lama ya? mianhae, saya kemarin-kemarin lagi stuuuuuuck banget.
chapter terakhirnya tinggal dipoles dikit lagi. hehehe
saya update hari ini juga kok, saya janji. ^o^V
salam kenal buat yang baru mampir. terimakasih buat yang masih nungguin.

luv! luv!


Akai Ito
[3]

Jin terbangun saat sinar mentari pagi jatuh tepat di atas kelopak matanya. menyilaukan. Jin terdiam lama. sekelebat ingatan tentang hal yang terasa familiar tapi juga asing merasuki pikirannya. Jin menoleh ke arah kanannya, ke arah sisi tempat tidurnya yang kosong. bukankah biasanya juga begitu? tapi kenapa rasanya tidak?

Jin duduk dari tidurnya. menatap jam digital di atas meja nakasnya. sudah pukul 8.20 pagi. Jin merasa ada yang sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, tapi dia tidak tahu apa. Jin kembali termenung. dan sekali lagi sekelebat bayangan singgah dalam pikirannya. kali ini ada seseorang yang tersenyum padanya. namun yg tampak hanya kedua lesung pipi yang mencuat malu-malu.

jantung Jin berdetak kuat dan cepat saat bayangan seseorang itu muncul. menyakitkan. Jin memegang dadanya sambil merintih pelan. dipejamkan matanya erat-erat, berusaha menghalau pikiran sesat yang muncul itu. kemudian Jin menghela nafas perlahan, memilih untuk mengabaikan hal yang tidak dia mengerti itu.


"hai, hyung," sapa Jimin, lelaki berambut oranye itu menyapa Jin yang duduk bersama secangkir teh camomile di ruang TV apartemen Jin.

"hai, kau tidak latihan?" tanya Jin.

Jimin menggeleng. "aku mengganti jadwal latihanku. aku mengambil libur di hari Sabtu sejak bulan lalu," jawabnya.

Jin mengangguk saja. fokusnya kembali pada drama di televisi.

Jimin menatap ke sekeliling apartemen Jin, memperhatikan setiap sudut dan merasakan benar-benar aura di sana. kemudian dia terdiam lama.

"kau sudah makan? mau ku buatkan sesuatu?" tanya Jin.

Jimin menggeleng. aneh. Jin terlihat normal-normal saja seperti beberapa minggu yang lalu. "aku akan makan malam dengan seseorang hari ini," jawabnya. seketika wajahnya berubah menjadi berbinar-binar senang.

Jin melirik Jimin dari sudut matanya sambil tersenyum. "dengan siapa?"

"seorang rapper. bukankah itu keren? aku berkenalan dengannya sebulan yang lalu, hyung. dia memuji tarianku yang aku upload di Twitter. lalu mengirimku pesan dan meminta ID Kakaotalkku dan begitulah," kata Jimin, bercerita panjang lebar tanpa perlu Jin minta. "kami akan bertemu untuk pertama kalinya hari ini. aku tidak sabar sekali!"

Jin tertawa pelan. "kau akan bertemu dengannya dimana? apa aku perlu membantumu memasak beberapa makanan jika kau menjamunya di apartemen?"

"tidak perlu, aku akan bertemu dengan Yoongi di stasiun sore ini. lalu akan mengantarnya ke hotel dan makan malam di sana. aku sudah menawarkannya untuk menginap di apartemenku saja tapi Yoongi bilang dia bersama temannya jadi-"

"siapa? siapa kau bilang?" Jin memotong perkataan Jimin. ditatapnya Jimin lekat-lekat.

"apa? siapa? Yoongi?" tanya Jimin.

Jin terdiam.

'aku, Yoongi dan Hoseok sedang menciptakan musik kami...'

lagi. sekelebat ingatan yang sama singgah kembali ke dalam pikiran Jin. ingatan yang beberapa hari lalu membuatnya termenung cukup lama saat baru bangun tidur. ingatan yang sama buramnya. ingatan yang meninggalkan pukulan pelan dihatinya. tidak ada satu hal pun yang terlihat jelas selain sepasang lesung pipi yang mencuat malu-malu itu. tidak ada yang terdengar jelas selain suara berat yang dalam itu.

"hyung? Jin hyung, kau baik-baik saja?" tanya Jimin, menyadarkan Jin dari lamunannya.

Jin menoleh, menatap Jimin lalu tersenyum. lagi, dia memilih untuk mengabaikan hal yang terasa familiar tapi juga sangat asing itu sekali lagi.

"ya, aku baik-baik saja, Jimin," sahutnya.

Jimin menatap lelaki yang lebih tua lekat-lekat. "hyung, kau kenal Yoongi?" tanyanya.

Jin menggeleng. "tidak. aku tidak punya satu pun teman yang bernama Yoongi seingatku. hanya saja, namanya terdengar tidak asing."

Jimin menjawab dnegan gumaman. "hyung, bantu aku memilih baju untuk nanti. aku harus terlihat sempurna di pertemuan pertama. bagaimana menurutmu?" tanyanya.

Jin tersenyum, lalu mengangguk. "benar, kau harus terlihat sempurna."


hari itu minggu ketiga di awal musim semi. Jin berjalan cepat menuju ruang latihan drama. beberapa junior meminta bantuannya untuk membimbing mereka untuk pertunjukan yang diadakan di setiap pertengahan tahun ajaran baru. Jin menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu kayu itu. suara-suara riuh yang awalnya Jin dengar dari dalam ruangan itu perlahan memudar, berganti dengan suara-suara dari dalam pikirannya sendiri.

'tapi di sini ada sebuah benang merah yang menghubungkan kita...'

Jin tersentak saat tangannya menyentuh gagang pintu. nafasnya tiba-tiba terasa sesak.

'aku diberitahu untuk menemukan pada siapa benang merah ini tersambung agar bisa kembali...'

siapa? siapa seseorang yang terus menerus datang dalam ingatan Jin itu? siapa? kenapa bayangan yang datang itu tak pernah jelas? kenapa yang Jin ingat hanya sebatas senyuman dengan lesung pipi saja?

Jin terengah. berkali-kali dia menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau bayangan dan suara-suara yang kini memenuhi pikirannya.

ini sudah lebih dari tiga kali dalam seminggu belakangan. Jin benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya. dia sudah berkali-kali mengabaikan ini, tapi selalu saja berakhir sama. bayangan-bayangan itu akan hilang dan kembali lagi. pernah sekali ingatan itu kembali saat dia melewati lorong kampusnya saat dia pulang terlalu malam. lalu di sebuah cafe tak jauh dari apartemennya. lalu kemudian di ruang TV apartemennya sendiri. dan sekarang di sini.

Jin memukul dadanya yang terasa semakin sesak pelan. sakit. seperti rindu dan patah hati yang disatukan. tapi untuk apa Jin bisa merasakan hal ini? pada siapa?


Jimin mengunjungi Jin malam harinya. Jin memintanya membawakan makan malam sebab dia merasa tidak enak badan. sebagai balasan karena Jin selalu membuatkannya makanan, Jimin datang sesegera mungkin setelah latihannya selesai.

"hyung, kau baik-baik saja?" tanya Jimin begitu dia masuk ke kamar Jin.

Jin terbaring di sana, menatap langit-langit kamarnya dalam diam.

"hyung?" panggil Jimin sekali lagi.

Jin kali ini menoleh. "oh, Jimin," sahutnya. Jin duduk dari tidurnya, menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur.

"kau sudah ke dokter?" tanya Jimin. diletakkannya nampan yang dia bawa di atas meja nakas di samping tempat tidur Jin.

"tidak perlu. aku hanya kelelahan, aku hanya butuh istirahat sebentar," jawab Jin. "terimakasih, Jimin. maaf merepotkanmu."

Jimin menggeleng cepat. "tidak, kau tidak merepotkan, hyung. kebetulan aku sedang bersama Yoongi tadi, dia menemuiku saat latihan. jadi dia menemaniku sampai kemari."

Jin tersenyum melihat wajah Jimin yang bersemu. "apa dia sudah menentap di sini?"

Jimin menggeleng. "Yoongi dan teman-temannya sedang mempersiapkan single pertama mereka. ada satu label rekaman yang akhirnya menerima demo musik mereka, hyung. jadi untuk sementara waktu mereka akan di sini. aku tidak tahu mereka akan menetap atau bagaimana."

"kau harus mengenalkannya padaku, Jimin. apa kalian sudah berkencan?" tanya Jin.

Jimin tersenyum malu-malu. "belum, hyung. kami baru bertemu beberapa kali selama dia di sini. kami belum membahas itu."

"wah, dia benar-benar membuatmu jatuh cinta sepertinya," kata Jin.

"tidak juga, atau mungkin juga iya. entahlah. hanya saja aku merasa kami punya sesuatu yang membuat kami merasa sudah kenal selama bertahun-tahun. kau tahu chemistry kan, hyung? semacam itu."

Jin tertawa mendengar ucapan Jimin. lelaki itu terdengar seperti orang yang benar-benar jatuh cinta. "lalu?"

"lalu, dia juga bilang gitu. dia bilang kami seperti memiliki benang merah yang saling terikat. kau percaya itu, hyung? konyol sekali, kan?" kata Jimin sambil tertawa.

Jin terdiam. "benang merah?" gumamnya. Jin kemudian terdiam lama. tidak. jangan datang lagi, gumam Jin di dalam hati. dadanya terasa sesak lagi. kepalanya tiba-tiba terasa pusing bukan main.

Jimin menatap Jin panik. "hyung? kau baik-baik saja? hyung!"

Jin menoleh pada Jimin. Jin mengatur nafasnya pelan-pelan. "Jimin-ah, aku merasa ada hal aneh yang terjadi padaku beberapa waktu belakangan. ada saat-saat dimana aku melihat sekelebat bayangan dalam pikiranku. aku tidak bisa mengingatnya dengan baik. hal itu datang lagi dan lagi memenuhi pikiranku, aku sudah berusaha mengabaikannya tapi tidak bisa. terkadang bayangan-bayangan itu muncul di beberapa tempat yang terasa sangat tidak asing."

"hyung... kau... tidak mengingat apa pun?"

Jin memandang Jimin lama kemudian menggeleng. "apa maksudmu, Jimin?"

"kau harus bertemu Taehyung, hyung..."


Taehyung datang ke apartemen Jin lima belas menit setelah Jimin menelfonnya. Jin tidak mengerti kenapa dia harus bertemu Taehyung. sahabat Jimin itu memang aneh dan Jin tahu itu, tapi ada hubungan apa antara Taehyung dan keanehan pada dirinya beberapa waktu belakangan?

Jin menatap Taehyung yang juga menatapnya. keduanya saling berpandangan dalam diam. Taehyung berkali-kali melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan sesuatu, lalu menggeleng pelan.

"dia menghilang?" tanya Taehyung.

Jin mengerutkan keningnya. "siapa?"

"kau tidak ingat apa pun?" tanya Taehyung lagi.

Jin menggeleng. "aku tidak ingat apa pun, Taehyung. semua ingatan yang masuk ke dalam pikiranku tidak pernah tergambar jelas."

Taehyung menoleh pada Jimin. "kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Jimin menggeleng. "kenapa aku yang bertemu dengannya?" tanyanya bingung.

"dia berada di sekitarmu, Jimin. dia tidak pergi, itu sebabnya Jin hyung lupa dengan semua hal tentang dia," jawan Taehyung. lelaki berwajah tampan itu memainkan poninya yang tumbuh mendekati matanya.

"dia siapa? apa yang kalian bicarakan?" tanya Jin.

Taehyung menyeringai, sebuah seringaian yang membuat wajahnya terlihat tampan dan misterius secara bersamaan. "jika kau tidak tahu, maka aku tak berhak memberitahumu. takdir sedang menjalankan tugasnya. ini sudah di luar kuasamu, juga aku. kau harus bersabar dengan bayangan-bayangan dan ingatan yang sewaktu-waktu bisa datang itu sampai nanti kau bertemu dengannya lagi."

Jin terdiam. dia berusaha memahami semua ucapan Taehyung meski gagal. dia tidak mengerti satu pun. dia tidak memahami apa pun yang Taehyung katakan.