.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Gender : Romance, Humor, Friendship

Rate : M

Pair : Sasuke, Sakura

Accidentally in Love

Part 29

'See you again'

enjoy


Sakura terpaku. Emerald teduhnya bergetar menatap Sasuke. Tidak mengerti apa yang baru saja pria itu katakan. Pergi? tidak ada guntur, hujan maupun badai. Sekarang adalah awal musim semi, yang ada hanyalah bunga-bunga bermekaran indah. Sakura menantikan moment ini cukup lama. Berduaan menikmati keindahan alam bersama kekasihnya. Sebuah kabar tidak menyenangkan tiba-tiba terlontar dari mulut Sasuke dan Sakura merasa waktu mulai berjalan lambat.

"Sasuke-kun apa maksudmu? pergi kemana?" tangan Sakura menjauh dari pipi Sasuke, perasaan khawatir merambat di dadanya. Pelan dan nyeri. Sasuke terdiam, raut wajahnya menyimpan banyak sekali penjelasan yang siap ia utarakan untuk memperjelas semuanya. Jika Sakura berpikir sejauh ini hubungannya dengan Sasuke berjalan dengan lancar, saat inilah batu rintangan mulai menampakkan bentuknya walau Sakura sendiri belum yakin apa rintangan itu.

"Sakura." suara Sasuke berat, tubuhnya menegak dari sandaran tangan. "Dengarkan aku." Onyx kelam Sasuke mengunci perhatian Sakura. "Aku akan keluar dari Gamabunta. Aku akan pergi ke Amerika, ke Boston."

Jantung Sakura berdenyut. Berpisah. Hal pertama kali yang terlintas di kepala. Pertanyaan besar terpancar di wajah Sakura yang menegang. "Sasuke-kun..." Nadanya lirih.

"Sakura, dengarkan aku." Nada Sasuke tegas dan jelas, mengantisipasi respon yang sudah ia bayangkan dari gadis itu. Memerintahkan Sakura untuk mendengar penjelasannya.

"Ayahku datang ke sini bukan tanpa alasan. Saat aku sudah bisa berdiri dengan kakiku sendiri, sekarang saatnya aku untuk berjalan. Apa yang terjadi pada Gamabunta terakhir kali membuat ayahku mengambil beberapa keputusan lebih cepat dan aku siap menerima tantangannya."

Sakura terdiam. Apa yang ia rasakan saat ini membuatnya tidak ingin mengatakan apa-apa. Penjelasan singkat dari Sasuke mulai tergambar dan apa yang Sakura tebak saat ini tidak lain hanyalah menyangkut tentang...

"Kau akan pergi dalam jangka waktu lama?"

"Sakura, aku..."

Sakura langsung berdiri. "Ayo pulang." Sakura mengacuhkan pembicaraan. Gadis itu tersenyum paksa. Tidak ingin mendengar lebih lanjut penjelasan dari Sasuke. Semuanya jelas. Sasuke pergi untuk satu alasan dan Sakura belum siap mendengar kenyataannya.

"Sakura..." Sasuke memanggil. Nadanya membujuk Sakura untuk mendengarnya. Sasuke tahu situasi ini akan terjadi, ia sudah memikirkannya sejak lama. Sejak orang tuanya kembali ke Konoha.

Sakura melangkah meninggalkan Sasuke. Melewati padang bunga yang indah. Pesona warna-warni bunga liar itu tidak bisa menenangkan mood-nya yang sedang kacau. Sasuke menyusul Sakura di belakang. Dalam keheningan Sasuke mengikuti jejak Sakura menelusuri jalan setapak, meninggalkan area belakang kuil Naka sambil berkutat dengan pikiran masing-masing. Langkah Sakura tegas, terburu-buru, dan memancarkan emosi yang tidak stabil. Ekspresi wajahnya yang tegang, sedih, kesal dan tidak mengerti teraduk menjadi satu.

Mereka tiba di depan halaman depan kuil. Sakura menghentikan langkah, ia teringat akan sesuatu. Sorot matanya mengarah pada pepohonan di pinggir pelataran. Sasuke diam memandang gadis itu berjalan dengan langkah cepat menghampiri salah satu pohon. Perhatian seorang Kannushi yang sedang lewat juga mengarah pada Sakura saat gadis itu mencari-cari sesuatu di antara ranting pohon yang menjulur ke bawah.

Ini dia!

Sakura mengambil satu Omikuji. Kertas ramalan yang pernah ia gantung di salah satu ranting pohon. Tunggu sebentar, Coba aku ingat isi ramalannya dulu. Ah.. benar..., isinya adalah 'Daikyou' (great disaster). Sakura membuka kertas itu kembali, membaca tulisan 'What the hell' yang tertulis di tengah-tengah dengan tinta pena milik Jiraiya. Tulisannya sudah luntur. Mungkin efek selama musim salju. Kertasnya sudah agak rapuh dan mengeras kaku. Sasuke menghampiri, tidak bertanya apapun dan hanya memperhatikan Sakura. Gadis itu kembali melipat kertas omikuji, menggigitnya, lalu naik ke atas pohon. Di situlah Sasuke dan Kannushi bingung apa yang akan dilakukan Sakura.

"Sakura, apa yang kau lakukan? Turun." Perintah Sasuke. Sakura mengindahkan perintah itu dan tetap naik ke atas. Pak Khannushi menghampiri Sasuke, keduanya mendongak ke atas melihat apa yang akan dilakukan Sakura. Gadis itu berdiri, perlahan ia bergeser ke samping kanan sambil berpegangan, sampai akhirnya ia bersandar pada salah satu dahan.

"Sakura. Cepat turun." Perintah kedua Sasuke dianggap angin lalu.

"Nona, di atas bahaya. Cepatlah turun." Perintah Kannushi dianggap seperti radio rusak. Sakura berhenti aneh-aneh! Cepat turun! di bawah itu jurang!

Hup! Sakura berhasil meraih salah satu rantai kecil yang paling dekat, ia mengambil Omikuji dari mulutnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya masih menarik ranting. Dengan hati-hati Sakura mengikat Omikuji pada ranting itu. Menurut mitos, ramalan buruk bisa dihindari dengan cara mengikat Omikuji pada ranting-ranting pohon kuil. Sakura berpikir cara ini akan lebih efektif jika ramalannya diikat lebih tinggi. Setelah terpasang, Sakura menghempaskan ranting ke tempat semula dan bunyi Sraak! terdengar.

"Hati-hati." Ucap Sasuke saat Sakura perlahan bergerak turun dari pohon. Sasuke dan Khannushi sudah bersiaga tepat di bawah, siap menangkap Sakura jika hal-hal yang tidak diinginkan tiba-tiba terjadi. Tangan Sasuke terangkat ke atas, meraih pinggang Sakura ketika gadis itu bergerak turun hampir mencapai bawah.

Sakura melopat ke arah Sasuke. Dengan selamat kakinya menginjak tanah. Kannushi bernafas lega, mungkin sambil membatin kenapa sosok merah muda itu selalu membuat onar di kuil Naka. Sasuke dan Sakura bertatapan sekejap. Keduanya tidak mengatakan apapun. Sakura langsung mengalih dari rengkuhan Sasuke, ia mengangguk pada kannushi lalu berajak pergi. Begitu pula Sasuke, ia pamit lalu bergegas menyusul Sakura. Pak Kannushi pun bingung dengan situasinya, ia memandang sepasang kekasih itu cukup lama.

.

"Mau kemana? Sekalian kita makan malam diluar." Sasuke memecah keheningan saat mobilnya dalam perjalanan tanpa tujuan. Masih tersisa dua jam lagi sampai menjelang matahari terbenam.

"Pulang saja." Jawaban singkat. Sakura tidak banyak bicara dan terus-menerus melihat keluar jendela. Sasuke mengerti mood Sakura sedang tidak baik, bahkan ia tidak menegur aksi Sakura memanjat pohon setelah mereka naik ke dalam mobil dan meninggalkan kuil Naka.

"Tadi Omikuji milikmu?" Tanya Sasuke. Sakura hanya menyaut dengan kata 'Hm.' Sasuke mungkin sedang mencairkan suasana dengan memancing obrolan. "Apa isi ramalannya?"

"Daikyo."

Sasuke terdiam. "Tidak usah mempercayai ramalan." Ucapnya kemudian.

"Aku tidak percaya. Hanya saja aku berjaga-jaga." Sasuke tidak berkomentar mendengar sahutan Sakura.

"Kau mau memasak makan malam bersama koki rumah?" Tanya Sasuke lagi.

"Tidak. Mungkin lain kali saja." Tampaknya Sakura benar-benar tidak mood saat ini. Sasuke memilih diam dan ia memutuskan pergi ke Supermarket.

"Kita mau kemana?" Sakura menyadari rute perjalanan tidak menuju ke apartemennya.

"Ke Supermaket."

"Masih ada bahan makanan di kulkas."

"Aku ingin makan sup tomat malam ini. Terakhir kulihat, tomat di kulkas habis."

"Aku sedang tidak ingin memasak. Kita bungkus makanan saja."

"Aku ingin makan sup tomat. Aku akan memasaknya sendiri."

"Baiklah." Sakura malas berdebat dan sekejap Sasuke meliriknya.

.

"Hinata, bagaimana jika kita makan malam di ramen Ichiraku saja? sudah lama sekali aku tidak makan ramen, aku sangat merindukannya." Naruto mengubah rencana makan malam saat menunggu pintu lift terbuka di lantai 14. Sepasang burung dara itu mau pergi malam mingguan. Rencananya mau mengajak Sakura double date tapi gadis itu tidak ada di apartemen.

"Bukankah baru empat hari yang lalu kita makan ramen Naruto-kun?" Hinata heran saat mendengar kata 'lama sekali' dari mulut Naruto. Pria itu benar-benar maniak ramen sejati.

"Ah benarkah? hehehe aku lupa..." Naruto pura-pura lupa, ia menggaruk belakang kepalanya sambil menampakkan deretan gigi.

Ting!

Disaat bersamaan pintu lift terbuka, menampakkan sosok Sasuke dan Sakura.

"Ah kalian, pas sekali!" Naruto mengangkat tangan. Sakura tersenyum pada Hinata sambil melangkah keluar dari lift tanpa mengatakan apapun, ia berlalu pergi begitu saja. Sasuke mengikuti di belakang dengan membawa dua kantung plastik belajaan.

"Dobe." Sapa Sasuke, ia juga mengangguk pada Hinata. Melihat sikap Sakura dan Sasuke. Naruto menduga sepertinya sedang terjadi konflik diantara mereka. Mengacuhkannya sebagai hal yang wajar terjadi pada sepasang kekasih, Naruto dan Hinata masuk ke dalam lift dan mereka pergi malam mingguan.

Sakura tidak mengucapkan salam ketika masuk ke dalam apartemen. Gadis itu langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan. Sasuke paham apa yang dirasakan Sakura saat ini, pria itu diam memperhatikan Sakura sambil menaruh barang belanjaan di atas meja makan. Sakura meneguk segelas air putih dan langsung menuju kamar. Ia meninggalkan Sasuke yang sedang mengeluarkan sayuran dari kantung plastik. Sepertinya Sasuke akan memasak sendirian. Mau kami temani Sasuke-kun?

Perasaan campur aduk masih menyelimuti Sakura saat ia mengganti baju. Pikirannya masih berkutat soal rencana kepergian Sasuke. Sakura masih belum percaya sekaligus bertanya-tanya kenapa hal itu harus terjadi. Bukan hal yang salah karena sebenarnya Sakura tahu betul rencana itu mengarah pada beberapa alasan yang masuk akal. Sakura ingin mengetahui penjelasan lebih dalam tapi rasa takut dan ketidak siapan untuk menimbang keputusan Sasuke muncul di benaknya. Sakura khawatir Sasuke akan mengajaknya bicara lebih serius lalu berakhir dengan meminta persetujuan. Long distance relationship? Sakura tidak pernah membayangkan itu akan terjadi.

Ceklek. Pintu kamar terbuka.

"Sasuke-kun!"

Sakura melonjak kaget, ia langsung berjongkok sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sasuke sendiri juga kaget. Dirinya mana tahu jika saat ini Sakura sedang ganti baju dan kebetulan sekali masih telanjang hanya memakai pakaian dalam?

"Sakura, dimana kau meletakkan alas pemotong?" Tanya Sasuke, ia masih mencengkram pegangan pintu dengan ekspresi tenang. Onyx-nya melihat Sakura yang sedang menutupi tubunya sendiri.

"Di gantungan rak, cepat Keluar..." Sakura belum bergerak dari posisinya. Sasuke lalu menutup pintu. Baru saja Sakura berdiri, tiba-tiba Sasuke membuka pintu kembali. Shannaro!

"Sasuke-kun!"

Sakura langsung jongkok kembali.

"Sakura, kau tidak mau menemaniku memasak?" Menemani? bilang saja minta bantuan apa susahnya?

"Tidak." Jawab Sakura.

Sasuke tidak berkomentar, ia menutup pintu kembali dan Sakura langsung berlari mengunci pintunya dari dalam. Bunyi ceklek tombol kunci terdengar. Sasuke melirik lalu melangkah menuju dapur.

Sakura memakai kaos hijau muda lengan panjang dipadu dengan celana krem seper-empat. Setelah memakai pakaian, gadi situ duduk di tepi ranjang dan melamun sejenak. Klontang! Bunyi panci terdengar dari dapur beberapa saat kemudian. Perhatian Sakura langsung terpusat, memikirkan apa yang sedang dilakukan Sasuke di dapur. Timbul perasaan tidak tega membiarkan Sasuke memasak sendirian. Sakura selalu tidak tega pada pria itu, bahkan dalam kondisi suasana hati yang sedang gundah karenanya. Menghela nafas, Sakura pun keluar kamar dan menyusul Sasuke di dapur.

Sakura melihat Sasuke sedang fokus mencuci semua tomat-tomat miliknya. Pria itu menggulung lengan kaosnya sampai siku. Langkah Sakura berhenti, ia memandang Sasuke dari ruang tengah. Ini pertama kalinya Sakura melihat Kekasihnya memasak. Wajah Sakura berubah sendu, menebak berapa kali lagi ia bisa melihat sosok itu memasak di dapurnya.

Sasuke berbalik setelah meniriskan semua tomat. Onyx-nya menangkap Sakura yang sedang terpaku memandangnya. Sakura lalu mendekat. Sasuke meraih ponsel di atas meja makan untuk membaca langkah memasak selanjutnya melalui internet. Sasuke pernah membuat sup tomat sekali tapi ia masih sedikit bingung. Sakura mengambil bahan-bahan yang Sasuke letakkan secara berjejer di meja makan seperti lapak pedagang sayuran. Dengan cekatan Sakura memisahkan bahan-bahan yang diperlukan. Sasuke memperhatikan dan langsung menyesuaikan diri. Mereka memasak dalam keheningan. Sakura jarang bicara kecuali jika Sasuke menanyakan sesuatu perihal langkah-langkah memasak.

Satu jam berlalu. Sakura bukan hanya membantu Sasuke membuat sup tomat tapi ia juga membuat menu tambahan. Hidangan tersaji di atas meja makan setelah menggusur lapak pedangan sayur. Sasuke dan Sakura makan bersama dalam keheningan, keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sesekali mata mereka bertemu.

"Sakura. Usai makan kita bicara."

Sakura langsung menunda suapan sendoknya, ia menatap Sasuke sekejap. Tidak ada sahutan dari Sakura dan gadis itu mempercepat gerakan makan. Satu menit selesai. Sakura meneguk air putih, membawa mangkuknya ke wastafel, lalu menuju kamar, meninggalkan Sasuke yang masih menyantap sup tomat di meja makan. Sakura mengambrukkan tubuh di atas ranjang usai menutup pintu. Menenggelamkan wajahnya pada bantal, tidak mengharapkan pembahasan itu dilanjutkan kembali. Beberapa menit kemudian Sasuke menghampiri, ia duduk di tepi ranjang melihat Sakura yang masih tengkurap.

"Sakura."

Belum Sasuke melanjutkan kalimat, Sakura langsung bangkit dari ranjang dan bergegas meninggalkan kamar dengan langkah terburu-buru. Gadis itu menuju kamar Sasori. Sasuke ikut menyusul tapi langkahnya hanya sampai di depan pintu. Sakura tidak mengijinkannya masuk, ia mengunci pintunya dari dalam.

"Sakura, buka pintunya." Sasuke mengetuk pintu. Tidak ada respon terdengar. "Sakura kita harus bicara." Masih tidak ada sahutan. Sakura duduk di atas ranjang, merengkuh kedua kakinya yang ditekuk ke atas. Sorot matanya mengarah pada pintu. Sasuke masih berdiri dibalik pintu itu dan Sakura tidak berniat membukanya.

Suara jam dinding kamar Sasori mengiringi keheningan malam. Jarum pendek menunjukkan pukul satu dini hari. Sakura meringkuk di atas ranjang, tidak bisa tidur, kepalanya dipenuhi kekhawatiran. Suara televisi di ruang tengah sudah tidak terdengar dua jam yang lalu. Ada dua kemungkinan, Sasuke pulang ke rumahnya atau pria itu tertidur di sofa dan televisi off secara otomatis. Sakura lalu turun dari ranjang, ia membuka pintu dengan sedikit celah, mengingip ruang tengah yang remang-remang. Ujung kaki Sasuke terlihat, pria itu sepertinya tidur. Sakura lalu keluar kamar, dengan langkah mengendap-endap ia menuju sofa. Tampak Seorang malaikat tidur dengan pulas. Kelelahan terpancar di raut wajahnya yang tampan. Sakura lalu menuju kamarnya untuk mengambil selimut. Perlahan ia menyelimuti tubuh Sasuke, kepala pria itu sempat bergerak namun ia tidak terjaga.

Sakura duduk di bawah sofa. Dalam keheningan ia memandang wajah Sasuke. Sakura menemukan apa yang sudah ia cari dalam kisah asmara. Kini Sakura merasa hidup bagai bunga di musim semi. Kemudian bunga itu bermekaran indah, lalu berhenti menari karena hembusan angin berhenti di saat rintik hujan mulai turun. Perlahan kesunyian menghampiri relung hati. Terbayang olehnya jika Sasuke pergi. Udara malam akan terasa sangat dingin, sinar matahari akan terasa sangat panas, deras hujan akan terdengar seperti alunan kehampaan. Hari-hari akan dilewati tanpa Sasuke. Aroma nikmat tubuh pria itu akan hilang, menyekik leher saat kerinduan datang melanda dirinya.

'Tidak. Aku belum siap. Lagi-lagi aku harus menghadapi waktu. Bagaimana aku akan menjalani itu semua?'

Sakura duduk bersandar pada kaki sofa, merengkuh kedua kakinya ke atas. Keningnya menempel pada lutut. Sesak menjalar dalam dada. Kisah cinta tidak akan selalu berjalan manis. Cinta mempunyai ujiannya sendiri. Setiap jiwa asmara akan melaluinya untuk membuktikan apakah dia layak untuk cinta itu.

.


Sasuke mendapati apartemen yang sunyi saat Onyx kelamnya terbuka di pagi hari. Jendela ruang tengah sudah terbuka. Sasuke bangkit dari tidur, pandangannya menyapu seisi ruangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sosok merah muda. Biasanya Sakura berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi. Sasuke lalu menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Kemudian ia menuju kamar Sasori. Kosong. Tanda-tanda ketidak beradaan Sakura semakin jelas setelah ia menuju kamar Sakura tapi gadis itu tidak ditemukan. Sasuke kembali ke ruang tengah, ia melihat ponselnya dan mendapati satu pesan.

Sakura : 'aku pergi jogging.'

Ponsel Sakura bergetar. Saat ini ia sedang menikmati secangkir teh hangat di cafe pinggir jalan di dekat apartemen. Sakura mengenakan baju trening dan sepatu olahraga. Rambut serta kulitnya berkeringat. Gadis itu usai berolahraga. Sakura ragu-ragu mengangkat panggilan Sasuke. Sekarang adalah hari minggu. Waktu senggang Sasuke sepenuhnya free hari ini. Seharusnya Sakura senang. Akan tetapi sesuatu membuatnya enggan menghabiskan waktu bersama kekasihnya kali ini. Sakura menghindari perbincangan yang belum sempat mereka lanjutkan semalam. Sakura tahu dirinya kekanak-kanakan dengan menghindari Sasuke tapi mau bagaimana lagi. Menata perasaan perlu ia lakukan sebelum menerima kenyataan pahit. Ponsel Sakura akhirnya berhenti bergetar. Beberapa detik menatap ponsel itu sampai akhirnya Sakura memutuskan beranjak dari kafe dan pergi ke tempat Ino.

Ting! Tong!

Sakura menekan bel pintu apartemen Ino berulang kali. Ia memastikan waktu pada jam tangannya. Saat ini jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi, masih dianggap subuh oleh khalayak orang-orang yang menikmati akhir pekan.

"Sakura?"

Sosok Ino terlihat dalam balutan handuk kimono serta rambut yang terlilit handuk. Sepertinya Ino baru saja mandi.

"Hai." Sakura tersenyum lalu masuk ke dalam tanpa dipersilahkan.

Ino berdiri di hadapan Sakura. Tamunya itu tengah duduk di sofa sambil melepas trening jaketnya. "Kau habis jogging? Tumben pagi-pagi begini datang bertamu.."

"Mampir minta air minum. Aku haus." Sakura berdiri menuju dapur. Alasannya masuk akal tapi Ino menduga hal yang lain. Sakura membuka kulkas mencari minuman dingin. Ino menghampiri sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk.

"Kau mandi sepagi ini di hari minggu. Mau ada acara?" Sakura menutup kulkas setelah mengambil sebotol yogurt blueberry kaya akan kolagen. Bahkan minuman Ino menyangkut soal kecantikan.

"Tidak ada acara." Ino memiringkan kepala mengusap rambut panjangnya. Sakura mengambil gelas, ia menuangkan yogurt sambil melangkah menuju meja makan. Ino mempunyai meja makan mini untuk empat orang. Masih lebih besar punya Sasori.

"Tidak berkencan dengan Sai?" Sakura meletakkan botol yogurt di atas meja lalu menggeret kursi makan.

"Sai ada di kamar."

Spontan gerakan Sakura berhenti. Sekejap ia menatap Ino. "Aku datang di saat yang tidak tepat?"

"Santai saja, Sai masih tidur." Jawab Ino. Sakura jadi mengerti kenapa Ino keramas pagi-pagi. "Kau tidak berakhir pekan dengan Uchiha?" Tanya Ino kemudian.

"Dia ada di apartemenku." Sakura meneguk yogurt.

"Kau meninggalkan kekasihmu bertamu usai jogging?" Ino menyaut gelas Sakura, mengambil satu tegukan.

"Ya.. Begitulah.." Sakura memikirkan apa yang sedang dilakukan Sasuke sekarang. Apa pria itu bisa membuat sarapan pagi? Pikiran Sakura mengembara jauh sampai penampakan kompor yang terbakar terlintas di dalam imajinasinya. Sakura langsung mengeluarkan ponsel, berniat menghubungi Sasuke tapi ia ragu-ragu. Sasuke pasti akan menyuruhnya kembali secepatnya.

"Ino. Aku ingin curhat." Ucap Sakura.

.

Klontang...

Teflon terjatuh saat Sasuke akan mengambilnya. Pria itu sedang berkutat di dapur menyiapkan Sarapan pagi. Entah apa yang sedang dibuat Sasuke, pria itu sedang memotong bawang bombay penuh konsentrasi. Sasuke meletakkan pisau lalu menyaut ponselnya. Melihat tahapan resep masakan yang sedang ia buat. Perlu bantuan Sasuke?

"Pagi Sakura." Sai menyapa Sakura di meja makan dengan senyuman khas. Sakura membalas senyuman Sai. Pria itu sudah berpakaian rapi, sepertinya ia akan beranjak pergi dan Sesaat Sakura merasa tidak enak sudah mengganggu kebersamaan dua sejoli yang sedang berakhir pekan. Sai mengambil sandwich di meja makan lalu menghampiri Ino yang sedang membuat sereal.

"Ah.. Hati-hati di jalan sayang."

Sai mengecup kening Ino. Sakura yang menyaksikan keromantisan mereka berdua jadi merindukan Sasuke. Aww man... Sudahlah, pulang saja... Sasuke membuat sarapan enak untukmu.

"Aku pergi dulu Sakura. Take your time." Sai pamit sambil tersenyum. Sakura mengangguk dan mengatakan hati-hati di jalan.

"Ino, maaf sudah menganggu waktu kalian.' Ucap Sakura setelah Sai keluar apartemen.

"Sudah kubilang santai saja. Sai punya urusan di luar." Ino membawa mangkuk serealnya lalu duduk di meja makan. "Sudah, sarapanlah dulu." Ino mengusap lengan Sakura. "Usai ini kalian bicarakan baik-baik. Lagi pula kau belum mengerti maksud kepergian Sasuke."

"Aku tahu Ino. Tidak ada alasan lainnya selain bisnis. Kau tahu apa yang kurasakan saat ini kan? mungkin kau menganggapku tidak dewasa, tapi tidak mudah menerima keputusan Sasuke."

"Aku tau apa yang..."

Ting Tong!

Kalimat Ino teputus saat bunyi bel terdengar. Ino beranjak membuka pintu, yang menjadi tamunya adalah Tenten. Gadis energik itu membawa banyak cemilan.

"Sakura?" Tenten terkejut melihat Sakura pagi-pagi sudah ada di tempat Ino.

Ting Tong!

"Teme?"

Mungkin Hari ini adalah hari bertamu. Naruto disambut sosok Sasuke di balik pintu. Wajah Naruto masih kusut seperti pakaian loundry yang belum disetrika. Jam sembilan pagi di akhir pekan sama dengan jam lima subuh bagi Uzumaki Naruto.

"Dobe apa kau tau kemana Sakura pergi jogging?" Sasuke sudah menunggu Sakura selama sejam. Sarapan bahkan sudah dingin. Sasuke mungkin bertanya-tanya kemana Sakura pergi jogging, apa gadis itu berlari sampai perbatasan kota Konoha?

"Biasanya dia jogging di sekitaran sini. Ah, masuklah..." Naruto mempersilahkan Sasuke masuk ke dalam camp perang vietnam. Oh! Salah... apartemen Naruto sudah resmi terjaga kelestariannya. Hinata sukses membuat perubahan besar.

"Apa? Sasuke akan pergi?!" Tenten terkejut sampai kacang telur di dalam toples yang ia bawa bergoncang. Mereka duduk di ruang tengah. Tenten duduk di samping Ino, menghadap ke arah Sakura yang tengkurap di sofa depan mereka.

"Sasuke mau pergi kemana?" Tanya Tenten.

"Dobe. Aku akan keluar dari Gamabunta." Kabar dari Sasuke mengejutkan Naruto yang sedang menggoreng nugget di dapur. Naruto langsung berbalik, menatap Sasuke yang duduk di meja makan.

"Keluar?" Ekspresi Naruto bingung. "Tunggu sebentar." Naruto meniriskan nugget-nya lalu mematikan kompor. Kabar dari Sasuke cukup penting untuk dibahas. Naruto menarik kursi makan dan duduk menghadap Sasuke.

"Apa yang terjadi? Kau mau kemana?"

"Amerika, Boston."

Jawab Sakura dan Sasuke serempak. Sakura menatap karpet Ino sedangkan Sasuke menatap gelas air putih Naruto.

"Tapi aku belum membicarakan secara detail dengan Sasuke. Aku takut dan langsung menghindarinya." Ucap Sakura.

"Kenapa mendadak sekali? Baru saja dia diangkat menjadi seorang CEO. Baru saja kalian menikmati indahnya berpacaran. Sasuke juga belum menikmati indahnya surga dunia." Ino dan Sakura serempak menatap Tenten. Kenapa gadis itu mengembangkan pokok pembahasan secara detail?

"Aku juga tidak tau Tenten. Tiba-tiba saja dia memberitahu akan pergi. Sasuke mengatakan setelah apa yang terjadi pada studio, ayahnya mengambil keputusan. Mungkin itu sebabnya orang tua Sasuke pulang ke Jepang."

"Ayahku datang ke sini tidak tanpa suatu alasan Dobe." Ucap Sasuke. Naruto mengangguk-ngangguk mendengar curhatan kerabat dekatnya itu.

"Apa ini soal bisnis keluarga?" Tanya Naruto.

"Aa. Sebenarnya Lebih dari itu. Sudah saatnya aku melangkah dari zona aman. Alasan kenapa aku berada di Gamabunta karena ayahku beranggapan aku belum siap turun di dunia bisnis."

"Tapi bukankah kau tidak terlalu tertarik dengan bisnis diluar bidang yang kau sukai? Kukira kau lebih menyukai berada di studio. Kenapa tidak mengusulkan untuk membesarkan Gamabunta?"

"Tidak ada yang diwariskan cuma-cuma di dalam keluarga Uchiha. Jika ingin sukses berarti harus mengeluarkan keringat. Aku akan memulai semuanya dari nol. Ayahku membangun perusahaan baru di Boston. Aku yang akan membesarkannya. Itu tantanganku dobe."

"Lalu bagaimana dengan Itachi-san? dia setuju kau keluar dari Gamabunta?"

"Aku baru mengerti kenapa Itachi mengangkatku sebagai CEO. Dia memancing perhatian ayahku untuk membuktikan bahwa aku siap. Setelah konflik yang kebetulan terjadi pada Gamabunta akhir-akhir ini, ayahku akhirnya membuat keputusan."

"Tunggu. Sebenarnya aku belum paham apa yang sudah terjadi pada penjualan saham Gamabunta. Kabar yang Kudengar sekarang hanya ada dua esekutif produser. Itachi-san dan emmm... siapa itu namanya? aku lupa.."

"Nakamura Tobi." Entah kenapa Sasuke tidak menyebutkan nama Obito.

"Ah benar! Nakamura Tobi... ya itu..." Naruto menggerak-getakkan jari telunjuknya. "Kenapa tidak Itachi-san atau keluargamu saja yang membeli semua saham-saham itu?"

"Memang begitu. Keluargaku sendiri yang sudah membeli saham itu."

"Hah? Nakamura Tobi itu keluargamu? Kenapa marganya tidak Uchiha?" Naruto semakin bingung dan Sasuke menghela nafas.

"Dobe. Nakamura Tobi itu Uchiha Obito."

"Apaa?!" Untuk kedua kalinya Naruto terkejut setelah mengetahui Obito adalah sepupu Sasuke. Tidak pernah terpikir olehnya artist background 2D itu adalah seorang esekutif produser. Dia bekerja di perusahaannya sendiri? Naruto terheran-heran.

"Lalu Kenapa Obito menjadi artist background 2D kalau ternyata dia itu pengusaha?" Pertanyaan sama yang pernah dilontarkan oleh Sakura. Semua orang pasti akan menanyakan hal ini jika mengetahui kebenaran tentang Obito. Pria itu memang aneh.

"Entahlah. Dia bilang ingin menghibur diri." Sasuke malas membahas Obito. Sudah tidak mengherankan lagi baginya.

"Menghibur diri?" Saking herannya Naruto sampai sebelah alisnya terangkat.

"Dulu Obito mengejutkan Itachi saat ia mendaftar di Gamabunta bersamaan dengan kedatanganku. Itachi lalu merekomendasikan kami sebagai produser. Aku sebagai produser 3D sedangkan Obito menjadi produser 2D. Tapi Obito menolaknya mentah-mentah. Alasanya ia ingin menjadi artist background untuk menghibur diri dan agar tidak menyia-nyiakan hobbynya."

"Oh..." Naruto mengangguk paham. Kalau sudah menyangkut hobby semua bisa saja terjadi.

"Lalu jika kau pergi, siapa yang akan menggantikanmu? Obito?"

"Tidak. Itachi sudah mengusulkannya tapi Obito menolak. Dia akan merekomendasikan orangnya."

"Wah kita kedatangan CEO baru lagi. Apa aku harus membuatnya mengelilingi studio dengan telanjang dada?" Canda Naruto dan Sasuke tersenyum tipis. "Berarti kau sudah siap meninggalkan Gamabunta..."

"Itachi mengatakan ia akan melepas saham Gamabunta untukku jika aku sudah berhasil." Suasana menjadi hening saat Sasuke dan Naruto sama-sama terdiam. Naturo lalu bergerak menepuk-nepuk pundak Sasuke.

"Kau pasti bisa teme." Naruto memberi semangat. Sasuke hanya menyaut dengan kata 'Aa.' Naruto lalu mengambil nugget-nya yang sudah agak dingin.

"Ah benar! Kapan rencana kau akan pergi?"

"Usai black jack rilis."

"Ah..." Naruto mengangguk-ngangguk. Ia membawa piringnya ke meja makan dan tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya. Sakura.

"Teme. Apa Sakura sudah tahu hal ini?"

"Memang sebaiknya kalian berdua berkomunikasi Sakura. Dengarkan semua penjelasan Sasuke, setelah itu sampaikan semua yang kau rasakan. Baru kalian berdua bisa saling memahami." Ucap Ino.

"Saling paham atau tidak kurasa hasilnya tetap akan sama Ino. Aku harus menerima keputusan itu. Aku kenal sifat Sasuke, apa yang sudah menjadi keputusaanya tidak bisa diubah begitu saja. Apalagi keputusan itu berasal dari pak Fugaku." Ino dan Tenten masih heran kenapa Sakura memanggil ayah Sasuke dengan embelan 'pak'.

"Tapi setidaknya dia tahu apa yang kau rasakan, jangan menyimpannya sendiri. Komunikasi dalam hubungan itu penting." Kali ini Tenten tersambar roh kebijaksanaan.

"Kami mengerti perasaanmu Sakura." Sambung Ino. "Memang tidak mudah. Tapi bukankah seharusnya kau memahami Sasuke? Kurasa dia tidak memutuskan hal ini sembarangan. Sasuke bisa saja menolak semua keputusan ayahnya dan lebih memilih tetap tinggal di sini. Semua itu pasti ada tujuannya. Di sisi lain dia juga memikirkanmu. Pasti itu pertimbangan yang cukup sulit baginya."

Suasana menjadi hening. Tenten dan Ino memandang Sakura yang terpaku memandang karpet.

"Hm.." Sahut Sakura. "Aku perlu menata perasaanku dulu. Aku tidak mau terjadi kesalah pahaman ketika kami berkomunikasi nanti." Baru saja Sakura selesai bicara, ponselnya di atas meja bergetar. Sasuke menelpon lagi. Pulanglah Sakura...

.

Pukul lima sore Sakura tiba di apartemen. Memperhitungkan apakah Sasuke sudah pulang ke rumahnya setelah ia mengirimkan pesan pemberitahuan main di tempat Ino sampai malam. Ting! Pintu Lift terbuka di lantai 14. Sakura berdiri di depan pintunya, ragu-ragu masuk ke dalam. Menebak-nebak apa Sasuke ternyata masih ada.

Ceklek.

Sakura masuk. Apartemennya gelap, menandakan Sasuke tidak ada. Ada rasa khawatir bagaimana jika Sasuke kesal padanya. Tapi mau bagaimana lagi? untuk kali ini saja tidak masalah. Sakura lalu menghidupkan lampu dan menuju dapur. Penampakan sepiring telur dadar tidak berbentuk ada di meja makan, mungkin mau digulung namun gagal. Sakura menyentuh makanan itu. Sudah dingin. Sakura menebak apakah Sasuke yang memasak sarapan tadi pagi. Pria itu memasak sesuatu selain sup tomat, cukup membuat Sakura terpukau. Timbulah perasaan tidak tega pada kekasihnya itu. Sakura termenung duduk di meja makan, menatap masakan Sasuke. Wajahnya sendu. Sakura menunduk, keningnya bersandar pada meja. Lima menit lamanya hanyut dalam keheningan sampai Sakura memutuskan pergi ke tempat Naruto, mencurahkan kegalauannya.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting Tong Ting

Perhatian Sasuke dan Naruto pada layar komputer langsung buyar. Kedua pria itu sedang berkutat dengan 3D model pada jendela Autodesk. Mereka menoleh dan memandang ke arah pintu.

"Lihat. Itu kelakuan Sakura." Ucap Naruto. Ia beranjak dari kursi lipat.

"Dobe." Panggil Sasuke. "Jangan beritahu dia aku ada di sini." Sasuke berdiri. Naruto mengangguk dan dia melanjutkan langkahnya menuju pintu. Suara berisik Ting Tong masih berbunyi. Naruto berniat untuk mengisolasi bel pintunya.

Ceklek!

Naruto membuka pintu dengan cepat. Kekesalan yang terpendam dari dalam hati terpancar di raut wajahnya.

"Ini terakhir kalinya aku membuka pintu untukmu jika kau masih menekan bel seperti orang gila." Ancaman Naruto tidak berarti apa-apa bagi Sakura. Gadis itu menerobos masuk ke dalam begitu saja dan Naruto hanya bisa menghela nafas.

Sakura langsung berebahkan diri di sofa dan menatap langit-langit ruangan. Naruto memandangnya sambil bertanya dalam hati kemana perginya Sasuke tadi? Lamunan Sakura berlangsung hanya beberapa detik, gadis itu lalu beranjak ke dapur meneguk segelas air putih. Naruto hanya memperhatikan gelagat Sakura sambil membatin, ia duduk di atas karpet dan menyalakan televisi. Chanel National Geographic sedang menyiarkan siaran ulang fenomena gerhana matahari total yang tampak di wilayah Indonesia.

"Kau darimana saja? Sasuke tadi mencarimu." Tanya Naruto saat Sakura menghempaskan bokongnya ke sofa.

"Lalu apa yang kau katakan padanya?" Tanya Sakura.

"Tentu saja aku jawab tidak tahu. Memangnya kau pamit padaku? Kau bahkan menelantarkan Sasuke."

Sakura terpaku sejenak lalu terbaring. Suasana menjadi hening. Naruto melongo melihat siaran gerhana matahari. Sakura juga ikut melihat tapi pikirannya tidak fokus, sementara Sasuke dia... tunggu. Pria itu ada dimana?

"Naruto..." Perhatian Sakura lalu teralih pada rambut jabrik Naruto. "Aku ingin memberitahumu sesuatu." Sakura mencabut-cabut ujung rambut jabrik Kuning itu.

"Beritahu apa?" Perhatian Naruto masih terpusat pada layar televisi.

"Sasuke akan pergi ke Amerika."

Kabar Sakura tidak mengejutkan tapi Naruto pura-pura terkejut. Mereka lalu mengobrol sampai Naruto memancing Sakura untuk mencurahkan isi hatinya.

"Menurutku Sasuke tidak mungkin pergi tanpa alasan yang jelas. Sebaiknya kau bicara dengannya dulu." Sakura melalui pembicaraan yang sama dengan sebelumnya. Sama seperti saat ia curhat dengan Ino dan Tenten.

"Kau tidak mengerti." Sakura cemberut, ia berbalik menghadap sandaran sofa sambil memeluk bantal. "Aku dan Sasuke baru saja berpacaran. Kami belum saling mengenal lebih dalam. Banyak hal yang belum kita lalui bersama."

"Hanya karena alasan itu kau berat melepasnya pergi?"

"Hanya, kau bilang? Bukan hanya itu saja. Menjalin hubungan jarak jauh tidaklah mudah."

"Memangnya kau sudah pernah menjalin hubungan jarak jauh sebelumnya?"

Sakura terdiam. Kenyataannya dia memang belum pernah berpacaran sebelumnya.

"Baiklah. Aku memang belum pernah berpacaran sebelumnya. Catat itu." Sakura menekankan. "Tapi Naruto..., menjalin hubungan jarak jauh itu pasti banyak rintangannya bukan? Ah, benar. Aku menanyakan pada seseorang yang juga baru pertama kali berpacaran." Sindir Sakura dan Naruto menautkan alisnya.

"Menurutku rintangan itu tidak pandang bulu. Mau hubungan dekat atau jauh, pasti ada rintangan dalam setiap hubungan asmara." Sahut Naruto.

"Naruto, aku tidak tahu berapa lama Sasuke akan pergi. Pasti banyak cobaan dan rintangan di luar sana. Kau tahu sendiri kan? Sasuke punya banyak penggemar..."

"Oh..., kau takut Sasuke selingkuh?"

"Aku... aarggh... Kau tidak mengerti. Semua wanita pasti akan mengkhawatrikan itu.." Suara Sakura lirih. Naruto tersenyum tipis, entah Sasuke mendengar percakapan ini atau tidak.

"Jadi poinnya cuma itu?" Tanya Naruto lagi.

"Bukan itu saja. Kau tidak dengar apa yang kubilang tadi? Banyak hal yang belum kita lalui bersama. Ini semua terlalu tiba-tiba." Sakura meringkuk, wajahnya tenggelam pada bantal sofa, menahan matanya yang sedikit berkaca-kaca.

Obrolan berhenti. Naruto lalu berdiri, ia beranjak menuju kamar mandi tapi langkahnya terhenti saat melihat Sasuke duduk bersandar di kaki sofa sebelah samping. Naruto tidak mengatakan apapun, ia tahu Sasuke sedang sembunyi tapi baru sadar ternyata pria itu bersembunyi di situ, ternyata sangat dekat dengan mereka. Mungkin saking kacaunya pikiran membuat sakura tidak sadar kondisi sekitar. Lagi pula Sasuke bersandar lebih merosot ke bawah. Sosoknya itu tidak terlihat kasat mata.

"Aku mau ke minimarket. Kau mau apa?" Naruto melanjutkan langkah. Sakura diam tidak menjawab sampai Naruto masuk ke dalam kamar mandi. Hanya terdengar suara televisi di ruang tengah. Sasuke maupun Sakura terhanyut pada pikiran mereka masing-masing sampai Naruto keluar beberapa menit kemudian.

"Aku tinggal sebentar. Kau mau apa?" Tanya Naruto sekali lagi.

"Tidak mau." Jawab Sakura, gadis itu masih meringkuk menghadap sandaran sofa.

"Ice cream? Cokelat?" Naruto seperti sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk.

"Tidak mau."

"Biskuit cocobi?"

"Tidak."

"Jus jeruk."

"Tidak."

"Sasuke?"

Sakura diam tidak menjawab, spontan ia menoleh melihat Naruto. Pria itu tersenyum tipis sambil melangkah pergi. Saat Naruto membuka pintu, ia pun berkata..

"Sasuke. Titip Sakura."

DEG.

Blam!

Pintu tertutup. Mata Sakura langsung melebar. Betapa terkejutnya ia saat Sasuke tiba-tiba muncul dari samping sofa.

"Sasuke-kun..."

Sakura terkejut bercampur panik. Gadis itu langsung berlari masuk ke dalam kamar Naruto.

"Sakura..." Sasuke mengejar. Blam. Pintu langsung tertutup beberapa centi jaraknya dari hidung Sasuke.

"Sakura. Buka pintunya."

Sakura bersandar di balik pintu. Merasa dirinya konyol dan bingung secara bersamaan. Semua masukan dari teman-teman yang menyuruhnya untuk bicara pada Sasuke terabaikan. Sakura takut. Rasanya seperti mendengar kabar buruk. Gadis itu lalu mendekati ranjang Naruto, tubuhnya merosot di samping ranjang. Sakura merengkuh kakinya, kepalanya menunduk, mendengar suara Sasuke yang terus memanggilnya.

Sasuke berhenti memanggil. Ia menatap pintu sejenak kemudian melihat ke bawah. Sasuke lalu berjongkok dan merunduk. Ia melihat ke dalam dari celah pintu kamar. Hanya terlihat kaki Sakura.

"Hei..." Panggil Sasuke. Sakura langsung menoleh, ia memandang celah pintu bagian bawah.

"Apa kau marah padaku?" Tanya Sasuke. Sakura diam tidak menjawab. "Sakura aku memerlukanmu. Bisakah kita bicara?" Beberapa detik Sasuke menunggu jawaban dan akhirnya Sakura merespon.

"Sasuke-kun..., aku sedang ingin sendiri." Suara Sakura lirih. Sasuke diam, memikirkan apa yang harus ia lakukan.

"Baiklah. Aku akan menunggumu." Ucap Sasuke kemudian. Sakura tidak merespon lagi. "Aku pulang sekarang." Sasuke pamit. Sakura seakan ingin keluar menemui Sasuke tapi ia ragu.

"Sakura..." Sasuke lebih mendekatkan wajahnya pada celah pintu.

"Aku merindukanmu."

Sasuke pun beranjak pegi. Sakura terhanyut di dalam kamar, ia menyentuh kedua lengannya sendiri. Rasanya juga merindu. Ingin rasanya memeluk Sasuke tapi disaat bersamaan hatinya pilu. Memikirkan kenyataan bahwa pria itu akan jauh darinya. Gundah, resah, gelisah, menari-nari dalam kalbu. Bercumbu dengan setumpuk rindu yang membelenggu.

'Aku harus bagaimana?'

.


Cerahnya musim semi tidak secerah hati Sakura. Berusaha meluruskan pikiran yang gundah, Gadis itu melakukan yoga di pagi hari. Pikirannya terpusat pada apa yang harus ia pahami. Sakura mencoba mengerti bagaimana kehidupan ini bekerja. Tidak selamanya sesuatu berjalan sesuai kehendaknya. Ada banyak hal yang datang memiliki arti yang saling terhubung. Seperti kaligrafi Itachi bertuliskan. Angin. Tidak ada yang bisa menebak masa depan. Lalu kaligrafi Kekuatan yang ditulis Sasuke, semua orang bisa mengubah jalan hidupnya sendiri. Sekarang Sakura mengerti maksudnya. Kemudian ia beralih pada apa yang membuatnya gundah. Musim semi. Kalimat yang ia tulis itu memiliki arti tentang lahirnya sesuatu yang indah, diibaratkan sebagai bunga yang bermekaran pada waktunya. Keindahanya terpancar pada aura setiap insan manusia saat mengenal Cinta. Saat Sakura mengenal Uchiha Sasuke.

Emerald teduh Sakura terbuka. 'Namaste...'

"Bukankah Sakura bermekaran di musim semi?" Tanya Tsunade. Pertanyaan itu mengandung arti tersendiri dan Sakura mengerti maksudnya.

"Aku baru merasakan bahwa musim semi tidak selalu berjalan indah, Tsunade-sama." Sakura duduk menghadap sang master. Ia menceritakan semua kegalauannya dan meminta masukan dari Tsunade bagaimana menerima tanpa merasa terpaksa.

"Kupikir dia merasakan hal sama sepertimu. Apa kau tahu alasan dia memilih pergi? masa depan itu mengarah pada banyak tujuan, Sakura."

"Tapi tsunade-sama, Bagaimana kita bisa saling memahami jika hubungan kita terpaut jarak yang jauh?"

Tsunade tersenyum. "Saling memahami tidak ditentukan dari jarak. Apa menurutmu semua orang yang berpacaran, bertemu setiap hari, menghabiskan waktu bersama, bisa saling memahami? Jika mereka semua saling memahami, tidak akan ada kata putus atau cerai dalam suatu hubungan."

"Lalu aku harus bagaimana? aku bahkan tidak tahu berapa lama aku harus menunggu Sasuke."

"Itulah ujian kalian. Lebih menyakitkan bagi Sasuke jika dia pergi tanpa restu darimu. Hal yang terpenting adalah saling percaya satu sama lain." Sakura termenung diam, sedikit-demi sedikit ia membenarkan semua perkataan Tsunade.

"Apa perasaan kita bisa selalu terhubung?" Sakura memandang jendela. Melihat langit biru yang cerah.

"Sakura." Suara Tsunade lembut dan tegas. "Jika kau bertanya sebesar apa cinta kalian. Saat inilah kau bisa tahu kesungguhannya."

Sakura langsung menoleh dan terpaku memandang Tsunade.

.

.

"Obito! Cepat presensi! Kau membuat antrian panjang..." Omel Tenten. Salah satu dari duo morron itu sedang memonopoli alat presensi di depan devisi background 2D. Obito serius memperhatikan detik pada alat presensi.

"Sabar. Delapan detik lagi tepat jam delapan. Aku harus mencetak rekor." Obito mengangkat tangannya.

"Berhenti main-main. Kau bisa tepat waktu tapi kita jadi terlambat beberapa detik karenamu." Omel Ino. Tiga artist background yang berdiri di belakang memasang wajah tidak perduli melihat tingkah Obito. Konohamaru hanya menyesuaikan saja.

"Tenanglah..." Sahut Obito.

"Tenang dengkulmu itu. Kalau kita dipe..." Kalimat Tenten terputus saat mendengar bunyi,

TUUT THANKYOU.

Suara alat presensi terdengar ketika Obito meletakkan jari jempolnya tepat pukul 08:00. Pria itu langsung didorong Tenten untuk menyingkir. Sakura yang melihat dari kejauhan hanya membatin.

"Easy.. tidak ada yang akan memecat kalian." Ucap Obito.

"Tidak ada... tidak ada... Kau kira ini perusahan nenek moyangmu?" Ino... Kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa. Obito hanya tersenyum tipis, ia melihat sosok di belakang Ino lalu melambaikan tangan. Sakura baru saja tiba, wajahnya datar seperti wajah Sasuke. Jika dilihat-lihat, wajah Sakura sekilas mirip dengan Sasuke. Mungkin mereka berdua memang jodoh.

"Lihat. Tenanglah seperti Pinky." Obito menunjuk Sakura. Tenten dan Ino acuh masuk ke dalam ruangan diikuti Konohamaru dan artist lainnya. Sakura menatap Obito sekejap sambil meletakkan sidik jarinya pada alat absen.

"Kenapa auramu berwana hijau lumut?" Obito menganalisis sambil membuka pintu untuk Sakura.

"Obito. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Apa kau ada waktu pulang kerja nanti?." Langkah Sakura berhenti tepat di hadapan Obito. Mereka berdua bertatapan sekejap. Obito sepertinya paham apa yang akan dibahas gadis itu.

.

.

"Jugo. Sampai mana produksi film Black Jack?" Sasuke membolak balik berkas sebelum ditandatangani.

"90 persen. Sebentar lagi masuk tahap pasca produksi. Besok akan diadakan rapat unit 2D bersama Suigetsu."

"Aa." Sasuke masih membaca semua berkas itu dengan teliti.

Dalam keheningan Jugo memperhatikan serta menganalisis dengan cermat. Kharisma Sasuke semakin lama semakin terbentuk. Pria itu semakin tenang dan stabil dalam bersikap. Jugo berpikir apakah cinta yang membuat perubahan itu? Tapi jika dilihat lebih mendalam, Sasuke tampaknya sedang banyak pikiran. Jugo lebih membuka mata bantinya, atasannya itu memang selalu banyak pikiran tapi kali ini tersirat arti mendalam karena Jugo tahu Sasuke akan pergi meninggalkan Gamabunta.

"Sasuke, tadi aku bertemu nona Sakura di taman." Entah kenapa Jugo memberitahu hal itu. Mulutnya berucap begitu saja mengikuti perintah hatinya.

"Benarkah?" Sasuke membuka bolpoinnya lalu menandatangi beberapa lembar persetujuan. Jugo tidak mengatakan apa-apa lagi dan suasana menjadi hening. Sasuke menutup cover berkas lalu menyerahkannya kembali pada Jugo.

"Makan siang nanti kita bicara. Aku ingin kau ikut denganku ke Amerika."

Dan Jugo terpaku mendengar keputusan Sasuke yang tiba-tiba. Ia mengangguk dan menjawab 'baiklah'.

.

.

Tok! Tok!

Seseorang mengetuk Pintu ruang kerja Kakashi. Sosok di balik pintu itu masuk setelah Kakashi mempersilahkannya.

"Yo." Obito melambaikan tangan. Kakashi cukup tidak menduga pria itu akan bertamu ke ruang kerjanya.

"Suatu kehormatan mendapat kunjungan esekutif Gamabunta." Kakashi berdiri menyambut Obito.

"Suatu kehormatan juga seorang artist background disambut baik oleh General Manager." Obito tersenyum. Sejenak Kakashi merasakan perihal yang buruk. "Kau tidak mempersilahkanku duduk?" Tanya Obito.

"Duduk saja dimana kau mau. Aku punya satu set sofa di sana, kau juga boleh duduk di sini." Kakashi menunjuk kursi kerjanya. Obito tersenyum tipis lalu mendekati Kakashi.

"Wah.. Kursi atasan memang berbeda dari kursi pegawai. Punya kalian lebih empuk." Obito merasakan kenyamanan kursi kerja Kakashi sambil memandang ruangan sekitar. Kakashi hanya menatap datar Obito. Dua orang itu sepertinya cukup dekat tapi rupanya tidak terlalu akur.

"Kedatanganmu pasti untuk satu alasan." Ucap Kakashi kemudian.

"Ah..., kau benar sahabat karibku." Pandangan Obito tertuju pada Kakashi. "Atas usul Sasuke. Aku akan menunjukmu sebagai CEO untuk menggantikannya."

Dan Kakashi pun seperti tersambar petir di pagi hari. Belum juga dia naik sebagai produser, sebuah titah berbeda menghampirinya. "Apa maksudmu? CEO? ada apa dengan Sasuke?" Kakashi tampaknya baru mendengar berita ini.

"Dia akan mengembara. Sasuke yang merekomendasikanmu. Aku ke sini untuk mendengar persetujuan langsung darimu. Ah.. aku juga mewakili Itachi."

"Sasuke mau kemana?" Kakashi bingung.

"Dia akan pergi mengadu nasib ke Amerika."

"Kenapa tiba-tiba begini?"

"Tidak ada yang tiba-tiba, kecuali kau sudah mengetahui hal itu duluan." Obito melihat jam tangannya. Lima menit lagi jam istirahat pegawai. "Bagaimana? Kau terima tawaranku kan? Usai Black Jack rilis kau langsung naik menjadi CEO."

Kakashi terdiam tidak tahu harus menjawab apa.

"Baiklah... saatnya makan." Obito berdiri lalu menepuk bahu Kakashi. "Sudah... Jadi CEO tidaklah susah. Okey? aku pergi dulu." Obito tersenyum sedangkan Kakashi membatin 'gampang dengkulmu itu.'

Obito beranjak pergi, meninggalkan Kakashi dalam kebingungan. Masih tidak percaya dengan keputusan yang mendadak ini. Kakashi pun menuju ruang Sasuke untuk meminta penjelasan.

.

.

"Aku tidak mengerti kenapa kau ke kantor menggunakan taksi." Ucap Sakura sebelum turun dari taksi. Obito mengantarnya sampai depan gerbang kediaman Uchiha.

"Suka-suka aku. Cepatlah turun, kau membuat pak taksi menunggu." Pak taksi melirik Obito dari kaca spion. Sakura lalu turun dari taksi.

"Kau mau kemana usai ini?" Tanya Sakura sebelum menutup pintu.

"Tentu saja berkencan. Kau menyita banyak waktuku." Sakura memutar bola matanya. Padahal hanya tiga jam mereka pergi makan malam bersama.

"Baiklah, hati-hati di jalan." Sakura menutup pintu. Obito membuka jendela sebelum taksi berangkat.

"Sampaikan salamku untuk Sasuke. Gunakan waktu kalian sebaik-baiknya sebelum menjalani ujian cinta." Obito masih sempat mengejek Sakura pada detik-detik terakhir. Shit...

"Selamat malam nona Sakura." Mukade menyambut Sakura di ruang tengah. Tidak menyangka kekasih tuan muda Uchiha akan berkunjung sendirian. Apalagi jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

"Malam Mukade-san..." Mukade merasa senyuman Sakura tidak semanis biasanya.

"Sasuke-san belum pulang nona. Apa kau sudah memberitahunya akan datang ke sini?"

"Belum." Sakura menggeleng. "Aku akan menunggunya."

Satu jam lamanya Sakura menunggu Sasuke di ruang keluarga ditemani Mukade. Mereka berdua mengobrolkan banyak hal sambil minum teh. Sakura tidak melewatkan pembahasan tentang rencana kepergian Sasuke. Mukade membenarkan hal itu. Sakura lalu menanyakan apakah Mukade akan ikut dengan Sasuke.

"Tidak nona. Sasuke-san akan pergi seorang diri. Aku sudah menawarkan ikut bersamanya tapi dia menolak." Dilihat dari wajah Mukade, sepertinya pria itu sedikit tidak rela dan terbesitlah pertanyaan di kepala Sakura.

"Mukade-san, apa aku boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu saja nona.." Mukade mengangguk.

"Mukade-san, sudah berapa lama anda ikut bersama keluarga Uchiha? sepertinya anda sangat mengenal Sasuke-kun."

Mukade tersenyum. Pria itu lalu menceritakan bahwa ia sudah melayani keluarga Uchiha cukup lama dimulai saat ia menginjak umur empat belas tahun. Mukade menggantikan ayahnya yang pengsiun. Mukade ikut merawat Itachi dari kecil apalagi Sasuke. Mukade tahu segala seluk beluk tentang para tuan muda Uchiha. Ia sangat mengenal karakter putera Mikoto dan Fukagu. Apalagi karakter Sasuke yang sudah ia rawat sejak bayi. Mukade sudah tampak seperti Mikoto kedua. Mukade adalah seseorang yang sangat loyal dan cukup dihormati di keluarga Uchiha sendiri. Sakura jadi penarasan apakah Mukade sudah menikah? tapi sebaiknya tidak usah menyinggung hal pribadi.

"Apa kau tahu nona Sakura? Saat kecil Sasuke-san adalah seseorang anak laki-laki yang manja. Dia juga sangat mengidolakan Itachi-san." Mukade mulai membuka kartu Sasuke. Sakura antusias mendengarnya. Ia pernah mengira Sasuke tidak mempunyai seorang idola, malah pria itu mempu banyak sekali penggemar.

"Sasuke juga sebenarnya seorang pencemburu. Selain mengidolakan Itachi-san, terkadang Sasuke bertanya kenapa tuan Fugaku selalu memprioritaskan Itachi-san..." Kartu kedua Sasuke terbuka. Sakura sedikit membenarkan ucapan Mukade karena terkadang ia merasa Sasuke cemburu jika berhadapan dengan Gaara.

"Apa menurutmu sekarang Sasuke masih manja Mukade-san? Kulihat semua keperluannya disiapkan olehmu. Kau seperti pengganti Mikoto-san.." Sakura dan Mukade terkekeh bersama.

"Walau dia sudah tumbuh dewasa dan menjadi pria yang gagah. Kadang apa terlihat dimataku adalah seorang anak laki-laki yang baru saja lahir kemarin sore." Mukade tersenyum lagi. "Tapi semenjak ia dipisahkan dengan Mikoto-san, Sasuke berubah seiring ia tumbuh dewasa."

"Dipisahkan?" Sakura bertanya-tanya.

"Hem." Mukade mengangguk. "Sasuke sangat dekat dengan Mikoto-san, dia sangat manja. Tuan Fugaku berpikir untuk memberi jarak di antara mereka bermaksud untuk menjadikan Sasuke lebih mandiri. Saat menginjak umur dua belas tahun, tuan Fugaku bersama nyonya Mikoto pindah ke luar negeri untuk mengembangkan bisnis keluarga. Aku tinggal di sini bersama Itachi-san dan Sasuke. Tuan Fugaku dan nyonya Mikoto akan pulang beberapa tahun sekali menjenguk mereka."

Sakura baru tahu betapa keras dan tegas sifat Fugaku membesarkan kedua putranya. Perlahan Sakura mengerti apa yang dirasakan Sasuke saat ini. Setelah mengobrol dengan Obito dan Mukade, Sakura jadi mengerti dengan keputusan Sasuke.

"Sasuke-san..."

Mukade tiba-tiba berdiri menyambut Sasuke. Sakura menoleh, sosok yang baru saja mereka bicarakan tiba. Sakura lalu berdiri, keduanya berpandangan tanpa mengatakan apapun. Wajah Sasuke tampak lega melihat Sakura mendatanginya. Mukade yang paham akan situasi langsung beranjak pamit.

.

"Kau darimana Sasuke-kun?" Sakura memecah keheningan ketika ia dan Sasuke berjalan berdua menuju taman belakang kediaman Uchiha.

"Makan malam besama Kakashi dan Jugo." Sasuke menyentuh kepala Sakura. "Kau sudah makan?"

"Emm." Sakura mengangguk, ia lega Sasuke tidak marah padanya.

"Kenapa tidak memberitahuku dulu jika kau akan datang ke sini?" Tanya Sasuke.

"Kejutan." Sakura tersenyum dan Sasuke mengetuk dahinya.

Keduanya lalu duduk di bangku panjang pinggir kolam. Melihat cahaya bulan purnama yang terpantul pada permukaan air. Suara jangkrik serta kerlipan kunang-kunang yang bertebangan di sekitar taman mempercantik malam itu. Sasuke maupun Sakura masih terdiam, mereka memikirkan bagaimana memulai percakapan.

"Sasuke-kun..."

"Sakura... "

Keduanya memanggil secara bersamaan. Mereka serempak menoleh dan saling bertatapan. Ketika Sakura menatap kedua onyx kelam itu, ia bertanya dalam hati bisakah ia jauh dari Sasuke?

"Sasuke-kun, maafkan aku." Sakura memutuskan untuk bicara duluan. "Aku sudah membuatmu khawatir. Maafkan sikapku yang kekanak-kanakan." Sakura menunduk, Sasuke memandang gadis itu dengan tenang.

"Jadi Sasuke-kun, kapan rencananya kau akan pergi?" Sakura membuka pembahasan. Ia sudah mendengar semuanya dari Obito tapi perlu mendengar penjelasan langsung dari Sasuke sendiri.

"Setelah Black Jack rilis." Jawab Sasuke. Sakura mengangguk paham, ia terdiam menunggu Sasuke menjelaskan lebih lanjut.

"Sakura. Jika aku mengatakan ini untuk masa depan apakah kau akan merelakanku pergi?" Tanya Sasuke. Sakura diam tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke arah kolam.

"Jika kau mengira ini semua demi kepentingan diriku sendiri, tidak akan berat bagiku untuk mengatakannya padamu. Ini tidak mudah, aku sangat membutuhkan dukunganmu. Hanya itu yang kuperlukan." Sasuke terdiam, ia ikut memandang kolam. Pantulan cahaya bulan menjadi pusat perhatian keduanya.

"Sasuke-kun." Sakura menoleh lalu menatap Sasuke. "Aku akan selalu mendukungmu."

Alunan Kelegaan terpancar pada raut wajah Sasuke. Tidak ada lagi keraguan yang mengganjal tekadnya. Onyx Sasuke berkilat-kilat memandang wajah Sakura. Seribu kata terbendung di dalam hati dan Sasuke hanya bisa mengutarakan melalui bahasa tubuh. Tangan Sasuke bergerak merengkuh tengkuk Sakura. Kening mereka bergerak saling menempel. Keduanya terpejam dan Sasuke tersenyum tipis.

"Sakura, apa kau mau menungguku?" Tanya Sasuke kemudian. Sakura menjawabnya dengan mengangguk pelan. "Aku tidak keberatan jika kau marah padaku. Tapi kuharap hanya sebentar saja."

Sakura tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Aku mengerti. Pergilah Sasuke-kun. Aku menerima keputusanmu."

"Terimakasih."

Sasuke mencium kening Sakura. Kunang-kunan beterbangan mengelilingi mereka berdua dan cahaya bulan menjadi begitu indah menyairkan sajak cinta musim semi.

.


Apa yang sedang kau tulis?" Tenten penasaran saat melihat Sakura berkutat menulis sesuatu pada tumpukan kertas HVS sambil menyantap makan siang.

"Aku sedang membuat daftar quality time." Emerald Sakura melihat langit biru, pikirannya menerawang hal-hal yang belum sempat ia lakukan bersama Sasuke. "Ah benar!" Seru Sakura, gadis itu lalu menulis idenya. "Yup! Kurasa sudah cukup." Sakura menata kertas-kertasnya.

"Lihat." Tenten menyaut kertas Sakura. Ino ikut membaca di samping Tenten. Tertulis lima puluh wishlist yang akan dilakukan bersama Sasuke menjelang kepergiannya empat bulan mulai dari sekarang.

"Pffft..." Ino menahan tawa saat melihat salah satu wishlist Sakura yang tertulis 'menyuap Sasuke saat makan.'

"Kau pikir Sasuke bayi?" Ejek Tenten.

"Memangnya kenapa? aku hanya tidak mau iri saat melihat kau menyuap Neji kelak." Balas Sakura.

"Aku tidak menyuapinya seperti bayi. Kami saling menyuapi dengan mulut." Tenten berseringai. Sakura merasa geli sekaligus malu sendiri. Imajinasinya mulai berkerja. "Kenapa? apa kau iri?" Goda Tenten.

"Te-Tenten..." Pipi Sakura menora. "Berikan padaku!" Sakura berdiri meraih kertasnya.

"Eitss!" Tenten mengidar, tangannya terangkat keatas, menjauhkan kertas dari jangkauan Sakura. Dua orang itu saling tarik ulur dan Ino hanya menggelengkan kepala sambil menyantap makan siangnya.

"Ah Gaara!" Seru Tenten. Sakura langsung menoleh, begitu pula pria bersurai merah yang melintas bersama gengster Yakuza. Sakura spontan melambaikan tangan, ia tidak berniat memanggil Gaara tapi berhubung Tenten tadi memanggil namanya cukup keras, pria itu pun menghampiri sedangkan gengster Yakuza jalan duluan ke kantin. Mereka selalu saja terpisah dengan ketua geng mereka saat menelusuri taman, dan hampir sebagian besar berhubungan dengan si Pinky-head.

"Hai." Sapa Gaara, senyum tipisnya selalu seksi. Sekejap Tenten dan Ino berpikir siapa kelak yang menjadi kekasih Gaara.

"Gaara-san kau mau makan siang?" Sakura berbasa-basi. Gaara mengangguk sambil melihat menu makan siang Sakura. Gadis itu mengambil satu lusin shushi dan cumi goreng. Tanpa sungkan Gaara mencicipi shushi milik Sakura.

Tenten mengambil kesempatan, ia menyaut pena Sakura selagi gadis itu bercengkramah dengan Gaara tentang menu makan siang. Kepala Ino menengok untuk melihat apa yang ditulis Tenten pada wishlist terakhir Sakura. Ino menahan senyum dan langsung menyenggol kaki Tenten. Dengan cepat wanita bercepol dua itu meletakkan pena setelah menulis dengan gerakan kilat sebelum Sakura menyadarinya. Berhadapan dengan Gaara membuat konsentrasi Sakura tidak fokus. Bahkan ia tidak menyadari tanda-tanda keberadaan Sasuke yang melintasi taman bersama Jugo. Gadis itu terlalu asik membahas Shusi ketika onyx Sasuke memandang ke arah mereka cukup lama. Jugo yang ikut melihat langsung melirik Sasuke sambil membatin sesuatu. Gawat..

"Aku akan mengambil menu shushi." Ucap Gaara kemudian.

"Pilihan yang tepat." Sakura mengangkat jempol. Sekejap ia melihat ke arah Tenten dan Ino. Dua wanita itu melanjutkan makan siang mereka dengan ekspresi wajah tanpa dosa.

"Ok, selamat makan..." Gaara menepuk pundak Sakura. Tenten dan Ino tersenyum pada Gaara saat pria itu berlalu pergi.

"Aku tahu Sasuke segala-galanya tapi sayang juga kau menyia-nyiakan ikan hiu seperti dia." Jempol Tenten menunjuk ke arah belakang.

"Menurutmu seperti apa wanita yang menjadi kekasih Gaara kelak?" Tanya Ino.

"Wanita yang lebih keren dariku." Sakura merebut kertas wishlist dari tangan Tenten. Gadis itu merapikan susunannya dan tidak menyadari sesuatu. Ino dan Tenten mati-matian menahan senyum.

"Jadi.., Sasuke mau mengajakmu berlibur kemana?" Tanya Ino kemudian.

"Belum tahu. Dia menyuruhku menentukan tempat dan aku belum memutuskannya." Mulut Sakura menganga melahap sushi.

"Kusarankan kau menyiapkan Lingeri seksi." Gona Ino dan Sakura langsung tersedak.

"Sudah saatnya. Jangan main gelitikan terus..." Imbuh Tenten. "Jika tidak, Sasuke akan mencari sensasi di Amerika. Banyak wanita seksi di sana."

"Tenten..." Wajah Sakura khawatir.

"Makanya. Bahagiakanlah Sasuke..." Goda Tenten, Ino hanya tersenyum melihat ekspresi Sakura saat ini.

.

.

Monday..

took her for a drink on Tuesday

we were making love by Wednesday

and on Thursday & Friday & Saturday we chilled on Sunday

Suara kesatria bergitar terdengar dari ponsel Sakura. Sasori mengirimkan videonya menyanyikan lagu Craig David berjudul 7 days. Video dikirim atas permintaan Sakura yang beberapa hari lalu mendengar lagu itu diputar di radio Gama. Sakura memang mengidolakan suara Sasori karena suaranya bagus. Usai lagu diputar, Sasori tiba-tiba mengubungi Sakura melalui skype.

"Hai, kak.. kukira kau masih tidur." Sapa Sakura. Waktu di LA sudah menunjukkan pukul 05:00 subuh, sedangkan di Jepang waktu menunjukkan pukul 10:00 malam. Sudah pasti astronot tampan itu bangun pagi-pagi karena ia rajin berolahraga. Mereka lalu mengobrol dan Sakura baru menceritakan rencana kepergian Sasuke pada Sasori.

"Berapa lama si raven pergi?" Astronot maskulin itu tidak begitu terkejut, ekspresinya biasa-biasa saja sambil tiduran di ranjang empuknya, rambut merahnya acak-acakan sangat menggemaskan.

"Aku tidak tahu Sasuke pergi untuk berapa lama." Sakura memasang wajah sendu.

"Ada apa denganmu? Raven hanya pergi mengadu nasib ke belahan dunia lain. Dia tidak pergi ke luar angkasa." Mungkin Sasori cemburu melihat sikap Sakura yang seakan kehilangan sesuatu yang paling berharga.

"Aku tahu kak... aku juga mendukungnya." Sakura menghela nafas panjang dan entah kenapa Sasori tersenyum tipis.

"Semua itu untuk masa depan. Tidak masalah Long distance, yang penting kalian saling percaya." Wajah Sasori diselimuti aura kelegaan. Mungkin dia senang adiknya berpacaran dalam zona aman, terbebas dari hal-hal yang diinginkan. Ya ampun...

"Kak, apakah jarak Boston dan LA jauh. Aku titip Sasuke-kun di sana..."

Sasori langsung menautkan alisnya. "Kau pikir aku pengasuh bayi?"

Ceklek.

Sasuke datang.

"Hehe..." Wajah Sakura berubah berseri. "Baiklah kak, saatnya kau berolahraga." Sakura berniat mengakhiri video call.

"Siapa yang datang?" Tanya Sasori.

"Naruto."

"Naruto atau raven?"

"Memangnya kenapa kalau Sasuke-kun?"

"Lalu kenapa kau berbohong padaku?" Sahut Sasori. Sakura malas menjawab dan ia hanya memasang senyum kaku. "Aku ingin mengobrol dengannya sebentar." Pinta Sasori.

"Baiklah. Tunggu sebentar." Sakura menyodorkan ponselnya pada Sasuke. "Kakakku..." Ucap Sakura. Sasuke menyaut ponsel itu sambil duduk di sofa. Ia dan Sasori saling menyapa dan mereka mengobrol. Sakura beranjak ke dapur membuat teh. Beberapa menit berlalu, Sakura kembali ke ruang tengah dan video call berakhir. Dua pria itu tidak punya banyak bahan obrolan karena Sasori hanya menanyakan soal kepergian Sasuke ke Amerika. Itu saja.

"Selamat olahraga kak. We miss u..." Ucap Sakura. Sasori tidak terlalu yakin kalau Sasuke juga merindukannya.

"Hem. Good night..." Sahut Sasori, wajahnya sedikit tidak terelakan mengingat adiknya akan berduaan saja dengan si Raven. Skype pun off. Sakura meletakkan ponselnya di atas meja akuarium lalu mencium pipi Sasuke.

"Mau berendam air hangat? Usai itu kita istirahat." Sakura mengusap lengan Sasuke, mengerti jika kekasihnya itu lelah usai kegiatan sepanjang hari ini. Tapi jika dilihat-lihat Sasuke seperti memancarkan sedikit aura dingin. Ada apa gerangan?

Sakura memutar kembali vidio Sasori dan menghubungkan ponselnya dengan speaker. Gadis itu terbaring santai di karpet menikmati suara Boy Avenue Sunagakure. Beberapa menit kemudian Sasuke menghampiri ruang tengah usai membersihkan diri. Wajahnya tampak fresh seperti daun mint, pria itu mengenakan kaos polos dan celana pendek diatas lutut. Beberapa baju ganti milik Sasuke sudah diungsikan ke lemari Sasori untuk berjaga-jaga jika ia ingin menginap di tempat Sakura.

"Sasuke-kun..." Sakura bangkit lalu menepuk tempat di sisinya. Sasuke mendekat, ia duduk di sebelah Sakura, menyandarkan punggung pada kaki sofa dan berselonjor kaki.

"Ada yang ingin kuperlihatkan padamu." Sakura menyodorkan kertas wishlist-nya. Dengan tenang Sasuke membaca sederet list yang Sakura ajukan. Sekejap ia menoleh dan menatap Sakura.

"Hihi..." Sakura menampakkan senyuman gigi Jerapah. Sasuke tidak berkomentar, ia kembali membaca deretan wishlist itu. Sasuke mungkin memaklumi semua keinginan kekasihnya karena ia tidak protes barang sedikitpun. Sakura tidak mengajukan permintaan yang besar, justru apa yang ia ajukan itu sesuatu yang simple dan mungkin sedikit aneh karena sesekali Sasuke menautkan alisnya.

"Olahraga bersama?" Tanya Sasuke. Sakura mengangguk. "Mau olahraga apa?"

"Apa saja. Setiap hari minggu pagi oke? Kita bisa jogging bersama di taman..., bermain badminton atau... ah! Bagaimana jika kita ajak teman-teman bermain soft gun?! Pasti sangat asik!" Sakura tampak antusias. Sasuke terdiam, sepertinya ia memikirkan sesuatu saat mendengar kata 'teman-teman'.

"Baiklah." Sasuke setuju, pria itu melihat daftar wishlist kembali dan terpaku saat membaca wishlist terakhir Sakura. Wajah Sasuke tenang namun tersirat keterkejutan, ia berdeham lalu menoleh, menatap Sakura.

"Bagaimana?" Sakura menggerakkan kedua alisnya naik turun dua kali. Sasuke sebenarnya tidak terlalu yakin tapi apa yang ditulis Sakura benar-benar nyata.

"Kau tidak bisa menarik apa yang sudah kau ucapkan secara tertulis." Ucap Sasuke.

"Tentu saja, itu semua keinginanku.." Sakura yakin. Sasuke tersenyum tipis.

"Janji?" Tanya Sasuke.

"Janji." Sakura mengaitkan jari telunjuk dengan jari tengahnya.

"Termasuk ini." Sasuke lalu menunjukkan wishlist terakhir Sakura.

51. Marvin Gaye

SHANNARO !

Mata Sakura melebar. Spontan tangannya bergerak meraih kertas itu namun Sasuke menjauhkannya.

"Sasuke-kun..., bukan aku yang menulisnya..." Sakura meruntuki Tenten dan Ino dalam hati.

"Lalu siapa yang menulisnya?"

"Itu... mungkin Tenten atau Ino..." Sakura salah tingkah apalagi Sasuke menatapnya intens.

"Kau akan mengapusnya? Kau baru saja berjanji." ucap Sasuke. Sakura bingung menjawab dan wajahnya merona.

"Be-berikan padaku!"

Sakura merebut kertas wishlist itu dari tangan Sasuke. Perasaan canggung dan malu menyelimutinya. Sasuke paham dan ia tidak membahas wishlist terakhir itu lebih lanjut. Sasuke tenang memandang Sakura lalu menyalakan televisi. Tidak ada obrolan setelah itu, keduanya menonton siaran berita dan perlahan Sakura mendekat lalu bersandar di bahu Sasuke dengan manja.

"Kulihat Gaara sangat akrab denganmu." Ucap Sasuke kemudian. Sakura langsung menoleh. Kenapa tiba-tiba membicarakan Gaara?

"Kenapa Sasuke-kun?" Sakura bingung, apa ada kesalahan yang terjadi tanpa sepengatuhannya?

"Tadi siang aku melihat kalian." Jawab Sasuke. Sakura mengingat-ngingat apa yang terjadi tadi siang.

"Oh.., iya.." Sakura mengangguk. "Kebetulan Gaara-san mau ke kantin dan dia menghampiri kami."

"Dia juga mencicipi makananmu." Sahut Sasuke. Sakura terdiam, ia menditeksi tanda-tanda kecemburuan tapi tidak begitu yakin mengingat Sasuke adalah pria yang cool. Tapi Mukade pernah membuka kartu Sasuke dan Sakura menjadi yakin.

"Apa ada yang salah dari mencicipi makanan?" Tanya Sakura.

Tidak ada jawaban. Sasuke diam melihat layar televisi, melihat tampang datar kekasihnya itu Sakura pun tersenyum tipis.

"Cemburu ya?" Sakura mencolek pinggang Sasuke. Pria itu diam tidak merespon. Sikap Sasuke yang seperti merajuk namun cool itu membuat Sakura semakin ingin menggodanya.

"Sasuke-kun, kenapa kau sangat tampan?" Sakura mendekatkan wajahnya, ia menatap secara intens tapi Sasuke tidak bergemih.

"Wajahmu mirip dengan ibumu. Lihat. Siapa anak mama di sini?" Sakura mencolek hidung mancung Sasuke. Onyx kelam itu akhirnya melirik. Sakura lalu menyaut ponselnya dan menunjukkan foto Sasuke berusia lima tahun memakai kimono dihiasi pita di rambutnya. Wajah datar Sasuke sedikit terkejut.

"Uh... Cantiknya..." Goda Sakura. Ekspresi Sasuke kembali datar, memang sulit menggoda seorang Uchiha Sasuke. "Kemana pipi cabimu huh?" Sakura mengendus-ngendus pipi Sasuke seakan itu adalah pipi Kenji.

"Sakura hentikan.." Kepala Sasuke mengelak ke samping.

"Oooh..., tampannya... Kekasih siapa ini?" Sakura masih saja menggoda sampai akhirnya Sasuke berdiri dan pergi menuju kamar, mungkin dia malu. Sakura terkekeh. Ia mematikan televisi lalu berlari menyusul Sasuke.

HUP!

Sakura loncat ke punggung Sasuke seperti kera. Sasuke yang baru saja akan naik ke ranjang langsung tersungkur ke depan. Dua orang itu ambruk bersama-sama.

"Sakura..."

Kening Sasuke mengkerut sedangkan Sakura terkekeh geli. Sasuke lalu terbaring dan terlentang. Sakura masih belum puas, ia berdiri di atas ranjang lalu mengangkat kedua kaki Sasuke ke atas.

"Apa?" Sasuke heran melihat kelakuan Sakura.

"Sasuke-kun, angkat aku." Sakura menumpu kedua kaki Sasuke pada perutnya. "Bersiaplah."

Sakura langsung membebankan tubuhnya dan spontan kaki Sasuke langsung menahan. "Eh..eh..eh.." Setengah Tubuh Sakura merosot ke bawah, telapak tangannya menumpu pada telapak tangan Sasuke. Keseimbangan berhasil. Kedua kaki Sasuke kokoh mengangkat badan Sakura. Tubuh gadis itu seakan melayang. Kepalanya menjulur ke bawah sementara kakinya melayang ke atas. Sakura tertawa bahagia dan akhirnya Sasuke pun tersenyum tipis. Mereka menghabiskan malam sebelum tidur dengan sedikit berolahraga.

.


Tiga bulan lebih berlalu. Hari-hari yang dinanti studio Gamabunta akhirnya tiba. Setelah bekerja keras selama dua tahun lebih, Unit 2D dengan bangga mempersembahkan film animasi Black Jack.

Waktu yang tidak singkat membuat sebuah karya untuk menghibur masyarakat serta menjadi pesaing di dunia perfilman animasi. Dalam pembuatannya, Black Jack melibatkan sekitar 500 artist yang terbagi pada setiap devisi produksi 2D. Tidak lupa peran team pendukung lainnya yang sangat membantu kelancaran proses produksi. Black jack melibatkan band papan atas, One Ok Rock untuk menyanyikan sountrack utama mereka. Dan yang paling mendongkrak film ini adalah dubber cast para karakter film yang diperankan oleh beberapa aktor terkenal salah satunya pengisi suara tokoh utama Jack yaitu, Takeru Satoh. Kesuksesannya dalam film laga Rounin kenshin menjadikan ia cocok mengisi dubber tokoh Jack yang berperan sebagai seorang anak laki-laki berusia 18 tahun ahli dalam bela diri. Karena menunjuk seorang dubber tidaklah sembarangan, feel yang dapat menyatu dengan karakter tokoh lah yang paling dicari. Ditambah lagi paras Takeru yang tampan membuat para artist wanita heboh saat aktor itu mengunjungi studio Gamabunta, berbeda dengan Sakura yang tidak terlalu histeris karena baginya Uchiha Sasuke adalah nomer satu. Tidak tertandingi.

Menjelang seminggu peluncuran gala premier, beberapa team dibentuk untuk melakukan tour kota dalam aksi live demo sebagai media promosi film kepada masyarakat. Melibatkan produser, Director 2D dan juga beberapa artist produksi, ditujukan untuk para Leader khususnya devisi Animator. Naruto bergabung dengan team melakukan tour kota di wilayah Sunagakure. Berhubung Naruto berdomisili di sana cukup lama, pria itu dianggap sebagai putera daerah untuk mewakili namanya sebagai animator asal Sunagakure, padahal Naruto lahir di Konoha. Ya tidak masalah, hitung-hitung pulang gratis ke kampung halaman sekalian mengunjungi ayah dan nenek angkatnya. Walau sangat disayangkan Hinata tidak bisa ikut karena koordinator tidak bisa cuti saat Leader tidak ada di tempat.

Pegawai 2D sangat antusias menunggu peluncuran film Balck Jack di bioskop. Walau semua artist 2D tahu isi ceritanya saat bedah naskah, ditambah lagi setiap hari mereka dihadapkan dengan proses produksi, tetap saja mereka penasaran dengan hasil akhirnya. Hanya pihak-pihak yang berkepentingan yang sudah melihat secara keseluruhan film itu saat melakukan final review dalam tahap post production, khususnya team editor. Mereka pamer dan sedikit spoiler tentang hasil Film Black Jack, membuat artist-artis lain geregetan saat mendengar cerita mereka dan harus menahan hati karena saat ditanya, mereka akan menjawab.

"Lihat saja di bioskop nanti..."

Hell.

"Ah! Sudah sana-sana.., kembali ke tempat asalmu..." Beberapa artist background 2D yang berkumpul di salah satu meja kerja pegawai menedang bokong seorang editor setelah menceritakan sepanggal hasil film Balck Jack. Awalnya pria itu menghampiri Neji untuk suatu keperluan tapi kemudian ia ditanya-tanya ketika akan beranjak keluar ruangan background 2D.

"Siapa suruh bertanya..." Pria itu mengusap bokongnya sambil menuju pintu keluar. Tidak ada unsur kemarahan karena semua itu bercampur candaan.

"Kenapa kalian tidak sabaran? Tiga hari lagi film sudah ada di bioskop-bioskop kesayangan kalian.." Ucap Obito dengan santai. Sakura melirik pria itu sambil membatin.

"Aku tidak sabar melihat namaku di credit title." Konohamaru menyandarkan punggungnya di kursi kerja sambil melihat langit-langit atap.

"Nama-nama artist background ada di urutan tengah-tengah, lama juga menunggu gilirannya .." Sahut Kiba.

"Tidak masalah, yang penting aku bisa memotret namaku dan memamerkannya pada ibuku." Sahut salah satu artist.

"Kau bisa dihukum jika memotret gambar..."

"Kan aku memotret kredit title, yang penting tidak mencuri video seperti penonton yang tidak beretika."

"Guys! kita nonton sama-sama kan? biar seru!" Ucap salah satu artist dan semua mengangkat jempol mereka.

"Tapi bagaimana dengan Pinky? apa dia tidak keberatan melihat Black Jack dua kali?" Tanya Konohamaru, wajahnya tersirat beberapa makna dan Sakura berfirasat tidak baik.

"Loh, kenapa melihat untuk kedua kalinya?" Pancing salah satu artist.

"Karena sudah pasti dia mendampingi pak CEO dalam gala premier."

"EEEAAAAAA..."

Sakura bertanya dalam hati sampai kapan hidupnya bisa tenang.

"Ditambah lagi punya kesempatan liburan bersama usai gala premier." Timpal Tenten.

"IHIIIIIYYYYY..."

Sakura tersenyum tipis. Rekan-rekannya itu mana tahu jika ia dan Sasuke akan terpisahkan jarak dan waktu. Sakura ikut senang dengan peluncuran film Black Jack tapi di samping itu ia sedih kenapa film itu cepat diselesaikan.

.


Satu minggu berlalu. Studio Gamabunta menjadikan Konohagakure sebagai tuan rumah pemutaran film animasi perdana Balck Jack. Bertempat di Mega Uplink X , sebuah teather bioskop terbesar kedua di Jepang setelah Multiplex O'uzu milik Kirigakure. Pemutaran screening untuk pihak pers sudah berlangsung tadi pagi. Malam ini red carpet digelar dan panitia sudah stand by pada tugasnya masing-masing. Sama seperti gala premier Greenoch dulu, undangan resmi untuk artist produksi studio ditujukan sebatas sampai Leader di setiap devisi. Sekali lagi Sakura mendapatkan keberuntungan menghadiri acara gala premie. Dulu Obito yang mengundangnya dan kali ini Sakura hadir sebagai pendamping CEO Gamabunta, Uchiha Sasuke.

Malam minggu ini Sakura terlihat sangat berbeda. Gadis itu berdiri di depan cermin kamar tamu kediaman Uchiha. Ia memandang tubuhnya dalam balutan gaun berwarna biru tua. Warna rambut Sakura dan gaun sangat kontras. Sakura mengurai rambutnya yang berkilau seperti kelompak sakura musim semi. Kali ini Sakura tidak memakai Gaun rancangan milik Ino. Gaun elegan yang tengah dipakaianya itu adalah pemberian dari Sasuke. Saat Sakura keluar dari kamar mandi, sebuah kotak hitam pembungkus gaun sudah diletakkan di atas ranjang kamar tamu.

Sakura masih mengamati dirinya sendiri. Ia terpukau memandang gaun pilihan Sasuke, ternyata pria itu bisa memilih sebuah gaun. Sakura tersenyum tipis, empat detik kemudian senyuman itu pudar dan wajah Sakura menjadi sendu. Tersisa beberapa hari lagi dirinya bisa menghabiskan waktu bersama Sasuke dan besok mereka akan berlibur ke Sunagakure. Mengunjungi orang tua Sakura.

Hampir semua wishlist sudah tercapai. Sakura memaksimalkan waktu sebaik mungkin untuk menikmati setiap quality time mereka. Semua kenangan yang terbentuk selama beberapa bulan itu membuat Sakura tidak yakin apakah ia siap ditinggal Sasuke. Kesunyian seakan menjalar dalam dada. Waktu memang cepat berlalu tapi tanpa Sasuke mungkin waktu akan melambat. Tangan Sakura menyilang, menyentuh kedua lengannya sendiri.

'Tidak, aku harus tegar. Demi masa depan Sasuke.'

Wajah Sakura berubah ceria kembali. Tidak mau menunjukkan wajah murung menjelang kepergian kekasihnya.

"Yeah! Shannaro!" Seru Sakura.

Gadis itu tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih bersinar. Disaat bersamaan ponselnya di atas meja bergetar. Sakura meninggalkan cermin lalu membaca pesan Sasuke yang memberitahukan bahwa ia menunggu di ruang tengah. Memastikan penampilannya sekali lagi, Sakura pun beranjak dari kamar.

Terpanah.

Satu kata yang pantas untuk mendeskripsikan ekspresi Sasuke saat melihat Sakura. pria itu cukup lama memandang penampilan kekasihnya yang dibalut anggun dalam gaun biru tua pilihannya. Sasuke berdiri menyambut gadis musim semi. Sakura ternyum, ia mengulurkan tangan ke depan dengan anggun dan Sasuke meraih tangan Sakura lalu menciumnya. Masuk ke dalam catatan bahwa ini pertama kalinya seorang Uchiha Sasuke bisa bersikap romantis. Mukade bahkan terpaku melihat adegan singkat itu ketika ia memasuki ruang tengah.

"Anda sangat cantik nona Sakura." Puji Mukade.

"Terimakasih Mukade-san..." Sasuke memandang wajah Sakura saat gadis itu mengumbar senyum manisnya.

.

Sasuke dan Sakura tiba di Mega Uplink X. Penjaga depan membuka pintu mobil untuk Sakura. Keduanya turun, Sakura menggandeng lengan Sasuke dan mereka memasuki wiLayah red karpet. Di sana para tamu undangan banyak yang sudah hadir. Kilatan foto menyambar bintang tamu, diantaranya para tokoh dubber serta bintang tamu penting lainnya di depan latar poster film Black Jack berukuran sangat besar. Sakura sudah terlatih mendampingi Sasuke pada setiap acara jadi gerak-gerik gadis itu luwes dan tidak terlalu gugup.

Sasuke dan Sakura menjadi pusat perhatian ketika masuk ke dalam lobi bioskop. Sakura melambaikan tangan ke arah Ino yang berdiri di dekat Naruto dan kawan-kawan. Sakura mengikuti langkah Sasuke, pria itu bertegur sapa dengan pegawai studio dan tamu-tamu penting lainnya. Banyak sekali orang menyapa dan disapa membuat Sakura harus terseyum setiap saat. Apalagi saat bersalaman dengan para aktor dubber, khususnya dubber utama.

"Sakura-chan..." Konan menyapa Sakura saat ia tiba dengan Itachi. Sakura mencari sosok Obito, sepertinya esekutif produser itu tidak hadir karena saat ini ia sedang asik melahap nasi goreng buatan Konohamaru sambil nonton bola.

"Obito, kenapa kau tidak diundang dalam acara gala premier?" Rupanya Konohamaru sudah tahu kalau Obito adalah sepupu Sasuke. Kecurigaannya berawal saat ia membaca spark antara Sakura dan Obito yang membahas tentang orang tua Sasuke. Obito akhirnya mengaku tapi tidak memberitahu jika ia adalah seorang esekutif produser Gamabunta. Identitas Obito memang rumit. Hanya beberapa orang yang mengetahui kebenarannya.

"Aku diundang, tapi melewatkan pertandingan MU melawan Madrid sangat disayangkan." Jawab Obito. Konohamaru tidak berkomentar, ia hanya membatin keanehan Obito sambil makan nasi goreng.

Pemutaran perdana film Black Jack dimulai. Urutan acaranya sama dengan gala premier Greenoch. Sakura duduk di samping Sasuke di deteran tempat duduk VVIP. Sesaat Sakura mengingat saa ia memberikan buket bunga untuk Sasuke, ia pun tersenyum tipis. Opening film Black Jack menampakkan seorang anak muda yang bertarung dengan musuh dikelilingi ratusan burung gagak. Menceritakan tentang dunia manusia dan yang bersatu dengan alam roh. Setiap jiwa yang jahat akan dirasuki roh kegelapan untuk berubahnya menjadi setengah iblis dan menghisap kenangan setiap orang, membuat ...maaf cerita ini tidak dibuka untuk umum, nantikan di bioskop kesayangan anda.

Plok...plok...plok...plok...

Semua penonton berdiri saat film selesai diputar. Kru saling memberi selamat. Terpancar kebahagiaan pada wajah mereka.

"Sasuke-kun..." Sakura membisikkan sesuatu saat Sasuke tengah bercengkramah dengan tamu lainnya di lobi bioskop. Sasuke mengangguk dan Sakura langsung melesat menghampiri Naruto dan kawan-kawan. Mereka heboh memberi selamat satu sama lain serta memuji film mereka sendiri.

"Gaunmu bagus." Bisik Ino.

"Ini gaun pemberian Sasuke." Bisik Sakura. Ino menyikutnya saat Gaara menghampiri mereka. Art director 3D itu memberi selamat semua kru unit 2D yang hadir.

"Selamat." Gaara dan Sakura bersalaman. Onyx Sasuke memandang mereka dari kejahuan. Gaara dan Sakura tampak asik mengobrol dan sesekali Sakura mengumbar senyuman manisnya.

"Tadi kau dan Gaara mengobrol apa?" Tanya Sasuke saat mobil mereka menuju perjalanan pulang. Sakura langsung menoleh. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?

"Kami mengobrol tentang film."

Sasuke mmandang jalanan. Pria itu diam tidak mengatakan apa-apa lagi dan Sakura hanya membatin. Apa kalian mencium aroma kecemburuan?

.


Hari minggu tiba. Sakura dan Sasuke menuju bandara International Konoha. Pesawat mereka take off pukul 10:00 pagi menuju Sunagakure. Mereka mengobrolkan banyak hal selama di pesawat sembari menempuh perjalanan selama 2 jam. Sakura mengambil cuti lima hari terhitung hari senin besok. Rencananya Sakura akan menginap di rumahnya selama tiga hari.

"Sakura." Pangil Sasuke. Sakura yang sedang asik memandang awan dari jendela langsung menoleh.

"Hem? ada apa Sasuke-kun?"

"Ceritakan sesuatu tentang ayahmu."

"Emmm... ayahku orang yang asik." Sakura hanya bisa menyimpulkan itu.

"Asik yang bagaimana?" Tanya Sasuke lagi.

"Tunggu saja sampai kau bertemu dengannya. Aku sudah memberi kabar tentang kedatangan kita dan responnya lumayan baik." Sasuke menangkap kata 'lumayan' dengan jelas. Mungkin apa yang ada di bayangan Sasuke saat ini adalah sosok ayah yang protektif sama seperti Sasori.

"Kenapa Sasuke-kun? kau gugup bertemu ayahku?" Goda Sakura. Sasuke tidak menjawab, pria itu mengalihkan pandangan lalu membuka buku bacaan. Dua jam berlalu dan pesawat mereka landing di bandara.

Selamat datang di Sunagakure. Sebuah wilayah bagian terbesar di Jepang setelah Konoha. Penampakan Sunagakure mirip seperti Mesir. Hanya saja tidak terdapat piramid atau makam raja Fir'aun di sana. Suhu udara relatif hangat setelah musim dingin. Pada musim panas suhu ekstrim bisa mencapai 40 derajat celcius. Berhubung Sasuke dan Sakura berkunjung awal tahun, suhu di sana tidak begitu panas. Masih tersisa angin-angin semilir yang sejuk. Wilayah Suna adalah kota metropolitan di antara padang pasir dan pegunungan batu. Orang-orang menyebut kota Suna sebagai kota Alexandria-nya Jepang. Tampak beberapa gedung pencakar langit dan sebagian besar kontruksi bangunan di sana berbentuk kotak tanpa atap genteng, bertujuan untuk menahan terjangan badai pasir yang datang tiba-tiba.

Kota Suna terbilang gersang tapi pepohonan masih dijumpai di berbagai tempat terutama di daerah oasis. Kebanyak pohon yang tumbuh adalah pohon palem dan pohon-pohon yang kuat terhadap suhu panas yang ekstrim. Tapi jangan salah, penduduk menggunakan jaket pada malam hari karena udara bisa berubah menjadi dingin dengan angin yang menerjang cukup kencang.

Ini bukan pertama kalinya bagi Sasuke mengunjungi Kota Suna. Taksi membawa mereka menuju rumah Sakura dan anehnya malah gadis itu yang gugup sekarang. Setengah jam perjalanan ditempuh akhirnya mereka tiba pemukiman penduduk. Taksi berhenti menurunkan mereka di samping jalan dekat gang kecil. Sakura dan Sasuke turun mengambil koper mereka di bagasi. Suara anak-anak bermain sepeda melintasi mereka. Hari minggu sekolah libur jadi komplek perumahan Sakura lumayan ramai.

"Sakuraa..." Seorang pia tua melambaikan tangan padanya. Pria itu sedang menyirami koleksi kaktus hias di depan rumah. Sakura melambaikan tangan lalu membungkuk dari kejauhan. Kemudian ia dan Sasuke masuk gang kecil menuju rumahnya. Selama perjalanan Sakura beberapa kali menyapa tetangga dan Sasuke ikut mengangguk. Sakura hidup di lingkungan yang positif, semua tetanganya ramah dan mereka terpukau saat melihat Sasuke. Siapakah selebritis tampan yang memakai kaca mata hitam itu? apakah dia menantu Kizashi?

Mengikuti langkah Sakura, terlihat pagar tembok setinggi satu setengah meter. Sakura berhenti di depan pintu masuk lalu menoleh ke arah Sasuke, menandakan bahwa mereka tiba dirumahnya.

"Tadaima." Sakura mendorong pintu kayu dan mereka masuk ke dalam halaman rumah. Sakura mempunyai taman yang ditumbuhi rumput hijau di kedua sisi jalan bebatuan menuju teras rumah. Halaman rumahnya lumayan luas, ditumbuhi dua pohon palem dan kaktus. Rumah Sakura berbentuk kotak bergaya turki, bangunanya dibangun dari batu putih bergaya klasik modern. Mereka sampai di depan teras rumah dan Sakura menekan bel pintu. Sasuke melepas kaca mata hitamnya, wajahnya sedikit tegang namun tetap tenang. Apa kau sedang berdoa Sasuke?

Ceklek.

Penampakan seorang pria setengah baya dengan model rambut seperti bintang laut pun terlihat.

"Ayah!" Sakura langsung memeluk Kizashi.

"Sayang..." Kizashi mengusap punggung Sakura. Sasuke langsung mengangguk saat Kizashi melihat ke arahnya.

"Ayah perkenalkan..." Sakura mengarahkan tangannya pada Sasuke.

"Selamat siang." Sasuke membungkuk memberi salam. "Uchiha Sasuke." Ia bersalaman dengan Kizashi. Gerakan tangan mereka saat bersalaman menunjukkan ketegasan di antara keduanya. Onyx Sasuke menatap Kizashi tanpa keraguan sedikitpun. Sulit menerawang apa yang Sasuke rasakan saat ini tapi sepertinya pria itu cukup gugup.

"Kizashi. Ayah Sakura." Kizashi merasa seperti pernah melihat Sasuke, tapi dimana? Starstalker pak! Starstalker!

"Ayo masuk. Nenek menunggu kalian di dalam." Ucap Kizashi. Sakura langsung berlari ke dalam meninggalkan kopernya di tangan Sasuke. Pria itu masuk kedalam menggeret dua koper, Kizashi memperhatikan sambil menutup pintu.

"Nenek...!" Sakura berlari memeluk neneknya di ruang tengah.

"Oh...cucuku..." What? berapa umur nenek Sakura? Gerakannya masih energik. Neneknya memakai daster panjang bunga-bunga. Tubuhnya lebih pendek dari Sakura. Rambutnya putih terurai sependek leher.

Sasuke masuk ke ruang tengah. Rumah Sakura sukup luas, tidak kecil dan tidak terlalu besar. Perabotan di dalamnya tertata rapi. Lantai rumahnya terbuat dari marmer. Udara di dalam rumah jauh lebih sejuk dibandingkan di luar.

"Nek perkenalkan..." Ucap Sakura, Sasuke mendekat lalu membungkuk memberi salam.

"Oh.., tampan Sekali. Kau Sasuke kan?" Nenek Sakura mendekat dan memeluk Sasuke seperti cucunya sendiri. Tubuh Sasuke membungkuk menyamakan tinggi mereka yang terpaut cukup jauh. "Mana cucuku yang satunya? Naruto tidak ikut?"

"Bu, dia baru mengunjungi kita seminggu yang lalu." Ucap Kizashi.

"Astaga.., benar..., aku lupa..." Nenek Sakura menepuk lengan Sasuke. "Maklum nak, nenek sudah tua..." Sakura terkekeh dan Sasuke hanya tersenyum samar.

Mereka makan siang bersama. Sakura heran kenapa neneknya memasak banyak sekali hidangan lezat padahal cuma dia dan Sasuke yang datang. Nenek Sakura mengira Naruto akan datang jadi ia memasak banyak hidangan mengingat pria itu sangat menyenangkan ketika makan.

"Kenapa cucu-cucuku selalu berkunjung singkat?" Gumam Nenek.

"Naruto hanya berkunjung sehari, Begitu pula dengan Sasori, dia hanya sebentar di sini. Padahal aku sangat merindukan mereka." Nenek Sakura mengomel. Kizashi dan Sakura menghela nafas sedangkan Sasuke diam menyimak.

"Lalu bagaimana dengan kalian? berapa lama rencananya kalian berlibur?"

Sakura langsung melirik Sasuke. "Rencannya hanya tiga hari nek."

"Haaaaah... Sama saja. Aku berharap bisa berkumpul dengan semua cucu-cucuku." Nenek Sakura sepertinya sangat kesepian.

Kizashi langsung mengubah topik pembicaraan. Pertanyaan umum ditujukan untuk Sasuke. Seputar tempat asal dan dimana ia tinggal. Kizashi tipe ayah yang tidak kaku sehingga obrolannya bisa mencairkan suasana.

"Aku seperti pernah melihatmu. Tapi aku lupa dimana." Kizashi menggerakkan jari telunjuknya. Sakura langsung sadar sesuatu. Gawat...

"Ayah, mau kutambah nasinya?" Sakura mengalihkan perhatian dan dia berhasil. Obrolan berlanjut, kali ini mengangkat topik tentang pekerjaan Sakura. Dari situlah ingatan Kizashi terkumpul, sedikit demi sedikit skandal cinta segitiga Ayame terulas di kepalanya dan Kizashi tiba-tiba tersedak.

"Berarti benar, kalian berdua pernah terlibat skandal cinta segitiga kan?" Kizashi menatap Sakura dan puterinya itu tersenyum kaku.

"Ayaaah... itu masa lalu. Tidak usah dibahas..." Sakura melambaikan tangan. Sasuke tidak tau mau menjelaskan apa jadi dia diam saja. Nenek Sakura bingung dengan pembicaraan mereka.

"Kenapa kau berbohong padaku sayang? Kau bilang foto ciuman kalian hanyalah editan." Shannaro... Kenapa Kizashi membahas secara detail? Sakura salah tingkah saat Sasuke menoleh kearahnya dengan tatapan bertanya. Editan?

"Apa ciuman?" Nenek Sakura ikut bergabung. Gawat.

"A-aku... hanya tidak mau membuat ayah khawatir. Semua itu salah paham ayah. Paparazi sangat ahli membuat rumor. Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Sebaiknya kita makan masakan nenek yang enak ini..." Sakura berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Kizashi terdiam sambil memandang Sasuke. Tidak pernah terpikir olehnya, Sakura benar-benar menjalin hubungan dengan mantan produser tampan seperti Uchiha Sasuke.

"Kau bisa bermain shogi?" Tanya Kizashi kemudian.

"Bisa Kizashi-san." Sasuke mengangguk.

"Nanti malam kita bermain." Sepertinya akan terjadi pembicaraan empat mata diantara ayah dan kekasih puterinya. Sakura berharap ayahnya tidak bertanya macam-macam.

Usai makan, Sakura mengantar Sasuke ke kamar Sasori. Sasuke bisa saja tidur di kamar Naruto tapi Sakura memilih kamar kakaknya untuk Sasuke tempati. Kamar Sasori luas terletak di lantai dua bersebelahan dengan kamar Naruto. Jendela kamarnya berada di langit atap sehingga Sasuke bisa melihat bintang-bintang pada malam hari. Selain letak barang yang rapi, dekor kamar Sasori cukup unik dimana ranjangnya terbuat dari kayu tua yang terlihat usang namun keren. Berbeda dengan kamar di apartemen Konoha yang bertema luar angkasa itu, kamar Sasori yang ini lebih sederhana dan elegan. Nuansanya putih dan abu-abu, deretan buku bacaan tersusun rapi pada rak kayu tua. Terdapat poster Jonny Cash pada dinding sudut ranjang. Ada tangga melingkar untuk naik ke atas atap rumah, tempat Sasori nongkrong bersama bintang-bintang.

"Istirahatlah dulu Sasuke-kun.. nanti sore kita jalan-jalan naik sepeda." Sakura menepuk sisi ranjang. Sasuke duduk di sebelah Sakura dan perhatiannya tertuju pada foto yang dipajang di meja lampu tidur. Sasuke menyaut bingkai foto itu dan mengamati foto Sakura, Sasori, dan Naruto ketika mereka masih kecil. Sasuke tersenyum tipis saat melihat kedua gigi tengah Sakura yang hilang.

"Apanya yang lucu?" Sakura merebut fotonya. Sasuke santai lau mengeluarkan ponsel.

"Aku punya yang lebih bagus. Kau mau lihat?" Sasuke menunjukkan foto Sakura berusia empat tahun dimana ia terjebak pagar kawat. Ujung celana dalamnya tersangkut tinggi dan Sakura menangis.

"Darimana kau mendapatkannya!" Mata Sakura langsung melebar, ia berusaha merebut ponsel Sasuke tapi tidak berhasil. Tidak ada orang lain lagi yang menjadi tersangka selain Naruto. Sepertinya Sasuke balas dendam. Dua orang itu saling tarik ulur seperti anak TK di atas ranjang. Suara cekikikan Sakura terdengar dari balik pintu. Mereka berdua malah berakhir main pesawat-pesawatan, tubuh Sakura diangkat keatas dengan kaki Sasuke.

Ceklek

Tiba-tiba nenek Sakura masuk tanpa mengetuk pintu. Sasuke tersentak dan kakinya langsung merosot kebawah. Bak! Sakura jatuh menindih Sasuke dan kening mereka berhantaman cukup keras. Nenek Sakura terkejut melihat adegan singkat itu.

"Sakura, aku membuatkan kue pai. Ambilkan untuk Sasuke." Ucap nenek kemudian.

"I-iya nek." Sahut Sakura, ia mengusap jidadnya yang nyut-nyutan.

"Terimakasih..." Sasuke mengangguk. Ia menahan keningnya yang pusing. Nenek Sakura lalu pergi meninggalkan jejak senyuman penuh arti.

.

"Kau bisa menggunakan yang mana saja Sasuke-kun, yang ini punya Sasori, yang itu punya Naruto." Sakura menunjuk dua sepeda nganggur di garasi. Menjelang sore, Sakura mengajak Sasuke berkeliling daerah tempat tinggalnya. Sasuke memilih sepeda milik Sasori karena sepeda Naruto rem-nya blong.

Sakura memimpin rute perjalanan. Gadis itu membawa Sasuke menelusui komplek perumahan, melewati gang-gang kecil, menjumpai ayam dan bebek yang lewat, menerjang puluhan burung merpati yang berkeliaran di jalan. Lebih dari sekali Sasuke mengunjungi Sunagakure tapi baru kali ini ia menelusuri pemukiman penduduk. Berjumpa dengan penduduk lokal yang kental dengan aksen bahasa mereka dan melihat berbagai macam kegiatan orang-orang yang membaur. Sasuke terus mengayun sepeda, mengikuti jejak Sakura sambil memandang suasana sekitar sampai tiba-tiba Sakura berhenti ketika seorang pemuda berpapasan dengannya.

"Sakura?"

"Yuura?"

'Siapa dia?'

Batin Sasuke sepertinya bertanya saat melihat seorang pemuda berperawakan tinggi, berkulit cokelat, sedikit berjenggot dan wajahnya standar. Sasuke berhenti di hadapan mereka. Sakura menyapa pria bernama Yuura itu dengan semangat. Dilihat dari gerak-gerik kedua orang itu tampaknya mereka cukup akrab, apalagi saat Sasuke disuguhkan adegan tos ala anak muda yang rumit. Tangan Sakura dan Yuura saling menyaut, menepuk atas bawah, meliuk kanan kiri, mengeritingkan jari-jari, dan berakhir dengan mengadu bahu mereka. Sasuke speechless dan hanya menautkan sebelah alisnya setelah melihat koreografi sapaan ala pemuda Suna.

"Bagaimana kabarmu? Kau sedang berlibur?" Tanya Sakura.

"Begitulah. Bagaimana denganmu? Lama tidak berjumpa."

"Sama. Aku mengambil cuti beberapa hari."

"Berarti kita sama!" Yuura sangat antusias. Dilihat dari tatapan matanya yang berbinar-binar bagai bintang kejora, sepertinya pria itu terpesona dengan perubahan bentuk Sakura. Sasuke bisa merasakan arti tatapan mata itu. Benar kan Sasuke?

"Ah! Perkenalkan. Ini Sasuke-kun." Sakura memperkenalkan Sasuke. Mereka berjabat tangan dan Sasuke mempersembahkan Onyx tajamnya. Keduanya tidak menyebutkan nama mereka, Yuura langsung menoleh ke arah Sakura, mengacuhkan Sasuke.

"Kau mau kemana?" Tanya Yuura.

"Jalan-jalan saja disekitar sini. Cari angin sore..."

"Ah.. Sayang sekali aku tidak membawa sepeda..."

Siapa juga yang mengajakmu? (Aku bertanya mewakili Sasuke, siapa tahu pikiran kita sama.)

Sakura tidak berlama-lama mengobrol. Ia pamit dan tiba-tiba Yuura mengutarakan ide untuk berkunjung ke rumah Sakura nanti malam. Mau tidak mau Sakura tidak dapat menolak dan Sasuke langsung mengayuh sepedanya jalan duluan, meninggalkan Sakura.

"Duluan ya!" Sakura pamit dan langsung menyusul Sasuke.

Perjalanan berlanjut. Sakura kembali memimpin di depan. Mereka memasuki wilayah penduduk selanjutnya. Sekali lagi Sakura berhenti saat seorang pemuda berpapasan dengannya. Pria itu berambut pirang sependek leher, ia memakai apron putih dan membawa karung terigu kecil.

"Baki...!" Sapa Sakura. Kali ini Sasuke tidak melihat tos ala pemuda Suna melainkan melihat salaman normal yang dihiasi senyuman hangat dari keduanya. Sakura lalu memperkenalkan Baki pada Sasuke. Mereka bersalaman, Baki tersenyum ramah sementara Sasuke memasang wajah datar yang tersirat akan sesuatu. Sakura mengobrol sejenak dan Sasuke harus menunggu selama dua menit sambil memandang gelagat Baki yang lemah lembut memancarkan kekaguman akan sosok Sakura di wajahnya.

"Ada resep baru ya?" Sakura menunjuk tepung terigu di tangan Baki.

"Begitulah. Mampirlah ke toko. Aku akan membuatkan pai nanas kesukaanmu." Sasuke bahkan baru tahu pai kesukaan Sakura.

Sakura tersenyum, "Baiklah. Sampaikan salamku pada bibi ok. Jika sempat aku akan mampir ke toko." Ucap Sakura.

"Bagaimana jika aku mengantar kue pai-nya nanti malam? Sekalian main ke rumah..." Baki mengajukan idenya. Sakura tidak bisa menolak. Sasuke tidak mengatakan apapun dan dia melaju duluan tanpa pamit.

"Baiklah Baki. Aku duluan.." Sakura mengejar Sasuke dan kali ini timbul kekhawatiran di benaknya.

Sasuke selalu mengayuh sepedanya lebih cepat. Instingnya bekerja mengambil arah keluar dari pemukiman penduduk. Sakura mengikuti di belakang, membiarkan pria itu yang menentukan rute perjalanan toh Sakura sudah hafal jalan diluar kepala, jadi tidak mungkin mereka akan tersesat. Mengikuti arah angin, mereka melewati taman kota sampai tiba di pinggiran rumah penduduk dekat daerah bebatuan. Sasuke tidak tahu kemana arah tujuan selanjtnya dan akhirnya ia berhenti.

"Jika pergi ke arah sana, kita akan sampai dimana?" Sasuke menunjuk arah utara tepat di hadapannya. Sakura pun tersenyum.

"Disana ada beberapa oasis. Salah satunya adalah tempat rahasiaku bersama Sasori dan Naruto."

"Ayo kesana." Ajak Sasuke.

"Tidak bisa Sasuke-kun, waktunya sangat mepet. Jaraknya lumayan jauh. Jika berangkat sekarang, kita akan sampai saat petang. Tidak ada cahaya lampu selama perjalanan. Bahaya jika kita bertemu kalajengking atau ular gurun." Terang Sakura. Mungkin Sasuke lebih memilih disengat kalajengking daripada makan malam bersama dua pemuda kampung yang naksir dengan Sakura.

"Bagaimana jika kita pergi besok saja? Kita menjalajah berdua." Sakura memancing Sasuke untuk merasa excited namun tidak berhasil. Kebahagian Sasuke hanya terbatas sampai senyuman dan pria itu baru saja tersenyum samar.

"Hn." Sasuke pun setuju.

"Baiklah, sekarang ayo kita kembali. Aku mau membantu nenek menyiapkan makan malam." Sakura mengayun sepeda balik halauan dan wajah Sasuke kembali datar.

.

"Yosh!"

Sakura mengibas-ngibaskan telapak tangan. Semua hidangan tersaji di atas meja makan saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sasuke keluar dari kamar Sasori usai membersihkan diri, ia menuruni tangga dan di saat bersamaan bunyi bel pintu terdengar. Sakura bergegas membuka pintu, beberapa detik kemudian suara yang tidak asing di telinga Sasuke terdengar seiring penampakannya. Yuura dengan penampilan maksimal muncul menyapa Kizashi yang masuk di ruang tengah. Sasuke yang duduk di sofa hanya diam memandang Yuura. Pria itu menghampiri Sasuke dan ikut duduk. Keduanya saling berhadapan. Sasuke tidak mengatakan apa-apa begitupula dengan Yuura. Sesama pria, Kizashi yang melihat kondisinya bisa merasakan hawa dingin terpancar dari dalam diri Sasuke.

Sedikit basa-basi untuk memulai obrolan di meja makan. Yuura dengan antusias menanggapi setiap ucapan tuan rumah karena tampaknya pria itu sudah akrab dengan keluarga Sakura. Sasuke hanya mengucapkan sepatah dua patah kata seperlunya. Kedatangan Yuura sepertinya membuat mood Sasuke tidak begitu baik, terpancar dari raut wajahnya yang datar. Sesaat kemudian Sakura beranjak meladeni Sasuke. Yuura diam melihat Sakura mengambilkan nasi untuk Sasuke dan matanya bertemu dengan Onyx kelam selama dua detik. Sasuke tersenyum tipis.

Sakura mengira Baki tidak jadi datang tapi beberapa menit kemudian suara bel pintu terdengar. Seorang pria berpenampilan rapi sedikit culun mengampiri meja makan. Entah kenapa Kizashi langsung melihat Sasuke.

"Apa yang kau bawa itu nak?" Tanya nenek Sakura saat Baki menyerahkan kotak kue pai ke Sakura.

"Ini pai nanas nek. Baki yang membuatnya." Sakura pergi ke dapur untuk menghidangkan pai buatan Baki sementara pria itu bersapa ria dengan keluarga Sakura. Baki duduk di samping Yuura, ia menangkap onyx Sasuke dan langsung mengalihkan pandangan. Sepertinya Baki merasakan kekuatan Onyx kelam itu.

Mereka saling mengobrolkan banyak hal kecuali Sasuke. Pria itu diam selama makan sambil menyimak Yuura yang terus mengoceh menceritakan pengalaman kerjanya di depan Sakura dan keluarga. Pria itu sedikit pamer tentang posisinya di tempat kerja sebagai kepala bagian IT di suatu perusahaan swasta. Kizashi meladeni cerita pria itu dan Sakura hanya bisa mengangguk-ngangguk berpura-pura untuk kagum. Nenek Sakura ikut ke dalam obrolan tapi tidak banyak berkomentar.

"Jadi Sasuke. Kau satu tempat kerja dengan Sakura?" Yuura bertanya.

"Aa." jawab Sasuke Singkat.

"Oh, kau seorang artist animasi..." Yuura menjadi sok tahu dan Sasuke tidak berkomentar apapun. Sakura dan Kizashi mungkin sedang membatin sesuatu.

Berbeda dengan Yuura. Baki lebih bermain halus dengan mengangkat topik tentang makanan. Pria itu ahli dalam membuat kue dan tau banyak tentang resep masakan sehingga nenek Sakura nyambung ke dalam obrolan dan Sakura sendiri antusias mendengarnya. Obrolan yang pas kan Sasuke? Kau kan juga sedang belajar memasak? Sainganmu bertambah satu setelah shef Gaara.

"Jadi bagaimana jika besok sore kita bermain bisbal?" Yuura mengutarakan idenya lagi. Semua ide Yuura terdengar menyebalkan di telinga Sasuke karena perhatian pria itu spontan terpusat.

"Maaf Yuura. Kalau besok sepertinya tidak bisa." Jawab Sakura.

"Oh.. ayolah... Sudah lama kita tidak bersenang-senang." Bujuk Yuura. Sesaat Sakura merasakan hawa dingin yang terpancar di sebelahnya.

"Baiklah." Jawab Sakura dan Sasuke langsung menoleh. "Tapi lusa ya?" Sambung Sakura.

"Memang besok kau mau kemana?" Kenapa Yuura sangat kepo? apa dia belum pernah ditusuk Sasuke dengan tulang ikan?

"Aku ada urusan diluar." Jawab Sakura.

"Urusan apa?" Kali ini Baki ikut campur tapi Kizashi langsung memotong pembicaraan setelah melihat wajah Sasuke memancarkan aura kegelapan. Kizashi tidak mau meja makannya berubah menjadi panggung turnamen bela diri. Dua cecunguk itu apa tidak tau siapa itu Sasuke? berani-beraninya mereka...

.

Tek.

"Jadi sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" Kizashi memulai pertanyaan saat ia menggerakkan keping putih shogi pertama ke arah depan.

Tek.

"Delapan bulan. Kizashi-san." Sasuke menggerakkan kepingan hitamnya.

Sasuke dan Kizashi bermain shogi di teras belakang. Suara air yang mengalir dari pancuran kolam ikan koi mengiringi konsentrasi mereka. Kizashi beberapa kali mengajukan pertanyaan setiap ia memindahkan kepingan menyerang Sasuke. Permainannya ahli. Belum ada yang bisa melawan Kizashi selain Sasori. Tapi malam ini Kizashi sedang berhadapan dengan pria Uchiha dan ia sadar pria di hadapannya ini cerdas. Kizashi seakan bisa membaca karakter seseorang melalui permainan shogi.

Sasuke menjawab semua pertanyaan sambil menyusun taktik melawan Kizashi. Pria itu fokus menghadapi permainan dan interview. Tapi jika diterawang lebih dalam, pikiran Sasuke juga tercabang ke arah lain mengingat Sakura sedang meladeni dua cecunguk di ruang tengah. Usai makan Kizashi hanya mengajak Sasuke ikut dengannya. Yuura dan Baki tinggal di tempat, mereka asik mengobrol dengan Sakura dan dua pria itu sedang beradu pengalaman menceritakan hal-hal tentang diri mereka. Sasuke harus cepat mengalahkan Kizashi jika ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Sakura saat ini.

Tek.

"Kudengar, kau akan pergi ke Amerika."

Sasuke mengangkat wajahnya dan ia memandang Kizashi.

.

Langit malam Sunagakure indah ditaburi bintang-bintang malam ini. Sasuke terbaring di ranjang Sasori, onyx-nya memandang pesona malam dari jendela kamar di langit atap. Beberapa saat yang lalu Sasuke baru saja selesai mengalahkan Kizashi. Perbincangan empat mata antar pria sudah dilalui. Setidaknya ia sudah bertemu dengan orang tua Sakura menjelang kepergiannya ke Amerika. Tidak ada yang Sasuke khwatirkan kecuali beberapa hal belakangan ini, dilihat dari gelagat pria itu, tampaknya Sasuke sedang terserang sindrom cemburu. Sasuke bahkan enggan menemui Yuura dan Baki usai bermain Shogi. Sasuke langsung pergi ke kamar untuk beristirahat karena besok ia akan menjadi anak bolang bersama Sakura. Lamunan Sasuke lalu terpecah oleh getaran ponselnya sendiri. Ia mendapat satu pesan dari..

Dobe : 'bagaimana? ayah Sakura tidak membunuhmu kan?'

Sasuke lalu membalas pesan Naruto. Sasuke ragu-ragu menekan tombol kirim tapi akhirnya ia nekad.

Teme : 'kau kenal siapa itu Yuura dan Baki?'

Dan Naruto pun terkekeh membaca pesan Sasuke di depan komputer. Pasti apa yang Naruto pikirkan sama denganku. Naruto lalu menulis balasan pesan.

To Teme : 'ayolah... Kau cemburu dengan mereka?'

Naruto malah menggoda Sasuke. Pria pirang itu mengirim balasan pesan dan ponsel Sasuke bergetar bersamaan bunyi ketukan pintu yang samar-samar. Sasuke beranjak membuka pintu dan disambut dengan senyuman Sakura. Gadis itu masuk ke dalam kamar lalu duduk di ranjang.

"Tamumu sudah pulang?" Sasuke naik ke atas ranjang lalu membaca pesan Naruto. Sasuke langsung keluar dari kotak masuk, mengacuhkan isi pesan itu.

"Bagaimana permainan shoginya? Kalian membicarakan apa?" Sakura penasaran. Sasuke menatap Sakura beberapa detik lalu menjauhkan punggungnya dari sandaran.

"Mendekat." Perintah Sasuke. Sakura pun mendekatkan wajahnya yang serius.

TAK!

Sasuke menyentil kening Sakura dengan keras, pria itu lalu terbaring dan mematikan lampu tidur. Suasana menjadi gelap, hanya cahaya bulan yang menyinari ranjang Sasori tepat dari jendela atas. Sakura memanyunkan bibirnya dan menggoyang-goyang tubuh Sasuke.

"Sasuke-kun... Jawab pertanyaanku..." Nada Sakura pelan namun ada penekanan.

Sasuke tidak merespon, ia terpejam sambil memeluk guling sementara Sakura terus mengoyak-ngoyak dirinya. Merasa kesal, Sakura pun menggelitik pinggang Sasuke. Pria itu langsung menggeliat.

"Sakura... hentikan." Nada Sasuke juga pelan, ia menahan tangan Sakura.

"Beritahu dulu..." Rayu Sakura.

"Jika kau tidak keluar dari sini, aku akan memberitahu ayahmu." Ancam Sasuke.

"Beritahu apa?"

"Anak perempuannya menyusup ke kamar pria."

Wajah Sakura berubah cemberut. "Argh!" Sasuke mengerang kesakitan saat Sakura mencubit pinggangnya dengan keras. Gadis itu lalu turun dari ranjang dan meninggalkan kamar.

.


Dua anak bolang bersiap-siap melakukan tapak tilas menelusuri bukit batu dan padang pasir. Sakura memakai pakaian ekspedisi berwarna serba cokelat seperti para ilmuan yang mau meneliti makam-makam mumi mesir kuno. Gadis itu memakai jogger pant dipadu kemeja Sasori yang lengannya dilinting sampai siku. Sakura juga meminjam topi bundar milik ayahnya, ia menyampirkan topi itu melingkar pada leher. Lalu bagaimana dengan penampilan Sasuke? mari kita tengok Sasuke di kamarnya, pria itu...

Shit.

Baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk menutupi bagian bawah. Sebaiknya kita menunggu beberapa menit lagi.

7 menit kemudian.

Mari lihat penampilan Sasuke. Pria itu memakai celana pendek krem selutut dan kaos berwarna hijau lumut. Sudah. Itu saja.

Mereka sarapan bersama sebelum melakukan aktifitas masing-masing. Karena ini hari senin, Kizashi bersiap pergi bekerja, ayah Sakura beprofesi sebagai konsultan hukum pemerintahan daerah Suna. Mereka mengobrolkan rencana kegiatan selama sarapan. Kizashi dan nenek hanya berpesan untuk hati-hati di jalan saat Sakura memberitahu rencana petualangan mereka. Usai sarapan Kizashi pun pamit pergi.

Sakura memastikan barang bawaan sebelum berangkat, nenek juga menyarankan membawa obat-obatan untuk berjaga-jaga. Semua bekal sudah siap di tas rangsel Sakura sedangkan Sasuke hanya membawa tas sport berisi drone miliknya. Tas itu diselempangkan di belakang punggung. Tepat jam delapan pagi, saat mentari masih naik ke atas peraduan, dua sejoli itu pergi memulai petualangan mereka mengendarai sepeda.

.

Sasuke dan Sakura menelusuri rute perjalanan yang mereka lalui kemarin sore saat keluar dari perumahan penduduk. Kelegaan terpancar pada raut wajah Sasuke karena mereka tidak bertemu Yuura atau Baki selama perjalanan. Sampai di perbatasan, Sakura menitipkan sepeda mereka di salah satu rumah penduduk, pemilik rumahnya cukup akrab dengannya. Ia dan Sasuke lalu memulai perjalanan kaki. Mereka melewati jalan bebatuan.

Sasuke mulai memfungsikan drone Lily miliknya untuk merekam perjalan. Bentuk Lily mirip seperti kue dorayaki favorit Doraemon yang dilengkapi empat lengan tempat baling-balingnya menumpu. Sasuke menerbangkan Lily dengan tracking device yang terpasang seperti jam tangan. Tidak perlu menerbangkan benda itu secara manual karena Lily langsung mengikuti Sasuke dan Sakura kemana pun mereka bergerak begitu melemparnya ke udara.

Perjalanan diisi dengan banyak obrolan. Sakura sering bergurau menjahili Sasuke entah berupa candaan, berpegangan tangan, menganyun-ngayun tangan Sasuke tiada henti, atau menakuti Sasuke dengan kulit ular yang ia temukan di jalan tapi sayangnya Sasuke tidak takut.

Setelah satu kilometer ditempuh, mereka berhenti untuk rehat sejenak, begitu pula dengan Lily yang hanya difungsikan beberapa saat sekali. Sasuke dan Sakura berteduh di bawah batu besar. Mereka berbagi minum serta makanan. Tinggal membawa unta maka sepasang kekasih itu terlihat seperti ilmuan mesir. Sasuke membantu Sakura merenggangkan otot kakinya yang keram, gadis itu melepas sepatunya. Kesempatan emas bagi Sasuke untuk balas dendam.

"Kya! Hentikan!"

Sakura melonjak kaget, tiba-tiba Sasuke menahan dan menggelitik telapak kakinya. Sakura minta ampun tapi kali ini Sasuke sedang dalam mood bercanda. Sakura merontak dan berhasil lolos setelah mengeluarkan tenaga dalamnya. Sasuke terjengkal ke belakang seperti batu apung. Sakura terkejut dan langsung membantu Sasuke untuk bangkit.

Mereka melanjutkan perjalanan kembali sampai tiba di wilayah padang pasir. Dalam perjalanan Sakura iseng berjalan mengikuti jejak kaki Sasuke. Kesedihan sedikit terpancar ketika Sakura memandang punggung Sasuke di belakang. Tidak, aku tidak boleh sedih. Sakura menggelengkan kepala, berusaha untuk kembali ceria, ia menceritakan keindahan serta keasrian padang oasis yang akan mereka jumpai sebentar lagi.

"Kau tau Sasuke-kun... salah satu keafdolan menuju padang oasis adalah dengan berjalan kaki. Kami selalu melalui rute perjalanan ini. Tidak ada jalan lain ke tempat itu."

"Aa.." Sasuke mendengarkan juru kunci berbicara.

Matahari semakin naik ke singgasana dan panas yang menyengat mulai terasa. Kepala Sakura aman terlindung topi tapi bagaimana dengan Sasuke? pria itu bercahaya seperti vampir di tengah gurun Suna. Rambut dan kulit Sasuke yang terpapar sinar matahari membuat efek kilauan. Untung saja onyx-nya terlindung kaca mata hitam, jika tidak kilauannya bisa menandingi silau gerhana matahari, tidak baik untuk mata yang memandang.

Sakura tidak lupa mendokumentasikan beberapa foto. Memori ponselnya penuh dengan foto-foto Sasuke di manapun dan kapanpun pria itu bersamanya. Kadang Sasuke risih, ia pernah menegur Sakura karena terus-terusan mengambil fotonya beberapa bulan terakhir ini. Sakura tidak menghiraukan teguran Sasuke dan tetap memotret bagaikan Sasuke adalah model pribadinya. Sekarang Sasuke pasrah saja asalkan kekasihnya itu bahagia.

Sakura khawatir saat melihat Sasuke dari kamera ponsel. Pria itu tampak kepanasan walau ia tidak mengeluh sedikitpun. Setelah mengambil satu foto, Sakura mengambil sesuatu dari dalam tas rangsel, ia mengeluarkan kain kotak-kotak berukuran 1x2 meter. Kain itu akan digunakan untuk alas tempat duduk tapi sekarang ada sesuatu yang harus kain itu lakukan.

"Sasuke-kun. Pakai ini.." Sakura mendekat lalu memakaian kain itu ke kepala Sasuke seperti kerudung. Ujung kainnya diikat di bawah dagu. Sasuke tidak berkomentar dan terima-terima saja ide Sakura.

Cekrek. Sakura tidak lupa mengambil satu foto Sasuke berkerudung. Tabahlah...

Setengah jam kemudian.

Mereka mendaki tanjakan naik gurun pasir dengan nafas terengah-engah dan berhenti ketika sampai di puncak.

"Lihat!"

Sakura menunjuk padang Oasis di bawah sana. Sebuah wilayah subur di tengah-tengah gurun pasir. Terdapat mata air membentuk telaga kecil berwarna biru dikelilingi pepohonan palem dan manggrove. Terlihat indah. Tunggu. Ada yang berbeda dengan deskripsi Sakura sebelumnya. Tempat itu dihuni beberapa pondok dan... apa itu?! Mobil? Sasuke menunjuk beberapa kendaraan yang melintas dari arah selatan. Sakura langsung menampakkan cengiran. Tau begitu mending naik kendaraan saja daripada susah payah jalan kaki seperti pendekar.

"Hehe.. Ternyata sudah banyak berubah jika dibandingkan saat terakhir aku melihatnya..." Sakura tersenyum kaku.

"Kapan terakhir kau melihatnya?" Tanya Sasuke.

"Tiga tahun yang lalu." Sakura menampakkan deretan giginya lagi dan Sasuke malas berkomentar.

"Ah..., tetap tidak ada kesan tersendiri jika naik kendaraan Sasuke-kun..." Sakura melangkah turun. Sasuke mengikuti jejaknya.

"Sasuke-kuuuuuun!" Sakura melambaikan kedua tangan di tepi telaga. Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura yang begitu excited.

"Sasuke-kun, keluarkan Lily!"

Sasuke kembali menerbangkan Lily dan benda itu merekam mereka dari atas. Padang oasis terlihat indah, salah satu keajaiban alam dimana tercipta surga kecil di tengah-tenah pasir tandus. Sakura melambaikan tanganya pada Lily, ia juga mengangkat kedua tangan Sasuke, menggerak-gerakkannya seperti juru parkir pesawat. Bahkan Sakura mengajak dua turis yang lewat untuk ikut ceria melambaikan tangan pada Lily dan turis itu dengan senang hati ikut bahagia.

"Lihat, tidak usah pergi ke mesir kan Sasuke-kun?" Sakura menikmatinya. Sasuke tersenyum dan mengajak-ngacak rambut gadis itu. Mereka lalu menuju salah satu pondok untuk membeli minum dari seorang pedagang memakai sorban putih.

"Aku seperti ingin melompat ke telaga itu, airnya terlihat seperti mentol." Gumam Sakura. Ia dan Sasuke duduk di bawah pepohonan sambil melihat ke arah telaga. Ada Sekitar 10 orang pengunjung, dua diantaranya turis tadi, sisanya penduduk lokal. Perhatian Sakura lalu tertuju pada gelang giok pemberian Sasuke.

"Sasuke-kun, giok ini selalu dingin. Bahkan ketika terpapar sinar matahari di padang pasir." Sakura mengamati giok itu. Sasuke diam dan ikut memandang. "Ngomong-ngomong darimana kau mendapat ide memberiku ini?" Sakura penasaran, ia menunggu beberapa detik sampai Sasuke menjawabnya.

"Giok itu tanda kepemilikan."

Sasuke langsung berdiri. Pria itu memalingkan wajah melihat ke arah lain. Kalimatnya cukup membuat hati Sakura melebur bagaikan butiran pasir, bukan debu. Pipi Sakura merona. Setelah beberapa waktu berlalu, Sakura baru mengerti maksud hadiah ulang tahun yang Sasuke berikan untuknya. Bukan sesuatu yang harus diketahui umum. Sasuke menyampaikan sesuatu yang bermakna dengan caranya sendiri.

Sakura lalu menyaut tas rangselnya dan beranjak. "Ayo Sasuke-kun..., kutunjukkan tempat yang indah." Sakura menggandeng tangan Sasuke pergi.

.

Keduanya meninggalkan pada oasis dan kembali melanjutkan perjalanan. Sakura pernah mengatakan pada Sasuke tentang sebuah tempat rahasia. Tujuan Sakura adalah memperlihatkan tempat rahasia itu pada Sasuke. Memakan waktu satu jam untuk menempuh jarak beberapa meter keluar dari padang pasir. Sakura dan Sasuke menelusuri celah-celah tebing batu. Sakura tampak menguasai medan area karena gadis itu cepat menentukan arah jalan bebatuan yang rumit.

"Sasuke-kun, kita sampai." Sakura berhenti tepat di depan deretan bebatuan besar yang tingginya mencapai lima meter. Sasuke tidak mengerti apa yang sudah mereka capai sampai Sakura menyuruhnya untuk mempertajam indera pendengaran.

"Kau dengar sesuatu?" Tanya Sakura.

"Suara air."

"Tepat!" Sakura memetik jarinya. "Saatnya kita memanjat bebatuan ini untuk melihat apa yang ada di balik sana." Sakura menepuk bebatuan itu dan mereka mulai memanjat.

"Here we are..."

Sakura berdiri di puncak batu. Sasuke menyusul dan berdiri di sampingnya. Disambutlah mereka dengan Oasis kecil yang indah. Terdapat air terjun mini yang berasal dari mata air di atas permukaan tanah yang lebih tinggi. Air itu mengalir di antara bebatuan dan membentuk kolam seperti Laguna hijau. Di sana hanya ditumbuhi beberapa pohon. Tempat itu terisolasi oleh bebatuan, orang tidak akan menyangka ada oasis di balik bebatuan itu. Sakura mengangkat tangan Sasuke dan tersenyum puas. Seakan mereka berhasil dalam pencapaian hidup. LiLy mengabadikan temuan tempat itu dari atas. Semuanya terekam sempurna, mencetak kenangan yang indah.

Perlahan Mereka turun ke bawah. Sasuke yang memimpin duluan untuk menjaga Sakura agar tidak terpelset. HUP! Sakura melompat ke arah Sasuke dan memijak tanah. Keduanya berpandangan dalam pelukan, sekejap gelora asmara berhembus bagai pusaran angin yang meniup pasir. Sakura lalu mengajak Sasuke menelusuri surga mini itu. Mereka melewati Bebatuan yang menumpuk secara acak membuat terowongan kecil menuju laguna. Tepat di bawah pohon palem Sakura meletakkan tas rangselnya. Sasuke mendekat ke tepi laguna. Pandangannya mengedar, tempat itu seperti belum terjamah manusia. Sasuke lalu berjongkok dan menyentuh air Laguna yang hangat. Sakura memandang Sasuke di belakang dan gadis itu tersenyum tipis.

"Sasuke-kun..." Panggil Sakura. Sasuke berbalik lalu menghampiri.

"Bagaimana kalian menemukan tempat ini?" Tanya Sasuke.

"Kami iseng melakukan eskpedisi. Kira-kira sekitar lima tahun yang lalu. Kami menandai jalan dengan membuat tanda rahasia di batu." Terang Sakura sambil melepas kemeja dan jaketnya.

"Sasuke-kun, ayo kita berenang."

Sesuatu menjadikan pemandangan oasis lebih indah ketika Sasuke berdiri di tepi Laguna hanya menggunakan celana boxer. Tubuhnya bersinar di bawah teriknya sinar matahari saat jam menunjukkan tepat pukul setengah dua belas siang. Sasuke melangkah masuk ke dalam air, dalamnya hanya mencapai dada begitu sampai ke tengah. Matahari membuat permukaan laguna mengkilat-kilat membiaskan cahaya pada tubuh seski Sasuke saat pria itu mendekati air terjun. Air yang mengalir dari bebatuan setinggi empat meter membasahi kepalanya. Sasuke menunduk sambil terpejam menikmati kesegaran mata air usai melewati perjalanan panjang.

"Sasuke-kun..."

Sakura menyusul. Gadis itu memakai bikini warna putih. Tubuhnya menawan dan Sasuke sempat terpaku saat berbalik melihat Sakura. Ini bukan pertama kali Sasuke melihat tubuh kekasihnya tetapi baru kali ini ia melihatnya dengan jelas. Sebenarnya Sakura sendiri tidak percaya diri dan malu, tapi apa yang sudah direncanakan dari awal jangan dilewatkan begitu saja. Ngomong-ngomong bagaimana jika melepas sepanggal bikini itu? Sasuke pasti bahagia.

Berbeda dengan Sasuke. Sakura tidak masuk ke dalam air secara anggun, ia malah naik ke atas bebatuan seperti kingkong. Sasuke mengamati apa lagi yang akan dilakukan kekasihnya itu. Ngomong-ngomong, melihat Sakura dari bawah cukup membuat konsentrasi mata terpusat ke satu titik. Terpusat ke arah mana? Coba aku perkirakan sudutnya.

"Sasuke-kun! naik ke sini! Kita melompat bersama!" Seru Sakura dari atas bebatuan. Sasuke lalu menyusul, setelah menerbangkan Lily kembali. Mereka bertemu di atas bebatuan dan saling berpandangan. Sakura lumayan grogi saat melihat wujud Sasuke dari dekat. Tanyakan pada gurun pasir Suna kenapa pria itu begitu hot.

"Hitungan ketiga okey?"

"Aa.."

Sakura menggandeng tangan Sasuke. "Satu...Duaaaaaaa... Tiga!"

"KYAA!"

Sakura dan Sasuke melompat bersama ke dalam Laguna. BYUR! Tubuh keduanya menghempas air. Sensasinya bendebarkan karena jantung serontak berpacu cepat. Sasuke tersenyum melihat Sakura tertawa lepas. Mereka melakukan adegan itu berulang kali dengan style berbeda. Sasuke juga melakukan aksi salto yang keren. Sakura tidak mau kalah, ia meminta gendong Sasuke dan mereka loncat bersama. Seakan kembali ke masa kecil, keduanya bersenang-senang seakan gurun Suna hanya milik mereka berdua. Sasuke mengguyur kepalanya sekali lagi tepat di bawah air terjun. Sakura berenang melewati air terjun itu dan ia menarik Sasuke masuk ke dalam terowongan kecil.

"Hahaha..." Sakura menyiram-nyiram wajah Sasuke. Keduanya asik berteduh di bawah terowongan di balik air terjun.

"Sasuke-kun." Sakura lebih mendekat. "apa kau bahagia?" Ia menyilakan poni dan mengusap wajah Sasuke.

"Hn." Sasuke menyentuh pinggang Sakura. Keduanya bertatapan dalam. Onyx Sasuke berkilat-kilat memandang wajah ayu kekasihnya. Jantung Sakura berdegup kencang. Jari-jarinya lembut menyentuh dada bidang Sasuke, melihat butiran air yang membasahi kulit itu. Pandangan mereka bertemu kembali, menikmati setiap detik pertemuan mata. Menelanjangi segala hal yang mereka rasakan saat ini. Sasuke menekan pinggang Sakura, tubuh mereka berdempetan di dalam air. Sesaat gesekan api memercik di dalam gelap, menerangi hati dari bisikan naluri.

"Gugup?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk pelan. Telapak tangan mereka menyatu. Jari-jari mereka saling berbisik. Wajah Sasuke lalu mendekat, perlahan bibir mereka bertemu. Ciuman mereka seperti bunga yang bermekaran pada ranting asmara di musim semi. Bibir mereka saling berpautan lembut mengisi relung hati terdalam. Kemudian Ciuman mereka terputus, bibir Sasuke berpindah menyelami setiap lekuk wajah Sakura. Menyesap dagu, menelusuri leher dan memuja bahu Sakura. Ciumannya mengalirkan gairah. Sakura mencengkram tengkuk Sasuke, matanya terpejam, semua perhatiannya terpusat pada sentuhan yang menghantarkan gelombang panas.

Sasuke menarik kepala. Mata mereka bertemu. Angin gurun berhembus semilir. Ada sesuatu yang ingin diucapkan. Kata-kata itu tersirat pada sorot mata mereka. Kedua tangan Sakura menangkup pipi Sasuke. Mereka berciuman kembali, perlahan keduanya menyelam ke dalam air dan saling membagi oksigen. Sepuluh detik hingga tidak ada sisa ruang udara. Mereka muncul ke permukaan air dan melepas ciuman mereka. Mengambil nafas dalam, keduanya betatapan lalu terkekeh bersama.

"Kau menikmatinya." Sasuke mendekat, tubuh Sakura seakan magnet yang mempunyai daya tarik kuat. Kedua tangan Sasuke bergerak menarik pinggang Sakura. Meraba kulit punggunya, lalu bersamaan melepas tali bikini yang terikat pada punggung dan leher Sakura.

Tatapan Sasuke intens. Tidak ada kata terucap dari mulut Sakura karena gadis itu terpaku. Wajahnya merona merah. Kain yang melilit tubuh bagian atasnya sudah terlepas. Air menutupi tubuh Sakura hingga atas dada. Sasuke menariknya lebih dekat. Kulit mereka bersentuhan. Sekejap Sakura merasakan darah mengalirkan gairah ke sekujur tubuhnya. Gelombang panas membuat ia sulit bernafas. Sasuke bergerak maju, serontak Sakura mundur dan ia bersandar pada bebatuan. Sasuke mengepungnya. Onyx-nya tajam bagai tombak peluluh.

"Ketika aku menyentuhmu, apa yang kau rasakan?" tanya Sasuke, tangannya menyapu rambut Sakura, membelai wajah, lalu meluncur menuruni lengan dan masuk masuk ke dalam air, menggenggam erat pergelangan Sakura.

"Kau membuatku gila." bisik Sasuke. Hidungnya meraba pipi Sakura, bergerak hingga bibir mereka saling bersentuhan. Tubuh Sasuke menekan, gerakannya lebih agresif dan berkuasa, lidahnya menyesap bahu Sakura, tangan kirinya menekan pinggang dan tangan kanannya bergerak lincah pada bagian tubuh lain. Sakura memekik merasakan panas yang tajam. Sasuke mengangkat kepala dan ia tersenyum tipis. Saat melihat senyuman itu, Sakura merasakan kekuatan yang terlalu hebat hingga tubuhnya merasa sakit. Terlalu cepat. Sakura jatuh terlalu cepat. Sulit untuk melawan. Dinding-dinding yang melindungi emosinya perlahan mulai runtuh.

"Sasuke..."

Ia mencium Sakura dengan penuh perasaan. Merasakan bagian dalam mulut Sakura dengan caranya sendiri. Segala sesuatu tentang pria itu membuat Sakura menginginkan lebih, dari penampilan fisik, rasa tubuhnya saat disentuh, hingga cara Sasuke mengamati dan menyentuh dirinya. Semua itu membuat Sakura hampir gila. Tubuh Sasuke yang sekeras batu membuat Sakura mendambakan dan menginginkan pria itu.

"Aku menyukai tubuhmu." bisik Sasuke. Ia memutar tubuh Sakura. Tanganya membelai perut hingga pingul. Tubuh Sakura melengkung. Bibir Sasuke terbenam pada tengkuknya. Setiap jengkal kulit Sakura tergelitik dan terbakar.

Hei kalian... Lihatlah burung-burung yang terbang di langit biru itu, sayap mereka membentang lebar. Ngomong-ngomong kemana burung itu akan pergi? Adakah yang bisa menjawabnya? Pasti ke tempat yang jauh. Mereka mengarungi Samudera. Atau mungkin ke Konoha? entahlah.. Siapa yang tahu. Yang penting saat ini perhatian kalian teralihkan karena aku sedang melakukan sensor.

"Sasuke." Nafas Sakura tersengal. Hampir tidak kuasa menahan lebih jauh. Sakura langsung berbalik, tangannya mencengkram kedua tangan Sasuke. Menahan gerakan selanjutnya. Emerald Sakura menatap malu, wajahnya memanas dan gadis itu tampak menggemaskan.

"Kau tahu kita sedang dimana." ucap Sakura, genggamannya terlepas saat Sasuke menarik tangan dan kembali merengkuh pinggangnya. Kalau sudah begini cukup sulit untuk melawan.

"Mau pulang sekarang?" Tanya Sasuke, Sakura bersyukur kekasihnya itu paham kondisi.

"Tidak. Tapi sepertinya kita terlalu lama di dalam air." Sakura masih gugup.

"Baru saja kau tidak tertutup sehelai kain." Goda Sasuke. Sakura baru sadar kemana perginya bikininya tadi? Jangan-jangan sudah mengapung di luar. Shannaro...

"Sasuke-kun, keluar dan carikan bikiniku." Pinta Sakura.

"Kenapa? keluar saja sendiri." Sasuke merapatkan tubuhnya dan Sakura spontan memukul lengan Sasuke.

"Cepatlah, ini sudah siang." Bujuk Sakura. Sepertinya matahari terasa semakin terik. Jam menunjukkan pukul setengah dua siang. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat.

Wajah Sakura masih merona setelah mereka keluar dari air. Saat ini Sakura sedang memakai baju di balik bebatuan. Sasuke sudah berganti baju, pria itu duduk di bawah pohon palem sambil meneguk minuman. Sakura keluar dari bebatuan memakai kostum ilmuan-nya kembali, ia menghampiri Sasuke lalu mengambil kantong plastik dari dalam tas. Sasuke memperhatikan Sakura memasukkan bikini ke dalam kantung.

"Sakura." Panggil Sasuke.

Sakura menoleh sekejap. "Hmm?"

"Jangan memakai bikini di depan umum. Di pantai maupun kolam renang."

Sakura terpaku sekejap, memahami apa yang baru saja diperintahkan Sasuke. "Baiklah..." Jawabnya sambil tersenyum tipis.

Sakura lalu mengeluarkan bento dan duduk di samping Sasuke. Sepiring berdua. Itu tema makan siang hari ini. Sakura hanya membawa satu tempat makan berukuran besar, tujuannya agar lebih ringkas. Sakura membawa dua sumpit tapi ia memilih untuk menyuapi Sasuke, mengulangi salah satu wishlist-nya. Sasuke sendiri tidak menolak dan dia menerima suapan Sakura. Mereka mengobrol selama makan. Sakura menceritakan pengalamannya bersama Sasori dan Naruto saat pertama kali mengunjungi tempat rahasia itu. Sakura mengatakan, mereka menulis nama masing-masing pada sebuah batang pohon palem. Sakura menyuruh Sasuke menuliskan namanya di pohon yang sama untuk kenang-kenangan.

"Ah benar!" Sakura menepuk jidadnya beberapa menit kemudian.

"Besok kita bertanding bisbal dengan anak perumahan Sasuke-kun..." Sakura menyuapkan potongan ayam ke mulut Sasuke. Pria itu mengunyah dengan wajah datar yang berubah tidak asik. Sepertinya Sasuke enggan melihat wajah dua cecunguk itu, apalagi Yuura. Mengingatnya saja sudah membuat ayam goreng terasa hambar. Buktinya Sasuke menelannya dengan cepat.

"Sakura. Kapan kau akan pulang ke Suna lagi?" Tanya Sasuke kemudian.

"Emm, entahlah. Mungkin saat cuti-cuti mendatang. Memangnya kenapa Sasuke-kun?"

"Kau harus pulang bersama Naruto." perintah Sasuke. Sakura berpikir serta mengira-ngira kenapa wajib hukumnya pulang bersama Naruto. Ia pun bertanya pada Sasuke dan pria itu menjawab,

"Aku tidak mau kau pulang sendirian." (Ah, yang benar..., tidak ada alasan lain?)

Sakura mengatakan pada Sasuke tidak masalah baginya untuk pulang sendiri tapi Sasuke memantenkan perintahnya dengan tatapan tajam. Sakura tidak bisa membantah dan gadis itu mengatakan 'baiklah'. Mereka melanjutkan makan, terbesit di kepala Sakura ketika melihat lauk tinggal satu. Sakura menggigit ujung lauk itu lalu menepuk bahu Sasuke.

"Ghighit..." Nada Sakura tidak jelas saat mengucapkan kata gigit. Sasuke mendekatkan wajahnya dan ia menggigit ujung lauk. Wajah mereka sangat dekat, emerald Sakura melihat ke arah lain dan ia melihat

"KYAAAA!"

Sakura meloncat dan Sasuke spontan tersentak kaget. Sakura menunjuk kalajengking sebesar kepalan tangan ada di dekat Sasuke. Ia menyuruh Sasuke untuk segera menyingkir. Tapi tunggu sebentar. Sepertinya kalajengking itu tidak bergerak. Sasuke mengambil sumpit nganggur dan mengorek hewan itu. Tidak bergerak atau pingsan? Ternyata kalajengking itu sudah mati mengering. Sasuke memastikan sekali lagi lalu memasukkan kalajengking itu ke dalam tas. Sakura bertanya apa tujuannya dan Sasuke menjawab untuk menunjukkan pada Itaru dan Kenji.

Usai makan mereka bersiap pulang. Semua bawaan sudah masuk ke dalam tas kembali. Sakura tidak lupa mengajak Sasuke menuju pohon kenangan. Ternyata jaraknya tidak jauh dari tempat mereka duduk. Sasuke melihat nama Sakura, Sasori dan Naruto terukir di batang pohon palem itu. Kemudian Sasuke mengambil batu dan ikut menuliskan namanya dalam huruf Katakana di bawah nama Sakura. Sasuke sempat tersenyum samar saat menulisnya. Tidak tau apanya yang lucu. Sakura mengabadikan moment itu dengan mencuri satu foto.

"Sasuke-kun, ayo foto bersama dulu." Sakura meletakkan ponselnya di atas batu, ia menganjal ponsel dengan batu kecil sehingga dapat berdiri sendiri. Sakura mengatur timer dan ia berlari ke arah Sasuke setelah menekan tombol. Sakura langsung mengambil gaya era tahun tujuh puluhan dimana satu kakinya disampirkan ke atas batu, satu tangannya berkacak pinggang dan tangan yang lain menyentuh pundak Sasuke. Sedangkan Sasuke berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana.

Cekrek!

Ganti pose. Sakura mengambil foto lagi. Kali ini ia mengangkat kedua tangannya ke atas sambil meneriakkan huruf 'A'. Pose Sasuke masih sama dan tidak beranjak dari tempat.

Cekrek!

Ganti pose. Tubuh dan tangan Sakura zigzag menyerupai ukiran mesir kuno. Sasuke masih pada pose yang sama tapi kepalanya menoleh, melihat aneh Sakura.

Cekrek!

"Sasuke-kun berposelah..." Omel Sakura. "Ini foto reakhir."

Sakura naik ke atas batu persis di belakang Sasuke dan ia memeluk dari belakang. Sasuke masih pada pose yang sama dan kali ini dihiasi senyum tipis.

Cekrek!

"Baiklah! Saatnya kita pulang! Sampai jumpa Lagi surga kecil!" Seru Sakura.

Ia dan Sasuke memanjat bebatuan keluar dari tempat itu. Mereka pulang melewati rute yang sama. Secara kebetulan di perjalanan mereka bertemu kembali dengan dua turis sebelumnya. Mereka berjalan bersama-sama, Salah satu dari turis itu menceritakan tujuan mereka mencari oasis yang tersembunyi. Sakura dan Sasuke spontan saling melirik. Keduanya tersenyum menyimpan rahasia mereka sambil mengarungi gurun pasir di bawah langit senja yang indah. Meninggalkan jejak petualang mereka di negeri Suna.

Mereka sampai di perbatasan rumah penduduk tepat pukul enam sore. Langit mulai meredup dan suasana sekitar menjadi gelap. Lampu-lampu jalan sudah menyala. Sasuke dan Sakura berpisah dengan turis, masing-masing mengambil arah yang berbeda. Sakura dan Sasuke menuju rumah penduduk tempat mereka menitipkan Sepeda. Sampai di rumah sekitar jam tujuh dan langsung disambut makan malam lezat. Perjalanan Sakura dan Sasuke menjadi topik utama di meja makan.

Kling kling kling

Sakura terbaring lemas di atas karpet ruang tengah usai membersihkan diri. Nada dering whatsapp Sakura terus bersautan bagai burung kutilang berbunyi bersiul-siul sepanjang hari tak pernah jemu-jemu. Hal ini membuktikan Sakura sedang tidak chattingan dengan satu orang, ditambah gelagatnya yang terus tersenyum dan terkekeh saat melihat layar ponselnya. Tangan Sakura bergerak cepat, setelah melihat apa yang ditulisnya, gadis itu ternyata sedang chattingan bersama devisi background 2D yang tergabung dalam grup whatsapp. Mereka membahas film Black Jack yang baru saja mereka tonton sepulang kerja tadi. Semua heboh mengomentari film mereka dan berujung mengabsen siapa yang tidak menampakkan batang hidungnya. Hanya satu orang yang tidak ikut nonton bersama, yaitu si Pinky.

Obito : ngomong-ngomong tadi aku tidak melihat sosok merah muda ikut nonton bersama kita.

Obito yang membuka pembahasan dan Sakura tahu kemana ini akan berlabuh.

Konohamaru : pinky kan sedang ambil cuti...

Tenten : kemana?

Kiba : cuti terus...

Unknow : jadwal padat...

Konohamaru : perkenalan calon menantu...

Unknown : langsung lamaran...

Obito : CIEEEEE

Unknown : (Foto wajah anak bayi bertuliskan kata Hemmmm...)

Unknown : cintaku padamu bagai kereta monorel. Lacar jaya...

Ino : cintaku padamu takkan berubah walau ditelan waktu.

Tenten : akan kusimpan Cinta yang tulus ini...

Sakura tau Ino dan Tenten sedang menyindirnya.

Unknown: (foto windy memberikan bunga untuk Ang di film Greenoch)

Konohamaru : (foto spiderman ciuman dengan hulk)

Kiba : (foto monyet sedang berpelukan)

Kling kling kling

Ponsel Sakura terus berbunyi, sederet pesan tidak henti-hentinya berbalasan, malah pembahasannya semakin aneh. Bahkan beda tempat pun ia masih bisa di-bully. Mungkin ini memang takdirnya. Wajah Sakura datar dan malas meladeni mereka. di waktu bersamaan Sasuke datang menghampiri. Wajahnya segar usai mandi, ia ikut duduk di atas karpet lalu berbaring di bantal berukuran besar. Pegal-pegal menyelimuti tubuhnya, kaki rasanya kaku bukan main setelah menempuh jarak berkilo-kilo meter. Sasuke dan Sakura tidur-tiduran sambil melihat televisi. Beberapa menit kemudian Kizashi datang tetapi Sasuke sudah pulas di tempat.

"Suruh dia istirahat di kamar.." Ucap Kizashi, ia duduk di sofa mengganti chanel siaran.

"Emm. Nanti saja yah, biarkan dia tidur di sini dulu.." Sakura asik melihat foto-foto petualangan di ponselnya. Setengah jam kemudian gadis itu ikut tewas di samping Sasuke.

"Ya ampun.., kenapa mereka tidur di sini..." Nenek datang menghampiri.

"Bangunkan saja bu." Kizashi mematikan televisi dan pergi beristirahat. Nenek membangunkan Sasuke dan Sakura untuk pindah ke kamar. Sasuke bangun tapi Sakura sudah mati rasa. Akhirnya Sasuke menggedong gadis itu ke kamarnya.

.


"Sakura..."

Yuura beserta geng menyambut kedatangan Sakura dan Sasuke di lapangan komplek. Sudah berkumpul anak-anak muda setempat sore itu. Sosok Sasuke menjadi pusat perhatian, para wanita histeris melihatnya dan para lelaki memasang wajah sebal karena Sasuke menjatuhkan pasaran mereka dalam sekejap padahal Sasuke sendiri tidak perduli, ia fokus memandang dua cecunguk serta beberapa pria yang mencari perhatian di depan Sakura. Onyx-nya tajam membelah pandangan setiap insan hawa yang mencoba mendekati kekasihnya. Astaga Sasuke ada apa denganmu?

"Jadi, apa kau bisa bermain bisbal?" Yuura berlagak keren di depan Sasuke, pria itu mengangkat tongkat bisbol di atas bahu. Sakura hanya membatin sambil menahan senyum. Sasuke tidak banyak menjawab dan dia hanya mengatakan sepatah kata 'Hn.'

"Sakura, kita masuk ke team yang sama." Baki tersenyum hanyat sambil menyentuh pundak Sakura. Aura dingin Sasuke memancar seakan ingin menendang Baki ke gurun Suna. Permainan pun dimulai, Sasuke masuk ke dalam team yang sama dengan Sakura. Mereka melawan Yuura dan kawan-kawan. Team Sakura mendapat posisi menyerang dan Sasuke menjadi pemukul pertama. Rasakan itu.

BAAAAAAAAAAANG...!

Bola terpukul sangat jauh sampai keluar dari lapangan dan hilang di pepohonan palem. Semua mengaga lebar melihat pukulan Sasuke yang membara. Yuura terpaku dan sarung tangan bisbolnya terlepas seperti kulit pisang. Sakura tersenyum tipis, permainan ini akan seru.

Permainan bisbal selesai menjelang petang. Langit senja menampakkan pesona oranye yang indah. Mengiringi kemenangan telak yang diraih Sasuke dan team dengan skor 4:2. Tidak ada kata-kata lain untuk mendeskripsikan pertandingan bisbal sore itu selain 'mengasyikkan'. Yuura mengakui kekalahannya tapi pria itu enggan memuji Sasuke. Gayanya masih sok cool saat mengajak Sasuke bersalaman. Baki ikut berdiri di samping Yuura dengan stamina yang terkuras habis.

"Permainan yang keren guys!"

Sakura berpamitan dengan semua teman-temannya. Mereka melakukan tos ala pemuda Suna dan Sasuke memandang mereka dengan wajah datar.

"See ya!" Saru Sakura. Semua orang bubar jalan meninggalkan lapangan, Sasuke menghentikan langkah lalu berbalik.

"Oi!" Sasuke memanggil Yuura dan Baki. Keduanya menoleh serempak. "Untuk kalian." Sasuke melempar jasad kalajengking kering ke arah mereka dan spontan dua pria itu meloncat kaget bukan main. Sakura terkekeh geli melihatnya. Sasuke merangkul Sakura dan mereka meninggalkan lapangan dengan senyum tipis terukir di wajah Sasuke.

.


Keesokan harinya Sakura sekeluarga pergi jalan-jalan menikmati suasana kota Alexandria ala Sunagakure. Kizashi mengambil libur satu hari untuk quality time bersama Keluarga. Sorenya Sasuke dan Sakura pamit pulang. Pesawat mereka berangkat pukul tujuh malam.

"Hati-hati nak. Baik-baik selalu bersama Sakura. Aku mendoakan kalian. Main-main ke sini lagi menjenguk kami." Nenek Sakura mengucapkan sederet pesan sambil menangkup pipi Sasuke, perlakuannya hangat seakan Sasuke adalah cucunya sendiri.

"Terimakasih Obasan, sampai bertemu lagi." Sasuke memeluk nenek Sakura lalu tiba gilirannya berpamitan dengan ayah Sakura.

"Baik-baik dengan Sakura. Kudoakan kau menjadi orang sukses ." Kizashi menepuk-nepuk lengan Sasuke saat mereka berjabat tangan. Ada sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata saat mendengar doa Kizashi. Sasuke tersenyum tipis lalu mengangguk mengucapkan terimakasih.

"Kami pulang yah. Jaga kesehatan ayah baik-baik." Sakura memeluk Kizashi.

"Sampaikan salamku untuk Naruto. Baik-baik di sana sayang." Ucap Kizashi.

Pesawat tiba di bandara Konoha pukul sembilan malam. Sakura menjadi sangat pendiam saat mereka menginjakkan kaki kembali ke kota penuh kenangan. Beberapa hari dalam minggu terakhir ini sudah terlewati. Rasanya waktu berlalu sangat cepat. Sebenarnya Sakura enggan pulang ke Konoha dan ingin tetap di Suna bersama Sasuke. Tinggal tersisa dua hari waktu libur mereka sebelum Sasuke berangkat ke Amerika hari sabtu. Sosok Mukade menyambut mereka saat tiba di kediaman Uchiha. Sakura akan menginap di sana sampai hari Sabtu.

.


Beberapa hari dalam minggu terakhir ini sudah terlewati. Rasanya waktu berlalu sangat cepat. Tinggal tersisa satu malam sebelum Sasuke berangkat ke Amerika besok pagi. Sakura terbaring di kamar Sasuke, mereka menghabiskan waktu berdua dalam keheningan malam. Apa yang Sakura inginkan saat ini adalah melihat wajah Sasuke sepuas-puasnya. Banyak hal yang ia pikirkan. Semua kenangan yang mereka lalui terbayang-banyang di kepala, rasanya membahagiakan. Sakura harus selalu semangat saat hari keberangkatan Sasuke tiba. Ia pun mendekat dan mencium pipi Sasuke.

"Sasuke-kun, apa kau ingat saat pertama kali kita berkenalan?" Sakura menjadikan dada Sasuke sebagai bantalan.

"Aa." Sasuke menatap langit-langit kamar.

"Pertama kali aku melihatmu, kau adalah seorang maniak tomat." Ucap Sakura.

"Dan Kau orang aneh yang berdiri di bawah patung gamabunta dengan tangan mengadah ke atas." Sahut Sasuke.

"Berdiri di patung katak?" Sakura mengingat-ngingat dan tersenyum beberapa detik kemudian. "Oh...ya, ya... Itu hari pertama saat kau kembali dari Sunagakure kan? Semua wanita di studio membicarakanmu." Sakura lalu terkekeh. "Aku mengira kau artist layout."

"Kau juga mengira toilet pria adalah toilet wanita saat pesta Halloween."

"A... itu, ketidak sengajaan." Sakura tersenyum malu. "Kau menakutiku, topengmu sangat aneh."

"Kau juga memukul bola bisbal ke arahku." Sahut Sasuke.

"Sudah kubilang aku tidak sengaja. Kau masih dendam padaku? Itu sudah takdir." Sakura menepuk dada Sasuke.

"Takdir kesialanku?"

"Takdir bertemu denganku, kau masih menyangkalnya..." Sakura tersenyum dan mencolek hidung Sasuke.

"Sasuke-kun, aku ingin tanya sesuatu. Jawab yang jujur. Dulu saat paparazi mengambil foto kita di basemen. Apa kau benar-benar menciumku?"

"Tidak."

"Apa kau yakin?" Goda Sakura. "Kau juga pernah mencium rambutku diam-diam kan?" Goda Sakura lagi. Sasuke enggan menjawab, ia berbalik dan mendekap kepala Sakura.

"Ummp! Aku tidak bisa bernafas!" Sakura merontak.

"Kau terlalu banyak bicara." Sasuke terus mendekap Sakura sampai gadis itu merontak dan memohon.

"Astaga Sasuke-kun kau bisa mem... Mmmmmfff..." Sasuke mengunci mulut Sakura dengan bibirnya. Tekanannya terlalu kuat sampai Sakura kehabisan nafas. Sasuke kenapa kau brutal begini? Sakura sampai mengambil banyak oksigen ketika mulut mereka terlepas. Sasuke pun berseringai puas.

"Dasar." Sakura memukul dada Sasuke sambil mengusap mulutnya. Mereka bertatapan, wajah Sakura kesal tapi beberapa detik kemudian gadis itu tersenyum tipis.

"Kau mau melanjutkan apa yang tertunda di Laguna?" tanya Sasuke. Sakura tahu kemana arah pertanyaan itu. Sesaat Wajahnya merona dan malu-malu.

"Sasuke-kun, aku..." Sakura bingung bagaimana mengatakannya. Kenapa di saat seperti ini ada saja penghalang? Shannaro.. Sakura lalu mendekat dan membisikkan sesuatu.

Ekspresi Sasuke spontan berubah, pria itu mengusap wajahnya yang datar. Mau bagaimana lagi tapi keadaannya memang begitu. Bulan menjadi begitu indah menyinari bumi. Indah untuk para jangkrik tapi tidak begitu indah untuk Sasuke. Malam itu pun mereka lalui dengan candaan, Sakura berusaha tersenyum walau hatinya berat menanti datangnya hari esok.

"Sasuke-kun." Kemudian Sakura mendekat. "Katakan padaku, bagaimana caranya mengarungi waktu tanpamu?" Sakura menyisir rambut dan menyentuh wajah Sasuke. Suasana menjadi hening Ketika tatapan mereka menjadi begitu dalam. Menyadari bahwa mereka tidak bisa menghabiskan waktu bersama setiap saat.

"Aku tidak menyadari kedalaman cinta. Aku merasakannya saat perpisahan tiba." Ucap Sakura. "Apa kau merasakan hal yang sama?"

Sasuke diam terpaku. Wajahnya tenang memandang Sakura. Perlahan wajah mereka mendekat dan bibir mereka menempel lembut. Sesuatu di dalam diri Sakura melemah. Irama kehampaan menerjang dirinya. Tidak tau kapan ia bisa mencium bibir itu lagi. Sesuatu dalam dirinya meminta lebih. Hasrat untuk memiliki dan dimiliki semakin besar. Tangan mereka menyatu. Saling mengisi ruang yang sebentar lagi akan kosong. Malam itu menjadi begitu singkat untuk menyambut esok hari. Sakura berharap waktu melambat entah bagaimana caranya.

.


Dan Keesokan harinya tiba.

Sang mentari menampakkan sinarnya di ufuk timur. Bunga-bunga bermekaran indah, embun membasahi dedaunan, dan kicauan burung bernyanyi merdu mengisi keheningan kediaman Uchiha. Sakura menyambut kedatangan Sasuke di ruang Chashitsu. Untuk Ketiga kalinya Yukata pemberian Utakata dipakai dalam moment yang berarti. Pagi ini Sakura ingin melakukan sesuatu sebelum Sasuke berangkat. Ia ingin menyajikan teh khusus untuk kekasihnya.

Sasuke duduk tegap di depan tokonama, ia menyaksikan Sakura membuat teh dalam keheningan pagi yang sejuk dan penuh penghayatan. Gadis itu terlihat tenang, menyimpan apa yang sedang ia rasakan di dalam hati. Berusaha tegar di depan Sasuke. Siap melepas kepergiannya.

Saat teh selesai dibuat. Sakura mengangkat cawan lalu membawanya pada Sasuke. Mata mereka bertemu. Onyx dan emerald berpandangan penuh makna.

Sakura tersenyum, ia lalu membungkuk menyodorkan teh buatannya. Sasuke meneriman cawan. Wajah Sakura sudah tidak bisa dipungkiri saat gadis itu memandang Sasuke mencicipi tehnya. Perasaan yang menyayat menjalar di dalam dada. Leher Sakura menegang, rasanya sesak, menahan sesuatu yang mulai berliang di ujung mata. Sasuke menghabiskan seluruh teh lalu memberikan cawan kembali pada Sakura. Gadis itu mendekat, menerima cawan dan sesuatu tidak bisa terbendung lagi. Sakura menunduk, menghirup udara yang terasa menyekat di ujung lehernya, perlahan Sakura merunduk. Kepalanya bersandar pada paha Sasuke. Air matanya menetes.

"Kau akan selalu memberi kabar kan?" Isakan tangis Sakura terdengar. Sasuke memandang di dalam ketenangan. Mengerti apa yang dirasakan Sakura saat ini. Sasuke lalu menyentuh kepala Sakura.

"Jangan lupa menjaga kesehatan." Suara Sakura begitu lirih mengiringi air matanya yang mengalir. Sasuke diam mendengar pesan Sakura padanya.

"Jangan lupa istirahat yang cukup."

"Hn. Aku mengerti."

"Jangan lupa untuk sering menghubungiku.."

"Aku akan selalu menghubungimu."

"Kau akan menjengukku sesekali kan?"

"Aa."

"Aku..." Sakura terisak, air matanya begitu deras. "Aku akan selalu berdoa. Semoga kau berhasil..."

"Terimakasih." Ucap Sasuke.

Raut wajah Sasuke tegar dan tenang. Tangannya mengelus kepala dan punggung Sakura. Ketika keduanya tidak tahu sedalam apa perasaan mereka, saat inilah mereka menyadarinya. Ada sesuatu yang lebih daripada itu. Perasaan yang terhubung. Jika Sakura pernah bertanya-tanya seberapa besar dia mencintai Sasuke. Sekarang ia tahu. Dan ia siap menunggu.

Pesawat Sasuke terbang ke Amerika pukul 10:00 pagi. Jugo pergi mendampingi Sasuke dan itu membuat Sakura tenang. Itachi beserta keluarga ikut mengantar ke bandara termasuk Itaru dan Kenji. Dua anak itu libur sekolah khusus untuk mengatar paman mereka. Naruto dan Hinata sudah menunggu di sana. Obito tidak mau melewatkan sesuatu dan ia mengajak Konohamaru untuk ikut mengantar Sasuke ke bandara. Kepergian Sasuke sendiri mengejutkan Konohamaru dan dia yakin studio akan gempar mendengar berita itu hari Senin.

Sasuke berpamitan sebelum check in. Itaru dan Kenji memeluk paman mereka dengan erat. Awwww... Lucu sekali. Tak lupa Sasuke berpesan pada kedua keponakannya lalu mereka bertos ria. Semuanya tersenyum dan Sakura menahan mati-matian air matanya.

"Dobe." Sasuke berpelukan dengan Naruto.

"Jaga dirimu teme. Sukses selalu." Naruto menepuk punggung Sasuke.

Setelah berpamitan dengan semuanya, tinggal satu orang terakhir yang tersisa. Sasuke menghampiri Sakura dan Keduanya bertatapan dalam.

TUK. Sasuke mengetuk kening Sakura.

"Aku akan menemuimu lagi." Sasuke tersenyum tipis.

"Emm." Sakura pun mengangguk. "Selamat Jalan." Sakura melepas kepergian Sasuke dengan senyuman.

"Bye...bye... Paman..." Itaru dan Kenji melambai-lambai.

Sasuke melangkah pergi bersama Jugo. Tepat di depan pintu masuk, langkah Sasuke tiba-tiba berhenti, ia menoleh ke belakang dan memandang Sakura. Gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangan. Tanpa pikir panjang Sasuke kembali dengan langkah cepat, ia menghampiri dan sekejap mencium Sakura di depan umum. Semua mata melihat kearah mereka. Konohamaru reflek mengambil gambar.

Sasuke melepas ciuman dan ia beranjak masuk ke dalam bersama Jugo. Adegan itu membuat wajah Sakura merona merah seperti tomat panen di musim semi.

'Aku akan menunggumu. Sampai jumpa lagi.'

.


to be continued :)

.

Hai. Lama sekali ya update-nya? hehe give me a break. Terimakasih sudah mau menunggu lama. :)

Sasuke and Sakura

arai14 deviantart com/art/Quality-Time-598567773

jangan lupa menambah titik di antara sepasi (arai14 deviantart ) dan (com)

Have a good day ^^v