Hujan.

Hanzo sudah seringkali mendengar kata itu dan seringkali melihat salah satu fenomena normal alam itu. Tapi apa bisa dikatakan normal jika suatu daerah terus diliputi air hujan? Hanzo hanya menganggap daerah yang dikuasainya terus bersedih akibat Perang Dunia Shinobi Ketiga. Amegakure hanyalah desa kecil tak bersalah, tetapi akibat daerah strategis untuk areal perang yang dikelilingi 3 desa besar, jadilah Ame menjadi bulan-bulanan perang terkutuk tersebut.

"Hanzo-sama, kami berhasil melacak keberadaan para pemberontak itu!"

Hanzo menatap datar ninja-nya yang memberikan laporan dengan nada gugup. Sang Salamander membenarkan penutup mulutnya dan memberikan instruksi kepada para ninjanya untuk segera bergerak.

"Tangkap para pengendali rantai itu!" kata Hanzo dingin, yang diiringi teriakan "Hai'" kompak dari ninja-ninja Amegakure. Mereka melesat keluar dari kediaman Danzo yang tertutup. Danzo memejamkan matanya dan telinganya terus menangkap suara tik tik tik yang deras di atap kediamannya.

Hujan.

Hanzo sangat bosan dengan langit gelap yang menuruni air alam tersebut.

THE UZUKAGE

BY DONI REN AND ICHA REN

NARUTO IS ALWAYS BY MASASHI KISHIMOTO

THE UZUKAGE PROJECT

STORYLINE PART 2, THE RISE OF UZUSHIOGAKURE

Arc Pernikahan Shion (IwaSuna Arc)

"Cinta bukanlah seperti air mengalir, Cinta adalah angin yang diarahkan." –Shion, Demon Nation Queen's

WARNING: OUT OF CHARACTER, OUT OF CANON, IMAGINATION, SOME HARD LANGUANGE AND 18+ LANGUANGE, A LITTLE BIT 18+ SCENE (NO SEX SCENE), A LITTLE BIT GORE AND H-AUTHOR

GENRE: ADVENTURE-ROMANCE-DRAMA

PAIR: UZUMAKI NARUTO x SHION

POV: NORMAL POV

FOR THIS CHAP, SHION POV

HAVE FUN READ, BRO AND SIS!

.

.

.

The Rise of Uzushiogakure

Chapter 29

16 Desember, Iwagakure

Shion POV

Malam tanggal 16 Desember kembali menghampiriku. Seperti biasa, aku berbaring miring ke kanan menghadap jendela kamar untuk menikmati rembulan Iwa yang lembut. Salju turun perlahan-lahan di sana, mengisyaratkan bahwa di luar sangat dingin. Tetapi aku yah…ingin keluar dari tempat hangat ini. Bukan alasan egosime atau istilah kemauan wanita yang berlebihan. Aku benar-benar sendu menunggu di desa berbasis kekuatan batu ini.

Walaupun Tsuchikage sudah menjamin keselamatan, kesejahteraan dan kebersihanku-yang bisa kukatakan lebih baik daripada di Kiri-, tetapi tetap saja hatiku masih menunggu penyelamatan dari dirinya. Aku tak tenang berada di sini. Kehangatan yang diberikan Tsuchikage tidak setara dengan tatapan-tatapan membunuh dari orang-orang di sekitarnya. Para petinggi Iwa nampaknya tidak setuju Oonoki-jiji, begitulah dia ingin dipanggil walaupun aku lebih suka memanggilnya Tsuchikage, memberikan fasilitas nyaman kepadaku bak tamu hotel. Aku adalah tawanan perang. Aku adalah salah satu item dari hidupnya Gerbang Saiken yang diramalkan pendiri Ninshu Rikudou Sennin. Aku adalah sosok wanita yang perlu dihilangkan dari dunia ini.

Aku merasa bahwa diriku tidak aman di desa ini.

Turunnya salju membuat kaca jendela kamar itu berkabut. Aku segera ingin memejamkan mataku dan berharap besok ada berita bahwa seorang pemuda bodoh bersurai merah dengan mata biru menyerang Iwa untuk mendapatkan istrinya kembali. Aku tersenyum membayangkan hal tersebut. Tiba-tiba ingatanku mengalir kepada ucapan Tsuchikage ketiga kemarin. Ucapan yang mengejutkan. Ucapan yang membuatku berpikir seribu kali untuk berdiam diri di desa ini.

"Menikahlah lagi…"

"…Dengan anakku, Kitsuchi. Dia duda dan kau janda,"

"Menikahlah dengan anakku Shion, maka kau akan selamat

"Ya, kau akan selamat!"

Ini adalah keputusan berat. Artian selamat dari Tsuchikage bisa mengandung banyak makna. Aku takutnya, jika aku tidak menikah dengan anaknya, maka Tsuchikage akan mengekskusiku langsung di sini. Jika identitas Naruto diketahui, maka rencana para Kage 5 desa besar untuk membunuh suamiku gagal. Pilihannya sekarang adalah membunuhku, karena sekarang aku-lah yang berada di genggaman mereka.

Baiklah Shion…tidurlah. Aku terlentang dan menatap langit-langit kamar ini.

Uzumaki Naruto…apa yang sedang kau lakukan? Apa yang sedang kau rencanakan, suami Ratu Negeri Iblis?

17 Desember, Iwagakure

"Ohayou, Shion-sama."

"Ohayou, Oonoki-jiji…"

Aku mendaratkan pantatku di kursi empuk tersebut. Kini dihadapanku ada sebuah meja makan besar dengan puluhan jenis makanan yang menggairahkan. Ruang makan Tsuchikage memang sangat baik dan terawat. Kau bisa mencium bau buah-buahan di ruangan ini yang membuat selera makanmu bertambah. Aku memandang Oonoki yang duduk di sisi kiri meja makan. Di hadapanku, ada sesosok pria berbadan besar dan tegap, dengan hidung besar membulat di ujungnya dan garis di sisi mulutnya. Dia memiliki janggut yang unik. Itulah Kitsuchi, anak dari Tsuchikage ketiga. Dia tersenyum kepadaku dan mengatakan selamat pagi dengan sopan. Tipe pria yang baik.

"Ohayou, Shion-sama…" suaranya terdengar renyah.

"Ohayou, Kitsuchi-san."

"Hei Aka, siapa suruh makan duluan ha?!"

Aku memandang anak laki-laki bertubuh besar dengan bentuk wajah yang hampir mirip dengan ayahnya. Namun matanya lebih ceria. Akatsuchi, bocah berusia 14 tahun tersebut hanya bergumam maaf kepada ayahnya tetapi mulutnya masih terus mengunyah makanan di meja ini.

"Katakan selamat pagi kepada Shion-sama, cepat!" kata Kitsuchi dengan wajah sedikit marah. Akatsuchi dengan mulut berlepotan mengucapkan selamat pagi kepadaku sambil tersenyum lucu. Aku tersenyum tulus dan menjawab salamnya dengan baik.

"Ayo, kau juga Kurotsuchi…"

"Jadi wanita ini ya yang katanya nanti menggantikan Kaa-san untuk kita?"

Mataku membulat. Kulihat eksptesi Kitsuchi menjadi serba salah. Dia mengucapkan teguran kepada anak termudanya yang bergender perempuan dengan awalan terputus-putus.

"A-apa yang kau katakan? Cepat beri salam ke Shion-sama!"

"Ya…" bocah perempuan berusia 10 tahun itu nampak cerdas "Ohayou Shion-sama, emm…calon Kaa-san baru…"

"KUROTSUCHI!"

Aku berusaha tersenyum. Tidak. Aku tersenyum tulus ke anak perempuan itu. Kujawab dengan suara tenang agar dia tahu bahwa aku menghargai pendapat kecilnya yang polos.

"Ohayou, Kuro-chan."

"Jangan panggil aku Kuro-chan, Calon Kaa-san. Panggil saja Kurotsuchi. Kuro terdengar aneh untuk anak perempuan."

"KUROTSUCHI!" lagi-lagi sang ayah berteriak pelan meneguri anaknya. Sementara si anak laki-laki yang tadi sudah diperingati ayahnya untuk tidak makan duluan, kembali mengambil sepotong puding dan melahapnya tanpa ampun.

"Hhm…hihi…" aku menutup mulutku. Tsuchikage ketiga menatapku kebingungan. Ya…aku tertawa. Aku tertawa di balik tangan kanan yang menutupi mulutku. Tak kusangka keluarga Tsuchikage benar-benar menghibur hatiku yang sedang gundah gulana. Ah…gundah gulana. Kitsuchi memandangku kebingungan, namun dia tersenyum sopan. Benar-benar senyuman pria bertipe baik hati. Akatsuchi tertawa dan tanpa sadar memperlihatkan gumpalan puding di mulutnya. Kepalanya langsung digeplak sang ayah. Sementara Kurotsuchi hanya memandangku dengan kepala sedikit miring ke kanan. Matanya benar-benar terlihat cerdas.

Sarapan pagi itu tidak terlalu buruk.

.

.

.

Siangnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang berada di belakang kantor Tsuchikage. Walaupun desa Iwa didominasi tanah berbatu coklat yang terlihat membosankan, taman kantor Tsuchikage cukup menyegarkan mata karena didominasi tanaman hijau dan bunga-bunga berwarna-warni yang indah. Aku ingin melihat air mancur yang berada di tengah-tengah kolam berwarna putih dengan ukiran-ukiran khas Iwagakure di tepi-tepi kolamnya. Dinding tepinya meninggi sehingga kolam itu seperti ember raksasa yang megah. Di sana aku dapat melihat seseorang duduk di salah satu kursi taman dan nampak sedang mengawasi dua anaknya yang sedang bermain mengejar kupu-kupu.

"Kitsuchi-san…" tanpa sadar aku bergumam sendiri. Kudekati pria itu dan kusapa dengan sopan. Dia membalas sapaanku sama sopannya dan menggeser duduknya. Sempat terpikirkan olehku 'percaya diri sekali pria ini kalau aku akan duduk di sampingnya', tetapi aku memang akan duduk di sampingnya kecuali yang melakukan itu adalah si angkuh Naruto.

"Maaf, hahaha…jika anda ingin duduk di kursi lain, err…tidak apa-apa Shion-sama…" dia menggaruk belakang kepalanya yang pasti tidak gatal, aku tahu gaya-gaya lelaki seperti itu "Maaf jika saya seolah-olah menyuruh anda duduk di samping saya."

"Tidak apa-apa, Kitsuchi-san." Aku tersenyum. Membuatnya agar tidak kaku dengan pembicaraan ini "Aku juga ingin duduk di sini, dan terlalu formal jika memanggilku dengan sebutan Shion-sama…"

"Hm?"

"Kau boleh memanggilku tanpa sebutan itu…"

Dia terdiam. Kemudian berkata "baiklah" sambil tertawa kecil dan menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal. Kualihkan pandanganku ke arah dua anaknya, Aka dan Kuro…mungkin lebih enak memanggilnya begitu, keduanya nampak ceria mengejar kupu-kupu sambil berteriak "Kutangkap kau Kitsuchi-san, akan kuhadiahkan untuk Tou-san." Aku tersenyum. Kitsuchi tertawa pelan dan menjelaskan kalau anaknya suka memberi nama suatu hewan atau barang dengan nama dirinya. Kami tertawa, walaupun aku tetap tertawa dengan menutup mulutku untuk menjaga etikaku sebagai wanita.

"Haah?! Ada Calon Kaa-san! Ayo ke sana Aka-Gendut."

"Berani-beraninya kau mengejek Nii-sanmu, Kuro-Kurus!"

Keduanya berlari ke arahku dengan wajah gembira. Kuro tersenyum ke arahku dan berlari mengitari kursi kami sambil berteriak senang "Ibu baru Ibu baru!". Aka yang tidak mau kalah tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku. Kitsuchi memarahi tindakan kedua anaknya yang tidak sopan. Kuro yang merasa kesal melihat kelakuan Aka yang berani mendekatiku secara dekat, langsung memelukku dan kuyakin, menginjak kepala Aka agar bisa mendekap dan melilitkan tangannya ke belakang leherku. Dia berkata dengan nada senang sekaligus nada bercampur sedih.

"Shion-chan, ka-kau mau kan jadi Kaa-san ku?"

DEG. Perasaan apa ini?! Mendengar suara sedih Kurotsuchi membuat hatiku menjadi tidak nyaman. Kutatap mata hitam cerdasnya. Mata itu nampak mengharapkan sesuatu. Oh Kami-sama, aku benar-benar iba dengan dia. Tanpa sadar dan spontan, kuusap kepalanya dan kukatakan dengan lembut.

"Iya. Tentu saja…" kataku lembut. Mata Kuro membulat sempurna dan dia melompat dari pangkuanku, dengan kepala Aka sebagai pijakan lalu berteriak senang.

"AKU PUNYA KAA-SAN BARU YANG BAIIIK!" Kuro berlari lalu mengejar kupu-kupu lagi. Aka yang masih nyaman berada di pangkuanku ditarik tangannya oleh Kuro untuk kembali melanjutkan permainan mereka. Aku menatap keduanya dengan tatapan sedih.

"Maaf atas kelakukan dua-"

"Kitsuchi-san…tidak…tidak apa-apa," aku memandang sendu ke air mancur yang nampak berkilau diterpa sinar mentari "Maaf sebelumnya bertanya, Kitsuchi-san. Ka-kalau saya boleh tahu…" kutatap Kitsuchi yang nampaknya balas menatapku dengan mata kebingungan "Bagaimana istrimu bisa meninggal?"

Kitsuchi menghela napas sejenak. Aku tahu itu berat untuk diceritakan. Aku pernah merasakannya. Merasakan saat Naruto dikabarkan tewas dalam pertarungan. Kitsuchi pasti mengalami masa-masa depresi saat istri tercintanya meninggalkan dirinya bersama sang anak di dunia fana ini. Dia bercerita pelan dan mengatakan bagaimana kondisi istrinya menjadi buruk saat mengandung anak kedua mereka, yakni Kurotsuchi. Dokter ninja yang mengurusi istrinya menyarankan untuk menggugurkan anak tersebut agar kondisi sang istri membaik.

"Tetapi dia bersikeras bahwa akan tetap mempertahankan Kurotsuchi…dia berkata bahwa titipan Kami-sama yang suci tidak boleh kami buang begitu saja…" Kitsuchi memegang dahinya dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam "Akhirnya dia meninggal tepat setelah Kurotsuchi keluar di dunia ini. Dia berpesan kepadaku apapun yang terjadi, jangan pernah menyalahkan Kurotsuchi atas kematiannya…a-aku selalu berpegang kepada pesan yang dia sampaikan," Kitsuchi mengangkat wajahnya dan tersenyum dengan air mata mengalir di kedua pipinya "Dan Kurotsuchi sangat mirip dengan Ibunya, itu membuatku sangat menyayanginya."

Aku mengalihkan pandanganku kembali ke arah Aka dan Kuro. Sedih memang. Itulah alasan kuat kenapa Kuro benar-benar terobsesi ingin diriku menjadi ibu barunya. Gadis manis itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu selama perkembangan dirinya.

"Shion-sama, maaf…saya, saya mendengar kalau Tsuchikage-sama ingin menikahkan anda dengan saya." Kitsuchi memandang lurus ke depan. Aku masih menunggu untuk mendengarkan. "Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi anda bisa menolak jika anda mau."

"Kitsuchi-san, bagaimana denganmu?"

Kitsuchi memandangku dengan tajam. Entah kenapa aku dapat melihat tatapan seriusnya yang terlihat ksatria. Tatapan itu…tatapan itu…

Tatapan itu persis dengan tatapan Naruto saat meminangku untuk menjadikannya istri.

"Saya tidak mau memaksakan hati wanita. Tetapi saya mendengar cerita anda dari Tsuchikage-sama…beliau juga memberikan alasan kenapa pernikahan ini harus dilakukan. Saya-"

"Biar aku yang menjelaskan, Kitsuchi!"

Aku dan Kitsuchi terkejut. Kutoleh ke belakang dan Tsuchikage keempat berdiri-tidak-beliau melayang di belakang kami dengan kemampuannya. Dia menatap kami dengan tegas. Kitsuchi bergumam terkejut melihat ayahnya, sementara aku menatap serius kakek tua itu.

"Sebelum menjelaskan detailnya, aku ingin memberitahumu sesuatu, Shion-sama…" Tsuchikage menatap sendu ke arah cucunya. Aku mengikuti arah pandangannya dan kembali menatap kakek tua tersebut.

"Saat pertama kali kau ke desa ini, cucuku Kurotsuchi sudah sering mengintip kamarmu tanpa sepengetahuan dirimu. Dia juga yang paling bersemangat ketika kami membicarakan tentangmu atau menu apa yang cocok untukmu saat makan siang dan sebagainya…kuharap kau mengerti perasannya, Shion-sama…"

Aku tidak menjawab. Kakek tua itu kembali melanjutkan.

"Sudah kujelaskan dari awal, kau harus menikah Shion-sama…" Tsuchikage menatapku tajam "Jika kau menikah dengan anakku, kau selamat. Jika tidak…"

Semalam Tsuchikage ketiga tidak ada menjelaskan dengan kalimat 'Jika Tidak'nya. Aku mendengarkan kata-kata selanjutnya dengan fokus tinggi.

"Jika tidak…" hening. Suara air mancur mengiringi suasana di sini "…Kau akan diekskusi di sini dan sekarang juga!"

Jantungku berdebar. Entah kenapa lututku sedikit bergetar. Tetapi kuatatap yakin Tsuchikage ketiga dan kutunjukkan bahwa aku bukan wanita yang lemah.

"T-Tou-san, te-tetapi Tou-san tidak pernah bilang-"

"Diam Kitsuchi! Ini untukmu dan anakmu juga! Nah Shion-sama…" mata Tsuchikage menyipit tajam "Apa yang kau pilih…ya atau tidak." Nada kakek tua itu benar-benar memaksa "Walaupun kau jawab tidak, aku akan tetap menikahimu dengan Kitsuchi baru kemudian membunuhmu!"

"TOU-SAN!"

"DIAM KITSUCHI!"

Aku diberi pilihan yang harus dijawab dengan "Ya."

.

.

.

Normal POV

17 Desember, Kumogakure

Uzumaki dipercaya memegang kendali atas 10 Sumi-Kyo karena memiliki kapasitas chakra yang besar. Berbeda dengan Jinchuuriki yang mendapatkan chakra besar dari Bijuunya, pengguna Sumi-Kyo akan menguras chakranya jika menggunakan Sumi-Kyo terlalu lama dan terlalu banyak. Kesalahan yang sering dilakukan adalah pengguna Sumi-Kyo sering tidak memperkirakan berapa kali mereka mengganti hewan-hewan Sumi-Kyo untuk diberikan chakranya dan lama waktu menggunakannya, serta bagaimana menggunakannya dengan tepat.

Naruto menatap gambar di bawah paragraf tersebut. Sebuah gambar di dalam kotak berukuran 10 kali 12 centimeter persegi. Di gambar itu terlihat sebuah pusaran dengan 10 mahluk Sumi-Kyo yang mengelilinginya. Naruto dapat melihat Hayaide sang Cheetah, Goriko, Hika dan Sumi-Kyo lainnya. Naruto pernah bertemu kesepuluh Sumi-Kyo dalam pelatihannya, tetapi dia belum terlalu mendalami kemampuan dan karakter dari Sumi-Kyo itu sendiri. Buku Sumi-Kyo. Rahasia hasil Penelitian yang dia dapatkan di tempat Uchiha Madara benar-benar menarik untuk dibaca.

"Hm…" Naruto membuka Bab tentang Penelitian Kesalahan Pengguna. Safir Naruto menelusuri beberapa sub bab dan dia tertarik dengan beberapa poin paragraf di sana. Jari telunjuknya menunjuk poin 1.

1. Pengguna Sumi-Kyo pada umumnya mampu menggunakan Sumi-Kyo mereka selama satu hari tanpa terputus (Standar para Uzumaki), dan jika lebih dari satu hari tanpa terputus, maka pengguna bisa sekarat bahkan tewas karena chakra yang terkuras.

'Satu hari tanpa putus…' Naruto menaikkan alisnya 'Aku belum pernah menggunakannya lebih dari satu hari tanpa istirahat…' mata sang Uzukage menatap poin kedua.

2. Pergantian Hewan Sumi-Kyo ke Hewan lainnya hanya maksimal 7 kali tanpa terputus. Jika melakukan lebih dari itu, sirkuit chakra pengguna akan rusak karena mengirim chakra ke hewan-hewan Sumi-Kyo yang berbeda dan pengguna akan langsung tewas.

'Aku hampir melakukan pergantian 7 kali saat melawan Yagura tanpa terputus! Be-berapa kali aku berganti dari Hika ke Sagishi lalu Hayaide…Goriko…Hika..ah!' Naruto menggelengkan kepalanya dan membaca poin ketiga.

3. Pengguna bisa menggunakan Sumi-Kyo dalam satu hari dan melakukan pergantian Sumi-Kyo lebih dari 7 kali jika ada pengistirahatan menggunakan Sumi-Kyo. Waktu terbaik istirahat menggunakan Sumi-Kyo sebelum menggunakannya lagi adalah 30 menit, semakin lama istirahat semakin baik. Pengistirahatan kurang dari 30 menit akan membuat aliran chakra pengguna kacau dan Fuin Sumi-Kyo menjadi buruk.

4. Selain bisa menggunakan kekuatan Sumi-Kyo yang telah diberi chakra pengguna, pengguna pada umumnya akan terkena efek dari karakter atau sifat pada Sumi-Kyo tertentu sehingga biasanya pengguna Sumi-Kyo akan memiliki sifat Sumi-Kyo tertentu saat dia menggunakannya.

5. Pada umumnya pengguna tidak mampu menggunakan dua Sumi-Kyo sekaligus. Jikalau mampu, pengguna harus memastikan chakranya mampu untuk terbagi dengan dua Sumi-Kyo tersebut. Penggunaan dua Sumi-Kyo akan memberikan dua kekuatan bersamaan kepada pengguna.

"Ooh…aku pernah mau mencobanya tetapi Hayaide melarangnya…" gumam Naruto dengan mata penasaran. Dia memandang langit-langit kamar penginapannya 'Apa aku harus mencobanya?'. Matanya menatap poin keenam.

6. Dari kesepuluh Sumi-Kyo, ada 3 Sumi-Kyo spesial yang dinamakan sebagai 3 Sumi-Kyo terkuat karena memiliki kekuatan yang unik. 3 Sumi-Kyo terkuat itu adalah Sagishi si musang dengan klon human-nya,-

"Aku sudah tahu, itu adalah materi dasar yang harus kau pelajari untuk menguasai Sumi-Kyo." Naruto langsung membaca poin ketujuh.

7. Selain tiga Sumi-Kyo terkuat, di sepuluh Sumi-Kyo ada beberapa Sumi-Kyo yang mempunyai dua kekuatan. Rinciannya akan dijelaskan di Bab selanjutnya.

Naruto menaikkan alisnya. Ini baru menarik. Beberapa Sumi-Kyo memiliki dua kekuatan? Hm…informasi baru.

8. Selain kesepuluh Sumi-Kyo…

Tulisan setelahnya agak kurang rapi. Naruto harus mendekatkan wajahnya ke buku dan menyipitkan matanya untuk membaca kalimat tersebut. Dia mengejanya dengan hati-hati.

Ada satu Sumi-Kyo yang menyesuaikan jiwa penggunanya. Jikalau Sumi-Kyo diurutkan berdasarkan nomor mereka yakni 1-10, Sumi-Kyo ini selalu dipanggil Zero, atau Sumi-Kyo nomor 0.

Jantung Naruto sedikit berdebar. Dia ingin membuka bab selanjutnya dengan cepat. Hatinya terus membatin bahwa ada suatu rahasia besar dibalik kekuatan Sumi-Kyo.

'Itu berarti Sumi-Kyo ada sebelas…kah?' batin Naruto sambil berpikir keras.

"Naruto-sama!" tiba-tiba Haku muncul di hadapannya dari langit-langit kamar. Naruto yang terkejut langsung terjengkang ke belakang dan berada dalam posisi nista di mana pantatnya terangkat ke atas hingga kakinya menghadap wajah rupawannya.

"NA-NARUTO-SAMA?! SIAPA YANG MELAKUKAN HAL INI KEPADAMU?!" teriak Haku kacau.

"Kau, Haku…" gumam Naruto kesal. Sang Uzukage bangkit sambil mengelus punggungnya. Dia menatap tenang pengawal pribadinya tersebut.

"Ada apa Haku?" Tanya Naruto.

"Michiru-san telah kembali…ada informasi yang ingin dia sampaikan soal keberadaan Uzumaki lainnya."

Naruto mengangguk cepat dan mengambil jaket tebalnya yang berwarna jingga tua-bergaris hitam. Dia menyimpan buku Sumi-Kyo. Rahasia hasil Penelitian di bawah kasur dan berlari keluar bersama Haku meninggalkan kamar apartemen.

~TU~

"Naruto…" Raikage berdehem pelan "Ehm…maksudku Uzukage-sama…Uzumaki Michiru sudah kembali bersama Uzumaki Shiina."

"Terima kasih Raikage." Naruto langsung duduk di meja ruangan rapat kantor Raikage tersebut. Raikage sendiri sudah duduk ditemani putranya A dan Mabui. sementara Darui dan C masih setia berdiri di belakang Raikage. Naruto duduk di hadapan gurunya ditemani Haku dan Utakata. Michiru dan Shiina duduk di sisi kanan Raikage. Setelah mendapat persetujuan Naruto untuk melapor, Michiru membuka laporannya dengan ucapan selamat siang yang formal.

"Terima kasih atas kesempatannya, Uzukage-sama, Raikage-sama…setelah mencari keberadaan Uzumaki seperti yang diperintahkan Uzukage-sama, saya bersama Shiina mendapatkan informasi bahwa ada 17 Uzumaki di Kumo termasuk Shiina."

Naruto memandang Shiina dan dijawab anggukan oleh Uzumaki tersebut.

"Setelah itu kami mencari informasi Uzumaki lainnya di luar Kumo. Ada tiga informasi yang kami dapatkan. Yang pertama, tampaknya para Uzumaki yang lolos dari insiden penghancuran Uzu menyebar di berbagai desa dan Negara Dunia Shinobi, tetapi semuanya kemungkinan berkelompok. Kedua, ada informasi yang saya dapatkan bahwa di 3 desa besar lainnya, para Uzumaki tidak ada di Konoha…di sana adalah teritorial berbahaya…"

"Teritorial Danzo." Kata Darui pelan. Yang langsung Naruto katakan setuju di dalam hatinya.

"Yang ketiga…ada 2 kelompok besar Uzumaki yang ternyata dikumpulkan oleh dua pemimpin yang berbeda, Uzukage-sama. Dua pemimpin itu ternyata memiliki ideologi yang sama dengan anda, yakni mengumpulkan para Uzumaki untuk menggerakkan massa…"

Safir Naruto sedikit bergetar tertarik "Kau tahu siapa mereka?"

"Identitas kelompok itu masih disembunyikan. Hanya para Uzumaki yang tahu jika mereka adalah Uzumaki. Selebihnya, para orang di sana menganggap kelompok itu adalah gerakan radikal untuk memberontak."

"Hampir sama di Kiri ya…" gumam Utakata pelan.

"Tidak," Naruto mengetukkan jari telunjuknya di meja. Ciri khas jika dirinya sedang berpikir "Gerakan ini hanya terfokus pada pengumpulan klan Uzumaki, Utakata. Mungkin persepsi pemberontak hanya menurut pandangan pemimpin di sana. Jadi…apa kau punya informasi lanjutannya Michiru?"

"Ya…" Michiru mengangguk "…Dua kelompok itu ada di Takigakure dan Amegakure. Di Taki, hanya warga sipil yang takut kelompok Uzumaki itu melakukan serangan terhadap Shibuki, pemimpin Taki di sana. Namun Shibuki malah menganggap kelompok Uzumaki tersebut perlu dilindungi…"

Raikage melirik ke arah muridnya yang menatap lurus ke depan. Tatapan tenang yang selalu diperlihatkannya walaupun Raikage tahu kalau Naruto sedang berpikir keras.

"Di Ame, Hanzo sang Salamander pemimpin di sana menganggap kelompok Uzumaki adalah ancaman yang berbahaya dan perlu dibasmi. Persepsi inilah yang membuat terjadi percekcokan di sana antara kelompok Hanzo dan kelompok Uzumaki."

"Kau sudah tahu siapa pemimpin pergerakan dua kelompok itu?" Tanya Naruto datar.

"Kelompok di Ame masih belum diketahui, Uzukage-sama…tetapi…tetapi kelompok di Taki begitu terkenal untuk para Uzumaki karena dianggap sebagai harapan terakhir klan Uzumaki,"

Michiru menelan ludahnya perlahan. Seperti wanita yang siap tempur di ranjang.

"Pemimpin di Taki adalah adikmu sendiri…"

Mata Naruto melebar terkejut.

"Uzumaki…Sara!"

~The Uzukage: The Rise of Uzushiogakure~

"Uzumaki…Sara!"

Sara?! Adik-ku yang imut dan polos itu?! Yang selalu bergembira dan memanggilku dengan sebutan Nii-chan?! Naruto berusaha menenangkan pikirannya. Hatinya bergetar. Dia menutup matanya dan memanjatkan ribuan doa kepada Kami-sama.

'Terima kasih karena masih mengizinkannya hidup, Kami-sama. Terima kasih…' Naruto membuka iris berlian birunya dan memandang Michiru yang masih menunggu respon darinya. Sang Uzukage berbicara dengan napas sedikit memburu karena saking senangnya.

"Kita harus bertemu dengannya di Taki-"

"Tenangkan dirimu Yondaime Uzukage-sama!" A memotong ucapan Naruto. Sang Uzukage menatap tenang A.

"Apa pendapatmu, wahai anak guruku?" Tanya Naruto. A sedikit terkejut dengan alur ucapan Naruto yang tidak marah saat ucapannya dipotong tiba-tiba, malah sang Uzukage langsung menanyakan pendapat dirinya. Benar kata ayahnya, soal ketenangan dan lobi para orang atas…dia perlu banyak belajar kepada Uzumaki Naruto.

"Maaf sebelumnya memotong ucapanmu Uzukage-sama, aku hanya menyarankan dirimu untuk tetap di sini sebelum mendapatkan kabar terinci dari Iwa soal istrimu. Bisa jadi jika Iwa, Suna dan Konoha tahu bahwa kau masih hidup…istrimu akan langsung dibunuh!"

"Terima kasih atas pendapatnya, A-san." Naruto terdiam sejenak "Itu akan menjadi situasi terburuk jika aku pergi ke Taki dan istriku diekskusi oleh 3 desa lainnya…" Naruto terdiam lagi. Sang Uzukage memandang langit-langit ruangan rapat itu dengan tatapan merenung.

"Raikage-sama, berapa lama perjalanan dari sini ke Desa Taki?"

Raikage mengangkat alisnya dan berpikir sebentar.

"3 hari 2 malam, Uzukage-sama…" jawab C sopan. Raikage terbengong dan berkata "Ooh iya…ya seperti itulah Uzukage-sama."

'Padahal aku ingin mengatakannya, kau lupa aku adalah Jinchuuriki pengembara, Naruto-san?!' batin Utakata kesal karena Naruto melupakan dirinya 'Dan aku kekurangan jatah pembicaraan di sesi ini!' oh ayolah Utakata…apa yang kau bicarakan?

"Cukup lama," Naruto memejamkan matanya "Jika dari sini ke Ame, Raikage-sama?"

"Err ya ano…"

"3 hari 3 malam, Uzukage-sama." Jawab C lagi.

'Oooy ingat aku Uzukage sialan! Ingat aku si Jinchuuriki pengembara dan pengawal pribadimuuuu!' kata Utakata dalam hati sambil mencak-mencak tak jelas. Haku menatap sweatdrop temannya tersebut.

"Hanya beda satu malam. Yosh…sudah diputuskan!" Naruto bangkit dan memegang tangan kedua pengawalnya. Semuanya terkejut dengan sikap Naruto.

"Urusan di Kumo dan informasi soal istriku di Iwa…" Naruto menatap yakin Michiru "Kuserahkan kepadamu, Michiru!"

Michiru ternganga sedikit di wajah cantiknya. Naruto menyengir dan bergumam pelan.

"Hika…aku butuh kekuatanmu…"

"Siap sedia dan aku tersenyum, Uzukage-sama." Kata Hika yang tiba-tiba muncul di mindscape Naruto.

TRAAANGGG! Kaca kantor Raikage pecah karena Naruto bersama dua pengawalnya terbang menabrak jendela kantor tersebut. Semua yang ada di dalam ternganga lebar. Utakata bahkan berteriak ketakutan dengan air mata mengalir di sudut matanya karena mengingat kejadian pertarungannya dengan Kinkaku yang jatuh dari ketinggian.

"UWAAAAAAAA~! KAU MENGINGATNYA HAKUUUU?!" teriak Utakata sambil menoleh ke arah temannya tersebut.

"Hmmm.." Haku tersenyum dengan pipi kemerahan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru "Mau jatuh ke dubur naga sekalipun, asalkan bersama Naruto-sama…aku bersedia."

'Kau dan Naruto-sama mu akan kujatuhkan ke lubang kuburan!' batin Utakata kesal melihat Haku yang tidak trauma dengan pertarungannya melawan Ginkaku beberapa hari yang lalu.

"OOOY UZUKAGE SIALAAAAN! KAU AKAN MENGGANTI BIAYA JENDELA YANG KAU RUSAKKAN INIIII!" A berteriak dengan mata melotot bak banteng hitam yang melihat seribu kain merah di congor hidungnya "KAMI TIDAK MEMINTA GANTI RUGI SAAT DUA PENGAWALMU ITU MENGHANCURKAN KANTOR INI! TETAPI YANG INI…YANG INI TERLIHAT JELAS BAHWA KAU HARUS MENGGANTINYAAA!"

"BUKAN HANYA PENGAWALKU YANG MERUSAKNYA! SI KINKULA-KULA DAN GINKO BILOBA ITU JUGA MERUSAKNYAA!" teriak Naruto membela dua pengawalnya. Tumben.

"TERSERAH KAU UZUKAGE SIALAN! TETAPI UNTUK YANG INI, KAU HARUS MENGGANTINYAAAAAAA!" teriak A semakin kuat. Dia malah menambah elemen petir di sekujur tubuhnya untuk menambah volume teriakannya. Hubungannya apa coba?

"BAIKLAAAH, AKU AKAN JUAL DUA PENGAWALKU NANTI KEPADAMU SEBAGAI PENGGANTINYAA, TERSERAH KALIAN JADIKAN APAAA!" teriak Naruto tenang dengan mata datar. Utakata yang tersenyum haru karena tadi mendengar Naruto membelanya, langsung hancur berkeping-keping.

"K-kau…apa yang kau katakan Naruto-san?! Kau menjual kami yang rela mengorbankan nyawa kami menjadi pengawalmu?!"

"Tidak ada yang memintamu untuk jadi pengawalku." Kata Naruto sambil tersenyum manis.

"Ha-HAKUUUU! KAU DENGAR KATA-KATA MANIAK RAMEN ITU?! DIA RELA MENJUAL KITA KE ORANG HITAM KUMO DAN TIDAK MENGHARGAI KITA SEBAGAI PENGAWAL PRIBADINYA!"

"Walaupun dijual ke dubur naga…aku akan terima asalkan Naruto-sama yang menjualku…" kata Haku dengan senyuman tulus dan wajah gembira.

'Otakmu-lah yang telah kau jual ke dubur naga…' batin Utakata drop.

Naruto terkikik pelan. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan pengawalnya. Walaupun berat, dia percaya tapak yang dijalaninya harus begini. Harus begini jika dia ingin mendapatkan kembali kebahagiaan istrinya dan desanya. Mendapatkan lagi Uzushiogakure yang telah runtuh!

Sementara di kantor Raikage, A dan Darui sedang ditahan C dan Mabui karena sama-sama ingin menembakkan sang Uzukage dengan jutsu petir jarak jauh mereka. Darui sebenarnya diajak A dengan wajah mengancam yang lebih mengerikan dari seorang kriminal. Raikage ketiga memegang keningnya dan tersenyum tipis. Uzumaki Shiina berdiri dan menatap Yondaime Uzukage yang melesat di langit dengan kibaran wig kuning yang lembut diterpa sinar matahari.

"Apa dia benar-benar Uzukage-sama, Michiru-san?"

Michiru menghela napas sambil tersenyum tipis. Dia berdiri dan memandang penuh pengharapan kepada sang Uzukage.

"Ya...dia adalah Uzumaki Naruto…"

Bee yang sedang nge-rap di pasar Kumo memandang ke atas dan tersenyum. View memperlihatkan wajah Naruto yang tersenyum dengan hembusan angin menerpa rambut-bukan-tetapi wig pirangnya.

"…Uzukage kita!" kata Michiru dengan nada penuh semangat.

TBC

AN:

Terima kasih kepada para Readers yang mereview chapter lalu. Saya sangat senang atas saran dan kritik yang kalian sampaikan.

Oh ya, perlu saya sampaikan di sini kalau Kitsuchi adalah putra Tsuchikage. Saya juga ragu untuk Cannon-nya, apakah Kitsuchi itu memang putra Oonoki atau menantunya.

Ao3 atau Archive of Our Own adalah sebuah situs yang mirip Ffn, mungkin perbedaannya hanya sistem tag dan review antara Readers dan Authors. Teman-teman yang belum mengenal Ao3 bisa langsung membuka website-nya.

Terima kasih untuk Ultra Milf v atas nasihatnya soal panggilan saya suami kepada istrinya, juga kepada Steven Yunior Roger yang teliti atas Typo yang saya buat. Ya, itu sokongan bukan dokongan*Kosa kata apa ini?*

Sedikit peraturan tentang Sumi-Kyo sudah kita dapatkan melalui buku yan Naruto bawa dari markas Uchiha Madara, ada beberapa poin penting yang juga mengarahkan ke cerita utama nantinya.

Untuk yang mempunyai akun, akan saya jawab pertanyaannya melalui PM. Lalu untuk guest, hm..ada beberapa pertanyaan yang saya rangkum untuk dijawab.

Q: Apa nanti akan ada perang besar/PDS 4?

A: Jika ada satu pemimpin yang bertindak gegabah tanpa berpikir, nah…yang ditakutkan semua Shinobi akan terjadi. Perang Dunia Shinobi bagian ke-4 akan terjadi.

Q: Apa Shion akan menikah dengan Kitsuchi? Apa rencana Oonoki dengan menikahi Shion dan putranya? Apa ada NTR?

A: Yap, sepertinya Tsuchikage sudah mulai memaksa ketika memasuki chap ini, dengan menambaha embel-embel "Tidak." Jika Shion menolak, maka lehernya akan terancam. Rencana Tsuchikage? Hm…ini benar-benar akan mempengaruhi semua rencana yang dijalankan para pemimpin desa, kita lihat ke depannya. Soal NTR, haha Netorare akan dilihat di The Uzukage-hentai *bercanda* ya…lihat saja, apakah ada pengkhianatan cinta nantinya, tetapi saya harap bisa membangun ikatan kuat antara Naruto dan Shion bahkan tanpa adegan romantic seperti Sinetron dan kata-kata manis, karena keduanya sudah terhubung melalui cinta suci*authorjombloberbicara*

Okee, itu saja yang saya sampaikan…selebihnya akan saya balas di PM review anda semua, terima kasih telah membaca dan memberikan review, semua fic tidak akan terketik tanpa dukungan ketikan dari review para Readers-nya, salam hangat dan sampai berjumpa di chap selanjutnya

Arc Pernikahan Shion (IwaSuna Arc)

Tertanda. Doni Ren Alberqueque