sedikit di atas para peserta konferensi yang tersisah, tubuh Naruto tertekuk kebelakang dengan mengempis. Lima detik mengumpulkan oksigen dalam paru-paru Naruto, Kurama menghembuskannya dalam bentuk elemen lain.

"Senpō: Kōentei no Hōkō!" (Sage Art: Emperor Brilliant Flame's Roar)

Muntahan api murni dengan warna emas berkilauan sepanjang 10 meter meluncur cepat dari mulut Kurama. Setelah melancarkan serangan, dia langsung menghilang dalam rangka menghemat waktu penggunaan mode Naruto yang sudah hampir memakan waktu semenit. Persetan dengan melihat serangannya berhasil atau tidak mengenai lawan, fokus Kurama saat ini hanyalah Sirzechs dan Serafall, serta Grayfia.

"Semua. Hindari semburan apinya sejauh mungkin!"

Azazel langsung memperingati. Dia tahu betul bagaimana mengerikannya kekuatan Kurama walau dulu hanya melawan setengahnya saja. Kekuatan yang hancurnya menyamai kekuatan utama dari Sirzechs, namun sekarang ini sudah digunakan sepenuhnya ditambah Senjutsu yang itu artinya Kekuatan Alam Penghancur Absolut!

Merespon cepat peringatan dari Azazel, semua peserta konferensi mengepak sayap masing-masing dan terbang menjauh—Asia dibantu oleh Koneko sebelum disapu bersih muntahan api Kurama. Walau jarak mereka dan serangan Kurama sudah terlampai jauh di kisaran puluhan meter, namun hawa panas dari api tersebut masih terasa bahkan bisa saja melukai andai Michael dan Sirzechs tidak menciptakan lapisan pelindung.

"Yang benar saja! Itu bohongkan?" Issei berujar dengan mata melebar menyaksikan efek yang ditimbulkan serangan Kurama. "I-Itu lebih mengerikan dari Horobi no Chikara (Power of Destruction) milik Bochōu."

Seperti yang diutarakan oleh Issei yang sudah melihat Rias menembakkan kekuatan iblis spesial yang hanya dimiliki klan Bael pada pertarungan melawan Kokabiel, yang bahkan sudah diperkuat dengan kekuatan pengganda dari Boosted Gear. Dampak serangan Kurama bisa dibilang tiga kali dari serangan Rias, walau muntahan tadi terbilang cukup kecil karena hanya seukuran mobil bus.

Pada lapangan utama akademi Kuoh terdapat sebuah parit selebar 20-an meter yang semakin ke sana semakin dalam dengan ujung membentuk terowongan yang tidak memiliki ujung. Dengan kata lain, berbeda dengan serangan Power of Destruction yang hanya akan menghancurkan material yang terkena, api Kurama akan menghanguskan apapun tanpa tersisah, bukan hanya yang terkena, apapun yang berada dalam jangkauan hawa panas akan ikut meleleh hingga lenyap tak berbekas.

"Huh, dasar!" Azazel menggerakkan lengan kanan untuk menghilangkan lapisan pelindung di sekitarnya dan para anggota konferensi. "Sepertinya rubah brengsek itu sudah mengerahkan sebagian besar kekuatan yang dia punya... Kekuatan yang sejauh kutahu ketika bertarungan melawannya setara dengan Sirzechs, dan mungkin sekarang ini dia lebih kuat karena digunakan secara bersamaan dengan mode mengerikan Naruto."

Rias yang tidak tahu jika Naruto memiliki mode mengerikan membeo. "Mo-mode mengerikan?" mungkin inilah yang dimaksud oleh Hakuryūkō jika pemuda itu merupakan monster berdarah dingin yang ditutupi dengan topeng pemuda baik hati dan peduli terhadap orang-orang disekitar. "D-dan itu lebih kuat dari Onii-sama?"

Azazel mengangguk singkat. "Ya, itulah kenyataannya. Aku yang bahkan pernah bertarung melawannya tidak kusangka kalau kekuatan api dan Yōuki rubah brengsek itu ternyata belum sepenuhnya dikerahkan waktu itu. Lagi, mode mengerikan Naruto itu yang memberi prinsip tak terbatas semakin menambah mengerikan kombinasi mereka berdua." dia kemudian mengarahkan pandangan ke hutan Hashirama, dimana beberapa suara ledakan dan getaran kecil kembali terjadi.

'Aku bahkan masih ragu jika Kurama sudah mengeluarkan kekuatan penuhnya. Lagipula, beberapa serangan yang dia lancarkan bukan bermaksud membunuh, namun melukai. Sigh, sepertinya dugaanku tidak salah lagi.' Azazel mendesah lelah sambil memijit frustasi keningnya. "Aaah, ini benar-benar merepotkan."

"Walaupun lebih kuat dari milik Lucifer-sama, pasti kekuatan dari Yōukai bernama Kurama itu akan tidak berguna bila terkena kemampuan Wortlessness milik Belial-san." Sona berkomentar tenang selagi memperbaiki kacamatan yang sedikit melorot. "Ini benar-benar tidak masuk akal, terlebih Belial-san sudah pernah menghilangkan Tōuki milik Sairaorg yang sama-sama berbasis Senjutsu."

Harus Azazel dan Michael akui, disaat para iblis muda mulai ketakutan, Sona malah bisa bersikap setenang itu. \

"Begini, Megane-Ojousan,"

Sona sedikit tersindir dengan panggilan nyeleneh sang Malaikat Jatuh.

"Apa kau lupa jika Senjutsu merupakan kekuatan yang didapatkan dari alam?"

Sona menggeleng pelan dan pada akhirnya menyadari kenapa Kurama masih bisa menggunakan kekuatan.

"Aah, sepertinya kau sudah sadar. Kau pikir kekuatan dari alam bisa dibuat tidak berguna? Tentu saja tidak, karena bagaimana pun dan sekuat apapun seseorang, tidak akan pernah menang melawan kekuatan dari alam. Memang sih, aku sempat berpikiran sama denganmu ketika Kōtei-kun melancarkan serangan Worthlessness miliknya pada Kurama. Tapi, kembali ke awal, kekuatan alam adalah kekuatan yang tidak dapat dipatahkan dengan mudah, dan dalam kasus Kurama, mungkin dia menghisap energi alam setelah yang dipakai dibatalkan oleh Kōtei-kun, atau mungkin ini salah kemampuan dari mode Naruto yang memberi prinsip tak terbatas pada apapun yang digabungkan dengan Yōuki kelas dewa milik rubah brengsek itu?"

Menggeleng pelan menjawab pertanyaan sendiri, Azazel mengembalikan pandangan menuju hutan dimana ledakan besar kembali terjadi. "Michael, apa kau berpikir apa yang kupikirkan?"

Sang Pemimpin Surga yang juga memandang ke arah yang sama mengangguk singkat.

"Walaupun perjanjian kerja sama belum resmi tercipta, kami berdua akan menodai kerja sama yang akan terjalin itu bila tidak membantu Sirzechs, Serafall dan Grayfia Lucifuge meladeni kelakuan rubah brengsek itu." kembali, Micheal mengangguk setuju atas pernyataan Azazel yang sudah siap mengepak 12 sayap hitam miliknya menuju hutan. Melirik kebelakang sejenak, Azazel memberi komando. "Aku bersama Michael dan Taichōu-san akan membantu mereka bertiga. Kalian, pergilah ke sisi lain sekolah, dan siapapun yang memiliki kemampuan penyembuh, rawat Kōtei-san sebelum luka yang dia alami merenggut nyawanya."

"Pergilah bersama Argento-dono." Michael memberi perintah singkat dan dibalas anggukan patuh oleh pengawalnya. "Dulio-kun akan menyusul setelah semuanya berada di tempat yang aman. Nah, Azazel, Okita-dono, mari kita perg!"

"Oh, satu lagi... Kalian, berdoalah kepada Maōu terdahulu, Dewa, Dewa Kematian, Peri Gigi, Santa, Malaikat, Tuhan atau siapa saja agar—"

"Azazel. Jangan asal bicara."

"—tidak ada diantara kami yang tewas melawannya!"

.

.

.

.

.

"Grayfia, sebaikanya kau beristirahat. Kau sudah mengalami luka yang cukup banyak."

Serafall menatap prihatin kondisi dari Ratu Sirzechs. Pakaian Maid yang sudah tidak berbentuk lagi, wajah yang sejak pertarungan dimulai pada area hutan selalu meringis kesakitan, dan rembesan cairan merah pada ujung bibir. Jika ingin jujur, ini kali kedua Sirzechs dan Serafall melihat Grayfia dalam keadaan seperti itu. Iblis klan Lucifuge sejak tadi selalu memaksakan diri untuk menyerang Kurama, tidak peduli jika tubuhnya terkena serangan balik yang lebih mematikan.

"Itu benar, Grayfia. Beristirahatlah, lagipula yang kulihat, dia sejak tadi dia hanya fokus menyerang kami berdua."

Grayfia menggeleng. "Tidak Sirzechs-sama. Ini sudah menjadi tugasku melindungi Lucifer."

"Haha..." Tawa sinis dari Kurama yang berdiri dengan angkuhnya diatas dahan pohon mengalihkan perhatian tiga iblis itu. "Kau benar-benar menyedihkan, Lucifuge. Berkata melindungi Lucifer, tapi kau malah menyerang tubuh keturunan Lucifer yang asli ini secara terus-menerus." ucap Kurama sambil mengarahkan telunjuk pada dada Naruto. "Maa... Lupakan saja. Aku juga tak terlalu peduli pada kau dan penyesalnmu, Lucifuge."

Tanpa membuang-buang waktu yang tersisa untuk mode Naruto, Kurama menghilang dari lokasinya tanpa jejak apapun.

Sirzechs, Serafall dan Grayfia kembali menaikkan kinerja lima indra untuk mengetahui dimana Kurama akan muncul—atau setidaknya memprediksi karena mencari tahu hanya akan berakhir sia-sia dikarenakan kecepatan teramat sangat gila mode Naruto. Tidak lupa juga mereka bertiga melapisi tubuh masing-masing dengan aura iblis tertinggi untuk menghidari luka fatal dari serangan fisik Kurama/Naruto yang tidak kalah mengerikannya dari kecepatan yang dimiliki.

3 detik berlalu dan entah kenapa terasa sangat lama untuk ketiga iblis tersebut, mata mereka memicing tajam tekanan Yōukai bercampur Senjutsu terasa di atas sekitar 10 meter jaraknya. Serafall yang berada paling dekat mengambil tindakan cepat melihat Kurama sudah melapisi tangan dengan api emas. Maōu perempuan ini membuka telapak tangan dan disana muncul lingkaran sihir keluarga Sitri lalu diarahkan menuju lokasi lawan.

"Tindakan yang tak berguna, Sitri." Kurama menyeringai bengis.

"Senpō Kōenteikai: Hiken!" (Sage Art Emperor Brilliant Flame Command: Flame Fist)

Pukulan yang dilakukan Kurama pada udara kosong menciptakan semacam peluru api seukuran mobil bus. Sama halnya Kurama, naga air yang besarnya melebihi serangan api emas tersebut keluar dari lingkaran sihir Serafall.

Seperti yang diucapkan Kurama. Seolah-olah tidak ada apa-apa pada jalurnya, api emas tersebut hanya melewati sihir Serafall. Benturan kedua elemen bertentangan itu meninggalkan uap panas beribu-ribu celcius yang melelehkan beberapa dahan pohon.

"Yang benar saja!" Sefarall memekik tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Mengikuti Sirzechs dan Grayfia yang sudah melompat ke kiri dan kanan, dia ikut melakukan hal yang sama dalang rangka menghindari peluru api Kurama di samping ratu Maōu Lucifer. Barulah ketika serangan tersebut lewat pada lokasinya, Serafall paham kenapa naga airnya tak berguna. 'Pa-panas sekali...' ujarnya selagi menghalangi hawa tersebut dengan menyilangkan lengan di depan wajah.

"Kau tak bisa kabur, Gremory!"

Serafall bersama Grayfia mengalihkan perhatian ketika mendengar suara berat Kurama menggema di bawah. Sebelum kedua iblis betina ini memperingati Sirzechs, Kurama yang muncul tepat di samping pria dengan rambut merah itu sudah terlebih dulu melancarkan pukulan telak yang tepat mengenai rusuk kiri.

Lalu, beberapa detik kedepannya, terjadi hal yang membuat Serafall dan Grayfia tak tahu harus berbuat apa, bahkan untuk mengeluarkan suara pun mereka kesulitan akibat kerongkongan yang tercekak. Kedua melihat dengan mulut terkatup rapat-rapat.

Dalam setiap detik yang berlalu, suara pukulan menggema, sesuatu yang mereka ketahui adalah Sirzechs melesat dengan kecepatan tak bisa diikuti mata terjadi, diikuti suara mirip misil yang diluncurkan, dan beberapa batang pohon bersama dahannya hancur tak bersisah, begitupun pada permukaan tanah yang beberapa kali tercipta kawah besar.

Tak terhitung jumlahnya Sirzechs dibuat seperti bola karet yang dipantul-pantulkan pada ruangan kecil oleh Kurama dalam waktu kurang dari semenit. Beruntungnya, Sang Raja Iblis Lucifer melapisi tubuhnya dengan kekuatan iblis bercampur sihir hingga tak sampai menyebabkan luka parah, namun tidak demikian untuk rasa sakit sesaat dan luka lebam.

Hingga pada suatu momen, serangan Kurama menciptakan jeda cukup panjang dalam artian sepersekian milidetik dari sebelum-sebelumnya, ketika Sirzechs meluncur ke bawah, menghancurkan pepohonan, dan hampir mencapai permukaan tanah Kurama telat berteleport karena sebuah alasan tak jelas. Sirzechs memanfaatkan jeda teramat singkat ini untuk melakukan sesuatu yang tadinya sangat mustahil untuk dilakukan.

"Kena kau..." Aura merah-hitam pekat menguar hebat dari tubuh Sirzechs, menyelimuti tubuhnya hingga tak ada satu pun tempat untuk Kurama mendaratkan kaki kanan yang sudah dilapisi api keemasan.

"Kupikir aku takut pada kekuatan yang kau bangga-banggakan itu, Gremory? Jangan terlalu berharap!"

Kurama membatalkan serangan, lalu menghilang dan muncul 10 meter di atas Sirzechs. Jika tadi kaki kanan yang diselimuti api, kini itu berganti ke kedua tangan yang terlihat hendak digerakkan melingkar. "Matilah, Gremory keparat!"

"Senpō Kōentekai: Koganei Bakuenjin!" (Sage Art Emperor Brilliant Flame Command: Exploding Golden Flame Blade)

Pusaran api emas disertai ledakan-ledakan kecil tercipta dari gerakan melingkar tangan Naruto, dan itu meluncur sangat cepat menuju lokasi Sirzechs yang semakin banyak mengeluarkan kekuatan warisan klannya.

Benturan dari kekuatan yang sama-sama bersifat penghancur absolut mengakibatkan ledakan maha dashyat mengguncang akademi Kouh, bahkan seisi kota. Ledakan itu sendiri menciptakan semacam bola raksasa berwarna merah hitam emas disertai kilatan-kilatan petir biru yang sesekali muncul dan menelan seperempat hutan Hashirama. Dalam bola raksasa itu sendiri, selain daripada Kurama dan Sirzechs. Tak ada satupun yang selamat, bahkan bakteri ikut hancur tak bersisah mengingat dua kekuatan yang saling beradu bersifat penghancur hampir mutlak.

Pasca ledakan yang mana meninggalkan semacam ruang bulat pada hutan padat milik Hashirama serta permukaan tanah yang cukup luas untuk menampung puluhan manusia. Di tengah-tengah kawah pada permukaan tanah yang mengambil seperempat ukuran ruang bulat itu, Sirzechs tengah berdiri dalam keadaan cukup berantakan dimana sobekan kecil dan hilangnya beberapa ornament pada pakaian yang dikenakan.

Sekitar 20 meter dari lokasi Sirzechs, masih pada kawah besar tadi, Kurama berada disana. Harus rubah ini akui, Sirzechs benar-benar patut diberi gelar iblis terkuat dunia bawah. Setelah diberi serangan bertubi-tubi yang ditutup salah satu tehnik terkuat Naruto, Maōu satu itu tidak mengalami luka berarti. Hanya ada beberapa luka lebam pada sekujur wajah serta rembesan darah kering pada sudut bibir.

"Haruskah aku kagum melihatmu masih dalam keadaan sedikit bugar, heh Gremory?"

"Butuh lebih dari ini untuk membunuhku, Kurama-dono."

"Hah..." Kurama mengeluarkan suara tinggi yang menyaingi penyanyi seriousa telinganya menangkap nada sombong dari Sirzechs. "Lagi dan lagi. Kesembongan tinggi seorang iblis. Yaa, aku tak terlalu kaget sih karena itu hanya pukulan dan tendangan biasa. Tapi, bagaimana jika itu Hōken atau Daibakuha Kagizume milik bocah ini? Kau mau? Mumpung hari ini moodku sangat baik untuk bertarung habis-habisan."

"Bagaimana kalau aku menolak?"

"Ya sudah..." Kurama merespon singkat selagi mengangkat bahu tidak peduli. "Aku kuberikan saja gratis tanpa persetujuanmu..."

Tanpa peringatan berarti, Kurama langsung berteleport tepat di samping kiri Sirzechs. Namun, berbeda dari sebelumnya, di kedua lengan dan kaki kanan Naruto api keemasan berkobar dahsyat sampai melelehkan beberapa material di sekitar termasuk ornament pakaian Sirzechs yang ditanggalkan beberapa saat lalu.

Seolah tidak terpengaruh oleh tekanan berat serta panas dari kekuatan Kurama, Sirzechs melirik ke kiri. "Anda melakukan kesalahan besar memberiku waktu beberapa detik untuk melakukan sesuatu yang sedari tadi sangat sulit untuk kulakukan."

"Oh, benarkah?" tidak kalah tenangnya dari sang Maōu Lucifer, Kurama berseru ringan melihat tubuh lawannya sudah terselimuti kekuatan khas klan Bael bernama Horobi no Chikara. "Aku nggak peduli tuh."

Akhirnya, untuk kali kedua Sirzechs kembali dibuat seperti bola karet dalam ruang kecil. Namun, kali ini sedikit berbeda dimana setiap serangan Kurama selalu disertai ledakan api emas, dentuman keras, kawah kecil apabila berdekatan pada batang pohon atau permukaan tanah, dan sebuah gelombang kejut kecil.

.

.

Pada sisi lain hutang, di pinggiran ruang bulat hasil ledakan puluhan detik sebelumnya, Azazel bersama Michael dan Okita telah tiba.

"Yare, yare..." Azazel hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan jalannya pembully-an Maōu Lucifer. Sekarang, melihat bagaimana Kurama menyerang Sirzechs, dia akhirnya yakin kalau ada niat busuk dibalik semua ini. Sayangnya, sifat kurang peduli yang sudah dibawa sejak lahir membuat Azazel tidak mau terlalu memikirkannya, terlebih ini bukan masalahnya untuk ikut campur, kecuali bila Sirzechs benar-benar tewas dalam pertarungan. Mengalihkan perhatiannya ke atas mengikuti Michael dan Okita, Azazel tersenyum mengejek. "Wah, wah... Haruskah aku terkejut melihat Ratu terkuat dunia bawah dibuat babak belur?"

Grayfia yang terbang mendekat sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Azazel barusan, ekspresi datar senantiasa menenami wajahnya yang kini dalam keadaan kurang baik.

Berbeda dengan keturunan Lucifuge, Serafall malah memberi respon negatif. "Ini bukan waktunya untuk bercanda Azazel. Sir-tan dalam keadaan bahaya." dia mendarat di samping Sōji dan menatap tajam sang Malaikat Jatuh Miskin. Namun, itu tak berlangsung lama karena sadar diantara mereka semua, hanya Azazel yang cukup tahu banyak soal kekuatan bertarung gabungan antara Naruto dan Kurama.

"Baik, baik. Aku mengerti. Sekarang, apa yang ingin kau lakukan? Kusarankan, jika ingin membantu Sirzechs, lebih baik jangan dulu."

"Jangan bercanda Azazel-dono. Jujur saja, aku tidak bisa berdiam diri melihat Sirzechs-sama diserang terus-terusan."

Pernyataan penuh loyalitas dari Souji dibalas Azazel dengan mendesah panjang. "Lalu, apa yang akan Taichōu-san perbuat... Lihat itu!" Azazel mengarahkan telunjuknya ke depan, yang mana setiap detiknya pada ruang terbuka di hutan terjadi ledakan. "Bagaimana caranya membantu bila kita sama sekali tidak bisa mengikuti kecepatan mereka berdua. Salah-salah, Sirzechs sendiri yang akan terkena serangan kita."

"Terus, apa yang kita harus lakukan?"

Azazel menoleh sejenak ke Michael yang bertanya, sebelum akhinya kembali memandang ke depan dengan ekspresi tenang. "Tunggu saat yang tepat." setelah memberikan jawaban yang sudah cukup meyakinkan untuk ketiga iblis disana, keningnya sedikit mengkerut memikirkan sesuatu. 'Ini sudah berlalu hampir lima menit. Kurang lebih dua menit lagi bila diprediksi dari jumlah Senjutsu yang dihisap Naruto dalam waktu singkat.'

"Daripada diam saja menunggu serangan Naru-tan selesai, ada baiknya kau jelaskan kenapa Naru-tan bisa secepat dan sekuat ini, Azazel?"

Azazel tidak langsung memberikan apa yang Serafall pinta. Ia berpikir sejenak mengenai konsekuensi membeberkan apa yang seharusnya dijadikan rahasia bersama dirinya dan Naruto. 'Yaa... Setelah ini, bocah siscon itu menceramahiku habis-habisan. Apa boleh buat...' keluhnya diakhiri desahan panjang.

"Itu bukanlah kecepatan." Azazel memulai singkat dengan membenarkan pemikiran Serafall. "Untuk kecepatan sendiri, tingkat Naruto mungkin sama dengan Ksatria milik Rias Gremory, atau mungkin dibawahnya. Namun, akan berbeda jadinya jika Naruto masuk mode mengerikannya ini. Beberapa dari kalian mungkin tahu bahwa bocah siscon itu memiliki tehnik teleportasi yang didapatkan dari kemapuannya menggunakan Senjutsu, nah jika dalam keadaan normal dia harus membuka portal dan melompat masuk ke dalamnya untuk berpindah, maka dalam mode mengerikannya yang sekarang dipakai, itu tidak perlu dilakukan. Cukup dengan berkonsentrasi pada tujuannya, dalam sekejap dia bisa berpindah selama itu masuk dalam ruang lingkup penglihatannya. Kurang lebih itu yang kutahu..."

Di sela-sela Azazel menjelaskan, dia bersama yang lain mengalihkan perhatian pada udara kosong 50 meter di depan ketika dentuman sangat keras diikuti gelombang kejut lumayan besar terjadi, memaksa tiga pemimpin faksi Injil disana menciptakan pelindung emas agar tidak terpental. Lalu tak berselang lama muncul lubang raksasa pada pinggiran kawah di bawah sana.

"... Kalau kekuatan, aku sendiri tak bisa memberi gambaran pasti. Toh, pertarunganku dan Naruto terjadi dua tahun lalu—Dia datang!"

Sebelum menyelesaikan, Azazel terpaksa memberi peringatan pada yang lain, walaupun Michael dan Serafall sudah menyadari apa yang diperingatkan.

Kurama, setelah menghadiahkan Sirzechs bogem bercampur Senjutsu dan Yōuki muncul diatas lokasi dentuman barusan. "Jadi, kerja sama antara kalian benar-benar sudah tercipta? Sampai-sampai ikut campur masalahku dan Gremory?" pandangan sinis yang tadi diarahkan pada semua orang disana tiba-tiba hanya terfokus pada Azazel. "Bahkan kau Azazel? Yang sudah sangat dipercaya oleh bocah ini?"

"Tolong sampaikan permintaan maafku pada Naruto nanti." Azazel membalas santai seolah-olah apa yang dia perbuat bukan hal besar seperti menghianati sebuah kepercayaan. "Dia pasti marah besar aku membeberkan salah satu kartu asnya."

Tapi apa memang benar Azazel menghianati kepercayaan Naruto?

"Maa... Lupakan saja. Aku juga—Oh, sialan..."

Laser merah hitam tiba-tiba saja melesat sangat cepat dari arah bawah, berasal dari dalam lubang dalam tempat Sirzechs berada. Serangan itu begitu mematikan dengan daya hancur absulot yang menyapu bersih apapun yang berada di jalurnya, namun tidak demikian untuk Kurama yang merupakan targetnya. Semudah membalik telapak tangan, ia menghindarinya dengan cara berpindah beberapa meter ke kiri.

"Heh..." Kurama menyeringai kecil ketika ia melihat Sirzechs terbang naik dengan raut wajah yang tidak biasanya diperlihatkan. "Jarang-jarang iblis sekelas Maōu terlihat kesal. Ada apa gerangan heh, Lucifer palsu?"

Sirzechs menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa." ucapnya penuh akan kebohongan. Sejujurnya ia kesal karena sudah hampir setengah menit berlalu, namun tubuh Naruto masih utuh. Ia sangat yakin bahwa selama hampir 30 detik ribuan Horobi no Chikara berukuran nano disusupkan dalam tubuh Kurama melalui pori-pori kulit. Terlebih, ini kali pertama ia melihat kejadian seperti ini. 'Jangan-jangan...'

"Oh, yah... Aku ingat. Tadi ada menjijikan yang mau menyusup ke dalam tubuh bocah ini. Aku tak tahu apa itu, jadi ya, kuhancurkan saja."

Dan terjawablah apa yang ingin diketahui oleh Sirzechs, sekaligus menegaskan untuk pertama kalinya ada seseorang yang mematahkan serangan andalan dari Maōu Lucifer. Tentu saja hal ini mengejutkan siapapun yang berada di sana.

"Sir-tan... Jangan bilang kalau dia?" Serafall, dengan pandangan terkejutnya menatap Sirzechs yang hampir mencapai lokasinya.

"Sepertinya begitu. Huh, dasar!" bukan Sirzechs yang menjawab, melainkan Azazel sambil geleng-geleng kepala tak percaya. "Kecepatan yang tak ada yang bisa menyaingi, ketahanan dan serangan fisik yang diluar nalar, pemulihan luka dalam waktu singkat sefatal apapun itu, dan sekarang mematahkan salah satu serangan yang kuketahui bersifat penghancur mutlak..."

Mendengar penuturan Azazel yang sangat sulit untuk diterima, mau tidak mau membenarkan pernyataan Kurama yang ingin memberi teror ketakutan nyata pada pihak iblis.

Michael memandang tubuh melayang Naruto dengan pandangan berharap. Harapannya bahwa apa yang didengar dari Azazel bukanlah kebenaran, namun fakta telah berbicara dan ketakutan yang ingin diberikan oleh Kurama benar-benar tereleasasikan. 'Ya Tuhan! Ini bukan lagi ditujukan untuk para iblis... Kami pun harusnya takut pada kekuatan semacam ini.'

"Dan jangan lupakan serangan yang melebihi Horobi no Chikara milik Sirzechs." Azazel tersenyum kecut memandangi sosok yang telah memberi teror ketakutan nyata pada mereka semua. "Kemunculan dua keturunan Lucifer dengan kekuatan yang tak kalah mengejutkannya. Sang adik merupakan Hakuryūkō terkuat sepanjang masa, dan kakaknya telah menemukan sebuah tehnik yang membuatnya tidak terkalahkan selama aktif. Ditambah lagi kelompok manusia berkuatan misterius yang memiliki tujuan balas dendam, dan masih banyak lagi hal-hal mengerikan yang kuprediksi akan muncul. Era ini benar-benar mengerikan, haruskah aku menyebutnya sebagai—"

"—Saiaku no Jidai (The Worst Era)?"

.

.

.

"Era terburuk, era terbaik, era terkuat, era terlemah... Terserah kalian mau menamainya apa..." wajah Naruto yang sesekali mengeluarkan uap emas menampilkan raut kebosanan mendengar curhatan tidak berguna Azazel. "Namun, kau mungkin benar kalau era ini benar-benar mengerikan. Firasatku mengatakan bahwa impian Kokabiel benar-benar terwujud, walau itu sedikit melenceng."

Para iblis dan Michael mengerutkan kening mereka bingung, namun tidak demikian untuk Azazel yang tahu sebagian besar dari impian dari bawahannya itu.

"Sepertinya begitu." ujar Azazel singkat.

"Kalian, Khaos Brigade, kelompok bocah ini. Masing-masing dari ketiganya menginginkan sesuatu yang berbeda namun begitu besar. Perdamaian, revolusi dan balas dendam. Untuk mewujudkan ketiga hal ini haruslah melalui sebuah pertempuran yang sangat dahsyat, yang mungkin saja lebih dari perang besar kalian ribuan tahun lalu. Bukankah itu yang diinginkan oleh jendral malaikat jatuh haus perang macam Kokabiel?"

Azazel tersenyum kecut dan kembali menjawab singkat. "Kau mungkin ada benarnya."

"Namun, apa kalian benar-benar percaya bahwa tujuan Kokabiel memang benar ingin melanjutkan peperangan diantara kalian?" tanya Kurama, namun sebelum ada yang menjawab, dia menyadari sesuatu. "Aah, sialan! Kenapa malah membicarakan orang yang telah gugur. Dan ya, kuakui kau cukup pintar untuk membuang-buang waktuku Azazel dengan sengaja terpancing mengenai tujuan Kokabiel..."

"Tck!" Sang Gubernur Malaikat Jatuh berdecak pelan, wajah santai lalu dia perlihatkan untuk menutupi rasa kesalnya. "Yare, yare... Ketahuan ya?"

Tanpa gerakan dan peringatan berarti, Kurama langsung menghilang dan muncul tepat di hadapan keempat lawannya. "... Mari lanjutkan tariannya!"

Berada pada posisi depan, Azazel bersama Sirzechs melompat ke belakang sambil mengarahkan telapak tangan ke Kurama. Dalam selang waktu yang hampir bersamaan, lingkaran sihir masing-masing tercipta di depan dua pemimpin itu, begitupun dengan Kurama yang mengepal tangan kanan dan menyelimutinya dengan api emas.

Mengikuti pergerakan kedunya, Michael bersama dua iblis betina mengepak sayap masing-masing. Michael menuju atas Naruto, sedangkan Serafall dan Grayfia mengambil kedua sisi kosong. Sedangkan Okita menggunakan kecepatan dewa yang dimiliki untuk menyelinap ke belakang lawan.

Di kepung berbagai arah kecuali bawah sama sekali tak membuat Kurama ketakutan. Terbukti dari tangan kiri yang kini juga ikut dilapisi api keemasan.

"Grayfia-chan!" Serafall memanggil sesama pengguna elemen es. "Bekukan udara dan bentuk dinding menutupi kita semua."

Mengantisipasi teleport instan Naruto dengan memangkas jarak pandangnya berada di sekitar mereka, itulah yang ingin dilakukan dua iblis betina ini. Hawa dingin mulai melanda area tersebut diikuti munculnya partikel-partikel es dan dengan cepat membentuk dinding es tebal yang akhirnya menjadi kubah besar, mengurung mereka semua dalam satu ruang tertutup.

"Sirzechs, Michael!" teriak Azazel menyadari kalau melancarkan serangan serentak pada ruang tertutup berpotensi melukai mereka juga. Namun, bukan Azazel namanya jika tidak bisa menemukan solusi untuk mencegah hal tersebut. "Sekali atau tidak selamanya!"

"Sekali... Jangan bercanda! Mari gandakan kesempatannya...!"

Tepat setelah Sirzechs berteriak tanpa keraguan di dalamnya, empat serangan menghujani Kurama. Okita adalah yang pertama, dalam sepersekian detika saja ia menarik katananya lalu menghilang dan muncul di hadapan Kurama sambil membelakanginya, aura yang senada seperti api sang lawan menyelimuti senjata tajam Jepang itu.

Mengikuti jejak mantan kapten divisi pertama Shinsengumi, tiga pemimpin fraksi melancarkan serangan masing-masing. Azazel meluncurkan puluhan tombak cahaya secara bersamaan dari lingkaran sihir di depannya, Sirzechs dengan power of destruction berskala besar, dan Michael yang sebelumnya sudah menggenggam tombak cahaya sepanjang 2 meter dengan aura suci yang bahkan iblis sekelas Grayfia dan Serafall diserang rasa nyeri pada kulit, melemparnya menuju Naruto.

Kurama tak bisa mengabaikan rasa sakit yang teramat sangat pada punggung dan perut oleh serangan Okita, ia meringis pelan saat cairan merah kental yang lumayan banyak terciprat dari sana. Namun, luka semacam itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan berkat regenerasi cepat dari Museigen no Furu Pawā. Tiga serangan dari masing-masing faksi yang kini menjadi fokus utamanya, ia bisa saja lolos dari itu dengan cara berteleport ke tempat yang bisa diingat, seperti halaman akademi kuoh atau kawah besar pada permukaan hutan.

"Mari kita buktikan!"

Kurama bergumam sangat pelan untuk dirinya sendiri. Ia putuskan untuk mengambil langkah nekad menghadapi serangan bersifat pemusnah dari Sirzechs, Azazel dan Michael. Niat awal yang ingin mengeluarkan tehnik offensif dibelokkan menjadi defensif, walau defensif namun bisa juga melukai lawan-lawannya. Kedua tangan Naruto yang diselimuti api dipukulkan pada udara kosong ke arah bawah.

Sōji menyadari jika Kurama hendak melakukan sesuatu segera menjauh dari tubuh Naruto. Bersamaan setelah Ksatria Lucifer sudah berada di belakang rajanya, Kurama menyerukan tehnik yang dikeluarkan.

"Senpō Kōenteikai: Hibashira!" (Sage Art Emperor Brilliant Flame Command: Flame Pillar)

Seperti namanya, pilar api raksasa yang berhasil menjebol kubah es pada bagian atas muncul tepat sebelum tiga serangan datang menghampiri Kurama.

"Kena kau, rubah brengsek!" Azazel menyeringai misterius. "Sekarang... Michael, Sirzechs!"

Memanfaatkan jeda yang tercipta sebelum ledakan besar membumi hanguskan mereka semua, Azazel diikuti oleh dua pemimpin faksi injil menciptakan sebuah pelindung super kuat yang mengurung Kurama seorang diri di dalamnya. Untuk menambah daya tahan dari pelindung tersebut, Serafall bersama Grayfia dan Sōji memberi bantuan berupa suplai gabungan antara sihir dan kekuatan iblis.

Dimulai dengan bercampurnya lima warna berbeda di balik pelindung, lalu mengecil salagi mengeluarkan desingang kencang, ledakan pun terjadi di dalam sana. Berkat pelindung super kuat yang sudah berubah bentuk dari bulat ke tidak karuan, benturan empat tehnik yang bisa saja menghancurkan akademi Kuoh bahkan seisi kota tidak terjadi, namun tidak demikian untuk sebuah gempa berskala kecil yang muncul karena luar biasanya ledakan di balik pelindung tersebut.

Pandangan datar yang sarat akan rasa penasaran masing-masing diperlihatkan oleh lawan Kurama menunggu hasil dari kombinasi serangan barusan. Bahkan Azazel dan Sirzechs tidak pernah melepas pandangan dari ledakan yang sesekali memunculkan petir keemasan.

Memakan waktu sekitar setengah menit lamanya untuk penantian lawan Kurama berakhir. Mengira bahwa serangan gabungan mereka setidaknya berhasil memberi luka fatal pada sang Yōukai berwadah pemuda keturunan setengah iblis Lucifer, Azazel dan dua pemimpin faksi injil dibuat terkejut menyaksikan apa yang terjadi.

Di balik pelindung yang masih tersisah cukup banyak partikel-partikel hitam, tubuh Naruto hanya mendapatkan satu luka, lebih tepatnya hanya satu serangan yang membuahkan hasil berarti. Dua serangan lain hanya bisa menghancurkan pakaian Naruto menyisahkan celana robek-robek dan sepatu boot hitam.

"Maaf!"

Satu kata singkat terucap sangat pelan dari mulut orang yang serangannya berhasil. Dialah Michael yang sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi puas akan pencapaiannya.

Walau begitu, Michael akan berbohong bila tidak terkejut seperti yang lain. Namun, keterkejutannya bukan karena Kurama berhasil lolos dari tiga serangan barusan, melainkan tidak menyangka bahwa serangan miliknya yang berhasil. Padahal, ia hanya mengompres Light-Based Power dalam jumlah cukup banyak dan dibentuk menjadi tombak. Apa dikarenakan tombak cahaya miliknya mengandung energi suci yang tidak mampu dihancurkan oleh api emas tersebut? Lalu mengapa tidak ada satu pun tombak cahaya milik Azazel yang mendarat pada tubuh Kurama?

Belum sempat memikirkan alasan lain kenapa hanya serangan miliknya yang berhasil. Michael dengan cepat mengambil posisi siaga kala penghilatannya sudah kehilangan Naruto di dalam pelindung sana.

Memanfaatkan keterkejutan lawan-lawannya, Kurama mulai melancarkan serangan balik selagi tombak Michael masih menancap pada bahu kiri Naruto yang tembus ke di bawah ketiak. Muncul di hadapan Azazel yang menurutnya paling pantas diberi sedikit pembalasan, dia mengambil ancang-ancang hendak melakukan pukulan lurus dengan tangan kanan.

Azazel melebarkan mata tambah terkejut, sekaligus tidak menyangka akan menjadi target pertama Kurama. Ia sangat jelas melihat kilatan tajam dari mata merah yang berada tepat di hadapan wajahnya. "Huh, dasar... Jangan pasang mata semenyeramkan itu, rubah brengsek. Tadi itu aku menyerang tidak dalam kekuatan penuh, loh!"

"Kalau begitu..." kilatan tajam pada mata merah Naruto menghilang seketika, bahkan senyum kecil sudah terukir di sana. "Ini juga bukan kekuatan penuh dari Hōken. Anggap saja balasan sudah membongkar—Apa lagi ini? Gelembung?"

"Speranza Bolla di Sapone!" (Rainbow Colored Hopes)

Sayangnya, sebelum Kurama mendaratkan Hōken, suara yang sedikit menyiratkan ketidakpeduliaan menginterupsi semua mahluk disana. Mengalihkan perhatian ke sumber suara, mereka melihat Dulio tengah duduk santai pada lubang kecil pada dinding es. Mulutnya nampak meniup udara menuju tangan kanan yang membentuk lingkaran. Hembusan udara yang melewati lingkaran mencipta gelembung besar yang beberapa diantaranya sudah meledak menjadi lebih kecil di sekitar Kurama.

Kurama yang tidak tahu apa efek bila menyentuh gelembung-gelembung tersebut memilih untuk tetap memukul, itupun menyebabkan lengan kanan Naruto menyentuh beberapa gelembong dan pada momen itu pula pukulannya terhenti beberapa centi sebelum mencium wajah Azazel.

Speranza Bolla di Sapone, sebuah tehnik yang diciptakan oleh Dulio menggunakan Zenith Tempest, Longinus yang dimiliki. Siapapun yang menyentuh gelombung dari tehnik tersebut akan mengingat sesuatu yang paling penting dalam hidup mereka, dan berakhir dengan hilangnya keinginan bertarung atau membersihkan pikiran mereka. Inilah yang menyebabkan Kurama menghentikan serangan, entah sedang mengingat sesuatu yang paling penting untuknya atau pikirannya tengah dibersihkan.

Menghela nafas lega yang sangat panjang, Azazel bersyukur—sangat-sangat bersyukur Dulio muncul tepat sebelum wajahnya mencium bogem tidak mentah bercampur Senjutsu dan Yōuki. Andai kata Dulio tak muncul, ia pasti membutuhnya waktu 5 hari untuk mengembalikan bentuk wajah penuh kharisma tersembunyi yang dimiliki—Hoek!

Mata Azazel langsung berkilat tajam ketika melihat Sirzechs, Serafall dan Grayfia hendak melancarkan serangan pada Kurama yang kini dalam keadaan sangat rawan akibat dari kemampuan unik dari Zenith Tempest. Lalu, apakah ia akan membiarkan Kurama dan Naruto diserang oleh tiga iblis disana yang berpotensi nyawa keduanya melayang?

Azazel berani bersumpah atas semua yang dia miliki tak akan membiarkan Naruto dan Kurama tewas. Bukan karena apa Azazel berpikir demikian. Dia tak akan perduli bila dipanggil mesum, bejad, malas, pemimpin tak bertanggung jawab dan sebagainya. Namun, dia tak mau, tak akan mau dipanggil penghianat oleh siapapun yang telah memberikan kepercayaan sangat besar kepadanya, salah satunya adalah Naruto dan juga Kurama.

Rubah brengsek itu mungkin menjengkelkan, kadang bikin kesal, arogan dan tsundere(?), namun terlepas dari semua itu, Kurama adalah partner Naruto, dan Naruto sendiri merupakan teman—bahkan sahabat untuk Azazel. Dalam kurung waktu dua tahun mengenal Naruto, tidak pernah dibuat kecewa apalagi menghianati kepercayaannya pada pemuda itu.

Dipandang sesinis tadi oleh Kurama saja sudah membuatnya merasa sangat tidak enak, apalagi jika tidak bisa berbuat sesuatu ketika Naruto dan Kurama dalam keadaan sangat rentan seperti ini.

Hidup ribuan tahun hidup lamanya dan menemui berbagai macam konflik, Azazel tahu betul seperti apa perasaan seseorang apabila kepercayaan yang diberikan dihancurkan dan dihianati. Bahkan, dia sendiri baru saja mengalaminya. Mengenai insiden Kokabiel kemarin, di depan Michael dan Sirzechs dia mungkin terlihat tidak peduli dan hanya meminta maaf atas tindakan bawahannya itu. Namun, nyatanya, dia benar-benar tak bisa menahan diri untuk tak mengamuk ketika tahu Kokabiel telah merusak kepercayaan yang dia berikan sebagai seorang pemimpin dengan menyerang dua pewaris klan iblis demi tujuan bodoh ingin melanjutkan—memulai kembali peperangan antara tiga fraksi Injil.

'Mungkin, setelah malam ini berakhir, kau tidak lagi berjalan di jalan yang sama denganku. Namun selamanya, kepercayaan dan semua bantuan yang kau berikan tak akan kuhancurkan dan kulupakan, Jadi, inilah balasan untuk semua itu dariku, bocah!'

Mengerahkan semua kekuatan fisik yang dimiliki, Azazel melancarkan tendangan tinggi yang tepat mengenai sisi kiri kepala Naruto sampai terpental jauh, menembus dan menghancurkan dinding es serta beberapa batang pohon sampai akhirnya menabrak satu pohon yang menciptakan kawah besar.

Semua dibuat tidak percaya atas apa yang dilakukan Azazel, terlebih untuk para iblis terutama Sirzechs.

Mendesis pelan dan men-cancel serangannya, Maoū Lucifer berseru. "Apa yang kau lakukan Azazel?"

"Menyelematkan dirimu dan rasmu dari kepunahan di masa depan." Azazel menjawab tidak kalah keras. Beruntung, ia bisa menggunakan itu sebagai alibi untuk menyelematkan Naruto. "Apa kau lupa jika kelompok bocah ini merupakan pembalas dendam? Apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi bila membunuh Naruto, hah?"

Kemampun berpikir Azazel nampaknya belum menumpul sedikit pun. Niat awal yang hanya ingin membalas semua yang telah Naruto berikan dan lakukan untuknya berhasil dibuat tak terlihat secara langsung. Dengan menggunakan alibi latar belakang kelompok Naruto, dia mungkin bisa meyakinkan dua pemimpin di dekatnya percaya dia melakukan tindakan barusan demi perdamaian dunia dan juga kelangsungan hidup bangsa iblis.

... Dan itu berhasil!

Sirzechs ternyata dibuat bungkam oleh pertanyaan Azazel. Itu benar, dia sama sekali tidak memikirkan konsekuensi bila membunuh Naruto yang ikut menyeret Kurama ikut serta. Itu sama saja menuang minyak ke kobaran api, tidak sedikit pula. Pertama, jika membunuh Naruto, otomatis kebencian kelompok Naruto akan semakin besar pada ras iblis. Ditambah lagi ras Yōukai yang tidak akan berdiam diri setelah salah satu anggota terkuat mereka dibunuh.

"Serius Sirzechs! Apa hanya karena kelakuan bengal rubah brengsek itu kau akan membunuh manusia—setengah manusia yang telah banyak membantu dunia bawah, faksimu? Sepertinya aku harus menguji kapabilitasmu sebagai seorang pemimpin, Sirzechs."

"Kau mempertanyakan kapabilitas pemimpin lain, tapi tak sadar kapabilitasmu sendiri patut dipertanyakan—harus malah, Azazel."

"Diamlah, malaikat kepala batu!"

"Siapa yang kau panggil kepala batu, otak mesum?"

"Siapa lagi kalau bukan kau, pirang."

"Kau juga pirang. Walau cuma poni saja."

Dan terjadilah, adu mulut tidak berguna antara Azazel dan Michael. Dari kejauhan, Dulio hanya bisa sweatdrop menyaksikan malaikat yang dikenal sangat bijaksana sudah keluar dari apa yang dibayangkan. Bukan hanya Dulio, tiga iblis lain ikut sweatdrop, bahkan Sirzechs yang tadinya sempat dikuasai amarah.

Semakin parahnya tingkah laku dari Michael membuat Dulio facepalm.

"Inilah kenapa aku malas menghadiri acara membosankan macam ini."

.

.

.

.

.

"Tck, itu tadi apa? Ingatan? Ilusi atau apa?"

Selagi mempertanyakan kenapa dirinya tiba-tiba mengingat sesuatu yang paling berharga, Kurama menarik paksa tombak Michael yang ternayat menyusut setengahnya. Rasa nyeri teramas sangat sempat terasa walau hanya sebentar dari luka yang perlahan mulai tertutup pada bahu dan sisi kiri dada Naruto.

Tentu saja Kurama tidak mengetahui kemampuan tersebut. Rubah ini sudah sangat lama menghilang dari dunia, serta menutup diri dari segala kejadian yang muncul, termasuk Fatal Error dari Program Sacred Gear. Sejauh yang Kurama ingat, Zenith Tempest merupakan Longinus terkuat kedua yang memberikan penggunanya kemampuan untuk memanipulasi elemen alam.

Aah, peduli setan dengan itu! Waktu yang ia miliki dalam mode mengerikan Naruto tinggal sedikit lagi, dari yang ia prediksi kurang dari semenit. Sebelum benar-benar habis, dan tubuh Naruto menjadi sasaran empuk, lebih parahnya ditahan oleh Sirzechs. Kurama ingin melakukan sesuatu yang merupakan salah satu tujuannya nekad melawan pemimpin tiga fraksi injil.

"Ugh..."

Rasa nyeri lain tiba-tiba muncul hingga membuat Kurama meringis pelan. Dada Naruto tiba-tiba terasa sangat ngeri melebihi tusukan tombak Michael. Menyusul dibelakang, darah segar mulai mengalir dari lubang hidung, telinga dan mulut inangnya. Apa yang ia prediksikan nampaknya melenceng jauh. Satu per satu organ dalam Naruto perlahan memburuk kondisinya. Detak jantung mulai tidak karuan, otak yang terasa diremukkan, dan pembuluh darah yang hancur di beberapa bagian.

"Hanya sampai disinikah? Sepertinya, lama tidak terpakai membuat Overlimit Layline kurang efesien. Suplai Yōuki dan Senjutsu yang terkirim hanya bisa menambah semenit penggunaan tehnik Naruto. Apa boleh buat, mungkin cukup sampai disini saja."

Memanfaatkan puluhan detik yang tersisah dari mode Naruto, Kurama langsung menghilang dari lokasinya.

Muncul di tengah-tengah kerumunan mahluk supernatural yang tengah dilanda sweatdrop atas tingkah Michael dan Azazel. Kurama menyulut banyak api emas di kedua tangan dan melakukan gerakan berputar melawan jarum jam.

Azazel bersama yang lain menyadari kedatangan Kurama dan memasang kembali pose bertarung masing-masing. Namun, semuanya akan segera berakhir. Entah Kurama yang keluar sebagai pemenang, atau aliansi tiga fraksi, atau membuahkan hasil imbang. Tehnik yang akan dikeluarkan Kurama akan menjadi penentu.

Melihat wajah Naruto sudah dipenuhi darah setengah kering pertanda dari efek penggunaan sekaligus menjadi kelemahan terbesar dari mode mengerikan Naruto, serta gerakan memutar dengan kedua tangan terayun agresif. Azazel jadi panik bukan main.

"Oi, oi, oi... Jangan bercanda, rubah sialan!"

"Aku hanya bercanda, Azazel. Jangan mengambil hati tindakanku ini, ya..."

Kepanikan Azazel semakin menjadi-jadi ketika apa yang ia tidak inginkan dari gerakan tangan Naruto benar-benar terjadi. Malam ini, di mana konferensi yang bisa saja menjadi penentu damai atau tidaknya dunia, untuk kali kedua bagi Azazel melihat tehnik yang telah menghancurkan salah satu penemuan paling berharganya. Penemuan yang memungkinkan untuk sang malaikat jatuh menciptakan dimensi pararel sebagai arena pertarungan.

Beruntung, ia membawa penemuan tersebut, dan telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mempermudah penggunaanya. Namun, kali ini bukan untuk digunakan sebagai arena pertarungan, melainkan untuk kabur dari salah satu tehnik pemusnah kombinasi Naruto dan Kurama.

Gerakan melingkat agresif Naruto mulai menampakkan wujud serangannya. Dari ketiaadaan, muncul kobaran api jingga bercampur emas, dan hanya dalam waktu singkat kobaran api tersebut membesar menjadi lautan api dalam bentuk lingkaran raksasa yang menelan hampir seluruh area akademi Kuoh.

Pada pusat kobaran api tersebut, Kurama masih tetap menyulut banyak api di tangan Naruto untuk menambah luas area yang akan dihancurkan oleh serangannya.

.

.

.

"Senpō Kōenteikai: Kesshō Mekkyaku" (Sage Art Emperor Brilliant Flame Command: Final Stage of Annihilation)

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Author Brengzeck Note:

Hell yeah! Setelah dipukul Drama yang diragukan Feel-nya ngena. Langsung disambung Full-Fight Gaje dari Kurama yang mengendalikan tubuh Naruto.

Well, seperti yang terjadi di Chapter ini. Kurama dan Naruto nampak sangat Overpowered sampai membuat kewalahan lawan-lawannya yang bukanlah kelas menengah ke bawah. Sejujurnya, Naruto dan Kurama sepertinya belum bisa digelari Overpower, soalnya mereka berdua bisa seperti Chapter di atas hanya ketika berada dalam Mode Mengerikan Naruto. Akan lain cerita apabila Naruto hanya menggunakan Senjutsu dan Kekuatan Kurama, biarpun itu sudah dilepaskan secara keseluruhan.

Hmn... Untuk status kekuatan Naruto sekarang ini [Bila Mode terkuat tak dihitung], bisa dikatakan sekuat Karna di Fate Series.

Dan sekarang, alasan kenapa Souji Okita dan Diehauser Belial dihadirkan dalam KTT 3 Fraksi telah terungkap. Ya, walau kesan keikutsertaan mereka seolah-olah hanya untuk memberikan gambar superiornya Naruto di Fic ini. Lebih dari itu, ada alasan lain keduanya ditambah Dulio Gesualdo diikutkan. Jika jeli, akan ada clue yang bisa didapatkan dari tiap-tiap tindak-tunduk kedunya.

Selanjutnya... Mengenai Azazel. Well sepertinya tak perlu dijelaskan kenapa dia mau menolong Naruto. Toh, sudah ada penjelasan kenapa dia sampai melakukan itu. Kepercayaan, itu alasannya.

Last but not Least... Kushiel: Dia merupakan salah satu dari tujuh Malaikat Penghukum. Dan dalam Book of Enoch 10:3, Kushiel adalah "Ketua Malaikat Penghukum" dan tinggal di Surga tingkat ke-3. Lengkapnya... Cari saja di Mbah-Gugel atau Eyang-Wikipedia... Nah di Fic Daybreak ini. Kushiel termasuk Malaikat Terkuat namun tidak termasuk dalam Ten Seraph. Dikenal sebagai 'Malaikat Penghukum' dan 'Kemarahan Tuhan' dan dia memiliki dua julukan: Dari Ras Iblis dan Malaikat Jatuh yang pernah melawan dan selamat dia dijuluki 'Eksistensi Paling Ditakuti Ras Iblis'. Sedangkan Lucifer, Asmodeus dan Leviathan pertama menjulukinya [Sang Pembantai Iblis]. Sejatinya, Kushiel ini mungkin hanya disebut saja. Soalnya informasi dari Michael sangat akurat bahwa Kushiel telah gugur. Anggap saja hanya untuk memberi sedikit peringatan, Ya peringatan untuk fraksi iblis.

Haha, Author tidak membenci Fraksi iblis, hanya saja alur FF ini memang seperti ini. Membuat Fraksi Iblis seolah-olah menjadi antagonis di Arc III.

Ok, sekian untuk Author Brengzeck Note-nya.

.

.

Selanjutnya mari membalas Review dari akun sejuta umat.

Untuk yang me-Review 'Next', ' Lanjut' dan sebaginya... Ini sudah dilanjut :v

Kedua... Hmmn, sebenarnya Author tak akan perduli pada Review seperti milik [Bolt], hanya saja... karena ini kali ke-4, atau mungkin 5 mendapat Review seperti miliknya. Maka akan dijawab di Chapter ini.

Well... Bukan hanya [Bolt] dan kawan-kawannya saja. Sebenarnya Author sendiri juga berpikir alurnya berputar tak jelas dan terlalu bertele-tele. Namun, sayangnya... Itu memang sudah bagian dari Plot yang Author buat bersama [Stark Fullbaster 014]. Dengan menaruh Summary fokus dan mungkin ending FF akan mengarah ke pembalasan dendam MadaHashiNaru pada kelompok yang telah membantai Konoha. Hmmn begini, jika tujuan itu cepat dibuat tercapai tanpa dibuat berputar-putar dulu, mungkin larinya malah ke agak dipaksakan. Ya, walau memang agak dipaksakan sih alurnya.

Maka dari itu. Author membuat alurnya berputar-putar di sekitar konflik masing-masing MC, namun tetap berjalan menuju tujuan mereka untuk membalas dendam. Terlebih, Author ingin agar setiap MC mendapatkan konflik merata agar seimbang dn tak hanya berfokus ke Naruto saja.

Jadi, untuk [Bolt] dan yang sepemikiran alur yang Author buat berputar tidak jelas dan bertele-tela, Author tak memaksa kalian untuk tetap mengikuti FF ini. Tombol back masih belum di blok Menkomimfo, so masih bisa diakses dengan mudah.

FF Hamba ini bukanlah FF yang memakai Alur lurus seperti berjalan di jalan lurus yang mana sudah terlihat samar-samar apa yang ada di depan sana. Hamba berusaha membuatnya berkelok-kelok, menanjak, menurun dan apalah-apalah agar tidak mudah ditebak apa yang akan terjadi kedepannya.

Serta, Alur FF hamba tak akan dibuat berjalan sambil memungut sampah [Heroine] di sepanjang jalan. Hamba akan berusaha untuk tidak melakukan itu, karena bagaimana pun ada Genre Romance yang ikut serta. Jadi kedepannya pastinya ada konflik Romance yang tentu saja juga terhubung menuju tujuan balas dendam dari para MC.

Ok... Sekian balasan Review akun Sejuta Umat yang malah mirip Curhatan tak berguna seorang Author Pinggiran ini.


Brengzeck-id 014 [Root Loliwood] and Stark Fullbaster (Yang sekarang ini mungkin sudah berkubang dalam darah kebejatannya :v) Out! Mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade dulu! '-')/

Salam Lolicon dari Lolicon KBH!

—BUKAN PEDO OIIII!

... And ...

Mind to Review?