"Kita sudah sampai."

Ino bergegas turun dari mobil, telepon genggam yang direkatkan ke telinganya menyibukkannya hingga tak ada perhatian tersisa untuk orang kaya yang duduk di kursi belakang mobilnya.

"Ino, kupikir kau akan mengganti esnya?"

"Ah-maaf! Telepon ini penting! Bisa tolong gantikan aku?"

Susanoo, yang mengenakan tudung jaketnya berjalan mendekat ke arah kebun bunga matahari di kejauhan. Dibanding dari mobil yang melaju, melihat hamparan emas langsung seperti ini lebih...

"Susanoo-san."

Ia menoleh. Sai memintanya mendekat.

"Maaf, tapi bisa tolong tunggu aku di ruang tv? Aku harus mengganti kompres seseorang."

"...kalian meninggalkan orang sakit dan pergi ke luar kota?"

Sai menggaruk lehernya di balik counter dapur, suara dentingan sendok dan cangkir memberitahu siapapun bahwa suami Ino itu tengah menyiapkan minuman untuk tamu.

"Sebenarnya, ada yang menjaganya, tapi...mendadak ia harus menjemput dokter pribadi keluarga karena kakaknya tidak percaya dokter lainーoh...!"

Kalimat Sai terpotong sosok Susanoo yang merampas sendok gula dari tangannya.

"Anak kalian?"

"Bukan." jawab Sai tenang. "Pemilik tanah iniーpartner bisnis kami."

Ekspresi Susanoo yang mendongak melihat ke arah tangga yang menuju ke atas di ruang tengah jelas terlihat penasaran akan partner bisnis yang tinggal serumah.

"...aku tidak peduli tapi...bukankah harusnya kau bergegas mengganti kompresnya?"

Sai menyodorkan baskom transparan berisi balok es.

"Sedang kulakukan."

Susanoo beranjak menuju ruang tv. Tangannya mengaduk-aduk teh lemon di cangkir berbentuk mahkota bunga. Lagi-lagi, ia mendapati pemandangan karpet bunga matahari dari jendela sangat menghipnotis.

"...uke..."

Telinga Susanoo bergidik.

"...?" ia menoleh ke seluruh ruangan tv, tapi tidak ada siapapun. Bahkan Sai masih sibuk mencari entah apa di dapur.

Dari atas?

Langkah panjang demi langkah panjang lainnya, dan sekilas tatapan ke punggung Sai yang masih berkutat di dapur, Susanoo mendapati dirinya berdiri di depan pintu satu-satunya kamar di lantai dua. Tumpahan cahaya lampu kamar menggenang di lantai, indikasi bahwa pintu tidak tertutup rapat.

...apa yang ia lakukan?

Susanoo baru saja akan berpaling dan kembali menuruni tangga, memutuskan bahwa apapun yang ada di kamar itu bukan urusannya ketika bunyi tubuh manusia jatuh menggema.

BRAK!

Tanpa dikomando, kaki-kaki jenjang miliknya membawa Susanoo ke dalam kamarーbenar saja, sosok berambut panjang terbebat selimut tengah tersungkur di tengah ruangan. Gerakan lemah naik dan turun pertanda bahwa itu adalah manusia yang bernafas sudah cukup guna membuatnya berseru khawatir, lengan-lengan kekarnya mencoba untuk mengembalikan gadis malang itu kembali ke kasur.

"Oi! Bertahanlah! Sai! Cepat kemariー"

Berhasil menempatkan tubuh kecil di dekapannya ke atas peraduan, jangankan merapikan surai kecoklatan yang menutupi wajahnya, selimut yang membelit tubuhnya pun tidak sempat dirapikan. Keringat dingin yang mengucuri kulit gadis itu dan suhu panas tubuhnya menyalakan alarm di benak Susanoo.

"SAI!"

Itachi...

Itachi...?

Sasuke?

"Ayo kita menangkap kumbang!"

"Tenten sakit, Sasuke. Bagian mana dari 'sakit' yang tidak kau pahami?"

"Tapi Ayah dan Ibu memanggil."

Sasuke...juga ada di sini...

...

Benar. Semua khayalan tentang seseorang bernama Juugo ini pasti hanya mimpiku saja.

"Itachi-nii, Sasu"

"Sasuke! Jangan tarik lenganku seperti itu!"

"Ayooo! Kita dipanggil!"

Eh?

"Tung, Sasuke. Itachi-nii!"

Aku tidak bisa bergerak!

Tunggu! Jangan tinggalkan aku!

Kenapa?

Aku ingin terus bersama kalian...

Sai terengah-engah kecil, baskom dengan es balok di tangan. "Apa yang terjadi?!"

"Gadis ini...jatuh dari kasurー"

Greb!

"?!" Susanoo tersentak, tangannya digenggam erat.

"Sasuke! Itachi-nii!"

"...e...chi..."

"Ha?"

Di lantai bawah, derap kaki Ino yang memburu membuat suasana makin riuh.

"Sai! Sai! Jangan biarkan Susanoo mendekati kamar atas!"

"Eh?!"

"Itachi-nii! Sasuke!"

"Tung...oi, berhenti meremas tangankuー"

"...suke..."

"Jangan tinggalkan aku sendiri!"

"Kata Juugo-sanー" pandangan Ino terhenti pada sosok berjaket hitam yang bersimpuh di sisi kasur.

"?!"

"Dengar, Ino...barusan dia jatuh dari kasur, Susanoo langsung bergegas menolong."

"Itachi-nii!"

"...nii..."

Susanoo memandang gadis di depannya tidak percaya. Di tengah keadaan demam parah seperti ini, dia menangis?!

"Hei! Menjauh dari sana sekarang!" bentak Ino di pintu kamar.

"Ino! Ini bukan waktu untuk itu sekarang! Tidakkah kau lihat dia membantu?!"

Ino menoleh. Ekspresinya mengeras.

"Kau sengaja melakukannya, ya?"

"Apa?"

Ino memukul dada Sai. "Kau tahu yang sebenarnya, makanya kau sembunyikan dariku!"

"Tung-apa maksudmu?!"

"Jangan pura-pura! Juugo-san memberitahuku!"

"Ino! Ini bukan waktunya untuk berdebat!"

Susanoo mengernyitkan dahi pada dua hal yang tengah berjalan di hadapannya. Ada apa ini sebenarnya? Siapa gadis di dekapannya? Kenapa istri Sai begitu marah?

"Kau tahu, kan?! Kau tahu, kalau Susanoo sebenarnyaー"

Bibir Tenten bergerak lemah.

"Sasuke..."

Jantung Susanoo melompat.

Mata onyx-nya meneguk sosok berambut coklat di hadapannya tidak percaya. Bola mata kecoklatan membuka, di tengah deras arus alga coklat eboni yang menutupi wajahnya, dua permata sayu itu memantulkan cahaya yang sangat indah.

Ino dan Sai terpana, mereka berhenti di tengah argumen mereka.

"Sasuke...?"

Lelaki berambut gelap itu panik. Melepaskan dekapannya, jemari jenjang tidak membuang-buang waktu untuk melepaskan jaringan kecoklatan di wajah Tenten yang lembab karena keringat. Awalnya ia tidak dapat mengenalinya karena terakhir kali mereka bertemu, rambutnya tidak sepanjang ini.

"...kenapa ada di sini..."

Ekspresi melayang Tenten perlahan menjadi ekspresi horor manakala tudung jaket Susanoo terjatuh ke bahu lebarnya. Kesadarannya kembali.

"Sa...suke...?!"

"Tenten...!?"