*sigh* Oke, ini chapter terakhir. Diselesaikan dengan semena-mena dan aneh. :)) Terimakasih pada kamu yang menyertai jalan cerita ini, kamu sangat awesome. Semoga bisa menyisakan kesan dihati para pembaca, lebih-lebih bermanfaat. Penutup fic ni juga saya persembahkan pada Hermione, yang persis bersamaan dengan berakhirnya kiprah 'Sebenarnya' sedang berulang tahun.

Saya nemuin banyak lagu yang cocok buat theme song, tapi yang paling tepat, dan sepenggal liriknya udah diselipin adalah; Panic! At the Disco - Trade Mistakes. Selain itu juga ada Framing Hanley - Weight of the World.

Ini dimulai agak membingungkan, tapi ini adalah keadaan di tahun 1997 hasil perubahan Harry. Super disingkat. Nanti dijabarkan kalo mau sequel *dehem2*. Selamat Baca! \^^/

JK Rowling own Harry Potter's world. Me own nothing. It's all just a leisure filler.

Chapter 29: Selamat dari Kesalahan Ini

o-0-o

Ia baru saja tiba dari persembunyian kaumnya yang masih berfungsi, masih bisa digunakan untuk bersembunyi dan aman, dari mereka. Jelas karena Hogwarts berada pada kedalaman hutan dan akan sulit memulai pencarian darimana. Tapi ia tahu, siapapun tahu andai sanggup menerima kenyataan, cepat atau lambat keberadaan sekolah sihir itu akan terbongkar.

Belakangan ini kabar angin beredar bahwa markas besar dan pusat para penyihir yang terbesar serta terakhir mulai terendus. Ia tidak bisa menunggu kalau saat itu datang. Kini ia tidak mendatangi itu, tapi datang berniat untuk mencegah dan mengakhirinya.

Mengakhiri perang ini.

Pada sebuah landasan udara, jauh dari yang tak bersalah, ia berdiri sendiri pada suatu sudut. Bukan tak ada yang menyertainya, tapi ini perjalanan sendiri. Dan ia menarik keluar tongkatnya, jika ingin mengumpulkan mereka sebanyak mungkin, itu adalah sihir di dekat pangkalan mereka.

Ia memikirkan seorang anak laki-laki, berharap perbuatan ia ini membuat laki-laki itu bebas. Tapi tidak sedih.

"Expecto patronum. . ." bisiknya sambil memutar tongkat di udara. Seberkas cahaya perak keluar, dan berikutnya menyeruak seekor berang-berang yang berenang di udara pergi, lalu hilang, mungkin seperti perapalnya sesaat lagi.

Ia menunggu. Dalam hitungan tak sampai dua menit, suara gemuruh datang dari berbagai penjuru: ban yang berdecit keras, tanda dari kendaraan besar dan mengebut. Baling-baling di udara yang membuat jantung bergemuruh, lalu berikutnya berjejer sekelompok batalion pasukan yang menjadikannya sebuah titik pusat.

Suara terakhir adalah keributan langkah kaki para pasukan, membentuk formasi sekali gerakan jari. Hening ditimbulkan terlepas oleh baling-baling lima helikopter tempur, saat kuda-kuda terpasang, dan kokangan beragam senjata api sahut menyahut, larasnya tertuju pada gadis itu.

Ia menelan ludah, jelas, khawatir meski tujuannya adalah bunuh diri. Ia tergerak mundur, tapi kini tak ada yang namanya menjauhi medan perang.

"Ya, konfirmativ, ia penyihir, sir!" teriak seorang dari mereka, matanya baru lepas dari sebuah monitor genggam.

Seorang bergerak dari kerumunan, pria besar potongan tentara bermuka kaku. Berpakaian tempur lengkap dengan setelan dan helm anti-kutukan yang disegani kaum penyihir. Suaranya lantang bagai dalam sonorus, "Anda tidak bisa menghilang, penyihir, saya yakin anda tahu itu. Dengan peralatan kami."

Dia berhenti maju, tapi sudah menjadi yang paling dekat untuk menjangkaunya dengan pisau. Atau menembak dengan pistol atau sebuah senjata mesin di punggungnya. "Kami tahu anda sendirian. Dan kami tahu anda masih-" dia mengerdikkan bahu, "gadis."

Ada yang tertawa mencemooh. Orang itu kembali angkat suara, "Jadi apa anda dikirim oleh kaum anda yang tak berperasaan dengan mengirimkan seorang gadis muda cantik?"

"A-aku datang atas keinginanku." jawabannya bergetar, ia tahu.

"Hm, menarik. Kami punya tahanan, memang, tapi anda lucu jika datang ingin membebaskan mereka dengan muncul secara heboh. Kecuali anda adalah... coba lihat, pengalih perhatian?"

Ia diam, kembali menelan ludah. Nyatanya tidak ada yang bohong mengenai ia datang berniat untuk bunuh diri, ia sama sekali tak ingin lagi ada pertempuran bagi pihak manapun.

"Katakan nama anda, nona muda," pinta pemimpin pasukan itu.

Ia ragu, tapi tak ada gunanya bertindak ceroboh, dia tersedak gugup sebelum menjawab, "Hermione Granger."

Dan seperti terdapat sentilan dewa tawa, setiap pribadi di sekelilingnya paling tidak mendengus tertawa, dan yang lainnya terbahak geli. Hermione bernapas cepat, menggigil, anehnya akibat gugup bukan takut.

"Well, Miss Granger, anda ketenaran yang segar di pasukan kami," kata pemimpin itu, tersenyum. "baru kira-kira sebelas jam lalu kami mendengar sosok sepertimu. Gadis muda jenius yang berhasil menemukan teori perubah pikiran masal, tapi dengan taruhan sebuah pikiran seorang penyihir. Menurut informasi yang kami terima, ini menulari tiap manusia. . ." dia berhenti sejenak dengan serius. "Jadi tujuan anda, mengubah pemahaman kami sehingga kami tidak sadar bahwa di dunia ini, banyak tersebar noda-noda yang kita sebut sebagai penyihir, dengan seorang patriot relawan, begitu?"

Hermione menarik napas panjang, kaget sampai sesaat ia lupa untuk bernapas. Mereka sudah tahu.

Dan komandan pasukan itu memundurkan kepalanya seperti burung, pengertian datang padanya, dan dia menunjuk-nunjuk. "Ah, sebentar, relawannya bukan anda, kan?" itu penuh nada retoris. "Anda bukan relawan untuk penemuan anda sendiri, kan? Bagaimana jika semua jurnal anda hilang dan tak ada yang bisa melakukan cara jenius macam itu lagi?"

Itu seolah-olah dengan ada di sini, Hermione tak bisa kembali pulang.

"Manis sekali. Sangat disayangkan Mr Fletcher tidak bisa meyakinkan kami kalau anda nyata, kami kira dia cuma mengarang agar suatu saat jika ada yang menyelamatkannya, dia masih hidup unt-"

Dung! Dia hilang setahun lalu dari Orde. "Apa yang terjadi padanya?" selanya melengking.

"Lihat, dia mati, harus mati, tentu saja. Kami lelah menginterogasi penjilat seperti dia. Tapi masa anda berduka untuknya, dia keturunan-iblis yang kumuh, tak mungkin anda pacar-"

"KALIAN GILA!" jeritnya marah, mengabaikan jantung yang merosot, tangisannya membanjir, harus berapa lagi yang mati? "Kalian yang keturunan iblis! Kenapa kalian membunuhi kaum kami?"

"Hei!" seorang dari barisan bangkit dari kuda-kuda menembaknya, menunjuk terlampau marah pada Hermione. "Kau pikir kami tidak kehilangan, hah? Banyak keluarga kami yang terbunuh cuma karena mereka hidup! Oleh kalian semua keturunan iblis! Dan kalian menyebut itu cuma perburuan muggle, jalang! Senang menyebut kami muggle, HAH?"

"Kembali ke barisanmu, temanku," perintah pemimpin tadi mengerdikkan dagu. Orang itu balik ke barisannya tidak puas, bersungut-sungut berwajah mendidih, entah kenapa bisa sangat marah pada orang yang salah dan sangat berbeda.

"Itu penyihir hitam," bisik Hermione lemah, ia menangis. "Kami juga memerangi mereka. Kami juga kehilangan akibat mereka. Kenapa kalian menyalahkan kami atas kemampuan yang tak kami pinta?"

"Tidak." bantah pemimpin ini dingin. "Kalian mengharap-harapkan kemampuan terkutuk itu datang pada kalian. Kalian mengucilkan kaum kalian yang tak bisa sihir."

"Aku tidak-" Hermione berkata terputus.

Pemimpin pasukan itu menghentikannya lagi sekali gerakan tangan. "Seharusnya anda menyesal menjadi penyihir, kami tahu anda setengah manusia separuh penyihir. Harusnya anda lebih guna meneliti cara bagaimana agar anda menjadi manusia lagi bukannya tentang pengalihan pemahaman kami."

"Kalian tidak paham," ucap Hermione pelan, bukan waktunya berpikir ini sombong atau bukan. "aku bahkan akan mengorbankan diriku untuk membuat kalian lupa tentang sihir. Itu agar hidup kita tenang, tidak ada yang iri, kami akan bersembunyi selamanya tidak mengganggu kalian, cuma untuk itu."

"Kami tidak paham? Anda pikir cuma anda yang membuat penafsiran seperti itu, ya, nona? Kami - saya - menanyakan pada diri saya sendiri tiap pagi. Apa yang telah kalian perbuat, soal apa yang telah kalian lakukan, dan yang muncul sebagai jawaban adalah cepat lambat kalian akan tamak dan menindas kami. Anda berniat bunuh diri demi kaum anda, saya tidak akan tergerak. Karena bahkan anda yang bersikap heroik detik ini, suatu saat pasti akan menindas kami."

"Bagaimana bisa kau bilang seperti itu?" tanya Hermione, hampir mendesah tidak percaya.

"Katakan dulunya siapa penyihir hitam yang anda maksud tadi, nona!" balik pemimpin itu menuntut. Hermione tidak bisa menjawab dan mengakui itu, tapi tidak ada yang bisa disanggah. "Dia tadinya dikira baik dan lurus oleh kalian, kan? Tapi apa yang telah diperbuatnya menegaskan satu hal, nona."

Hermione sudah putus asa. Sempat terpikir dia berkesanggupan mengubah ideologi mereka dengan kata-kata kenyataannya, tapi itu tidak berhasil. Entah apa bisa berhasil suatu saat. Yang pasti semua kembali pada rencananya semula. Dan ia tak pernah mendengarkan sambil lalu, kecuali ingin diabaikannya selalu dengan saksama.

"Bahwa hanya Tuhan yang bisa dan boleh melakukan apa yang penyihir sanggup lakukan." selesainya. "Kemampuan kalian para penyihir adalah keturunan-iblis."

Itu tidak benar. Sambil berpikir ia cuma punya beberapa detik kesempatan untuk melakukan ini sebelum peluru tidak berhenti tertembak selama satu jam. Sulit menghindari atau menahan itu.

"Menyesallah menjadi penyihir, mungkin anda akan diberi keringanan di dunia yang lain," sepertinya itu tanda-tanda pidato yang akan diakhiri. "Tapi sangat disayangkan, nona muda, tapi anda tetap penyihir. . ."

Dia menghentakkan tangannya maju, tanda bergerak bagi pasukannya. Dan beberapa dari kelompok yang mengelilingi Hermione berteriak, "TEMBAK!"

Suara letusan susul menyusul, satu peluru dari tiap senjata menuju ke arahnya dari depan. Ia mengibaskan tongkatnya, membuat perisai yang menangkis tiap serangan. Lalu deru berikutnya datang sangat cepat, ia sadari tembakan pertama adalah sebuah pengalih. Yang ini merupakan penembak tali, ujungnya melesat mirip anak panah, dari berbagai penjuru. Para penembak maju keluar dari barisan, akan menyergapnya.

Hermione mengeluh, ia pasti akan ditangkap seperti beberapa yang lain, diinterogasi dengan kejam, untuk selanjutnya dibunuh begitu saja. Tak lagi sempat untuk berkutik selain menghindari serangan. Ia mencoba ber-apparate, tapi tali itu mengikatnya. Lalu jantungnya bagai pecah, ia menjerit sakit waktu menerima listrik kejut asal tali.

Dan ia pun roboh. Tapi tongkatnya masih tercengkeram, yang dibutuhkannya cuma menunjuk itu ke kepalanya sendiri. Ia berteriak, menangis, melawan ketatnya tali kabel dan sengatan listrik, ia hanya perlu menggerakkan tangannya sedikit. Lalu semuanya akan baik-baik saja.

Matanya sudah redup, tangannya hampir sampai, melewatkan banyak kelebatan baru yang datang. Melewatkan datangnya bantuan bagi mereka yang membutuhkan.

Rasa sakit berhenti datang, tersisa bekasnya saja. Hermione mendongak ringkih, lemah, untuk melihat bahwa anggota Orde entah bagaimana bisa tiba dengan sapu ke sini pada saat yang kebetulan sekali.

"Relashio," kata seseorang, lalu menarik sisa-sisa tali yang menyentuh Hermione. Ia menoleh, itu Ron. "Kau oke? Apa yang kaulakukan disini? Itu bodoh sekali... Hermione."

Ia mengerjap-ngerjap dan dibantu duduk, meringis sakit dalam rangka itu. Melihat pada pertarungan bersama Ron. Ada lima orang yang bertarung - ia menggigit bibirnya mencegah berpikiran pesimis bahwa cuma lima. Mereka semua bertarung, tak ada gambaran dendam di mata mereka untuk membunuh. Semoga selalu seperti itu.

Mereka bertarung terpisah, dimana jelas lebih baik bekerja sama saling membahu. Peter Pettigrew melawan sekelompok di kanan, pemingsan atau mantra ikat-tubuh mayoritas, dan saat dihadapi seseorang yang membawa alat berat, tongkatnya lepas seakan alat berat itu magnet super kuat bagi tongkat sihir. Namun Wormtail tak terkejut lama, dia mengangkat tangan kecilnya, bersiap bertarung dengan sihir tanpa tongkat.

Senjata api ditembak beruntun, tanda dia tak 'kan diinterogasi, tangannya berayun. Perisai tak terlihat bagai kaca menahan hujan peluru, dan mulai retak.

"Mundur, Peter, MUNDUR!" Lupin datang, mendorong teman kecilnya terjatuh dan mengambil alih pertarungan. Dia menahan pelindung, dan meledakkannya. Peluru hilang, dan hempasannya membuat tiap senjata rusak parah. Dia berbalik pada Wormtail. "Pergi ke Hermione, lindungi ia." dituruti lalu Lupin berlari maju lagi.

Sirius kehilangan tongkatnya juga, dia menggeram karena tongkatnya diinjak patah begitu saja. Lebih marah saat dia terkena tali yang mengikat tubuhnya, lalu tersetrum. Namun tak ada yang mencegah dia berubah jadi seekor anjing hitam besar. Meloloskan diri dari ikatan dengan singkat, dan melesat maju menghindari tiap serangan seakan telah terbaca, menggigit tiap tangan atau kaki yang bisa dicapainya.

Yang dua lain seperti kembar, hanya berbeda pada pakaian mereka dan jika dari dekat adalah bola mata, perawakan berkacamata dan rambut hitam yang persis, tongkat mereka masih di tangan dan bertarung dalam jarak yang tak terpisah jauh. Mereka menepis serangan lalu mengacungkan tongkat, dan merapal Mantra Pelucut hampir bersamaan. Tiap sinar merah meluncur dan melucuti senjata kurang lebih sepuluh muggle.

"Bagus, 'Nak!" teriak James Potter, gembira meski di tengah pertempuran kalah jumlah. "Untuk ukuran pria yang baru diselamatkan dari penjara!"

Dan bukan sulap bukan sihir, Harry nyengir pada Ayahnya. Lalu kembali bertarung.

Sekarang Hermione ragu, tak menyahut repetan Wormtail yang bergabung. Jika di depan dia, apa ia akan sanggup mengacungkan tongkat ke pelipis, dan mengakhiri hidupnya cuma supaya mereka lupa? Memikirkannya saja berat, apalagi dengan kehadirannya. Bukankah Harry harusnya sedang ditahan akibat tertangkap sebulan lalu, oleh muggle-muggle ini?

"Kenapa dia bisa ada di sini?"

"Well, kami cuma tak memberitahumu, tapi James sudah bertekad membebaskan Harry sejak detik pertama dia tertangkap, dan di sinilah kami membebaskan Harry." jawab Wormtail. Dia saling pandang dengan Ron, lalu Hermione melihat di mata kecil berairnya. "Sangat aneh, sejujurnya. Waktu bebas dia langsung tanya dimana kamu, Hermione, jelas kami tidak mengajakmu untuk masuk sarang Skrewt begini. Tapi dia panik, berkata kau ada disini dan mungkin dalam bahaya, jadi kami cuma percaya lalu segera ke sini. Dan dia benar."

"Apa kau juga membebaskan Harry, sendirian atau kalian... semacam berjanji mau bertemu disini?" tanya Ron.

"Tidak," jawab Hermione, merenung. Entah bagaimana ia hanya sering saling terhubung dengan Harry. "kami tak bertukar pesan apapun."

"Jadi kenapa kau ada di sini? Jangan bilang kau akan melakukan itu, Hermione."

Ia tak menjawab. Diam memerhatikan Harry. Tak begitu mendengarkan omelan Ron karena ia mulai bersikap ceroboh, dan berpikir pendek. Ia tak peduli apa kata mereka. Namun hatinya merosot saat suara lantang berseru memutuskan, "CUKUP! BUNUH SAJA MEREKA!"

Terlihat jelas tak ada yang keberatan, semua mata masih konsentrasi pada pertempuran dan tidak terganggu akan keputusan itu. Mereka semua telah mengibaratkan penyihir sebagai jelmaan iblis yang akan membawa kehancuran dunia, sudah terlanjur untuk diputarbalikkan. Bahkan akar masalahnya tidak jelas bagi siapapun di antara mereka.

Para pasukan itu agak mundur siaga, kesadaran yang membuat keenam penyihir dan seekor anjing berkumpul di dekat tahu kalau lima helikopter mengepung mereka, badan besi itu condong, suara putaran baling-baling itu mengancam. Dan senjata pada benda itu bergerak, tertuju pada mereka.

"Oke, bermainnya cukup!" seru James. "Kita sudah bertemu Hermione. Jadi kita pergi!"

"Setuju." gumam Ron, ingin meraih sapunya ketika hujan peluru mencegah dia gerak. Dia berdiri diam, ngeri melihat lubang di aspal, dan wajahnya marah sekilas pada helikopter. Sebelum panik lagi.

Semua helikopter sekarang menembaki mereka tanpa jeda, tanpa basa-basi. Ada yang menyerempet tubuh sasaran mereka, Sirius kena dan mendengking. Harry melepas perisai untuk dirinya sendiri, berlari pada ayah baptisnya, dan berdiri di sana melindungi seekor anjing. Dia mengerling Hermione, mereka saling lihat, ia selamat oleh Ron.

Harry memejamkan matanya, mendapat energi baru cuma karena hazel itu. Dengan teriakan, dia membentangkan tangannya dan memperluas perisai dari hujan peluru yang tak kunjung habis. "Naiki sapunya!" dia berseru. "Sirius, naik dengan Dad! Jangan paksakan lukamu. Tidak!"

Semua orang kecuali Wormtail agak membantah di tengah usaha keras susah payah Harry, James bahkan saat itu juga minta diajarkan Harry mantra itu biar dia menggantikan tempat putranya. "Sekarang perginya! Ini bukan masalah siapa yang tua! Jika aku melepaskan ini, kita semua mati konyol! Kumohon, Dad!"

Tapi Lupin mengangkat tongkatnya, tak peduli ocehan Harry, ikut melindungi. Harry melihatnya dengan kesal, memikirkan dia yang sudah punya anak dan jika-

"Remus, pergi." katanya dingin.

"Tidak ada yang tinggal sendiri disini, dan semua akan pergi." ucap Lupin cuma memandang peluru yang bagai hujan menghantam payung dalam suara bising. "James, bawa Sirius. Ron bawa Hermione. Sisa ketiga sapu untuk kami. Aku dan Harry akan mengulur waktu."

Tak ada bentakan, semua mulai bergerak. Harry memang seperti Lupin konsentrasi pada perisai raksasanya, tapi dia memandangi Hermione terus. Ia pun juga tanpa kata melihatnya. Harry tersenyum pada Hermione, berkata pada Ron, "Jaga ia, oke?"

"Hei, tidak ada yang akan berpisah!" Ron teriak, sambil menaiki sapu dan disusul Hermione. "Perhatikan nadamu lain kali, sobat!"

Dan ketiga sapu membawa pergi lima penyihir, menyisakan Harry dan Lupin di medan pertempuran. Melihat dengan jengkel bahwa pasukan yang membuat parameter kembali bergerak menembaki penyihir di atas sapu. Sampai akhirnya tiga helikopter keluar dari lingkaran mengejar yang pergi.

"Sial!" repet Harry. "Kita harus melawan!"

"Aku punya ide," kata Lupin. "Perhatikan." dilepaskannya perisai miliknya, memanggil sapu dan langsung menaiki itu. Terbang cepat menuju dua heli yang tinggal, Lupin membongkar pintu heli dan menarik pilot keluar, bahkan dia mencegah pilot itu jatuh parah. Dia mendorong heli itu jatuh dengan sihir. Melakukan yang sama dengan yang satunya.

Dia ingin memberi isyarat kemenangan ke Harry, tapi anak sahabatnya itu telah pergi ke tiga heli sisa waktu serangan untuk dia berakhir.

Heli-heli itu mengejar sapu, sangat dipastikan bisa membalap dan menyalip kelima pengendara sapu, yang sekarang cuma fokus untuk melarikan diri. Tidak ada yang bisa menyadari salah satu pilot diperkenankan menembak rudal. Sangat berhasrat mengoleksi nyawa penyihir, ketua pasukan muggle itu.

Hanya dua orang yang menyadari rudal itu karena mereka melihat itu melesat tanpa suara, dan Harry yang terdekat. Dia tidak meneliti dulu apa yang terbaik akibat kesempatan yang ada, dia juga tak berteriak agar mereka menghindar, melainkan langsung hadir di depan rudal kecepatan udara itu dan membentangkan mantra perisainya. Ledakan besar terjadi ketika tabrakan ada, udara menjadi sinar putih menyilaukan, memenuhi mata Harry, dan saat pertahanan satu-satunya hancur, dia dilahap ledakan itu.

Itu sebuah pemicu teriakan kesedihan dan kehilangan. Mereka selamat, tapi cuma untuk pergi dari sana seorang pejuang muda telah menjadi korban. Hubungan antara mereka yang selamat tak 'kan pernah sama lagi dikarenakan saling menyalahkan. Mereka pulang membawa dendam dan tubuh tak bernyawa teman mereka.

Dua bulan berlalu, dan semua hal hampa ini menjadi kian hampa. Seakan tidak ada artinya lagi buat hidup, dan menyusun rencana untuk diri sendiri kematian yang elit dan elegan.

Hermione duduk memeluk lutut di pinggir tebing, salah satu titik pegunungan Hogsmeade yang menghadap barat, saat itu sebuah sore berangin. Dagunya menyentuh lutut, pandangan kosong ke depan, sambil sekali lagi menangis.

Mungkin orang-orang yang peduli padanya cemas jika keadaan seperti itu dibiarkan sendirian, bahkan ia sendiri terkadang ikut cemas, tapi ia butuh sendiri. Merenungi kesalahan-kesalahan fatal di hidupnya yang baru di ambang belasan.

Terkadang ia merasa putus asa, di lain waktu ia merasa tujuan hidupnya sejelas rasa sakit, sampai lupa pernah putus asa. Alasan kenapa ia masih kuat bernapas di hari ini, mungkin. Terkadang ia merasa bunuh diri begitu benar untuk menghentikan perang, namun di lain waktu ia menerima teori orang lain untuk tetap hidup sebagai pengganti alasan bahwa ia hidup untuk balas dendam.

Mereka membunuh kedua orang tuanya. Semua karena ia penyihir, penyihir yang berkemampuan melenyapkan ingatan bahwa ada kaum yang mereka bilang menyaingi Tuhan, dan orang tuanya mati karena tak mau menjual keselamatan anak mereka, karena punya hubungan dengannya. Itu sudah mengada-ada.

Ia memang bisa meledakkan pikirannya sendiri untuk sebuah virus bertujuan sederhana, tapi mereka belum punya bukti untuk perbuatan sekelas yang mereka perbuat. Membuat gadis malang ini kehilangan orang tersayang dari cuma nekat mendatangi sarang musuh, nekat berkorban dan itu pun tidak terwujud.

Ia terus mengklaim semua adalah salahnya, walau bahkan orang-orang yang seharusnya menyalahkan dirinya justru mengasihani. Baru dua bulan dan kepergian Harry disusul kedua orang tuanya. Ini sakit dan menyiksa.

Air mata mengaliri pipinya lagi saat ia menunduk. Dirinya sekarang terombang-ambing antara mengubah nekat saat itu jadi kebulatan tekad, atau yang lebih mudah dan lebih bahaya, mendendam.

Rasanya kebenaran lewat jalan benar tidak menjamin lagi. Jalan yang lain adalah dendam. Ia sering menimbang-nimbang apa ada pembenaran mengenai dendam.

Ada seseorang meski ia belum bergerak. Ron sering datang dan mengamatinya dari belakang jika menjemput tapi ia bilang masih mau sendiri, Ron menelan utuh permintaan Harry - yang sebenarnya cuma selama perjalan pulang - tanpa batas waktu, namun perasaan Hermione membuncah mengenai orang yang mendekat ini. Sulit menjelaskan keterikatannya, cuma ia sangat kenal ini asalnya dari siapa.

Ia mengangkat wajahnya, matahari sebentar lagi tenggelam melewati batas horizon, dan berputar badan perlahan. Sebuah tangan dari sebuah badan terulur, jelas seperti memberi Hermione bantuan berdiri. Melihat wajahnya, ia tak bisa menyimpulkan perasaannya apa itu bahagia, sedih, kaget, namun berkata, "Apa aku bermimpi?"

Harry berdiri di sana, utuh seperti manusia hidup umum tanpa kekurangan, tersenyum dan tetap mengulurkan tangan. "Kuharap tidak."

Semua beban yang menindihi Hermione sekarang hilang, tidak berat lagi. Tumor yang membengkak di hatinya sudah dijinakkan dengan melihat kenyataan ini. Air matanya mengalir lebih deras dari kapanpun ia bersedih, ini adalah air mata kebahagiaan.

Harry tersenyum iba sekarang, uluran tangannya dikenduri dan dia berjongkok di hadapan Hermione. "Aku Harry. Aku bukan dewa kematian yang menyamar dan mau menjemputmu. Aku bersyukur kau percaya ini aku dan tidak menyerangku karena aku pernah mati, juga karena kau masih bertahan. Sehat, itu mauku."

Hermione mengenal Harry seperti kembarannya. Ia merasakannya, bukan melihat fisiknya saja.

Harry bangkit berdiri lagi, Hermione mengeringkan wajah dengan lengan baju. Gaya tangan terulur itu dipakai lagi, Hermione mendongak dan melihat senyum yang berkata, "Maukah kau hidup bersamaku, Hermione Jean?"

"Tentu saja." sahut Hermione pelan, masih serak akibat tangisannya. Pertanyaan seperti itu berjawaban jelas bagi keduanya. "Aku percaya padamu."

"Terima kasih." kata Harry, bahagia bukan main. "Raih tanganku, biar kuselamatkan kau dari kesalahan ini."

Tangan Harry masih terulur, menunggu disambut Hermione dengan sepenuh hati, ketulusan, kesediaan, dan rasa ikhlas bahwa tak 'kan ada rekayasa lagi. Ia mendongak pada Harry, untuk itu senyum mereka mengembang berbarengan. Diraihnya tangan Harry, melihat bahwa nanti keadaan penuh kendali, dan dengan sedikit tarikan ia pun ikut berdiri.

"Kita pergi. . ." bisik Harry, merangkul Hermione. Saling pandang penuh senyum, lalu dia menoleh kepada matahari terbenam, Hermione mengikuti pandangan itu.

Pilar matahari turun dari pusat tata surya di hadapan mereka. Pemandangan memesona. Tahu bahwa tak ada yang bisa berubah seutuhnya damai. Tahu bahwa kadang penderitaan membawa pelajaran bagi mereka yang menyimak dengan baik dan akal sehat.

Dari sekian zaman, Harry dan Hermione ialah sedikit dari orang-orang terpilih itu.

o-0-o

You can't fly these wings

You can't sleep in this box with me

Let me save you of this wrong

o-0-o

Kapanpun pada suatu zaman, selalu ada orang-orang jahat. Terkadang orang jahat itu sangat kuat dan sayap kekejaman yang dibentangkan terlalu besar, tak peduli orang itu penyihir atau bukan. Dan terkadang pula orang-orang itu sulit dihentikan oleh Yang Baik di satu zaman yang sama.

Untuk klasifikasi keadaan seperti itu, tugas Harry lah yang memperbaiki keadaan hingga benar. Tak terlalu sering, sebenarnya.

Dia pergi meminta teman hidup dan itu ialah jelas Hermione. Mereka hidup bersama, dan sama-sama berada di tingkatan, di kasta ini.

Mereka adalah utusan Takdir, perombak keadaan dan penjaga agar selalu seimbang, dan tak pernah mutlak berat sebelah.

Dan tentang hadiah, mereka telah berada di surga dunia. Mereka tahu dan boleh menikmati semua kenikmatan yang tersedia di dunia. Jujur saja tidak bisa lebih bahagia lagi apabila mereka nanti ke surga sungguhan. Mereka tinggal di suatu zaman tanpa perang sama sekali, jauh dari keluarga mereka dulu, tapi akan selalu bisa mengunjungi.

Mereka tetap berperan menjadi orang biasa, seperti agen rahasia, tapi mereka telah lepas dari ancaman bahaya, tak menerima cobaan dan penderitaan lagi. Mereka ibaratkan mendapat kisikan nanti ada bahaya, dan mereka menghindari itu.

Harry dan Hermione memang mendekati puncak kehidupan, tapi yang dipedulikan mereka adalah kebahagiaan mereka. Mereka hanya menjadikan tugas Harry sebagai utusan Takdir semacam misi auror dengan gaji yang tak bisa disamakan oleh segunung galleon. Seolah profesi yang mendapat jaminan hidup bahagia. Sebab kepedulian terbesar mereka cuma kepada keluarga baru mereka.

Mereka kenal baik serta menjadi teman keluarga dengan Hedwig, hidup di zamannya. Seseorang yang Harry pinjam namanya untuk menamai burung hantu salju tersetia yang tak 'kan tergantikan. Hedwig adalah seorang wanita keturunan Jerman yang tahu tempatnya ramah dan ketus. Yang mereka tahu akan menjadi pencetus undang-undang kerahasiaan sihir jika tak ada yang berbeda.

Tapi tempat tinggal mereka terpisah jauh, karena rumah Harry dan Hermione dibangun di dekat tebing yang berkali-kali Harry datangi untuk menunggu pilar matahari. Jauh dari tetangga apalagi keramaian, tapi mereka tak pernah segan melancong ke koloni-koloni penyihir di sekujur Inggris. Termasuk Hogsmeade dan melihat Hogwarts yang juga tak lekang oleh waktu. Bersama dua ksatria dan putri mereka.

Hermione sang ibu keluar dari dapur sambil berkacak pinggang, lalu berteriak, "Ron, berhenti terbang dan turun dari benda itu," melihat dua yang termuda nyengir senang ia mengimbuhkan, "Tak ada yang melanjutkan main, waktunya makan. Ayo, masuk."

"Tapi Ron memakai sapunya sepanjang waktu, aku juga mau naik," kata anak lelaki lain, melihat tatapan ibunya dia bilang lagi, "Cuma supaya adil, kan?"

"Lagian kenapa kita cuma punya satu, Mum?" kata Ron, meledek saudari termudanya yang berusaha meloncat-loncat menggapai ujung celananya. "Mereka selalu iri padaku."

"Kau kakak mereka, itu sudah jelas." kata Hermione mendekat dan menahan putrinya untuk meloncat lagi, dan mengelus wajahnya. Dia berpaling pada anak keduanya yang terlihat bersemangat akan ucapan Ron. "Tidak ada sapu baru pribadi sebelum umur sebelas."

Ron terkekeh melihat saudaranya mengeluh, "Sori, Draco, tunggu dua tahun lagi, oke?" dia mendarat, melihat silver arrow barunya dan melihat pada Draco yang berharap. Ron mengangkat alis. "Ini."

Draco senang bukan main disodorkan sapu oleh kakaknya, dan mulai menaiki itu. Saat Ron melambai dan berkata, "Aku mau makan. Ayo, Ginny."

Draco semena-menanya langsung menjatuhkan sapu itu, dan mengikuti mereka buat ikut makan. Lalu balik lagi untuk membawa sapunya ke dalam rumah sambil berkoar-koar minta ditunggu. Dan ibunya selalu menunggunya.

Saat keempat keluarga itu bergabung, Ginny menarik-narik rok panjang ibunya dan bilang, "Mummy, aku mau sapu terbang."

"Makan dulu, ya?" kata Hermione, dengan lembut dan tersenyum. Berjalan sambil menunduk pada putrinya itu.

"Ya, aku mau makan dulu." kata Ginny, ikut berlari karena Ron dan Draco dengan konyol memutuskan balap lari sampai ke meja makan.

Di sela-sela makan Ron bertanya, "Mum, kata Hedwig tadi siang nama kami bertiga itu irit, maksudnya itu apa?"

Semuanya langsung memerhatikan, Hermione menjawab dengan jujur, "Karena tak ada dari nama kalian yang lebih dari lima huruf, kurasa."

Draco menghitung dengan jarinya. "Ron tiga. Aku ada lima, sama dengan Ginny." dia melakukan tos dengan Ginny. "Tapi apa maksudnya?"

"Karena kami tak mengimbuhkan nama belakang Dad kalian pada nama kalian."

"Loh, kenapa, apa ada masalah?" tanya Ron.

"Justru karena tak ada pengaruhnya. Nama Ron, Draco, dan Ginny punya banyak kesan pada kami."

"Ron Potter. Draco Potter." kata Ginny menunjuk kedua kakaknya, lalu kepada diri sendiri. "Ginny Potter."

Hermione tersenyum lagi. "Lihat, jika kalian ingin kalian tinggal menambahkan itu seperti Ginny barusan."

"Ceritakan kesannya, ada kesannya Mum bilang." pinta Draco.

"Well-" saat terputus, Hermione menoleh pada pintu, dan yang lain pun ikut menoleh. Sebelum pintu terbuka ia sudah berkata, "kurasa akan lucu jika dengan bantuan Dad kalian."

"Aku pulang." kata Harry, tersenyum melihat keluarganya berkumpul, dan dia mendekat ikut duduk bergabung. "Bagaimana sapunya, Ron?"

"Luar biasa." kata Ron bersemangat.

Harry mengangguk sambil tertawa. "Jadi, apa yang terjadi sebelum aku pulang?" Dia melihat istrinya, namun Hermione memindahkan mata pada anak-anak mereka.

"Hedwig bilang nama kami irit." kata Draco.

Ron berkata, "Mum bilang kalian cuma tak mengimbuhkan Potter pada nama kami."

"Ron Potter. Draco Potter. Ginny Potter."

Mereka tertawa sebentar sebelum Harry diam melihat Hermione, mencerminkan masa penuh kenangan daripada cobaan mereka. "Yang jelas, itu bukan berarti kalian anak orang lain. Tak ada dari kalian yang pirang atau berambut merah, kan?" Draco memandang rambut saudara-saudarinya kemudian mengangguk heboh. "Mum kalian benar, karena ketiga nama yang sekarang jadi nama kalian punya banyak kesan pada kami."

"Mum sudah bilang itu." ucap Draco kurang sabar.

"Apa ada hubungannya dengan bekas luka keren di dahi Dad, dan luka di leher Mum?" repet Ron.

"Begini," Harry bahkan sudah menahan tawa mengenangnya begitu saling pandang dengan Hermione. "Ini semua bermulai dari kacamata yang kupakai itu, tapi kusingkat apa kesan nama kalian bertiga. Waktu kami kecil kami pernah menghadapi troll gunung. Sudah pernah kubilang, tongkatku pengalaman," dia menarik tongkat holly-nya itu. "ini pernah patah dan kembali berfungsi. Tapi prestasi yang paling tak terduganya yaitu menusuk hidung troll gunung tadi," mereka mengeluarkan suara jijik. "dan kami mengalahkannya, tapi sebagaian besar berkat teman kami Ron."

"Jadi itu nama teman kalian?"

"Oh ya, menurut kami berjasa pada hidup kami." jawab Hermione tersenyum. "Dan kami punya dua nama lain yaitu Luna dan Neville."

"Apa Luna laki-laki?" tanya Ginny. "Aku mau punya dua adik laki-laki."

"Bukan, sayang." jawab Hermione lucu disusul tawa. "Luna ialah perempuan yang baik hati."

"Dan aku tak 'kan pernah lupa malam dimana kami, Ron senior ini, bukan kamu, dan Neville tadi, menyusul poin semua asrama dari tempat terakhir ke pertama dalam hanya lima menit." ujar Harry terkekeh sendiri.

"Ah, Dad," kata Draco mengeluh. "Ceritakan yang lengkap. Dad masih menyingkatnya kan?"

"Oh, akan jadi buku cerita yang tebal, sayang." Hermione menyarankan.

"Well," kata Harry melihat ketertarikan semua anaknya. Dia belum pernah terpikir akan membagi petualangan mereka pada anak-anak, sekalipun mereka akan tahu begitu saja. Tersenyum akan bayangan itu. "kalian siap tidak tidur?"

Pondok sederhana di tebing pilar matahari itu begitu luar biasa karena penghuninya. Terisi selalu dengan hangat dan asap yang keluar dari cerobong rumah entah tapi bisa mencerahkan pemandangan. Berada di tepi hutan belantara, sungai jernih nan deras, dan tebing curam, namun mereka menerima keluarga itu di sana. Ikut menjaga dan berubah jadi taman bermain bagi anak mereka yang akan tumbuh menjadi seperti orang tua mereka. Seolah-olah keindahan pantai pasir putih dan air terjun menyejukkan hari yang tak lekang oleh waktu.

Mereka memang jauh dari zaman asal, zaman asli mereka, terpisahkan oleh abad. Tapi mereka tidak meninggalkan siapapun, yang bisa mengubah itu hanya Tuhan, dan Tuhan tak 'kan pernah mau mengubahnya. Tanpa disadari, Harry dan Hermione selalu ada untuk siapapun. Selalu ada untukmu. Dan itulah penghujung kisah yang sebenarnya.

XE-N-DX

Akhir kata saya ucapkan maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam tulisan saya. Terima kasih lagi buat Harry Potter Archive yang menerima saya nyampah dengan cerita panjang ini.

Jayakan terus Indonesia, dalam segala bidang!