Pairing : Kaisoo
Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar. GS (untuk beberapa cast).
Rating : M
A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja ( Je Ra tidak berniat merubah banyak karena terlalu suka sama seluruh isi fic ini ) dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.
*Note : Jawaban untuk pertanyaan dari review chap sebelumnya sebagian ada di chap ini dan sebagian lagi di next chap ya :)
Chapter 28
The Last Warn
Musim hujan baru saja menyapa langit kota London tepat di akhir abad delapan belas kala itu. Kai nampak terlihat begitu sibuk di dalam kamar tidurnya dan Kyungsoo yang baru dua belas jam yang lalu berubah menjadi laboratorium dadakan. Tangannya yang terlatih sibuk mengaduk-ngaduk campuran cairan hijau dan merah yang baru saja dicampurkannya dalam sebuah gelas kimia.
Kyungsoo tidak nampak disudut manapun dalam kamar itu. Sang kekasih nampaknya tengah sibuk di lantai dua bersama para budak-budaknya.
Rijin dan Erika baru saja mengajari Kyungsoo bagaimana caranya membuat cupcake dan beberapa biskuit kering lainnya. Cukup riang dan juga cerah suasana yang menyelimuti mereka bertiga sebenarnya, kalau saja jendela-jendela kecil di dapur senderhana itu tidak di sekat oleh kain hitam tebal yang memblokir semua hal berbau 'matahari' untuk masuk. Kyungsoo dan kedua budak wanitanya sibuk membuat kue dalam suasana yang cukup gelap untuk dikatakan siang hari.
Tidak ada yang memprotes soal itu ―baik Rijin maupun Erika―, mereka sudah lebih dari cukup untuk terbiasa dan paham mengenai majikan mereka untuk bisa menahan diri agar tidak melontarkan kalimat-kalimat 'terlarang' bagi mereka itu ―bertanya soal gelapnya rumah tersebut.
"Ah, tuan Kyungsoo, itu tepung tapioka, bukan tepung terigu!" pekik Rijin geli ketika majikannya begitu enteng memasukkan tepung jagung ke dalam adonan kue coklat miliknya.
"Eh? Memang apa bedanya?" celetuk Kyungsoo.
"Beda dong!"
"Apa tuan Kyungsoo suka biskuit coklat rasa jagung?" timpal Erika geli.
"Errghh…ntahlah..hehe."
Mau coklat rasa jagung atau rasa kulit sapi sekali pun tidak jadi masalah. Toh, Kyungsoo tidak akan bisa lagi mengecap rasa layaknya manusia. Lidahnya hanya bisa mencicipi dan tergugah oleh satu rasa saja sekarang, rasa dari satu-satunya hal yang bisa mengisi perut kosongnya.
…human blood.
Bahkan Kyungsoo sudah tidak bisa lagi menikmati steak atau daging panggang favoritnya, dan itu sukses membuat ia selalu merenung setiap selesai makan malam.
Tapi untung saja Kai dan juga budak-budak yang baru datang itu selalu bisa menghibur ketika ia down.
Begitu pun hari ini. Erika dan Rijin berinisiatif untuk mengajak Kyungsoo membuat beberapa makanan ringan untuk menghiburnya. Kyungsoo senang dan jelas terhibur dengan itu. Namun ia pun merasa terpuruk jauh lebih dalam di waktu yang sama.
Kegembiraan Erika dan Rijin ―budak Kyungsoo― seolah mengiris hati Kyungsoo. Betapa tidak? Masih sangat jelas dalam kepalanya moment ketika Kai menunjukkan padanya pertama kali para budak yang telah dia beli dari pasar budak. Wajah-wajah yang asing itu memandang Kyungsoo dengan penuh tanya. Mereka mungkin merasa heran mengapa dirinya dan Kai membeli budak dalam jumlah yang banyak, tapi sebagai budak sepertinya mereka sudah cukup 'dilatih' untuk tidak banyak bertanya.
Hari demi hari, budak-budak di ruang bawah tanah kediaman milik Kai dan Kyungsoo terus berkurang. Kai selalu punya cara untuk membuat mereka semua melanggar peraturan yang telah Kai tetapkan di awal ― yaitu tak satu pun dari mereka yang boleh berada di luar rumah ketika petang turun. Selalu saja ada cara untuk membuat satu per satu dari mereka melakukannya. Entah itu dengan menjebak mereka di luar rumah hingga malam tiba, menarik mereka keluar dari ruang bawah tanah dengan 'pancingan' yang secara personal tak dapat mereka tolak, atau pun membuat drama dimana salah satu dari mereka harus ada yang keluar dari rumah ini saat senja.
Selalu ada cara. Dan Kai nyaris tidak pernah gagal dalam usahanya menarik satu per satu dari budak-budak itu untuk keluar dari sel mereka dan berkeliaran malam-malam di luar kediamannya tanpa perlu membuat budak lainnya curiga.
Kini, setelah sebulan lebih sejak kedatangan mereka pertama kali, jumlah mereka menurun drastis. Dari yang awalnya berjumlah lima belas orang, kini hanya tersisa lima orang saja.
Dan, Erika, Jihyun, Misa dan juga Rijin ―para budak yang tersisa― tak satu pun dari mereka yang berani untuk bertanya.
Bagaimana tidak? Semua penyebab mengapa orang-orang yang 'tereleminasi' itu begitu masuk akal bagi mereka. Mereka yang tersisa menganggap itu hal lumrah. Keinginan untuk lepas dari tahanan dan usaha untuk kabur bukan hal baru lagi bagi mereka ―mereka sudah sering melihat yang seperti itu di tempat penampungan mereka yang dulu, karena itulah mereka tak terlalu mempedulikannya secara serius.
Semua juga karena mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Berbeda dengan Kyungsoo, berkurangnya jumlah budak-budaknya tidak bisa ia abaikan begitu saja. Wajah mendung selalu menghiasi wajahnya nyaris setiap hari.
Ia tidak pernah tau kapan Kai akan 'memanen'.
Kyungsoo tidak pernah mengeluh lapar atau meminta untuk 'makan'. Kai selalu tau kapan waktunya Kyungsoo dan dirinya harus 'makan'. Karena itulah pada waktu yang tepat ―bahkan sebelum Kyungsoo sendiri menyadari dirinya lapar― Kai sudah selalu menyediakan beberapa gelas berisi darah segar untuknya. Kyungsoo tidak pernah tau darah siapa yang ia minum saat itu, ia baru bisa memastikan milik siapakah darah itu ketika ia turun ke ruang bawah tanah dan memastikan siapa yang telah hilang dari sel budaknya. Dan Kyungsoo pun akan kembali murung.
Budak-budak Kyungsoo benar-benar selalu bekerja ekstra untuk menghibur sang majikan tiap Kyungsoo memeriksa sel mereka dan mendapati jumlah mereka berkurang ―mengabaikan rasa takut mereka sendiri akan siapa yang selanjutnya meninggalkan sel itu.
Sebenarnya Kai ―dalam diamnya― selalu memperhatikan semua tingkah laku Kyungsoo itu. Ia ―meski sudah terbiasa melihat pembunuhan bahkan sudah lebih dari sekedar sangat sering melakukan pembunuhan itu sendiri― mengerti apa yang Kyungsoo rasakan. Rasa kemanusiaan Kyungsoo masih terlampau tinggi, itulah juga alasan mengapa ia melarang dan mencegah sebaik mungkin agar Kyungsoo tidak pernah membunuh siapapun dalam waktu dekat ini. Itu akan merubah kepribadian kekasihnya dalam keadaan syok. Dan Kai tidak ingin itu terjadi.
Selama ini Kai 'memanen' sendiri, memancing budak-budaknya untuk keluar kemudian menerkamnya sendiri.
Sempat Kai berpikir untuk meramu obat 'penambah darah' yang pernah ia berikan pada Kyungsoo sebelumnya waktu itu untuk para budak-budaknya agar mereka tidak perlu sampai dibunuh akan tetapi, Kai berpikir kembali…
Jika ia memberikan obat penambah darah itu dan memanen darah dari mereka tanpa membunuhnya, resikonya akan terlalu riskan. Kemungkinan mereka akan mengalami tekanan batin karena menjadi 'ternak' yang setiap periode disedot darahnya untuk dikonsumsi kedua majikannya. Tak satu pun orang waras tanpa alasan yang cukup kuat mau melakukan itu ―Kai beri pengecualian untuk Kyungsoo. Dan lagi, kemungkinan lain seperti para budak yang stress atau ketakutan itu akan kabur dan melaporkan pada warga desa bahwa mereka di jadikan 'ternak' yang darahnya 'dipanen' untuk vampire juga sangat besar.
Dan Kai tidak mau mengambil resiko itu. Manusia mungkin lemah, tapi jika mereka beramai-ramai ―ditambah Kyungsoo yang tidak mungkin akan mau menyakiti manusia― akan sangat berbahaya. Menyembunyikan jati diri mereka sebagai vampire saja sudah teramat sulit, apalagi menjaga para budak 'ternak'nya agar tidak kabur ketika siang hari untuk mengadu ke semua warga?
Keputusannya, Kai harus membunuh budak-budak itu setelah ia 'memanennya'.
Sudah Kai periksa dengan teliti latar belakang para budak yang ia beli. Para budak ini sudah tidak memiliki orang tua atapun sanak keluarga lainnya, memastikan kalau mereka punya seminim mungkin teman yang akan bersimpati pada mereka. Itu untuk memudahkannya melenyapkan dan menyembunyikan kematian mereka nantinya dan juga agar Kyungsoo tidak perlu terbayang-bayang dengan kata-kata Tao yang mengatakan kalau akan ada banyak jiwa yang menangis dan dendam akan setiap nyawa yang menjadi hidangan makan malam mereka.
Lagipula satu manusia untuk mengisi dua perut vampire lapar? ―mereka akan kering dan mati dengan cepat.
Setengah galon darah selalu Kai hidangkan untuk disantap olehnya dan Kyungsoo, setiap dua hari hingga satu minggu sekali.
"Kai…?"
"Hmm."
"Kau sedang apa?" Kyungsoo memasuki kamarnya perlahan. Ruangan yang sejak dua belas jam yang lalu telah disulap menjadi laboratorium dadakan itu nampak begitu 'sibuk' dalam arti berantakan. Dedauanan dengan aneka warna dan bentuk berserakan di satu wadah dekat jendela dan deretan gelas-gelas kimia berisi cairan serba gelap berjejer di sisi lain kamar sementara sang ilmuwan sendiri tengah berkutat dengan sesuatu yang begitu serius ia aduk dan campurkan di dekat daun pintu.
"Racun." Jawab Kai asal lewat, mengambil seekor kelelawar dalam sangkar besi dan meneteskan beberapa mili cairan yang dicampurkannya tadi ke dalam mulut binatang malam itu.
Dalam hitungan setengah detik kelelawar itu sontak menjerit-jerit layaknya suara tikus yang terjepit pagar ―memenuhi ruangan―, memekakkan telinga hingga Kyungsoo harus memejamkan matanya dan menekan kuat-kuat telinganya akibat suara melengking itu.
Suara jeritan binatang kecil itu hanya terdengar sesaat dan lalu berhenti. Kini onggokan kehitaman di tangan Kai itu bergantung kaku begitu saja ―pertanda ia sudah mati.
"Cih!" Kai nampaknya masih belum puas dengan hasilnya dan melenggang keluar begitu saja.
"K-Kai!" panggil Kyungsoo berlari hendak menyusul Kai sebelum kekasihnya itu menghilang di balik dinding di bawah tangga sana. "Kau mau kemana?"
Mendengar Kyungsoo memanggil, Kai berhenti tepat di kaki tangga, menunggu Kyungsoo yang perlahan turun dari lantai dua.
"Aku hanya pergi sebentar untuk mencari sesuatu, kau tetaplah di rumah, jangan kemana-mana. Mengerti?" ujar Kai mengelus rambut Kyungsoo dengan penuh rasa sayang lalu tersenyum.
"Aku tidak suka poker face itu, Kai. Jelaskan padaku, sebenarnya kau sedang merencanakan apa?" tanya Kyungsoo menepis tangan Kai dan memasang wajah tak suka.
Perlahan Kai kembali mengulurkan tangannya, digenggamnya kedua tangan Kyungsoo lalu dibawanya ke depan wajahnya ―mengecup punggung kedua tangan itu. "Aku melakukan semuanya untukmu." Ujarnya.
"Itu ambigu." Timpal Kyungsoo.
"Hm…maaf, aku hanya ingin mencari bahan untuk uji cobaku di atas tadi."
"Makanya aku tanya, kau sedang merencanakan apa?"
"Bukankah sudah kukatakan kalau itu racun?"
"Itu juga ambigu, racun apa?"
Sesaat Kai terdiam menatap lekat-lekat kedua tangan yang masih digenggamnya. Menutup matanya dan menarik nafas, "Racun untuk membunuh vampire." Jawabnya kemudian.
Bisa Kai rasakan bagaimana tubuh Kyungsoo tersentak pelan dari genggaman tangannya ketika mendengar jawabannya itu.
"Aku membuatnya untuk berjaga-jaga saja. Mengantisipasi serangan terburuk yang bisa dilakukan semua pihak yang menentang kita berdua." Kata Kai lagi, menyelam dalam ke iris indah pemuda pengikat hatinya itu.
"Jangan lama-lama, sudah hampir pagi." Ujar Kyungsoo dan kemudian mengijinkan kekasihnya untuk pergi.
"Kyungsoo..," Kai memanggil lagi sejenak sebelum ia menghilang di balik pintu. Diusapnya wajah yang begitu manis itu lembut, "Aku janji akan membawamu pulang ke Paris secepatnya." Ia tau betul Kyungsoo sangat sengsara ketika ia memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka dan beberapa penghuninya di sana dan Kai tidak ingin membuat Kyungsoo lebih merasa digantung lagi dari ini.
Secercah harapan menari di kedua iris Kyungsoo, senyum yang nyaris telah ia lupakan sejak tragedi terus bermunculan di hadapannya sejak kembali ke London itu kini mengembang tipis di wajahnya. "Aku selalu percaya padamu, Kai." Bisiknya dan Kai pun segera mengecup bibir itu penuh kasih lalu pergi.
The Last Warn
Sepertinya yang paling umum terjadi di musim hujan, langit siangnya akan diselimuti oleh awan tebal bergemuruh menutupi sang mentari untuk mengirimkan sinarnya jatuh ke bumi, sepanjang hari.
Suhunya begitu dingin, semua pohon yang mengintari rumah Kyungsoo bergerak melambai-lambai dengan suara bergemerisik khas. Padahal jam menunjukkan pukul satu siang, tapi suasananya seperti ketika fajar baru akan menyingsing. Mendung dan redup.
Terdengar guntur-guntur kecil dan kilatan di dalam awan dari tempat Kyungsoo berdiri. Suasana itu…membuat ia begitu rindu 'dunia terang'. Dihirupnya dalam udara lembab di sekitarnya ketika gerimis yang begitu kecil mulai meluncur turun dari langit.
Begitu tenang dunia ini. Angin sepoi-sepoi dingin menyapu kulitnya dan semua itu membuat Kyungsoo tidak tahan untuk melangkah keluar. Ia ingin berjalan-jalan sebentar ke desa mumpung tak ada matahari yang akan memanggangnya.
"Tuan Kyungsoo!" tegur suara seorang pemuda dari belakang ―menghentikan langkah kaki Kyungsoo yang baru saja akan menuruni tangga terasnya menuju pekarangan.
Pemuda berambut panjang keperakan itu menyodorkan sebuah payung dan juga mantel besar padanya.
"Tolong bawa payung dan gunakan mantel ini sebelum tuan keluar." Pinta Dan ―tersenyum sopan.
"Ah..terima kasih." Sahutnya lalu mencomot payung dari tangan Dan dan mempersilahkan pemuda yang lebih tua dan lebih tinggi darinya itu memasangkan mantel kulit tebal ke tubuhnya.
Setelah semua kancing mantel besar sebetis bewarna kecoklatan yang nampak begitu hangat menempel di tubuh Kyungsoo itu selesai di pasang, Kyungsoo pun melangkah di atas lapangan berumput basah di pekarangan rumahnya. Mengarahkan langkah-langkah kecilnya menuju desa.
Kyungsoo begitu rindu akan suasana desa, rasanya seperti sudah berabad-abad ia tidak melihat keadaan tempat itu, ia ingin ke pasar sekarang, melihat bagaimana para penduduk saling bercengkerama satu sama lain, menemui paman si penjual ikan yang beralih menjadi penjual daging sekaligus karena Kyungsoo, berbincang dengan bibi penjual apel langganannya ―atau harus Kyungsoo katakan langganannya Candy. Ahh, desa pasti ramai pada jam segini. Kyungsoo tau betul para penduduk desa adalah orang yang gigih, pasar adalah sumber ekonomi utama desa itu, hujan gerimis begini saja tidak akan mungkin membuat para warga mengurungkan niat untuk berjualan.
Suara gemerutuk bebatuan di jalan setapak menuju desa yang Kyungsoo lewati membuat sang pemuda berpayung itu semakin antusias untuk segera sampai ke desa.
Dan ketika ia sampai di desa itu ―tepatnya di daerah pasar, langkahnya terhenti. Ia sama sekali tidak bergerak menuju kios penjual daging kesayangannya atapun berjalan menghampiri toko buah tempat hewan peliharaannya biasa mencomot apel. Apalagi berjalan bekeliling untuk melihat-lihat di pasar tersebut ―atau yang seharusnya adalah pasar itu.
Tatapan Kyungsoo menyusuri tiap sudut tempat yang cukup luas membentang di hadapannya. Sepanjang ia memandang yang terlihat adalah kios-kios yang kosong teronggok bagai ditinggal penghuninya, sampah bertebaran selayaknya pasar pada umumnya namun tanpa ada yang berinteraksi di sana. Kosong.
Pasar itu kosong.
Tanpa ada orang, tanpa ada penjual dan pembeli, bahkan anak-anak penduduk desa yang biasanya berkeliaran tak jelas juntrungannya pun tak nampak satu pun di tanah kosong itu.
Kyungsoo menurunkan payungnya ke sisi tubuhnya, membiarkan hujan gerimis membasahi mantel coklat mahal miliknya, "Kemana…semua orang…," desis bibir itu pada angin.
Cukup lama Kyungsoo mematung di tempatnya, berusaha sebisa mungkin untuk mendengar tanda-tanda kehidupan dari rumah-rumah warga yang jendela dan pintunya tertutup rapat di seluruh penjuru.
Desa itu seolah baru saja mengalami pengungsian mendadak dalam skala besar hingga suasananya begitu sepi.
Tapi Kyungsoo tau semua rumah yang pintu dan jendelanya ditutup itu masih memiliki penghuni. Mereka bersembunyi. Semuanya nampak bersembunyi dari sesuatu…
Tapi apa?
Tatapan Kyungsoo masih menerawang tak percaya pada kesunyian yang terpampang dihadapannya.
Kemana semua orang? Apakah para penduduk tengah bersembunyi dari mahluk yang sebelumnya paman Kwon sebutkan sebagai penyerang ternak-ternak mereka?
Ataukah ada alasan lain?
Baru saja kaki Kyungsoo akan melangkah masuk ke dalam desa untuk memastikan tanda-tanda kehidupan yang samar-samar ia rasakan sejak tadi itu ketika sebuah suara menegurnya dari balik sebuah bilik yang dulunya adalah tokoh kanvas di sebelah kanan pasar itu.
"Sedang mencari angin, 'nona'?"
Kyungsoo segera menoleh ke sumber suara dan menemui sesosok pemuda berkulit pucat dengan wajah tanpa ekspresi tengah berdiri mematung di depan bilik kios itu. Mantel kulit hitam sebetis miliknya nampak mengkilat akibat basah oleh air hujan. Pemuda yang tak asing bagi Kyungsoo itu sepertinya sudah berada di sana sejak tadi.
"Sedang mencari angin atau…'makanan', 'nona'?" tanya pemuda itu sekali lagi.
Kedua kepalan tangan Kyungsoo mengerat seketika. Tatapan benci pun tak pelak ia tahan untuk disiramkan pada pria pucat yang kini sedang menatapnya lurus itu.
Apa yang ia lakukan disini? Kyungsoo ingin sekali bertanya ―apa dia penyebab semua ini? Tapi niatnya urung ketika telinganya mendengar kecipak-kecipak air saling bersahut-sahutan di sekitarnya. Beberapa sosok yang juga tak asing lagi bagi Kyungsoo kembali bermunculan.
Berderet-deret mengelilingi tubuhnya dalam jarak belasan meter. Jimin, Junwoo, Jino dan tentunya Sehun, kini berkumpul bersama Kyungsoo di tengah-tengah pasar tak beroperasi siang itu.
Langit semakin menggelap namun tak kunjung menumpahkan hujan yang lebih deras. Meski begitu gumpalan awan besar yang menggantung di langit memberi cukup ruang dan waktu untuk semua pemuda berstatus sama ―vampire― di pasar itu untuk bisa berinteraksi di luar bayangan hari itu.
Tegang. Dan tentunya gugup dirasakan oleh Kyungsoo. Kembali ia dikelilingi para pemburu nyawanya sekali lagi. Mungkin, kalau saja suhu tidak begitu dingin untuk mengunci rapat-rapat setiap pori-pori kulit di tubuh Kyungsoo, keringat pasti sudah mengucur dari pelipis pemuda itu sekarang.
Kini bukan hanya kedua kepalan tangannya saja yang mengetat, tapi rahang Kyungsoo pun ikut mengerat tegang. Melempar tatapan benci penuh intimidasi keseluruh pasang mata yang tengah menyorotnya saat itu.
Tidak, Kyungsoo tidak seharusnya takut. Kini ia pun adalah seorang vampire. Bukan lagi manusia lemah yang selalu bisa menjadi sasaran empuk para mahluk penghisap darah berkekuatan super itu. Kyungsoo kini juga sudah bisa melakukan perlawanan jika saja Sehun dan kelompoknya bertindak gegabah dengan menyerangnya.
Dengan keteguhan hati itu, Kyungsoo kini bisa sedikit menenangkan dirinya. Memberi sorotan mata yang seolah berkata 'aku tidak takut pada kalian'.
"Jangan salah paham dulu," Sehun melerai, "Kami tidak berada di sini untuk menjatuhkanmu." Katanya lagi.
Kyungsoo yang tadinya sedang melempar tatapan menggertak pada antek-antek pemuda pucat itu kini mengalihkan tatapannya ke arah Sehun.
"Aku kesini hanya untuk memberi sebuah peringatan." Sehun memberi penjelasan. Ditatapnya Kyungsoo dingin dan kembali berbicara, "Kau mungkin sudah menjadi seperti kami. Akan tetapi, persoalan kita bukan berarti selesai begitu saja. Pada awalnya masalahnya memang bukan karena kau manusia dan kami vampire, akan tetapi…heh, kurasa kau sudah tau betul alasannya kenapa kau harus mati, Kyungsoo."
"Karena aku merebut Kai darimu begitu?" sambung Kyungsoo sinis yang terdengar merendahkan.
"Seperti itulah." Sehun mengakui.
"Aku tidak ingat kapan Kai menjadi milikmu. Dan terlebih lagi Kai sendiri tidak pernah mengakuimu lebih dari seorang 'mantan teman kelompok'. Jadi pada awalnya aku sama sekali tidak pernah merebut apa-apa darimu, karena Kai….sejak awal memang bukan milikmu!" tandas Kyungsoo yakin.
Sehun mendengus geli, meski sebenarnya ia sangat jengkel dengan kalimat itu, "Memang apa yang bisa kau simpulkan hanya dengan hidup bersama Kai selama kurang dari tiga tahun? Kai dan aku sudah hidup ratusan tahun bersama-sama, Kyungsoo, ikatan diantara kami berdua tidak akan mungkin bisa dicerna oleh otak dangkalmu itu." kilah bibir pucat itu selanjutnya, "Tapi yah, seperti yang kukatakan tadi, kami disini bukan untuk menjatuhkanmu atau pun berdebat denganmu. Melainkan memberi peringatan terakhir untukmu."
"…" Kyungsoo mendengarkan dengan seksama perkataan musuhnya itu.
"Aku sudah pernah bilang padamu, tanpa aku pun kau tetap akan selalu dalam masalah selama kau berada di dekat Kai. Terlebih lagi keputusanmu untuk menjadi vampire adalah tindakan terbodoh dan terkonyol yang pernah kau lakukan, Kyungsoo. Sangat bodoh. Dan aku jamin kau akan segera menyesalinya."
"Aku tidak butuh pendapatmu."
"Terserah,. Yah begini saja. Biar kuberitahukan kau satu hal. Kau benar-benar akan tamat kali ini, Kyungsoo. Aku mungkin tidak perlu turun tangan sama sekali untuk bagian finalnya. Keputusanmu menjadi vampire bahkan semakin mempermudah semuanya. Menjadi mahluk terkutuk yang di benci oleh manusia. Kita lihat saja nanti. Apakah kau bisa menangani ini….atau tidak."
"Cukup sampai disitu!" sebuah suara bariton memecah gemericik gerimis dalam keheningan desa yang begitu pilu.
Sehun dan yang lainnya tidak beranjak dari tempatnya. Semua mata tertuju pada sosok yang kini berada tepat di belakang Kyungsoo. Seorang pemuda dengan mata rubby menyala nyalang ―memberi isyarat agar semua yang berada di sekitarnya sebaiknya tidak bertindak bodoh jika tidak ingin mati.
"Kai…,"
"Kita pulang." Tangan Kai meraih lengan Kyungsoo dan menariknya pergi tanpa satupun dari kelompok vampire di belakang kedua orang yang kini menyusuri jalan setapak menuju rumah mereka itu melerai.
Sehun dan ketiga anggota kelompoknya yang tersisa, berdiri mematung dalam hujan layaknya seseorang yang tengah berkabung. Mereka membisu meski sepertinya dalam hati rencana licik yang menurut mereka kali akan berhasil tengah menari-nari indah di benak mereka masing-masing.
"K-Kai!" pekik Kyungsoo merasa kesal ditarik-tarik sepanjang jalan seperti itu oleh pemuda di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan berada di luar begini siang-siang? Bagaimana kalau hujannya nanti reda dan matahari muncul?" cercah Kai.
"Aku tau! Tadi itu aku hanya ingin berkunjung ke desa tapi ―"
Kai berbalik bingung menatap Kyungsoo yang tiba-tiba berhenti berbicara. Tanpa perlu harus bertanya, Kyungsoo yang nampak bersikap aneh di matanya itu akhirnya lebih dulu bertanya.
"Apa yang terjadi, Kai?" lirih Kyungsoo, merunduk dalam menatap bebatuan yang digilas sepatu botnya, menciptakan suara-suara becek dari genangan-genang air yang dilaluinya. "Apa yang sebenarnya terjadi di desa?" Kyungsoo kembali bertanya. Kai pasti tau soal ini. Kekasihnya itu cukup sering berada di luar rumah belakangan ini ―bukan hanya sekedar untuk 'memanen' budak-budak mereka, akan tetapi juga untuk keperluan lainnya yang tidak begitu Kyungsoo ketahui. Karena itulah Kyungsoo yakin Kai pasti tau sesuatu tentang ini. Tentang keadaan desa yang tiba-tiba sangat 'hening'.
"Aku tidak tau." Jawab Kai dingin sembari menatap ke depan.
"Bohong!" seru Kyungsoo kesal, "Kau pasti tau soal ini. Apa yang terjadi pada penduduk desa, Kai? Beritahu aku! Kenapa desa tiba-tiba menjadi sepi seperti itu? Apa mereka ―,"
"Besok lusa kita akan kembali ke Paris." Potong Kai dengan suara tak tergoyahkan.
"Huh?" Kyungsoo menatap dengan dahi berkerut. "Kenapa tiba-tiba begitu?" tanyanya.
"Aku sudah janji padamu, bukan, kalau kita akan kembali pulang ke Paris secepatnya. Ini sama sekali tidak tiba-tiba." Jelas Kai.
"Tentunya saja ini tiba-tiba…maksudku di tengah-tengah masalah begini kau tiba-tiba―,"
"Masalah apa?" Kai berbalik dengan tatapan mengintimidasi, "Masalah apa yang kau bicarakan? Tidak ada masalah disini dan kita akan pulang besok lusa sesuai janjiku." Tandasnya.
Kyungsoo bersunggut tak suka dan menghempaskan genggaman tangan kekasihnya. Bersikeras untuk jalan sendiri tanpa diseret-seret lagi.
Daripada harus membuat mood Kyungsoo semakin memburuk, Kai pun akhirnya memilih untuk menurutinya saja. Namun sayangnya saat ia berpikir dengan begitu Kyungsoo tidak akan ngambek lagi, rupanya 'mentari' tercintanya itu masih terus merajuk dan tidak ingin bicara dengannya bahkan sampai mereka tiba di kediaman mereka.
Sesampai di rumah hingga petang datang Kyungsoo benar-benar membisu. Wajahnya murung, bahkan sambutan para budaknya ―yang selalu mati-matian membuatnya tersenyum― pun diabaikannya.
Kai tau, Kyungsoo pasti tidak bisa begitu saja mengacuhkan kondisi desa yang tiba-tiba menjadi seperti pemakamam itu tapi sungguh, bukan berarti Kyungsoo harus kehilangan senyumnya sepanjang hari begini 'kan?
"Kyungsoo…," Kai mencoba membujuk sang kekasih yang kini tengah bergelung di bawah selimutnya. Tidak ada jawaban dari Kyungsoo, ia justru semakin menarik selimutnya seolah tak ingin memberi celah pada Kai bahkan untuk sekedar melihat selembar rambutnya.
"Aku ingin kita berbicara sebelum kembali ke Paris." Ujar Kai lagi.
Cukup lama Kyungsoo menunggu sampai Kyungsoo akhirnya merespon dengan keluar dari selimut tebalnya. Seperti bocah enam tahun yang masih ngambek ―dengan mulut mengerucut― pemuda berparas manis itu merangkak perlahan ke pinggir ranjang ―duduk di samping Kai, tanpa mengucapkan satu katapun. Meski begitu Kai bisa membaca bahasa tubuh kekasihnya itu ―bahwa Kyungsoo akan mendengarkannya.
"Maafkan aku, Kyungsoo," Kai memulai, "Soal para warga desa itu, aku masih belum tau pasti apa penyebabnya. Aku hanya mendengar rumor tidak jelas mengenai itu. Ancaman bahaya entah itu dari monster, binatang buas di hutan atau pun vampire sudah ada sejak dulu di desa itu. Tapi baru kali ini efeknya terlihat sangat nyata. Aku masih dalam penyelidikan. Tapi entah mengapa aku punya firasat yang tidak begitu bagus mengenai hal ini. Karena itulah..," ujar Kai menatap wajah Kyungsoo dengan tatapan tak terbaca, "Aku ingin kita segera pergi dari sini."
"Tuan Kyungsoo…tuan Kai, makan malamnya sudah siap." Baru saja Kyungsoo akan meminta penjelasan yang lebih rinci pada Kai namun interupsi Dan mengurungkan niatnya. Mungkin ia akan menanyakannya kembali sebelum mereka tidur.
"Ya, kami akan segera turun." Sahut Kyungsoo pada pemuda berambut perak itu saat Kai nampaknya tidak mau menyahut.
Kyungsoo lalu turun dari ranjang dan menghampiri Kai ―berdiri di hadapan tubuh kekasihnya yang masih duduk di pinggir ranjang.
Perlahan dilingkarkannya kedua lengannya ke leher Kai―yang pada posisi itu hanya beberapa senti lebih pendek darinya― kemudian memiringkan wajahnya, meminta perhatian.
Kai pun mendongkak dan menatap wajah Kyungsoo dengan ekspresi stoic-nya. Terkesan dingin, namun tidak bagi Kyungsoo. Baginya cara Kai menatapnya jauh lebih lembut dan hangat daripada sorot mata Kai yang pertama kali ia temui dua setengah tahun yang lalu. Wajah pemuda yang akan selalu menghantui mimpinya dimana pun dan dalam keadaan apapun dirinya berada. Pemuda yang dicintainya.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Kai.
Pertemuan dua pasang bibir dingin itu menjadi hangat seiring Kyungsoo merapatkan tubuhnya pada Kai yang kini membalas pelukannya. Lengan kokoh itu kini melingkar di pinggangnya dan mengelus-ngelus punggungnya.
Kyungsoo memiringkan kepalanya ke samping untuk menggamit bibir Kai menggunakan bibirnya ―sensual. Menarik mundur kepalanya untuk memberi kecupan-kecupan kecil di bibir Kai sebelum melumatnya kembali.
Lidah saling bertautan dan desahan Kyungsoo mulai memenuhi mulut Kai. Ingin sekali Kai segera merebahkan tubuh yang menjadi candunya itu ke ranjang tapi sayangnya Kyungsoo langsung menarik diri secara tiba-tiba ketika mendengar Rijin berlari menaiki tangga dengan terburu-buru.
Kyungsoo mengelap bibirnya cepat-cepat sebelum akhirnya Rijin pun muncul di ambang pintu kamar mereka yang memang terbuka.
Kyungsoo tidak ingin lagi mendengar jeritan-jeritan 'nista' dari budak-budak wanitanya tiap mereka mendapati dirinya dan Kai bermesraan.
"Tuan Kyungsoo! Tuan Kai! Ada tamu yang mencari tuan berdua." Kata gadis berambut pendek kecoklatan itu.
Dengan wajah bingung, Kyungsoo menoleh pada Kai tapi rupanya Kai juga malah melemparinya dengan wajah serupa.
"Siapa?" tanya Kyungsoo akhirnya pada Rijin.
Si budak hanya menggeleng pelan, "Maaf, saya juga tidak tau. Tapi dia seorang wanita. Cantik sekali." Ujarnya. "Erm…apa perlu kupersilahkan ikut bergabung untuk makan malam bersama?"
Kyungsoo maupun Kai tidak menjawab dan memilih segera turun ke bawah untuk melihat sendiri siapa tamu mereka.
Baik Kyungsoo maupun Kai sama sekali tidak punya ide siapa tamu mereka malam itu. Ibu Kyungsoo jelas mustahil untuk berkunjung apalagi saat desa dalam keadaan mencekam begini. Kyungsoo dan Kai juga tidak punya kerabat atau kenalan dekat yang akan mau jauh-jauh berkunjung ke desa terpencil tempat mereka berada. Lalu siapa? Krystal?
Ketika Kyungsoo sampai di lantai satu rumahnya, tepatnya di ruang makan tempat perhentian anak tangganya berakhir, tatapannya dan Kai langsung tertumbuk pada sosok gadis yang kini malah sedang membantu Dan dan Jihyun menyiapkan makanan di atas meja.
Gaun bewarna merah yang begitu indah dikenakan gadis itu menambah pesona cantiknya. Tidak ada kacamata dan rambut gadis itu bukan bewarna marun seperti yang Kyungsoo pikirkan ―melainkan merah muda.
"Ka-Kau….Kau….," terbata-bata, Kyungsoo menunjuk-nunjuk gadis yang kini teralihkan perhatiannya oleh kehadirannya itu.
Si gadis nampak sedikit tertegun namun segera tersenyum dan berjalan menghampiri Kyungsoo dan Kai yang masih berada di tangga.
Sedikit gugup dan juga bingung ketika gadis itu mendekat. Kyungsoo bingung harus bersikap apa. Sudah sangat lama sekali, tapi Kyungsoo ingat betul siapa gadis ini, meski begitu waktu itu yang ditemui gadis ini bukanlah Kyungsoo dengan wujudnya sekarang melainkan Kyungsoo dalam wujud Sookyung…jadi, apa yang harus Kyungsoo lakukan untuk menyapanya?
"Hai." Sapa Luhan ―gadis berambut pink itu.
"Ha-Hai…," sahut Kyungsoo terbata-bata.
"Aku baru dengar beberapa waktu yang lalu, ternyata kau ini pria, ya? Ya ampun. Aku sampai tertipu, kau tau. Waktu itu kau benar-benar mirip wanita! Berpenampilan seperti…," manik Luhan menatap tubuh Kyungsoo dari ujung kaki hingga ke wajah dengan ekspresi yang terlihat sedikit jijik namun tersamar. "seperti itu…haha, tapi kudengar kau itu punya kepribadian menyimpang juga, ya? Tapi tidak masalah sih," sambungnya lagi sok manis. "Masih ingat aku tidak?" tanya Luhan akhirnya masih bersikap ceria dibuat-buat.
Kedutan terpampang di kedua sisi dahi Kyungsoo mendengar penuturan gadis itu barusan, apa-apaan itu? "Heh, tentu saja aku masih ingat." Jawab Kyungsoo. "Jadi? Apa kau sudah melahirkan anakmu….. Nyonya?" Kyungsoo bertanya balik dengan penekanan pada kata 'nyonya' berusaha keras agar kata 'nyonya' itu tidak ia ubah menjadi 'bitch' karena saking kesalnya.
Luhan tergelak dan tertawa ―lagi-lagi sok manis karena menyadari Kai kini sedang memperhatikan tingkah lakunya, "Kau masih ingat saja soal itu. Aku hanya bercanda kok. Bercanda…haha, jangan diambil hati deh!" katanya, "Nah, aku cuma ingin berkunjung sebentar berhubung kebetulan aku melewati desa ini saat perjalanan pulang, tidak apa-apa 'kan?"
Dengan aura kesal, amarah, jijik dan jengah Kyungsoo mau tak mau mengijinkan Luhan untuk bergabung dalam acara makan malam mereka.
Steak ditata rapi dalam tiga porsi yang seimbang dengan para budak yang berdiri menjejer di setiap sisi meja.
Acara makan malam yang terasa hambar di lidah itu sebenarnya bisa berlangsung dengan khidmat kalau saja tidak ada gadis berambut pink yang terus saja berusaha mengajak ngobrol Kai ikut bergabung bersama mereka malam itu.
Kesal! Sangat kesal! Kyungsoo benar-benar muak dengan kehadiran wanita itu di rumahnya. Dan dari mana juga ia tau kalau Kyungsoo waktu itu hanya menyamar dan lagi soal 'menyimpang' yang ia sebutkan itu?
Eh? Tu-Tunggu dulu…betul juga, dari mana dia…
"Uhugh…ugh…uhough..!" Kyungsoo mundur dari meja dan menggenggam erat lehernya yang tiba-tiba terasa sangat sakit dan terbakar.
Apa ini? Kenapa…lehernya tiba-tiba serasa terbakar?
Baru saja Kyungsoo akan mengambil segelas air yang ditawarkan para budaknya yang langsung panik melihatnya itu ketika rasa terbakar yang ia rasakan menjalar ke lambungnya. Alhasil Kyungsoo sudah tidak dapat terbatuk lagi dan kini menderita dengan mengerang memegangi perutnya.
Segera, Kai langsung bangkit menghampiri Kyungsoo dan memeriksanya.
"Kyungsoo! Hey! Katakan sesuatu!" seru Kai panik.
"Urghh….aaagghhh…," erang Kyungsoo tidak tahan dengan rasa sakit yang menggerogoti lambungnya hingga keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya.
Luhan ikut bangkit dari kursinya, namun bukannya mendekat ke arah Kyungsoo yang kini terkapar di atas lantai, ia justru malah perlahan berjalan mundur seolah mencari timing yang tepat untuk kabur.
Barusaja ia akan beranjak dari ruang makan ketika Kai langsung melompat ke hadapannya dan mencengkram batang lehernya murka.
"Apa…yang kau lakukan padanya?!" tanya Kai berang.
"Akh…A…Aku…kh…tidak…,"
"JANGAN MENGELAK KA―,"
"Kai…kh," terdengar suara berat Kyungsoo di tengah kerumunan budaknya yang khawatir di dekat meja, membuat Kai segera menghempaskan Luhan hingga terduduk kasar di atas lantai lalu menghampiri Kyungsoo."
"Aku…baik-baik saja…," ujar Kesusahan kesusahan. "Tadi perutku serasa terbakar. Sangat sakit. Rasanya seperti organ dalam tubuhku terkikis-kikis dari dalam…tapi sekarang sudah membaik." Jelasnya.
Mendengar penuturan itu Kai akhirnya bisa mengendurkan urat tegang di wajahnya. Tapi lain dengan Luhan yang juga mendengar jelas apa yang Kyungsoo katakan barusan. Ia terlihat syok tak percaya dan semakin mundur teratur dan langsung berlari panik keluar dari rumah.
Kai dan Kyungsoo memperhatikan bagaimana wanita itu berlari ketakutan keluar namun segera mengacuhkannya.
Awalnya Kyungsoo pikir malam itu tidak akan menjadi lebih menyebalkan lagi ―setelah kemunculan kelompok Sehun yang memberinya peringatan, kondisi desa yang mencekam dan kehadiran gadis pengganggu yang dulu pernah mengaku-ngaku dihamili Kai itu― lalu kemudian ia bisa tidur dengan tenang mengistirahatkan pikirannya sebelum pulang ke Paris.
Namun rupanya, takdir ternyata memutuskan hal yang jauh lebih besar untuknya, dan mungkin akan menjadi hal terpenting tak terhapuskan dalam sejarah hidupnya akan terjadi malam itu.
Sebuah tragedi yang tidak akan bisa lagi ia ubah dengan cara apapun.
Tragedi yang akan menentukan semuanya.
Dirinya…., Kai…., hidupnya…, kisahnya…., dan keluarga kecilnya…
Di mulai dari teriakan histeris memilukan dari seorang gadis di depan kediaman ―yang telah menjadi saksi dari nyaris sebagian besar momen hebat dalam hidupnya itu― dan lalu disusul pembantaian besar-besaran seluruh budak miliknya oleh sebuah kelompok vampire yang menjadi musuh bebuyutannya.
"KALIAN!" teriak Kyungsoo marah.
Kini ia berada di depan pekarangan rumahnya ―berdiri di samping Kai― berhadapan dengan Sehun, Jimin, Junwoo dan Jino ditengah-tengah mayat yang bergelimpangan di halaman hijau penuh genangan air malam itu.
Di bawah sinar rembulan yang begitu terang mengintip dibalik serabut-serabut tebal awan hitam pembawa hujan.
Sehun melangkah satu langkah ke depan sambil menendang mayat seorang gadis berambut pink yang menghalangi langkahnya. Tersenyum pada Kyungsoo dengan wajah penuh kemenangan.
Melihat sang pemilik rumah besar satu-satunya di tengah hutan itu begitu penuh murka ―akibat pembantai budak-budaknya barusan di depan matanya― itu, Sehun membuka lebar kedua tangannya di udara. Dan bagaikan magic di pesta karnaval, suara-suara gaduh puluhan bahkan ratusan orang terdengar sayup-sayup dan semakin jelas tiba-tiba memenuhi di udara ―seolah Sehun yang memanggil suara-suara itu.
Sekali lagi Sehun tersenyum dan menatap Kyungsoo dan juga Kai bergantian. "Simpan emosi kalian," katanya bangga. "Karena bukan aku yang harus kalian hadapi malam ini."
Dalam sekejap setelah Sehun berkata seperti itu, tubuhnya dan juga anggota kelompok lainnya langsung menghilang tertelan udara. Lenyap dari hadapan Kai dan Kyungsoo.
Namun suara-suara gaduh yang Sehun ciptakan ―jika seandainya saja itu memang adalah sebuah sihir― masih tetap mengiang di udara malam yang begitu dingin. Semakin jelas dan terus semakin keras dan…marah.
Samar-samar dari arah jalan setapak yang biasa Kyungsoo lalui untuk menuju desa mulai terlihat cahaya-cahaya obor menyala-nyala memantul dan menyeruak dicelah-celah pepohonan.
Yang pertama nampak adalah beberapa pria dengan obor besar dan senjata api laras panjang ―yang biasa digunakan untuk berburu beruang― muncul berjalan memasuki pekarangan. Disusul selanjutnya para pemuda yang setengah baya dan lebih muda di belakang dan lalu wanita dan gadis desa yang menenteng anak dan adik-adik mereka yang masih di bawah umur.
Semuanya memegang obor besar.
Semuanya memegang senjata tajam dan senapan.
Semuanya berwajah marah.
Semuanya…berteriak.
"BUNUH MEREKAAAA!"
"BUNUH PARA VAMPIRE TERKUTUK ITU!"
"JANGAN BIARKAN MEREKA TETAP ADA DI DUNIA INI!"
"BUNUH! BUNUH! BUNUH!"
"BAKAR! BAKAR! BAKAAR MEREKA!"
Seluruh warga ―yah, seluruh warga, semua warga meninggalkan rumahnya malam itu― berhenti tepat di pekarangan Kyungsoo. Sorot mata mereka kian mengkilat murka tatkala mereka yang berjumlah lima ratus orang itu mendapati sepasang kekasih yang mendiami kediaman besar di tengah hutan tersebut kini berdiri di tengah-tengah gelimpangan mayat bersimbah darah yang dalam kondisi amat mengenaskan.
Pria tua ―bergelar kepala desa― dengan perlengkapan senjata terbaik dan obor besar yang selaras dengan bentuk tubuhnya yang juga besar mendelik ke arah Kai dan Kyungsoo, menggeram dalam dan akhirnya berteriak bagai komandan yang memerintahkan para serdadunya maju berperang.
"BUUUNNUUUUUHHH MEEREEEKKAAAAA!"
.
Seluruh penduduk marah itu mengamuk dan bergerak serempak, nyaris berlari menuju ke arah Kai dan juga Kyungsoo yang masih terpaku.
Kini pilihan tersisa satu-satunya yang Kai dan Kyungsoo miliki saat itu hanyalah…
KABUR.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
{Tanjungpinang, 20151118}
Je Ra minta maaf kalau masih ada aja typo yang nggak ke edit dan membuat readers kurang nyaman saat membacanya. Je Ra akan berusaha untuk meminimalkan typo yg ada di fic ini n(_ _)n.
Terima kasih buat yang udah RnR, fav dan follow ^_^ Je Ra harap chap ini dan seterusnya masih ada yang berkenan untuk mereview dan semoga jumlahnya makin banyak agar Je Ra lebih semangat lagi ngelanjutin-nya \^.^/
Next chap will be the last chap : {20151121}
See you on next chap :)
XOXO
